Home » Cerita Seks Mama Anak » Perkumpulan Rahasia 5

Perkumpulan Rahasia 5

Cerita Sebelumnya : Perkumpulan Rahasia 4

Tetapi segera kutinggalkan kamar Rey dan menuju ke bawah. Bi Inah telah menyiapkan sarapan roti panggang dan segelas jus jeruk di meja makan. Segera kunikmati sarapan pagi itu dengan lahap untuk mengembalikan energi yang terkuras tadi malam.

ÔÇ£Mau dimasakin apa, nyah?ÔÇ£ tanya Bi Inah.

ÔÇ£Gak usah repot, bi. Gorengin aja ayam di kulkas, terus nyambel sama bikin oseng-oseng jamur dan sawi. Oh ya, sama nyetrika jemuran kemarin.ÔÇØ ujarku.

Bi Inah pembantu yang amat trampil, sudah lima tahun lebih bekerja dengan kami, sehingga kurang dari dua jam semua masakan terhidang di meja makan, nasi sudah dimasaknya dari pagi.

ÔÇØNyah, pakaiannya bibi setrika di rumah aja yah, lagi gak ada orang di rumah.ÔÇØ ujarnya.

ÔÇØLho, bibik gak makan dulu?ÔÇØ tanyaku.

ÔÇØAh, gak usah, nyah. Masih kenyang.ÔÇØ jawabnya.

ÔÇØYa udah deh, hati-hati di jalan, bik.ÔÇØ jawabku.

Sepeninggalnya, aku merapikan hal-hal kecil yang luput dari perhatian Bi Inah. Lalu duduk di ruang keluarga membaca majalah.

Beberapa saat kemudian, Rey nampak menuruni tangga dan menuju ke arahku, ÔÇØPagi, ma…ÔÇØ sapanya lalu mendaratkan kecupan di pipiku.

ÔÇ£Kamu dah mandi, Rey?ÔÇØ tanyaku sambil terus menatap majalah.

ÔÇØUdah donk, ma, neh udah wangi.ÔÇØ jawabnya sambil memijit-mijit ringan betisku.

ÔÇ£Temen-temenmu udah bangun? Ajak sarapan sana.ÔÇØ ujarku lagi.

ÔÇØUdah, ma. Lagi pada mandi, ngantri,ÔÇØ jawabnya lagi.

ÔÇ£Kamu nakal ya sekarang, kamu udah bohongin mama.ÔÇØ ujarku sambil meliriknya.

Rey hanya tersenyum, ÔÇØKalau Rey gak bohong, gak bakal kejadian tadi malam, ma. Mama pasti menolak, kan yang dicari sensasinya, ma.ÔÇØ jawabnya santai tanpa dosa sambil tertawa kecil, tangannya kini hinggap di atas pahaku. Dan harga diri apalagi yang tersisa dalam diriku untuk menepis tangannya? Maka kudiamkan saja.

ÔÇØEmang kamu pernah melakukan hal seperti itu pada mama teman-temanmu?ÔÇØ tanyaku lagi.

ÔÇ£He-eh, pernah, ma. Ya sama mamanya si Ferdi dan Ricky itu,ÔÇØ jawabnya lagi masih dengan amat santai.

ÔÇØSiapa itu Ferdy dan Ricky?ÔÇØ lanjutku.

ÔÇØYa temen-temen Rey yang sekarang lagi mandi di atas itu.ÔÇØ jawabnya masih diiringi gelak tawa kecil, lalu ia menjelaskan yang mana Ferdy yang ternyata pemuda pertama yang menyetubuiku tadi malam, dan Ricky yang kedua. Rupanya mereka berdua menuntut balas.

ÔÇØOoo… jadi kamu setubuhi mama mereka berdua di samping ayahnya?ÔÇØ tanyaku lagi masih penasaran.

ÔÇ£Iya, ma… namanya juga mencari sensasi baru. Tapi sama mama spesial deh.ÔÇØ jawab Rey lagi, tangannya kini hinggap di pangkal pahaku yang untungnya masih berlapis daster panjang yang kukenakan.

ÔÇØSpesial bagaimana?ÔÇØ tanyaku lagi.

ÔÇØSpecial karena mama sadar, sedang mama mereka berdua kami garap dalam keadaan gak sadar.ÔÇØ jawab Rey lagi dengan tawa kecilnya yang khas.

Wajahku kuyakini memerah saat itu, antara malu dan marah. ÔÇ£Ya udah, berarti mama sudah gak perlu lagi melayani teman-teman kamu yang lain kan? Ini yang terakhir kan?ÔÇØ tanyaku lagi.

ÔÇØJangan khawatir, ma, ini yang terakhir. Kita punya komitmen dengan kode etik kok, ma… berakhir atau nggak, tergantung mama sekarang… siapa tahu mama berubah pikiran.ÔÇØ jawab Rey, kali ini tertawa keras.

ÔÇØEnak aja!!ÔÇØ jawabku ketus sambil mencubit tangannya.

Rey makin tergelak keras, lalu mereda, ÔÇØMmm… ma, tapi mama, mmm… masih mau sama Rey kan?ÔÇØ tanyanya agak serius.

Aku terdiam cukup lama dan bimbang, sampai akhirnya berkata setelah menarik nafas panjang. ÔÇØKamu hati-hati dengan papamu, Rey, mama gak mau papamu tahu.ÔÇØ jawabku. ÔÇØudah sana, suruh teman-temanmu sarapan.ÔÇØ kataku mencoba mengalihkan perhatian.

ÔÇØOkay, ma…ÔÇØ ujar Rey lalu bangkit setelah kembali mencium pipiku.

Kira-kira 10 menit kemudian ketiganya turun ke bawah. Dan langsung sarapan. Tak berapa lama kemudian, mereka menghampiriku di ruang tengah. Ferdy dan Ricky menyapaku, ÔÇØPagi, tante.ÔÇØ

Aku hanya membalasnya dengan senyuman karena merasa kikuk dan rikuh, tubuhku terasa gemetar. Dan tanpa basa basi mereka mendaratkan kecupan di pipi kanan dan kiri, lalu duduk di sampingku. Sementara Rey menyalakan TV. Aku tak tahu harus memulai pembicaraan darimana selain terus fokus pada majalah yang kupegang.

ÔÇ£Ehm… tante, tante masih kelihatan cantik dan muda, umur tante berapa sih ?ÔÇØ ujar Ferdy mencoba mengajak mengobrol.

Aku tersenyum kikuk dan menjawab terbata-bata, ÔÇØMmm… makasih, tante udah 45, mamamu umur berapa?ÔÇØ jawabku sambil bertanya.

ÔÇØKalau mama saya 47 tahun, tante.ÔÇØ jawab Ricky.

Sementara Ferdy menjawab, ÔÇØMama saya seumuran tante.ÔÇØ

Dari pembicaraan soal umur itulah, akhirnya situasi sedikit cair. Mereka sebenarnya pemuda-pemuda yang enak diajak bicara dan cukup sopan walau mereka telah menyetubuhiku berkali-kali tadi malam, tapi tak pernah kehilangan perasaan untuk menghargaiku. Tapi kurasakan tubuh mereka makin melekat kepadaku. Ferdy di kanan dan Ricky di kiri.

Setelah cukup lama kami bersenda gurau tanpa sedikitpun menyinggung peristiwa tadi malam, Ferdy memotong, ÔÇØHhm… boleh aku cium pipi tante lagi?ÔÇØ tanyanya.

Aku sedikit terkejut, kutatap wajah tampannya sekian detik, namun akhirnya menganggukan kepala sambil tersenyum.

ÔÇØCuuup!ÔÇØ kecupannya kembali mendarat di pipiku.

ÔÇÖAku juga dong, tante.ÔÇØ ujar Ricky.

Aku hanya tersenyum, lalu kembali kecupan mendarat di pipiku. Rey menoleh ke belakang ke arah kami, lalu kembali menonton TV dengan kepala menggeleng-geleng. Kecupan demi kecupan kembali menghujani pipiku, dan aku hanya bisa tertawa kecil geli, sampai akhirnya tawaku terhenti ketika ciuman Ferdy beralih dari pipi ke… bibirku. Ricky pun demikian pula, mulai mengecup bibirku. Lalu kecupan itu semakin panas, lidah Ferdy mulai menyeruak masuk rongga mulutku. Jantungku semakin berdebar diikuti kedutan-kedutan kecil dalam organ intimku.

Tangan Ferdy mulai meremas-remas dadaku, sementara tangan Ricky bergerilya menarik ujung bawah dasterku hingga ke atas paha, lalu tangannya melebarkan kakiku dan tak menunggu lama kini hinggap mengusap-usap timbunan daerah segitiga celana dalamku. Aku hanya terduduk pasrah, sementara lidah Ferdy kian liar menari-nari mencoba mengajak bergulat lidahku, lambat laun aku tak lagi pasif dan mulai membalasnya.

ÔÇ£Mmmmh… mmmhhh…ÔÇØ gumamku tertahan.

ÔÇ£Gantian, Fer.ÔÇØ ujar Ricky.

Ferdy mengalah, kini ganti bibir Ricky sama rakusnya melumat bibirku. Ferdy membuka kancing-kancing dasterku hingga menyingkap sebagian besar belahan dadaku, lalu tangannya menyusup ke balik BH dan mulai meremas-remas dan memlintir puting payudaraku. Ia lalu berlutut di hadapanku, memasukan tangannya ke sisi pinggulku, mencari kerah celana dalamku. Dengan satu tarikan, celana dalam itu dicoba dilepaskan, anehnya, aku mengangkat pantatku, sedikit memudahkan celana dalam itu untuk lolos. Ferdy semakin melebarkan kakiku… dan akhirnya dengusan nafas hangatnya kurasakan menghembus di permukaan vaginaku dikuti usapan-usapan lidahnya. Dan aku nyaris terlonjak ketika klitorisku dihisapnya dalam-dalam dan dimainkan dengan lidahnya.

Ricky sambil menciumku kini tangannya mulai menjamah payudaraku. Rey yang tadinya pura-pura acuh mulai memperhatikan kami. Pagi menjelang siang itu kembali situasi berahi memanas. Rey mendekat, lalu menarik ujung bawah dasterku ke atas, melewati perut, lalu berhenti di dada. Ricky sejenak menghentikan aksinya hingga dasterku lolos melewati kepala, dan Ricky mencari pengait BH-ku di punggung dan melepaskannya, kini aku terduduk telanjang kembali menjadi santapan nafsu para pemuda yang tengah kelebihan hormon. Ricky dengan segera melahap puting payudaraku dengan rakus, sementara Ferdy berpesta pora mengecap cairan pelumas dari liang vaginaku. Bulu romaku bermunculan sebagai reaksi dari situasi penuh berahi itu.

Rey tak mau kalah, ia kini telanjang bulat menaiki sofa tepat di depanku, tangannya menarik kepalaku ke arah penisnya yang tegak mengacung dan tak perlu diperintah, mulutku segera menghisapnya. ÔÇØShhh… maaa… ouuhhs…ÔÇØ desisnya keenakan.

Setelah cukup puas, ia duduk disampingku dan meremas-remas payudaraku, sementara Ricky bangkit melepaskan satu per satu pakaiannya. Kini ganti ia minta di oral olehku, dan setelah beberapa menit kembali menggarap payudaraku. Baik Rey dan Ricky menarik kedua tanganku dan digenggamkan di penis tegang mereka masing-masing lalu aku mulai mengocoknya pelan.

Ferdy bangkit, menelanjangi dirinya untuk kemudian juga menjambak ringan rambutku dan menarik kepalaku ke arah batang penisnya yang paling besar di antara mereka bertiga. Hap… kembali aku mengoral lelaki muda yang pantas jadi anakku itu.

ÔÇØUuhhh… tante… enak, tante… terusss… ahhhhs…ÔÇØ erangnya sambil mendesak-desakan penisnya di kerongkonganku membuatku terbatuk batuk beberapa kali. Pagi itu kembali aku menjadi budak seks tiga orang pemuda penuh nafsu.

Ferdy lalu setengah berlutut, mengarahkan kepala jamur ungu penisnya tepat di mulut vaginaku… dan bless… setengah terhambat memasuki diriku. Sampai akhirnya kembali tubuhku terguncang-guncang hebat dan bibirku mengeluarkan suara rintihan. Ricky dan Rey terus menggigit-gigit pelan puting paudaraku dan meremas-remas, tanganku pun dengan setia masih terus memompa batang-batang keras kemaluan mereka. Situasi sensasional itu akhirnya membuatku terbang ke alam kenikmatan ketika kembali orgasmeku meledak mengirmkan sinyal nikmat ke penjuru tubuhku. Ferdy terus memompa batang penisnya dalam liang senggamaku hingga akhirnya kembali memberiku hadiah semprotan sperma kental.

ÔÇ£Sshhh… tanteee… ahhhsss… aku keluaar… arrggh!ÔÇØ erangnya ketika semburan demi semburan air mani hangat mengisi lorong vaginaku. Semenit kemudian ia bangkit meninggalkanku, belum lagi usai sperma itu membanjiri sofa kulit itu, kembali serangan senjata biologis lelaki menghujam lubang peranakanku, kali ini giliran Ricky.

Pagi itu, percikan sperma memenuhi seantero rumah seiring berpindah-pindahnya mereka menyenggamaiku, di ruang tengah, ruang tamu, ruang makan. Bermacam-macam gaya kami lakukan, Rey dengan kegemarannya menyetubuhiku dari belakang sambil memaksaku berjalan mengelilingi ruangan, kemudian juga ditiru Ferdy dan Ricky. Vaginaku nyaris tanpa henti menampung secangkir demi secangkir sperma. Kedua kakiku senantiasa basah lengket dialiri deposit sperma yang keluar, entah berapa kali mereka ejakulasi, tak kuingat lagi sebagaimana aku pun tak mampu menghitung berapa kali aku mengalami kepuasan seks luar biasa dari aksi mereka.

Sampai akhirnya aku dan mereka kelelahan duduk terkapar di atas sofa di ruang keluarga. Tubuh kami basah oleh keringat. ÔÇØKalian mau minum?ÔÇØ tawarku.

ÔÇ£Mau, tante.ÔÇØ jawab Ricky.

Aku bangkit berdiri dan lunglai menuju dapur. ÔÇ£Biar saya bantu, tante.ÔÇØ ujar Ricky mengikutiku dari belakang. Aku yakin matanya berpesta pora menikmati lenggak lenggok pinggul dan pantatku ketika berjalan.

Sampai aku tiba di depan kulkas setengah menunduk mengambil minuman softdrink, Ricky terus mengawasiku. Aku beranjak menuju kitchen set untuk mengambil beberapa gelas, karena rak itu cukup tinggi, aku sedikit berjingkat membuka pintunya, gerakanku terhenti ketika tiba-tiba Ricky berlutut di belakangku menciumi pantatku dan mulai menjilati anusku.

ÔÇØRicky, kamu ngapain, sayang?ÔÇØ tanyaku setengah merintih. Aku mendiamkannya beberapa saat, sampai kemudian ia cukup puas menjilati anusku, kemudian Ricky bangkit. Aku melanjutkan mengambil gelas dan mencari nampan, sekilas kulirik Ricky mengambil sebotol minyak goreng dan menumpahkan sedikit di tangannya lalu dioleskan di penisnya yang kulihat kembali ereksi mengeras tegang. Ada-ada saja, pikirku sambil tersenyum dan menuangkan minuman ke dalam gelas.

Tiba-tiba Ricky sudah berada di belakangku, memeluk tubuhku dari belakang dan mendorongnya ke arah meja makan, aku hanya tertawa kecil, ÔÇ£Ricky, apa lagi sih? Sabar dikit kenapa, nanti tante akan puaskan kamu lagi.ÔÇØ ujarku.

Namun Ricky terus mendorongku bahkan memaksaku tengkurap di atas meja, kuikuti kemauannya, apa bedanya sekarang dan nanti, pikirku. Anusku kembali dijilatinya dan diludahinya, aku hanya tertawa geli sampai akhirnya kurasakan ujung penisnya digosok-gosokan di belahan pantatku. Lalu didesakkannya… aneh, bukan di vaginaku, tapi… di mulut anusku!

Kupikir hal biasa penis meleset dari sasarannya, namun kali ini aku benar-benar kaget ketika menyadari bahwa yang dituju memang bukan vagina… tapi anusku!

ÔÇØRicky, kamu ngapain?!ÔÇØ tanyaku mulai panik dan mencoba bangkit, namun tangan perkasa Ricky menahan punggungku. Dan seketika rasa sakit mulai kuraskan ketika dengan paksa kepala jamur itu masuk lubang anusku.

ÔÇØRicky! Jangan, sayang… aduuh… sakit, Rick! Aduhhh… aduduuh!ÔÇØ aku panik dan mengejang menahan rasa sakit ketika sesenti demi sesenti batang penis Ricky menerobos anusku yang masih perawan.

ÔÇØAduuuhh… jangan, Ricky… aduuh… aduuuh… ahhhhhhhh!ÔÇØ aku berteriak kesakitan ketika rasa perih bagai disilet kurasakan tatkala total keseluruhan batang penis Ricky tertelan anusku, dan perasaan perih itu terus berulang manakala Ricky mencoba menarik keluar penisnya untuk kemudian ditusukan lagi, dan aku hanya bisa teriak-teriak kesakitan dan mulai menangis, tanganku mengejang meremas taplak meja menahan rasa sakit luar biasa. Dan Ricky terus meludahi anusku menjadikannya sebagai pelumas.

ÔÇ£Oohhs… tante, masih sempittt… ahhhs!ÔÇØ erangnya sambil terus mencoba menarik-mendorong batang kemaluannya.

ÔÇØAahhh… errrgh… sakiiit… Ricky, tolong Rick… berhenti… aoohh!ÔÇØ aku terus mengerang dan menangis akibat rasa sakit mengalami pertama kali anal sex. Tubuhku kembali dibanjiri keringat.

Mendengar suara gaduh di belakang, Ferdy dan Rey menyusul. ÔÇ£Lu ngapain, Rick?ÔÇØ tanya Ferdy.

ÔÇ£Liat aja, sob… shhhhh… masih sempit, sob… ahhhss!ÔÇØ jawab Ricky tanpa bersalah.

ÔÇ£Lu apain nyokap gue, Rick?ÔÇØ tanya Rey yang menyusul belakangan. ÔÇØWah… sialan lu, besok ganti nyokap lu ya gue anal.ÔÇØ jawab Rey tanpa emosi berlebihan melihat ibunya tengah menangis dipaksa anal sex oleh temannya.
ÔÇ£Sakit itu, Rick, neh gue tambah.ÔÇØ jawab Ferdy dan menumpahkan minyak goreng di anusku.

Tak lama rasa sakit itu mulai berkurang seiring banyaknya minyak goreng melumasi anusku, tangisku kini berhenti, namun sesekali aku tetap mengerang dan merintih karena masih merasakan sedikit sakit. Ricky kemudian mencengkeram pantatku keras-keras dan mengerang ketika ia menghujani anusku dengan cairan spermanya. Suara tercabutnya penis Ricky dari anusku seperti bunyi sumbat botol dicabut… plop.

Melihat aku tengkurap di meja makan, dengan anus menganga, memprovokasi Ferdy untuk juga melakukan hal yang sama, sekali lagi minyak goreng ditumpahkan di anusku. Dan kembali aku di anal sex oleh teman anakku, namun Ferdy melakukannya dengan lebih lembut.

Kembali aku merintih dari sedikit rasa perih yang tersisa. Sampai akhirya kembali anusku menampung beberapa sendok sperma pria muda teman anakku.

Kini tiba giliran Rey, agak surprise ternyata Rey tidak melakukan anal sex terhadapku, hanya menyetubuhi vaginaku dari belakang. Usai ejakulasi, ia menarikku, ÔÇØMasih sakit, ma?ÔÇØ tanyanya meliat wajahku yang masih meringis. Aku mengangguk pelan.

ÔÇØYa udah, mama istirahat aja di atas ya,ÔÇØ ujar Rey sambil memapahku ke atas, ceceran sperma yang mengalir keluar dari anus dan vaginaku memercik di lantai dan tangga. Rey kemudian menggendongku dan membawaku ke kamar mandi, dan memandikanku. Usai menghanduki diriku, kembali Rey menggendongku dan meletakan tubuhku di atas ranjang.

Tanpa terasa aku tertidur pulas walau belum sempat berpakaian. Menjelang senja aku baru terbangun, agak terkejut mendapati Rey tertidur di sampingku, juga telanjang. ÔÇ£Rey, bangun, Rey.ÔÇØ kugoyang pundaknya.

Rey mulai membuka mata. ÔÇØEh, mama?ÔÇØ jawabnya.

ÔÇØTeman-temanmu udah pulang, Rey?ÔÇØ tanyaku.

ÔÇ£Udah, ma, siang tadi, mereka titip salam.ÔÇØ jawabnya.

ÔÇØKurang ajar temanmu si Ricky itu, mama sampe sakit begini.ÔÇØ ujarku.

ÔÇØHe-eh, iya, ma. Ntar nyokapnya Rey gituin juga.ÔÇØ jawab Rey.

ÔÇØSakit sekali loh, Rey, masa kamu tega?ÔÇØ tanyaku lagi sambil memeluknya.

ÔÇØYa biar aja, ma. Si Ricky aja kurang pengalaman, kebanyakan nonton bokep dia, dikiranya pake ludah doank cukup, si Ferdy tuh lebih paham, makanya dia tuang banyak minyak goreng ke anus mama.ÔÇ£ jawab Rey.

ÔÇØKamu kenapa gak ikut-ikutan temanmu?ÔÇØ tanyaku lagi.

ÔÇ£Ah, gak tega aja, mah. Mama kesakitan kek gitu, lagian Rey gak begitu suka anal sex.ÔÇØ jawabnya santai, membuatku tersenyum. Dan aku menghadiahinya dengan ciuman di bibir dan mengulum penisnya yang perlahan tapi pasti mulai mengeras.

Sore itu hingga menjelang malam, tiga kali liang vaginaku menerima semburan sperma anakku, dan aku sendiri mengalami empat kali orgasme. Kami akhirnya kembali mandi bersama, lalu kemudian membereskan segala sesuatu untuk menghilangkan jejak prilaku liar kami sebelum suamiku pulang. Walau aroma sperma tak serta merta mudah hilang.
Dua minggu kemudian Rey kembali ke kampusnya. Aku kembali kesepian walau suami berada di rumah, sebulan kemudian ia kembali terbang ke beberapa daerah. Aku yang terlanjur merindukan kenikmatan seksual dari para anak muda itu cukup senewen dibuatnya, ingin rasanya kutelepon Rey dan meminta teman-temannya kembali memuaskan hasratku. Namun sesuatu mencegahnya, sesuatu yang kini mengisi rahimku. Ya… aku hamil. Entah siapa ayah anak ini, aku tidak tahu. Petualanganku dengan perkumpulan rahasia itu berakhir… paling tidak untuk dua tahun ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*