Home » Cerita Seks Mama Anak » Aku Jadi Suka Memijit 3

Aku Jadi Suka Memijit 3

Cerita Sebelumnya : Aku Jadi Suka Memijit 2

Sejak saat itu, ardi pun mulai sering memijat ibunya, terlebih saat Ayahnya sedang tidak ada dirumah. Ritualnya pun sama, berwal dari modus memijat kaki, ia menyingkap daster ibunya sampai semua pahanya terbuka. Lalu mulai menciumi paha mulus tsb sambil beronani. Selama sebulan ini Ardi merasakan kenimatan yg luar biasa, baginya paha dan kaki mulus ibunya sudah lebih dri cukup untuk memuaskan dahaga birahinya.

Siang itu, Ardi sedang berada di kantin sekolah. Selepas pelajaran selesai ia memang tidak langsung dulu. Kebetulan kawan kawannya, Irwan, Ravi, dan Janu mengajaknya nongkrong dulu dikantin. Mereka merupakan kawan lama sejak smp dulu. Kawan yang sangat akrab, meskipun mereka tidak sekelas tapi kemana mana mereka sering bersama. Dari pergaulan dengan mereka pula lah, Ardi mengenal internet dan segala macam dunia perbokepan. Macam macam lah yang mereka obrolan, dari membahas tentang si Sinta, cewek idaman di sekolah mereka, sampe membahas Guru mereka yang galak. Sampe ketika saat mereka membaca koran, beritanya tentang seorang Ibu guru yang ketahuan berpacaran dengan muridnya. “Haha, kalo ibu guru nya kayak ibunya Ardi, aku juga mau” celetuk si Janu.
Semua kawan Ardi tergelak ketawa, tapi Ardi tersenyum kecut sambil berujar” kurang ajar kamu Jan, masak ibuku jdi perumpaannya”
“Sori di, bukannya bgtu.. tapi kenyataan bahwa ibumu memang cantik,,,, dan sexy di…hahaha” tambah si Irwan
“Iya di, pas dulu kapan itu, pas kita maen dirumah, ibumu kan pake hotpants n tanktop doank… bener bener hot, hehe” kata Ravi.
“Asem kalian, ngapain malah ngomongin ibuku, kenapa ga ngomongin ibu kalian sendiri” kata Ardi dengan ketus.
“Lha ibu kita ga da yang secantik n semulus ibumu di,coba aku jadi kamu, dah kupijitin terus tiap hari, haha”kata mereka.
Selintas dalam bayangan ardi, teringat kelakuannya sewaktu memijat ibunya, yang membuat penisnya malah tegang, mendengar ibunya dibicarakan. Walau kesal juga, bagaimanapun ibu tetap ibu yang harus dihormati. “Huss, udah udah,,., gilak kalian, kebanyakan liat bokep incest” kata Ardi.
“Hayah…. ngaku aja di.. kamu juga pasti mbayangin ibumu buat coli kan… hahaha.. ngaku aja… ” kata Janu. “Aku juga kadang mbayangin ibuku” ujar Irwan, tanpa malu malu… “hahaha… Aku juga di, walau ga secantik mamamu… sering juga coli mbayangin ibuku” kata Ravi. “Aku pernah baca juga, hal kayak gtu wajar buat remaja seusia kita” tambahnya.

Ardi kaget juga, tapi jaim juga klo ngakuin bahwa ia semalam coli sambil grepe grepe ibunya. “Wah, parah kalian ini… masak ibu sendiri kalian bayangin.. rusak kalian semua.. haha”
Haha.. udah lah di ngaku aja.. kamu juga pengen nenen kan ma ibumu” kata si janu.
“Udah udah, aku pulang dulu,,, lama lama aku rusak disini moralnya”

Sampai dirumah, ternyata ibunya belum pulang dari mengajar. Ardi pun langsung lepas seragam, langsung rebahan di ranjangnya hanya memakai kolor saja. Pikirannya masih terbayang obrolan teman temannya tdi. Kurang ajar emang mereka, masak ibuku jdi bahan mereka coli. Tapi bagian bawah ardi ga mampu menutupi kenyataan bahwa ia ngaceng ibunya dibicarain seperti itu. Langsung aja menyalakan komputernya, langsung buka situs porno bertemakan incest. Ia memang suka wanita setengah baya denga payudara besar, persis seperti ibunya. Uuuuuugh.. ardi mulai mengurut penisnya, yang memang cukup besar untuk seusianya dengam ukuran 14 cm dan diameter 4 cm yang ia ukur sendiri dengan penggaris pinjaman. Gerakan Kocokan ardi makin cepat saja, melihat gambar wanita sexy yang seumuran dengan ibunya. Sementara adegan di komputernya menunjukan seorang yg berperan jdi ibu nampak sedang menyusui seorang remaja yg berperan jadi anaknya. Uuuuh… uuuh… coba aku yg jadi anaknya. Sambil membayang ia menyusu pada ibunya. Payudara ibunya memang besar n indah. Namun untuk melihatnya saja kayaknya tidak mungkin apalgi menyusu lagi, bisa bisa ia dilaporin ke ayahnya dan bisa dihajar habis.
Tiba tiba Ardi mendengar ada suara motor berhenti di depan rumahnya, ia pun langsung kedepan melihat dri jendela siapa yang datang. Ternyata ibunya sudah pulang, membonceng Pak Seno, kawan ibunya di sekolah. Namun Ardi agak kaget juga, melihat posisi ibunya membonceng miring, menempel pada punggung Pak seno, ia yakin payudara ibunya pasti menyenggol punggung pak seno . Lalu ibunya pun turun dri motor, mengucapkan terima kasih. Dan berjalan menuju pintu Rumah, dimana ardi telah siap membukakan pintu.

Ardi pun mencium tangan ibunya, ngobrol sejenak. Sementara ibunya beranjak menuju kamarnya dan bersiap untuk ganti baju. Sambil menunggu Ibunya ganti baju dan makan siang, Ardi menonton tv dulu. Hoaaahem… acara tv ga ada yang menarik pikirnya. Namun Ada hal yang membuat Ardi bertahan di depan TV, karena sebentar lagi ada acara drama Korea kesukaan ibunya. Yang berarti sebentar lagi Ibunya bakal berbaring dikasur lantai sembari mnikmati acara drama korea. Dan benar saja, ibunya muncul dengan dandanan yang membuat Ardi kaget, daster pendek berbelahan dada rendah yang Ibunya pakai cmn bisa menutup sedikit bagian paha nya yg putih, dan membuat belahan dada ibunya nampak jelas. Uuuuugb… si Ardi langsung ngaceng aja melihat ibunya muncul dengan dandanan seperti itu. Apalagi nampak jelas ibunya tidak memakai BH, mungkin karena hari itu memang panas sekali. Tetek ibunya yang besar n agak sedikit turun nampak jelas belahannya dan pentilnya yang besar nampak jelas ngecap dari balik kain daster yang tipis tersebut. Ibunya mengambil posisi tiduran telungkul di kasur lantai. Melihat itu semua Ardi pun mengambil posisi duduk dekat ibunya, sambil minta ijin memijit, Fitri ibunya, gak keberatan malah senang anak lelakinya rajin memijitnya. sambil memijit, Seperti biasa bibir Ardi menelusuri tiap inchi betis putih mulus ibunya dengan telaten. Hmmmm hmmm. Cup cup cup… dengan penuh nafsu Ardi pun bergerak menciumi paha putih ibunya, Fitri bukannya tidak tahu kalo anaknya sedang menciumi pahanya, karena disebelah dia ada cermin besar. Sehinga pantulan apa yg anaknya kerjakan terlihat jelas. Kalo kemaren ia tahu anaknya sedang beronani dengan pahanya, sudah pasti Fitri marahin. Namun hari ini ia sedang nafsu juga, setelah tiga minggu Darto ga pulang gapapa lah, cuman paha ma kaki saja pikir Fitri. Toh tdi juga saat membonceng Pak Seno, payudara nya berkali kali menyenggol punggung Guru Olahraga tersebut, yang membuat pentilnya mengeras.

Makin lama ciuman Ardi pum makin keras n bertenaga. Dan ternyata Fitri ibunya makin menikmati, walaupun secara logika seharusnya ia marah ke anaknya, tapi secara naluri wanita, ia merasakan gairah juga. Saat bibir anaknya menjelajahi sekujur paha nya yang putih mulus, yang biasanya cmn dinikmati oleh suami sendiri, ayahnya Ardi. Ardi sendiri menyadari bahwa seperti kemaren ibunya nampak membiarkan saja tingkahnya. Ia pun semakin berani saja, menelusuri paha mulus ibunya. Setelah sepuluh menit, Ardi puas menciumi paha ibunya. Terlintas di pikirannya bahwa ia pengen menyusu atau setidaknya melihat payudara ibunya.

Ardi lalu menawarkan diri untuk memijat punggung ibunya. “Bu, punggungnya kupijitin ya? Hehe” kata Ardi.
“Tumben baik banget kamu di, ada mau nya ya pasti? Haha” goda ibunya.
“Enggak lah bu, masak mijitin ibunya karena mau minta uang jajan” sungut si Ardi. Padahal dalam hatinya, demi bisa meraba raba tubuh sexy ibunya. Ardi mulai memijat punggung ibunya, dengan perlahan dengan teknik yang ia coba coba. Ntah mijat benar atau enggak, yg jelas Fitri nampak keenakan dipijat putra bungsunya tersebut.

Bagai peribasa jadul, sekali mendayung dua pulau terlampaui, Ardi memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggeser turun daster ibunya. Sehingga punggung ibunya yang mulus putih terbuka lebar. Dari samping nampak payudara ibunya kelihatan menonjol dari samping, tertekan oleh berat tubuh Fitri. Uuuugh.. Ardi sedikit menghela nafas melihat samping tetek ibunya, terlihat berlimpah ruah. Walau hanya sampingnya saja, hal itu cukup membuat Ardi ngaceng berat , sampai ia mengeluarkan penisnya dari celananya dan mulai mengocoknya perlahan. Namun Ardi masih memikirkan pijatannya, ia tak mau ibunya curiga dengan tindakannya mengocok kontolnya. Lama kelamaan ia pun makin berani, Ardi merebahkan diri disamping tubuh ibunya, sambil tetap memijat ia memeluk paha ibunya dengan kedua kakinya, otomatis hal itu membuat kontolnya yang sedang tegak, menempel ketat ke kulit mulus paha ibunya. Fitri kaget, jelas ia mengetahui kalau yang menempel adalah penis anaknya, namun logika keibuannya seakan sirna, harusnya ia memarahin putra bungsunya tersebut, namun jiwa wanitanya membiarkan hal itu. Ardi yang merasa bahwa tindakannya dibiarkan pun segera tambah kurang ajar. Sambil tetap memijat punggung ibunya, ia menciumi punggung mulus ibunya dengan telaten, sambil ia gesekan penisnya yang ngaceng berat ke paha ibunya. Mmmm.. mmmm.. ciuman Ardi yang bertenaga dirasakan ibunya bagai getaran getaran listrik yang menyengat birahinya. Malu diakui, namun Fitri merasa terangsang diperlakukan seperti itu. Walau ardi adalah anaknya tapi ia juga seorang pria juga. Terus menggesek membuat Ardi semakin birahi saja, saat ini gesekannya sudah membuat pantat montok ibunya, gerakannya pun semakin kuat, sehingga menguncang guncang tubuh ibunya. Pijatannya mulai menyentuh samping tetek ibunya. Saat itulah hal yang yang tak terduga terjadi, ibunya tiba tiba berganti posisi menjadi terlentang.

Ardi yang kaget pun segera memasukan kontolnya kembali ke celana, takut bila Ibunya marah karena tindakannya tersebut. Namun seakan tak percaya, ia melihat ibunya cuman terlentang begitu saja, tetek ibunya terpampang jelas di depannya. Payudara yang indah, menampakan kulit mulus n putih kini ada di depan matanya. Puting ibunya yang besar n berwarna hitam kemerahan nampak tegak n serasi dengan areola kecoklatan disekitarnya. Nampak indah berpadu dengan putihnya kulit payudara Fitri. “Hussss… kamu ngapa bengong liatin susu ibu?? Tanya Fitri sambil menutupin payudara dengan kedua telapak tangannya.. hal yang mungkin sia sia karena telapak tangan Fitri yang kecil takkan mampu menutup semua permukaan buah dadanya tersebut.
“Eee. Ee.. enggak bu, susu ibu kok gedhe banget” ujar Ardi agak tergagap.
“Kalo ga gedhe mana mungkin ibu kuat nyusuin kalian bertiga” kata Ibunya.

“Hehe, emang yang paling rakus mimik susunya siapa bu” tanya Ardi
“Ya kamu ini di, paling ga bisa ditinggal pergi, tiap ibu ngajar pasti dah ibu sediain asi perah yang banyak” jawab Ibunya. Posisi Ardi yang sedang tiduran disamping tubuh ibunya membuat kepalanya berada persis di samping payudara Ibunya yang cuman tertutup oleh tangan ibunya. Sambil ngobrol, mata Ardi tak lepas memandangi kulit mulus payudara Fitri, payudara yang selama ini dia bayangin, tergolek didepan matanya. Sambil terus ngobrol, tangan Ardi secara perlahan mulai menuju arah dada ibunya, dengan pelan ia letakan tangannya di sana, ia pegang tangan ibunya yang menutupi bukit kembar sebelah kanan. Ia sudah nekat n yakin kalo ibunya ga bakal memarahinya.
Benar saja, Fitri cuman diam saja melihat kelakuan anaknya. Tangan Ardi sudah dengan sukses menyingkirkan tangan ibunya. Dan payudara Fitri yang sebelah kanan pun terbuka lebar, tanpa ragu ragu tangan Ardi segera memegang susu ibunya tersebut.

Dengan sedikit gemetar, tangan ardi segera meremas payudara Fitri, walau payudara itu tak sanggup ia remas semua, karena ukuranya yang memang wow. Penisnya makin tegang saja saat ia meremas remas payudara ibunya. Permukaanya yang begitu halus, dan begitu kenyal ia remas remas sambil terus ngobrol dengan ibunya. Ga cukup hanya dengan payudara sebelah kanan, payudara yang sebelah kiri pun ia bebas kan dari tangan ibunya yang menutupi. Benar benar kelakuan yang kurang ajar dari seorang remaja tanggung trrhadap ibunya sendiri. Remasan remasan tangan ardi semakin kuat saja, membuat puting ibunya yang memang besar, makin menonjol saja, denganvtelaten Ardi meremas sambil memilin puting tetek ibunya. Saat ketika ibunya menegurnya, “huss kamu ini di, diajak ngobrol malah maenin tetek ibu” tegur Fitri.
“Hehe, abis gedhe banget bu” lucu bentuknya jawab Ardi
“Lucu gmn, dasar kamu ini, dah besar masih kolokan saja. Udah, ibu tutup lagi ya” kata Fitri sambil menutup payudara lagi dengan kain dasternya.
“Jangan bu, Ardi pengen netek lagi, kan dah lama, ya bu ya…”
Husss… kamu… jangan saru ya di…. kata Fitri tetap menolak, sambil menjewer hidung anaknya.
“Udah, sini unyel unyel saja, tapi jangan netek, saru itu namanya. Kalo ketahuan ayahmu, bisa dimarahin kamu” kata Fitri.

Sebenarnya puting Fitri dah sangat gatal, akibat jamahan anaknya tersebut. Tapi jiwa sebagai ibunya masih menolak, bahwa hal itu tak selayaknya dilakukan oleh oleh anak remaja pada ibunya. Namun karena rasa gatal yang sangat, ia memperbolehkan Ardi meremas remas payudaranya. Sambil cemberut Ardi pun melanjutkan remasannya pada payudara ibunya yang telah tertutup tersebut. Namun karena masih kesal akibat dijewer tdi, remasannya pun makin bertenaga, dan semakin kasar. Namun yang tak disangkanya adalah Fitri ternyata menikmati remasan kasar tersebut, bayangannya terbang saat ia dan Darto sedang bercinta. Tak terasa Fitri pun menutup mata, membayangkan semua itu. Ardi yang melihat ibunya merem keenakan akibat remasannya pun menyeringai. Ia berencana langsung menetek payudara ibunya dengan tiba tiba. Biarlah dimarahi, paling juga sebentar marahnya. Kain daster yang menutupi tetek ibunya telah ia singkap, wajahnya pun ia dekatkan ke arah payudara ibunya yang terbuka lebar. Ardi berhenti sejenak, hanya beberapa senti dari puting susu Fitri. Puting tersebut nampak besar n tegang. Nampak serasi dengan payudara ibunya yang besar n putih mulus sekali.

Lalu… hap…. dengan cepat puting susu Fitri telah masuk ke dalam mulutnya. Ia kulum dengan penuh gairah layaknya bayi yang kehausan. Fitri otomatis kaget karena payudara nya sebelah kanan tiba tiba dienyot oleh mulut Ardi. “Di, kamu ngapain…ssshhh… kok ngenyot susu ibuk” sambil mendesah ibunya mendorong pelan kepala anaknya tersebut. Namun Ardi tetap tak bergeming, ia meneruskan aksi meneteknya. Puting ibunya yang selama ini ia idam idam kan. Payudara ibunya yang selama ini ia bayangkan telah ia rasakan. Sesaat ia bangga, bahwa dirinya telah berhasil merasakan enaknya payudara ibunya. Payudara yang menggoda banyak lelaki lain termasuk oleh teman temannya.

Lama kelamaan dorongan tangan ibunya sudah tak ia rasakan lagi, ia yakin ibunya sudah menikmati hisapannya tersebut. Hal ini yang membuat Ardi makin berani, payudara ibunya sebelah kiri ia remas remas dengan kuat, sambil memilin puting yg teramat menonjol tersebut. Hisapannya membuat suara kecipak kecipuk nampak jelas bergema di ruang tv rumah itu. Ssssh…. sssh… fitri mendesah merasakan nikmatnya kuluman mulut ardi diteteknya. Apa lagi Ardi mulai memindahkan sasaran kenyotannya ke payudara ibunya yang satunya lgi. Kedua payudara ibunya ia remas dan ia ciumi, ia kenyot bergantian.

Sungguh pemandangan yang aneh, di ruangan tv rumah tersebut, seorang wanita paruh baya dengan tubuh putih bohai nampak terbaring dengan pakaian yang acakan acakan, kaki dan pahanya yang mulus dan jenjang nampak terbuka begitu saja. Sedang bagian atasnya terbuka, dengan payudaranya sdang dicumbui oleh remaja tanggung yang tak lain adalah anak kandungnya sendiri. Sambil terus menyusu Ardi pun terus menggesek guling yang yang ditindihnya, berusah mempercepat gerakan onaninya, namun tiba tiba ia ingat bahwa mungkin kesempatan mencabuli ibu kandungnya tak datang setiap hari, sehingga tanpa pikir panjang Ardi mengambil hape yang ada disebelahnya. Sambil tetap menyusu, ia pastikan mata ibunya tetap terpejam ketika ia menyalakan kameranya. Dengan tangan kiri ia videokan perbuatan mesumnya tersebut, menampakan wajahnya yang sedang asyik mengenyoti puting susu Fitri. Sekitar lima menit kemudian, akhirnya Ardi orgasme juga. Lahar panas ia semprotkan ke celana dalamnya. Ia cabut mulutnya dari puting ibunya, melihat kedua susu ibunya tampak kemerahan hasil remasan dan hisapan kasarnya. Ia matikan kameranya.

Tiba tiba Fitri membuka matanya, memancarkan gairah yang menyala nyala hasil mesum dengan anak laki lakinya.
“Kamu kok bandel banget sih di, udah dibilang jangan nyusu malah tetep nyusu” kata Fitri.
“Hehe, abis susunya mama gedhe, kan Ardi dah lupa dulu pas kecil gmn rasanya nyusu” ngeles Ardi.
“Dasar kamu, anak bontot, kolokan banget, udah sana tidur ke kamar. Ibu juga mau tidur” kata Fitri sambil membalikan badan. Menahan rasa gatal di bagian kewanitaannya akibat kenyotan mulut anaknya tersebut. Sambil tersenyum Ardi pun bangkit, duduk disebelah ibunya, tapi dasar nakal, karena melihat kaki n paha ibunya yang putih mulus nafsu ia muncul lagi. Segera ia nyalakan kembali kameranya, ia rekam dari berbagai sisi paha n kaki mulus ibunya tersebut sambil sesekali menciuminya. Setelah dirasa cukup ia pun beranjak ke kamar meninggalkan ibunya yang baru saja ia geranyangin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*