Home » Cerita Seks Mama Anak » Si Pejantan Tangguh Itu adalah Anakku 2

Si Pejantan Tangguh Itu adalah Anakku 2

Cerita Sebelumnya : Si Pejantan Tangguh Itu adalah Anakku 1

Secepat kilat aku langsung keluar dari rumah Dina agar tidak ketahuan. Setibanya di rumah aku langsung menceritakan hal ini kepada Mbak Yanti. Anehnya ia sama sekali tidak kaget dengan apa yang aku ceritakan. Ternyata Darma pernah mengungkapkan kepada Mbak Yanti kalau ia suka kepada Dina. Mbak Yanti juga menyadari kalau belakangan ini hubungan keduanya semakin erat. Setiap pulang sekolah Dina sering mampir ke rumah untuk sekedar bermain atau mengerjakan tugas bersama. Terkadang Darma yang berkunjung
ke rumah Dina. Tapi Mbak Yanti tak menyangka kalau hubungan keduanya sudah melebihi batas. Aku pun meminta saran kepada Mbak Yanti tentang masalah ini. Ia malah mengatakan agar memakluminya. Bagaimana aku bisa memakluminya disaat perilaku Darma sudah membuat aku naik pitam dan aku tak segan untuk menghajarnya. Hatiku sudah terlanjur sakit dan diriku rasanya malu karena gagal membimbing Darma. Aku hanya tidak ingin keduanya terlibat masalah terlebih lagi keduanya masih berusia sangat muda dan belum 17 tahun. Bagaimana kalau keduanya benar – benar berhubungan badan suatu saat nanti. Bisa – bisa keduanya terjangkit virus HIV atau terjadi kehamilan di luar nikah. Apalagi Darma sudah pernah berhubungan badan dengan Mbak Yanti dan sekarang ia tengah menjajaki percobaan berhubungan badan dengan Dina. Dengan ngos – ngosan Darma pun tiba di rumah. Aku yang sudah terlanjur emosi langsung meluapkannya.

“Dari mana kamu ???!!!” Tanyaku dengan nada membentak.

“Dari rumah Dina Mah” jawab Darma yang langsung tertunduk.

“Ngapain kamu di sana ???!!!” tanyaku lagi.

“Cuma main sama temen – temen aja di sana Mah” jawabnya dengan nada bergetar.

“Dasar anak pembohong !!!!”

PLAAAKKKKKK sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan anakku. Ia terkejut dan terjatuh di atas lantai karena tamparanku yang begitu kuat. Pipinya terlihat merah padam dan ada sedikit darah yang keluar dari mulutnya. Darma pun menangis sekuat mungkin dan Mbak Yanti langsung memeluknya.

“Kamu tidak sepantasnya melakukan ini Julita” kata Mbak Yanti memarahiku.

“Kelakuannya sudah melampaui batas Mbak. Aku hanya tidak ingin Darma melakukan ini terlalu jauh” jawabku mencoba membela diri.

“Iya tapi kamu tidak perlu menamparnya. Dia masih kecil dan kamu masih bisa menasehatinya secara baik – baik” ujar Mbak Yanti.

Mbak Yanti membawa Darma menuju kamarnya. Ia berteriak sekencang – kencangnya dan aku jadi merasa bersalah dengannya. Tapi aku sudah terlanjur emosi melihat perilakunya. Aku jadi ikut bersedih akan cobaan hidup yang kembali melanda diriku. Aku tahu caraku tadi salah dan maksudku hanya untuk agar ia sadar akan perilakunya. It’s Ok bila ia hanya melakukan persetubuhan itu dengan Mbak Yanti. Tapi bila ia melakukannya dengan orang lain itu akan lebih beresiko. Aku tidak ingin Darma menjadi anak yang berandal saat ia sudah dewasa nanti. Aku pun masuk ke kamar Darma. Aku melihat Mbak Yanti terus memeluk Darma sambil berbaring di kasurnya. Mbak Yanti mencoba untuk menenangkannya. Aku pun ikut berbaring di atas kasur dengan posisi Darma berada di tengah – tengah aku dan Mbak Yanti. Aku ikut memeluk Darma sambil memeluknya. Aku seharusnya tidak menamparnya karena ia adalah anakku meski bukan darah dagingku. Darma pun berbalik memelukku. Ia mengatakan permintaan maaf dan menyesal atas perbuatannya tadi. Ia berusaha menjelaskan kalau ia benar – benar cinta kepada Dina dan begitu juga dengan Dina yang juga mencintai Darma. Keduanya melakukannya atas dasar suka sama suka dan hanya sekedar melakukan petting dan tidak akan berani berbuat lebih. Aku coba menasehatinya meskipun hanya sekedar petting tapi kalau sudah terjadi accident siapa yang tahu. Nafsu tidak akan bisa dilawan. Aku juga menasehati kalau cinta anak SMP hanya sekedar cinta monyet. Jarang kisah cinta itu bertahan lama hingga mereka
dewasa nanti.

“Kalau kamu melakukannya dengan Bunda, Mamah masih memakluminya” kataku mencoba memberikan pengertian kepadanya.

“Jadi Mamah udah tahu selama ini ???” tanyanya dan aku hanya mengangguk pelan.

Kami bertiga pun terdiam sejenak sambil merangkul Darma dengan sisa – sisa tangisnya yang masih terisak. Tiba – tiba tangan Darma bergerak meraba kedua payudaranya. Aku kaget namun ntah kenapa aku tidak marah. Mbak Yanti yang melihat hal tersebut hanya tersenyum dan mengangguk kepadaku sebagai pertanda agar aku mengizinkannya meraba tubuhku. Dadaku berdetak dengan begitu kencang karena sudah lama tubuhku tidak ada yang menjamah. Dengan lembutnya ia meremas payudaraku dan menjepit kedua putingku dari luar bajuku. Ia seakan sudah hapal dimana letak putingku meski ia belum membuka bajuku.

“Mah…” panggil Darma dengan nada lirih.

“Iya sayang” jawabku sambil mengelus rambutnya. Matanya berlinang dan seakan menyimpan sejuta arti.

“Makasih ya Mamah udah mau menjadi orang tua aku” kata Darma. Hatiku langsung tersentuh. Ini adalah kali pertama Darma mengucapkan terima kasih atas semua jasaku selama ini. Ia sudah tahu kalau bukanlah orang tua kandungnya dan ia sama sekali tidak mempermasalahkannya. Aku benar – benar bangga memiliki anak sepertinya meski perilakunya membuat aku sakit hati. Bagaimanapun juga ia tetap anak yang sangat aku cintai.

Tiba – tiba Darma mengecup bibirku dengan lembut. Aku merasa diriku sebagai wanita kembali lagi setelah hilang akibat perceraian dulu. Aku membiarkan Darma menjelejah lidahnya di atas bibirku yang masih tertutup.

“Aku cinta sama Mamah” ucap Darma.

“Mamah juga cinta sama kamu sayang” jawabku yang secara refleks membalas ciumannya.

Kami berciuman mesra sambil memejamkan mata. Aku seperti bermimpi merasakan gairah ini kembali muncul. Tangah Darma bergeriliya ke belakang tubuhku. Ia mengelus punggungku dan terus turun hingga ia meremas pantatku. Ciuman kami pun berubah menjadi lumatan. Darma begitu agresif melumat bibirku dengan lidahnya yang terus menari di dalam mulutku. Aku pun tak mau kalah dengan membalas permainan lidahnya. Ia menghisap lidahku yang membuat aku merintih. Nafsuku sudah sampai diubun – ubun dan aku sudah melupakan dengan semua janji – janjiku dulu yang tidak akan menyerahkan tubuhku ini kepada Darma.

“Mah, boleh aku lihat nenen Mamah ???” tanya Darma sambil menunjuk ke arah payudaraku.

“Boleh sayang. Tapi kamu bukain ya baju Mamah” kataku dengan manjanya.

Darma tersenyum bahagia. Aku melihat Mbak Yanti yang terus memperhatikan permainan kami di samping kami. Dengan terburu – buru Darma melepaskan kaosku. Matanya berbinar kala melihat payudaraku yang tertutup BH favoritku yang berwarna ungu. Ia mengelus kulit payudaraku dengan telunjuknya. Lalu ia membuka cup BH ku dan kedua payudaraku pun terbuka dengan bebas. Aku sangat bangga dengan ukuran payudaraku yang berukuran 36A. Bentuknya masih padat dan kenyal meski usiaku sudah tak lagi muda. Apalagi aku belum pernah menyusui sehingga bentuknya masih kencang dengan puting yang menggemaskan. Darma menjepit kedua putingku dengan telunjuk dan jempolnya dan kemudian memilinnya. Aku pun mendesah dan tubuhku langsung bergetar. Aku bisa merasakan kedua putingku yang langsung mengeras. Darma yang sudah bernafsu pun bertindak dengan beringas. Ia meremas kedua payudaraku dengan kasarnya hingga terasa sakit. Namun aku tetap membiarkannya karena justru perlakuan kasarnya membuat nafsuku semakin meningkat.

“Jangan cuma diremas sayang. Isap juga pentilnya dong” Kataku dengan nakalnya.

Dengan sekali HAAAPPPP puting payudaraku pun masuk ke dalam mulutnya yang hangat. Hisapannya begitu kuat hingga dadaku ikut terangkat dan aku benar – benar kelonjotan merasakan nikmatnya.

“Kamu suka ya sama nenen Mamah. Sampai kuat banget kamu hisapnya” kataku.

“Sakit ya Mah ??? Dari dulu aku pengen hisap nenen Mamah” jawab Darma sambil terus menjilati kedua putingku.

“Malah Mamah suka banget. Lanjut lagi deh” kataku.

Aku menarik kepala Darma untuk kembali bermain dengan kedua payudaraku. Aku melirik ke samping dan melihat Mbak Yanti yang sudah ikut terbakar nafsu. Ia meremas sendiri kedua payudaranya yang sudah terbuka itu sambil melihat Darma yang tengah menikmati kedua payudaraku. Mbak Yanti bahkan menjilati sendiri kedua payudaranya yang besar namun sudah tampak menurun dengan puting yang berukuran besar dan bulat. Aku jadi semakin horni melihat tingkah Mbak Yanti. Puas bermain dengan kedua payudaraku, Darma pun dengan cekatan berusaha untuk membuka jelana jeans ku yang setinggi lutut.

“Kamu mau apa ???” tanyaku berusaha memancing gairahnya.

“Mau lihat memek Mamah” jawabnya dengan malu – malu.

“Memang Mamah kasih ???” Darma pun terdiam. Aku tertawa dalam hati karena berhasil memancing gairahnya.

Ia pun kembali memainkan kedua payudaranya. Terlihat raut wajah kecewa karena aku melarangnya untuk membuka celanaku. Giliran aku yang ingin bermain dengannya. Aku meraba selangkangannya yang membuat ia menatapku tajam. Aku hanya tersenyum sambil tanganku menerobos masuk ke dalam celana pendeknya yang terbuat dari bahan kain itu. Aku bisa merasakan betapa kerasanya kontol Darma. Aku meremasnya dengan sedikit kuat yang membuatnya meringis kesakitan. Aku benar – benar gemes dan sangat suka dengan kontol yang keras. Ia berinisiatif sendiri untuk membuka celananya dan menampakkan kontolnya yang sudah ereksi itu tepat di atas wajahku. Nafasku semakin memburu melihat kontol Darma dari jarak dekat. Kontolnya begitu kekar dengan urat – urat yang menonjol di batangnya. Bulu – bulu jembutnya yang tipis itu tampak begitu menggodaku. Aku meraba kontolnya dengan lembut dan halus. Aku merasakan kontolnya berkedut kencang dan cairan pelumasnya perlahan keluar. Tiba – tiba Mbak Yanti datang dan ikut mengelus kontol Darma. Sepertinya ia juga tidak tahan melihat kontol Darma karena selama ini ia memang tergila – gila akan kontol Darma. Kami mengocok kontol Darma secara bersamaan. Tangan kami juga berkantian memainkan biji pelir Darma yang menggantung itu.

“Bunda sana dulu dong. Biarin Mamah dulu yang nyicipin kontol aku” kata Darma menyuruh Mbak Yanti untuk tidak ikutan mengelus kontolnya.

“Eeehhh jangan gitu dong Darma. Kasihan dong Bunda yang juga pengen sama kontol kamu” kataku yang jadi tidak enak kepada Mbak Yanti.

“Tapi aku pengennya Mamah yang hari ini nikmatin kontol Aku” ujar Darma.

“Iya deh Bunda ngalah. Tapi Bunda boleh kan liat kalian main” pinta Mbak Yanti.

Darma hanya mengangguk tanda setuju. Darma naik ke atas tubuhku dan mengarahkan kontolnya ke mulutku. Ia menggesek kontolnya di atas bibirku hingga cairan pelumasnya belepotan di bibirku. Aku menjilatinya dengan lidahku dan rasanya sungguh asin. Aku membuka mulutku dan tanpa menunggu lama Darma langsung memasukkan kontolnya ke dalam mulutku yang hangat. Rasanya mulutku penuh sesak oleh kontol Darma yang besar itu. Aku menghisap kontolnya dan rasanya sungguh nikmat. Batang kontolnya begitu keras dan membuat lidahku tak henti – hentinya menjilatinya.

“Sepongan Mamah lebih enak dari Bunda” kata Darma yang membuat Mbak Yanti terbahak – bahak.

Aku ikut tertawa dengan mulutku yang masih disumpal oleh Darma. Kontol ini adalah kontol idamanku. Bahkan kontol mantan suamiku masih kalah dengannya. Terlebih lagi usianya yang masih muda tapi sudah punya kontol sehebat ini. Darma pun menggerakkan pantatnya maju mundur hingga kontolnya keluar masuk di dalam mulutku. Kontolnya terasa mentok di rongga mulutku hingga membuatku tersedak. Tapi hal itu tidak membuatku berhenti dan aku melakukan deep throat yang merupakan kali pertama yang dirasakan Darma.

“Aduh Mah kontolku kok enak banget gini” kata Darma merasakan kontolnya masuk semakin dalam ke mulutku.

Aku pun mengeluarkan kontolnya hingga tersedak dan nyaris muntah. Air liurku bertumpahan ke atas tubuhku. Lalu Darma menyerbu kembali bibirku dengan bibirnya. Ia menjilati seluruh air liurku yang belepotan di mulutku. Nafsu seks benar – benar bisa mengalahkan akal sehat seseorang.

“Mah, boleh ya aku lihat memek Mamah” rayu Darma. Tapi aku masih belum mengizinkannya karena masih ingin memancing gairahnya.

“Memang buat apa kamu lihat memek Mamah ??? Kan kamu dah sering lihat memek Bunda” jawabku yang membuatnya semakin kecewa.

“Aku pengen…eeeuuhhh…pengen….” katanya terbata – bata.

“Pengen apa ??? Yang jelas donk” kataku meski aku sudah tahu apa maksud dari perkataannya.

“Pengen jilat dan entot memek Mamah” jawabnya dengan jujur.

Aku menyuruh Darma untuk berbaring. Aku berdiri di atas tubuhnya dan dengan gerakan erotis aku membuka celanaku. Aku berdiri membelakanginya dan menurunkan celanaku sambil membungkuk. Aku menurunkannya secara perlahan seperti para penori erotis yang ingin memancing nafsu penontonnya. Saat celanaku terbuka, aku menari sambil menggoyangkan pantatku seperti penyanyi dangdut yang sedang bergoyang erotis. Aku menoleh ke belakang dan melihat wajah Darma yang kaku dengan mulut terbuka. Lalu aku menurunkan celana dalamku dengan perlahan pula. Aku melepas celana dalamku dan melemparkannya tepat mengenai wajah Darma. Ia menyambutnya dan mencium celana dalamku. Aku semakin bergairah ketika ia melakukan itu. Lalu aku membungkuk dan membuka belahan pantatku dan memamerkan belahan memekku kepada Darma. Tangannya pun mulai bergerak dan menyentuh bibir memekku.

“Kamu udah lihat Memek Mamah kan. Udah ya Mamah tutup lagi” kataku.

“Jangan Mah. Sini Mah biar aku jilat memek Mamah” suruh Darma.

Aku pun berbalik dan berjongkok tepat di atas wajahnya. Aku merasakan lidahnya yang mulai menari menjilati seluruh isi memekku. Aku merasakan sensasi nikmat yang sudah lama tidak aku rasakan. Lidah Darma menerobos masuk ke dalam lubang memekku. Ia menggelitik di dalam lubang memekku yang membuat aku keenakan.

“Sayang memek Mamah kamu apain…Kok enak banget sayanggg” kataku sambil menggerakkan pantatku maju dan mundur.

Darma meraih klitorisku dan ia langsung menjilatinya. Kepalaku mendongak ke atas karena kaget. Ini yang aku tunggu dari tadi. Aku menyuruh Darma untuk terus menggelitik klitorisku karena aku merasakan orgasmeku akan segera tiba. Aku semakin cepat menggerakkan pantatku dan akhirnya orgasmeku pun tiba. Aku kini terduduk di atas wajah Darma sambil terus menekan pantatku. Darma memukul pantatku seakan ingin terus memeras orgasmeku. Tubuhku rasanya lemas mendapati orgasmeku yang sudah lama terpendam. Aku pun ambruk di samping Darma dengan nafas yang terus menderu.

“Enak kan Mah ???” tanya Darma sambil menjilati putingku untuk membangkitkan gairahku lagi.

“Enak banget sayang. Kamu apain sih itil Mamah tadi sampai Mamah keluar enak banget” kataku.

Darma yang masih belum apa – apa pun mulai mengambil ancang – ancang untuk segera ngeseks denganku. Ia melebarkan kedua pahaku dan menggesek memekku dengan kontolnya.

“Siap – siap ya Mah. Aku sekarang akan ngentot sama Mamah” kata Darma.

Aku hanya terdiam karena aku masih merasakan sisa orgasmeku. Mendadaku aku menjepit memekku karena merasakan adanya benda keras dan besar berusaha menerobos masuk ke dalam memekku yang sudah tiga tahun tidak pernah digenjot. Darma berusaha memaksa masuk hingga memekku terasa perih dan sakit.

“Pelan sayang. Mamah dah lama gak ngentot nih. Aduh sakittttt !!!!” kataku.

Darma pun mendiamkan kontolnya yang sudah setengah masuk. Dinding memekku terus berkedut memijat kontol Darma. Lalu setelah dirasa enak, Darma melanjutkan menusuk memekku semakin dalam. Uhh rasanya sungguh nikmat dan kurasakan kontol Darma mentok di rahimku. Darma memelukku dan menggenjot ku dengan perlahan. Aku merasakan bagaimana batang kontol Darma bergesekkan dengan dinding vaginaku. Aku hanya bisa melenguh pelan. Lalu genjotan Darma semakin cepat dan membuat memekku semakin bergairah. Kami berciuman mesra. Darma semakin liar dengan mengangkat sedikit pantatku dan menggantungkan kedua kakiku di bahunya. Dengan posisi ini memekku semakin mencengkaram kuat kontol Darma dan membuat aku tak kuasa menahan orgasme untuk kedua kalinya. Aku memukul – mukul tangannku di atas kasur karena tak kuasa menahan nikmat. AKhirnya orgasmeku pun keluar dan Darma menghentikan genjotannya. Rasanya tulangku pada rontok semua dan kali ini benar – benar nikmat.

“Sayang ini enak banget. Mamah senang kamu entotin memek Mamah” kataku sambil mengecup bibirnya.

“Kita ngentot lagi ya Mah. Kontolku masih gatel nih pengen garuk memek Mamah” kata Darma.

Ia mencabut kontolnya dan menyuruhku untuk mengambil posisi doggy style. Ini adalah posisi favoritku dan aku sangat senang dengan inisiatifnya. Aku melihat Mbak Yanti yang sudah terbakar nafsu tengah bermasturbasi sambil menggosok memeknya. Aku tidak menyadari kalau saat ini ia sudah telanjang bulat. Matanya tak mau lepas dari kontol Darma dan juga tubuhku. Kali ini hanya dengan sekali tusuk kontol Darma langsung amblas. Ia kembali menggenjotku dengan nikmat.

“Ooohhhh Baby…Entot Mamah yang kuat sayang…uuuuhhhh manjakan memek Mamah sayang” kataku dengan ikut menggerakkan pantatku.

Darma pun menghentikan gerakannya dan kini giliran aku yang menggenjot kontolnya maju dan mundur. Aku melihat ke arah cermin yang ada di sampingku. Aku melihat diriku yang sedang menggenjot kontol anakku. Aku melihat diriku seperti lonte yang dengan wajah mesum karena tak kuasa merasakan kehebatan kontol anakku. Tiba – tiba aku merasakan ada mulut yang tengah menghisap putingku. Aku kaget kala mengetahui itu adalah Mbak Yanti yang menghisap payudaraku dengan begitu nikmat. Ntah kenapa aku tidak berusaha untuk menghindar dan malah menikmatinya. Aku pernah baca buku tentang seks dan bila wanita sudah begitu bernafsu, maka mereka tidak akan segan untuk berubah menjadi biseksual. Apakah ini yang dinamakan biseksual. Mbak Yanti dengan penuh nafsu menghisap payudaraku dengan posisiku yang masih doggy style sehingga payudaraku menggantung dengan indahnya. Tangan Darma memukul pantatku dengan kasar namun nikmat. Darma mengangkat salah satu kakiku hingga posisiku seperti anjing yang sedang pipis.

“Sayangg…kamu kok buat Mamah seperti anjing gini sih…Uuhhhh entottt yang enak sayanggg” desahku tak karuan.

Mbak Yanti tersenyum mendengar desahanku. Aku merasa seperti seorang Ratu yang mendapatkan kenikmatan seks secara bertubi – tubi. Di dalam memekku terdapat kontol yang terus menerus membuat memekku menjerit keenakan. Sementara di bawah tubuhku ada seorang wanita yang sedang menambah gairahku dengan cara menghisap kedua payudaraku dan aku sangat sensitif sekali. Darma kembali meminta untuk berganti posisi. Kini ia ingin posisi WOT. Ia pun berbaring dan aku berjongkok di atas kontolnya dan langsung
memasukkan kontolnya dalam memekku. Ini lebih nikmat dari posisi yang tadi. Aku bergerak naik dan turun dengan cepat.

“Lihat kontol kamu keluar masuk di dalam memek Mamah sayang…uuuuhhhh…oooohhhhh” erangku.

Mbak Yanti pun bergerak ke belakangku. Ia meremas kedua payudaraku secara kasar hingga payudaraku berubah menjadi merah.

“Bunda hisap dong nenen Mamah” pinta Darma.

“Seperti ini….”

Mbak Yanti bergerak ke depan dan menjilati putingku sambil melihat Darma. Hal itu membuat Darma bergairah dan merasa senang. Lalu Darma menahan pantatku dan gantian ia yang menggenjot memekku dengan begitu cepat.

“OOOHHHH….OOOHHHHH ENAAKKKK !!!!” jeritku yang memenuhi seluruh isi kamar.

“Aku mau keluar Mah !!!!”

“Keluarin aja di dalam memek Mamah sayang….MEMEEEKK SAYANGGG KONTOOLLL !!!” jeritku semakin tak karuan karena orgasmeku yang kembali tiba.

“KONTOOLLL JUGA SAYANGG MEMEKKKK” balas anakku tak kalah vulgar.

Ia menekan pantatnya begitu dalam ke memekku. Aku merasakan lahar panasnya memenuhi seluruh memekku dan juga rahimku. Sementara Mbak Yanti terus memanjakanku sambil menarik putingku dengan kuat dan memutarnya. Kali ini tenagaku benar – benar habis dan aku ambruk di atas tubuh Darma. Nafas kami saling memburu dan keringat semakin banyak bercucuran. Inilah yang aku rindukan selama ini. Ngeseks dengan kontol besar dan mampu membuat aku orgasme berkali – kali. Untuk beberapa saat kami bertiga
saling terdiam. Lalu Darma mengangkat wajahku dan menyeka keringatku yang membasahi keningku.

“Apa gak apa – apa aku keluar di dalam memek Mamah ???” tanya Darma yang tampaknya gelisah.

“Mamah kan gak bisa hamil. Itulah kenapa Mamah mengadopsi kamu” kataku sambil menyentil hidungnya yang mancung itu.

Kami bertiga pun tertawa terbahak – bahak. Saat ini aku merasakan kebahagiaan yang begitu besar. Aku merasa kehidupanku seperti hidup kembali. Aku sudah lupa akan janji – janji ku dulu. kini aku berharap hal ini akan terus terulang dan aku siap dengan resiko yang akan aku hadapi. Bagiku Darma sudah aku anggap seperti suamiku yang akan selalu memenuhi kebutuhan batinku.

“Aku boleh kan ngentot Mamah lagi ???” tanya Darma dengan penasaran.

“Boleh kontolku sayang. Kapanpun kamu boleh entot memek Mamah karena sekarang Mamah adalah milik kamu sepenuhnya” jawabku dan kami berpelukan dengan mesra.

Aku yakin Darma juga sangat senang karena ia berhasil merasakan tubuhku yang sudah lama ia inginkan. Sementara Mbak Yanti akan menjadi partner sexku. Aku tak segan untuk berciuman bibir dengannya karena seperti yang aku katakan tadi kalau nafsu seks akan mengalahkan seluruh akal sehat. Meski begitu aku tetaplah wanita normal yang tetap suka pada pria. Sementara rasa sukaku pada wanita hanya akan terjadi saat ngeseks saja.

Semenjak kejadian itu di dalam hidupku hanya ada seks. Tiap detik, tiap menit, tiap jam yang ada dalam pikiranku hanya seks saja. Darma benar – benar membuatku gila dan kesurupan. Sehari saja aku tidak merasakan seks, tubuhku rasanya bergetar dan aku merasakan gelisah yang amat hebat. Aku seperti mati suri dan kedinginan bila tak ada kehangatan yang menutupi tubuhku. Kehidupan seks ku bersama Darma semakin hari semakin mesra saja. Setiap kali aku pulang bekerja ia akan menyambutku dengan kontolnya
yang sudah ereksi dan siap untuk menggenjotku. Begitu pula bila hari libur tiba dan kami akan menghabiskan waktu seharian dengan bercinta bersama dengan Mbak Yanti. Mbak Yanti memang memiliki nafsu yang lebih besar dariku. Ia lebih brutal dan lebih ganas ketimbang diriku. Ia tidak segan untuk menjilati memekku bila kami melakukan threesome. Sementara aku masih malu – malu untuk melakukannya. Kami juga memiliki aturan yang tidak boleh dilanggar ketika sedang berada di dalam rumah. Yang pertama kami dilarang berpakaian bila sedang berada di dalam rumah sehingga seks kapanpun bisa terjadi. Kecuali bila aku sedang menstruasi aku diperbolehkan untuk mengenakan celana dalam saja tanpa menutup bagian dadaku. Nafsu Darma memang tidak bisa dibendung. Ia akan menggenjotku dan Mbak Yanti dimanapun kami berada dan apapun aktifitas kami. Kedua, kami memiliki sapaan mesra yang begitu vulgar. Aku memanggil Darma dengan sebutan si Kontol dan ia memanggilku dengan sebutan si Memek cabul. Sementara kami
memanggil Mbak Yanti dengan sebutan si memek tembem karena memeknya cukup tembem ketimbang milikku. Dan yang ketiga, dilarang ada bulu jembut yang tumbuh di alat vital kami. Sedikit aja ada bulu yang tumbuh maka kami diwajibkan untuk segera mencukurnya. Memang terihat aneh tapi itulah kehidupanku sekarang dan aku sangat menikmatinya.

Ketika itu adalah ulang tahun Darma yang ke – 14 tahun. Tak terasa ia sudah semakin beranjak dewasa. Setiap hari aku semakin bangga memilikinya. Ia adalah suamiku saat ini yang akan selalu memuaskan nafsu batinku. Aku dan Mbak Yanti berencana untuk memberikannya kejutan di hari ulang tahunnya ini dan melakukan pesta seks semalaman. Aku yakin ini akan menjadi hal terhebat yang pernah aku lakukan. kebetulan sehari sebelum ulang tahunnya Darma sedang berada di luar kota untuk mengikuti turnamen sepak bola dan ia terpilih sebagai salah satu wakil dari sekolah sepak bolanya. Kami mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan. Mbak Yanti sibuk melukis kata – kata di sebuah kain putih dengan tulisan “SELAMAT ULANG TAHUN KONTOL KU TERSAYANG”. Aku jadi geli membacanya dan membayangkan wajah Darma yang akan tersipu malu ketika membacanya. Aku sudah mempersiapkan sebuah kue tart berbentuk dua payudara lengkap dengan putingnya yang berupa buah strawberi. Aku tak sabar menunggu hari esok dimana Darma akan kembali. pulang dan merayakan hari ulang tahunnya. Ia pasti akan terkejut dengan kue tart yang aku buat special untuknya. Seharian untukku membuat kue berbentuk payudara ini. Kemudian aku dan Mbak Yanti menghias kamar ku yang akan menjadi tempat berlangsungnya sex party tersebut. Aku dan Mbak Yanti menempelkan seluruh pakaian dalam kami
mulai dari BH dan celana dalam di dinding dan membentuk beberapa diantaranya dengan bentuk hati. Kamarku seperti ajang pameran berbagai jenis pakaian dalam. Belum apa – apa aku sudah bergairah dan aku ingin hari esok cepat – cepat tiba.

Dan hari yang ditunggu – tunggu pun tiba. Jam 7 pagi nanti rencananya Darma sudah tiba di rumah. Aku dan Mbak Yanti sudah bersiap – siap berdandan yang cantik. Kami berencana untuk menyambutnya sambil telanjang bulat. Tapi Mbak Yanti memiliki inisiatif gila yang membuat aku semakin gila dan horni. Ia memiliki ide untuk mencoret tubuh kami dengan kata – kata vulgar dan aku menyetujuinya. Dengan menggunakan lipstik, Aku dan Mbak Yanti menuliskan kata – kata vulgar seperti kontol, memek, nenen, kentot, lonte, fuck, bitch, dan kata – kata vulgar lainnya. Tiba – tiba terdengar suara klakson mobil dari depan rumahku. Pasti Darma sudah sampai di rumah. Aku dan Mbak Yanti bergegas untuk besiap – siap. Mbak Yanti mematikan aliran listrik sehingga rumahku seperti gelap gulita. Pintu dan jendela sengaja aku tutup untuk menambah kesan gelapnya. Aku berdiri di belakang meja makan sambil memegang kue sementara Mbak Yanti berdiri di balik pintu depan sambil membawa lilin untuk memberikan kejutan kepada Darma. Terdengar suara
pintu depan terbuka. Darma pun masuk dan merasa heran karena rumah dalam keadaan gelap. Ia berteriak memanggilku dan Mbak Yanti. Ia pun mulai merasa gelisah dan mencari kami berdua di seluruh ruangan. Mbak Yanti secara diam – diam membuntuti Darma dan bila ia sudah tiba di meja makan, Mbak Yanti akan menghidupkan lilinnya. Darma semakin dekat ke meja makan dan Mbak Yanti menghidupkan lilinnya. Darma yang melihat ada cahaya di belakangnya pun berbalik dan terkejut melihat Mbak Yanti yang sedang memegang lilin.

“Selamat ulang tahun…Selamat ulang tahun…Selamat ulang tahun Darma….Selamat ulang tahun” Mbak Yanti menyanyikan lagu selamat ulang tahun.

Darma pun terkejut dan merasa tersipu dengan kejutan yang diberikan Mbak Yanti. Darma meniup lilin yang dipegang Mbak Yanti dan ruangan kembali gelap gulita. Aku segera menghidupkan lilin yang ada di atas kue ulang tahunnya dan kembali menyanyikan lagu ulang tahun. Darma berbalik melihatku dan ia kembali merasa tersipu malu karena aku muncul sambil memberikan kejutan lainnya. Aku menyuruh Darma untuk meniup lilinnya yang berbentuk angka 1 dan angka 4. Sebelumnya ia menutup matanya sambil mengucapkan keinginannya.

“Semoga aku bisa menjadi anak yang baik buat Mamah dan bisa terus ngentot dengannya serta menjadi suami yang baik buat Mamahku tersayang…wwuuusshhh” Darma pun meniup lilinnya.

Aku dan Mbak Yanti tertawa mendengar keinginan Darma yang unik. Lalu Mbak Yanti menyalakan kembali aliran listrik dan semuanya kembali terang benderang. Darma tampak kaget melihat tubuh kami berdua yang penuh dengan coretan dan tulisan vulgar. Darma membaca seluruh tulisan yang ada di tubuh kami berdua. Darma hanya geleng – geleng kepala karena tidak habis pikir dengan ide gila yang kami lakukan. Setelah itu Darma melihat kue ulang tahunnya dan ia tertawa terbahak – bahak.

“Kok bentuk kuenya kayak nenen Mamah yang gedek hahaha” tawa Darma.

Lalu Darma meraba kue itu dengan jari telunjuknya seperti ia sedang meraba payudaraku. Lalu dengan nakalnya ia meraba – raba ujung buah strawberi seperti ia sedang meraba putingku. Hal itu pun membuat aku menjadi horni dan tubuhku terasa panas.

“Udah sayang jangan digituin. Mamah jadi horni nih” kataku sambil memeluk tubuhku sendiri.

Tibalah saatnya untuk memotong kue tersebut. Darma sudah bersiap dengan pisau yang ada di tangan kanannya dan segera memotong kue tersebut. Tapi aku menahannya karena aku ingin ia telanjang dulu sebelum memotong kue tersebut. Aku dan Mbak Yanti menelanjanginya. Mbak Yanti melepaskan bajunya sementara aku melepaskan celananya yang terlihat tonjolan keras di tengahnya. Setelah ia telanjang barulah ia memotong kue tersebut. Rasanya sayang kue yang sudah aku buat seharian harus dipotong. Tapi karena itu kue ulang tahun yang pastinya harus dipotong dong. Setelah memotong kue itu dan meletakkannya di atas piring barulah ia menyuapi kue itu kepadaku.

“Selamat ulang tahun ya anakku tersayang” kataku sambil mencium kedua pipi dan bibirnya.

Mbak Yanti juga ikut disuapinya dan Mbak Yanti juga mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Setelah selesai makan kue kemudian aku memberikan kado yang aku bungkus pada sebuah kotak. Ia buka kado itu dan ia melompat kegirangan karena aku memberikan kado sebuah smartphone yang selama ini ia inginkan. Harganya memang mahal tapi karena Darma sudah menjadi anak yang baik aku rela membelikan smarphone yang mahal itu. Mbak Yanti pun turut ikut memberikan sebuah kado berupa jam tangan. Setelah itu dengan tiba – tiba Darma melumuri tubuhku dan Mbak Yanti dengan krim kue ulang tahunnya. Ia melumuri di atas dada dan memekku. Begitu juga Mbak Yanti yang ia lumuri di atas pantatnya yang bulat. Pertama Darma menjilati pantat Mbak Yanti sambil menjilati memek dan anus Mbak Yanti.

“Aaahhh ini yang bunda tunggu – tunggu sayang….jilatin semua lubang bunda sayangg…ooohhhh” desah Mbak Yanti ketika Darma menjilati anusnya dan menusukkan jarinya di lubang memeknya.

Aku jadi horni melihat pemandangan tersebut. Aku membasahi jariku dengan ludah dan mulai menggesek memekku yang masih terlumuri oleh krim. Memekku terasa licin dan lengket. Setelah puas menjamahi tubuh Mbak Yanti, Darma beralih dengan menjamah tubuhku. Pertama ia menjilati memekku dan menambahkan kembali krim tersebut di atas memekku.

“Jangan banyak – banyak sayang. Nanti memek Mamah digigit semut” kataku dengan nakalnya.

“Mamah tenang aja. Aku yang bakalan gigit memek Mamah kayak gini” Darma menggigit klitorisku yang menyembul itu hingga membuat aku mendesah keenakan.

“Ahhhh sayangg…gigit lagi itil Mamah…uuuhhhh….enaaakk sayanggg itil Mamah kamu gituin” desahku begitu hebat.

Darma terus menggigit klitorisku hingga aku orgasme sebanyak dua kali. Aku paling tidak tahan dengan rangsangan yang ditujukan di klitorisku. Lalu Darma mencium perut dan menjilati kedua payudaraku yang terasa lengket. Darma membersihkan payudaraku dengan menjilatinya. Ia menghisap payudaraku dengan kuat dan nikmat. Mbak Yanti datang dan ikut menghisap payudaraku sambil tangannya menggosok klitorisku. Lalu Darma mengangkat payudaraku yang kanan dan mengarahkan putingnya ke mulutku. Aku dan Darma secara bersama – sama menjilati putingku dan sensasinya luar biasa. Ditambah Mbak Yanti yang ikut nimbrung menjilatinya membuat aku semakin kelonjotan.

“Mah isep kontolku nih” Darma mengarahkan kontolnya ke mulutku namun aku menolaknya.

Aku pun mengajak Darma menuju kamarku untuk melanjutkan pertempuran di sana. Aku dan Mbak Yanti menggandeng tangan Darma dengan mesra. Ketika aku membuka pintu kamar alangkah terkejutnya Darma. Ia kaget melihat kamarku yang sudah aku hias sedemikian rupa bersama Mbak Yanti. Darma membaca spanduk yang sebelumnya sudah ditulis oleh Mbak Yanti. Ia melihat seluruh dinding kamarku yang ditempeli oleh pakaian dalam kami berdua. Ia meraba dan mencium pakaian dalam kami dengan penuh nafsu. Di antara tempelan pakaian dalam itu. Aku juga menempelkan pakaian dalam yang tadi aku dan Mbak Yanti pakai. Biarkan Darma yang menebak sendiri yang mana pakaian bekas pakai itu. Lalu aku dan Mbak Yanti memeluk darma dengan penuh nafsu. Tangan kami berdua bergantian mengelus kontol Darma yang keras itu. Darma menyenderkan tubuhnya pada tubuh kami yang masih dalam posisi berdiri. Secara tak terduga Darma ejakulasi dengan begitu cepat. Ia menyemprotkan spermanya dan mengenai tempelan pakaian dalam itu.

“Cepat kali keluarnya sayang ???” tanyaku sambil terus mengocok kontol Darma.

“Aku udah gak kuat Mah dengan semua kejutan ini” kata Darma dengan nafas yang terengah – engah.

Lalu aku membaringkan tubuh Darma yang lemas setelah orgasme pertamanya itu. Aku menjilati kontol Darma yang masih menempel sisa spermanya. Sementara Mbak Yanti seperti orang gila menjilati sperma Darma yang menempel di pakaian dalam itu. Hanya dengan beberapa jilatan kontol Darma kembali ereksi. Darma menyuruh Mbak Yanti untuk ikut naik ke atas kasur. Kami bertiga saling berciuman dan memainkan lidah kami. Tangan kami saling menggerayangi satu sama lain. Aku yang tak sabar untuk segera digenjot meminta Darma untuk segera melakukannya. Aku mengambil posisi anjing kawin alias doggy style.

“Sebelum aku kentot, biarkalah si memek tembem ini menjilati memek Mamah yang cabul ini” kata Darma memerintahkan Mbak Yanti untuk menjilati memekku.

Mbak Yanti menjilati memekku dengan begitu brutal. Ia memasukkan lidahnya begitu dalam ke lubang memekku. Ia menggosok klitorisku dengan jempolnya sambil terus menghisap cairanku yang terus keluar dari lubang memekku. Sementara Darma tampak asik mengocok kontolnya sambil melihat kami berdua. Mbak Yanti kemudian menjilati lubang anusku dan mencucukkan lidahku ke dalam anusnya. Aku tak tahu apa enaknya menjilat anus yang kotor itu tapi aku tak berbohong kalau aku sangat menikmatinya. Dengan refleks aku membuka belahan pantatku hingga anusku terasa melebar. Mbak Yanti semakin dalam memasukkan anusnya dan ia seperti mencongkel kotoranku keluar dari anusku. Lalu Darma berbaring di depanku dan menyuruhku untuk menyepong kontolnya. Dengan senang hati aku menjilat dan menghisap kontolnya dengan penuh nafsu. Aku jadi tidak konsentrasi karena aku sangat menikmati cumbuan yang dilakukan Mbak Yanti.

“Aku keluarr nihhh mbaaakk….aahhhhh” desahku merasakan orgasmeku yang tiba dengan sangat nikmat.

Aku tak percaya hanya dengan anusku dijilat, aku bisa orgasme dengan begitu nikmat. Mbak Yanti pun menjilati memekku yang basah oleh cairan orgasmeku. Karena aku sudah orgasme, aku menyuruh Mbak Yanti untuk lebih dulu bercinta dengan Darma. Aku masih lemas dan ingin memulihkan tenagaku dulu. Mendapat kesempatan pertama, Mbak Yanti langsung memanfaatkannya dengan sangat bijak. Ia duduk di atas pangkuan Darma yang sedang duduk bersender di atas kasur. Mbak Yanti menggesek bibir memeknya di batang kontol Darma. Terlihat batang kontol Darma yang basah karena cairan memek Mbak Yanti yang begitu banyak.

“Bunda, hari ini aku punya satu permintaan” kata Darma.

“Katakan kontolku sayang, hari ini memek tembem mu ini akan menuruti semua permintaanmu” jawab Mbak Yanti.

“Aku mau entotin lubang bu*rit Bunda” pinta Darma.

Mbak Yanti sama sekali tidak terkejut dengan permintaan Darma. Malah dari dulu ia sudah ingin merasakan sex anal. Lalu Darma menyuruh Mbak Yanti untuk berdiri membungkuk dengan pantat Mbak Yanti menghadap ke wajahnya. Lalu Darma menjilati anus Mbak Yanti yang terbuka lebar karena ia membuka belahan pantat Mbak Yanti begitu lebar. Anusnya begitu hitam dan tampak berkedut. Mbak Yanti hanya bisa mendesah keenakan sambil tangannya mengelus kontol Darma. Setelah anusnya sudah dirasa cukup basah, Darma pun menyuruh Mbak Yanti untuk mengambil posisi doggy style. Dengan perlahan Darma mencoba untuk memasukkan kontolnya ke dalam anus Mbak Yanti. Ternyata tidak semudah yang dibayangkan hingga Darma berkali – kali gagal untuk memasukkanya karena anus Mbak Yanti yang masih perawan. Aku berinisiatif untuk melumuri kontol Darma dan lubang anus Mbak Yanti dengan menggunakan lotion. Kali ini dengan mudahnya Darma menerobos masuk ke dalam anus Mbak Yanti. Mbak Yanti meringis kesakitan sekaligus keenakan. Aku datang dan memeluknya lalu mencium bibirnya agar ia melupakan rasa sakit yang dirasakannya. Setelah masuk semua, Darma mendiamkan kontolnya di dalam anus Mbak Yanti. Anus Mbak Yanti tampak mencengkram kuat kontol Darma.

“Gimana rasanya ada di lubang bu*rit sayang ???” tanyaku.

“Rasanya enak Mah. Kontolku kayak dijepit dengan kuat” jawab Darma.

Lalu dengan perlahan Darma mulai menggerakkan kontolnya. Mbak Yanti masih meringis kesakitan dan aku kembali mencumbu bibirnya. Darma juga ikut mendesah karena jepitan anus Mbak Yanti yang begitu nikmat. Secara perlahan Darma pun mulai ganas. Ia menusuk dengan kuat anus Mbak Yanti. Tubuh Mbak Yanti berguncang dan paudaranya yang lesu itu pun menjadi santapanku untuk dihisap. Aku tiduran tepat di bawah payudaranya dan menjilati kedua putingnya yang keras itu.

“Darmaaaa…enaakk bangeettt sayanggg…bu*rit Bunda rasanya panas dan nikmaattt” desah Mbak Yanti.

Lalu Mbak Yanti memintaku untuk duduk bersender di depannya. Ia membuka kaki ku lebar – lebar dan menjilati memekku dengan lahapnya. Aku mengelus punggungnya sambil menunjukkan wajah mesumku kepada Darma. Aku menjilati bibirku sendiri dengan mata yang terbuka dan tetutup. Aku melihat wajah Darma yang merah sambil terus menggenjot anus Mbak Yanti. Lalu Darma mencabut kontolnya dan terlihat ada noda coklat di batang kontolnya. Mungkin itu adalah noda kotorannya yang ikut menempel di kontol Darma.
Dengan paksa, Darma memintaku untuk menjilati kontolnya. Ntah kenapa aku menerimanya dengan senang hati tanpa rasa jijik sedikitpun. Aku merasakan pahit ketika menjilati kontol Darma. Aku tak peduli dengan noda kotoran Mbak Yanti dan aku menelannya begitu saja. Setelah itu Darma memasukkan kembali kontolnya ke dalam anus Mbak Yanti. Kali ini keduanya bercinta dengan posisi WOT. Giliran Mbak Yanti yang menggenjot kontol Darma dan kembali terlihat noda coklat di kontol Darma. Aku tak tahu apa yang dirasakan Darma dan aku menduga pasti ia merasakan lembek dan lengket di dalam anus Mbak Yanti. Melihat memek Mbak Yanti yang menganggur, aku pun menjilatinya dengan penuh nafsu. Memeknya terus – menerus mengeluarkan cairan yang membuat mulutku basah kuyup. Tiba – tiba Mbak Yanti menekan kepalaku dengan kuat di memeknya. Ia bergoyang tak terkendali dan kurasakan memeknya semakin asin. Aku rasa ia sudah orgasme dan terlihat tubuhnya begitu lemas dengan kontol Darma yang masih menancap di anusnya. Setelah beristirahat sejenak Mbak Yanti kembali menggenjot kontol Darma dengan penuh nafsu. Aku yang juga ingin merasakan nikmat berjongkok di atas wajah Darma. Ku rasakan lidah Darma yang langsung menjilati memekku. Aku semakin bernafsu dan menggoyangkan pantatku sambil meremas kedua payudaraku. Mbak Yanti memutar tubuhnya dan menghadap ke arahku. Ia menggenjot kontol Darma semakin cepat sambil menatapku dengan tatapan mesum. Aku juga tak mau kalah dengan ikut memasang wajah mesum. Lalu aku menghisap kedua payudaranya yang bergerak naik turun itu. Aku dan Mbak Yanti mirip seperti lonte binal yang haus akan sex. Meski hampir setiap hari kami melakukan sex tapi ntah kenapa kami tidak pernah bosan. Gairah ini selalu muncul dan membuat aku gila bila tidak tersalurkan. Kemudian Darma menahan pantat Mbak Yanti dan ia menusuk memek Mbak Yanti begitu cepat. Mata Mbak Yanti melotot ke arahku. Mulutnya berkicau tak karuan.

“Aaaahhh….aahhhhhh…bu*ritku panassss…Aaaaahhhh…eenaakknyyaa ngentooottt” kicau Mbak Yanti.

Lalu terdiam dengan menekan kontolnya begitu dalam ke anus Mbak Yanti. Aku melihat batang kontol Darma yang berkedut kencang begitu juga dengan anus Mbak Yanti. Darma menyemprot anus Mbak Yanti dengan spermanya yang begitu banyak. Ketika ia mencabut kontolnya, lelehan spermanya ikut keluar disertai sedikit kotoran Mbak Yanti yang berceceran di atas kasur. Aku malah semakin horni ketika melihat pemandangan itu. Secara tak sadar aku menjilati anus Mbak Yanti yang baunya bercampur aduk. Lidahku juga ikut mencucuk lubang anusnya itu dan menjilati sekitaran anusnya yang basah dan lengket itu. Kemudian aku menjilati kontol Darma untuk membersihkannya dari sisa sperma dan kotoran Mbak Yanti yang menempel. Rasa pahit dan asin bercampur di mulutku. Tapi justru aku semakin bersemangat dan tak membuat aku jijik. Lubang anus Mbak Yanti tampak terbuka lebar. Bahkan aku bisa melihat isi anusnya yang gelap. Mbak Yanti terkapar dengan mata yang terbuka lebar. Ia seperti orang yang kejang – kejang dengan tubuh
yang terus tersentak. Aku pun berbaring di atas dada Darma yang bergerak naik turun dengan cepat karena merasa lelah setelah pertempuran tadi.

“Kamu suka pesta ngentot yang Mamah sama Bunda buat kan sayang ???” tanyaku.

“Suka banget Mah. Ini adalah kejutan terbaik yang pernah aku rasakan selama ini Mah” jawab Darma sambil mengecup bibirku.

Aku pun senang mendengar Darma menyukai kejutan yang aku dan Mbak Yanti siapkan. Sebenarnya aku ingin meminta Darma segera menggenjot memekku. Tapi aku harus bersabar dengan memberikan Darma waktu untuk beristirahat dan tanpa sadar kami bertiga tertidur.

Saat siangnya aku terbangun karena merasakan ada sesuatu yang geli dan basah ada di memekku. Ternyata Darma yang sedang asik menikmati memekku dengan lidahnya sambil tangannya mengocok kontolnya yang sudah tegang itu. Aku mengelus kepala Darma dengan penuh kasih sayang sambil menikmati setiap sapuan lidahnya di lubang memekku dan klitorisku.

“Giliran Mamah yang aku entot” kata Darma.

Aku memutuskan untuk pindah tempat karena takut mengganggu Mbak Yanti yang masih tertidur pulas. Selain itu kasurku juga basah dan terlalu kotor. Aku dan Darma memutuskan untuk bermain di atas lantai yang beralaskan karpet yang lembut. Tanpa menunggu lagi aku langsung mengangkat kedua kakiku dan menekuknya lalu menahannya dengan tanganku. Mata Darma seperti seekor serigala yang tak sabar untuk menerkam mangsanya. Lalu Darma memasukkan kontolnya ke dalam memekku dan rasanya sangat nikmat. Darma langsung bergoyang dengan cepat dan aku sangat menikmatinya. Memekku rasanya penuh sesak dan dinding vaginaku terus merespon dengan memijat kontol Darma. Aku sangat suka hubungan incest ini dan aku benar – benar lupa dengan diriku yang dulu. Sekarang aku adalah istri dari anakku dan tugasku adalah menyediakan tubuhku untuk bisa dinikmati olehnya. Yang penting aku puas dan ia juga menikmatinya. Lalu kami bertukar posisi dengan melakukan posisi miring. Ia berada di belakangku dan menggesek kontolnya tepat di klitorisku.

“Uhhh sayanggg…kamu pintarr buat itil Mamah bahagia…Teruusskaannn” bisikku.

Kemudian Darma kembali memasukkan kontolnya. Dengan posisi rasanya sungguh nikmat. Tangan Darma tak henti – hentinya meremas payudaraku sambil mulutnya terus mencium bagian belakang leherku yang membuat nafsuku terus meningkat. Lalu Mbak Yanti bangun dan melihat pertempuran kami berdua. Ia tampaknya kembali horni dan ikut menghisap kedua payudaraku. Ia juga menggesek memeknya di pahaku. Aku merasa sudah mulai suka dengan threesome ini. Aku juga sudah mulai menikmati diriku yang kini menjadi seorang biseksual. Bagiku, seks tangkap lengkap bila hanya melakukannya berdua saja dan kehadiran Mbak Yanti sebagai pasangan biseksualku sunggu menyenangkan. Nafsu besar Mbak Yanti tampaknya tidak pernah habis. Ia kembali melakukan hal aneh karena sudah terbakar nafsu. Ia berdiri dan membuka belahan memeknya. Tiba – tiba ia mengeluarkan air kencingnya dan mengencingi aku dan Darma. Air kencingnya mengenai wajahku dan aku langsung menghindar. Darma malah menikmatinya dengan membuka mulutnya dan berharap air kencing Mbak Yanti yang deras itu masuk ke mulutnya.

“Rasakan air kencingku ini” kata Mbak Yanti.

Tubuhku pun basah oleh air kencingnya yang berbau pesing itu. Selesai kencing, Mbak Yanti menjilati seluruh tubuhku hingga bersih. Ini adalah pengalaman unik dan aku sangat menikmatinya meski aku tidak terlalu suka dikencingi seperti itu. Aku pun mulai merasakan orgasmeku sudah akan tiba.

“Memek Mamah muncrat nih…Uuhhhh enakkkkk” desahku.

Aku mengeluarkan orgasmeku dengan begitu deras dan rasanya benar – benar nikmat. Aku langsung terkapar dan memekku terasa kebas dan mati rasa. Darma mencabut kontolnya dan menyuruh kami berdua untuk tidur bersampingan. Darma mengocok kontolnya sambil meremas buah zakarnya sendiri. Aku pun merangsang Darma dengan berciuman mesra dan saling meraba bersama Mbak Yanti. Lalu Darma orgasme dengan membagi spermanya di dalam mulutku dan mulut Mbak Yanti. Spermanya lumayan banyak dan aku berbagi sperma itu dengan Mbak Yanti. Kami berciuman sambil bertukar sperma di mulut kami. Ini adalah pengalaman seks terbaik yang pernah aku rasakan dalam hidupku. Meski penuh dengan kejadian jorok tapi itulah yang membuat seks itu semakin terasa nikmat. Pesta seks itu terus berlangsung hingga malam hari. Tak terhitung berapa kali Darma mengeluarkan spermanya di mulut, perut, payudara, dan di dalam mulutku. sementara Mbak Yanti mulai tergila – gila dengan anal seks. Sepanjang kami bercinta kontol Darma sama sekali tak pernah menyentuh memek Mbak Yanti. Anal seks itu membuat anus Mbak Yanti jadi melebar yang awalnya sempit seperti lubang jarum. Lalu Pesta seks itu ditutupi dengan kami bertiga yang tidur bersama.

Beberapa minggu kemudian, Mbak Yanti mendapat kabar tidak sedap dari kampungnya. Ia mendapat kabar kalau suaminya mendapat serangan stroke berat hingga membuat tubuh suaminya lumpuh sebagian. Hal itu membuat Mbak Yanti terpukul dan sangat sedih. Aku juga kaget mendengarnya karena dan meminta Mbak Yanti untuk bersabar. Akhirnya Mbak Yanti memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai pembantuku. Ia terpaksa melakukannya karena ingin merawat suaminya yang sudah tidak berdaya lagi. Ia tidak tega melihat kedua anaknya yang mengurus suaminya. Pasti mereka akan kesulitan untuk mengurusnya. Dengan berat hati aku pun mengizinkan Mbak Yanti untuk berhenti. Aku sama sekali tidak ingin ia meninggalkan keluargaku terlebih lagi ia sudah cukup lama bekerja bersamaku. Aku masih ingat ketika ia pertama kali bekerja sebagai pembantu untukku. Ia banyak melakukan kesalahan dan membuat mantan suamiku sering emosi. Tapi seiring berjalannya waktu, Mbak Yanti menjadi orang terbaik yang pernah aku miliki. Ia adalah teman sekaligus orang yang sudah aku anggap sebagai kakak kandungku sendiri. Aku memberikan sisa gajinya dan sedikit uang tambahan sebagai rasa terima kasihku. Ia meminta maaf atas segala kesalahannya dan ia juga menangis karena sudah menjadikan Darma sebagai pria buruk. Justru bagiku Mbak Yanti sudah berjasa akan kehidupanku selama ini. Jika bukan karena dia, mungkin affair ini tidak akan pernah terjadi dan aku pasti masih tersiksa dengan nafsuku yang masih terpendam. Di saat Mbak Yanti akan kembali ke kampungnya, Darma tidak tampak untuk mengantarkan kepergiannya. Ia terus berada di kamar karena ia tidak ingin Mbak Yanti kembali ke desanya. Aku dan Mbak Yanti masuk ke dalam kamarnya dan melihat Darma yang sedang berbaring di kasur dengan bantal yang menutupi wajahnya. Kami mendengar ada suara isak tangis dari balik bantal itu. Mbak Yanti menyingkirkan bantal tersebut dan melihat wajah Darma yang berlinangan air matanya. Darma memeluk Mbak Yanti dengan erat sekali. Ia terus menerus meminta Mbak Yanti untuk tidak pergi meninggalkannya.

“Bunda jangan pergi, nanti siapa yang temenin aku di rumah” kata Darma dengan begitu sedihnya.

“Kan masih ada Mamah Darma, Bunda gak bisa berada di sini terus menerus, kasihan suami Bunda di desa” jawab Mbak Yanti memberikan pengertian kepada Darma.

Tapi Darma masih tidak menerimanya. Ia mendekap erat tubuh Mbak Yanti agar tidak membiarkan Mbak Yanti pergi. Aku ikut membujuk Darma tapi tetap tidak berhasil. Lalu Mbak Yanti mengambil inisiatif sendiri dengan melepas seluruh pakaiannya.

“Nikmatilah tubuh Bunda untuk terakhir kalinya” ajak Mbak Yanti.

Melihat hal itu Darma pun langsung menarik tubuh Mbak Yanti hingga Mbak Yanti berbaring di atas kasur. Dengan penuh nafsu, Darma mencumbu seluruh tubuh Mbak Yanti yang akan ia nikmati untuk terakhir kalinya. Ia melakukan itu sambil terus meneteskan air matanya. Darma menjamah kedua payudara Mbak Yanti dengan kasar dan bermain dengan memeknya hingga Mbak Yanti orgasme untuk terakhir kalinya. Setelah itu, Mbak Yanti kembali berpakaian tanpa memakai pakaian dalamnya. Mbak Yanti memberikan pakaian
dalamnya sebagai kenang – kenangan untuk Darma. Ia menghirup pakaian dalam itu dalam – dalam seakan tengah menikmati aroma Mbak Yanti untuk terakhir kalinya. Lalu Darma pun melepas kepergian Mbak Yanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*