Home » Cerita Seks Mama Anak » Di perkosa 3 Anakku 2

Di perkosa 3 Anakku 2

Bahkan, aku hanya mendesah “Jangan,
mas” ketika merasakan jemari Jamal mulai
meremasi payudaraku yang masih
menantang ini. Namun aku tak berusaha
memberontak. Toh Jamal hanya meremas
dari luar, pikirku. Sementara bibir pria itu
terus melumati bibirku. Tangan itu terus
bergerilya, satu persatu kancing bajuku
dilepasnya.
“Jangan, mas” Desisku lagi tanpa menolak
dengan serius.
Toh, aku masih pakai BH, pikirku. Ugh, BH
itupun diremas tangan Jamal berkali-kali.
Kadang membuatku sakit, namun juga
memberi rasa lain yang nikmat. Mataku
malah terpejam erat ketika jemari Jamal
bergerilya di bawah BH dan menggapai
putingku.
“Egh jangan, mas” Aduuh nikmatnya. Toh,
dia hanya memainkan payudaraku, tak
apa-apa, pikirku semakin menikmati. Aku
justru hampir tak merasa ketika baju dan
behaku sudah dilempar Jamal entah
kemana.
Yang terasa kemudian adalah payudaraku
kiri-kanan bergantian diremas dan dihisap
Jamal. Digigit-gigit, dikemot, disedot,
“dimakan”, dimainkan putingnya oleh lidah
yang lihai dan tubuhku semakin tergial-gial
ketika perut pun ditelusuri lidah berbisa
Jamal.
“Aduh, aku tak tahan. Tak apa, toh Jamal
hanya menjilati perutku” pikirku lagi
menerima perlakuan nikmat itu.
Malah tanganku kini ikut meremasi kepala
Jamal yang terus turun dan turun
mencapai pusarku. Menjilati pusarku yang
berlubang kecil, kemudian meluncur turun
lagi, membuat geli sekaligus nikmat.
“Jangan, mas” lagi-lagi aku hanya mampu
mendesiskan kata itu ketika terasa rok
panjangku perlahan tertarik ke bawah.
Karet elastis di bagian perut tak mampu
menahan tarikan itu, apalagi aku berpikir,
“Biar saja, toh aku masih pakai celana
dalam”
Sekarang tinggal segitiga pengaman
melekati tubuh polosku. Terasa pahaku
dikangkangkan dan sesuatu terasa
mengelus-elus daerah vitalku. Sesaat
kemudian aku kembali merasa tubuhku
ditindih Jamal yang menekan-nekankan
penisnya ke CD-ku. Mulut kami berpagutan
lagi. Tangan Jamal meremas-remas
payudara lagi.
“Aduh aku tak tahan lagi” Kubalas
perlakuannya yang liar dan aku tak
mampu lagi mendesis, “Jangan, mas”
ketika dengan cepat tangan Jamal
menyabet CD hitamku dan melorotkannya
ke bawah terus melepasnya dari kakiku.
Lalu sejurus kemudian kurasakan sesuatu
yang panjang besar memasuki gua
garbaku. Mula-mula perlahan dan agak
sulit, menyakitkan. Namun lama-lama
semakin dalam, lalu semakin cepat dan
cepat keluar masuk, naik turun. Disertai
lonjakan-lonjakan tubuh kekar di atasku
yang memaksa pahaku terkangkang
selebar-lebarnya. Rasa sakit pun berubah
jadi nikmat.
Aku lupa segalanya, tak ingat siapa pria
yang sedang menyetubuhiku. Jamal,
salesman keliling, yang katanya berasal
dari Bandung kubiarkan menyebadani,
menggauli, menyenggamai, menembus,
mengocok dan menggumuli tubuhku. Aku
terlena dan yang ada hanya rasa nikmat
yang harus kunikmati sepuasnya.
Mumpung ada kesempatan, mumpung ada
yang memberi, mumpung aku butuh,
mumpung aku haus, mumpung ada yang
memuasiku. Tubuhku masih butuh seks,
libidoku masih tinggi, bibirku masih butuh
diciumi, payudaraku butuh disedot-sedot,
vulvaku butuh penis yang tegar panjang
perkasa. Aku masih punya nafsu seks
yang harus dipenuhi. Aku tak mau hidup
gersang.
Dan, aku pun masih bisa orgasme ketika
hunjaman zakar Jamal yang bertubi-tubi
mencapai klimaks. Genjotan pantatnya
begitu kuat membuat penis itu terbenam
dalam-dalam di vulvaku yang sempit.
Nikmat bertemu nikmat dan jreet jreet
jreet kurasakan sperma Jamal
menyemprot, sementara hampir
bersamaan aku cepat-cepat menggamit
paha Jamal sambil mengejan
menumpahkan mani. Tubuh kami
terkejang-kejang kelojotan sambil
mengejan menggelegakkan sperma dan
mani bertubi-tubi. Kedua kelamin kami yang
bertemu saling berdenyut-denyut,
meninggalkan kesan mendalam sehingga
kami lama tidak melepaskannya. Kubiarkan
burung Jamal itu tetap mendekam di
sarangku meski lendir membasahi di
mana-mana.
“Maaf ya, mbak, aku lupa diri,” bisik Jamal.
Aku diam memejam, nafasku tersengal-
sengal menahan beban tubuh polos di
atasku. Sementara penis Jamal masih
terbenam, aku hanya bisa kangkangkan
paha dan merasakan denyut-denyutnya
yang masih tersisa.
“Mengapa ini terjadi?”
Aku membatin tak habis mengerti
bagaimana persetubuhan ini berlangsung
begitu saja, padahal selama jadi pemijat
aku selalu menghindarinya. Ya, selama ini
ada cap bahwa setiap wanita pemijat
pasti bisa diajak main seks. Aku berusaha
keras menepis sebutan itu, namun
akhirnya bobol juga hari ini. Justru dengan
Jamal, pria yang sudah jadi langganan.
“Kalau sudah begini, apa bedanya aku
dengan pelacur?”
Aku masih terbengong-bengong dengan
pemikiranku, ketika kembali terasa tubuh
Jamal menekan-nekanku. Zakar pria itu
pun kembali membesar panjang
mengaduk-aduk vulvaku. Ya, ternyata
Jamal dengan cepat bangkit birahiya lagi
dan bangunlah “adik”nya yang perkasa itu,
kembali menikam-nikamku yang perlahan-
lahan kembali terbawa arus kenikmatan.
Malah ikut mengerang ketika nikmat
bersebadan itu menyeruak di vaginaku.
Tak ingat lagi, apakah aku pelacur atau
bukan. Yang penting saat ini aku butuh
nikmat! Persenggamaan pun terulang lagi,
kali ini malah lebih lama. Hampir satu jam
Jamal menusuk-nusukku, menghunjamiku
dengan super torpedonya. Kadang
pantatku diangkatnya atau aku yang
mengangkatnya secara refleks karena
terbawa nikmat tiada tara setelah
beberapa tahun aku tak merasakannya.
Sepertinya aku ingin memuntahkan seluruh
kerinduan persetubuhan.
Aku kembali menggapit paha Jamal, ini kali
yang ketiga aku orgasme. Tubuhku
mengejang terlonjak-lonjak. Jamal sendiri
memang tahan lama dan baru beberapa
menit kemudian melenguh mengeluarkan
energi terakhirnya menyemprotkan
sperma. Sampai kurasakan hangat cairan
itu memasuki perut. Kami benar-benar
habis-habisan. Untuk berdiri pun harus
menunggu beberapa menit setelah deru
nafas mereda.
Jam enam kurang sedikit kutinggalkan
hotel Melati. Jalanku seperti melayang, tak
peduli dua lembar ratusan ribu yang baru
saja masuk ke dompet, pemberian Jamal.
Aku tak bisa menolak, tapi “Semoga Jamal
tidak menganggapku pelacur murahan”
pikirku.
“Kami melakukannya suka sama suka”
Kupanggil becak untuk mengantar ke
rumah.
Itulah yang menjadi awal kisahku
selanjutnya yang lebih mengejutkan
karena aku kemudian terperosok ke
jurang perzinahan yang lebih dalam
dengan orang-orang yang semestinya
kupeluk dengan kasih sayang. Namun,
sebaliknya, justru merekalah yang
akhirnya memelukku dengan nafsu.
*****
“Sampai malam begini, Laris bu?” sambut
Bari, bungsuku yang kelas 3 SMU, ketika
aku tiba di rumah.
“Lumayan” jawabku.
“Ini Ibu bawakan gorengan” kuberikan
sebungkus makanan lalu terus berjalan ke
kamar.
Banu, kakak Bari, mengangkat bungkusan
batikku dan menaruhnya di atas lemari. Ia
sudah empat bulan ini dipehaka dari pabrik
sepatu di Tangerang bersama Basuki
kakaknya. Jadilah tiga pemuda tanggung
anakku sekarang jadi pengangguran dan
kembali bergantung padaku di rumah. Ya,
semuanya terjadi gara-gara krisis di
negeri ini. Banyak perusahaan gulung tikar,
pehaka terjadi dimana-mana. Cari
pekerjaan pengganti juga sulit bukan main.
Mau usaha sendiri, tak ada modal. Hanya
kadang mereka jadi makelar jual-beli
motor tapi inipun hasilnya cuma cukup
buat jajan.
Seusai mandi dan makan, aku ingin cepat-
cepat tidur. Tubuh cape sekali setelah tadi
bertempur habis-habisan dengan Jamal di
Hotel Melati.
“Ibu tidur dulu ya” kataku pada ketiga
anakku yang sedang asyik main kartu.
Aku masuk ke kamar belakang. Rumah itu
memang hanya memiliki dua kamar. Sejak
dua anakku dipehaka maka satu kamar
depan untuk Banu dan Basuki dan
satunya di belakang untukku dan Bari.
Kumatikan lampu lalu kubaringkan diri
melepas penat.
Bayangan pergumulanku dengan Jamal
ternyata tak kunjung hilang dari benak.
Setengahnya ada rasa penyesalan,
namun sebagian lain justru rasa nikmat itu
terus bergelenyar di dadaku, di peruku, di
kulitku, di vulvaku. Tak lama kemudian aku
pun terlelap, ada seulas senyum di bibirku.
Akankah di mimpi aku berjumpa Jamal
lagi?
Ya, ternyata harapanku jadi kenyataan.
Jamal muncul lagi di mimpiku. Kami
bercumbu bagai sepasang kekasih yang
lama tak bertemu. Tubuh telanjangku
dibaringkannya di ranjang, kemudian dia
merangkak di atasku. Menjilati sekujur
tubuh dari perut naik terus hingga bibirku
dan akhirnya agh, terasa sesuatu
menusuk bawah perutku dengan keras
dan tubuhku ditekannya dengan keras.
Tubuhnya terasa semakin berat, berat,
berat dan argghh!
Aku terbangun, dan.. mendapati sesosok
tubuh sedang menindihku. Kurasakan
selangkanganku telah ngangkang dan
sesuatu memasukinya. Kubuka mata
memperhatikan dan dalam sinar lampu
yang masuk dari ventilasi terlihat Bari
sedang menyetubuhiku! Gila!!
“Bar! Bari! Ini aku, ibumu, Bar!” protesku
pada bungsuku yang masih 18 tahun
sambil mendorong tubuhnya sampai
terjengkang ke luar ranjang. Sekilas
terasa penisnya yang tegang keluar dari
vaginaku. Aku segera duduk di ranjang
dan kututup tubuh telanjangku dengan
selimut sambil memperhatikan Bari yang
nampak ketakutan.
“Kenapa kau lakukan ini, Bar?” tanyaku
emosi.
“Ttt ta tadi Ibu sendiri yang mulai”
“Apa? Ibu yang mulai?!” aku tambah sewot
tapi tidak berani teriak keras-keras takut
dua anakku yang lain terbangun.
“Bukankah Ibu tadi sudah tidur?”
“I..iya Bu tapi Ibu seperti mengigau lalu
memelukku” bisik Bari.
Aku yang mendengar penjelasannya jadi
mendelong. Sekilas aku ingat mimpiku
bersama Jamal.
“Ibu terus memelukku dan ak aku jadi
terangsang, bu..” Bari terus terang sambil
menunduk. Sementara aku masih
bertanya-tanya benarkah itu?
“Ceritakan apa yang sudah kulakukan
padamu, Bar?” Sambil kutarik tangannya
ke atas ranjang. Bari menurut sambil
menutupi penisnya dengan sarungnya.
Kududukkan ia di sebelahku.
“Waktu aku tidur, kudengar Ibu mengigau
seperti orang gelisah dan tubuh Ibu
bergerak-gerak. Lalu mendadak Ibu
memelukku dan” Bari diam, aku pingin tahu
kelanjutannya.
“Lalu?”
“Ibu menciumi aku”
“Apa benar?”
“Sumpah, bu.” Jawabnya, membuatku jadi
salah tingkah.
“Sebenarnya aku sudah berusaha
membangunkan Ibu tapi gagal. Malah aku
jadi terangsang Apalagi daster Ibu juga
tak karuan lagi letaknya sampai paha Ibu
terbuka”
“Aku tambah terangsang waktu
tersenggol payudara Ibu berkali-kali dan
terangsang untuk meremasnya Aku
tambah berani ketika Ibu hanya mendesis
waktu kuremas, sampai akhirnya pelan-
pelan, maaf, Ibu kutelanjangi. Maaf Bu,
nafsuku, sudah sampai ke kepala sampai
aku menyetubuhi Ibu” cerita Bari sambil
menunduk.
Aku terdiam, tak percaya apa yang
kulakukan di dalam mimpi ternyata jadi
kenyataan. Sialnya, aku telah bersetubuh
dengan darah dagingku sendiri. Akhirnya
akupun menerima penjelasan Bari.
“Baiklah, Bari. Ini jadi rahasia kita berdua
saja. Sekarang tidurlah kembali,” pesanku.
Bari segera melingkar di bawah
sarungnya.
Akupun kembali berbaring sambil
berselimut. Kami berdiam diri saling
memunggungi. Begitu mengejutkan
peristiwa tadi sampai aku tak ingat untuk
memakai dasterku lagi yang entah
dilempar kemana. Begitu pula Bari hanya
bertelanjang di dalam sarungnya. Namun
rasa capai mempercepat tidurku. Dan,
mungkin, inilah salahku karena
menganggap sepele peristiwa ini. Aku
menganggap ini peristiwa kecil dan sudah
berakhir, namun tidak demikian dengan
Bari. Pemuda tanggung ini ternyata tetap
memendam hasrat. Kuceritakan yang
berikut ini berdasarkan pengakuannya
setelah segala sesuatunya terjadi.
Malam masih panjang. Aku telah tidur
kembali. Sementara itu, Bari justru tetap
nyalang matanya. Tak ada lagi kantuk di
benaknya. Yang ada justru ingatan
bagaimana tadi dia baru saja menyetubuhi
ibunya. Sayang, belum tuntas. Namun,
kesempatan itu kayaknya masih terbuka,
karena tubuh yang barusan digelutinya itu
masih tergolek di sisinya. Telanjang dan
hanya berselimut lurik. Andai saja selimut
itu bisa dilepas, pasti bisa tuntas
hasratku, pikir Bari.
Setelah terdengar dengkur halus ibunya,
Bari mulai berani membalikkan tubuhnya
sampai telentang. Diliriknya tubuh di
samping kirinya dan tubuh Bari bergetar
ketika melihat sebagian punggung atas
ibunya tidak tertutup selimut. Sementara
kain sarungnya sendiri yang hanya
menutupi sekitar perut dan paha tak
mampu menyembunyikan gejolak syahwat
yang membuat zakarnya tegang berdiri.
Dengan tak sabar dilemparnya sarung ke
bawah ranjang hingga dirinya bugil, lalu
perlahan berguling lagi sampai ia kini
menghadap punggung ibunya. Didekatinya
tubuh bungkuk udang ibunya dari belakang
sampai bau wanita itu tercium kian
merangsangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*