Home » Cerita Seks Mama Anak » John Anakku, Kekasihku

John Anakku, Kekasihku

Kami sengaja berjalan kaki di sepanjang pantai danau
yang luas itu. Air biru membuncah-buncah menghempas
ke pantai. Angin terus semilir. Semua orang melirik kami.
Aku memakai celana pendek yang longgar di atas lutut.
Pahaku mulus dan putih, sementara kedua buah dadaku
terbalut kaos ketat menantang. Aku terkagum-kagum
pada pada tubuhku sendiri?
Ketika usia Jhon 5 tahun, suamiku meninggal dunia. Aku
tak mau menikah lagi. Takut suamiku tak menyayangi
anakku dan mereka hanya mau harta kekayaanku saja.
Jhon terus menempel di lenganku. Apakah dia juga
bangga memiliki ibu sepertiku? Kutanyakan padanya.
“Apa mama mu ini masih cantik, sayang?ÔÇØ tanyaku
manja.
“Masih Mam. Buktinya orang-orang selalu melirik paha
mama, tetek mama dan pantat mama,” jawab anakku.
Aku tersenyum dan mencubit hidungnya.
Tak terasa kami sudah sampai di hotel, hanya dua meter
dari bibir pantai danau.
“Apa kamu suka pada Mama?” tanyaku.
“Suka dong Mam.” katanya dengan tatapannya yang
nakal.
“Bagian mana yang kamu suka?” tanyaku menyelidik.
“Semuanya, Mam. Tetek Mama, bibir dan pantat Mama
yang aduhai…” katanya memuji. Aku tersenyum.
Biasalah, namanya anak, pasti memuji mamanya, bisik
hatiku.
“Buktikan, kalau kamu senang pada bibir mama,” kataku.
Jhon meraih tengkukku dan melumat bibirku. Kubalas
lumatan bibirnya, sampai dia gelagapan.
Clup… kecupan bibir kami terlepas. Aku tersenyum.
Usiaku terpaut berbeda 21 tahun.
“Kita ke dalam, Mam” Jhon mengajakku meninggalkan
teras hotel untuk memasuk ke dalam kamar. Kuikuti
langkah Jhon.
Kutatap matanya yang berbinar-binar. Kuelus pipinya.
Aku harus menatapnya jauh ke atas, karena beda tingi
kami berkisar 11 Cm. Jhon memang tinggi dan atletis,
mirip papanya.
“Ternyata, kamu hanya suka bibir mama saja,” kataku.
“Tentu tidak,” jawabnya.
“Lalu buktikan dong,” kataku.
Jhon mendekatiku, Ditariknya baju kaos yang kupakai,
sampai lepas. Kini dia melepas pengkait bra ku.
“Mam… aku suka. Besar sekali. Aku suka,” katanya
sembari mengulum pentil tetekku. Oh… kulumnya
membuatku nikmat. Kini Jhon berjongkok dan melepas
celanaku. Juga celana dalamku.
“Waaawww… indah sekali memek mama,” katanya
memuji. Disapu-sapunya bulu memekku yang masih
lebat, tapi kutata dengan baik. Diulurkannya lidahnya
menjilati bulu-bulu memekku. Lalu lidahnya menjelajah
ke belahan memekku. Aku hanya mengelus-elus
kepalanya dengan lembut.
“Kamu suka sayang?” kataku.
“Ya Mam. Aku suka sekali,” jawabnya.
“Kamu juga telanjang dong. Kok Mama saja,” pintaku.
Jhon berdiri dan melepas semua pakaiannya. Sudah
kuduga, kalau kontolnya pasti besar dan panjang, karean
anakku memang tinggi dan kekar.
“Waaawww… besar dan panjang,” kataku.
“Iya Mam. Mama suka?” tanyanya.
Iya. Mama suka sayang. Pasti nikmat sekali,” kataku
memuji dan ingin segera merasakannya.
“Dia milik Mama. Pasti mama akan menikmatinya” Dia
menarikku ke kursi. Didudukkannya aku dipangkuannya.
Tetekku mulai kembali diisap-isapnya dan bagian-bagia
tubuhku mulai dielus-elusnya.
“Nikmat sekali tetek mama,” katanya.
“Nikmati sepuasmu sayang. Mama juga suka,” kataku
meminta. Jhon menikmati pentil tetekku silih berganti
kiri dan kanan. Tangannya mulai meraba-raba memekku.
Salah satu jarinya sudah mulai bermain-main di lubang
memekku dan klentitku disapu-sapunya. Aku sangat
merasakan indah sekali. Aku memeluknya dan menjilati
jidatnya saat tetekku masih terus diisap-isapnya.
“Mama sudah tak tahan sayang. Mama sudah ingin cepat
merasakan ini,” kataku meraba kontolnya yang sangat
keras itu,
“Ayo nak, dimasukkan,” kataku.
Jhon mengangkat dan membopong tubuhku dan
meletakkanku ke atas tempat tidur yang empuk disela-
sela debur ombak kecil danau biru itu.
“Cepat dong sayang. Mama sudah tak sabar ni,” pintaku.
Jhon mengakangkan kedua kakiku dan menjilati
memekku. Lidahnya berputar-putar di sana. Pantatku
berada di ujung tempat tidur. Jhon berjongkok di lantai.
kedua kakiku berada di bahu dan terletak di
punggungnya. Lidahnya terus menjilati klentitku dan
kedua tangannya meraba-raba perutku dan pantatku.
Aku benar-benar sangat menikmatinya. Tapi…
“Ayo dong sayang. Aku menginginkan kontolmu yang
besar dan panjang itu. Dimasukkan, nak. Ayo cepat,”
pintaku
Jhon sudah berada di antara kedua pahaku. Perlahan
diarahkannya kontolnya ke memekku. Perlahan
disorongnya.
“Ma… memek mama masih sempit, ma.”
“Bukan memek yang sempit sayang, tapi kontolmu yang
besar. Ayolah, cucuklah. Tapi pelan-pelan ya…” pintaku
lagi.
Jhon mencucukkan kontolnya kelubangku yang sedai tadi
sudah berair dan becek, mengeluarkan aroma yang
sangat tajam.
“Oh… ” kontol itu terasa panas dan menggesek lubang
memekku. Aku merasakan kontolnya menembus
memekku. Yah… makin kedalam dan semakin dalam,
hangat dan menggairahkan.
“Ayo dong sayang. Jangan nakal…” kataku.
“Iya… mam. Biar masuk dulu semua.ÔÇØ Aku merasakan
batang itu sudah habis tertelan memekku.
“Ayo dong sayang, apa lagi. Puasin mama dong…”
pintaku lagi.
Perlahan Jhon menarik cucuk kontolnya di memekku.
Terasa begitu seret. Aku merasakan gesekan kontolnya di
dinding rahimku begitu hangat dan kesat. Aku merintih-
rintih merasakan nikmatnya.
“Ayo dong sayang. Cepat dong… puasin mama,” pintaku
lagi dan lagi. Jhon sudah memelukku. Tubuhnya
menindih tubuhku dan dia mulai menarik dan
mencucukkan kontolnya secara teratur ke lubangku. Aku
semakin merasakan kenikmatan tak dapat kulukiskan.
Kenapa selama ini aku enggan memintanya? Sementara
aku sudah tak mungkin lagi hamil. Aku sudah menutup
kehamilanku dengan operasi kecil. Ketika itu, aku sendiri
tak yakin pada diriku, karean nafsuku yang selalu ingin
bersetubuh. Nyatanya, aku mampu menjaganya.
Andaikan aku masih bisa hamuil, pasti aku menginginkan
anak dari Jhon yang juga anakku.
“Jhon… cepat dong. Mama sudah tak tahan ni…” desahku
kuat dan mencakat tubuhnya.
Jhon mengerti keinginanku. Dia mulai mempercepat
kocokan kontolnya di memekku. Aku memeluknya
sembari menjilati lehernya dengan rakus.
“Jhon… mama sudah mau sampai ni… Cepat dong…” aku
mendesah lagi.
“Sabar Ma. Tar lagi. Tahan dulu, aku akan mencapai
puncak,” jawabnya.
“Mama sudah tak tahan sayang. Bisa rintok Mama, kalau
begini. Ayo dong sayang…”
Jhon nmenarik rambutku dan memelukku kuat-kuat.
Tubuhnya sepenuhnya menindih tubuhku dari atas.
Kocokan kontolnya ke dalam memekku semkin cepat.
Suara-suara gesekan kontol dan memekku membuat
nafsu kami semakin menggebu-gebu. Basah, becek dan
hangat.
“Ayo dong sayang… Mama sampai ni…” kataku
memeluknya kuat-kuat dan terus mendesis. Jhon
mempercepat kocokannya dan memperkuat pelukannya.
Dia menekan kuat tubuhnya di atas tubuhku.
“Mama… aku akan sampai juga ni,” katanya menekan
sedalam-dalamnya kontolnya ke dalam lubang
memekku, sampai memekku benar-benar penuh.
Semakin penuh lagi, saat sperma kentalnya yang hangat
lepas dari kontolnya.
“Maaaaa…. aku sampeeeekkkk…” katanya kuat. Semoga
tetangga kamar sebelah tidak mendengar teriakannya.
Jhon memeluk tubuhku sekuat-kuatnya. Aku
membalasnya dan melemahkan rangkulan kakiku di
pinggangnya.
“Maaf sayang… nafas mama sudah tak tahan,” kataku.
Jhon menekan kedua sikunya, agar berat tubuhnya tidak
menekan tubuhku secara penuh.
“Mama hebat…” katanya memuji dan merayuku.
“Yang hebat itu kamu sayang, mampu membuat mama
orgasme sehebat ini,” kataku.
“Aku mencintai Mama,” katany.
“Mama juga mencintaimu sayang,” jawabku dengan
senyum pada nafas yang masih tersengal-sengal.
Dibelainya rambutku dengan tulus. Di tutupinya tubuhku
pakai selimut dan dikecupnya bibirku. Aku membalas
kecupannya.
“Acara ke hotel ini harus kita lakukan sekali dalam
sebulan,” katanya. Aku mengangguk. Tapi bukan hanya di
hotel itu saja kami melakukannya setelah yang pertama
itu. di rumah atau ditempat lain.
Anakku Jhon juga kekasih hatiku. Aku mencintainya
sebagai anak dan sebagai kekasihku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*