Home » Cerita Seks Mama Anak » Antara Aku, Mamaku, Restu, dan Mamanya 3

Antara Aku, Mamaku, Restu, dan Mamanya 3

Cerita Sebelumnya : Antara Aku, Mamaku, Restu, dan Mamanya 2

Suara deraman motor Restu akhirnya berhenti didepan kios Yu Darsih, lalu terdengar suara langkah kaki mendekati dinding kamar mandi tersebut, disertai suara umpatan Restu yang keras ÔÇ£dimana anak jahanam itu bersembunyi hah, aku tidak percaya dia bisa menghilangÔÇØ.
ÔÇ£HeiÔǪsiapa ituÔǪ ngapainÔǪ mau ngintip orang mandi yaÔǪ hei..tolong..tolongÔǪ!ÔÇØ terdengar Yu Darsih berteriak dengan suara keras. ÔÇ£Maaf buÔǪmaaf…siapa yang mau ngintipÔǪaku sedang mencari anak SMA yang tadi lari kesini..ÔÇØ terdengar suara Restu nadanya kasar.
Yu Darsih segera keluar dari kamar mandi dengan hanya berkemben kain handuk, ÔÇ£Apa yang kamu cari disini? Disini tidak ada siapa-siapaÔÇØ terdengar suara Yu Darsih dari arah kios, rupanya dia segera menemui Restu yang berada di dalam kios tersebut.
ÔÇ£Kemana jahanam itu lari, begitu ketemu gua langsung bacok diaÔÇØ terdengar suara gerutuan Restu semakin lama semakin menjauh, dan tidak lama kemudian deruman seperda motornya terdengar meninggalkan tempat itu.
ÔÇ£Sudah mas Adid., orang itu sudah pergiÔÇØ kata Yu Darsih yang telah mengenakan daster tipisnya, aku dengan raut muka masih ditakut-takutkan berkata ÔÇ£Benarkah Yu?ÔÇØ, ÔÇ£masa mas, enggak percaya sama akuÔÇØ kata Yu Darsih sambil tersenyum. Aku segera bangkit, sambil terpincang-pincang, yang ini bukan acting, melompat dari dinding setinggi 2 meter dan mendarat diatas ubin kamar mandi yang keras dan licin, rupanya membuat aku sedikit salah urat.
Terima kasih Yu, terima kasih kalau tidak ada Yu Darsih saya tidak tahu nasib saya bagaimana.. kataku sambil memandangnya. Kenapa bisa terjadi seperti tadi mas Adid? tanya Yu Darsih. Aku segera bercerita, cerita yang kukarang sendiri tentunya.
Kukatakan bahwa tadi aku bertanding sepak bola dan menang, aku juga yang memasukkan dua gol ke gawang lawanku, tapi ternyata kipper tim lawan adalah anggota sebuah genk motor, marah karena gawangnya dua kali kebobolan oleh aku, dia mengejar aku sampai kemari.
Aku bercerita panjang lebar dan sangat detil, tapi sambil bercerita, tanpa dapat ditahan lagi mataku sering melirik belahan buah dada Yu Darsih, terutama saat dia menyuguhkan segelas kopi ke hadapanku, sehingga tubuhnya sedikit membungkuk, memperlihatkan dengan jelas belahan buah dadanya yang membusung.
Tanpa terasa tongkolku mengacung dengan gagah beraninya, menujah celana panjang seragamku, kulihat Yu Darsih sempat melirik kearah tongkolku yang menegang, tapi dia pura-pura tidak menyadarinya, hanya saja sebuah senyum simpul terkadang melintas di bibirnya yang seksi.
Aku kini yakin jeratanku akan mengena pada sasarannya, karena itu aku kini tidak sembunyi-sembunyi lagi memandang tubuh Yu Darsih dengan penuh hasrat, dan Yu Darsih pun seperti sengaja tidak sengaja member aku peluang menatap belahan buah dadanya, dengan beberapa kali membungkuk di depanku. Pertama saat dia menyajikan kopi, lalu saat dia mengangsurkan sebungkus rokok, ketiganya saat dia membersihkan bagian bawah meja, yang ada didepan kursi yang kududuki.

Dan setiap kali dia melakukan itu, setiap kali juga matanya melirik kearah selangkanganku yang membengkak, yang sengaja tidak kusembunyikan bahwa tongkolku mengeras sejak tadi. Aku bahkan sedikit melakukan show juga dengan berdiri saat dia membersihkan bagian bawah meja, sehingga jelas Nampak tegangnya tongkolku ini.
Ketika aku selesai minum kopi dan merokok, aku segera bangkit dengan sedikit terpincang-pincang, kali ini acting karena sesungguhnya rasa sakit di kakiku telah menghilang. ÔÇ£Yu rasanya kakiku terkilir, kukira aku akan butuh pijatan Yu Darsih untuk mengobatinyaÔÇØ kataku pada Yu Darsih.
ÔÇ£Ya sudah pulang saja dulu sekarang, nanti mamahnya nyariin mas Adid, karena hari sekarang mulai gelapÔÇØ jawab Yu Darsih kepadaku. ÔÇ£Tapi kakiku?…..ÔÇØ protesku pada Yu Darsih. ÔÇ£Kios ini tutup jam Sembilan malam, kalau mau pijat, datang saja kemari setelah ituÔÇØ jawab Yu Darsih, saat bicara demikian tampak mukanya memerah.
Hatiku bersorak keras, ingin rasanya aku berteriak keras-keras meluapkan kegiranganku, tapi kutahan sekuat tenaga dan hanya menjawab ÔÇ£baiklah Yu, nanti aku datang lagi jam 9 30ÔÇØ kataku sambil dengan terang-terangan menatap sekujur tubuhnya dengan mata nanar.
Yu Darsih tidak menjawab, hanya seulas senyum yang manis sekali mencuat dari bibirnya, sambil menatapku dengan mesra. Hampir aku tidak kuat untuk menubruk dan menciumi bibir tersebut, saying saat itu seorang pembeli datang menanyakan obat nyamuk, aku lalu keluar meninggalkan kios Yu Darsih dengan harapan dan angan yang membuncah ruah.
Saat aku masuk rumah, kulihat hidangan makan malam telah siap di meja, ÔÇ£dari mana saja kamu Did? Kok malam sekali baru pulang?ÔÇØ terdengar sapaan ibuku dengan suara setengah mengantuk, nampaklah ibuku tengah berbaring disofa didepan TV.
ÔÇ£Ada pertandingan sepak bola mahÔÇØ jawabku kepada ibuku sementara mataku diam-diam melirik sekujur tubuhnya, seperti harapanku, ibuku telah mengenakan baju tidur yang tipis menerawang, sehingga branya tampak menerawang dari balik baju tidurnya, karena kamer jasnya terbuka bagian depannya.
ÔÇ£Ya sudah mama mau tidur duluan, rasanya hari ini mama lelah sekali, kamu makan saja dulu mama sudah sediakan di meja makanÔÇØ kata ibuku sambil bangkit dan berjalan menuju kamarnya. Mataku nanar menatap goyangan pantat ibuku saat berjalan sedang mulutku secara otomatis menjwab ÔÇ£iya maÔÇØ.
Tapi begitu ibuku masuk kedalam kamarnya, dan pintunya tertutup, setengah berlari tapi sambil berjingkat, aku segera masuk kedalam kamarku, yang letaknya bersebelahan dengan kamar ibuku, lalu tanpa ba bi bu lagi aku segera menaiki kursi kecil yang ada dibawah kaca yang berada didinding antara kamarku dan kamar ibuku, lubang kaca ini dulu merupakan bekas AC, yang lubangnya akhirnya ditutup dengan kaca, setelah AC nya dicabut dan dipindah lokasi kearah taman.

Nafasku serasa sesak dibuatnya, ketika kulihat ibuku membuka kamer jasnya, sehingga kini hanya mengenakan baju tidur yang tipis menerawang, memperlihatkan bra nya yang berwarna coklat, sekaligus kulit tubuhnya yang putih mulus. Dan nafasku semakin terasa sesak saat ibuku membuka underoknya, sehingga celana dalamnya yang berwarna coklat membayang jelas di tipisnya baju tidurnya.
Lalu dia mulai menatap kaca hias yang ada didepannya, dan memutar-mutar tubuhnya, dari kiri ke kanan dan sebaliknya, sementara tangannya melingkar dipinggangnya yang masih ramping, seakan tengah mengukur lingkar pinggang tersebut.
Puas memutar-mutar tubuhnya, ibuku mulai menyangga kedua payu daranya yang terbalut bra dengan kedua tangannya, lalu buah dada bulat yang besar milik ibuku tersebut diangkat-angkatnya sedikit, seakan menaksir ketegakkan dan seberapa jauh melorotnya.
Dan ibuku terlihat puas, tidak sia-sia sejumlah rangkaian senam dan perawatan tubuh yang dijalaninya, karena hasilnya memang memuaskan, lalu ibukku mulai membalik badannya sehingga menghadap aku sekarang ini, sambil berjalan kearah tempat tidur.
Mataku kini terpaku pada tonjolan diselangkangannya, yang tampak membayang, karena celana dalam yang dikenakannya juga tipis. Dia mulai merebahkan diri dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut, karena udara memang mulai terasa sangat dingin, apalagi hujan sudah mulai turun.
Dengan menghela nafas aku turun dari tempat aku mengintip. Dan dengan pikiran tidak karuan aku mulai bersantap malam, hidanmgan yang disajikan sebenarnya sangat lezat, sayang aku kurang bisa menikmatinya, karena pikiranku tidak ada disana.
Selesai makan, aku berbaring sejenak disofa bekas ibuku tadi, masih kucium wangi parfum yang dikenakannya, aku menghisapnya dalam-dalam, lalu mencoba beristirahat penuh, setidaknya bersantai sebelum petualanganku berlanjut.
Tepat jam sembilan malam, aku bangkit dan mandi dengan air hangat untuk merelaksasi ketegangan ditubuhku, Lalu tiga puluh menit kemudian, aku keluar dari rumah melalui jendela kamarku yang menghadap taman, sementara pintu kamar aku kunci dari dalam.
Lalu tanpa banyak menimbulkan suara aku segera berjalan menuju kios Yu Darsih yang hanya berjarak beberapa rumah dari tempat tinggalku. Kulihat kiosnya yang berada di halaman rumah sudah tutup, tapi aku segera masuk kehalaman melalui jalan kecil disamping kios, berseberangan dengan kamar mandinya yang diantarai kios tersebut.
Pintu depan rumahnya sudah tertutup, tapi lampu masih menyala dari ruang tamunya, sayup-sayup kudengar suara TV daari dalam rumah tersebut. Perlahan kuketuk pintu rumahnya, tidak berapa lama kemudian terdengar suara langkah seseorang.
ÔÇ£Oh mas Adid, silahkan masuk masÔÇØ sapa Yu Darsih begitu pintu terbuka, sejenak aku terpana, karena Yu Darsih ternyata hanya mengenakan sehelai kain sarung yang diikatkan di dadanya.

Dengan pura-pura pincang, aku segera masuk kedalam, ÔÇ£anu Yu, aku mohon tolong yang tadiÔÇØ kataku dengan suara bergetar, menahan nafsu. Sementara tongkolku sudah mulai berdiri dibalik celana tong yang aku pakai.
ÔÇ£Mau pijat itu ya, masuk mas, dan silahkan duduk, maaf aku hanya berpakaian seperti ini, maklum mau tidur, padahal udaranya panas sekaliÔÇØ katanya sambil berjalan mendahuluiku kedalam. Aku sendiri segera menutup pintu di belakangku, sekaligus menguncinya pelan-pelan.
ÔÇ£Tidak apa Yu, namanya dirumah sendiri, ya bebas sajaÔÇØ jawabku. Mataku sendiri tidak henti-hentinya memeperhatikan goyangan pantatnya ketika dia tengah berjalan. ÔÇ£Silahkan duduk masÔÇØ kata Yu Darsih mempersilahkan aku duduk di ruang tengah rumahnya.
Saat berkata itu dia membalikkan tubuhnya, dan menangkap basah aku yang sedang memperhatikan goyangan pantatnya. Keruan aku jadi sedikit salah tingkah, meskipun Yu Darsih sendiri hanya mengulum senyum tanda memaklumi.
Iyem kemana Yu? tanyaku untuk mengalihkan perhatian, dan agar kekikukkan segera berlalu. Wah  anak itu begitu kios tutup segera saja dia tertidur, paling besok pagi dia baru bangun jawabnya.
ÔÇ£Tunggu sebentar ya mas, aku mau mempersiapkan beberapa hal untuk pijatannyaÔÇØ lanjutnya sambil tersenyum menggiurkan, dan mengerling aku penuh arti. Aku hanya sanggup mengangguk, sambil terpana melihat litikannya.
Yu Darsih segera melangkah kesebuah pintu yang berada di ruang tengah tersebut, kukira itu pintu kamaranya, tak lama kemudian dia sudah keluar lagi dengan membawa sebotol lotion dan dua botol lainnya, yang kukira merupakan peralatan memijatnya.
Lalu tanpa banyak bicara dia segera bersimpuh dihadapanku dan bertanya, kaki sebelah mana yang sakit? katanya sambil tengadah, Aapa? er dua-duanya Yu kataku kembali tersipu karena kepergok sedang menatap buah dadanya yang besar. Yu Darsih kembali tersenyum memikat hatiku.
Tangannya kemudian memegang kaki kananku sambil mulai memijat-mijat pelan disekitar tumit, ÔÇ£ini sakit tidak mas?ÔÇØ tanyanya, aku menggeleng pelan, tapi mataku terpaku pada puting buah dadanya yang tampak menonjol di balik kain sarungnya. Seingatku tadi Yu Darsih memakai Bra saat masuk kamar, tapi sekarang tali branya justru tidak terlihat, aku yakin dia telah melepas branya saat masuk kamar.
Ah jangan-jangan ini aadalah tanda bahwa Yu Darsih mengerti keinginanku yang sebenarnya pikirku. Pikiran ini membuat aku yang sudah sangat bernafsu menjadi semakin berani, karena itu ketika Yu Darsih beberapa kali menaikkan tangannya sedikit mencari tempat yang sakit, berulang kali juga aku menggeleng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*