Home » Cerita Seks Mama Anak » Perkumpulan Rahasia 6

Perkumpulan Rahasia 6

Cerita Sebelumnya : Perkumpulan Rahasia 5

Seperti biasa menjelang weekend aku pulang ke rumah setelah berkutat sekitar kampus untuk menyelesaikan studiku. Hari menjelang sore yang cukup gerah ketika aku turun dari taksi di depan gerbang rumah berpagar tembok. Pintu pagar berderit ketika kubuka, hmm, agak aneh,biasanya aku harus teriak-teriak atau memencet bel minta dibukakan. Memasuki halaman sempat tertegun melihat dua sepeda motor parkir di halaman, aku tak mengenalinya karena aku tahu persis jenis sepeda motor apa yang dimiliki teman-teman semasa SMA yang biasanya ngumpul kalau aku pulang. Dan rasa heranku belum habis ketika memasuki rumah dengan amat terkejut kudapati mama tengah duduk terikat di kursi dengan mulut dibekap sehelai kain.Kedua kakinya terikat di masing-masing kaki kursi dan tangannya terlipat di belakang. ÔÇ£mama?!ÔÇØ teriakanku belum habis ketika mendadak sebatang logam dingin menempel di leherku dan tanganku dipiting seseorang,ÔÇØjangan bergerak atau gue gorokÔÇØ, ujar seseorang dengan suara parau. Sadarlah aku kalau ini adalah perampokan dan yang menempel di leherku saat ini adalah sebuah belati,kulirik dan kudapati dua orang menggunakan zebo untuk menutup wajah. Mama hanya mampu membelalak dan mengeluarkan air mata sambil mengeluarkan suara tersendat. Dan segera tanganku diikat salah satu perampok dengan seutas tali dan menyuruhku berlutut. Seorang lagi mendekati mama dan membuka selubung yang menutupi mulutnya,ÔÇÖÔÇØkatakan dimana ibu menyimpan perhiasan dan uang atau kita gebukin anak ibuÔÇØ, ujarnya seraya menjambak rambut mama, ingin kuterjang dia namun posisiku tidak menguntungkan dengan posisi tangan terikat dan dibawah ancaman senjata tajam.ÔÇØDi dalam lemari kamar atasÔÇØ jawab mama dengan suara gemetar ketakutan.

Tak lama si perampok pergi ke lantai atas dan turun dengan ngomel-ngomel,ÔÇÖÔÇÖ masa Cuma seginiÔÇØ,ujarnya kepada mama sambil membanting kotak perhiasan kecil di hadapannya.ÔÇØKami gak pernah nyimpan uang cash di rumah kecuali sekedarnya, perhiasan juga saya simpan di bankÔÇØ,ujar mama terbata-bata dengan wajah kian memucat. ÔÇ£wah, kayaknya harus kita kasih pelajaran nih Jun,ÔÇÖÔÇÖ ujar si perampok yang kecewa dengan perolehannya.Ia mendekati mama, menghunus pisaunya…..ÔÇØjangan,tolong jangan lukai kamiÔÇØ,mama memohon setengah menangis.Aku pun sangat geram namun tak bisa berbuat banyak.Tapi yang terjadi di luar dugaan, si perampok menyelipkan pisaunya di lengan kaus mama hingga batas kerah dan ÔÇ£preekk-prekkÔÇØ ,kaus T shirt mama tersingkap hingga menampakan bahunya yang putih bersih dan tali BH nya, lalu bak tukang kuliti hewan, ia robek bagian depan kaus mama, kembali suara sobekan kain terdengar dan dengan kasar dia renggut kaus itu dari bagian punggung sehingga nampaklah payudara mama yang masih tertutup BH, mama hanya bisa memohon dengan suara lirih campur isak tangis.ÔÇØKurang ajar kalian!!ÔÇØ, teriakku sambil berusaha berdiri..ÔÇØeit-eit…sabar anak mama, permainan belum selesaiÔÇØ, ujar si Jun,perampok yang sedari tadi memegangku. Mama memberi isyarat dengan gelengan kepala agar aku menyerah.Aku kembali terduduk dengan wajah tertunduk lesu dan marah, namun melihat mama setengah telanjang membuat sekilas pikiran nakal melintas, dalam hati aku memuji betapa mama masih sangat sexy dan memang masih cantik serta layak menjadi obyek khayalan banyak lelaki tak terkecuali rekan-rekanku pun kerap berkomentar nakal soal mama. Si perampok dengan kasar segera meremas-remas payudara mama yang cukup besar itu,mengeluarkan dari mangkuk BH nya dan membetot-betot ringan putingnya yang kecoklatan itu, mama hanya bisa meringis dan terisak.Lalu kembali ia sisipkan pisau di tali BH mama hingga terputus dan terlepas & terhempas ringan di pangkuan mama. Kembali ia remas-remas payudara mama dan mempermainkan putingnya.Cukup lama ia mempermainkan payudara mama di hadapanku dan rekannya sambil tertawa-tawa dan memberi komentar nakal soal mama.Membuatku kian marah namun….juga perlahan benda di selangkanganku bergerak-gerak hingga mendesak celanaku. Sungguh memalukan bagaimana munkin ini terjadi tapi naluri kelelakianku mengambil alih akal sehatku.Si perampok dengan kurang ajar menurunkan resleting celananya dan mengeluarkan batang kelaminnya, lalu menjambak rambut mama dan menundukan kepalanya,ÔÇØayo isap bu kalau mau selamatÔÇØ, ancamnya.
Mama melakukan perlawanan dengan menegangkan otot lehernya dan menutup rapat-rapat bibirnya,ÔÇØJun…hajarÔÇØ, ancamnya, Si Jun tiba-tiba memukul perutku membuatku terbatuk-batuk, mengetahui mereka mulai menyakiti anaknya, perlahan mama menyerah dan dengan wajah jijik membuka bibirnya dan dengan paksa si perampok mendesakan batang kontolnya ke mulut mama membuatnya terbatuk-batuk dan kian deras mengeluarkan airmata.ÔÇØooh…terus bu, hisaap terus..ahhhÔÇØ,erangnya sambil menjambak rambut mama dan satu tangan lain meremas-remas kasar payudara mama sambil sesekali memelintir putingnya.Mama tak punya pilihan lain selain menuruti kemauan bejat si perampok, mengulum dan menjilat batang kemaluan dan biji pelir si perampok sampai akhirnya si perampok menarik kepala mama, menahannya hingga mama nyaris tak bisa bernafas dan menghujamkan kontolnya dalam-dalam sambil mengerang…ÔÇØahhh…ahhh…hisap sampai habis bu…ahhhssÔÇØ, teriaknya dengan tubuh mengejang.Sadarlah aku kalau ia tengah ejakulasi di dalam mulut mama yang matanya hanya menampakan putihnya saja, dan mama mau tak mau harus menampungnya dengan paksa. Sekian menit berlalu ketika si perampok melepaskan kepala mama, mama dengan berlinang air mata dan wajah memerah terbatuk-batuk dan memuntahkan cairan putih kental ke lantai.
Si perampok dengan puas segera merapikan kembali pakaiannya namun pesta belumlah usai. ÔÇ£gantian Ron!!ÔÇØ, ujar si Jun.ÔÇØgiliran lo sekarangÔÇØ ujarnya sembari mengambil alih tugas rekannya mengawalku. Kembali mama harus mengoral paksa lelaki yang bukan suaminya tersebut walau memohon-mohon sebelumnya. Dan aku pun terpaksa menyaksikan dengan marah dan…terangsang.ÔÇØGimana bro? Lo mau gak diemut nyokap lo?ÔÇØ,ujar si Ron sambil terkekeh-kekeh, membuatku kian geram namun dalam hati seolah-olah mengiyakan pertanyaannya, selama ini aku kerap marah jika rekan-rekanku rada ngeres kalau mengomentari mama, namun di sisi lain aku pikir memang mama sangat menarik walau di usia kepala empat lebih, mirip seorang artis jav kategori MILF.Mama kembali terbatuk-batuk menelan benda asing di mulutnya dan kembali payudaranya diremas-remas dan dibetot-betot hingga mama kerap menjerit ringan. Dan tak lama, kembali mama harus menelan paksa cairan sperma pria asing walau sebagian kembali dimuntahkannya dan meleleh di sekitar dagunya. Kupikir peristiwa memalukan ini berakhir, namun ternyata tidak.Si Ron,entah Roni atau siapa, menyuruhku berdiri dan kembali tertawa-tawa,ÔÇØ,liat jun, anak kesayangan ternyata ngaceng liat mamanya ngemut kontol..hahahahaÔÇØ, ujarnya, dan kuyakin wajahku memerah saat itu karena tak mampu menyembunyikan ereksiku yang menyembul di celanaku di hadapan mama. Si Jun ikut tertawa,ÔÇØkayaknya dia pengen juga tuhÔÇØ. Dengan paksa mereka membuka celanaku dan kali ini aku tak melawan karena kupikir tak ada gunanya. Kini aku telanjang separuh badan ke bawah, dengan wajah tertunduk malu karena di depan ibuku sendiri walau aku tahu ia sering melihat kemaluanku ketika aku kecil.Dengan ujung pisau menempel di pinggang mereka mendorongku ke arah mama.ÔÇØmaafkan aku mahÔÇØ, ujarku lemah,ÔÇØini bukan salahmu Den,ÔÇØ jawab mama pelan setengah menangis.ÔÇØayo, gak usah pake lama,kulum cepatÔÇØ,ujar si Ron sambil merapatkan bagian bawah tubuhku ke wajah mama sampai ujung kontolku menyentuh pipinya.ÔÇØAyo bu, kulum!!ÔÇØ perintah si Jun. Mama menatap wajahku dan mengangguk seolah menyuruhku tenang lalu perlahan membuka mulutnya,aku memejam merasakan kepala penisku masuk ke rongga yang basah,hangat dan rapat.Bohong besar kalau aku tak merasakan kenikmatan yang luar biasa.Dan mama melakukannya dengan perlahan namun pasti seolah-olah ikut menikmatinya atau karena wujud kasih sayang karena kali ini batang kemaluan anaknya yang harus ia hisap. ÔÇ£mama..oohss…aku mau keluar mah…ahhsÔÇØ, erangku dan mama menatapku,lalu matanya kembali menyipit dan kembali menangguk, ..ÔÇØmamaaahÔÇØ,itulah teriakan pengantar semburan demi semburan spermaku di rongga mulut mama dan luar biasanya mama terus menghisap ketat batang kontolku sehingga aku yakini semua spermaku pun habis ditelan mama.ÔÇØNah..ini baru mantap..hahahaÔÇØ, ujar perampok sambil tertawa-tawa puas. Dan mama baru melepaskan kontolku ketika kembali ke ukurannya semula.Wajahnya tertunduk lesu,sedangkan aku antara perasaan dosa dan puas tiada tara.

Namun sekali lagi pesta belumlah usai. Mereka melepaskan ikatan mama dari kursi, mendirikannya, lalu tanpa ampun menurunkan celana stretchnya hingga tinggal celana dalam, di saat yang sama T shirt yang ku kenakan pun disobek hingga aku kini benar-benar bugil di hadapan mama dan dua perampok biadab tersebut. Kembali salah seorang perampok menyisipkan pisau ke sisi samping celana dalam mama dan merobeknya, lalu berpindah ke sisi lain.Bentuk perlawanan terakhir mama adalah merapatkan kakinya agar celana dalam itu tidak lepas namun percuma,karena di hadapanku bulu-bulu kemaluan mama nampak dengan jelas sedemikian lebatnya. Baru kali ini aku menatap jelas area di mana aku lahir dari situ 21 tahun yang lalu.ÔÇØahÔÇØ, mama menjerit ringan ketika si Jun merenggut paksa celana dalam tersebut dari jepitan paha mama. Dan dengan kasar tangannya segera hinggap mengelus-elus jembut mama dan terkadangi menjambaknya ringan hingga mama sesekali berteriak kecil dan menggeliat, membuatnya semakin nampak sexy dan menggairahkan, membuat perlahan-lahan batang kontolku yang tadi lemas mulai berdiri tegak.Lalu kembali mama berteriak ketika dengan paksa jemari si perampok mulai mengorek-ngorek rongga vagina mama dan mengocok-ngocoknya dengan kasar pula, wajah mama mengernyit menahan sakit dan malu diperlakukan semena-mena seperti itu, di hadapan anaknya pula.ÔÇÖÔÇÖNah…sekarang gue pengen liat lo berdua ngentotÔÇØ, ujar perampok di belakangku sambil kembali ujung pisaunya ditekan ringan dipantatku..ÔÇØmama…maafkan aku maÔÇØ, ujarku dengan wajah tertunduk walau dalam hati aku menginginkan hal ini terjadi, ingin kurasakan kembali dalam liang dimana aku dilahirkan walau dengan cara berbeda.ÔÇØsshh….ini bukan salahmu, denÔÇØ, jawab mama, yang tiba-tiba memegang kemaluanku lalu sedikit berjingkat ia arahkan kepala penisku ke bibir vaginanya, perlahan tapi pasti ujung kepala jamur itu menyeruak masuk ke dalam liang senggama mama..ÔÇØouuhh…pelan-pelan Den..oohÔÇØ,mama mengeluh dengan wajah seperti menahan rasa sakit.Mama kemudian merangkul leherku dan aku pun memeluk mama hingga payudaranya ketat menempel di dadaku. Jujur keperjakaanku berakhir pada saat itu dan sialnya di tempat yang salah, bukan oleh gadis idamanku namun justeru ibu kandung yang seharusnya kuhormati.Sensasi berada dalam genggaman ketat rongga yang hangat dan basah itu jangan ditanya lagi, namun aku tak melakukan gerakan apapun sampai akhirnya si perampok memerintahkan kami berdua mengayunkan pantat kami masing-masing..ÔÇØayo, goyang yang benerÔÇØ, ujar si Ron sambil sedikit mendorong ujung pisaunya di pantatku,karena di picu rasa sakit sontak aku hentakan pinggulku ke depan, demikian juga mama pun mendapatkan perlakukan yang sama sehingga terdengar teriakannya.Beberapa menit mereka mempermainkan kami berdua sambil tertawa-tawa, sampai akhirnya kami lakukan sendiri gerakan layaknya orang berhubungan sex dalam keadaan berdiri tanpa ancaman.Dan sungguh kali ini aku begitu menikmatinya, entah apa yang dirasakan mama selain nafasnya ikut memburu disela-sela isakan tangisnya. Dan perlahan-lahan aku mulai merasakan rasa geli bercampur ngilu di sekitar kemaluanku tanda orgasmeku akan tiba…ÔÇØmama…maafkan Deni ma, aku mau keluaarr…ahhssÔÇØ,…ÔÇØ.gak pa-pa Den, keluarin aja…mama relakan Den..nnghhÔÇØ, jawab mama setengah berbisik ditelingaku..danÔÇØahhss…aahss…mamaaÔÇØ, eranganku sambil memeluk mama erat-erat mengiringi semburan demi semburan air mani yang membanjiri liang vagina mama hingga beberapa detik ke depan sampai kurasakan denyutan demi denyutan ejakulasiku mereda dan menghilang seiring dengan mengerutnya batang kontolku. ÔÇ£hahaha….ini baru adegan menarik…hahahaÔÇØ, tawa dua orang perampok tersebut menikmati pemandangan erotis secara live di depan mata mereka.ÔÇØeitt…tunggu dulu,jangan dilepasÔÇØ,kembali ujung pisau menempel dipantatku ketika berusaha menjauh dari mama, mau tak mau aku kembali merangkul erat mama sementara kontolku masih berada di dalam lubang vagina mama.

Si Jun entah dari mana mengambil lakban, lalu mulai melakban sekeliling pinggang berkali-kali kami agar kami tetap melekat, kemudian ganti paha kami berdua juga diikat dengan lakban, lalu pergelangan tangan kami yang tengah merangkul punggung masing-masing,lalu bagian punggung persis di bawah tangan kami yang saling berangkulan itu, sepertinya mereka benar-benar berniat membuat kami melekat erat dan sangat sulit melepaskan diri. Kemudian mereka menyuruh kami berjalan keluar ke halaman samping rumah, agak sulit kami berjalan dengan kondisi seperti itu dan beberapa kali nyaris terjatuh namun dua perampok jahanam itu membantu memapah kami, dan setibanya di teras mereka membaringkan kami, memutar piringan CD di ruang tamu dengan volume yang cukup keras lalu kemudian pergi. Tinggal kami berbaring dengan posisi menyamping pasrah, keringat mulai bercucuran membasahi tubuhku dan mama, apalagi perlahan matahari mulai menyinari kami.Sempat aku berdiskusi dengan mama agar berteriak minta tolong, namun suara musik akan meredam suara teriakan kami ditambah kamipun merasa malu jika orang-orang mendapati posisi kami seperti ini.ÔÇØkita tunggu Pak Ujang dan Bi Imas aja sampai besok pagi, biarlah kita sabar nungguin, tembok pagar rumah kita kan tinggi jadi mustahil ada tetangga yang liatÔÇØ, ujar mama. Dan sepertinya kami tak punya pilihan lain selain menunggu sepasang suami isteri paruh baya yang bekerja sebagai tukang kebun dan tukang cuci kami yang biasa bekerja dari pagi hingga siang hari. Hanya mereka berdua lah harapan kami karena papa masih berada di luar negeri sementara adik-adikku tengah berlibur dengan neneknya. ÔÇØMama….kita harus bergerak biar gak kepanasan dan dehidrasiÔÇØ, ujarku.ÔÇØiya Den, tapi bagaimana?ÔÇÖÔÇÖ,tanya mama.Hmmm …iya juga pikirku. Keringat kian membanjiri tubuh kami hingga akhirnya terlintas ide,ÔÇØma…kita berguling aja ya sampai bisa masuk ke dalamÔÇØ, ujarku.Mama mengangguk setuju, lalu dengan susah payah akhirnya kami bisa berguling sekali, dua kali,terus hingga mendekati pintu.Namun kini muncul hal lain, gerakan tadi kembali memicu ereksi batang kontolku dan perlahan memanjang dan mengeras mendesak lubang kewanitaan mama,ÔÇØmaafin aku maÔÇØ, ujarku lirih.ÔÇØ,gak pa-pa Den,udah gak usah minta maaf, ini bukan salah kamu,ÔÇØ, jawab mama mencoba menenangkanku.Kami beristirahat sebentar dengan posisi kembali menyamping, dan kunikmati jepitan erat liang senggama mama walau tak bergerak.Setidaknya posisi kami aman dari terpaan sinar terik matahari. Persoalan adalah bagaimana memasuki pintu ke ruangan dalam tersebut.

Namun perlahan seiring peredaran matahari kembali tubuh kami menerima siraman cahayanya yang entah mengapa hari ini terasa begitu panas.ÔÇØMama…kita harus masuk ke dalam, maaf ma, gimana kalau mama dibawah, biar Deni coba mendorongÔÇØ, mama hanya mengangguk,lalu kami berguling.Aku pikir mudah mendorong tubuh kami berdua dengan posisi seperti itu, ternyata cukup sulit, dan mau tak mau bertumbu pada gerakan pinggulku dan dorongan pantat mama. Seinchi demi seinchi kami maju ke dalam dengan kepala terlebih dahulu, namun tentu saja gerakan itu hampir sama dengan gerakan orang bersetubuh, maka setiap gerakan mendorong membuat saraf-saraf sekitar batang penisku merasakan sensasi nikmat bergesekan dengan dinding vagina mama dan tepat separuh badan kami melewati pintu aku harus menghujamkan dalam-dalam kontolku ke dalam memek mama dan sekujur tubuh menegang ÔÇ£,ahss mama, aku keluar laggihh…ahhssÔÇØ, erangku, ÔÇ£keluarin aja Den, mama ikhlas,ÔÇÖÔÇÖ bisik mama di telingaku. Lama aku membiarkan semua semburan spermaku mereda dan melemaskan tubuh, lalu mulai kembali mendorong tubuh mama sampai akhirnya kami berhasil masuk ke dalam. Untuk beberapa saat kami terbaring menyamping mencoba menghemat tenaga sampai akhirnya senja tiba. Lalu kami mulai bercakap-cakap mengisi waktu, berdiskusi tentang apa yang terjadi pada kami dan bagaimana menghadapi esok pagi sampai obrolan ngalor ngidul, aku tak berani membahas soal seks karena merasa kasihan dengan mama.ÔÇØSudah, gak usah kamu pikirkan Den, ini bukan salah muÔÇØ, kembali mama meyakinkanku tentang peristiwa memalukan tersebut,,,,ÔÇØanggap aja rejekimuÔÇØ ujar mama diikuti tertawa kecil, kali ini aku sedikit terkejut dengan entah bercanda atau serius dengan ucapan mama barusan. ÔÇ£Mama gak keberatan?ÔÇØ, tanyaku serius.ÔÇØTidak ada ibu yang normal yang menginginkan hal ini, tapi ini kan karena terpaksa Den,ÔÇØ jawab mama. Aku terdiam dan perlahan kembali senjata biologisku bergerak-gerak menuju ereksi yang sempurna. Mama hanya tertawa geli,ÔÇØtuh kan mulai lagi dehÔÇØ,ujarnya.Namun agar tidak dituduh tak sopan aku memilih tak melakukan gerakan apapun.

Malam mulai menjelang dan ganti udara dingin melingkupi ruangan ini dan…panggilan alam mulai mendesak, berkali-kali orgasme ditambah cuaca dingin membuat isi kantung kemihku serasa meledak..ÔÇØ,mama…aku harus buang air nih…dah gak tahanÔÇØ, ujarku…ÔÇØsama Den, mama juga, ya udah kita pipis bareng,ini gak bisa kita cegah Den,udah pipis aja,ÔÇØ lalu semburan cairan kuning ganti memenuhi rongga memek mama sampai akhirnya merembes keluar beserta lelehan sperma ku, lalu ganti mama mengeluarkan cairan hangat menyembur di sekitar batang kemaluanku.Sebuah sensasi yang kian membuat alat kelaminku mengeras. Namun walhasil tubuh bagian bawah kami kini tergenang cairan urine bercampur sperma membuat kondisi kami kian tidak nyaman. ÔÇ£ma…kayaknya kita harus pindah deh daripada gak nyaman beginiÔÇØ, pintaku kepada mama dan ia menyetujuinya. Dan kali ini mustahil kami bisa berguling karena terhalang sofa, meja dan vas-vas keramik jumbo koleksi mama. Maka kembali gerakan mendorong ke atas yang bisa kami lakukan. Kembali gerakan bagai ulat sutera kami lakukan dan tepat beberapa meter kemudian kembali aku menghujamkan dalam-dalam batang kontolku ke dalam memek mama, kali ini aku tak mengucapkan apapun selain mengerang menikmati denyutan demi denyutan orgasmeku…ÔÇØsshhh…gak apa-apa Den,keluarin aja…nikmatin ajaÔÇØbisik mama. Akhirnya karena kelelahan, kami berdua tertidur, walau tidak nyenyak, karena sesekali kami harus berguling bertukan posisi, menyamping,mama di atas, aku di bawah, lalu aku di atas, mama di bawah…tanpa alat kelamin kami berpisah. Dan sebagai lelaki normal dan berusia muda dimana hormon kelelakian bergejolak, harus berpelukan bertelanjang bulat dengan seorang wanita dewasa yang menarik kendati itu ibu kandungku sendiri, tak mampu aku mencegah semalaman batang kontolku mengeras didalam genggaman erat liang vagina mama walau spermaku nyaris habis. Namun sekali lagi, demi menghormati mama, aku tak melakukan gerakan apapun.ÔÇØDen, lakukan aja, mama ikhlas kok,daripada kamu gak tidurÔÇØ,bisik mama seolah-olah mengerti apa yang aku inginkan.ÔÇØNggak ah ma, itu berarti aku sengaja mencabuli mamaÔÇØ, jawabku. ÔÇ£Ngga apa-apa Den, mama mengerti kok, lakukan ajaÔÇØ, bisiknya lagi. ÔÇ£Mama,ÔÇØujarku setengah protes, namun sekian detik kemudian kugulingkan tubuh sehingga aku berada di atas mama,tanpa berkata-kata aku mulai ayunkan pantatku ke bawah.Kali ini dengan sengaja aku menyetubuhi ibu kandungku, dan karena beberapa kali mengalami orgasme maka kali ini hubungan haram itu berlangsung cukup lama. Gerakanku yang tadinya halus kini mulai liar dan cepat, mama hanya merintih-rintih dan justeru menyemangatiku,ÔÇØsshh…terus Den, ayun terus…nnnghh…terus sampe kamu keluar…ssshÔÇØ, entah mama menikmati atau tidak aku terus menghujam-hujamkan batang kontolku mengobrak abrik lubang memek mama, perlahan hawa dingin malam mulai terusir dengan hawa panas tubuh kami sampai akhirnya setengah jam kemudian kembali tubuhku mengejang dan semburan spermaku kembali mengisi setiap sudut rongga vagina mama. Mama tak bereaksi apapun selain merintih dan berbisik halus ditelingaku, hingga kami berdua kembali terlelap.

Teriakan panik Bi Imas dan Pak Ujang membangunkan kami pagi hari itu. Kami beritahukan kalau kami berdua kemarin dirampok dan menyuruh mereka untuk tidak panik apalagi lapor polisi. Dengan wajah jengah, dua orang itu membantu melepas ikatan kami, mama segera berlari ke lantai atas menuju kamarnya, sementara aku tanpa mempedulikan kondisiku yang telanjang berlari ke dapur menuju kulkas, haus ini tiada terkira sehingga satu botol besar air kemasan kureguk habis hingga tumpah membasahi dadaku, lalu kuambil satu botol lain dan berlari menyusul mama. Di dalam kamar mandi mama tengah mengeramas rambutnya, kusodori botol minuman tersebut dan segera disambut mama setelah terlebih dulu membilas rambutnya hingga tiada lagi busa di kepalanya lalu mereguk isi botol tersebut sampai habis.ÔÇØKamu juga mandi sini Den,ÔÇØ perintah mama sambil menarik lenganku. Tanpa di suruh kuambil sabun dan mulai menyabuni punggung mama sampai pantatnya yang montok itu terus hingga betis, lalu bagian depan tubuh mama, bahu, payudaranya yang besar dan masih menantang itu dan kali ini dengan nakal kuremas-remas dan mama sama sekali tidak protes, terus ke perutnya yang putih mulus dan sedikit membuncit sexy sampai ke bagian bawah pusarnya yang berbulu lebat itu, lama kusabuni daerah tersebut dan perlahan mama membuka pahanya, dengan sengaja kuselipkan satu jariku mencoba menggali liang memeknya, dan ketika kutarik keluar maka lelehan demi lelehan spermaku berjatuhan ke lantai bath tub, aku tak menyangka sedemikian banyak produksiku tadi malam. Mama merintih pelan, ÔÇ£tuh liat hasil karyamu kemarinÔÇØ, ujar mama dengan wajah serius.ÔÇØUntung mama masih pake spiral, kalau ngga bisa hamil anak kamuÔÇØ, ujarnya lagi. Kembali kusabuni vagina mama dan sengaja berlama-lama mempermainkan klitorisnya, mama kembali merintih..ÔÇØudah, jangan nakal kamu, terus ke bawahÔÇØ, ujarnya lagi.Lalu aku mulai menyabuni paha hingga betis mama, kini ganti aku yang disabuni mama, mulai dari mengeramasi rambutku, kemudian menyabuni bahu, dada, tangan, perut sampai ….alat kelaminku. Mama melakukannya dengan lembut, jari jemarinya mengeramasi bulu-bulu kemaluanku, menyabuni biji pelirku sambil meremas-remasnya pelan, lalu batang kontolku pun disabuninya sambil dipijit-pijit pelan sehingga tak menunggu lama kembali tegak mengeras menjulang…ÔÇØdasar anak mudaÔÇØ,ujar mama sambil menyunggingkan senyuman manis. Lalu mulai mengocok-ngocoknya pelan dengan genggaman erat jari jemarinya.ÔÇØPunyamu lebih besar dari punya ayahmuÔÇØ, ujar mama sambil menatapku…ÔÇØahhss…mama, gak tahan nihÔÇØ erangku. Mama membilas tubuhku dengan siraman shower, usai bebas dari busa mama kembali memegang dan mengocok pelan batang kontolku,lalu membelakangiku dan satu kakinya diangkat diatas tepi bath tub, mengarahkan kepala penisku ke belahan pantatnya yang montok itu, dengan surprise aku segera paham apa yang mama inginkan, kuarahkan batang kontolku ke rongga memek mama, dan perlahan mulai memasukinya dimana wajah mama mengerinyit ketika proses infiltrasi itu terjadi, persetubuhan haram dengan gaya doggy style pun berlangsung dahsyat di bawah siraman air hangat. Kali ini atas permintaan mama yang juga mulai menampakan karakter aslinya dari wanita sopan santun menjadi wanita liar ketika berhubungan seks, erangannya sangat ribut sehingga kerap kubekap mulutnya takut terdengar bi Imas atau pak Ujang di lantai bawah meski aku tahu itu tak munkin.Lalu kami berpindah ke toilet, dalam posisi duduk kembali lubang vagina mama kugali dalam-dalam hingga ke ujungnya, hingga akhirnya mama tiba-tiba memelukku erat-erat dan menggigit bahuku, tak perlu jadi jenius untuk memahami kalau mama tengah orgasme. Dan pagi itu paling tidak 3 kali aku membuat mama menggapai puncak kepuasan sampai akhirnya kubaringkan ia di lantai kamar mandi hingga aku rebah di sampingnya usai memberikan semprotan spermaku di atas payudaranya. Batas hubungan ibu dan anak telah kami langgar dengan sengaja. Kembali kami mandi dan akhirnya kembali ke kamar masing-masing setelah saling berjanji bahwa apa yang terjadi dari kemarin hingga pagi itu menjadi rahasia kami berdua. Tentu saja kami juga harus menyogok pasangan pembantu itu agar juga tutup mulut disertai kata-kata mutiara bahwa yag terjadi adalah musibah.

Esok hari, ketelanjangan di antara kami menjadi hal lumrah. Mama tak lagi menutup pintu kamar ketika berganti pakaian dan keluar kamar mandi tanpa sehelai benangpun kecuali handuk yang melilit di kepala. Masih satu hari lagi week end ini usai dan aku harus kembali ke kampus. Malamnya kami menonton tv bersama di ruang keluarga tanpa mengucap sepatah katapun, tenggelam dalam pikiran masing-masing mengenang kejadian memalukan namun juga erotis kemarin. ÔÇ£kapan kamu balik Den?ÔÇÖÔÇÖ, mama membuka percakapan. ÔÇ£Besok pagi ma, kalau siangan dikit keburu macetÔÇØ, jawabku. ÔÇ£ya udah, malam ini kamu tidur di kamar mama ya?,ÔÇØ pinta mama. Aku sedikit terkejut namun merasa pucuk dicinta ulam pun tiba. Malam itu hingga menjelang pagi kuhabiskan sisa-sisa spermaku di lubang tempat aku lahir, mama entah berapa kali melonjak-lonjak menikmati orgasmenya sampai tenaga kami habis dan kami bangun kesiangan, saling berpelukan,,,telanjang.
ÔÇ£Buset, gak bosen-bosen lo nonton tuh video?ÔÇØ ujar Rony alias si Ron sambil melemparkan sekaleng bir ke arahku, aku segera menangkap dan meneguk isi kaleng tersebut.ÔÇØHe..he..he…wajarlah, kan baru menikmati misi yang suksesÔÇØ, ujar Juni alias si Jun sambil mengacak-ngacak rambutku. Akting mereka sebagai perampok cukup meyakinkan memang. Mereka meninggalkanku sendirian berkonsentrasi menikmati adegan demi adegan yang terjadi di akhir pekan itu, lalu kemudian bangkit berdiri bergabung bermain poker dengan 5 orang rekan-rekanku sambil merencanakan rumah siapa lagi yang akan kami ÔÇ£rampokÔÇØ.

THE END

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*