Home » Cerita Seks Mama Anak » Perkumpulan Rahasia 2

Perkumpulan Rahasia 2

Cerita Sebelumnya : Perkumpulan Rahasia 1

Kembali dokter mengatakan bahwa aku baik-baik saja, resep yang sama juga kuterima : banyak istirahat dan minum vitamin. Setelah dari dokter, aku meninjau tempat usahaku. Sore menjelang maghrib baru pulang ke rumah. Rey sudah di ruang keluarga bermain playstation ketika aku tiba.

ÔÇØDah pulang, Rey?ÔÇØ tanyaku sembari melepas sepatu.

ÔÇØHe-eh, darimana, ma?ÔÇØ tanyanya.

ÔÇ£Biasa, lihat butik dan salon mama, anak mama udah makan? Neh mama bawain donat.ÔÇØ sembari meletakan sekotak donat di meja depan Rey duduk.

ÔÇ£Wah, asyik nih. Tapi lebih mantep lagi kalau ditemani teh hangat, setuju ma?ÔÇØ tanya Rey.

Aku hanya tersenyum dan duduk sementara Rey menuju ke dapur. Kami menghabiskan donat sambil minum teh mengobrol ngalor ngidul. Dan kembali… 15 menit kemudian mataku memberat, entah bagaimana aku kembali tertidur. Dan kembali lagi, jam 3 dini hari aku terbangun di atas spring bed-ku.

Di tengah temaram lampu kamar, kukedip-kedipkan mata mencoba menghilangkan rasa kantuk. Kudapati tubuhku kembali tertelungkup, aku beringsut mencoba telentang, hmm… aku masih mengenakan blusku tadi, kancing semua tertutup hanya saja agak janggal mendapati beberapa kancing tidak berada pada tempatnya. Resleting rokku di belakang juga terbuka, dan ujung atasnya melorot sampai pinggulku, menampakan separuh pantatku yang masih terbungkus celana dalam.

Aku terduduk. Aku ketiduran lagi, apa yang terjadi pada diriku? Aku bangkit menuju kamar mandi, rasanya kebelet buang air kecil, sampai tiba-tiba kakiku menginjak sesuatu. Samar-samar dalam temaram cahaya lampu kuambil, lho… celana dalamku, bukankah ini yang kupakai sore tadi? hatiku bertanya-tanya heran sambil meraba selangkanganku… aneh, juga masih pakai celana dalam.

Kuletakan celana dalam hitam itu ke keranjang pakaian kotor, lalu aku pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Sesaat aku melepaskan rok di pintu kamar mandi, kemudian masuk ke dalam, melorotkan celana dalam sampai sebatas lutut, lalu jongkok untuk kencing. Srrrrrr… air seni mengalir deras dari kemaluanku, sampai mataku tertumbuk pada celana dalam yang kupakai… berwarna merah dari bahan seperti jaring dengan kain selubung vagina ke belakang sampai ke atas sangat tipis. Aku tak mengenali celana dalam ini, aku semakin heran.

Usai buang air kecil dan membersihkan kemaluan dan melepas celana dalam merah itu. Kuhidupkan lampu kamar, di depan meja rias aku perhatikan baik-baik, kubalik-balik. Oh ya… aku ingat, aku pernah membeli celana dalam ini, hanya saja aku lupa kapan, tapi aku yakin sudah cukup lama, kubeli untuk menyenangkan suami dulu sekali.

Hatiku mulai berdegup kencang, ini suatu keanehan, pikirku. Lalu kubuka laci paling bawah meja rias tempat aku menyimpan celana dalamku. Nampak teracak-acak, tidak seperti biasanya rapi teratur, karena aku adalah orang yang rapi. Hmm… aku mulai curiga pada Rey. Ini pasti ulahnya, memanfaatkan kesempatan saat aku terlelap. Oh… Rey, kurang ajar kamu.

Emosiku bangkit, ingin segera aku melabraknya, namun aku masih bisa menahan diri. Hati kecilku berkata untuk sabar dan untuk tidak menuduh langsung, semua harus dibuktikan, pikirku. Ya… bukti. Tapi bagaimana? Dan hatiku yang lain justru berdesir sedikit… entah perasaan senang atau tersanjung… sulit kugambarkan… bahwa aku menjadi objek ketertarikan seksual seorang anak muda walau itu anak kandungku sendiri, tapi perasaan itu kutepis.

Singkat kata, aku ingin memberi pelajaran pada Rey walau aku bingung bagaimana mengatur strateginya. Aku segera mengganti pakaian kerja dengan gaun tidur, mencoba tidur kembali.

***

Pagi itu, Rey sama sekali tak menunjukan sikap rikuh, santai selengekan seperti biasa. Lalu pamit pergi. Agak malam Rey baru kembali, aku masih membuka laptop di ruangan tengah.

Rey berkata, ÔÇØTumben gak ketiduran lagi, biasanya langsung ngorok di sofa.ÔÇØ ujarnya sambil nyengir.

Aku sedikit tersentak, benar juga ya. Kenapa sampai jam 7 malam ini aku belum merasakan ngantuk seperti biasa? Rey kembali membawakan teh hangat dan sekotak martabak telur yang dia beli tadi. Seperti biasa, terjadi obrolan ngalor ngidul.

ÔÇ£Emm… ma, emang gak kesepian ditinggal papa terus?ÔÇØ tanya Rey.

ÔÇØAh… udah biasa, saking seringnya jadi gak terasa tuh.ÔÇØ jawabku.

ÔÇ£Emm… maksud Rey anu…ÔÇØ ujar Rey terbata.

ÔÇØHhm… kamu mulai kurang ajar ya, mama tahu, maksudnya kehidupan seksual, gitu? Itu rahasia perusahaan, hubungan kami baik-baik aja… buktinya telah lahir manusia tengil seperti kamu di tengah keluarga ini.ÔÇØ jawabku agak ketus.

ÔÇØWow… gitu aja marah, Rey kan cuma tanya, ma.ÔÇØ ujar Rey lalu terdiam. ÔÇ£Boleh tanya lagi gak, ma?ÔÇØ tanya Rey lagi.

ÔÇØTanya apa?ÔÇØ jawabku sambil masih terfokus pada laptop.

ÔÇØMm… mama kok masih cantik yah… dan…ÔÇØ

ÔÇ£Dan apa?ÔÇØ tanyaku sambil tersenyum.

ÔÇ£Dan sexy… apalagi kalo pake piyama kek gitu.ÔÇØ ujar Rey.

ÔÇ£Ah… kurang ajar kamu. Aku ini mamamu lho, kamu sejak putus pacaran jadi aneh-aneh deh,ÔÇØ jawabku, walau dalam hati ada benarnya juga, piyama yang kupakai berbahan agak tipis, bagian dada mengikuti bentuk payudara, sementara di bawah celana pendek sebatas lutut. Tak terlalu aneh sebenarnya, hanya saja dimata anak muda penuh gairah tentu jadi berpikir sesuai imajinasinya. Lalu… denggg! Kembali rasa kantuk menyerangku, kali ini aku bangkit menuju kamarku.

ÔÇØUdah ah, Rey, mama mau tidur, dah ngantuk banget.ÔÇØ ujarku sambil membawa laptop menaiki tangga menuju lantai dua. Di dalam kamar, aku segera rebah dan menghilang dalam mimpi.

Jam meja menunjukan pukul 02.30 ketika aku terbangun. Mataku mengedip-ngedip sesaat, memeriksa pakaianku. Tak ada yang janggal kecuali bra yang terlepas dari kaitannya, biasa kualami saat tidur. Celana pendek yang kupakai juga masih pada tempatnya. Demikian juga celana dalam, masih kupakai… hanya saja, kok terasa agak basah di bagian vagina sampai pantat? Apakah aku mengompol? Kurasakan aku memang serasa ingin menumpahkan isi kandung kemihku. Aku beranjak ke kamar mandi, melepas celana pendek dan celana dalamku lalu kencing.

Usai membasuh vagina dan keluar, kuambil celana dalam merah muda yang kupakai tadi, kudekatkan ke hidung dan tercium bau yang kukenal… sperma!!! Jantungku langsung berdegup kencang, seseorang telah menumpahkan sperma ke celana dalamku… atau justru vaginaku? Kumasukan jariku ke dalam vagina, terasa tak terlalu basah, normal, dan tak ada rasa benda asing pernah memasukinya. Hmm… berarti kemungkinan dia menumpahkan di permukaan vagina atau celana dalamku.

ÔÇ£Rey…ÔÇØ pikirku, aku harus memberinya pelajaran saat ini juga. Kukenakan pakaian lalu menuju kamar Rey di lantai 3. Tak terkunci, pintu agak terbuka, kudapati ia tengah tertidur dengan pulas, sepertinya tak tega aku bangunkan lalu memarahinya. Laptopnya masih menyala, kusentuh touchpadnya, sedikit terkejut kudapati sebuah website berisi gambar-gambar porno wanita setengah baya sepertiku, ada yang bule dan asia.

Aneh, kok si Rey senang dengan wanita yang lebih tua, pikirku. Lalu kubuka tab sebelahnya, semacam sebuah forum, juga berisikan gambar-gambar wanita setengah baya setengah telanjang, namun punya satu kesamaan, semuanya tertidur. Dengan berdegup kencang, kutelusuri terus ke bawah. Dibawahnya ada komentar-komentar.

ÔÇØGue ambil pukul 20.00 malam, gimana, bos? Mantap gak? Gantian dong lu yang posting.ÔÇØ

ÔÇ£Tanya, lu kasih apaan sampe gak sadar begitu.ÔÇØ

ÔÇØNeh, lu kasih aja ******* campur ***** sebenarnya lebih cepat pake minuman bersoda dan lebih lama efeknya, tapi campur teh juga bisa kok.ÔÇØ

ÔÇØMang lu gak terangsang bos?ÔÇØ

ÔÇØGue lelaki normal brur, yang penting MILF bugil, biar kata emak gue sendiri juga.ÔÇØ

ÔÇØDah lu apain aja bos?ÔÇØ

Tiba-tiba Rey bergerak, aku terkejut namun melihat ia masih tertidur. Kutinggalkan kamar Rey, di dalam kamar tidurku aku berfikir. Ohh, jadi Rey ikut semacam perkumpulan penggemar foto telanjang ibunya masing-masing. Aku semakin gusar, jangan-jangan Rey telah memotret diriku, sialan, dia telah mencampuri obat tidur dalam teh yang disajikannya. Aku harus buat perhitungan.

Sore itu Rey kembali membuatkan aku teh. Namun kali ini aku tak tertipu, kutunggu kesempatan untuk membuang teh itu, namun Rey masih duduk bersamaku, hmm… munkin 3-4 teguk tak akan berefek apa-apa, pikirku, hanya seperempat gelas teh itu kuminum.

Jam menunjukan pukul 8 malam ketika aku pamit pada anakku untuk tidur. Ternyata aku salah, seperempat gelas teh tadi tetap membuatku mengantuk tak tertahan, hingga tak mampu kucegah, aku pun tertidur.

Aku bermimpi berjalan di suatu padang, tiba-tiba kilatan demi kilatan cahaya petir menyambar. Aku tersadar ini hanya mimpi, namun di tengah separuh kesadaranku kurasakan cahaya kilat itu tetap menyambar-nyambar membuatku silau, mataku menyipit menyaksikan kilatan demi kilatan cahaya, kulitku langsung merasakan dingin hawa AC.

Tiba-tiba jantungku berdegup kencang, oh… Rey sedang memotretku. Posisiku terduduk bersender di kepala ranjang jati berukir beralaskan bantal di punggung, kurasakan baju tidurku tersingkap ke atas, sementara kakiku tertekuk seperti jongkok… dan aku tak mengenakan sehelai benangpun di bawah. Nafasku nyaris berhenti.

ÔÇ£Uhh… mama cantik sekali, uhh… mama!ÔÇØ ujar Rey setengah berbisik sambil terus memotretku yang aku yakini menggunakan kamera digital yang kubelikan sebelum ia berangkat ke jogja semester lalu. Rasanya aku ingin marah, namun rasa tegang mencegahku berbuat lebih jauh kecuali pasrah apa adanya.

Rey berhenti memotret. Kurasakan gerakan springbed seperti ditimpa sesuatu. Aku semakin tegang menunggu sesuatu yang akan terjadi, dan tiba-tiba kurasakan sebuah benda di sisi-sisi luar mataku. Rey memakaikan kacamata bacaku. Lalu kembali kilatan-kilatan blitz menembus pelopak mataku.

ÔÇØOohhhh… mama wanita tercantik yang pernah aku temui.ÔÇØ bisik Rey lagi.

Anak kurang ajar, sungguh teganya dia berbuat ini padaku, rasanya ingin kumenangis saat itu juga dan ingin mendampratnya habis-habisan, tetapi aku terlalu tegang untuk bergerak di samping kurasakan perasaan aneh menjalari setiap pembuluh darahku. Aku tak bisa menggambarkan entah itu peristiwa paling mengerikan dalam hidupku atau paling erotis yang pernah aku rasakan.

Duduk telanjang di hadapan anak kandung yang menikmati tubuh indah ibunya dan… menyaksikan organ tubuh tempat ia lahir dulu. Aku merasa ada yang menggelitik vaginaku walau Rey tak menyentuhnya. Beberapa menit Rey memotretku sampai kemudian berhenti. Kembali mendekatiku, melepas kacamata bacaku, lalu kembali mendekat, mendekat, sampai kurasakan dengusan nafasnya di wajahku. Ia mengecup bibirku, dan… ahh… sentuhan jemarinya di payudaraku membuatku hampir meloncat, namun sekali lagi aku terlalu tegang untuk bertindak.

Bulu kudukku mulai berdiri ketika ia memilin-milin pelan payudaraku lalu membetotnya pelan untuk kemudian dilepaskan, terus beberapa kali ia ulangi perbuatannya pada organ tempat dia semasa bayi mendapat gizi. ÔÇ£Ouh… tetek mama masih sekencang cewek abege,ÔÇØ bisiknya.

Kini hanya sebelah tangannya yang memainkan payudaraku, tangan satunya terus menuruni dada, perut dan… hinggap di timbunan bukit bercelah bertumbuhkan bulu-bulu hitam keriting lebat. Vaginaku! Kali ini nafasku mulai tak beraturan, antara tegang, marah, kecewa dan… terangsang hebat bercampur aduk.

Jemarinya mulai mengeramasi bulu-bulu pubisku, lalu menyentil pelan klitorisku, terus beberapa menit, sampai kemudian jemarinya membuka bibir vaginaku. Mengusap-usapnya, lalu perlahan memasuki diriku. Menggeliat-geliat di dalam lalu menariknya setengah keluar untuk kemudian didorongnya masuk kembali, terus seperti itu, semakin lama semakin cepat.

Aku masih berpura-pura terdiam walau nafasku makin tak teratur, antara perasaan terhina dan marah sekaligus malu… malu mendengar suara vaginaku yang basah digarap jari jemari anak kandungku sendiri.

ÔÇ£Ooh… mama, mama basah sekali!ÔÇØ ujarnya. Kurasakan ia menarik jemarinya dari liang senggamaku, dan kudengar suara hisapan dari mulutnya, ia tengah menikmati cairan dari pusat kewanitaanku, membuatku semakin terhanyut suasana erotik malam itu.

Kembali ia hujamkan jarinya ke dalam liang dimana ia dulu lahir, untuk kemudian kudengarkan lagi suara hisapan mulutnya, terus beberapa kali sampai aksi terakhirnya menyetubuhi diriku dengan jemarinya sampai kemudian ia kurasakan berdiri di hadapanku.

Tiba-tiba kurasakan ujung benda keras namun elastis menyentuh pipiku, kurasakan ujungnya agak basah. Lalu menyentuh hidungku, aromanya segera kukenali sebagai… penis lelaki!!! Apa yang dia lakukan padaku, dia benar-benar… Splas! Splas! Splas! pikiranku berhenti sesaat, merasakan cairan kental panas menyemprot wajahku, mata, hidung, pipi, bibir, leherku tak luput dari serangan cairan asing yang kupastikan adalah… cairan sperma anak kandungku!

ÔÇØOoh… mama, ssssshh…ÔÇØ bisik Rey seraya mendesis. Aku masih terdiam, sebagian sperma merembes ke dalam bibirku.

Kembali kilatan-kilatan cahaya menembus pelopak mataku, anakku kini memfotoku dalam keadaan wajah bermandikan cairan air maninya. Beberapa kali ia ambil sampai akhirnya mendekatiku, melapkan kain basah ke wajahku. Mengangkat diriku untuk dibaringkan, merapikan bra menutup payudaraku walau kaitnya tak terpasang, memakaikan celana dalam dan celana piyamaku lalu kembali mengecup bibirku. Dan akhirnya keluar kamar.

Perlahan aku membuka mata, mencoba mengatur nafas. Pikiranku menerawang tak karuan. Rey, apa yang kau lakukan? Tak terasa air mataku mulai berlinang… Oh Rey, kau telah menodai ibumu nak.

Aku mulai menangis, lalu bangkit menuju kamar mandi, buang air kecil dan membasuh wajahku. Lalu melihat wajahku di cermin, sambil berkata dalam hati, mengapa kau tak mencegah anakmu mencabulimu, bodoh?

Lama pikiranku berkecamuk sampai kuputuskan untuk tidur, pintu kamar kali ini kukunci rapat.

***

Esok pagi kembali Rey tanpa beban bertemu denganku. Ia kembali pamit keluar. Sepeninggalnya pergi, aku termenung bingung memikirkan apa yang akan kulakukan. Kucoba memasuki kamarnya, namun terkunci. Cukup lama aku mengutuk diriku sendiri dan memendam amarah pada Rey, hanya saja yang aku heran kenapa akhirnya aku putuskan untuk mencoba menjebak Rey lagi nanti malam.

Kembali menjelang maghrib Rey pulang, kali ini aku memakai gaun tidur tank top terusan yang cukup sexy. Mata Rey segera berbinar namun tak berani memujiku, takut kusemprot lagi mungkin. Ritual menyodorkan teh hangat buatannya kembali terjadi, kali ini aku punya ide. Menyuruh Rey mengambil laptopku di kamar lalu membuang semua teh yang dibuatnya tadi.

Kami makan malam bersama, dan mata Rey tak pernah lama berpaling dari tubuhku, terutama tonjolan payudaraku yang berukuran 36 itu. Kami duduk di sofa menikmati tayangan TV sampai kemudian Rey ke dapur dan kembali membawa irisan buah apel. Kunikmati buah apel tersebut sambil mengobrol bersama Rey.

Pukul 20.00 malam aku pamit ke kamar tidur. Kali ini aku gak mungkin ketiduran, pikirku. Kucoba menenangkan pikiran, menyiapkan mental untuk memberikan kejutan buat Rey. Tapi aku salah, aneh entah kenapa mataku kembali sangat mengantuk.

Pukul 2 dinihari kembali aku terbangun, mataku menyipit silau dengan cahaya lampu kamar yang menyala terang ditambah kilatan-kilatan cahaya. Kudapati diriku tertelungkup, namun kurasakan lutut dan betisku merasakan dingin lantai marmer kamar, dan dingin udara ac kurasakan menyentuh semua kulitku dari wajah sampai mata kaki. Oh tidak, aku telanjang total dalam keadaan separuh tubuh berbaring di atas dada namun kaki menjuntai ke bawah ranjang, seperti orang merangkak. Kurasakan tangan seseorang… Rey mencoba melebarkan kakiku.

ÔÇ£Nah begini, ma, sshhhh… so sexy.ÔÇØ bisiknya. Lalu kilatan demi kilatan cahaya menyinari dinding kamar. Rey memotretku lagi…dari belakang.

Selintas aku membuka mata, menyaksikan bayangan diriku di cermin meja rias, telanjang pasrah, sementara kilasan bayangan tangan Rey menyentuh dan mengelus-elus pantatku yang menyembul. Oh… ibu macam apa yang membiarkan anaknya mengambil gambar tubuhnya yang telanjang untuk kemudian disebarkan di dunia maya? Sekali lagi entah karena rasa tegang, entah karena menikmati sensasi, aku diamkan ulah Rey.

Tiba-tiba kilatan cahaya blitz itu berhenti. Aku tak bisa mendeteksi gerakan Rey, kecuali dengusan nafas hangatnya kurasakan meniup pantatku. Lalu… seolah nafasku berhenti saat merasakan benda lunak basah mengusap-usap pantatku. Lidah manusia… pikirku, membuat aku merinding dan gemetar. Lidah Rey mengusap-usap, menjilat semua permukaan bokong indahku, kanan dan kiri, sampai kurasakan seolah nyawaku melompat keluar tubuh ketika lidah Rey hinggap di… anusku.

Tak sadar mulutku mengeluarkan suara rintihan halus. Rey tiba-tiba berhenti menjilati anusku, cukup lama… sampai kemudian kembali membasahi saluran pembuanganku dengan air liurnya. Sampai kemudian dengusan nafas panasnya menghembus vaginaku, dan tak memakan waktu lama sebelum kembali lidah hangat itu kini mengecap, menjilat dan mulut Rey menghisap- hisap lubang peranakan tempat ia dilahirkan dulu, Rey seperti orang kehausan mereguk saripati kewanitaanku.

Reaksiku sendiri, tak mampu berbuat apa-apa kecuali mengejangkan kaki menahan rasa geli dan nikmat di tengah perasaan marah dan terhina. Cukup lama Rey membasuh permukaan vaginaku dengan lidahnya, sampai kurasakan jilatan itu berhenti, yang entah kenapa membuatku sedikit kecewa. Tiba-tiba kurasakan benda panjang keras menyusup belahan pantatku… lagi-lagi aku yakin itu penis seorang pria. Penis Rey. Rey mengusap-usapkannya dari pelan, pelan, hingga semakin cepat, sesekali ia berhenti, kudengar suara orang meludahi pantatku, dan seketika itu pula kurasakan cairan hangat mengalir ke bawah. Rey tengah melumasi pantatku dengan air liurnya, lalu kembali mengusap-usapkan penis kerasnya, jemari-jemarinya mencengkeram pantatku.

ÔÇØSssssh… mama, pantat mama sexy sekali… sshhh!ÔÇØ Lalu… Splash! Splash! Splash! Cairan kental panas hinggap di punggung, pinggang, pantat lalu mengalir ke bawah melewati vaginaku. Rey ejakulasi lagi, pikirku.

Cengkeramannya mereda seiring redanya dengusan nafasnya, kembali kurasakan kain basah melap semua tubuh belakangku. Kembali ia angkat tubuhku ke ranjang, memakaikan gaun malam dan celana dalamku, kali ini ia tak memakaikan bh-ku, munkin terburu-buru, lalu mematikan lampu kamar, menghidupkan lampu tidur dan menutup pintu kamar.

Aku menarik napas mencoba menggapai kembali oksigen yang nyaris tak masuk ke dalam tubuhku dengan peristiwa tadi. Pikiranku masih sangat tegang dan kembali mengutuk diri atas sikap diamku tadi, namun aku merasa amat malu karena… sedikit banyak aku menikmatinya, kususupkan tangan ke celana dalamku, tak begitu surprise mendapati bahwa… vaginaku teramat basah, bukan oleh cairan tubuh Rey, tapi tubuhku sendiri.

Aku heran, bagaimana mungkin aku masih bisa ketiduran? Teh sudah kubuang, oh my… apakah mungkin buah apel tadi? Kulihat Rey sama sekali tak memakannya. Hmm… haruskah besok kutolak semua yang disuguhkan Rey? Tetapi apakah dengan tetap terjaga aku mampu menolak semua yang dilakukan Rey atas tubuhku, ibu kandungnya? Tanyaku lagi.

Kembali menghadapi dilema… kembali perasaan malu teramat sangat menderaku. Aku bingung tak tahu berbuat apa. Apa yang dilakukan Rey sungguh tak patut, tetapi sungguh tak patut pula aku membiarkan prilaku itu. Satu poin penting yang membuatku menghargai Rey, dia tak pernah memasukan penisnya ke dalam vaginaku, artinya dia masih punya batasan. Baiklah, lebih baik aku dalam keadaan tidak sadar saja menerima perbuatan Rey… kendati kerap terbangun di tengah aksinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*