Home » Cerita Seks Mama Anak » Di perkosa 3 Anakku 3

Di perkosa 3 Anakku 3

Cerita Sebelumnya : Di Perkosa 3 Anakku 2

Ingatannya saat bagaimana dia meremas
tetek ibunya tadi membuatnya berani
menarik ke bawah selimut yang menutupi
punggung mulus itu. Perlahan punggung itu
sekarang terbuka sampai ke pinggang dan
otomatis pasti bagian depannya pun
terbuka polos pula. Teringat bagaimana
tadi ia memeluk ibunya, perlahan Bari
melingkarkan tangan memeluk ibunya dan
merapatkan zakar ke pantatnya. Kulit
dadanya bertemu kulit punggung ibunya,
tangan kanannya memeluk perut ibunya
dan perlahan jemarinya merambat ke
atas. Menggapai dua gunung kembar yang
membusung itu.
Sementara itu kaki Bari tak tinggal diam
membantu menarik selimut ibunya ke
bawah. Terus ke bawah sampai paha-
paha mulus gempal itu tak tertutup lagi.
Maka bugillah kedua ibu dan anak itu. Tidur
berdekapan. Satu terlelap, satunya
bernafsu.
Tak sabar, Bari mulai mengelus dan
meremas pelan payudara montok mulus
itu. Tangannya agak gemetar ketika
menyentuh puting dengan ibu jari dan
telunjuknya. Ditempelkan zakar ke pantat
ibunya yang cukup besar. Dibiarkannya
posisi itu bertahan hampir 30 menit. Dan
ketika ibunya tetap lelap tertidur, Bari
semakin berani. Sambil pura-pura
menggeliat, perlahan ditariknya bahu dan
paha ibunya sampai tubuh wanita itu
telentang. Kemudian dengan penuh nafsu
buah dada yang menggunduk itu dijilatinya.
Dikuaknya selangkangan si ibu lalu
perlahan mengarahkan zakar ke gua
nikmat itu. Tak mau gegabah dan terlalu
kasar seperti tadi, kini Bari melakukannya
dengan halus.
“Bleess” ditancapkan zakar dalam-dalam
ke vagina ibunya lalu pantatnya diam.
Tidak menekan terlalu keras. Malah
lidahnya mulai menyusuri tetek dan dada
ibunya sampai mencapai bibir dan
menciuminya sambil tangannya meremasi
susu montok itu. Aneh benar, Surti, ibunya,
tetap tertidur, seolah tak merasakan
apa-apa. Mungkin ia terlalu penat karena
cape bergelut dengan Jamal tadi siang
dan tidur yang terpotong barusan.
“Eeehhghh..” Surti mendesis lirih ketika lidah
Bari memasuki mulutnya, namun matanya
tetap terpejam. Hanya tubuhnya saja
bergeser kecil dan Bari memberinya ruang
dengan sedikit mengangkat badannya
sehingga tidak terlalu memberati Surti.
Setelah ibunya tenang, kembali Bari
menumpangkan badan di atas tubuh bugil
Surti. Perlahan ia mulai memompakan
zakarnya.
“Shleeb.. shlebb.. jleeb.. jleebb..” berhenti lalu
sambil menekankan zakarnya di kemutnya
puting Surti.
“Egghh eggh..,” desis Surti sambil
menggerakkan tubuhnya sedikit namun
tetap tidur.
Anehnya lagi, Bari merasa zakarnya
seperti ada yang menghisap-hisap.
Nikmaat dan membuatnya cepat
mencapai puncak. Buru-buru Bari
memompa lagi cepat-cepat, dan kini ia tak
peduli kalau ibunya bakal bangun karena
gerakan kasarnya.
“Heeh.. heeh.. heeh..” nafas Bari memburu
ketika ia menggerakkan pantatnya
dengan gencar naik turun keluar masuk
menusuk-nusuk lahan Surti sambil
memeluki ketat tubuh ibunya itu dan
mencium ketat bibirnya yang
menggairahkan. Otomatis diperlakukan
demikian Surti terbangun, namun
terlambat Dalam keadaan belum sadar
benar, mendadak Surti merasakan tubuh
di atasnya mengejang-ngejang belasan
kali dan terasa semprotan-semprotan
sperma di rahimnya. Barulah tubuh itu
terjelepak layu menindihnya.
Surti segera mendorong tubuh itu dan ia
segera sadar bahwa Bari telah berhasil
menuntaskan nafsu di atas tubuhnya.
“Ooh Bari.. Bari kenapa kamu tega menodai
ibu?” ratap Surti sambil menangis dan
memukuli tubuh Bari yang hanya diam
membisu memunggunginya. Beruntung
suasana kamar gelap sehingga mereka
tidak dapat melihat kondisi masing-masing.
Bayangkan betapa malu bila mereka saling
bertatapan mata.
“Ma.. maafkan saya, bu. Sss..saya benar-
benar khilaf tidak bisa menahan nafsu”
jawab Bari lirih. Pelan ia berbalik dan
menyelimuti tubuh telanjang Surti.
Kemudian turun dari ranjang, memakai
sarungnya dan melangkah keluar kamar.
Dicarinya air dingin di dapur.
Surti sendiri dalam isak tangisnya kembali
merebahkan diri. Tak tahu harus berbuat
apa pada anak bungsunya itu. Mau
dimarahi? Toh ini sudah terlanjur terjadi.
Mau diusir dari rumah? Ia tak tega. Ia
menyesali dirinya telah tertidur begitu
pulas sampai tak merasa sedang
disetubuhi anak kandungnya sendiri.
Kenapa ia tadi begitu ceroboh dan
menganggap sepele kejadian perkosaan
yang pertama? Sampai tak
memperhitungkan bahwa Bari ternyata
nafsunya tetap berkobar-kobar. Pemuda
seumur Bari memang sedang panas-
panasnya. Nafsunya cepat naik. Apakah
sebaiknya mereka tidak tidur seranjang?
Bari biar tidur dengan kakaknya saja. Tapi
ranjang kamar depan terlalu sempit untuk
bertiga. Apakah ia perlu tukar tempat
dengan Banu?
Namun setelah memikirkan bahwa Banu
pun mungkin juga akan terangsang
nafsunya bila tidur bersamanya (ini
nampak dari bahasa tubuh Banu dan
Basuki, si sulung, yang selama dirantau
menurut dugaan Surti pasti pernah
berhubungan dengan wanita) maka Surti
memutuskan tetap tidur sekamar dengan
Bari. Biarlah kejadian ini hanya kami berdua
yang tahu, pikirnya. Setengahnya ia juga
menyalahkan diri karena telah
merangsang Bari secara tak sengaja
ketika tadi mimpi bersetubuh dengan
Jamal.
Sambil merenung-renung kejadian yang
menimpa dirinya dan Bari, Surti mulai bisa
memaklumi tindakan Bari. Ternyata anak
bungsuku sudah dewasa dan mampu
melakukan kewajibannya sebagai lelaki,
bathinnya. Perlahan mata Surti kembali
terkantuk-kantuk. Masih sekitar jam 2 dini
hari. Sementara itu Bari yang usai minum
air dingin duduk melamun di dapur,
mengenang apa yang baru saja dilakukan
atas tubuh ibunya. Barusan ia juga telah
mencuci zakarnya dengan air dingin
sampai benda lunak itu mengkerut lagi.
Rasa kantuk yang menyerang
membuatnya beranjak kembali ke kamar
tidur.
“Biarlah kalau ibu mau marah lagi,” pikirnya
pasrah.
Perlahan Bari membuka pintu, masuk lalu
menutupnya lagi. Ternyata Surti telah
tidur kembali. Kali ini ia malah telentang dan
lagi-lagi hanya berselimut lurik. Bari
mengambil sedikit tempat di pinggir untuk
merebahkan tubuhnya. Sekilas diliriknya
wajah ibunya dalam gelap, hanya nampak
siluet wajah seorang wanita yang belum
tua benar. Namun tetap menarik.
Bari coba memejamkan mata dan tidur.
Tanpa sadar ternyata ia juga tidur hanya
berbalut sarung yang melingkari bagian
perut ke bawah.Cukup lama pemuda
tanggung ini berusaha tidur sewaktu
tanpa diduga Surti mengerang dan
menggeliat ke arah dirinya. Bari gelagapan
ketika tangan Surti justru memeluknya.
Dan tubuh Bari kembali berdesir karena
dada montok ibunya menekan dadanya
meski masih terhalang selimut. Ini
merupakan rangsangan hebat buat Bari,
namun ia tak mau gegabah seperti tadi. Ia
tak mau kejadian tadi terulang. Maka ia
harus mampu menahan nafsunya. Kami
boleh pelukan tapi zakarku tak boleh
tegang, bathinnya. Dengan prinsip itu
akhirnya Bari memberanikan diri balas
memeluk ibunya. Malah lebih dari itu, lagi-lagi
Bari melempar sarungnya yang
mengganggu gerakan paha dan kakinya
sampai bugil. Perlahan ia masuk ke dalam
selimut ibunya dan balas memeluk tubuh
bugil montok semok itu. Ibu dan anak itu
pun tidur berpelukan. Kali ini Bari hanya
menempelkan zakarnya di paha Surti dan
bertahan sekuat tenaga supaya tidak
ereksi. Beruntung matanya terasa sangat
berat sehingga tak lama kemudian ia pun
tertidur berpelukan dengan ibunya.
Udara panas dini hari itu membuat tubuh
mereka berkeringat. Sekitar pukul empat
pagi, seperti kebiasaannya, Surti
terbangun. Lagi-lagi ia hampir terkejut
mendapati dirinya telanjang berpelukan
dengan Bari yang bugil. Selimutnya tak
cukup lebar menutupi tubuh mereka
berdua hingga yang tertutup praktis
hanya sekitar pinggul saja, sedangkan
bagian lain benar-benar terbuka. Surti ingin
mendorong tubuh Bari, namun ia segera
menyadari bahwa Bari saat itu sedang
tidur nyenyak. Ia jadi tak tega sehingga
dibiarkannya posisi tubuhnya yang
telentang sementara Bari menindih sambil
memelukkan tangan dan satu kakinya
berada di sela-sela paha Surti. Surti agak
tenang karena tidak merasakan zakar
Bari ereksi.
Yang menggelisahkan justru tangan Bari
yang menelangkupi buah dada kirinya
serta ketelanjangan mereka.
Bagaimanapun ia masih normal dan
gesekan kulit dengan kulit demikian malah
menimbulkan rangsangan yang perlahan
menggelitikinya syahwatnya. Surti semakin
tak tahan dan berusaha menggeser
tangan serta menjauhkan tubuh Bari
perlahan agar ia tak bangun.
“Eee,” terdengar suara erangan Bari yang
merasa tidurnya terganggu.
Ia malah tak mau melepaskan pelukannya,
justru sedikit meremas buah dada Surti,
membuat Surti mendesis.
“Bari, lepaskan Ibu mau bangun” bisik Surti
ke telinga Bari sambil mendorong lebih
kuat.
“Eee.. sebentar, Bu” desis Bari sambil
mempererat pelukannya, menaikkan
tubuhnya dan mengulum puting Surti.
“Sudahlah, Bari jangan diulang kejadian
semalam” Surti menjangkau kepala Bari
sambil menggigit bibir menahan gejolak
syahwat yang berputar di pusarnya.
“Ibu tidak marah?” desis Bari lagi dengan
mata masih setengah terpejam.
“Tidak, Bar sekarang sudahlah, nanti kamu
terangsang lagi” Perlahan Bari menggeser
tubuhnya menjauhi ibunya. Ia melanjutkan
tidurnya, sementara Surti segera bangun,
mencari dasternya yang tercecer di lantai
dan mengenakannya sebelum beranjak
keluar kamar. Sekilas diliriknya tubuh bugil
Bari.
“Ia ternyata sudah dewasa” bathinnya.
Dan, sejak itulah saat-saat tidur bersama
seranjang dengan Bari mulai memasuki
babak baru. Surti tak mampu menolak
manakala Bari dengan manja memeluknya,
menindihnya, bahkan dengan nakal
meremasi teteknya atau malah memaksa
Surti membuka dasternya dan menetek
seperti anak kecil. Bagi Surti sendiri
pelukan, tindihan, kuluman dan hisapan-
hisapan Bari di sekujur tubuh dan buah
dadanya sungguh merupakan rangsangan
yang sulit dihindari. Ia tak mampu menolak
itu semua, bahkan seolah memberi izin Bari
melakukannya setiap malam. Ya, setiap
malam kini ia harus menerima perlakukan
seksual Bari yang tak kenal lelah. Pemuda
tanggung yang tengah panas-panasnya ini
seperti mendapat mainan baru yang
menggairahkan.
Kini Bari tak segan lagi bertelanjang di
depan ibunya, bahkan seringkali ia ikut
menelanjangi Surti hingga hanya tersisa
CD. Bari tak segan lagi menyuruh Surti
memegang zakarnya dan mengocoknya.
Sementara tangannya sibuk memerah
tetek Surti bahkan tak jarang coba
mengelus-elus lubang nikmat Surti meski
dari luar CD. Merasa sudah kepalang
basah, Surti pun menikmati permainan
seksual itu meski ia masih menjaga agar
gua garbanya tak lagi ditembus zakar
Bari. Ia menjepit zakar Bari dengan
pahanya dan membiarkan sperma perjaka
itu muncrat di luar atau di perutnya.
Bahkan akhirnya Bari memaksa Surti
mengulum zakar tegang itu dan menerima
muntahan lahar panas. Mula-mula
dimuntahkannya tapi lama-lama justru
dinikmati dan ditelannya. Ibu dan anak ini
akhirnya saling belajar memuasi dan
dipuasi.
Tak tahan, Surti mulai mengajari Bari
memuasi dirinya pakai tangan dan
akhirnya pakai lidah. Bari yang semula jijik,
lama-lama terbiasa juga menjilati lubang
sempit bergelambir milik Surti. Biji kelentit
dan daerah G-spot merupakan
kenikmatan tersendiri bagi Surti. Sampai ia
kadang orgasme. Mereka berdua
kemudian malah setiap malam tidur
telanjang berpelukan, dan akhirnya Surti
juga mengizinkan Bari menancapkan
zakar ke vaginanya. Bari sudah cukup bisa
menahan diri untuk tidak mengeluarkan
sperma di dalam vagina Surti setelah
diberitahu kemungkinan kehamilan bila
spermanya masuk ke rahim. Ya, selama
beberapa minggu, tanpa sepengetahuan
siapapun, mereka bagai dua pengantin
baru yang asyik dilanda nafsu. Berpacu
mengumbar birahi, tak peduli merupakan
hubungan incest. Bari yang masih muda
begitu semangat dengan kegiatan seksual
mereka sementara Surti yang sudah lama
tidak merasakan belaian laki-laki ingin
kerinduannya dipuasi. Nafsunya belum
padam. Berbagai gaya mereka lakukan,
dari yang konvensional sampai gaya anjing
kawin, 69, sambil duduk berhadapan atau
Surti di pangkuan Bari dan seterusnya.
Pokoknya nikmat dan uenaak tenaan..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*