Home » Cerita Seks Mama Anak » Perkumpulan Rahasia 4

Perkumpulan Rahasia 4

Cerita Sebelumnya : Perkumpulan Rahasia 3

Pagi itu aku bangun kesiangan, mataku silau terpapar matahari pagi yang menembus tirai jendela. Mataku menyipit menatap bayanganku di cermin, sedikit heran melihat tubuhku yang bugil berbungkus selimut, perlahan-lahan memoriku menyusun kembali detik demi detik peristiwa tadi malam, menimbulkan perasaan hangat dari bawah perut hingga ke seluruh tubuh. Kuraba vaginaku, jejak sperma membuat bulu-bulu kemaluanku lengket. Sedikit panik melihat jejak prasasti cupangan-cupangan merah di sekitar payudaraku, mungkinkah akan hilang dalam dua hari ke depan? Hmm… akan kucari cara menghilangkannya di internet.

Setelah mandi dan berpakaian, aku turun ke bawah. Seperti biasa, tak kutemukan Rey selain Bi Inah yang tengah sibuk membersihkan rumah. Pagi ini aku seperti punya energi lebih karena semalam suntuk berulang kali mengalami kepuasan luar biasa, kuputuskan untuk pergi keluar. Dan sore menjelang senja baru kembali ke rumah.

Rey datang agak malam saat aku tengah bersantai di ruang tengah. Matanya memandangku dengan cara berbeda, dari tatapan seorang anak kepada ibunya menjadi tatapan seorang pria yang tertarik kepada lawan jenisnya.

ÔÇ£Rey, duduk sini, mama mau bicara.ÔÇØ perintahku. Rey duduk di sampingku, ÔÇØRey, kamu sudah melanggar perjanjian, kok kamu tega menyetubuhi mama?ÔÇØ ujarku setengah gugup dan menangis setelah mengumpulkan segenap keberanian.

Rey memucat dan balik bertanya, ÔÇØLho, kok mama tahu?ÔÇØ

ÔÇ£Jelas mama tahu! Karena mama gak sepenuhnya pingsan, paham? Sekarang jelasin, kenapa kamu gituin mama?ÔÇØ tanyaku dengan suara agak meninggi… namun di sisi lain timbul perasaan malu kalau aku telah terang-terangan mengaku sadar.

ÔÇØMaafkan Rey, ma. Rey gak tahan, ma… tetapi kenapa mama gak mencegah Rey?ÔÇØ tanya Rey lagi.

ÔÇØBagaimana mama bisa mencegah… di hadapan teman-teman kamu?ÔÇØ ujarku. Jawaban bodoh, pikirku lagi.

ÔÇ£Berarti mama sadar dan menikmati digarap temen-temen Rey, tapi nggak dengan Rey?ÔÇØ tanya Rey dengan wajah penasaran.

Aku terdiam malu, lalu menjawab. ÔÇØRey, kamu yang membawa persoalan ini pada mama, dan mama mencoba membantu menyelesaikan… tapi kamu jangan menyetubuhi mama. Itu sudah kelewatan.ÔÇØ

ÔÇØMa, dengan mama meladeni nafsu temen-temen itu juga sudah kelewatan, walau itu emang salah Rey. Ya sekalian aja, ma. Kenapa mama melarang Rey menikmati tubuh mama? Bukankah mama juga sudah memuaskan Rey dengan cara lain?ÔÇØ jawabnya sambil tangannya hinggap di atas pahaku.

Aku kehabisan kata-kata untuk membantahnya, wajahku kupalingkan darinya. Tangan Rey makin nakal, kini masuk ke balik gaun tidurku, mengusap-usap perutku, terus ke atas dan mencoba merayap di balik BH lalu mulai meremas-remas payudaraku dan memelintir putingnya. Aku tak mampu mencegah dan masih memalingkan wajah, tak ada lagi harga diri yang tersisa di hadapan anak kandungku.

Rey mulai menciumi leherku, membuat bulu kudukku berdiri. Lalu tangan Rey yang lain masuk ke balik celana panjang tipis pasangan gaun tidurku, menyelip ke balik celana dalam dan mengerumasi bulu-bulu kemaluanku sebelum akhirnya jemarinya mengusap-usap belahan vaginaku.

ÔÇ£Rey… cukup!ÔÇØ pintaku, namun Rey tak menghentikan aksinya. Aku mencoba mendorongnya untuk memulihkan sisa-sisa harga diriku, namun tentu saja tenagaku kalah.

ÔÇ£Aahhhh…ÔÇØ aku setengah berteriak ketika jemari Rey memaksa masuk liang vaginaku yang masih kering, rasanya cukup perih, namun lambat laun dinding vaginaku mulai mengeluarkan cairan pelumas.

Sebelah tangan Rey menyingkap baju tidurku ke atas dan hap… mulutnya segera menangkap puting payudaraku dan menghisapnya rakus dan kasar. Kepalaku terdongak dan mataku terpejam mencoba menghindari kenyataan, tapi perlahan namun pasti pikiranku mulai berkompromi dengan keadaan, kuputuskan membiarkan hal ini terjadi, toh aku sudah mengalami peristiwa pada zona point of no return.

Di atas, mulut Rey mengunyah pelan puting payudara, di bawah, tangannya mulai bergerak seolah-olah mencari sesuatu dalam rongga tempat ia lahir dua dekade lalu.

Puas mengeksplorasi dua bagian sensual dari tubuhku, Rey mulai melolosi pakaianku sampai tak tersisa, aku terduduk pasrah dengan wajah terpaling dan menutupi payudara dan vaginaku dengan kedua tanganku. Rey dengan terburu-buru juga mulai membuka pakaiannya satu persatu. Lalu duduk berlutut di lantai di hadapanku, menyingkirkan tanganku dari organ paling intim kewanitaanku, membuka paksa pahaku dan menarik pinggang ke arahnya hingga aku merosot setengah berbaring di sofa, lalu… kembali vaginaku mengalami sensasi hangat dan basah dari jilatan-jilatan lidah Rey. Dan aku hanya bisa menggigit jari dan terpejam menikmati ulahnya. Sebelah tangannya kini juga hinggap di gunungan payudaraku, meremas-remas dan memilin-milin.

Puas mengecap cairan vagina ibunya, Rey bangkit… matanya liar menatapku, ia mengusap-usapkan kepala jamur ungu yang keras di antara belahan basah vaginaku. ÔÇØRey… jangan!ÔÇØ pintaku mencoba jalan diplomasi terakhir walau aku tahu akan sia-sia, dan Rey membalasnya dengan mendorongkan pinggulnya ke depan, sehingga perlahan tapi pasti kepala jamur berikut batangnya memasuki lubang senggamaku. Aku hanya bisa meringis pasrah.

ÔÇØAhh… mama!ÔÇØ desis Rey. Lalu mulailah ritme maju mundur batang penisnya menghujam liang kemaluan ibu kandungnya… pelan namun terus berakselerasi makin cepat, hingga ruang tengah itu diributkan dengan suara beradunya dua tubuh dan dua kelamin diiringi desisan dan lenguhan dua insan manusia.

Tangannya meremas-remas… lebih tepatnya mencengkeram keras payudaraku, membuatnya merasa ngilu. Tak lama kemudian tangannya menangkap kedua betisku, lalu mengangkatnya ke atas hingga tumitku berada di bahunya, kembali hujaman piston kepala jamur mengocok-ngocok vaginaku, keringat mulai membanjiri tubuh kami berdua, menambah sensualitas aksi terlarang ibu-anak malam itu.

Episode berikutnya, Rey mengangkat kakiku ke atas sofa, mengikuti panjang sofa, memaksaku memutar tubuh hingga tengkurap untuk kemudian mengangkat pinggangku ke atas hingga aku menungging dan tanganku menopang tubuh dengan bersandar pada lengan sofa. Rey kembali menjilati vaginaku dari belakang, juga anusku… membuatku kini mulai terangsang hebat dan merintih. Dan… jleb! kembali vaginaku dikoyak sesuatu.

Diatas sofa ini kembali tubuhku dinodai anak kandungku dengan ganas dan liar. Suara becek dua kelamin bergesekan kembali meramaikan ruangan tengah tempat terjadinya persetubuhan terlarang ini. Rey makin mempercepat gerakannya, payudaraku bagai terkena gempa skala 9 richter, berguncang-guncang oleh gerakannya. Rey segera menangkap payudara yang kini basah licin oleh keringat itu. Mulutku juga meracau tak jelas, namun perlahan tapi pasti… aku kian mendekati puncak. Detik demi detik, menit demi menit, dan…

ÔÇØOooouhhhh…ÔÇØ aku merintih setengah berteriak dan mengejang manakala denyutan-denyutan nikmat kembali mendera vaginaku, Rey menghentikan aksinya sejenak, memberiku waktu menikmati orgasmeku. Namun belum lagi reda, kembali serangan peluru kendali Rey mulai ganas mengoyak-ngoyak lubang senggamaku. Kali ini dengan kecepatan luar biasa sehingga suara cprok-cprok-cprok makin membahana seantero ruangan. Dan manakala satu hujaman terakhir ditusukan dalam-dalam… aku segera maklum kalau Rey akan orgasme.

Lalu… crrt… crrrt… crrt… crrt… lahar panas kenikmatan kembali membuat tsunami kecil dalam rongga vaginaku, sampai akhirnya dengan tubuh lelah penuh keringat, Rey jatuh menimpa tubuhku. ÔÇ£Ohh… mama, aku sayang mama… uhh!ÔÇØ ujarnya di telingaku diantara sengal-sengal nafasnya.

Lama Rey menindihku, sampai akhirnya bangkit ketika dengan setengah berbisik aku berkata, ÔÇØRey, mama gak bisa nafas nih.ÔÇØ

Kemaluannya yang telah mengerut dicabutnya dari liang vaginaku. Lalu duduk di ujung sofa, aku mencoba bangkit dan duduk juga, tak menunggu lama ketika segelas cairan sperma mengalir keluar dari vaginaku membanjiri permukaan sofa kulit itu.

ÔÇ£Rey, lihat ulahmu.ÔÇØ keluhku sambil mengangkang memperlihatkan cairan sperma yang masih terus mengalir keluar.

Rey tersenyum dengan mata berbinar lalu mencium pipiku, ÔÇØJangan khawatir, ma.ÔÇØ ujarnya sembari memungut celana dalamnya lalu mulai melap vaginaku dan sisa-sisa sperma di sofa.

Kami lalu duduk terdiam mencoba mengatur nafas. ÔÇ£Ma…ÔÇØ ujar Rey memecah keheningan.ÔÇØMama tahu nggak, kalau tubuh mama paling sexy diantara yang lain, bahkan dari ibunya si Jodi dan Bruno yang lebih muda dari mama, semua teman perkumpulan Rey pada tergila-gila sama mama.ÔÇØ ujarnya lagi.

ÔÇØMmmm… bukan berarti mama harus melayani mereka semua diluar kesepakatan kita kan? Mama hanya tinggal melayani dua orang lagi temanmu dari perkumpulan setan itu.ÔÇØ ujarku setengah ketus.

Rey tersenyum, ÔÇØYa nggak lah, ma. Biar mama tahu aja, rating mama paling top di antara ibu-ibu lain… itu pun kalau mama mau sih, nggak juga gak apa apa. Kalau mau ya syukur, Rey bisa barter dengan mereka, nyokapnya si Adam lumayan cakep tuh.ÔÇØ ujar Rey tanpa perasaan bersalah.

ÔÇØEnak aja!ÔÇØ jawabku, namun juga penasaran. ÔÇØEmang kayak apa sih ibunya temanmu itu?ÔÇØ tanyaku.

ÔÇ£Ya kalau mama mau, bisa lihat di laptop Rey sekarang,ÔÇØ jawab Rey santai sambil mengusap-usap pahaku.

Lalu terjadilah obrolan cukup panjang di antara kami, terkadang membuat kami tersenyum dan tertawa bersama. Rey kadang menggelitikiku, membuatku terlonjak geli, sesekali mengusap payudaraku namun selalu kutepis, sampai akhirnya bibir kami saling berpagutan. Dan Rey mengarahkan tanganku ke selangkangannya dan menggenggamkan jari-jemariku pada batang kemaluannya yang kini mengeras lagi, tanpa diperintah tanganku mulai mengocok-ngocoknya pelan, sementara tangan puteraku itu mulai meremas-remas payudaraku.

Lama kami saling berpagutan membelit lidah dengan lidah masing-masing, tangan Rey mulai membuka pahaku lalu hinggap di permukaan vaginaku dan mengusap-usapnya lembut, dan tak menunggu lama sampai jari jemarinya menusuk-nusuk rongga kemaluanku. Pahaku kadang melebar kadang menyempit sebagai reaksi dari ulah jari-jarinya.

Rey kemudian mengangkat pinggangku, mengarahkanku untuk duduk di atas pangkuannya, aku beringsut sedikit mengarahkan kepala penis anakku tepat di pintu masuk vaginaku… lalu duduk dan bless… perlahan habis tertelan vaginaku. Tanganku merangkul leher Rey, sementara Rey sendiri sibuk berpesta pora menciumi leher dan ketiakku, tangannya mencengkeram pantatku dan mendorong ke atas bawah membantu gerakanku.

Gerakan naik turunku segera menimbulkan musik sensual beradunya dua tubuh. Aku mulai merintih-rintih mencoba menyalurkan emosi dari rasa nikmat yang kualami. Kembali peluh sebesar-besar jagung membanjiri tubuh kami berdua, membuatnya berkilauan tertimpa cahaya lampu. Posisi di atas membuatku mampu mengontrol irama, namun sebagai wanita konservatif… dulunya… aku sebelumnya tak pernah mengambil posisi ini dalam hubungan sex dengan suamiku.

Tak kubayangkan kalau sensasinya akan luar biasa nikmat, kepala penis Rey seolah mendesak-desak satu titik paling sensistif dalam dinding vaginaku. Tak ayal akhirnya kepalaku terdongak ke belakang sambil menggigit bibir dan mengejang ketika kembali lagi denyutan-denyutan orgasme melanda organ intimku. Rey ganti bergerak dari bawah membuat puncak orgasmeku semakin dahsyat.

ÔÇØOooouhhhh… Rey!ÔÇØ jeritku tertahan.

Rey segera melumat bibirku dengan bibirnya, kembali lidah kami saling membelit di antara gerakan persetubuhan liar ibu dan anak. Tiba-tiba Rey mengangkat tubuhku, kemudian bangkit, mengarahkanku duduk menghadap sandaran punggung sofa, kembali dalam posisi dogie style aku disetubuhinya. Sofa itu bahkan bergeser senti demi senti dari ganasnya gerakan Rey. Tiba-tiba kilasan cahaya mobil yang lewat di depan komplek menyilaukan mataku.

ÔÇØRey…ÔÇØ ujarku diantara dengusan nafas penuh berahi.

ÔÇØMamaaahh… ssshhhh…ÔÇØ desis Rey menjawab.

ÔÇØRey… hentikan!ÔÇØ pintaku, namun Rey terus menghujani vaginaku dengan serangan senjata cabulnya. ÔÇ£Rey…!!ÔÇØ bentakku yang akhirnya menghentikan gerakan Rey, ÔÇØKita pindah… mama takut tetangga atau orang lain tahu.ÔÇØ ujarku.

ÔÇ£Okay, ma.ÔÇØ ujar Rey diantara dengusannnya. Ia menarik pinggangku sehingga tubuhku berdiri meninggalkan sofa. Batang penisnya masih di dalam vaginaku, Rey lalu mendorongku tubuhku dengan pinggulnya agar berjalan namun tangannya tetap memeluk perutku dari belakang mencegah penisnya terlepas dari cengkeraman vagina ibunya.

Sambil berjalan aku disetubuhi Rey, bahkan sesekali dipaksa berhenti untuk menerima hentakan-hentakan kejam penis kerasnya, tak terkecuali ketika berjalan menaiki tangga membuatku nyaris tak mampu menjaga keseimbangan namun ditolong dengan kekuatan tenaga Rey. Sungguh sekali lagi pengalaman pertama luar biasa yang kualami dalam sejarah kehidupan seksualku.

Sampai akhirnya tiba di kamarku, aku masih setia disetubuhi Rey dari belakang ketika berjalan menuju tempat tidurku. Di atas ranjang, kembali tubuhku berguncang-guncang dahsyat digarap anak kandungku sampai akhirnya kembali siraman lahar panas kenikmatan memenuhi rongga kemaluanku.

Malam itu aku orgasme sampai lima kali, dan Rey seolah-olah ingin menghabiskan seluruh sperma yang tersisa yang ia punyai, sampai lewat tengah malam akhirnya kami kelelahan dan tertidur saling berpelukan… telanjang.

***

Esoknya kami bangun bersama, dan sekali lagi kami bermandikan peluh saling bergelut di ranjang sampai kemudian beranjak untuk mandi bersama. ÔÇ£Rey, siang nanti papamu datang, kamu jemput ya… dan kamu jangan aneh-aneh selama ada papamu.ÔÇØ ujarku setelah sarapan pagi bersama.

ÔÇ£Okay, ma… sekalian Rey mau servis mobil dulu, entar baru meluncur ke bandara.ÔÇØ jawabnya sambil mengecup pipiku sebelum pergi.

Agak tegang suasana yang kurasakan hari itu, mengingat sebagai isteri aku telah mengkhianati suamiku. Sore itu suamiku tiba di rumah, sedikit kikuk aku menyambutnya. Suamiku yang kelelahan tampaknya tak begitu memperhatikan, sudah wataknya seperti itu. Rey mengikuti di belakangnya membawakan barang bawaannya.

Malam menjelang larut ketika kembali lagi aku tidur di sisi suami, yang kini mulai mendengkur di sampingku karena kelelahan. Ada terbersit perasaan bersalah dalam diriku, tak terasa air mataku mulai menetes. Ya… aku bukanlah wanita jalang yang tak punya perasaan, hanya seorang isteri biasa yang baru saja dibangkitkan gairahnya oleh anak-anak muda. Muncul tekad untuk menghentikan semua petualangan ini, namun bulu romaku bergidik mengingat konsekwensi yang akan kuhadapi, masih tersisa dua teman Rey yang harus kulayani, yang apabila aku menolaknya seluruh bagian tubuhku bahkan yang paling intim sekalipun akan tersebar di dunia maya. Aku sendiri tak tahu persis, kapan lagi suamiku pergi untuk waktu lama. Pikiranku terus berkecamuk hingga akhirnya aku tertidur.

Pagi, aktivitas rutin kembali berjalan. Suamiku mulai masuk kantor, sementara Rey juga keluar entah kemana. Sepeninggal mereka, kembali aku termenung dalam perasaan galau, takut dan sesal. Silih berganti pertanyaan-pertanyaan dunia pikiran seolah-olah menginterogasi diriku. Satu yang membuatku sangat takut, bagaimana jika nanti malam suamiku mengajak berhubungan intim namun melihat jejak-jejak yang ditinggalkan para pemuda itu? Segera aku menuju kamar, membuka pakaian satu persatu hingga telanjang di muka cermin… melihat sekitar payudaraku yang masih dipenuhi bercak-bercak cupangan, sampai vaginaku yang kini polos bersih tanpa bulu. Yang terakhir tak perlu kukhawatirkan, aku bisa menyajikan berbagai alasan, tetapi bercak cupangan itu?

Hmm… teringat resep bahwa obat sakit kepala dicampur air bisa membantu. Done, tinggal kutunggu hasilnya siang nanti. Dan ternyata hasilnya cukup memuaskan. Dan malamnya, ramalanku tepat, suami mengajakku berhubungan intim, seperti biasa… tanpa foreplay dan lima menit selesai, hambar. Sisi liarku membanding-bandingkannya dengan kenikmatan seksual luar biasa yang bisa diberikan anak-anak muda itu, menimbulkan denyutan-denyutan geli di selangkanganku.

Suamiku mulai mendengkur, sementara aku masih terbaring telanjang memunggunginya. Dan perlahan tanganku mulai mengusap-usap vaginaku. Aku melakukan masturbasi sampai orgasme. Sesuatu yang tak pernah kulakukan selama 25 tahun menikah.

***

Hari berjalan seperti biasa keesokan paginya, kedua pria dalam keluargaku pergi meninggalkan rumah. Suamiku pulang menjelang senja, sementara Rey agak malam sedikit baru tiba… tetapi yang mengejutkanku, Rey membawa dua orang temannya! Dadaku berdegup kencang melihat kehadiran mereka bertiga saat tengah makan malam bersama suami. Aku mulai salah tingkah, syukurlah suami tak memperhatikanku.

Usai basa-basi sebentar, mereka menaiki tangga menuju kamar Rey. Kurang ajar, pikirku. Mungkinkah mereka berani senekat itu mencabuliku sementara suamiku ada di rumah? Ketika Rey ke bawah saat hendak mengambil softdrink di kulkas, kutarik lengannya menuju halaman belakang dekat dapur, menghindari suamiku yang sedang menyaksikan TV di ruang tengah.

ÔÇØApa yang kamu lakukan, Rey? Kamu udah gila ya?ÔÇØ tanyaku setengah berbisik tapi ketus.

ÔÇ£Mama kenapa sih? Kok sensi gitu? Itu bukan temen Rey anggota perkumpulan, ma. Cuma mau nginep.ÔÇØ jawab Rey sambil nyengir.

ÔÇØAwas kalau kamu bohong, kamu jangan macam-macam, Rey, papamu ada di rumah!!ÔÇØ ujarku lagi, panik.

ÔÇØSwear, ma… santai aja, Rey gak akan macem-macem kok.ÔÇØ jawabnya lagi.

ÔÇ£Awas ya?!ÔÇØ ujarku lagi mengingatkan sambil berjalan kembali masuk.

Plok! sebuah tepukan hinggap di pantatku. Aku terkejut, lalu menoleh ke belakang, melotot, ÔÇØJangan kurang ajar kamu!!ÔÇØ bentakku lagi.

Rey hanya tertawa kecil cengengesan.

Malam itu kembali aku tidur di sisi suami. Khawatir dengan hal yang tak kuharapkan, pintu kamar aku kunci dari dalam. Lalu tak beberapa lama terlelap pulas di alam mimpi. Namun kali ini aku bermimpi dicumbui para pemuda itu, semua adegan terlarang bak film porno kami lakukan. Bibirku dilumat seorang di antaranya, sementara selangkanganku menjadi santapan pemuas dahaga seorang lainnya. Rasanya sungguh luar biasa. Tapi mimpi itu kemudian hilang, gelap. Namun anehnya aku masih merasakan bibirku dilumat dan selangkanganku dijilati seseorang.

Perlahan aku mulai tersadar… aneh, perasaan itu belum hilang juga. Hmm… suamiku, pikirku. Perlahan mataku membuka, ya… seseorang tengah mencium bibirku dengan liar, usapan-usapan lidah di sekitar kemaluanku pun masih berlangsung… tetapi aku juga mendengar suara dengkuran di sampingku. Mataku mulai membelalak lebar dan terkejut ketika melirik ke samping mendapati suamiku masih tertidur. Dengan panik kudorong sekuat tenaga seseorang yang menciumi bibirku, dan menendang tubuh lain di bawahku, kemudian mencoba bangkit.

Terkejut aku, ternyata ada tiga orang lain di dalam kamar. Dua orang teman Rey yang sudah dalam keadaan bugil dan Rey sendiri yang hanya bercelana dalam sedang sibuk dengan kamera digitalnya. Di bagian bawah, celana dalamku telah dilucuti, sementara gaun tidurku tersingkap hingga di atas bra yang juga tersingkap menampakan kedua payudaraku.

ÔÇ£Apa yang kalian lakukan?!! Rey? Keluar!!ÔÇØ bentakku setengah berbisik khawatir membangunkan suami, namun pemuda yang tadi melumat bibirku dengan kekuatan tenaganya mendorong bahuku hingga aku kembali terbaring dan kembali melumat bibirku dengan rakus. Teman Rey yang tadi mengecap vaginaku pun juga menekukan kedua kakiku hingga tumit menempel paha dan menahannya dengan tangannya yang perkasa… lalu kembali usapan-usapan lidah basah hangat menerpa kemaluanku.

Aku masih berusaha sekuat tenaga melawan, namun akhirnya menyerah pasrah karena tenaga dan nafasku nyaris habis. Dan hanya mampu terisak menerima perkosaan kedua teman Rey di samping suamiku sendiri. ÔÇ£Tenang, ma, papa sudah Rey kasih obat, jangan khawatir.ÔÇØ ujar Rey setengah berbisik di telingaku.

Agak sedikit lega mendengar bisikan Rey, namun bagaimanapun aku tak bisa terima digauli di hadapan suami, dan kecewa karena Rey telah membohongiku, bagaimana juga cara mereka memasuki kamar, aku menduga Rey memiliki kunci cadangan. Akhirnya, aku mencoba relax. Namun tetap pasif… bagaimana munkin selama ini aku menjaga image pura-pura tak sadar disetubuhi lelaki lain kalau kini dengan sadar menunjukkan ekspresi?

Setelah perlawananku berhenti, dua orang teman Rey itu makin menjadi… kini kembali payudaraku mendapat perlakuan tak senonoh, sementara di bawah perut, sebatang jari mulai menggali liang kemaluanku. Aku meringis menggigit bibir manakala kurasakan puting payudaraku setengah tergigit dan diremas-remas kasar, lalu kemudian hanya bisa pasrah ketika gaun tidurku ditarik melewati kepala hingga terlepas dari tubuhku, disusul kemudian BH… kini aku benar-benar telanjang total.

Kaki pun kini tak lagi terkunci, agak malu menyadari aku mengangkangkan kaki tanpa dipaksa… kepada orang lain di samping suamiku sendiri. Payudaraku kembali digarap… sialnya kembali hisapan-hisapan kecil kuat bagai mencubit kurasakan, pemuda ini kembali meninggalkan tanda mata di tubuhku seperti rekan-rekannya terdahulu. Ketakutanku yang masih tersisa membuatku tak begitu menikmati permainan ini. Namun ketika pemuda di atasku merentangkan kedua tanganku ke atas, lalu wajahnya hinggap di ketiakku lekat-lekat bergantian kanan dan kiri sambil menghirup aroma tubuhku dalam-dalam, perasaan sensual mulai membakar tubuhku… dan akhirnya suara rintihan mulai keluar dari bibirku tatkala lidahnya mulai menjilati vaginaku, perlahan pula organ intimku mulai banyak memproduksi cairan hingga tusukan-tusukan jari di dalamnya menimbulkan suara becek.

ÔÇØOoooohhh…ÔÇØ kembali aku merintih, membuat keduanya makin bersemangat, meremas, mengorek, menjilat.

Tiba-tiba pemuda yang menggarap susuku menarikku bangkit hingga terduduk, tangannya menjambak rambutku pelan dan menarik kepalaku ke arah kemaluannya yang membuatku bergidik mengingat ukurannya yang besar dan tegak keras, dan hap… aku mulai mengoralnya setengah dipaksa, membuatku harus terbatuk-batuk. Rekannya pun juga berdiri di sisiku, seperti rebutan juga menjambak rambutku pelan dan menarik kepalaku ke arah selangkangannya, kini bergantian aku mengulum, menghisap dua batang penis besar dan keras… di hadapan suami yang masih terus mendengkur, kilatan bilitz kamera menyambar-nyambar tubuh kami sampai akhirnya berhenti… karena Rey pun ikut bergabung minta jatah dioral.

Harga diriku benar-benar punah… dari seorang isteri dan ibu kebanyakan… menjadi pelacur pemuas berahi… di hadapan suami pula. Tapi aku tak punya pilihan lain. Kamar itu segera diramaikan suara desisan-desisan ekspresi rasa nikmat tiga orang pemuda, diiringi sesekali suara terbatuk-batuk dari tenggorokanku. Rahangku terasa pegal tapi tiga orang pemuda itupun cukup puas menikmati rongga mulutku sehingga menghentikan aksinya.

Salah seorang menarik dua tanganku agar aku beranjak meninggalkan ranjang, terus berjalan menuju meja rias, lalu memutar tubuhku hingga menghadap cermin besar di atasnya, menarik pinggulku ke belakang, kurasakan benda keras digesek-gesekan di belahan pantatku. Dan… perlahan tapi pasti mulut vaginaku terkuak oleh dorongan kepala penis yang mendesak berusaha masuk sampai nyaris menyentuh rahimku, dari cermin kulihat wajahnya meringis menikmati rongga vaginaku, lalu kemudian ritme maju mundur mulai terjadi.

Bayangan wajahku di cermin tampak memerah, mataku sayu dengan mulut setengah terbuka, dan sesekali meringis ketika merintih, sementara di belakang, nampak bayangan suamiku yang tengah tertidur, rekan Rey dan anakku sendiri, masing-masing tengah mengocok-ngocok pelan penis ereksi mereka menyaksikanku disetubuhi dari belakang oleh rekannya, sambil menanti antrian.

Gerakannya makin cepat membuat payudaraku tampak berguncang-guncang hebat sehingga menarik minat untuk segera ditangkap dan diremas. Keringat sebesar-besar jagung mulai timbul di dahi dan dadaku, berkilauan ditimpa cahaya temaram lampu. Suara becek dua kelamin bergesekan serta erangan dan rintihan semakin mewarnai peristiwa mesum malam ini.

Baru kurang lebih lima menit ia mengarapku dari belakang, ia segera digantikan rekannya yang lain, kali ini terlebih dahulu sang pemuda cabul itu menjilati vagina dan anusku dari belakang, membuatku sampai menutup mulut menahan suara rintihanku. Puas mereguk cairan lendir vaginaku, ia mulai memposisikan kepala jamur penisnya tepat di mulut vaginaku, tanpa hambatan berarti mengingat lubang senggamaku telah basah, batang penis itu mendekam di dalamnya, sebelum kembali keluar masuk dengan cepat, membuat payudaraku kembali terguncang-guncang dan segera ditangkapnya.

Pemuda pertama yang menggauliku berdiri di samping, menarik kepalaku agar menoleh ke arahnya dan segera melumat rakus bibirku, yang kali ini aku membalas belitan lidahnya. Rey kembali menjepretkan kameranya merekam adegan demi adegan terlarang itu. ÔÇ£Oohhss… tantee… sssh…ÔÇØ desis pemuda itu menikmati tubuhku.

Tubuhku kini bermandikan keringat deras membuat kulitnya berkilauan. Gerakan maju mundur pinggulnya makin cepat dan erangannya makin keras, terkadang kurasakan kemaluannya sangat tajam, membuatku sesekali meringis karena ngilu bercampur nikmat, ÔÇ£Nngghh… mmhh… sssh… oouh…ÔÇØ rintihku tertahan bibir pemuda satunya yang masih rakus melumat bibirku sampai akhirnya aku menggigit lidahnya ketika getaran-getaran dahsyat meledak dalam vaginaku… aku orgasme.

Dan denyutan-denyutan dinding vaginaku pun akhirnya membawa efek berantai… sang pemuda mencabut penisnya lalu… splash… splash… splash… splash… cairan panas hinggap di punggung dan pantatku.

Rey segera melap dengan celana dalamnya dan langsung menggantikan posisinya… sempurna sudah punahnya kehormatanku, disetubuhi anak kandung di hadapan orang lain dan suamiku sendiri. Dan Rey tanpa basa-basi segera memacu gerakannya dengan buas. ÔÇØMamaah… ouhss…ÔÇØ erangnya.

Momentum itu segera diabadikan rekan Rey yang baru saja ejakulasi, sementara rekan satunya kini sibuk memilin-milin puting payudaraku. Satu tanganku yang bersandar pada meja ditariknya dan digenggamkan di batang kemaluannya yang besar dan sangat keras itu, sambil disetubuhi anakku kini aku harus memasturbasi rekannya. Aku menjadi budak seks mereka bertiga.

Rey kemudian memegang pangkal lenganku, menariku ke belakang meninggalkan meja rias dan mendorongku berjalan ke arah ranjang… tentu saja dengan batang penisnya masih tetap dalam rongga senggamaku.

Kamarku yang cukup besar berukuran 45 meter persegi itu membuat jarak antara meja rias dengan ranjang kira-kira 3 meter, namun belum lagi tiba di ranjang, Rey dengan kurang ajar membawaku berjalan mengelilingi kamar, sesekali berhenti untuk mengayunkan pinggulnya, ÔÇØMantap, Rey… gue juga mau yang itu.ÔÇØ komentar teman-temannya sambil terus merekam adegan persetubuhan ibu-anak ini, kini kulihat rekan Rey yang pertama kali menggauliku kembali ereksi sempurna.

Rey akhirnya membawaku ke ranjang sambil terus menyenggamaiku, untuk kemudian melepasku dan membaringkanku telentang. Membuka lebar kedua pahaku dan kembali meniduriku. Mulutku segera dilumatnya, dan payudaraku pun menjadi mangsa cengkeraman tangannya, disamping suami aku dinodai anakku sendiri, tubuh suamiku pun ikut terguncang-guncang akibat gerakan puteranya menyetubuhi isterinya.

Gerakan Rey makin cepat sampai suatu ketika ia hentakkan pinggulnya keras-keras di bawah, dan… crrt… crrrt… crrrt… kembali rahimku disiram sperma potensial dari anak kandungku sendiri. Ia terus mengayun-ayunkan pantatnya pelan sampai merasakan tak ada lagi sperma yang mengalir, dengan satu erangan ia bangkit meninggalkanku dan menuju kamar mandi.

Aku masih terbaring telentang, payudaraku naik turun seiring tarikan nafasku. Sperma Rey segera mengalir keluar liang vaginaku, menciptakan danau kecil di atas sprei. Namun belum lagi nafasku kembali normal, kembali tubuh telanjangku ditindih rekan Rey yang sedari tadi belum menuntaskan nafsunya, dinding vaginaku kembali terdesak batang kemaluan keras pria asing yang bukan suamiku, ranjang itu kembali bergerak-gerak seiring gerakan terlarang di atasnya.

ÔÇ£Eengghhh… mhhhhh…ÔÇØ aku kembali merintih ketika puting payudaraku digigit-gigit ringan pemuda yang tengah mereguk kenikmatan tubuhku. Keringat kami saling menyatu dan memercik. Lenganku kembali direntangkan ke atas, dan segera ia mulai menciumi ketiakku, menimbulkan rasa geli dan mengirim sinyal kedutan-kedutan di sekitar vaginaku. Ia begitu menikmati aroma tubuhku. Ia kemudian bangkit duduk, lalu menangkap kedua lututku dan melipatnya hingga nyaris menempel dadaku, membuat tusukannya kurasakan makin dalam seolah-olah menyentuh rahimku. Kembali bibirku dilumatnya dan lidahnya segera membelit lidahku.

Tiba-tiba suamiku bergerak berguling ke arahku dan tangannya hinggap tepat di atas payudaraku, membuat seolah-olah nafasku terhenti. Si pemuda pun menghentikan gerakannya, namun ketika mendapati suamiku masih mendengkur, kembali ia menghentak-hentakan pinggulnya, tanpa menyingkirkan lengan suamiku, wajahnya tampak sangat bergairah menikmati momen sensasional itu. Entah kenapa, aku pun semakin menikmati adrenalin yang meninggi dari peristiwa itu. Dan terpaksa menggigit jari mencegah teriakan keluar ketika denyutan orgasme menggelora dalam liang vaginaku.

Rey dan seorang temannya tampak makin penuh berahi menatap kami berdua… tepatnya kami bertiga. Mereka kembali mengelus-elus senjata biologisnya yang makin mengeras tegang. Sampai akhirnya pemuda yang menggauliku mengejang dan mengerang keras dengan wajah meringis menikmati ejakulasi di dalam lubang senggamaku sambil menghentak-hentakan pantatnya ke bawah. Ia kemudian bangkit meninggalkanku, dan sebelum aliran lahar panas itu habis keluar vaginaku… kembali rongga kemaluanku digali batang penis keras pemuda kedua.

Kali ini ia makin buas mengguncang-guncangkan tubuhku, menciptakan suara kecipak dua organ kelamin berbalut lendir memenuhi ruangan kamar…lengan suamiku masih hinggap di atas payudara basah berkeringat milikku, wajahnya pun masih menampakan kalau ia tertidur sangat pulas. Aroma kamar ini sangan berbau seks. Kembali aku menggigit bibir ketika gempa ringan melanda lorong vaginaku saat orgasme ketiga hadir. Disusul lagi semburan sperma panas mengisi ruangan tersisa di dalam lorong kemaluanku itu.

Dan sekali lagi, belum lagi habis menciptakan aliran sungai kecil di luar kemaluanku, kali ini Rey kembali memompa batang kemaluannya ke vagina ibunya. Namun juga harus mengalami serangan ganda, pemuda pertama menyingkirkan tangan suami dari dadaku,kemudian berjongkok di atasnya, menjambak rambutku dan mengarahkan kepalaku ke arah selangkangannya, mulutku kembali mengecap, menghisap, menjilat penis besar keras yang masih berbau aroma vaginaku sendiri dan aroma sperma.

ÔÇ£Ssshh… mamaaah…ÔÇØ desis Rey.

ÔÇØMmmmmh… tantee… shhh!ÔÇØ erang pemuda rekan Rey yang aku oral.

Dan hampir bersamaan keduanya ejakulasi, pertama Rey di bawah, lalu rekannya di dalam mulutku sehingga sebagian besar tertelan dalam kerongkonganku, ia mencabut penisnya dari mulutku dan masih ada sisa sperma yang menyembur hinggap di mata, hidung dan mulutku.

Mereka bertiga cukup lama tinggal di dalam kamarku, mencoba mengatur nafas sambil menyaksikan pemandangan indah tubuh telanjangku yang bermandikan keringat dan sperma. Sampai akhirnya mereka pergi keluar kamar satu persatu. Tinggal aku yang terbaring di sisi suamiku, telanjang mengangkang dengan tubuh basah berkeringat. Lama aku mencoba mengembalikan nafas normal, merajut kembali adegan detik demi detik yang baru saja kualami.

Kutatap wajah suamiku, dan berkata lirih. ÔÇØMaafkan aku suamiku.ÔÇØ lalu kembali menengadah. Beberapa menit kemudian aku mencoba duduk, tubuhku terasa pegal-pegal di setiap sendi, lalu kemudian bangkit berdiri meninggalkan ranjang, mencoba berjalan menuju kamar mandi.

Vaginaku serasa membengkak dan linu, sepanjang langkah tertatihku menuju kamar mandi, sperma kental bergumpal-gumpal mengalir keluar membuat jalur dari pangkal paha hingga ke betis dan sebagian menetes langsung ke lantai. Usai membersihkan tubuh dan berpakaian kembali, kubersihkan lantai sekenanya dengan celana dalamku, lalu mencoba tidur.

***

Aku terbangun ketika suami mengguncang-guncangkan tubuhku. ÔÇØMa… mama…ÔÇØ panggilnya. Dan belum lagi mataku terbuka sempurna ia berkata, ÔÇØPapa ada meeting dengan rekanan di Tangerang, mungkin agak malam baru pulang.ÔÇØ

ÔÇØHhmmmh,ÔÇØ ujarku mengangguk lemah dan mencoba melanjutkan tidur, tubuhku terasa amat lelah akibat melayani nafsu tiga pemuda tadi malam.

ÔÇ£Hey, udah jam delapan lho. Ayo bangun.ÔÇØ ujar suamiku lagi, namun kembali aku merapatkan selimut.

Setengah jam kemudian aku bangun, masih dengan mata setengah terpejam mencoba untuk duduk, sempat kulirik bayanganku di cermin, rambutku acak-acakan gak karuan dan lengket oleh keringat. Dengan langkah gontai aku berjalan ke kamar mandi, kembali lelehan sperma mengalir keluar vaginaku, bukan main banyaknya benih anak-anak muda itu tersimpan dalam liang senggamaku.

Usai mandi dan berpakaian, kurapikan tempat tidur, melepas sprey yang penuh bercak sperma kering dan membawanya ke ruang cuci di bawah. Namun sempat aku singgah di kamar Rey, kubuka pintunya, terlihat anak-anak muda itu masih mendengkur tidur bergelimpangan di kasur, sofa dan karpet di kamar anakku, dan mereka hanya memakai celana dalam saja. Dadaku berdegup kencang dan gairah sensual selintas berdesir dalam setiap pembuluh darahku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*