Home » Cerita Seks Mama Anak » Perkumpulan Rahasia 3

Perkumpulan Rahasia 3

Cerita Sebelumya : Perkumpulan Rahasia 2

Siang itu Rey pamit lagi, kali ini dengan alasan ingin menjemput kawan satu angkatannya kuliah yang akan liburan ke Jakarta dan meminta ijinku agar diperkenankan menginap di rumah kami. Aku hanya bisa mengiyakan, dulu semasa SMA sering juga rekan-rekannya menginap di rumah.

Menjelang maghrib, mobilnya memasuki halaman. Aku sendiri tengah membaca majalah mengenakan gaun malam yang simple dan tak menampakan lekuk tubuh.

ÔÇØMa, kenalkan… temen Rey, Yudi.ÔÇØ ujar Rey memperkenalkan temannya.

ÔÇ£Yudi, bu.ÔÇØ ujar Yudi menyodorkan tangannya sambil merunduk sopan dan tersenyum ramah.

ÔÇ£Saya mamanya Rey, panggil aja tante Ratna.ÔÇØ jawabku setengah tertegun dengan tatapan Yudi yang teduh. ÔÇ£Ayo, Rey, diajak ke kamar sana, istirahat lalu makan malam.ÔÇØ pintaku pada Rey.

ÔÇØMaaf ngerepotin, tante.ÔÇØ ujar Yudi sambil mengikuti Rey.

Aku tersenyum, Yudi nampaknya pemuda yang sopan, bertubuh tinggi tegap sedikit melebihi Rey dan sangat tampan. Aku sedikit lega, kali ini Rey gak akan macam-macam denganku.

Malam itu kami makan malam bersama, lalu ngobrol ngalor ngidul. Ternyata Yudi juga berasal dari keluarga pengusaha, ayahnya kontraktor property, sementara ibunya dosen di universitas tempat anakku dan Yudi juga kuliah. Rey, kembali membuatkan teh, kali ini untuk 3 orang, Rey sendiri, Yudi dan aku. Sempat sedikit curiga, namun untuk amannya, aku hanya meminum setengah gelas. Menjelang pukul 8 malam aku pamit untuk tidur, yakin aman kubiarkan diriku rebah dan tak lama kemudian terlelap.

Dini hari, jam dua malam. Kukenali dari dentangan jam Junghans di ruang bawah. Kilatan-kilatan cahaya kembali menembus kelopak mataku. Ooh… apalagi ini? Kudengar gumaman-gumaman pelan seperti orang mengobrol disusul kilatan-kilatan cahanya menyambar, detak jantungku segera berdegup kencang. Dengan mata tertutup, segera kurasakan hawa sejuk AC menyentuh langsung kulitku tanpa pelapis… kembali aku ditelanjangi. Kudapati tanganku terentang lurus ke atas, di pantatku sesuatu yang empuk mengganjal, membuat tubuhku sebelah bawah terdongak, sementara kakiku terbuka lebar.

ÔÇØGimana, Yud?ÔÇØ suara Rey setengah berbisik.

ÔÇØLuar biasa, men. Ibumu bener-bener cantik dan sexy,ÔÇØ

ÔÇØUdah puas belum?ÔÇØ gumam Rey lagi.

ÔÇØNtar, men, beberapa shoot lagi,ÔÇØ

Ooh… ternyata diriku jadi tontonan Rey dan temannya, sungguh kurang ajar. Untuk Rey aku masih bisa mentolerir, tetapi mengajak teman sudah kelewatan. Tetapi sekali lagi aku tak mampu bergerak, diantara perasaan dongkol terselip rasa tersanjung jika tubuhku ini masih dikagumi anak-anak muda seperti Rey dan Yudi. Aku merinding dan gemetar.

ÔÇ£Boleh gak, Rey?ÔÇØ tanya yudi, entah apa maksudnya.

ÔÇØGak boleh, deal is deal, kecuali lu biarin gue dulu ngentotin nyokap lu.ÔÇØ jawab Rey keras. Aku semakin tegang, oh… ternyata Yudi ingin menyetubuhi diriku.

ÔÇ£Trus gimana, Rey?ÔÇØ tanya Yudi lagi.

ÔÇØYa sesuai komitmen awal aja.ÔÇØ jawab Rey singkat.

Diskusi kedua pemuda itu berhenti. Kurasakan derap langkah mendekatiku. Deg! Sebuah kecupan menimpa bibirku. Lalu jari jemari menyentuh payudaraku, meremas-remasnya pelan, memlintir-mlintir putingnya, membuatku meringis. Namun yang membuatku nyaris membelalakan mata mana kala sebuah rongga basah hangat menyelubungi puting payudaraku lalu menghisap-hisapnya dengan rakus. Sementara payudaraku yang lain diremas-remas, terus bergantian satu dihisap satu diremas, membuat kepalaku terlempar ringan ke kanan ke kiri.

Sampai kemudian hisapan itu berhenti, tapi remasan-remasan terhadap payudaraku terus berlangsung. Kurasakan hembusan nafas hangat menyapu ketiakku yang terungkap karena posisi tanganku. Dan sebuah sentuhan, mungkin hidung seseorang, lalu diikuti suara hirupan nafas. Oh… dia yang kuyakini adalah Yudi tengah menikmati dalam-dalam aroma tubuhku. Terus menghirup beberapa menit sampai sesuatu membuatku nyaris terlonjak jika tidak mengejangkan pantatku, jilatan lidah di ketiakku dan hisapan mulut. Kali ini kurasakan vaginaku benar-benar basah.

Beberap menit kemudian jilatan itu berhenti. Kali ini hembusan nafas hangat menciptakan badai kecil di permukaan vaginaku, dan ohhh… jilatan-jilatan liar kembali mengusap-usap, menghisap organ paling esensi seorang wanita, membuatku kembali menegangkan seluruh sendi-sendiku.

Beberapa menit kualami siksaan kenikmatan itu sampai sesuatu memasuki diriku, menggeliat, mengait, menusuk… jemari-jemari Yudi menggali vaginaku dengan liar, satu jari, dua jari, tiga jari… thats it, sensasi puncak kenikmatan yang lama tak kurasakan kembali mengharu biru diriku, denyutan-denyutan vaginaku mengirimkan sinyal-sinyal sebuah kenikmatan tiada tara dalam otakku… aku orgasme… terus berlangsung sampai dua tiga menit, aku hanya bisa menggigit bibir dan menggenggam tangan erat-erat.

ÔÇØWah… men, mama lu sampe banjir begini. Masih sempit, men… sayang kalo gak…ÔÇØ ujar Yudi dengan suara bergetar.

ÔÇØNo way. Udah cepet sana, tuntaskan hajat lu.ÔÇØ ujar Rey.

Yudi menggerutu pelan, lalu mengambil bantal di bawah pantatku. Kurasakan seseorang memelukku. Membuatku setengah terduduk dan meletakkan bantal di balik bahuku. Membuatku benar-benar setengah terduduk dengan kepala sedikit terdongak. Kudengar suara resleting berbunyi… oh Tuhan, wajahku akan bermandikan sperma lagi, pikirku.

Kurasakan ujung benda keras memukul pelan pipiku, mataku, hidung dan bibirku. Cairan keluar dari ujungnya membasahi permukaan wajahku. Penis Yudi, pikirku. Kunantikan dengan tegang ejakulasi Yudi di wajahku, tetapi kemudian sepasang jari menjepit hidungku, membuat mulutku terbuka mencari nafas dan saat itulah sebuah benda silinder keras setengah elastis memasuki rongga mulutku, jepitan dihidungku terlepas. Aroma khas pria tercium keras hidungku, aku nyaris tersedak dan membuatku berlinangan air mata… aku dipaksa melakukan oral sex dengan teman anakku disaksikan anakku sendiri!

Dengan kurang ajar, yudi memegang belakang kepalaku, memasuk keluarkan batang penisnya ke mulutku, sesekali meyimpang ke dinding pipi, membuatku merasa pegal. Sebagai wanita konservatif, aku tak pernah melakukan oral sex selama 25 tahun menikah, namun kali ini seorang pemuda memberiku pengalaman pertama oral sex. Keterpaksaan membuatku beberapa kali tersedak, namun lambat laun aku mulai menemukan ritmiknya, sedot lepas, sedot lepas. Sampai kemudian, yudi mencengkeram belakang kepalaku, mendorongnya ke depan, bersamaan dengan hujaman penisnya sampai kurasakan kepalanya menyentuh anak lidahku… lalu… cleguk, cleguk, cleguk…!!!

ÔÇ£Oohhh… tante Ratnaaaa… hsssssshhhh…ÔÇØ desis Yudi, dan dengan terpaksa semburan demi semburan spermanya kutelan, lagi dan lagi, membuatku ingin muntah, sampai akhirnya ketegangan penis Yudi mereda dan ia melepaskan mulutku, airmata berlinangan membuat sungai kecil di pipiku.

ÔÇ£Aduh, men… abis semua ditelen, mama lu emang oke, men.ÔÇØ ujar Yudi di tengah nafasnya yang belum teratur.

ÔÇØYa udah, cepet keluar, biar gue beresin.ÔÇØ ujar Rey. Terdengar suara pintu terbuka lalu tertutup. ÔÇ£Maafkan aku, ma.ÔÇØ ujar Rey berbisik.

Kembali kuraskan springbed ditimpa seseorang, aroma khas lelaki kembali tercium. Dan kembali sundulan-sundulan benda tumpul keras setengah lunak mendera wajahku. Kembali sepasang jari menjepit hidungku… dan hap! mulutku menerima kembali infiltrasi benda asing, kali ini milik anakku, kembali aku tersedak-sedak hingga berlinangan air mata, namun tak seperti Yudi, Rey melakukannya dengan lembut. Mulutku kembali menyambut, sedot lepas, sedot lepas.

ÔÇ£Mamaaah…ÔÇØ rintih Rey. Kembali sebuah dorongan belakang kepalaku ke depan, dan Rey menyorongkan penisnya pula. ÔÇØMama… ssssshhhhhh…ÔÇØ kembali cairan putih sedikit terasa asin dan getir itu terpaksa kureguk.

Luar biasa, pengalaman pertama oral sex terpaksa dua kali menelan sperma dari dua penis berbeda. Rey mencabut batang penisnya dari mulutku, lelehan sperma jatuh di daguku. Kembali ritual memakaikan pakaian dilakukan Rey.

Beberapa menit setelah ia meninggalkan kamar, aku terbangun. Wajahku di cermin tak karuan, kali ini bukan wanita terhormat , tetapi wanita jalang yang membiarkan tubuhnya dinikmati dua pria dalam semalam, bahkan mengalami orgasme.Oh… apa yang kulakukan? dalam hati aku berkata, sambil menutup wajah.

Aku mulai terisak menyesali yang terjadi. Namun kemudian bangkit menuju kamar mandi, badanku terasa linu-linu semua. Lantas buang air kecil… sial, si Rey tak memakaikan kembali celana dalamku.

Menuju kamar dengan tertatih, kuminum segelas air untuk membersihkan kerongkonganku dari cairan lendir produk lelaki yang kutelan tadi. Malam itu aku tak bisa tidur hingga menjelang fajar, pikiranku berkecamuk hebat di dalam kamarku yang kini sangat beraroma sex. What next, pikirku. Haruskah kuhentikan juga sekarang? Namun badan yang letih akhirnya membuatku terlelap juga.

***

Aku bangun kesiangan, bik Inah mengetuk kamar membangunkanku. Aku bangun dengan malas, memungut celana dalam di lantai kamar dan meletakkanya di keranjang pakaian kotor.

ÔÇ£Iya, bik.ÔÇØ aku menjawab seraya membuka pintu. ÔÇØSi Rey kemana?ÔÇØ tanyaku.

ÔÇ£Mas Rey udah keluar, bu, sama temennya tadi.ÔÇØ jawab bik Inah sambil membawa keluar keranjang pakaian kotor itu.

Bi inah menuju kamar Rey… ternyata tak dikunci. Kesempatan, pikirku. Aku segera masuk, mencari-cari laptop si Rey. Ketemu. Kubuka, lalu kusambungkan ke internet, Perumahan kami menyediakan layanan wi fi broadband, tentunya tidak gratis, masuk iuran bulanan. Kubuka browser, lalu menelusuri browsing history… kutemukan sebuah web yang sama dengan yang kemarin kubuka, sialnya harus login dulu dan aku tak tahu paswordnya.

Dengan kecewa kubuka file-file yang ada di laptop, kupakai menu search kode file gambar… dan jleb! serasa menusuk jantungku. Kulihat gambar-gambar tubuhku berbagai posisi, berkacamata jongkok bersender di ranjang, wajah belumuran sperma sampai yang terakhir tadi malam dengan pantat terganjal dan kaki membuka lebar menyebabkan vaginaku yang merekah.

Wajahku memerah menyaksikan foto Yudi yang meremas-remas payudaraku, mengorek liang vaginaku dan kemudian memasukkan kemaluannya ke mulutku, agak berdesir melihat besarnya ukuran penis Yudi, membayangkan jika penis itu memasuki liang senggamaku.

Namun bukan hanya foto-fotoku saja yang terlihat. Ada ratusan foto-foto wanita seusiaku dalam keadaan sama, tertidur. Kesamaan lainnya, semua masih sangat menarik baik wajah maupun tubuhnya. Dan aku terkejut mendapati beberapa foto di mana ada Rey di situ. Dengan aksi seperti yang dilakukannya padaku, meremas-remas payudara, menggali liang vagina, memasukan penisnya ke dalam mulut… dan aku terbelalak, melihat Rey di banyak foto terlihat benar-benar memasukan penisnya ke liang vagina beberapa wanita setengah baya cantik menarik Aku gemetar menyaksikan hal itu, anakku tak perjaka lagi, pikirku.

Apa yang kau lakukan, nak? Terlibat dalam sindikat apakah dia? Pikirku.

Setelah kututup kamar Rey, aku bergegas mandi, membuka seluruh pakaianku, membersihkan semua tubuh dari siraman noda tadi malam.

Sore itu seperti biasa, aku duduk di ruang tengah, dihadapanku ada majalah, laptop, TV tak membuatku mampu mengusir rasa galau di hati. Apakah terus aku biarkan saja petualangan Rey atau kuhentikan sekarang? Apalagi Rey mulai melibatkan orang lain dalam aksinya, kendati… orang itu memberiku kepuasan setelah bertahun-tahun tak pernah mengalaminya.

Deru mobil Rey menghentikan lamunanku, namun degupan jantungku mulai terpacu, apakah aku mampu menatap wajah Yudi, teman Rey tersebut? Namun aku agak heran, hanya Rey sendiri yang masuk.

ÔÇØKemana temanmu, Rey?ÔÇØ tanyaku.

ÔÇØEmm, dia liburan ke bogor, ma. Emang kenapa?ÔÇØ balas Rey.

ÔÇØAh, nggak pa-pa, mama cuma tanya aja kok.ÔÇØ jawabku sedikit gugup.

Rey hanya nyengir dan berlalu ke kamarnya setelah mengecup pipiku. Hmm… dia pasti akan memberiku sesuatu lagi neh, entah teh, buah, atau makanan kecil yang kuyakini diberi semacam obat tidur. Malam itu, tak satupun yang disajikan Rey aku telan. Lalu, tanpa menunggu larut, aku masuk ke kamar tidurku dan menguncinya. Rey pasti kecewa malam ini, pikirku, tersenyum atas kemenangan kecilku. Dengan tak sabar kunantikan apa usaha Rey untuk kembali mencabuli ibu kandungnya malam ini. Pikiranku kembali mengingat detik demi detik, detail demi detail peristiwa tadi malam.

Rasa malu kembali menderaku, diikuti rasa tersanjung betapa tubuhku di usia 45 masih mampu membangkitkan hormon pria-pria muda. Aku kemudian berdiri di depan cermin, menanggalkan semua pakaian hingga aku berdiri bugil. Memutar-mutar badan, menyentuh payudaraku yang masih montok berisi, mengelus-elus pinggulku yang masih membulat sexy kontras dengan lingkar pinggang yang masih singset, kemudian menyentuh sudut v diantara dua paha. Mengelus-elus lipatan belahan vaginaku yang kurasakan… basah.

Cukup lama kumainkan jari-jemariku di situ hingga kurasakan syaraf-syaraf sekitarnya mengirimkan sinyal-sinyal rasa nikmat, berefek pada semakin memburunya nafas dan memerahnya wajahku. Tubuh sensual ini telah lama disia-siakan, sudah sepatutnya aku mereguk rasa nikmat dari seorang lelaki.

Jglek! gagang pintu mencoba dibuka seseorang. Aku terkejut dan menghentikan lamunan dan kegiatan jemariku pada organ paling intim milikku. Rey… pikirku. Sempat beberapa lama aku tertegun, lalu kuputuskan kembali ke ranjang. Mencoba tidur dalam keadaan telanjang.

***

Tiga hari Rey tak mampu menggarap diriku. Tiga hari itu pula aku belum mengambil suatu sikap tegas terhadap Rey. Sampai kemudian suamiku menelpon, mengatakan bahwa seminggu lagi akan pulang. Membuatku galau, antara merasa berdosa, takut, sekaligus sedikit lega. Hati kecilku menguatkan suatu dorongan untuk aku segera bicara pada Rey.

Malam itu, setelah kembali usahanya gagal membuka kamarku, aku keluar menuju kamar Rey. Kuketuk pintu kamarnya, Rey membuka pintu dan mempersilahkan aku masuk. Wajahnya sedikit gugup dan ia hanya bertelanjang dada dengan celana pendeknya. Laptopnya diputar sehingga monitornya membelakangiku.

ÔÇ£Ada apa, ma?ÔÇØ tanya Rey kikuk.

ÔÇØNgga ada apa-apa, mama cuma ngasih tahu, ayahmu minggu depan pulang.ÔÇØ jawabku.

Mmm baguslah. jawab Rey dengan raut wajah kecewa.

ÔÇØAda apa dengan laptopmu, Rey?ÔÇØ tanyaku.

Rey sontak memucat menjawab dengan terbata-bata. A-anu, ma gak pa-pa kok, cuma twiteran aja ehh

ÔÇ£Mama kira kamu lihat situs porno, Rey. Gak usah malu gitu, mama paham kok.ÔÇØ jawabku memancing.

ÔÇ£Ee… anu… mama tahu aja, heh…ÔÇØ jawab Rey dengan senyum dipaksakan.

ÔÇ£Situs yang kamu bisa upload foto telanjang mamamu kan? Kamu kok tega, Rey?ÔÇØ tanyaku dengan suara meninggi.

Rey semakin pucat dan gugup, ÔÇØNnnggÔǪ anu, ma… mama kok tahu? Rey ngaku salah, ma… Rey…ÔÇØ

ÔÇ£Rey, coba kamu ceritakan semuanya dengan jujur… atau mama laporkan kepada papa,ÔÇØ ujarku dengan muka tegang dan percaya diri. Dan mengalirlah cerita itu, setiap bagian membuatku terhenyak, terkejut bercampur marah.

Rey ikut perkumpulan rahasia para lelaki muda yang menyukai wanita yang lebih tua secara tak sengaja melalui internet. Dan yang aneh… wanita-wanita tersebut adalah ibu kandung mereka masing-masing, mulanya hanya ajang curhat.Ya… sedikit banyak aku belajar bahwa pada satu masa perkembangan emosi, seorang anak lelaki dapat jatuh cinta dengan ibunya, sesuatu yang disebut oedipus complex. Walau tak semua mengalaminya.

Lantas dari ajang curhat terus berkembang menjadi ajang tukar menukar pengalaman mencabuli ibunya masing-masing yang tentunya dilakukan dalam keadaan si ibu tidak sadar, dilanjutkan tukar menukar foto. Terus meningkat menjadi ajang pertukaran mencicipi tubuh ibu kandung masing-masing. Dan apa yang kualami dengan Yudi adalah contohnya. Tetapi mereka juga mempunyai kode etik tertentu yang mereka patuhi, misalnya pertukaran itu harus seimbang, oral dengan oral, peting dengan peting, dan coitus langsung juga demikian.

Rey mengaku hanya menggarap ibunya Yudi dengan cara oral saja seperti yang dilakukan Yudi kepadaku. Kuyakini wajahku memerah dengan amarah, namun yang membuatku bergidik adalah pengakuan Rey bahwa ia benar-benar telah menyetubuhi ibu kandung teman-temannya sebanyak… 6 orang! Itu artinya aku harus menerima untuk juga disetubuhi 6 orang pemuda. Belum lagi soal Rey menjelaskan bagaimana ia memberiku obat tidur, mulai dari teh hangat, jus hingga… air minum di kamarku!!

ÔÇ£Kurang ajar kamu, Rey… mama gak akan menuruti kemauan 6 orang itu.ÔÇØ ujarku penuh emosi.

ÔÇ£Tapi, ma…ÔÇØ kata Rey.

ÔÇØGak ada tapi-tapian, mama masih tega sama kamu untuk gak ngelapor ke Polisi…ÔÇØ jawabku ketus.

Rey memutar laptopnya, makin mendidih emosiku menyaksikan fotoku dioral paksa oleh Yudi saat itu. ÔÇ£Jika mama menolak kemauan mereka, atau melapor ke polisi… mereka akan menyebarkan foto ini di dunia maya, dan mereka siap pasang badan sekalipun dipenjara,ÔÇØ jawab Rey lesu.

Tubuhku merinding dan aku menelan ludah mendengar pernyataan Rey terakhir. Seketika lututku menjadi lemas. Ya, tentu saja aku tak bisa membayangkan apa kata dunia jika foto-fotoku tersebar? Penjara bagi mereka tak akan membuat aib yang akan kupikul seumur hidup tertutupi jika hal itu sampai terjadi. Dan tak terasa air mataku berlinang.

ÔÇØOh… Rey, apa yang kamu lakukan pada mama?ÔÇØ ujarku terisak.

ÔÇØMa… maafkan Rey, ma. Rey khilaf, Rey salah. Tapi bagaimana selanjutnya, ma?ÔÇØ ujar Rey.

Ya… bagaimana selanjutnya? Tanpa berkata-kata lagi kutinggalkan kamar Rey. Kulanjutkan menangis di kamarku. Sampai kemudian ketika agak tenang, kupikirkan segala konsekwensi yang akan kuterima dalam setiap pilihan. Semua alternatif tak ada yang bebas resiko, hingga akhirnya kuputuskan sebuah pilihan.

Dengan langkah gontai, aku kembali ke kamar Rey. Anak itu masih duduk termenung di tepi tempat tidur sembari memegang kepalanya. ÔÇØRey…ÔÇØ panggilku.

Rey menoleh. Aku duduk di sebelahnya. ÔÇ£Rey, mama… mama bersedia menuruti teman-temanmu dengan syarat…ÔÇØ kataku lalu mencoba mengatur nafas.

ÔÇØMa… jangan, ma, biar Rey coba bicara baik-baik pada mereka,ÔÇØ ujar Rey mencoba menjadi pahlawan dari kehancuran yang dia timbulkan.

ÔÇ£Ini keputusan mama, Rey. Mama gak yakin mereka akan terima, kamu telah menyetubuhi ibu-ibu mereka.ÔÇØ ujarku. ÔÇ£Rey, ketika itu terjadi, mama gak ingin dalam keadaan sadar, maka tolong mama diberi obat tidur yang cukup, tapi bukan narkoba. Kedua, kamu gak boleh menyetubuhi mama, kamu gak pantes berbuat seperti itu pada mama, agama apapun dan norma masyarakat paling primitif pun menolak hal itu. Ketiga, setelah ini berakhir, mama ingin kamu keluar dalam kumpulan brengsek ini, masa depanmu masih panjang, Rey, jangan kamu sia-siakan usaha papa dan mama membesarkan dan membiayai kuliah kamu. Keempat… kamu simpan rahasia ini sekuat-kuatnya, jangan sampai papamu tahu. Kamu sanggup?ÔÇØ tanyaku.

Rey mengangguk lemah, ÔÇØMaafkan Rey, ma. Rey telah membawa mama ke dalam masalah ini. Semua syarat Rey terima, ma, kecuali mungkin yang agak berat yang ketiga, ma. Rey gak serta merta bisa dengan mudah meninggalkan sindikat tersebut, mereka punya kartu truf…ÔÇØ jawab Rey.

ÔÇØYa, mama paham… tapi bukankah kalian punya kode etik dalam hal pertukaran mama masing-masing? Maka setelah ini, kamu jangan coba-coba menggauli mama teman-teman kamu lagi, dan hapus foto-foto mama di laptopmu, bisa nggak?ÔÇØ jawabku.

ÔÇ£Mmm… bisa, ma.ÔÇ£ jawab Rey sambil menarik nafas. Kami lalu terdiam lama.

ÔÇ£Sejak kapan kamu tertarik secara seksual terhadap mama?ÔÇØ tanyaku memecah keheningan.

ÔÇ£Sejak Rey masih mandi sama mama sampe kelas 3 SD.ÔÇØ jawab Rey, membuatku sedikit tersenyum. Aku tak menduga, bagaimana mungkin anak usia 8 tahun masih menyimpan memori itu hingga usianya yang ke 21? Suasana kemudian mencair ketika kami bercerita nostalgia masa lalu.

ÔÇØRey… mama mau melihat foto-foto mama di laptopmu.ÔÇØ ujarku.

ÔÇØJa-jangan, ma.ÔÇØ

ÔÇØBawa sini!!!ÔÇØ ujarku memotong.

Aku kemudian menyaksikan semua foto-foto tubuhku dalam keadaan telanjang dengan fragmen sedemikian rupa bak artis porno, aliran darah terasa mengalir ke wajahku, Rey sendiri memalingkan wajahnya dari laptop dan menghindari pandangan mataku.

ÔÇ£Mama hapus semua, Rey, walau mama tahu yang kamu upload di website itu mungkin tak bisa dihapus.ÔÇØ kataku. Rey tak bisa berkata apa-apa, wajahnya masih tampak lesu dan menyesal.

ÔÇ£Kamu masih ingin lihat tubuh telanjang mama, Rey?ÔÇØ tanyaku yang juga membuat aku bingung kenapa muncul pertanyaan seperti itu? Rey menggeleng pelan.

Dan entah mengapa, aku bangkit berdiri… menarik ujung dasterku ke atas, terus sehingga kerah lehernya lewat di atas kepala. Mata Rey membelalak, antara terkejut dan bingung sekaligus berahi. Kini aku berhadapan dengan anakku hanya dengan bh dan celana dalam. Tanganku mengangkat mangkuk beha ke atas, meloloskan sepasang payudara montok dibelakangnya, lalu memutar bh tersebut untuk melepas pengaitnya. Rey melotot dan menelan ludah, nafasnya mendengus. Aku merunduk, melepaskan celana dalam melewati satu kaki dan membiarkan lubang satunya masih melingkari mata kaki kananku. Jantungku berdegup kencang.

ÔÇ£Bagaimana, Rey?ÔÇØ tanyaku lirih.

ÔÇØMmm… mama… mama sungguh cantik dan sexy sekali.ÔÇØ jawab Rey, mulutnya setengah membuka.Tangannya tanpak mencoba menutupi pangkal pahanya.

ÔÇ£Sekarang buka celana kamu, Rey.ÔÇØ perintahku.

ÔÇ£Tapi Rey kan malu, ma.ÔÇØ jawab Rey.

ÔÇØApa? Malu? Padahal kamu sudah masukin penis kamu ke mulut mama dan kamu gosok-gosokan ke pantat mama, sekarang kamu bilang malu? Cepat buka!ÔÇØ ujarku sedikit galak.

Rey bangkit berdiri dengan kikuk, lalu mulai menurunkan celana pendeknya yang dibaliknya ia tidak menggunakan sempak. Kusaksikan batang kemaluannya berdiri tegak mengacung ke atas, cukup besar bahkan lebih besar dibanding punya ayahnya, membuat nafasku memburu, padahal aku hanya berniat memberikan sedikit pelajaran.

ÔÇØHhm… anak mama sekarang sudah besar dan dewasa.ÔÇØ ujarku seraya mendekatinya.

Tangan Rey bergerak hendak menangkap payudaraku, tapi kutepis…ÔÇØEiitt, jangan kurang ajar kamu.ÔÇØ ujarku. Aku semakin mendekat, hingga puting payudaraku menyentuh dada Rey dan kepala penisnya menyentuh perutku sebelah bawah yang sedikit membuncit. Tinggiku memang sedikit sama dengan Rey. Rey sampai meringis.

ÔÇØOohh… Rey, anak mama.ÔÇØ ujarku sambil memeluknya, payudaraku tertekan rapat di dada Rey.

ÔÇØMama…ÔÇØ Rey memelukku erat. Sulit kuduga sebelumnya, berpelukan dalam keadaan telanjang dengan anak kandungku sendiri di usianya yang kini dewasa, menciptakan suasana sensual tersendiri. Vaginaku pun mulai memproduksi lendir.

Kuciumi wajah Rey, ia balas menciumku, bahkan berusaha melumat bibirku namun kucegah, Rey tak berani lagi berbuat lebih jauh sekarang. Tanpa sadar tanganku kini menggapai penis Rey, mengelus-elus dan menggenggamnya ringan. Rey mundur sejengkal menahan nafas menatap ke bawah.

ÔÇ£Mama…ÔÇØ ujarnya. Tanpa dikomando aku kini mengonani anak kandungku. Tangan Rey memegang tanganku.

ÔÇØKamu boleh pegang susu mama, Rey.ÔÇØ ujarku dengan sedikit heran kenapa bisa keluar kata-kata itu?

Dengan bernafsu Rey segera meremas-remas payudaraku, membuat aku mulai gelagapan menahan nafsu. Irama tanganku mengocok penis Rey makin cepat, cairan lendir yang keluar dari lubang penisnya kini membusa. Biji pelirnya yang kupegang pelan memukul-mukul ringan telapak tanganku. Dan semenit kemudian… crrrt… crrrrt… crrrt… crrrt… cairan putih kental menyembur hinggap di payudaraku, perut dan melumuri tanganku yang terus mengocok penis keras Rey ibarat memerah susu. Sampai kurasakan lagi tak ada cairan sperma lagi yang keluar.

Kuseka tangan berlumur air mani itu ke dada dan perut Rey, mengecup pipinya, lalu memunguti pakaianku untuk kemudian keluar kamar… dalam keadaan telanjang berjalan menuju kamarku. Kukunci pintu kamar, berjalan ke depan cermin, menyaksikan tubuh bugilku dilumuri sperma anak kandungku sendiri. Mengalir dari dada ke perut hingga bersarang di tumpukan rambut di sekitar vaginaku. Aku mulai menyentuh vaginaku, mengelus-elus klentitnya, belahannya, sampai kemudian jari tengahku memasuki diriku sendiri. Yah… untuk pertama kalinya aku bermasturbasi. Nafasku memburu, mataku tampak sayu, lalu…

ÔÇØEehhhhhhhh… ehhhhhh…ÔÇØ mulutku meracau keras hingga terpaksa kututup dengan telapak tanganku ketika denyutan demi denyutan orgasme datang berombak di dalam liang senggamaku… aku orgasme. Aku rebah di atas ranjang, berbaring lemas mencoba mengatur nafas, sampai akhirnya aku tertidur tanpa sempat membersihkan diri dan berpakaian hingga keesokan harinya.

Setelah bangun pagi, aku berangkat meninjau usaha milikku hingga sore hari. Sekembalinya ke rumah, baru beberapa menit beristirahat di ruang tengah dan belum sempat mengganti pakaian kerjaku, Rey tiba. Kali ini dengan dua orang rekannya.

ÔÇ£Bram. Anton.ÔÇØ begitu mereka memperkenalkan diri, keduanya cukup tampan serta atletis, hanya saja Anton paling pendek diantara yang lain.

Dengggg! Tiba-tiba keringat dingin keluar dari punggungku, apakah mereka diantara rekan-rekan Rey yang ibunya telah digarap Rey dan kini menuntut balas? Tatapan mereka berdua kepadaku memang agak lain walau tetap bersikap sopan.

Rey lalu membawa mereka ke atas untuk kemudian kembali turun menemuiku, belum sempat ia mengatakan sesuatu, aku langsung menyebut namanya, ÔÇØRey?ÔÇØ dan ia mengangguk lesu menandakan bahwa firasatku benar.

Aku tertegun diam, lemas, tertekan namun di sisi lain seperti menantikan sesuatu yang antara diharapkan atau tidak. Rey berjalan pelan ke arahku lalu duduk disampingku. Lama kami terdiam, sampai akhirnya aku berkata setengah gemetar, ÔÇØBaiklah… kamu masih ingat pesan mama kan? Buatkan mama teh lalu antar ke kamar mama, mama mau mandi dulu.ÔÇØ ujarku seraya beranjak ke atas.

Di dalam kamar, kembali perang Baratayudha terjadi dalam benakku… to be or not to be. Sambil melepas satu persatu pakaianku untuk kemudian mandi. Aku masih berbalut handuk usai mandi dan melihat segelas besar teh hangat di meja samping tempat tidurku. Setelah mengenakan gaun tidur yang modelnya biasa saja, kudekati meja tersebut, lagi-lagi pertentangan batin menderaku, diminum atau tidak. Membuatku akhirnya menangis terisak, cukup sudah siksaan ini, batinku.

Baru setelah agak tenang, kuambil gelas itu, tanganku gemetaran memegangya. Isi gelas itulah yang akan menentukan siapa diriku malam ini, masih pantaskah disebut wanita terhormat? Bibirku bergetar ketika tepi gelas semakin mendekat, dan seteguk teh aku minum, menyusul 2-3 teguk lagi, lagi, lagi sampai akhirnya isi gelas itu habis berpindah ke dalam perutku. Aku menantikan reaksinya dengan tegang, sampai akhirnya kelopak mata ini makin terasa berat.

Namun, kembali antara sadar dan tidak, kilatan demi kilatan cahaya menyilaukan mataku. Dengan masih sangat berat kubuka sedikit mataku, pandanganku sangat kabur dan kepalaku serasa masih melayang. Tetapi aku merasakan sesuatu menindihku, dan sesuatu memasuki selangkanganku, keras, basah dan licin.

Pandanganku bertahap semakin pulih… dan tak menunggu lama jantungku segera berdegup, samar-samar kukenali wajah Bram di atas wajahku, tubuhnya tengah berkelojotan di atas tubuhku yang kuyakini dalam keadaan telanjang. Bram tengah menyetubuhiku!!!

Mataku kembali kupejamkan dan mencoba mengatur nafas. Suara Bram melenguh dan nafasnya yang memburu jelas terdengar di telingaku, hembusan panas nafasnya kurasakan di pipiku. Tangannya meremas-remas payudaraku dengan kasar, lalu tiba-tiba wajahnya melekat di ketiakku yang baru kusadari tanganku terentang ke atas.

Suara kecipakan yang timbul dari selangkanganku membuatku malu, bahwa aku telah basah… dan tanpa sadar mulai menikmatinya. Kemaluannya kurasakan sangat besar menyodok kasar vaginaku. Sementara gumaman suara orang bercakap-cakap pelan diiringi kilatan-kilatan cahaya kuyakini bahwa itu Rey dan Anton tengah memotret atau menshoot diriku dan Bram.

Kurasakan Bram bangkit, namun hentakan pinggulnya menggali kenikmatan tubuhku tetap berlangsung. Lalu kurasakan dua tangan Bram memegang belakang lututku. Dan… dua kakiku kini terentang ke atas dan hinggap di bahu Bram yang masih dengan ganas memompa penisnya ke liang senggamaku. Tubuhku terguncang-guncang hebat.

Lalu satu tangan hinggap meremas-remas dan memilin-milin sebelah payudaraku. Kuyakini itu bukan tangan Bram yang masih mendekap kedua pahaku, lalu satu tangan lagi hinggap di payudaraku yang lain, aku tak bisa memperkirakan apakah kedua tangan itu milik Anton atau Rey atau milik keduanya.

Punggungku kurasakan basah oleh keringat, demikian pula sekujur tubuhku yang kini menjadi mangsa tiga orang pemuda. Tiba-tiba remasan di kedua payudaraku berhenti, namun kini sesuatu bergerak di atas dadaku, lalu sesuatu menyumbat hidungku… jari-jemari seseorang menjepitnya hingga aku sukar benafas lalu membuka mulut, namun seketika itu pula sebuah benda mendesak masuk ke dalam rongga mulutku, yang dari aroma dan tekstur berbulu yang menyentuh bibir dan hidungku adalah… penis seorang pria, yang kini setengah menjambak rambutku, mendesak-desakan batang penisnya ke mulutku. Membuatku terbatuk-batuk dan berlinangan air mata.

Kembali aku dipaksa oral sex, sementara di bagian bawah, tanpa ampun vaginaku menerima pula tusukan demi tusukan benda keras panjang. Kini lengkaplah sudah runtuhnya harga diriku, dari wanita terhormat dan seorang ibu, kemudian bak pelacur harus melayani dua orang pria sekaligus. Dan kedua pria itu sama kasarnya. Sementara kilatan demi kilatan blitz kamera terus berlangsung.

Dan aku hanya menerima pasrah diriku dieksploitasi menjadi objek pelampiasan nafsu, karena… pelan tapi pasti suatu perasaan nikmat mulai mengalir di setiap pembuluh darahku, mulai dari selangkangan hingga ke sekujur tubuh, sementara perlahan pula siksaan kecil yang mendera mulutku mulai berkurang ketika aku mulai bisa mengikuti iramanya, menghisap ketika masuk dan melepas ketika ditarik keluar.

Lalu rongga basah tiba-tiba menghisap puting payudaraku… Rey, anakku sendiri kembali mencabuli tubuh ibu kandungnya sendiri, diriku. Membuatku tak mampu lagi mencegah keluarnya desahan dan rintihan dari mulutku, walau masih mampu berpura-pura dalam keadaan tertidur.

Tiba-tiba, batangan penis dalam kunyahanku dicabut, hampir bersamaan dengan dicabutnya batang kemaluan keras dari vaginaku, mengeluarkan suara ÔÇÖplopÔÇÖ ketika udara yang masuk akibat aktivitas persetubuhan keluar. Aku tak tahu apa yang terjadi sampai akhirnya kembali mulutku dipaksa membuka untuk melahap batang penis yang… berbau aroma vaginaku sendiri!

Ternyata mereka saling bertukar posisi, hampir bersamaan kembali benda keras mendesak liang senggamaku dan mulai gerakan memompa. Rey juga terus menghisap puting payudaraku dan meremas-remasnya bergantian. Tubuhku kembali berguncang-guncang hebat diiringi suara musik bergeseknya dua organ kelamin yang diselubungi lendir.

Aku tak bisa menebak mana Bram mana Anton kecuali mendengar desahan mereka masing-masing, yang menceracau cukup kurang ajar, ÔÇØOouhh… Rey, mamamu masih sempit… sshhhh!ÔÇØ

ÔÇØMmmhhh… tante… terus sedot, tante… uuuhh!ÔÇØ

ÔÇØEnak gak, tante… sssh!ÔÇØ sebuah jemari mulai mengutil klitorisku, membuatku semakin terbang tinggi di alam kenikmatan. Lalu aku hanya bisa mengejang ketika denyutan-denyutan dahsyat orgasmeku tiba, membuatku tak sadar, nyaris menggigit batang penis yang menggali kenikmatan dari mulutku, yang efeknya adalah semburan-semburan lahar panas menyiram kerongkonganku dimana aku tak punya opsi lain selain menelannya habis.

Dan pemiliknya mengeluarkan lenguhan keras, ÔÇØOohhhhs… telan, tante, telannnn… sshhh…ÔÇØ sambil menjambak keras rambutku. Dia terus mendesak-desakan batang kemaluannya sampai semakin menyusut dan lembek, lalu meninggalkanku dengan nafas terengah-engah.

ÔÇØJizzz… Rey, mamamu mantap.ÔÇØ ujarnya dan terdengar suara kursi digeser, agaknya ia kemudian duduk.

Tetapi tusukan-tusukan batangan keras masih mendera vaginaku, kurasakan kemudian pergelangan kakiku dipegang kemudian diangkat tinggi-tinggi lalu disandarkan ke dada yang penuh keringat sambil didekap. Gerakannya menyetubuhi diriku makin cepat, ganas dan kasar sampai akhirnya satu tusukkan terakhir dihujamkan dalam-dalam ke vaginaku lalu kembali tsunami kecil cairan sperma kental menyiram mulut rahimku… dan tak lama ia pun mencabut batang penisnya, mengembalikan kakiku kini setengah tertekuk membuka lebar.

Kembali pujian terhadap diriku dilontarkannya pada Rey yang masih terus menetek ibunya. ÔÇØDasar anak mami lu, Rey, nyusu terus.ÔÇØ ujar rekan Rey sambil tertawa kecil. Kembali kilatan lampu blitz dan suara dengingan kamera digital kudengar, dari arah depan dimana vaginaku terbuka lebar, kali ini mungkin mereka memfoto deposit sperma yang mengalir keluar dari vaginaku.

Rey bangkit dan berkata, ÔÇØHey… udah-udah, ayo keluar.ÔÇØ ujarnya mengusir rekan-rekannya keluar.

ÔÇ£Ntar, Rey, ini pemandangan langka neh…ÔÇØ ujar rekannya yang masih sibuk dengan kameranya. Namun akhirnya pergi juga setelah masing-masing mereka mengecup bibirku, dan pintu ditutup Rey dari dalam.

Sebuah usapan handuk basah terasa di permukaan vaginaku, Rey tengah membersihkannya, ia terus mengusap sampai yakin bersih, aku sendiri hanya mampu menggigit bibir menahan rasa geli. Namun berubah merinding ketika merasakan bahwa kini bukan handuk basah lagi yang mengusap-usap kewanitaanku, tapi lidah panas basah yang mengambil alih. Rey lagi, pikirku.

Memang sedari tadi hanya Rey yang belum menuntaskan hajatnya. Aku pasrah mengikuti kemauannya, selama perjanjian yang kubuat bahwa ia tak boleh menyetubuhi organ tempat dimana ia lahir masih dipenuhinya. Tubuhku sendiri lambat laun mulai bereaksi, kembali mempoduksi cairan lubrican pelicin dalam rongga vaginaku, Rey menjilat-jilat dan menghisapnya dengan rakus, menimbulkan suara seperti orang menghirup sup panas.

Puas mereguk cairan lendir ibunya, Rey beranjak ke bagian atas tubuhku, setengah terduduk meletakkan batang keras penisnya di antara payudaraku, lalu merapatkan payudaraku hingga menjepit penisnya dan mulai bergerak maju mundur.

ÔÇØMama… Mama… sshhh…ÔÇØ desis Rey.

Mataku membuka perlahan, Rey menghentikan aksinya sejenak karena kaget, namun karena aku tersenyum kecil, Rey kembali bersemangat. ÔÇ£Mama…ÔÇØ bisiknya lirih.

ÔÇØRey,ÔÇØ ujarku setengah berbisik pula. Tanganku hinggap di gunungan pantatnya, meremas-remasnya pelan.

Rey makin bersemangat bergerak maju mundur di atas dadaku, namun remasan-remasan jemariku di sekitar anus dan pangkal penisnya membuatnya mengejang dan… srrrrt… srrrt…srrrt… semburan spermanya hinggap di wajah, dahi, mata, hidung, mulut, dagu, leher dan belahan dadaku.

Rey bangkit ketika tak ada lagi tetesan sperma yang keluar dari kepala penisnya. Dia kembali mengambil handuk dan melap wajahku. Kami lama bertatapan tanpa tahu berbuat apa. Aku bangkit bersandar di kepala ranjang.

ÔÇ£Sudah dua orang, Rey, berarti masih punya hutang empat orang lagi?ÔÇØ tanyaku.

Rey mengangguk tersipu, lalu bertanya, ÔÇØSebenarnya mama tadi sadar gak sih?ÔÇØ tanyanya.

Aku tak tahu harus menjawab apa kecuali terdiam dan kuyakin wajahku memerah saat itu. ÔÇ£Mama mau ke kamar mandi, Rey, kamu mau ikut?ÔÇØ tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Rey kembali mengangguk. Aku lalu bangkit berdiri berjalan ke kamar mandi, dan tanpa kusadari kembali cairan sperma mengalir keluar dari vaginaku, membuat aliran sungai di paha terus hingga betis. Rey mengikutiku di belakang dan hanya tertegun melihatku berjongkok kemudian buang air kecil. Rey akhirnya juga buang air kecil di toilet.

Kami kemudian mandi air hangat bersama malam itu, saling menyabuni, saling mengusap mengingatkanku ketika dulu memandikan Rey saat kecil dulu, sambil bercakap-cakap ringan. Namun kali ini Rey telah dewasa, menjadi seorang pemuda dengan hormon berlebih sesuai usianya, maka tak menunggu waktu lama penis Rey kembali menegang, dan kembali kutuntaskan hasratnya dengan kocokan tanganku di bawah siraman shower.

Usai saling menghanduki, kami kembali ke ranjang yang kudapati masih santer tercium aroma sex di situ. Tidur bersama anakku di bawah satu selimut dalam keadaan telanjang. Masih ada sisa hari untuk menghadapi empat orang pemuda yang tengah berahi lagi sebelum suamiku datang. Kelelahan membuatku segera terlelap.

***

Silau matahari pagi yang menembus jendela kamar membangunkanku, agak sedikit kaget mendapati aku tak sendirian, baru setelah kesadaranku pulih mulai kuingat peristiwa tadi malam. Rey masih mendengkur halus, tangannya masih hinggap di satu payudaraku, dan kurasakan batang penisnya mengeras menempel di pahaku. Aku tertegun sejenak, sampai akhirnya bangkit dan menyingkirkan selimut, Rey merubah posisi telentang membuat kemaluan kerasnya menjulang ke atas. Here I am, seorang ibu… terbaring telanjang bulat bersama anak lelakinya.

Pikiranku menerawang pada peristiwa penodaanku tadi malam, tentang orgasme hebat yang kurasakan setelah bertahun-tahun tak pernah kualami, tentang bagaimana tubuhku masih sangat menarik bagi laki-laki bahkan yang seumuran anakku, kenapa tak kau nikmati saja? Batinku mulai berdebat. Tanpa kusadari pikiran-pikiran itu menimbulkan rasa geli dalam rongga vaginaku yang segera memproduksi cairan, ditambah lagi menatap batang penis menjulang tegang milik anakku sendiri, membuat tubuhku kembali terbakar nafsu.

Ingin rasanya kukangkangi langsung penis Rey, namun bisikan batin mencegahnya. Entah bagaimana aku bangkit, duduk di antara dua kaki Rey, dan… hap! batang kemaluan Rey dalam hisapan mulutku, sementara kedua tanganku mengocok pelan pangkal penis dan mengusap biji zakarnya.

Rey tersadar, sambil mengusap-usap mata. ÔÇØMama?ÔÇØ itulah satu kata yang diucapkannya sebelum berganti menjadi desisan diantara nafasnya yang tersendat-sendat. Sementara aku sibuk dengan kuluman-kuluman liar, menghisap, mencengkeram batang penis anak kandungku sambil sebelah tangan mengusap-usap vaginaku sendiri.

Rey mengeramasi rambutku, mulutnya tak berhenti mendesis sampai akhirnya ia menekan kepalaku ke bawah dan mendorong pantatnya ke atas lalu kembali semburan sperma panas menyiram kerongkonganku, kali ini milik anak kandungku sendiri, yang segera mengirimkan sinyal-sinyal kenikmatan pada selangkanganku dan…

ÔÇ£Oohh… glek… glek… ohh…ÔÇØ aku menggerung meluapkan perasaan puas saat orgasme melanda namun juga harus menelan cairan mani Rey. Seorang ibu kini berada di titik nadir.

Usai mereguk orgasme masing-masing, kami kembali mandi bersama untuk bersiap beraktivitas pagi ini. Rekan-rekan Rey pamit pergi, kali ini pandangan mereka sangat genit, namun masih menjaga kesopanan.

Sore menjelang matahari terbenam, aku berada di ruang tengah menyaksikan tayangan televisi, tetapi tatapanku kosong tak memperhatikannya, pikiranku menerawang pada peristiwa seminggu terakhir yang merubah jalan hidupku. Aku kini menjadi budak sex pemuda-pemuda teman anakku, meskipun dengan rasa malu kuakui kalau aku juga menikmatinya, mungkin ini yang dimaksud bahwa kehidupan dimulai saat usia 40.

Namun membayangkan bahwa mereka mendokumentasikan semua membuat bulu kudukku berdiri, seketika muncul rasa takut teramat sangat, kini tubuhku dalam keadaan telanjang dan tengah dieksploitasi secara sexual menjadi konsumsi publik, walau sebatas pada website kelompok penikmat ibu kandung tersebut. Dan ketakutanku juga makin bertambah manakala mengingat bahwa aku masih usia subur… namun pernah menerima sperma potensial lelaki lain selain suamiku sendiri, bagaimana jika aku hamil?

Selintas perasaan menyesal menyeruak dalam batinku. Namun nasi telah menjadi bubur, di sisi lain pengalaman luar biasa penuh kenikmatan digarap lelaki yang jauh lebih muda dariku sulit kuenyahkan. Sisi liar diriku mulai meracuni pikiranku, bahwa aku berhak menikmati kehidupan setelah sekian tahun hidup dalam kebosanan, aku berhak dan patut bangga bahwa tubuhku ini masih menjadi magnet yang kuat menarik hati dan berahi para lelaki. Biarlah aku tanggung segala resikonya, dan aku mulai menyusun rencana-rencana jika suatu saat aib ini terbongkar.

Lamunanku pecah ketika suara mobil Rey memasuki halaman. Jantungku berdegup kencang manakala sekilas kulihat ada dua orang lagi bersama Rey tengah bersenda gurau ringan sambil berjalan memasuki rumah. Segera mereka memperkenalkan diri, masing-masing Andi dan Jodi. Mereka pemuda necis yang cukup tampan, dan seperti rekan Rey sebelumnya, mereka menatap diriku dalam dan tajam seolah-olah hendak menelanjangiku.

Setelah basa-basi sebentar mereka menuju kamar Rey. Agak sedikit berbeda, malam itu kami keluar makan malam bersama di sebuah restoran. Suasana malam itu cukup akrab dan mereka cukup sopan walau silih berganti mereka memandangiku terutama sekitar wajah dan dada yang memang pakaianku saat itu cukup ketat dan menampakan belahan dada.

Kami kemudian pulang dan sepanjang perjalanan pikiranku mulai dipenuhi bayang-bayang bahwa malam ini aku akan mengalami ritual yang sama, kali ini dengan tiga orang. Obrolan mereka tak begitu kuperhatikan. Sampai kemudian kami sampai di rumah.

Sesaat setelah memasuki kamar, aku berdiri bersandar di balik pintu. Nyaris tak mampu menopang tubuhku yang gemetar dan gelisah antara takut dan… berahi. Perlahan aku berganti pakaian, kali ini aku berencana memakai gaun tidur yang cukup mengundang, berwarna pink dengan panjang sebatas pangkal paha dan belahan dada dengan bordiran berlubang. Namun tetap memakai beha dan celana dalam berwarna nyaris sama. Hmm… sisi liarku mulai menguasai diriku lagi.

Dengan tegang aku menunggu di tempat tidur, mencoba meminum obat tidur dari Rey, aku terlalu malu mendapati diriku ditelanjangi dan disetubuhi dalam keadaan sadar, tetapi entah mengapa aku dapat tersadar di tengah aksi anak-anak muda ini? Mungkin karena rajin aerobik dan rajin meminum herbal membuat daya tahan tubuhku mampu mengurangi dampak obat tidur tersebut. Mata ini belum terkantuk juga, sampai akhirnya kelopak mataku mulai memberat.

Namun, belum lagi aku terlelap… terdengar suara pintu kamarku terbuka. Membuat rasa kantukku hilang, berganti ketegangan. Derap langkah kaki terdengar pelan, lalu suara tiga orang lelaki bercakap-cakap pelan setengah berbisik. Kurasakan spring bed ditimpa beban berat di kanan kiri tubuhku. Lalu kecupan dua bibir dari dua pria berbeda hinggap di pipiku, kelopak mata, telinga dan… bibirku.

Dalam keadaan tegang, aku sedikit merasa tersanjung, dan tentu saja kecupan di sekitar wajahku itu kemudian diikuti belaian-belaian tangan di lengan, dada dan perutku. Terus menurun ke bawah sampai melewati ujung gaun tidurku, mengusap-usap paha dan… daerah segitiga di antara dua pangkal paha yang masih berbungkus celana dalamku.

Tubuhku serasa menggigil dan susah mengatur nafas untuk berpura-pura tenang dalam tidur. Kini tangan-tangan mereka mulai masuk ke balik kain gaun tidurku, kurasakan telapak tangan menjalari permukaan kulit perutku, sementara dengan nakal lidah salah satu mereka menari-nari di telingaku sementara yang seorang lagi mencoba mencoba menyeruak masuk rongga mulutku, kurasakan kulitku mulai merinding.

Ketika satu tangan masih mengusap-usap kulit halus sekitar perutku, maka satu tangan lagi dengan liar menyusup masuk celana dalamku, menyisir bulu-bulu jembutku yang memang cukup lebat dengan jari jemarinya. ÔÇØWow…lebat dan selembut kapas,ÔÇØ bisiknya sambil terus menciumi wajahku.

Dan nafasku serasa berhenti ketika ujung jemarinya menyentil klitorisku dan mengutak-atiknya, sementara tangan yang semula menjamah perutku kini mulai merayap naik dan mencoba menyusup di balik bra yang kupakai, meremas-remasnya lembut dan memilin-milin putingnya, tanpa sadar aku merintih pelan dan membuka pahaku, membuat dua lelaki muda ini kian bersemangat. Lelaki ketiga kupastikan adalah Rey yang tengah asyik dengan kameranya merekam semua adegan cabul malam itu.

Puas mereka menjamahku, seorang dari mereka kurasakan duduk di sampingku yang kemudian diikuti pria satunya. Kurasakan pengait gaun malamku diturunkan dari pundak ke lenganku, kanan dan kiri. Lalu terus ditarik ke bawah melewati payudara dan perutku, salah seorang kemudian mengangkat pinggangku, memudahkan gaun tidurku lolos melewati pantat dan kemudian kedua kaki.

Kudengar pujian kagum mereka, ÔÇØWow… nyokap lu emang mantap, Rey, jauh lebih sexy ketimbang nyokap gue dan nyokapnya si Jodi.ÔÇØ ujarnya yang kupastikan berarti dia adalah Andi.

ÔÇ£Yoi, nyokap lu rada gendut dikit, man.ÔÇØujar Jodi.

ÔÇ£Tapi lu doyan kan?ÔÇØ ujar Andi.

ÔÇØEmang lu juga gak doyan nyokap gue? Ampe tiga kali lu garap?ÔÇØ jawab Jodi lagi diikuti tawa kecil mereka bertiga.

ÔÇ£Gue gak yakin si Rey ngomong gak pernah ngentotin nyokapnya, barang kualitas super begini masa cuma digesek doang, ya gak, Jod?ÔÇØ

ÔÇØHe-eh,munafik neh si Rey.ÔÇØ ujar mereka berdua.

ÔÇØSudah, gak usah banyak cingcong, udah cepetan.ÔÇØ ujar Rey. Agak sedikit geram mendengar percakapan mereka, bagaimana munkin mereka bisa saling tukar menukar mencicipi tubuh ibu kandung masing-masing? Namun di sisi lain timbul perasaan malu, kalau ternyata aku juga mulai menikmati permainan tabu perkumpulan aneh ini.

Sepasang tangan mengangkat punggungku, melepas kaitan BH dan meloloskannya dari dadaku, sementara sepasang tangan yang lain mengait bagian atas celana dalamku, menurunkannya dengan perlahan hingga melewati telapak kaki. Kini aku terbaring tanpa seutas benang pun diapit dua pemuda dan disaksikan anak kandungku. Kembali decakan kagum kudengar.

ÔÇ£Hhm… anak abg juga kalah, Jod. Selangkangannya… wuuu, kegemaran lu tuh, bulu jembut nan lebat… ssshhh!ÔÇØ ujar Andi.

ÔÇ£Rey, boleh ya? Tempo hari lu juga gituin nyokap gue kan?ÔÇØ tanya Jodi pada Rey yang tak kudengar jawaban dari Rey.

Entah apa maksud Jodi, pikiranku kini terfokus pada hisapan rakus dan remasan kasar pada payudaraku. Lidah seseorang menjilati seluruh gundukan payudara dan putingku seolah-olah sebuah makanan luar bisa lezat. Sesekali rasa seperti tercubit kurasakan, dia tengah membuat tanda pada payudaraku dengan hisapan tajamnya. Dan kembali rintihan tanpa kukendalikan keluar dari bibirku manakala di sebelah bawah kurasakan kedua pahaku dilebarkan dan… jilatan-jilatan rakus mengusap seluruh permukaan vaginaku, dan membuat pinggulku bergerak kanan kiri ketika lidah itu ditajamkan dan mencoba menusuk-nusuk belahan vaginaku.

Lalu sekali lagi… ÔÇØOoohh!ÔÇØ aku merintih ketika sepasang ketiakku dihirup dan dijilati dengan amat liarnya. Kepalaku terlempar ke kanan ke kiri perlahan. Dan… ÔÇØNnngghhh…ÔÇØ rintihanku makin tak terkendali ketika sebuah benda keras mulai menyeruak masuk organ intimku, dan mengorek-ngorek kasar di dalamnya… jari seseorang, tetapi juga masih menjilati klitorisku. Kuyakin, diriku sangat basah di bawah. Aku tak peduli apakah mereka tahu kalau aku sebenarnya dalam keadaan sadar atau tidak, yang jelas rasa nikmat ini menjalari setiap urat syaraf tubuhku.

Dan… ÔÇØMmmmmff!ÔÇØ kali ini rintihanku tertahan ketika lidah seseorang menyeruak masuk memanfaatkan mulutku yang setengah terbuka dan mulai mengecap lidahku, dan tanpa mampu pula kucegah… perlahan tapi pasti lidahku meladeni pergulatan tersebut, saling mengecap, saling membelit… dan akhirnya setengah menggigitnya ketika denyutan-denyutan dahsyat melanda liang senggamaku… aku mengalami orgasme!

Sejenak si empunya lidah tertegun, namun kembali menggeliatkan lidahnya. Lama dua pemuda itu menggarap sisi atas dan bawah tubuhku, sampai kemudian yang di bawah berkata dengan suara mendengus, ÔÇ£Gantian, Ndi!!!ÔÇØ

ÔÇØOkay… setelah lu lakuin ritual wajib lu sebelum ngentot nyokap orang,ÔÇØ ujar Andi.

Tubuhku ditinggalkan sejenak, sedikit penasaran dan takut aku mendengar kata ÔÇÖRitualÔÇÖ. Lalu kudengar suara sesuatu di semprotkan, mengingatkanku pada suara hair spray milikku. Kemudian kurasakan kedua pahaku semakin dilebarkan, pantatku diangkat dan sebuah bantal diganjalkan dibawahnya, aku benar-benar terekspose di hadapan tiga pemuda berahi dan mesum ini. Agak merinding ketika tak berapa lama kurasakan benda basah lembut dan halus namun harum diusapkan ke permukaan vaginaku, dan srrtt… srrrt… srrt… oh my god! rambut kemaluanku dicukur!!! Menimbulkan sensasi luar biasa dalam relung hati dan tubuhku… antara takut, geli dan erotisme.

Cukup lama sampai bulu jembutku mungkin dicukur habis sampai kemudian sehelai kain basah mengusap-usap membersihkan vaginaku. ÔÇØOowww… mulus dan menggoda.ÔÇØ ujar Andi.

ÔÇØLumayan buat nambah koleksi kenang-kenangan, impas ya, Rey… Eh, belum ding, kan belum gue garap.ÔÇØ ujar Jodi. Berarti selama ini Rey juga berbuat kurang ajar pada ibu-ibu mereka.

Belum usai aku bertanya-tanya, kini kembali kemaluanku yang kali ini polos tanpa bulu menerima jilatan-jilatan lidah dan tusukan-tusukan jari-jari seseorang. Membuat pinggulku kembali bergerak-gerak gelisah. Tak lama kemudian kembali lagi payudaraku digarap, bahkan hisapan-hisapan kecil menimbulkan sedikit rasa perih kembali harus kuterima, kali ini lebih sering, dan… ÔÇØOwh!ÔÇØ aku merintih ketika benda keras besar menyeruak masuk membelah vaginaku. Aku mulai disetubuhi!

ÔÇ£Minggir, Jod!ÔÇØ ujar Andi. Jodi menyingkir, kini tubuhku milik Andi seutuhnya.
Kurasakan badannya menindih tubuhku, ia menciumi wajah dan payudaraku sementara pinggulnya mulai bergerak maju mundur, pelan tapi pasti dengan kecepatan yang terus bertambah. Aku hanya bisa pasrah menikmati sensasi luar biasa ini.

Hembusan panas nafasnya mendera wajahku. Lenguhannya cukup ribut dan sesekali diiringi rintihan tertahan dari mulutku. Desakan-desakan batang kemaluannya dalam liang vaginaku menimbulkan suara becek yang membuat aku malu bahwa aku sangat basah pertanda menikmati pergulatan antar kelamin itu. Jilatan-jilatan lidahnya di telingaku ditambah tusukan-tusukan kejam penisnya pada lubang kemaluanku merupakan sebuah kombinasi aksi yang mendatangkan kepuasan biologis pada segenap jiwa dan ragaku.

ÔÇØNnngghhh…ÔÇØ aku merintih dan mengejang ketika kembali mengalami orgasme. Andi terus bergerak bagai piston seakan-akan ingin meremukan tubuhku yang kini basah oleh keringat kami berdua, namun menjelang denyutan-denyutan ringan sebelum hadirnya orgasme kembali kualami, tiba-tiba ia bangkit dan otomatis penis tegangnya meninggalkan diriku menimbulkan suara yang cukup memalukan dari udara yang terlepas keluar vaginaku.

Kurasakan diriku dibalik dan ditelungkupkan sementara dua bantal ditumpukan mengganjal perutku, aku seperti menungging… Andi akan menyetubuhiku dari belakang, suatu hal yang tak pernah kualami dalam kehidupan seksualku yang monoton bersama suami. Dan… ÔÇØOooohh!ÔÇØ kembali aku merintih ketika batang penis keras itu kembali menggali kenikmatan lubang vaginaku.

Tangan Andi memegang pinggangku dan kembali suara kecipak beradunya dua kelamin terdengar. Andi dengan tenaga mudanya kian kejam tanpa ampun menusuk dalam-dalam liang vaginaku. Tubuhku terguncang-guncang hebat mengikuti irama suara derit pegas spring beda. Sampai kemudian lenguhannya makin keras… dan keras… dan…

ÔÇ£Uuuughhhs!ÔÇØ pinggangku ditarik ke belakang dan harus menerima hentakan-hentakan keras dengan interval pendek dan kemudian ditahan, lalu kurasakan semburan-semburan cairan panas mengisi rongga vaginaku yang seketika itu pula membuat kembali mengejang menikmati setiap denyut orgasmeku berikutnya.

Andi mencabut kemaluannya dan meninggalkanku yang tak berapa lama kembali benda tumpul keras menjajah rongga vaginaku. Masih belum mereda aku terbuai orgasme, kembali tubuhku terguncang-guncang hebat. Kali ini tangannya tak memegang pinggangku tapi hinggap meraup kedua payudaraku. Gerakannya sama gesit dengan Andi yang mungkin saat ini tengah turut menyaksikanku. Aku kembali merintih dan merintih walau setengah berbisik. Aku benar-benar bak pelacur murahan, namun aku menikmatinya.

Cukup lama aku digarap dari belakang sampai kemudian kembali sebuah hentakan dalam-dalam dan tertahan terjadi, diikuti sensasi rasa hangat dari semburan deras air mani lelaki yang segera kembali memacu orgasmeku. Ia baru meninggalkanku setelah kurasakan kemaluannya mengerut mengecil.

Namun siksaan belumlah usai… kali ini untuk ketiga kalinya batang penis lelaki yang bukan suamiku mereguk kenikmatan cengkeraman vaginaku. Aku tak perlu menduga-duga ini siapa lagi selain kemungkinan besar Andi yang ingin mencicipi tubuh sensualku sekali lagi, namun nyaris aku terlonjak dan berteriak ketika salah satu mereka berkomentar, ÔÇØNah, gitu dong, Rey… jangan jaim lah. Lu kan tahu sendiri gue pernah ngentotin nyokap gue sendiri, si Jodi juga.ÔÇØ itu suara Andi.

Aku nyaris ingin memberontak, tetapi itu akan membuka aibku sendiri bahwa aku sebenarnya sadar dan menikmati dicabuli mereka. Kini garis pembatas ibu dan anak telah dilanggar, sulit kubayangkan kini penis anakkulah yang mengacak-acak liang tempat dia dulu dilahirkan. Aku merasa marah dan kecewa, tetapi di sisi lain mencoba mulai berkompromi dengan kenyataan, bahwa ini semua tak terlepas dari kesalahanku yang membiarkan ini terjadi, bagaimanapun garis batas itu telah kulanggar juga karena pernah memasturbasi anakku sendiri. Aku terdiam pasrah menerima hujaman-hujaman kemaluan tegang dan keras dari Rey, moodku telah hilang lenyap. Seperti Jodi, Rey juga mencengkeram payudaraku.

ÔÇ£Ayo, Rey… terus, mantap!ÔÇØ ujar rekan-rekan Rey menyemangatinya diringi suara dengingan kamera.

ÔÇØOohhh… mama… mama… shhhhh…ÔÇØ itulah desisan terakhir Rey sebelum ia menumpahkan spermanya dalam lubang senggama ibu kandungnya. Sampai penisnya melunak ia baru meninggalkan tubuhku.

ÔÇ£Hey, udah-udah, kita cabut sekarang.ÔÇØ ujar Rey masih terengah-engah.

ÔÇØGak ada ronde kedua neh, Rey?ÔÇØ

ÔÇ£iya neh… man, gue ngaceng lagi neh.ÔÇØ ujar rekan-rekan Rey.

ÔÇØGak ada, gue juga ngentotin nyokap lu-lu orang cuma sekali.ÔÇØ jawab Rey.

ÔÇØOh please, Rey, bisa gue atur…ÔÇØ ujar Andi.

ÔÇ£Gue kasih waktu lima menit untuk lu berdua, keluar gak keluar bukan urusan gue… buruan!ÔÇØ ujar Rey.

Tanpa membuang waktu, dua rekan Rey kembali menyetubuhiku dari belakang, membuat nafsuku kembali bangkit. Kembali springbed itu mengeluarkan suara berderit-derit. Karena ingin cepat-cepat orgasme, gerakannya sangat cepat… namun belum lagi usai menuntaskan hajatnya, segera digantikan paksa orang kedua yang tak kalah ganasnya membombardir vaginaku dengan rudal balistiknya.

Lelaki pertama kurasakan berada disampingku dari denyutan pegas springbed di sisi kiriku, ia melakukan masturbasi dan… crot… crot… crot… cairan kental hangat hinggap di atas punggungku Sementara di belakang, suara kecipak vaginaku kian keras seiring cepatnya gerakan keluar masuk batang penis keras milik teman Rey itu, lalu tiba-tiba berhenti namun tetap tinggal di dalam dan seiring keluhannya saat itu pula kembali liang vaginaku menerima tsunami kecil sperma kental dan panas yang menimbulkan efek berantai kembali menggeloranya puncak kenikmatan biologis tiba dalam diriku.

Mereka menciumi wajahku sebelum meninggalkanku yang masih bersandiwara seolah-olah tidak mengetahui apa yang terjadi. Setelah yakin mereka pergi, aku bangkit perlahan meninggalkan ranjang. Setengah limbung aku berusaha berdiri dan segera bergelas-gelas cairan sperma putih kental mengalir keluar dari vaginaku, menetes di lantai dan menciptakan sungai kecil mengalir di pahaku terus ke bawah.

Kutatap tubuh telanjangku di cermin, masih basah berkeringat. Payudaraku memerah di sana sini dari cupangan nakal Andi dan Jodi. Kuputar tubuh dan segera kudapati cairan sperma mengalir pelan di punggungku. Wajahku masih tanpak memerah dari rasa puas dan lelah sekaligus, belum pernah aku mengalami orgasme beberapa kali dalam semalam kecuali di tangan anak-anak muda itu.

Aku berjalan gontai ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dan kemudian berusaha tidur, masih dalam keadaan telanjang. Aku punya rencana untuk Rey yang telah kurang ajar menyetubuhi diriku, ibu kandungnya. Sial… dua hari lagi suamiku tiba. Dalam hati aku berfikir, ada kelegaan bahwa semua petualangan mesum ini akan berakhir, namun di sisi lain muncul juga kekecewaan bahwa aku tak akan mengalami lagi peristiwa ultra sensual sebagaimana yang terjadi malam ini. Benarkah demikian?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*