Home » Cerita Seks Mama Anak » Di Perkosa 3 Anakku 5

Di Perkosa 3 Anakku 5

Beberapa minggu setelah kejadian
pertama dengan Basuki, aku telah berpikir.
Aku rasa anakku yang kedua, Banu, juga
harus mendapatkan jatah seperti kedua
saudaranya. Tidak adil rasanya jika dia
tidak mendapatkannya. Lagipula, semua
yang aku lakukan sudah telanjur jauh.
Mengapa tidak aku teruskan saja. Hanya
saja aku belum mendapatkan cara yang
tepat untuk meminta anakku Banu.
Mungkin aku sudah terkena penyakit
kelainan sex karena aku sangat menikmati
hubunganku dengan anak-anakku sendiri.
Tapi biarlah, daripada harus menjajakan
diri, aku pikir lebih baik begitu. Kesempatan
untuk bersetubuh dengan Banu akhirnya
datang ketika kedua Saudaranya sedang
tidak ada di rumah.
Bari sedang ke rumah temannya,
sedangkan Basuki pergi ke kota lain
selama beberapa hari. Jadi otomatis aku
tidak mendapatkan kepuasan selama
beberapa hari itu, karena aku tidak
disentuh oleh kedua anakku yang telah
menjadi pemuas nafsuku. Aku tidak
mampu lagi menahan nafsuku untuk
bersetubuh, dan aku tidak mau
bersetubuh dengan orang lain yang tidak
aku kenal. Aku bingung. Sampai ketika aku
sedang duduk di ruang tengah aku melihat
Banu yang baru saja selesai mandi dan
keluar dari kamar mandi dengan hanya
mengenakan celana pendek. Aku
terkesiap. Ternyata tubuh Banu tidak jauh
berbeda dengan kedua saudaranya.
Atletis dan juga mengagumkan. Hasratku
yang sudah sampai ke ubun-ubun
menggelapkan nuraniku. Aku berpikir,
biarlah sekalian aku nikmati tubuh semua
anak-anakku. Tanpa pikir panjang, aku
panggil Banu.
“Banu, kemari sebentar Nak,” panggilku.
Banu menoleh ke arahku dan berjalan
menghampiriku.
“Ada apa Bu? Banu baru mandi nih. Mau
pake baju dulu,” kata Banu sambil
menghampiriku.
“Tidak usah pakai baju Nak. Kemari
sebentar. Ibu mau bicara dengan kamu.”
Kataku meyakinkan Banu.
“Tapi Bu, Banu kedinginan. Banu mau pakai
baju dulu,” jawab Banu ngotot.
“Udah, nggak usah membantah Ibu,”
kataku sambil berdiri dan menarik tangan
Banu untuk mendekat.
“Duduk di samping Ibu,” kataku lagi.
Banu pun akhirnya menurut dan duduk di
sampingku. Aku pandangi tubuh setengah
telanjang yang duduk di sampingku.
Sempurna. Itulah yang ada di benakku
saat ini.
“Boleh Ibu tanya Nak?” tanyaku kepada
Banu.
“Ya tentu saja boleh Bu, emang ada apa
sih?” Banu balik bertanya kepadaku sambil
matanya memandangku penuh selidik.
“Kamu udah punya pacar Nak?” tanyaku
basa basi.
“Ya belum donk Bu, emang kenapa sih Ibu
tanya itu?” jawab Banu.
“Jadi kamu belum pernah ciuman donk?”
tanyaku memancing.
Banu kelihatan keheranan dengan
pertanyaanku tadi. Dia hanya diam
beberapa saat.
“Ya belum pernah donk. Kok Ibu tanya
begitu sih? Ada apa?” tanya Banu
keheranan.
“Nggak kok. Kalau memang belum pernah,
Ibu cuman ingin mengajari kamu ciuman. Itu
pun kalau kamu mau?” jawabku ngawur.
“Ibu serius? Ibu nggak sedang bercanda
kan?” tanya Banu lagi dengan nada tidak
percaya.
Aku hanya menganggukkan kepala, lalu
mendekatkan tubuhku kepadanya. Kepala
kami begitu dekat sehingga aku bisa
merasakan hembusan nafasnya. Aku
dekatkan bibirku ke bibirnya. Lalu aku
tempelkan bibirku. Banu hanya diam saja
dan tidak bereaksi. Aku mencoba lebih
aktif lagi. Aku dekap tubuhnya, sehingga
tubuh kami bersatu.
“Kalau ciuman, bibirnya dibuka sedikit donk
Nak,” pintaku karena bibir Banu hanya
tertutup rapat.
Aku cium lagi bibirnya, dia membuka
bibirnya sedikit sehingga aku mencoba
memasukkan lidahku ke mulutnya. Lidahku
dan lidahnya beradu di dalam mulutnya.
Terkadang aku sedot mulutnya untuk
mendapatkan sedikit air ludahnya. Lalu aku
telan air ludahnya yang terasa nikmat.
Setelah sekitar 15 menit kami berciuman
dengan mesranya, aku lepaskan
dekapanku pada tubuhnya. Banu seperti
tidak rela untuk melepaskan diriku.
“Bagaimana Nak? Kamu suka?” tanyaku.
“Enak sekali Bu. Boleh lagi? Banu masih
pengen nih.” Kata Banu sambil terengah-
engah.
“Boleh saja Nak. Bahkan lebih juga boleh
kok.” kataku lagi.
Aku berdiri di hadapannya. Lalu aku
perlahan-lahan menurunkan resleting
dasterku. Aku turunkan dasterku dan aku
buang ke samping sofa. Sekarang aku
hanya menggunakan BH dan celana dalam
saja. Aku lihat Banu terkesiap dan
menelan ludah melihat pemandangan yang
indah di depannya. Aku melangkah
mendekat ke arahnya. Aku dekatkan
wajahku. Kami pun berciuman kembali. Kali
ini Banu sudah lebih mahir. Dia
memasukkan lidahnya ke dalam mulutku.
Lidah kami bertautan seperti dua ekor ular
yang sedang bertarung.
Hanya suara desahan kami berdua yang
memenuhi ruangan itu. Aku pegang
tangan kanannya dan aku arahkan ke
buah dadaku yang masih terbalut oleh bra.
Secara alami tangan Banu mulai
meremas-remas payudaraku dari luar bra.
Aku semakin terangsang saat tangannya
meremas payudaraku. Tangan kiriku
mengusap-usap bagian luar celananya.
“Buka BH Ibu, sayang.. Ohh,” pintaku sambil
mendesah.
Tanpa diminta dua kali, tangan Banu
dengan cekatan membuka kaitan BH-ku.
Kini di depan wajahnya terpampang dua
buah bukit kembar yang sangat ranum
dan menggairahkan.
“Bu, susu Ibu gede sekali, ukuran berapa
sih Bu?” tanya Banu takjub melihat
besarnya payudaraku.
“38B sayang, gede kan? Kamu suka
sayang?” jawabku penuh nada
kebanggaan pada propertiku yang satu ini.
“Pegang susu Ibu sayang,” pintaku sambil
mendekapkan tangannya ke payudaraku.
Mungkin ini yang disebut dengan nafsu
alami. Secara otomatis tangannya mulai
meremas-remas payudaraku. Aku hanya
bisa mendesah-desah tak karuan
mendapatkan perlakuan seperti itu. Tak
hanya meremas-remas, sepuluh menit
kemudian Banu secara naluriah mulai
mengecup dan menjilati kedua gunung
kembar yang ada di depannya.
“Ahh.. Enaak.. Sayang.. Teruuss.. Emmpphh..”
aku meracau tak karuan mendapat
perlakuan seperti itu.
Kini hanya sehelai celana dalam yang
melekat di tubuh kami. Tak sabar, aku
menjauhkan kepala Banu dari kedua
gunung kembarku. Aku suruh Banu untuk
duduk di sofa. Peluh membasahi tubuh
kami berdua meskipun permainan baru
saja di mulai. Aku berjongkok di antara
kedua belah pahanya yang terbuka. Aku
pandangi tonjolan besar yang berada
dalam penjara yang disebut celana dalam.
Aku usap-usap bagian luar celana Banu.
Banu menggelinjang mendapat perlakuan
seperti itu. Perlahan aku pegang pinggiran
celana dalam Banu dan aku berusaha
untuk melepaskan celana dalam itu dari
tubuhnya.
Sebuah pemandangan yang sangat indah
bagiku terpampang begitu saja ketika
celana dalam itu sudah lepas dari
tubuhnya. Kini Banu sudah telanjang bulat.
Kontol yang sangat besar, dengan
panjang sekitar 18 cm dan diameter yang
cukup besar membuat diriku menelan
ludah. Aku pegang kontol Banu dengan
tangan kananku. Aku elus-elus kontol itu
pelan-pelan. Banu hanya mendesah saja
mendapatkan perlakuan itu. Aku dekatkan
wajahku ke kontol Banu. Aku ciumi ujung
kontol yang merekah itu, lalu aku jilati
kontol itu. Banu semakin tidak karuan
mendapat perlakuan yang semakin
merangsang itu. Lima menit kemudian, aku
masukkan kontol Banu ke dalam mulutku
dan aku oral kontol Banu.
“Ohh.. Enaakk Buu.. Teruus..” Banu
mendesah.
Aku memasukkan kontol Banu ke dalam
mulutku dan juga secara bergantian
mengocok kontolnya dengan tangan
kananku sambil menjilati buah pelirnya.
Setelah itu aku masukkan lagi kontol Banu
ke dalam mulutku lalu aku memaju
mundurkan mulutku sedangkan tanganku
bekerja meremas-remas kedua pelirnya
dengan lembut.
“Enaakk.. Bu.. Kontooll.. enaakk.. Teruss..”
Kata-kata semacam itu terus-menerus
keluar dari mulut Banu. Sekitar sepuluh
menit kemudian Banu memegang bagian
belakang kepalaku seakan-akan tidak mau
melepaskan hisapan mulutku dari
kontolnya.
“Buu.. Mauu.. Ke.. Lu. Aar.. Ceepaat..” teriak
Banu.
Aku semakin mempercepat kocokan
mulutku di kontolnya. Tidak lama kemudian
aku merasakan adanya denyutan-
denyutan yang menandakan kalau Banu
akan mencapai puncak.
“Keluarkaan sayang, keluarkan di mulut
Ibu,” kataku di antara desahan nafasku
dan nafasnya dan di antara kesibukanku
mengoral kontolnya.
Creet.. Croot.. Creet.., mungkin sebanyak
sembilan atau sepuluh semprotan sperma
Banu memenuhi rongga mulutku. Hampir
saja mulutku tidak dapat menampung
banyaknya semprotan sperma Banu yang
sangat banyak itu. Wangi dan gurih, itulah
yang aku rasakan. Mungkin dikarenakan
Banu masihlah perjaka (atau tidak??).
Banu duduk telentang dan bersandar di
sandaran sofa dengan nafas yang
terengah-engah seperti baru berlarian.
Tapi, dia memang baru saja ‘berlarian’
mengejar nafsunya bukan? Aku lalu duduk
di sampingnya. Aku biarkan dia istirahat
dulu, aku tidak ingin terburu-buru meskipun
nafsuku sudah sampai ke ubun-ubun. Ini
adalah yang pertama baginya. Aku ingin
kepuasan untuk kami bedua.
“Kamu capek Nak? Pejumu tadi benar-
benar lezat Nak. Ibu sangat menikmatinya”,
sanjungku tentang spermanya yang aku
telan tadi. Banu hanya tersenyum saja
mendengar sanjunganku.
Setelah aku melihat Banu sudah mulai
tenang, aku dekatkan wajahku ke
wajahnya. Seperti sudah mengerti yang
aku maksud, Banu juga mendekatkan
wajahnya ke wajahku. Mulut kami bersatu
dan kami berciuman. Aku buka sedikit
mulutku, bagitu juga Banu. Lidahnya mulai
masuk ke dalam mulutku dan menyapu
seluruh rongga mulutku. Kedua lidah kami
beradu, saling membelit dan saling menjilat.
Aku dekap tubuhnya erat sedangkan
Banu memegang bagian belakang
kepalaku. Aku rasakan kedua gunung
kembarku bersentuhan dengan dada
bidang milik Banu. Banu berusaha
menidurkan aku di sofa sambil kedua
tangannya bergerilya di seluruh tubuhku.
Sekarang aku telentang di sofa dan Banu
berada di atas menindihku.
“Ludahi Ibu, Nak. Ibu haus. Ludahi Ibu,”
pintaku kepada Banu untuk memberikan
air ludahnya kepadaku.
Banu menjauhkan sedikit mulutnya dari
mulutku. Mulut Banu mengecap-kecap,
berusaha mengumpulkan air ludah
sebanyak-banyaknya. Setelah dirasa
cukup banyak, Banu mendekatkan
mulutnya kembali ke mulutku. Aku
membuka mulutku seperti ikan yang
megap-megap kekurangan air. Perlahan
Banu membuka mulutnya. Aku dapat
melihat air ludah yang mengucur keluar
dari mulut Banu. Aku dekatkan mulutku
dan aku satukan mulutku dengan mulut
Banu. Aku tampung semua air ludah yang
dikeluarkan oleh Banu. Aku katupkan
mulutku lalu aku kecap-kecap sebentar
kumpulan air ludah Banu yang berada di
mulutku lalu aku menelannya. Aku dekap
kepalanya lalu kami berciuman kembali. Aku
rasakan di bawah, kontolnya kembali
menegang. Sesaat kemudian, aku
lepaskan dekapanku lalu aku dorong tubuh
Banu ke bawah.
“Buka celana dalam Ibu Nak. Ayo lakukan,”
aku meminta Banu untuk membuka celana
dalamku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*