Home » Cerita Seks Mama Anak » Antara Aku, Mamaku, Restu, dan Mamanya 1

Antara Aku, Mamaku, Restu, dan Mamanya 1

Awalnya aku mengira cerita Restu tentang hal-hal yang berbau ngeseks cuma bualan belaka. Betapa tidak, sebagai remaja yang baru menginjak usia 18 tahun, cerita pengalamannya soal seks jauh melampaui usianya. Bahkan bisa dibilang tidak wajar.
Teman sekolah yang sejak dua bulan terakhir menjadi teman akrabku itu, mengaku sering bersetubuh dengan wanita pembantu di rumahnya. Wanita itu adalah tetangganya yang diminta menangani pekerjaan dapur dan bersih-bersih rumah. Usianya 43 tahun, punya suami dan punya dua orang anak. Tetapi menurut Restu, melakukan hubungan seks dengan wanita yang jauh lebih tua, rasanya jauh lebih nikmat. ÔÇ£Aku pernah melakukannya dengan Tari. Itu, bekas pacarku yang anak SMA V, tetapi hambar dan kurang hot,ÔÇØ kata Restu suatu hari.

Restu juga mengaku sering mengintip ibunya. Saat mandi atau saat tertidur di kamarnya. Menurut Restu, usia ibunya sudah 46 tahun jadi lebih tua tiga tahun dibanding pembantu yang sering digarapnya itu. Tetapi bentuk tubuhnya tak kalah aduhai. Makanya ia sering berangan-angan untuk bisa melakukan yang sama terhadap sang ibu. Hanya sejauh ini Restu belum pernah melakukannya.

Penasaran dengan cerita-cerita panasnya itu, ketika ia mengajakku menginap di rumahnya di saat liburan aku langsung menyambutnya. Sekaligus untuk membuktikan dan untuk melihat ibu serta pembantu yang sering diceritakannya.

Ternyata Restu bukan pembual seperti yang semula kukira. Restu bukan hanya sangat akrab dengan Bi Leha wanita yang menjadi pembantu di rumahnya. Tetapi dari gerak-gerik keduanya bisa diyakini mereka punya hubungan khusus. Hal itu terlihat saat Bi Leha masuk ke kamar Restu untuk membawakan teh hangat dan kue. Dengan atraktif Restu menepuk-nepuk pantat wanita itu saat ia tengah menghidangkan minuman di atas meja. ÔÇ£Terima kasih ya Bi Leha yang sexy,ÔÇØ ujar Restu sambil mengerlingkan matanya ke padaku.

Ia tidak hanya menepuk tetapi berusaha meremas pantat bahenol wanita itu. Bi Leha mungkin agak risih diperlakukan begitu di hadapanku. Tetapi ia tidak marah. ÔÇ£Mas Restu memang suka nakal mas. Wong orang sudah tua kok dibilang sexy,ÔÇØ ujarnya tanpa mencoba menepis tangan Restu yang terus menggerayangi pantatnya.

Memang Bi Leha tidak hanya sexy seperti yang dikatakan Restu. Menurutku, ia juga sangat merangsang. Buah dadanya besar menantang dan pantatnya padat membusung. Itu tidak disangsikan karena terlihat jelas dari bentuknya yang tercetak pada kain panjang yang ketat membungkusnya. Bahkan nampaknya ia juga tidak mengenakan celana dalam karena tidak kulihat garis yang membentuk bentuk pakaian dalam wanita pada kain panjang yang membalut busungan pantatnya.

ÔÇ£Bener kan Did, ia benar-benar hot. Tadi dia juga nggak pakai CD lho. Mungkin karena memiawnya suka kegerahan kalau pakai CD ya?,ÔÇØ timpal Rudi setelah Bi Leha keluar kamar.

Gairahku jadi ikut terbakar. Terpicu oleh apa yang baru kulihat dan membuat anganku menerawang jauh. Membayangkan bentuk tubuh Bi Leha bila dalam keadaan tanpa busana. Bahkan, tanpa kusadari, si otong di selengkanganku ikut berekasi. Ah, andai tak sedang di rumah Restu pasti sudah kukocok seperti yang biasa kulakukan selama ini untuk menyalurkan hasrat seksualku. Awalnya aku mengira cerita Restu tentang hal-hal yang berbau ngeseks cuma bualan belaka. Betapa tidak, sebagai remaja yang baru menginjak usia 18 tahun, cerita pengalamannya soal seks jauh melampaui usianya. Bahkan bisa dibilang tidak wajar.
Teman sekolah yang sejak dua bulan terakhir menjadi teman akrabku itu, mengaku sering bersetubuh dengan wanita pembantu di rumahnya. Wanita itu adalah tetangganya yang diminta menangani pekerjaan dapur dan bersih-bersih rumah. Usianya 43 tahun, punya suami dan punya dua orang anak. Tetapi menurut Restu, melakukan hubungan seks dengan wanita yang jauh lebih tua, rasanya jauh lebih nikmat. ÔÇ£Aku pernah melakukannya dengan Tari. Itu, bekas pacarku yang anak SMA V, tetapi hambar dan kurang hot,ÔÇØ kata Restu suatu hari.

Restu juga mengaku sering mengintip ibunya. Saat mandi atau saat tertidur di kamarnya. Menurut Restu, usia ibunya sudah 46 tahun jadi lebih tua tiga tahun dibanding pembantu yang sering digarapnya itu. Tetapi bentuk tubuhnya tak kalah aduhai. Makanya ia sering berangan-angan untuk bisa melakukan yang sama terhadap sang ibu. Hanya sejauh ini Restu belum pernah melakukannya.

Penasaran dengan cerita-cerita panasnya itu, ketika ia mengajakku menginap di rumahnya di saat liburan aku langsung menyambutnya. Sekaligus untuk membuktikan dan untuk melihat ibu serta pembantu yang sering diceritakannya.

Ternyata Restu bukan pembual seperti yang semula kukira. Restu bukan hanya sangat akrab dengan Bi Leha wanita yang menjadi pembantu di rumahnya. Tetapi dari gerak-gerik keduanya bisa diyakini mereka punya hubungan khusus. Hal itu terlihat saat Bi Leha masuk ke kamar Restu untuk membawakan teh hangat dan kue. Dengan atraktif Restu menepuk-nepuk pantat wanita itu saat ia tengah menghidangkan minuman di atas meja. ÔÇ£Terima kasih ya Bi Leha yang sexy,ÔÇØ ujar Restu sambil mengerlingkan matanya ke padaku.

Ia tidak hanya menepuk tetapi berusaha meremas pantat bahenol wanita itu. Bi Leha mungkin agak risih diperlakukan begitu di hadapanku. Tetapi ia tidak marah. ÔÇ£Mas Restu memang suka nakal mas. Wong orang sudah tua kok dibilang sexy,ÔÇØ ujarnya tanpa mencoba menepis tangan Restu yang terus menggerayangi pantatnya.

Memang Bi Leha tidak hanya sexy seperti yang dikatakan Restu. Menurutku, ia juga sangat merangsang. Buah dadanya besar menantang dan pantatnya padat membusung. Itu tidak disangsikan karena terlihat jelas dari bentuknya yang tercetak pada kain panjang yang ketat membungkusnya. Bahkan nampaknya ia juga tidak mengenakan celana dalam karena tidak kulihat garis yang membentuk bentuk pakaian dalam wanita pada kain panjang yang membalut busungan pantatnya.

ÔÇ£Bener kan Did, ia benar-benar hot. Tadi dia juga nggak pakai CD lho. Mungkin karena memiawnya suka kegerahan kalau pakai CD ya?,ÔÇØ timpal Rudi setelah Bi Leha keluar kamar.

Gairahku jadi ikut terbakar. Terpicu oleh apa yang baru kulihat dan membuat anganku menerawang jauh. Membayangkan bentuk tubuh Bi Leha bila dalam keadaan tanpa busana. Bahkan, tanpa kusadari, si otong di selengkanganku ikut berekasi. Ah, andai tak sedang di rumah Restu pasti sudah kukocok seperti yang biasa kulakukan selama ini untuk menyalurkan hasrat seksualku.

Sebenarnya selama ini aku sering melakukan onani. Dan wanita yang paling sering menjadi obyek fantasiku adalah ibuku sendiri. Terlebih setelah mengintip dia mandi atau bertelanjang di kamarnya. Namun aku tidak berani menceritakannya pada Restu, takut dicemooh olehnya. Namun setelah melihat langsung apa yang dilakukannya pada Bi Leha dan keinginannya untuk bisa menikmati tubuh ibunya, suatu saat aku ingin menceritakannya pula.

Sedangkan obyek fantasiku yang lain, adalah Yu Darsih, wanita tetanggaku. Janda beranak dua yang membuka kios sembako di dekat rumah dan juga pandai memijat itu, di samping suka memakai daster tipis merangsang, bentuk bodinya juga aduhai menggoda. Padahal, usianya sudah tidak muda lagi, sekitar 47 tahun nyaris sama dengan usia ibuku. Maka aku suka berlama-lama di kiosnya saat membeli rokok atau keperluan lainnya.

ÔÇ£Did, kamu pengin lihat Bi Leha telanjang? Aku mau kerjain dia di dapur. Gara-gara pegang-pegang pantatnya aku jadi terangsang nih. Nanti susul aku ya, tapi tunggu sekitar lima menit,ÔÇØ ujar Restu sambil ngeloyor keluar kamar.

Meski Restu memintaku menunggu lima menit sebelum aku menyusulnya, perintahnya tak kuindahkan. Aku ingin melihat yang dilakukannya pada Bi Leha dari awal adegan. Hingga baru sekira dua menit setelah Restu keluar kamar, dengan berjingkat aku menuju ke dapur. Di sana, Restu tampaknya tengah mencoba mencumbu dan merayu wanita pembantunya itu.

Bi Leha yang tengah sibuk menggoreng tempe dan tahu, dipeluknya erat oleh Restu dari belakang. Bahkan tidak hanya memeluk, kedua tangannya terlihat pula sibuk meremasi tetek Bi Leha dari luar baju kebaya yang dikenakan wanita itu. Jangan ah, nanti temen Mas Restu melihat, kata Bi Leha.

Tetapi ia tidak mencoba menepis tangan anak majikannya. Malah kuyakin ia menikmatinya.Aku tahu karena mata Bi Leha merem melek oleh remasan tangan Restu pada teteknya. Bahkan ketika Restu melepaskan kancing-kancing pada kebaya yang dikenakannya, Bi Leha juga tak mencegahnya. Ia biarkan Restu mengeluarkan buah dadanya yang besar dari kutang hitam yang menyangganya.

Susunya terlihat sudah agak kendur. Namun bentuk buah dada Bi Leha kuakui masih cukup bagus. Putih mulus dan membusung dengan bagian yang coklat kehitaman melingkar mendekati putingnya yang mencuat. Kedua puting susu Bi Leha itulah yang kini menjadi sasaran Restu. Dengan tetap mendekapnya dari belakang, ia memilin-milinnya perlahan hingga wanita itu mendesah dan menggelinjang dalam pelukan Restu.

Sambil tetap meremasi tetek pembantunya, tangan Restu yang lain meliar ke bawah. Mengelus perutnya, lalu merayap turun mencoba menyelusup ke balik kain panjang yang dipakai wanita itu. Sepertinya Restu ingin menyentuh memiaw Bi Leha tanpa membuka kain panjang yang melilit tubuh wanita setengah baya itu. Namun karena gerakan tangan Restu agak tergesa, kain panjang itu jadi terlepas.

Sebenarnya Bi Leha dengan reflek telah berusaha menyambar kain panjangnya yang terlepas karena ulah anak majikannya. Namun terlambat, kain panjang motif batik yang telah agak lusuh itu terjatuh ke lantai. Jadilah tubuh bagian bawah wanita yang menurut Restu bersuamikan Mang Sarno, penarik beca yang masih tetangganya menjadi telanjang bulat. ÔÇ£Ih Mas Restu, apa-apan sih. Bibi nggak pakai celana dalam nih..,ÔÇØ ujar Bi Leha.

Restu tahu, protes pembantunya itu hanya di mulut saja. Buktinya, ia tidak menepis tangan anak majikannya ketika bagian paling rahasia miliknya mulai digerayangi. Oleh Restu, kemaluan Bi Leha yang membusung langsung diraba dan diusap-usapnya. Ia melakukan itu sambil menggesek dan menekan-nekan tongkolnya yang masih terbungkus CD ke pantat Bi Leha yang membulat padat. Jakunku jadi turun naik melihat adegan panas yang dipertontonkannya.

Tidak seperti ibuku yang selalu mencukur habis rambut yang tumbuh pada memiawnya. Bi Leha membiarkan jembutnya tumbuh di sana. Hanya rambut pada kemaluan wanita itu tergolong tipis dan jarang. Aku bisa melihat itilnya diantara celah bibir kemaluannya yang sudah agak berkerut karena jari tengah tangan Restu mencolek-coleknya. Itilnya yang terlihat mencuat, ukurannya juga lumayan besar dan menonjol. Ah, tongkolku jadi ikut mengeras disuguhi pemandangan yang sangat merangsang itu.

Sejauh itu, Bi Leha tidak bereaksi. Ia tetap pada kesibukannya menggoreng tempe dan tahu untuk menu makan siang. Namun ketika Restu berjongkok di antara kedua pahanya dan mulai menciumi memiawnya, nampaknya ia mulai menikmati. Ahhh ssshhss memiaw bibi diapakan mas? Ahhh enak banget . ssshhhsss, Bi Leha mulai mendesah seiring dengan juluran lidah Restu yang mulai menyapu ke bagian dalam lubang vaginanya.

Sambil terus mendesah menahan nikmat, Bi Leha mengangkat kaki kanannya dan ditumpukan pada sandaran kursi yang ada di dekatnya. Rupanya ia bermaksud memberi kesempatan anak majikannya agar bisa lebih mudah mengerjai memiawnya dengan mulutnya.

Melihat itu, Restu tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan pembantunya. Ia tidak hanya sekedar menyapukan ujung lidahnya ke lubang nikmat Bi Leha yang kini terbuka menganga. Tetapi itil Bi Leha yang mencuat di sela lubang memiawnya pun ikut diobok-oboknya. Dijilat dan sesekali dicerucupi dan dihisap-hisapnya.

Tubuh Bi Leha jadi mengejang. Rupanya, tak tahan menahan nikmat oleh hisapan mulut Restu pada itilnya, kerjaan dapurnya jadi diabaikan. Tempe goreng yang masih ada di penggorengan tak sempat diangkatnya dan dibiarkan gosong. Aahh  enak bangat Mas Restu. Iya terus hisap itil Bibi, ahh ssshhhh. ooohhhh, ia melenguh sambil memegangi kepala anak majikannya dan berusaha menekan ke selangkangannya.

Aku makin panas dingin melihat adegan yang tengah berlangsung. Terlebih ketika Bi Leha mulai meremasi sendiri kedua teteknya sambil merasakan nikmatnya aksi obok-obok mulut anak sang majikan pada memiawnya. Aku jadi makin kelabakan. Risleting celanaku terpaksa kupelorotkan agar tongkolku leluasa mengembang karena celana jins yang kupakai memang cukup ketat. Kurasakan penisku kian tegang dan mengeras.

Restu akhirnya menghentikan aksinya menghisapi memiaw wanita itu setelah mulutnya basah oleh lendir yang keluar dari dalam memiaw Bi Leha. Kalau diteruskan, pasti Bi Leha memperoleh orgasmenya di atas mulut Restu. ÔÇ£Bi, bibi ambil kasur kecil dulu deh di gudang,ÔÇØ kata Restu.

ÔÇ£Kita mainnya di sini? Kan ada teman Mas Restu. Nanti kalau dia ke dapur gimana?ÔÇØ

ÔÇ£Nggak bakalan Bi. Tadi dia udah tidur kok. Ayo dong Bi, udah kepengen nih,ÔÇØ kata Restu lagi sambil mengusap-usap memiaw Bi Leha dan membelai jembutnya.

Saat Bi Leha keluar mengambil kasur di gudang, Restu menghampiriku yang bersembunyi di balik almari tempatku mengintip. ÔÇ£Gimana Did, tubuh Bi Leha benar-benar mantap kan? memiawnya juga enak banget dient*tin,ÔÇØ ujarnya.

Menurut cerita Restu, nafsu Bi Leha sebenarnya sangat tinggi. Namun Mang Sarno yang seharian mengayuh becak, saat pulang agaknya sudah kecapaian hingga kurang memiliki tenaga untuk memuaskan sang istri. Restu mengaku, ia berhasil meniduri sang pembantu setelah sempat mengajaknya nonton film BF di kamarnya beberapa bulan lalu.

Permainan panas itu berlanjut setelah Bi Leha menggelar kasur di lantai dapur. Tadinya Bi Leha bermaksud merebahkan tubuh dan mengangkang setelah kasur tergelar. Mungkin karena nafsunya yang sudah memuncak. Namun Restu mencegah. Ia meminta Bi Leha berjongkok dan Restu langsung menyorongkan tongkolnya ke mulut wanita itu.

Bi Leha tahu, anak majikannya ingin meneruskan pemanasan sebelum permainan yang sebenarnya berlangsung. Maka diawali dengan menjilat-jilat ujung penis Restu yang tegak mengacung, Bi Leha akhirnya memasukkan tongkol Restu ke dalam mulutnya. Menghisap dan menjilat-jilatkan ujung lidahnya ke kepala penis Restu.

Bahkan tidak hanya itu, biji-biji pelir tongkol Restu juga tak luput dari jilatan dan cerucupan mulut Bi Leha. Lidah wanita itu terus meliar, mengusap dan menjelajahi setiap inchi kemaluan anak majikannya. Tubuh Restu tampak mengejang. Mungkin menahan nikmat yang tak tertahan.

Dari tempatku mengintip, adegan yang dipertontonkan Restu dan pembantunya membuat nafsuku kian terbakar. Betapa tidak, Bi Leha yang tengah mengulum tongkol Restu, posisinya berjongkok menghadap padaku. Hingga aku bisa melihat dengan jelas bagian paling pribadi miliknya yang terbuka. memiaw Bi Leha benar-benar menganga dengan itil yang kemerahan mencuat menantang. Ah, nikmat benar kalau diberi kesempatan membenamkan tongkolku di lubang nikmat itu. Rasanya gimana ya? Begitu aku membatin sambil mengelus tongkolku yang telah mengeras meminta penyaluran.

Payudara wanita separo baya yang bentuknya seperti buah pepaya agak menggelantung itu juga terlihat bergoyang-goyang seiring dengan gerakakkan tubuh pemiliknya. Alhasil birahiku kian tak terbendung dan tubuhku menjadi panas dingin menahan syahwat yang makin menggelegak.

Puncaknya, Restu meminta Bi Leha menghentikan kuluman dan hisapan pada penisnya. Lalu ia mengambil posisi terlentang di kasur yang telah tergelar di lantai dapur. Maka Bi Leha tahu, sang anak majikan meminta dirinya berada di posisi atas dalam puncak persetubuhan yang hendak dilakukan.

Bi Leha pun mengambil ancang-ancang. Dengan kedua kaki berada di antara tubuh Restu, ia berdiri tepat di atas pinggul anak laki-laki majikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*