Home » Cerita Seks Ayah Anak » Papa Jahat 2

Papa Jahat 2

Hari demi hari berlalu.. kebekuan dan kecanggungan antara aku dan Papa sudah mencair dan kembali normal seperti dahulu.
Kami sudah bisa bercanda dan mengobrol seperti biasanya.

Sampai tiba suatu hari, jadwal papa ÔÇÖkulakanÔÇÖ barang-barang keperluan toko pun tiba.
Seperti biasa.. papa meninggalkanku tinggal sendirian di rumah.

Buru-buru kukunci semua pintu dan segera menuju kamar untuk memuaskan rasa ingin tahuku akan buku-buku yang ada di lemari papa.

Kuambil satu yang bersampul warna biru.
Kurebahkan badanku di ranjang dan pelan-pelan kubaca cerita-cerita di dalamnya.
Kembali aku merasa terangsang dibuatnya.. kurasakan sedikit rasa kencang di kedua payudaraku.

Kali ini tak tanggung-tanggung..
Kulepaskan celanaku satu per satu.. aku ingin merasakan sentuhan tak lagi dibatasi oleh kain penghalang.

Kugosok-gosok clitorisku dengan lembut.. mataku memelototi isi buku itu sembari tanganku berkonsentrasi di bagian bawah tubuhku.

Aku telah menjelma menjadi seorang gadis kecil yang terlalu cepat dewasa.

Kenikmatan melanda seluruh tubuhku.
Kakiku mengangkang.. dengan jari-jari kaki yang melebar tegang.

Di buku ini.. aku menemukan sebuah cerita yang menceritakan persetubuhan antara Papa dan Puteri kandungnya.

Awalnya aku merasa jengah dan sungkan untuk membacanya.. Tetapi rasa penasaranku lebih kuat..
Apalagi pertanyaanku tentang kepada siapa Papa bernafsu.. sedikit demi sedikit mulai menemukan jawabannya.

Apakah Seorang papa mungkin bernafsu pada puterinya sendiri..?
Darah dagingnya sendiri..?

Membaca cerita ini aku sedikit paham..
bahwa mungkin waktu itu Papa onani setelah melihat payudara puterinya sendiri.. yang terpampang dengan bebas di depan matanya..

Apalagi Papa tidak menikah lagi.. kehidupannya terfokus pada pekerjaannya..
terang saja beliau lama sekali tidak merasakan sentuhan wanita.

Padahal manusia mana yang jaman sekarang hidupnya sama sekali tidak tersentuh oleh kebutuhan biologis yang satu ini..?

Sekalipun setelah membaca buku ini aku sedikit marah padanya..
karena aku baru tahu.. bahwa apa yang papa lakukan dengan bernafsu padaku.. adalah sesuatu yang sangat jahat..
tetapi aku sedikit memaklumi dosa beliau.

Bagaimanapun juga.. bagiku beliau adalah papa yang baik dan bertanggungjawab.
Begitu sayangnya beliau padaku.. sampai tidak sempat lagi berpikir untuk berumah tangga kembali..
padahal usianya saat itu baru 32 tahun.

Dengan kegantengan beliau.. tentu mudah baginya mendapatkan wanita yang sepadan dengannya.
Betapa tersiksanya batin papa, pikirku.

Mungkin Papa benar-benar khilaf setelah melihat payudaraku yang kubiarkan menggantung bebas di depan matanya.
Laki-laki tentu punya nafsu pada perempuan. Itu normal.. pikirku menghibur diri.

Pikiranku melayang pada waktu aku memergoki Papa sedang bermasturbasi.
Cerita di dalam buku ini menghanyutkan aku..

Tanpa sadar.. aku membayangkan batang papa.. ekspresi wajah papa ketika bermasturbasi..
cairan sperma yang terpancar berkali-kali dari ujung keunguan burung papa, aku terangsang hebat.

Gosokan jariku menjadi semakin intens menyentuh setiap relung titik sensitif di vaginaku.
Kubayangkan tokoh laki-laki di dalam buku ini adalah papa dan puteri kandungnya adalah aku.

Karena kenikmatan yang sudah teramat sangat akibat gesekan jari dan clitorisku..
Hingga akhirnya aku benar-benar kehilangan akal sehatku.

Aku menutup buku tersebut.. dan dengan tanpa takut berdosa..
aku membayangkan Papa sedang menyetubuhiku..!

Membayangkan setiap lekuk kemaluannya..
Membayangkan sperma yang menghujani dada dan perutnya.

Membayangkan beliau memasukkan burungnya ke dalam vaginaku..
persis seperti yang diceritakan oleh buku yang barusan aku baca tersebut.

Sampai akhirnya.. aku merasakan pegal yang merambat pelan di sekitar tulang pinggul..
Otot perutku mengencang.. dan aku bagai tersetrum badai ribuan volt.. yang mengguncang seluruh tulang belakangku.

Aku merintih.. kakiku mengangkang dan menegang ke samping kiri-kanan.
Dan pada satu titik aku melenguh.. karena satu rasa nikmat yang sulit untuk didefinisikan dengan kata-kata.

ÔÇØNghh..ughh..!
Sembari kubisikkan lirih kata.. ÔÇ£Papa..!ÔÇØ
Ketika akhirnya badai menggulungku itu mencapai puncaknya.

Bayangan burung papa yang sedang memuncratkan spermanya menganga jelas di dalam pikiranku.
Aku terangsang hebat.

Mataku seperti dipaksa untuk mendelik..
Tulang punggungku dipaksa melengkung ke depan seturut pinggulku yang terus mengejar arah jari tanganku.

Akhirnya aku ambruk lemas dengan keringat di seluruh tubuhku. Lemas sekali.
Lega.. puas.. nyaman.. ngilu.. aneka perasaan teraduk dalam satu adonan batin yang kental.
Aku mengalami orgasme pertamaku dengan membayangkan papaku sendiri.

Tentu Ada sedikit perasaan berdosa terselip di hatiku.
Aku merasa kebingungan dengan apa yang baru saja kualami.

Semenjak saat itu, aku menjadi ketagihan melakukan masturbasi.. terutama ketika Papa sedang kulakan barang di toko relasinya.

Dan yang membuatku semakin bingung dan merasa berdosa adalah;
Seringkali aku membayangkan papaku sendiri sebagai fantasi masturbasiku.

Aku merasakan kenikmatan yang lebih ketika membayangkan hubungan terlarang itu.
Bahkan pernah terpikir..
seandainya Papa meminta sendiri secara langsung untuk menyetubuhiku.. mungkin aku akan dengan rela meluluskan permintaannya.
—————————

Suatu hari, Papa pergi lagi ke toko langganannya untuk ber-kulakan barang.
Seperti biasa.. aku langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk bermasturbasi.

Tak dinyana.. ketika hendak mencapai puncak..
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.

ÔÇ£Ling, papa pulang.. kenapa grendelnya dikunci dari dalam..!? Cepat bukain pintu, papa kehujanan..!ÔÇØ

Bagai tersambar geledek.. aku segera memakai kembali celanaku..
mengembalikan buku-buku itu ke lemari dan berlari menuju pintu rumah kami untuk membukakan pintu untuk Papa.
Papa mengomel karena tindakanku yang menyontek grendel dari dalam.

Setelah membersihkan diri.. papa masuk ke kamar kami dan rebahan di sana sambil membaca buku.
Sementara aku yang tadi gagal mencapai puncak.. rebahan di sampingnya.
Masih tersisa sedikit nafsu untuk menyelesaikan permainan jariku.

Aku melihat papa dari dekat.. entah kenapa pikiranku semakin mengada-ada.
Bayangan persetubuhan antara papa dan puteri kandung yang ada di cerita yang sering kubaca di dalam buku..
melintas berkali-kali dalam pikiranku.

Bagaimana rasanya menyentuh kemaluan laki-laki.. membuat akal sehatku sedikit hilang.

ÔÇ£Pa, masih marah ya..?ÔÇØ tanyaku pelan.
ÔÇ£Nggak, papa hanya capek saja. Papa ingin istirahat sebentar..ÔÇØ

Aku yang sudah setengah sadar oleh bayangan-bayangan itu.. menggeser posisi tubuhku lebih dekat ke beliau..
lalu merapatkan tubuhku ke tubuhnya.

Yang lebih gila lagi adalah.. dengan sengaja kutaruh tangan kiriku di atas celana papa.
Degh..!

Kurasakan tonjolan yang masih bersaput kain itu menyentuh permukaan kulitku.

Diluar dugaan.. ternyata papa tidak ber-reaksi sama sekali.

Hati-hati.. takut mengganggu Papa.. mulai kugerakkan pelan-pelan tanganku..
seakan seperti suatu gerakan yang tidak disengaja..

Dengan teramat pelan dan samar-samar jariku mengusap gundukan di celana papa.
Sementara kepalaku bersandar di pundaknya yang sedang serius membaca buku.

Aku yakin sekali, tonjolan itu semakin lama semakin besar dan keras.
Aku tak bergeming.. aku takut papa mengetahui kesengajaanku.

Mengerasnya gundukan itu menggetarkan nafsuku yang tadi sempat tertunda.
Apakah Papa benar waktu itu membayangkan aku.. puteri kandungnya sendiri.. sewaktu bermasturbasi..?

Jika iya.. bukankah itu artinya beliau bernafsu padaku..?

Dengan sedikit manja dan entah keberanian yang timbul dari mana aku bertanya.
ÔÇ£Kok papa ininya jadi keras..?ÔÇØ

Kataku sambil menekan-nekan dengan hati-hati gundukan itu dengan ujung-ujung jariku..
dengan suara yang dibuat-buat sepolos dan ÔÇÖsenaifÔÇÖ mungkin.

Papa tidak menjawab, tatapannya begitu serius membaca buku.
ÔÇ£Yee.. papa kok burung cowok bisa berubah jadi keras gini sih..?ÔÇØ kataku lagi sambil pura-pura ketawa.

Ke-alpa-an reaksi dari papa membuatku semakin berani..
ÔÇ£Lucu ya pa..!?ÔÇØ lanjutku lagi sambil memberanikan diriku menggosok-gosoknya dengan ujung jari telunjukku.
Papa terlihat tetap saja serius membaca buku.

Ada sekitar 5 menit kugosok gundukan itu dengan jari telunjukku.
Celana dalamku mulai basah.

Posisi tubuhku sekarang lebih merapat lagi ke arah papa.
Pelan tanganku kuarahkan ke atas.

ÔÇ£Perut papa tambah buncit ya.. kebanyakan makan sih..ÔÇØ kataku lagi sambil mengelus-elus perutnya.
Beberapa lama kuelus-elus perut buncitnya mengikuti garis celana pendek yang sedang dikenakannya.

Dan ketika nafsuku sudah tak bisa kutahan lagi..
Nekat.. kuselipkan tanganku ke dalam garis celananya..

Selangkah demi selangkah.. se-centi demi se-centi, pelaaaaaan.. dan hati-hati..
seperti situasi penjinak bom yang hendak memilih kabel tembaga mana yang akan dipotong..
Kusamarkan semua itu dalam gerakan elusan sayang.

Terkadang tanganku berhenti memainkan bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar pusarnya.
Suasana saat itu sangat mendebarkan.

Dan nafasku seakan terhenti..
ketika ujung jariku menyambar sesuatu yang hangat dan kenyal di bawah sana.
Hangat dan berair.

Ujung batang itu langsung kutekan lembut dengan ujung jariku..
Nafasku terasa sesak..
pembuluh darah di wajahku memanas oleh satu pengalaman yang pertamakali kurasakan dalam hidupku.

Hingga pada satu titik..
tanganku merogoh lebih dalam dan menangkap batang kenyal yang mengeras tersebut.

Papa sedikit mengernyitkan alisnya ketika aku mencoba melirik sedikit ke atas..
tetapi beliau masih terlihat asyik membaca buku.

Tiadanya reaksi sama sekali membuatku sedikit yakin.. beliau mengizinkan semua ini terjadi.
Dengan bebas kugerakkan tanganku mengelus batang kenyal itu ke atas dan ke bawah..
sambil terkadang jempolku berhenti menekan puncak burung papaku.

Situasi begitu menegangkan.
Aku berpura-pura bego.. seperti anak kecil polos yang baru saja menemukan mainan baru..
Sementara Papa masih terus berpura-pura membaca buku.

Kesunyian melanda kami berdua..
Suara jam tik-tok kuno di dinding kamar memenuhi ruangan.

Batang itu semakin lama semakin keras..
Ujungnya mengeluarkan semacam lendir bening lengket yang membasahi telapak tanganku.

Tangan kananku terus menggenggamnya sembari terus mengocoknya dengan irama yang makin lama makin cepat.. setengah gemas.

Ctekk..!

Tiba-tiba ruangan kami menjadi begitu gelap..
Papa mematikan lampu baca yang ada di samping tempat tidur kami.

Otomatis gerakan kocokanku berhenti sebentar.. sampai kurasakan suatu belaian lembut di rambut kepalaku.

Kubenamkan wajahku erat-erat di atas tulang belikat papa..
Tanganku pun secara refleks kembali bergerak mengocok batang yang masih bersembunyi di lipatan celana papa dengan lembut.

Tangan papa masih membelai belai rambutku.
Perasaan malu dan terangsang bercampur menjadi satu.
Kurasakan badan papa sedikit berguncang, seperti hendak bangun dari rebahnya.

Tetapi ternyata Papa bukannya bermaksud hendak bangun..
ketika kusadari pelan-pelan kulit tanganku tersentuh oleh udara bebas..
Papa melepas celana pendeknya.. sehingga sekarang tanganku bisa bergerak lebih bebas lagi.

Kesempatan itu tak kusia-siakan..
Tanganku bergerak semakin cepat ke atas dan ke bawah.. seraya terkadang jempolku menekan-nekan ujung batang kemaluan papa.

Kegelapan dan kesunyian di kamar kami seakan membeku..
Hanya terdengar suara kecipak gesekan antara kulit tanganku dan kulit kemaluan Papa.

Belaiannya di rambut kepalaku menjadi semakin intens..
Bahkan ada suatu tekanan di belakang kepalaku untuk semakin mendekat ke tubuhnya.

Mendadak Papa bangun dari rebahnya.. terlepaslah batang kemaluan papa dari genggaman tanganku.
Pikiranku berusaha menebak-nebak apa yang hendak dilakukan oleh Papa.

Ternyata Papa bergerak memelukku dari atas..
Sambil tangannya yang sebelah kiri memegang kepalaku bagian belakang..
beliau memelukku erat-erat dan mulai menggerakkan tubuhnya ke arah bawah.

Jantungku berdetak tak beraturan.. ketika kurasakan jari-jari papa menyusuri pinggulku dan dengan satu gerakan ke bawah yang cepat..
Celanaku dipelorotkan ke bawah bersama dengan celana dalamku..!

Aku sedikit memekik lirih ketika kurasakan udara dingin yang tiba-tiba menyentuh kulit paha dan selangkanganku.

Aku diam tak bergerak sampai kurasakan kecupan kecupan ringan di betisku..
Papa menciumi betis itu dengan lembut bergantian kiri dan kanan.. kakiku gemetaran.

Tidak ada suara apapun di kamar kami, sunyi sekali.
Hanya bunyi gesekan sprei yang terkadang terdengar.

Kami sama-sama menjaga image kami sebagai Papa dan anak..
berusaha agar semua ini tidak terlalu membuat kami malu dan merasa bersalah.

Perlahan ciuman papa berlabuh di pahaku sebelah dalam..
Aku merasa kegelian tetapi kutahan..
Keinginan untuk menjaga image dan agar permainan ini terus berlanjut..
tanpa ada perasaan apapun yang mengganggu lebih kuat..
daripada hanya sekedar rasa geli yang masih bisa kutahan dengan menggigit bibirku pelan.

Langkah papa dengan mematikan lampu kamar mungkin hanyalah suatu usaha untuk mengurangi rasa bersalah itu..
setidaknya kami tidak saling memandang..
tidak saling melihat bahwa yang sedang bersetubuh adalah Papa dan Anak Kandungnya sendiri.

Ciuman itu terasa hangat di paha bagian dalamku.. membuatku otomatis membuka pahaku semakin lebar setiap menitnya.

Ciuman Papa telah mencapai bagian tulang yang ada di lipatan selangkanganku..
Ada rasa hangat dan lembut bermain-main di batas antara pinggul dan pahaku.

Kenikmatan ini membuatku ingin berteriak sejadi-jadinya..
ingin yang tak mungkin bisa kulepaskan dan hanya bisa kuredam sekuat tenaga dalam gelap yang sunyi ini.

Tetapi toh akhirnya kesunyian itu pecah juga dengan suara desisanku..
tatkala ada selembar daging yang hangat dan basah menyapu garis vaginaku.

ÔÇ£Ssshhh.. ssshhh.. ssss.. ssss..!ÔÇØ

Aku menyadari.. itu adalah lidah papa yang mencoba mengorek bibir luar vaginaku..
Dan lidah itu akhirnya menemukan tujuan akhirnya.

ÔÇ£Hhhhhh.. aaaah..!ÔÇØ

Clitorisku disaput dengan pelan, lembut dan sedikit tekanan-tekanan kecil oleh lidah papa.
Tanganku otomatis memegang kepala bagian belakang papa.
Ouwh.. Kenikmatan apakah ini..?

Perutku terasa teraduk-aduk.. jari kakiku menegang keluar..
kedua kakiku melayang tegang ke atas menjepit pundak papa.

ÔÇ£Sssss.. ssshhhh.. ahh..!ÔÇØ

Betapa piinginnya aku menyebut kata ÔÇ£Papa..ÔÇØ
Tapi entah kenapa.. kata itu seperti sulit keluar dari kerongkonganku.. seperti tersekat dan tersangkut di sana.

Terasa hembusan nafas hangat di vaginaku..
sementara Lidah papa mencongkel-congkel, mengaduk-aduk clitorisku dengan liar.

Suara desisan dan rintihanku membuat papa semakin tak masuk akal..
seperti kehilangan nalar.. menghajar vagina puteri kandungnya sendiri dengan mulut dan lidahnya.

Akupun sudah tak peduli lagi bahwa yang sedang ada di bawah tubuhku adalah Papa kandungku sendiri..
Kenikmatan yang sekarang kurasakan 100 kali lebih nikmat daripada kenikmatanku bermasturbasi.

Terkadang lidah itu terasa bergetar di bawah sana, setiapkali badanku ingin menggeliat..
Papa menahan kedua pahaku dengan tangannya.

Dikejarnya Clitorisku ke arah manapun tubuh ini menggeliat.
Ketika aku merasa tidak tahan lagi, ketika perasaan nikmat itu hampir mencapai puncaknya..
aku ingin menangis sejadi-jadinya menahan rasa nikmat dan gatal yang aneh itu.

Namun mendadak Papa menghentikan sapuan lidahnya dan bergerak ke atas tubuhku.
Dapat kurasakan nafas beliau di samping kanan leherku.. sementara tangannya merambati perut dan pinggangku.

Berusaha menyingkap kausku semakin ke atas.. ke atas dan ke atas lagi.
Sampai kemudian tangan itu beralih ke punggungku dan membuka kaitan BH-ku dengan sekali sontekan ringan.

Papa lantas menciumi leherku dengan ganas.. seperti lupa bahwa aku adalah puteri kandung satu-satunya yang seharusnya beliau jaga dari perbuatan terkutuk yang sedang kami lakukan.

Keganasan Papa mungkin diakibatkan oleh begitu lamanya beliau melajang..
dan tidak pernah merasakan tubuh wanita lagi semenjak kepergian mendiang mamaku.

Aku hanya bisa berpasrah.. merintih-rintih lirih.. dengan memegangi kedua lengannya.

Untung kegelapan kamar kami menyamarkan semua ekspresi wajah kami berdua..
menghalangi kami untuk melihat satu kenyataan yang seharusnya tidak boleh pernah terjadi..
di antara seorang Papa dan Anak kandungnya.

Kurasakan kini.. telapak tangan yang kasar itu masuk menyelinap ke bawah BH-ku yang belum terlepas dengan sempurna..
Meraba dan meremas dengan ganasnya.. seakan-akan ingin menikmati setiap jengkal kulit payudaraku.

Jempol papa berusaha mencari kedua putingku yang waktu itu masih sekecil kacang hijau..
Dan ketika beliau menemukannya.. beliau mengusap-usapnya dengan jempolnya..
sambil keempat jari tangan lainnya meremas dari arah samping buah dadaku.. puterinya sendiri.

Aku mendesis-desis.. payudaraku terasa kebal dan kencang..
Setiap goresan kuku di payudaraku..
Setiap usapan lembut yang mengenai putingku.. membuat darahku berdesir..
Kepalaku seakan menjadi ringan dan melayang.

Kemudian tangan Papa menahan punggungku dan menarik tubuhku sedikit ke atas..
beliau berusaha meloloskan baju dan BH-ku.. tanpa aku sadari.. aku merespons sedikit kooperatif..
dengan mengangkat kedua belah lenganku.

Akhirnya bebaslah seluruh tubuhku dari balutan kain..
Kami berdua seperti bayi yang baru lahir..
Berdua telanjang.. tanpa sehelai benangpun dalam kamar yang gelap itu.

Papa memelukku sebentar dengan erat.. menempelkan dadanya pada buah dada dan perutku..
Aihh.. dapat kurasakan gesekan kulit kami berdua.. keringat kami bercampur menjadi satu.

Tak lama..
Papa perlahan bergerak ke bawah dan langsung menciumi buah dadaku dari bawah..
mendesak-desakkan mulutnya ke arah buah dadaku yang masih ranum dan belum selesai berkembang itu..

Bibir papa menjilati puting payudaraku.. sementara tangan yang lainnya tak henti meremas-remas dengan gemas payudara yang satunya.

Vaginaku terasa basah kuyup oleh cairan rangsangan yang datang bertubi-tubi dari Papa.
Kakiku secara alami membuka.. seakan berharap masuknya tubuh papa ke tubuhku.

Papa menempatkan pinggulnya di antara kedua belah kakiku.
Sementara aku masih fokus pada rasa geli dan nikmat pada kedua belah payudaraku..

Plass..!
ÔÇØNghh..ÔÇØ rintihku tiba-tiba.

Seketika darahku berdesir..
ketika aku merasakan.. ada satu benda tumpul yang menyentil-nyentil Clitoris dan liang vaginaku.

Sentilan itu menambah intensitas rangsangan yang meledak pelan-pelan merambati seluruh bagian tubuhku.

Tangan Papa perlahan turun ke arah pinggulku.. sementara bibirnya masih menari di kedua payudaraku.
Sentilan itu yang ada di vaginaku berubah menjadi suatu tekanan..

Aku sadar.. saat itu Papa ingin memasuki tubuhku..
Papa sudah kehilangan seluruh kesadarannya.. demikian juga aku.

Kubuka kakiku lebar-lebar.
Jantungku berdegub dengan cepat.. menantikan sesuatu yang aku sendiri belum tau.

Slepp..!
ÔÇØHeghh..ÔÇØ
ÔÇØUnghh..ÔÇØ

Lenguh tertahan papa.
Rintih erangan lirihku..

Berdua sama membias suara.. ketika ujung batang kemaluan papa perlahan menusuk..
membelah lalu terselip di lepitan kemaluanku.. perlahan mulai menyeruak ke lepitan vaginaku..

Banyaknya cairan yang keluar.. serta rangsangan hebat yang diberikan papa kepadaku..
mungkin membuat prosesi tersebut terasa tidak begitu sakit bagiku.

Clebb.. clebb.. clebb..
Papa mulai memaju-mundurkan kepala kemaluannya di lubang vagina puteri kandungnya..
Perlahan sekali.. dengan sabar dan telaten.

Setiap 10 menit ia akan bertambah lebih dalam.. sedikit demi sedikit.
Begitu sabar papa berusaha memasukkan kemaluannya ke dalam vaginaku.

Sampai pada satu titik.. bagaimanapun juga..
masuknya barang orang dewasa sebesar itu dalam vagina perempuan berusia 13 tahun.. yang masih dalam masa pertumbuhan..
pastilah menimbulkan rasa perih.

Papa kemudian tiba-tiba memegangi pundakku..
sambil memindahkan sasaran ciumannya ke leher dan belakang telingaku.

Tanganku tegang memegangi kedua belah lengannya.
Papa seperti sedang merencanakan sesuatu dengan menekan pundakku ke arah bawah dengan sedikit lebih kuat.

Bless..!
ÔÇØAahhh..!ÔÇØ

Aku terkejut menahan rasa perih yang amat sangat di bagian bawah tubuhku..
Tubuh mungilku yang hendak terangkat ke atas akibat refleks menghindari rasa sakit.. ditahan papa menggunakan kedua telapak tangannya.

Papa memeluk tubuhku dengan erat.
Entah untuk berapa lama kami diam di posisi tersebut.

Sementara kurasakan ada satu rasa mengganjal besar di dalam tubuh bagian bawahku.. mengisi tiap ruang kosong di lubang vaginaku.

Dapat kurasakan kedutan di batang kemaluan papa di dalam tubuhku..
setiap kedutan yang mengikuti irama detak jantungnya menyentuh setiap saraf dalam dinding lubang vaginaku.

Pelan tapi pasti.. Papa kembali menggerak-gerakkan kemaluannya di dalam dinding vaginaku..
dengan teramat sangat hati-hati sambil menciumi kedua belah payudaraku.. melumat puting susuku dengan lembut.

ÔÇØNghh..nghh..hhh..ÔÇØ

Aku cuma mampu mengerang dalam rintih tertahan… menerima hantaman rasa yang teramat aneh.
Kurasakan sedikit rasa perih di bawah sana.. seperti ada cairan yang meleleh turun membasahi selangkangan dan pantatku.

Papa terus bertahan dengan irama konstan bergerak maju-mundur..
mengeluar-masukkan kemaluannya ke dalam vagina puteri kandungnya sendiri.

Kesabaran Papa membuahkan hasil..
Ketika tak lama perih yang kurasakan sedikit demi sedikit bercampur dengan rasa nikmat yang tak terkira..

Setiap titik di lubang vaginaku yang masih sempit sekali.. merespon gesekan demi gesekan kulit kemaluan papa.

Tanganku yang sedari tadi mencengkeram lengan papa dengan kuat..
dan berusaha mendorong tubuh Papa ke atas mulai mengendur dan lemah.

Papa seakan mengerti perubahan yang sedang kualami saat ini..
Beliau mulai dengan telaten memberi percepatan pada gerakannya, tegak lurus terhadap waktu.

Semakin lama gerakan itu semakin meningkat..
Bahkan tak segan kemaluan papa bergerak mencongkel ke atas..
ke samping kanan dan kiri.. berusaha menyundulkan ujung kemaluannya ke dinding-dinding vaginaku.

Gerakan demi gerakan itu perlahan mulai membuatku mendesis dan merintih.

ÔÇ£Sssssshhh.. aaaah.. ssshhh..!ÔÇØ aku benar-benar kelojotoan dibuatnya.

Kepalaku menggeleng ke kanan dan ke kiri mengikuti irama tusukan kemaluan beliau.
Tanganku sesekali mencengkeram dengan kasar di lengannya setiapkali kurasakan tusukan Papa mencapai dasar vaginaku.

Setiapkali bulu-bulu di sekitar kemaluan papa menghantam clitorisku aku mendesis lirih.
Kakiku mengunci pinggul papa..
Sementara.. Papa mulai dengan liarnya menghajar vagina Puteri kandungnya sendiri dengan gemasnya.

Sudah tak kupedulikan lagi semua yang ada di dunia ini..
siswi yang terkenal paling alim di sekolah, ketua perkumpulan rohani..
sekarang sedang beradu nafsu menggali birahi dengan papa kandungnya sendiri di kamar.

Kubiarkan Papa mengeksplorasi tubuhku dengan buasnya.
Kuijinkan beliau meremas-remas pantat dan buah dadaku seraya menghujamkan kemaluannya berkali-kali ke vaginaku.

Seakan semua itu menjadi obat balas budiku kepada Beliau karena telah membesarkan aku dengan kasih sayang..
menjadi penawar dahaga beliau semenjak hubungan seks terakhirnya dengan mendiang mamaku bertahun-tahun lalu.

Kemaluan Papa terasa begitu penuh di lubang vaginaku yang baru tumbuh bulu..
Ia berdenyut dan bergetar di dalam sana..
Saraf-saraf di seluruh tubuhku menegang dengan hebatnya.

Seandainya saja bisa kulihat ekspresi beliau di saat-saat seperti ini.
Tubuhku yang mungil yang tak sebanding dengan tubuh papa yang besar..
membuat beliau lebih mudah dalam menjelajahi dan menikmati seluruh lekuk tubuhku.

Entah berapa cupangan yang sudah mendarat di buah dadaku.
Papa menghisap kedua belah lingkaran putingku dengan kencang.. sementara kemaluannya tak berhenti mengoyak lubang vaginaku.

Aku ingin menjerit dan berteriak sekuat tenaga rasanya saat itu.
Ingin kukatakan betapa aku menyayangi papa, sangat menyayangi beliau.

Tiba-tiba tubuhku ditarik ke atas oleh beliau.. kemudian mendudukkan aku di pangkuan beliau..
sehingga sekarang posisi buah dadaku kira-kira ada di hadapan wajah papa.
Dihisapnya berkali-kali kedua lingkaran puting susuku, sambil tangannya memegangi pinggulku.

Beliau lalu memelukku dan menaruh pantatku di atas ranjang..
masih dalam posisi duduk dan kemaluan Papa masih menancap di dalam lubang vaginaku.

Pelan, beliau mulai menggoyang kembali kemaluannya keluar masuk vaginaku..
tangan kanan papa meremas-remas payudara kananku, sementara tangan kirinya mengusap-usap rambutku.

Gelombang kenikmatan yang kualami semakin mengganas, usapan rambut di kepalaku membuat perasaan wanitaku bangkit..

Perasaan disayang dan dicintai membuatku merasa nyaman dan menghapus seluruh perasaan bersalah serta rasa maluku..
seakan memang demikianlah aku ditakdirkan.. untuk bersetubuh dengan papa kandungku sendiri.

Pinggulku mulai merasakan desiran-desiran aneh, aku tahu aku segera akan mengalami orgasme..
tubuhku membalas setiap hentakan dengan hentakan..
aku mengayun ke depan mencari kemaluan papa agar semakin dalam masuk ke dalam tubuhku.

Papa menghujamkan kemaluannya bertubi-tubi ke dalam vaginaku.
Payudaraku mengencang di dalam genggaman tangan kiri papa.

ÔÇ£Ssssshh.. ahhh.. ahh.. ss sh.. ahhh..!ÔÇ£

Aku merintih dengan keras, desisanku memenuhi ruangan..
Sementara papa pun mulai menggeram-geram dan sesekali meremas lembut kepalaku yang baru diusap-usapnya.

Jari-jari kaki melengkung ke arah dalam, aku akan orgasme.
Namun ketika kurasakan aku akan orgasme, tiba-tiba, Papa lagi-lagi merebahkan aku ke tempat tidur..
memelukku kemudian mengecup dahiku dengan lembut.

Dapat kurasakan tubuh papa bergerak condong sejenak ke arah samping tempat tidur kami..
dalam keadaan kemaluannya masih tertancap di vaginaku.
Ternyata papa menyalakan saklar lampu yang ada di sebelah tempat tidur kami.

Byarr..!

Seketika itu, barulah kulihat keadaan kami yang sesungguhnya..
Sekarang papa bisa melihat seluruh bentuk tubuh puteri kandungnya dengan sangat jelas.

Payudaraku yang putih mengkal dengan bayangan urat-urat tipis berwarna hijau muda..
Putingku yang cokelat muda kemerahan..
Vaginaku yang baru ditumbuhi beberapa lembar bulu halus..
Wajahku menoleh ke arah samping menghindari melihat wajah papa.

Aku malu sekali.
Tetapi rasa malu itu berubah kembali menjadi rasa nikmat.. ketika tak lama kemudian kurasakan tubuhku kembali berguncang-guncang..
Orgasmeku yang tertunda tadi mulai membuncah kembali dalam relung-relung kesadaranku.

Papa kembali meremasi kedua payudaraku, menciuminya dengan rakus..
Kali ini beliau terlihat lebih bernafsu ketimbang sebelumnya..
Mungkin karena sekarang beliau sudah melihat dengan jelas bentuk payudara puteri kandung yang diasuhnya sejak kecil.

ÔÇ£Ssssssh.. aarrgghhh.. sssh..!ÔÇØ

Tanganku meremas-remas lembut pinggang papa.
Sodokan kemaluan papa terasa sangat cepat di bawah sana, beliau memaju-mundurkan tubuhnya dengan tegas dan sedikit brutal.
Seakan tidak mau menyia-nyiakan momen yang langka di dalam hidupnya.

Tubuhku menggelinjang.. berguncang dengan hebat di atas kasur.
Perasaan kaku di pinggulku mulai muncul kembali.

Vaginaku merasakan nikmat yang luar biasa.. kakiku menjepit dengan spontan pinggul papa, getaran aneh mulai menjalari tulang punggungku.

Tiba-tiba papa memegang wajahku dan membuatku menoleh ke arah wajahnya.
Itulah pertamakalinya mata kami bertatapan secara langsung selama hubungan intim kami berlangsung.

Papa masih menggoyang tubuhku dengan cepat di bawah sana.
Dengan tangannya beliau menjaga agar wajahku tidak menoleh ke mana-mana..
sementara gelombang orgasmeku sudah tinggal menunggu hitungan detik.

Tiba-tiba.. papa mempercepat frekuensi gerakan kemaluannya di dalam kemaluanku.
Tangannya yang kanan meremas payudaraku yang baru tumbuh dengan gemas dan kuat..
sementara tangannya mengelus kepalaku dan menahannya agar mata sipitku tetap bertatapan dengan matanya.

Aku tak kuat lagi menahan bendungan kenikmatan yang hendak runtuh tersebut.
Di detik-detik terakhir jebolnya orgasmeku..

Serr.. serr.. serr.. serr..

Seketika aku merasa kenyamanan dahsyat seperti menabrakku.. bersamaan dengan keluarnya semacam cairan.. hangat.. dari lubuk kemalauanku

Papa memegang kedua sisi kepalaku dengan menggunakan kedua belah tangannya menghadap beliau..
sambil dengan kasar menyentak-nyentakkan kemaluannya ke lubang kenikmatan puteri kandungnya.

Aku membelalakkan mataku ke padanya.. Dari jarak sedekat ini melihat wajah papa..
Kurasakan gejolak nafsuku menukik pada titik tertingginya..
mengaburkan.. pupus segala tatanan moral dan etika kami sebagai papa dan anak sekandung.

Akhirnya.. sekelebat rasa nikmat seperti setruman listrik ribuan volt yang tidak mematikan menjalari seluruh tubuhku..
membuat mulutku ternganga dan mata sipitku terbuka lebar memandang wajah papaku sendiri.

ÔÇØAaaaaah.. Papa Jahattttttt..!ÔÇØ aku berteriak histeris.

Kupersembahkan ekspresi orgasme seorang puteri kandung.. kepada papa kandungnya sendiri..
dengan sejelas-jelasnya.. sedekat-dekatnya.. kepada papaku yang tersayang..

Entah bagaimana perasaan papa sekarang.. melihat dengan jelas ekspresi wajah puteri kandungnya yang sedang ternganga orgasme..
akibat tusukan kemaluannya sendiri.

Belum selesai gelombang orgasmeku..
Di tengah pertemuan dua mata kami yang terus saling menatap dan membelalak..
kurasakan cairan-cairan hangat menyerbu segenap relung vaginaku..
memuncrat satu demi satu dan terasa hangat bagai sampai ke dalam perutku.

Banyak sekali sperma papa.. terasa tak henti memancar dari kemaluan papa ke dalam rahim puteri kandungnya.
Sperma yang seharusnya menjadi bibit adik-adikku.. kini justru mengguyur rahimku dengan derasnya.

Papa menggeram tanpa mengedipkan matanya sedikitpun melihat ke arah wajahku sambil memegangi erat kedua sisi kepalaku.

Beberapa detik kami berdiam diri selepas ejakulasi papa.. sampai aku kemudian merasa malu sendiri.
Papa mencium keningku berkali-kali dan ambruk badannya menimpa tubuhku.

Tubuhku yang mungil tenggelam di dalam tubuh papa.
Papa perlahan mencium bibirku, kami berciuman bak orang yang pertamakali pacaran.

Semalaman itu.. aku tidur di atas dada papa. Papa memelukku dengan erat..
Kami berdua tidur dalam keadaan telanjang tanpa selembar benangpun di tubuh kami.

Sejak saat itu, Papa dan aku hidup bak suami istri.
Hari-hari pertama, kami melakukannya seperti orang yang kesetanan.
Tak peduli di manapun kami berada..

Bahkan pernah.. suatukali kami berhubungan intim di atas kursi goyang di saat toko dalam kondisi sepi dan masih buka..

Saat itu hujan deras sekali, aku memakai seragam SMPku namun tanpa celana dalam..
sehingga orang dari luar tidak akan menyangka bahwa di atas kursi goyang itu..
kemaluan papa sedang berada di dalam kemaluanku.. terjepit nikmat oleh daging belah milikku.. putri kandungnya tersayang.

Beruntung pada hubungan seks kami yang pertama, aku tidak sampai hamil.
Namun sejak hari itu, papa menyuruhku meminum pil sebelum kami berhubungan intim.

Demikian kisah hidupku di masa lalu..

Sampai hari ini aku sudah menikah.. dan memiliki 1 orang anak.
Tetapi ada kalanya aku masih berkunjung ke rumah papa, atau papa berkunjung ke rumah kami..
Dan.. tentunya kami masih selalu melakukan hubungan suami istri setiapkali bertemu.

Tamat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*