Home » Cerita Seks Mama Anak » Di Perkosa 3 Anakku 6

Di Perkosa 3 Anakku 6

Banu mendekatkan kedua tangannya ke
pahaku lalu menarik celana dalamku ke
bawah. Aku mengangkat pantatku sedikit
untuk memudahkan dirinya menelanjangiku.
Tak sampai hitungan menit, celana
dalamku sudah lepas dari tubuhku. Kini
kami berdua sudah dalam keadaan
telanjang bulat. Sekarang Banu benar-
benar terpana melihat pemandangan
paling indah yang tidak pernah dilihat atau
bahkan diimpikan sepanjang hidupnya. Di
hadapannya, sebuah vagina yang bersih
karena tidak ada bulu-bulunya
terpampang jelas di depan matanya. Aku
melihat keragu-raguan di matanya. Seperti
seorang guru yang sedang mengajari
muridnya, aku dekatkan kepala Banu ke
vaginaku.
“Jangan bengong aja Nak. Cium memek ibu,
jilat memek Ibu. Lakukan apa saja Nak,”
aku menyuruh Banu untuk melakukan
aksinya.
Tak lama, Banu mendekatkan kepalanya
ke vaginaku dan mulai menciumi
permukaan vaginaku. Aku mendesah
pelan. Lima menit setelah puas menciumi
seluruh permukaan vaginaku, Banu
mengeluarkan lidahnya dan mulai menjilati
vaginaku. Aku merasakan permukaan
yang kenyal dan basah yang menyentuh
vaginaku. Perasaanku semakin tidak
karuan saja. Tangan kananku berusaha
membantu. Dengan dua jari aku berusaha
membuka vaginaku sehingga sekarang
tidak hanya permukaanya saja yang
tersapu oleh lidah Banu, tetapi lidah Banu
juga mulai masuk ke dalam vaginaku. Banu
bahkan bisa menggigit-gigit kecil.
Nafasku semakin tidak beraturan. Tanpa
diperintah, Banu memasukkan dua jari
tangan kanannya ke vaginaku. Aku
semakin tidak karuan saja. Dia mengocok-
ngocok vaginaku sambil tetap menjilatinya.
Pantatku bergoyang-goyang tidak karuan.
Tidak puas hanya menjilati vaginaku saja,
saat pantatku terangkat Banu juga
menjilati lubang pantatku. Aku sebenarnya
ingin melarangnya karena itu menjijikkan
tetapi aku tidak sanggup karena nafsu
sudah menguasaiku. Tidak sampai lima
belas menit kemudian aku merasakan ada
dorongan kuat dalam diriku.
“Ahh.. Ibuu mauu keluuaar.. Naakk..” teriakku
mendekati orgasmeku yang pertama.
Serr.., ser.., air maniku muncrat keluar.
Seakan tidak ingin mengecewakan Ibunya,
Banu membuka mulutnya lebar-lebar
untuk menampung muncratan air maniku.
Beberapa semprotan sempat mengenai
wajahnya. Mulutnya menggembung
seakan tidak muat menampung
banyaknya air maniku yang memang
sudah tidak keluar selama beberapa hari.
Aku mengira Banu akan menelan air
maniku, tetapi ternyata pikiranku salah.
Setelah yakin bahwa vaginaku sudah tidak
mengeluarkan mani lagi, Banu
mendekatkan kepalanya ke kepalaku. Aku
masih belum tahu apa maksudnya.
Tangan kanan Banu memegang pipiku
memintaku untuk membuka mulutku. Aku
dapat menebak apa maunya, dan entah
mengapa aku mau saja membuka mulutku
lebar-lebar. Banu membuka mulutnya
sedikit demi sedikit. Dan sedikit demi
sedikut pula, setetes demi setetes air
maniku yang sudah ditampung Banu di
mulutnya menetes ke mulutku. Aku
menerima tetesan demi tetesan.
Tak lama, Banu mendekatkan mulutnya
dan menciumku dengan mulut yang sedikit
terbuka. Air mani yang sudah berpindah
tempat ke mulutku dipermainkannya. Lalu
Banu membalik tubuhku sehingga kini aku
berada di atas tubuhnya sambil kedua
mulut kami masih tetap menyatu. Dalam
posisi di atas Banu, mau tidak mau air
maniku yang sudah berada di mulutku
kembali mengucur ke mulutnya karena
mulut kami berdua membuka. Tak menyia-
nyiakannya, kali ini Banu langsung menelan
semua air maniku yang tadi kami buat
mainan di mulut kami berdua. Ditelannya
semua air mani itu tanpa sedikitpun yang
tersisa untukku.
“Aahh.. Segar sekali air mani Ibu.. Enak Bu..,”
kata Banu sambil tersenyum di sela
daesah nafasnya yang masih tidak
teratur.
“Kamu suka Nak? Ibu senang kalau kamu
menyukainya. Peju kamu juga enak kok,”
kataku menimpali, sambil tersenyum
kepadanya.
Tak berlama-lama, aku turun ke bagian
selangkangannya. Aku pegang kontolnya
yang masih tegang seperti tiang bendera.
Aku pegang kontol Banu dengan tangan
kananku. Tidak menunggu lama, aku oral
lagi kontol Banu. Banu kembali mendesah-
desah mendapat perlakuan itu lagi. Aku
memajumundurkan mulutku yang sedang
menghisap kontol anakku. Sepuluh menit
kemudian, aku minta Banu untuk berdiri
dari sofa. Aku tidur telentang di sofa
menggantikan dirinya.
“Masukkan kontolmu sayang. Memek Ibu
sudah pengen ngerasain kontol gedemu,”
pintaku kepada Banu sambl menyibakkan
lubang vaginaku untuk memudahkan
penetrasi yang akan dilakukan Banu.
Banu memegang kontolnya dan bersiap-
siap untuk mencobloskan ke vaginaku.
Diusap-usapkannya ujung kontolnya di
pintu masuk vaginaku dan.. Breess..
“Aahh..,” teriakku ketika kontol gede itu
menembus vaginaku.
Sleep.. Sleep.. Plok.., suara kocokan kontol
banu di vaginaku.
“Enaakk.. Yaangg.. Teruss.. Kontolmu gede..
Naak..” aku meracau tidak karuan.
Banu tidak berkata apa-apa. Hanya
desahan-desahan yang semakin keras
yang keluar dari mulutnya. Keringat deras
membasahi tubuhnya. Aku pandangi
wajahnya. Betapa tampannya anakku ini,
dalam hati aku berpikir. Aku
menggoyangkan pantatku untuk
mengimbangi permainan Banu. Aku
mengusap keringat yang membasahi
wajahnya dengan kedua tanganku.
Mungkin ini adalah kasih sayang seorang
ibu.
Lima belas menit kemudian, aku meminta
Banu untuk mencabut kontolnya dari
vaginaku. Banu melakukannya walaupun
dengan keraguan. Lalu aku memintanya
untuk tidur telentang di sofa. Setelah Banu
tiduran, aku mengangkangi
selangkangannya. Aku pegang kontol
Banu, lalu aku mencoba untuk
mengepaskan ke lobang vaginaku. Setelah
aku rasa tepat, aku turunkan pantatku
dan.., Bleess..
Kontol Banu kembali memasuki sarangnya.
Aku menaikturunkan tubuhku untuk
mengocok kontol Banu. Kedua gunung
kembarku bergoyang naik turun seperti
mau lepas. Aku pegang tangan Banu dan
aku arahkan ke payudaraku. Banu sudah
mengerti apa yang aku mau. Sambil
menggerakkan pantatnya naik turun
menyambut vaginaku, kedua tangan Banu
bergerak aktif meremas-remas
payudaraku. Hal ini semakin menambah
rangsangan buatku dan..
Seerr.. Seer.. Seerr.., aku mengalami
orgasme yang kedua. Tetapi Banu
tampaknya tidak peduli dengan itu. Dia
tetap saja menaikturunkan pantatnya.
Aku biarkan saja dia meski sebenarnya
aku ingin istirahat.
“Bu, ganti posisi donk, Ibu turun dulu,” kali ini
Banu yang meminta untuk berganti posisi.
Aku lepaskan jepitan vaginaku yang basah
karena sudah orgasme. Banu berdiri dari
sofa.
“Sekarang Ibu berdiri menghadap sofa, lalu
berpegangan ke sofa,” pinta Banu.
Aku yang masih tidak mengerti apa
maksudnya mengikuti saja apa maunya.
Setelah aku berposisi menungging sambil
berpegangan ke sofa, Banu memasukkan
kontolnya ke vaginaku dari belakang.
“Aahhggh.. Hebatt.. Kamu naakk..”, aku
menjerit lagi.
Kali ini dengan posisi yang belakangan aku
ketahui bernama “Doggy Style” kami
berdua melanjutkan ‘olahraga’ seks kami.
Dari belakang Banu meremas-remas dan
mengusap-usap pantatku. Ruangan ini
dipenuhi dengan suara-suara erotis yang
menandakan dua insan sedang beradu
kenikmatan. Tak hanya meremas
pantatku, dari belakang Banu juga
meremas-remas kedua payudaraku. Aku
pun tidak mau kalah. Vaginaku meremas-
remas kontolnya yang sedang berada di
dalamnya. Pantatku pun tidak mau tinggal
diam. Aku memutar-mutar pantatku untuk
menambah sensasi yang dirasakan oleh
Banu. Rupanya apa yang aku lakukan itu
membuat pertahanannya runtuh juga.
Aku pun tidak bisa lagi menahan
orgasmeku yang ketiga.
“Sayaangghh Ibu mau keluaarr laggii..,” aku
menjerit keras ketika aku merasakan
akan orgasme untuk yang ketiga kalinya.
Seerr.. Seerr.. Aku merasakan vaginaku
basah oleh air maniku sendiri.
“Buu.. Aku juugaa mauu keluaarr..,” teriak
Banu. Mendengar itu aku segera saja
meminta Banu untuk mencabut kontolnya.
“Cabut kontolmu sayang.. Ibu mau minum
air pejumu lagi..,” aku memintanya.
Banu segera mencabut kontolnya. Aku
segera saja berbalik dan memasukkan
kontolnya ke mulutku. Aku tidak peduli
dengan air maniku yang masih menempel
di kontolnya. Toh, rasanya juga enak.
Sepuluh menit aku mengocok kontolnya
dalam mulutku dan..
Croot.. Croot.. Croot.., sperma Banu
menyemprot ke dalam rongga mulutku.
Tidak sebanyak yang pertama memang,
tapi aku tidak peduli. Semua sperma yang
disemprotkan kontol Banu aku telan. Gurih
dan wangi. Aku semakin menyukai rasa
sperma dari anak-anakku. Setelah
kontolnya tidak lagi mengeluarkan sperma,
aku jilati kontolnya untuk
membersihkannya.
Banu lalu duduk di sofa dengan nafas
yang tidak karuan. Aku memandangnya,
dan dia pun memandangku. Aku
tersenyum kepadanya, begitu juga dia. Aku
suruh dia mendekat. Aku peluk dia seperti
seorang kekasih yang lama tidak bertemu.
“Terima kasih Nak. Ma’af, Ibu melakukan ini
kepadamu. Kamu suka?” aku bertanya
kepadanya.
“Banu bahagia sekali meskipun Banu tidak
tahu mengapa Ibu melakukan ini. Tapi Banu
tidak peduli. Banu sayang sama Ibu,” jawab
Banu sambil tersenyum.
“Tapi, bolehkah Banu melakukan ini lagi
sama Ibu?” tanya anakku itu. Aku
tersenyum mendengar pertanyaannya.
Toh, ini semua aku yang memulai.
“Tentu saja sayang. Kapanpun kamu mau,
selama tidak ada orang,” jawabku sambil
mengelus kepalanya.
Selama kedua saudaranya tidak ada di
rumah, aku dan Banu terus melakukan
hubungan sedarah itu. Kami melakukannya
di tempat tidur, di dapur, di kamar mandi di
mana saja asal memungkinkan. Aku pasti
akan menceritakan kelanjutan hubungan
yang kami lakukan selama kedua
saudaranya tidak ada di rumah dalam
tulisan selanjutnya.
Dan setelah kedua saudaranya pulang,
ada satu kejutan besar yang aku lakukan.
Aku menceritakan kepada mereka bertiga
bahwa aku sudah bersebadan dengan
ketiganya. Walau sangat terkejut mereka
dapat menerimanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*