Home » Cerita Seks Mama Anak » Perkumpulan Rahasia 1

Perkumpulan Rahasia 1

Aku tak pernah mengatakan bahwa 25 tahun pernikahanku adalah buruk, sejak malam pertama semua berjalan indah dan bahagia sampai kemudian 7 tahun terakhir kurasakan membosankan. Dari segi materi, kehidupan kami bisa dikatakan masuk kalangan menengah atas. Aku sendiri adalah pemilik sebuah butik dan salon yang cukup ternama. Suamiku, seorang marketing dari kantor cabang regional sebuah perusahaan internasional pemasok obat dan alat-alat medis, aktivitasnya seputar seminar dan presentasi pengenalan produk ke berbagai rumah sakit di berbagai daerah dan tentu saja menuntut terciptanya hubungan personal dengan klien ,seperti golf bersama dan lain-lain.Hal itu menyebabkan ia sangat jarang berada di rumah, meskipun banyak memberikan kesejahteraan materi yang amat berlimpah. Kami tinggal di komplek perumahan mewah di pinggiran Jakarta.

Kehidupanku mulai terasa sepi ketika anak-anak beranjak dewasa. Anakku yang tertua, Eva, baru saja menikah dan ikut suaminya ke luar negeri. Sementara anakku yang kedua, Rey, masih kuliah semester 4 di sebuah PT di Jogjakarta. Dulu, ketika suami mulai menanjak kariernya dan mulai jarang di rumah, aku masih terhibur dengan kehadiran anak-anak, kini aku hanya ditemani pembantu lepas yang pulang kerja sore hari. Untunglah aku masih punya usaha untuk membunuh waktu dan sepi serta sesekali berkumpul bersama rekan-rekan sosialita, atau ke gym dan spa. Lingkungan sekitar sangat jarang bergaul, mereka juga orang-orang kaya yang sibuk.

Akhir-akhir ini aku merasa sering kelelahan, terkadang sepulang melihat butik dan salonku kudapati diriku tertidur di sofa. Entah karena faktor usiaku yang sudah 45 tahun atau karena terlalu banyak beraktivitas? Ya, dulu kegiatanku paling seputar bersosialita atau ke gym saja, kini semakin bertambah sejak kumulai usaha sendiri 4 tahun lalu.

Esoknya kuperiksakan diri ke dokter langgananku, dokter mengatakan tidak ada masalah, hanya menyuruhku untuk banyak istirahat dan memberikan resep vitamin. Kuturuti saran dokter, aku mulai menunjuk manager untuk mengelola bisnisku. Aku lebih banyak berada di rumah, hanya sesekali keluar untuk aerobik di gym. Ya, aku memang rutin merawat dan menjaga postur tubuhku. Siapa yang tak khawatir suamiku berpaling ke wanita lain mengingat karier dan kemapanannya? Walau jujur, kecurigaan itu pasti ada.

Namun, lama-lama bosan juga di rumah. Walaupun nasihat dokter ada benarnya, aku jadi kembali bugar. Aku tengah membaca majalah sore itu ketika tiba sebuah mobil parkir di carport depan garasi. Tak lama pintu di ketuk dengan cukup keras. Rey, pikirku senang. Sudah kebiasaannya, anak muda enerjik itu suka mengetuk pintu keras-keras walau sering dimarahi ayahnya.

Aku beranjak membuka pintu, ÔÇØRey, anak mama.ÔÇØ ujarku sambil memeluknya dan mencium keningnya.

Rey balas memeluk, ÔÇØMama,ÔÇØ ujarnya sambil menjatuhkan tas kopernya.

ÔÇØApa kabar anak mama? Kok pulang?ÔÇØ tanyaku seraya membimbingnya ke ruang tengah.

ÔÇ£Ah, gimana sih mama? Udah pikun ya? Seminggu kemaren dah aku BBM kalau aku libur akhir semester kan?ÔÇØ jawabnya setengah menggerutu.

ÔÇØMama siapin makan ya?ÔÇØ tawarku.

ÔÇØNtar aja, ma. Rey mau ambil barang-barang yang masih di mobil, ada salak pondoh buat mama.ÔÇØ ujar rey seraya beranjak pergi.

ÔÇ£Kamu kenapa gak naik pesawat aja sih, Rey? Ngapain capek-capek bawa mobil sendiri?ÔÇØ tanyaku .

ÔÇ£Terus siapa yang ngurus mobilku di jogja selama sebulanan? Dititipin teman bisa-bisa ancur tuh mobil. Lagian jalan-jalan pake mobil mama, Rey ogah, terlalu feminin.ÔÇØ jawab Rey.

ÔÇ£Ya udah, makan sana, terus mandi dan istirahat.ÔÇØ kataku lagi.

Hari-hari berikutnya kulalui bersama Rey. Kami shoping di mall, nonton bioskop, makan di luar dan sebagainya. Agak aneh juga, biasanya Rey keluar bersama teman-teman se SMA-nya dulu, atau pacarnya, Vita.

ÔÇ£Rey, gimana Vita?ÔÇ£ tanyaku suatu hari.

ÔÇØDah bubar, ma…ÔÇØ jawab Rey tanpa ekspresi.

ÔÇØKenapa? Apa udah punya pacar lain di Jogja?ÔÇØ Rey hanya nyengir.

ÔÇØWajib dong, ma, tapi yang di jogja juga udah putus, si Vita udah jalan sama yang lain, lagian tuh anak kekanak-kanakan banget.ÔÇØ

Aku tersenyum dan bertanya lagi, ÔÇØTerus tipe kamu yang kek mana, Rey?ÔÇØ

ÔÇØYang dewasa, ma. Males pacaran ma abege lagi.ÔÇØ jawabnya singkat sambil terus memainkan playstationnya.

ÔÇØLha kamu juga kekanak-kanakan gitu, udah gede juga masih main game, nggak keluar main sama teman-teman?ÔÇØ kataku lagi.

ÔÇØYah mama, gak seneng apa Rey ada di rumah? Lagian temen-temen Rey juga udah banyak yang kuliah di luar Jakarta, bahkan ke luar negeri.ÔÇØ jawab Rey.

ÔÇØHihihi… sorry, Rey. Mama seneng kok ada kamu di rumah,ÔÇØ ujarku.

ÔÇ£Papa kemana, ma?ÔÇØ tanya Rey.

ÔÇ£Papamu lagi ada kerjaan di Makassar, ada rencana pembangunan rumah sakit besar di sana, biasa, sedang melobi untuk menangin tender pengadaan barang, katanya sih sebulan di sana.ÔÇØ jawabku.

Rey terdiam sambil matanya terus mengarah ke layar TV dan jemari memainkan stick playstation 3 nya.

Aku melanjutkan membaca majalah wanita, Rey berhenti memainkan playstation lalu pergi ke belakang, munkin mencari kudapan. ÔÇØAda blackforest di kulkas, Rey.ÔÇØ ujarku pelan.

Beberapa saat kemudian, Rey datang dengan sepotong blackforest di atas piring dan secangkir teh. ÔÇ£Spesial buat mama.ÔÇØ ujarnya sambil meletakan teh di hadapanku.

ÔÇØTumben, Rey, sejak kapan kamu jadi baik begini?ÔÇØ tanyaku tersenyum.

ÔÇØAh, dari dulu kan Rey udah baik, ma. Cuma emang rada cuek aja,ÔÇØ jawabnya sambil nyengir.

ÔÇØAh, dasar kamu. Makasih ya, Rey…ÔÇØ ujarku sambil menyeruput teh itu.

Rey memilih-milih piringan DVD lalu memutar sebuah film holywood koleksi lama kami. Layar 42 inchi tersebut tak lama kemudian menayangkan adegan film. Hari semakin gelap seiring terbenamnya matahari. Baru lima belas menit adegan berlangsung, mataku menjadi sangat berat dan aku tertidur.

Jam 3 pagi aku terbangun, agak heran mendapati diriku sudah si atas spring bed di kamarku di lantai atas, munkin Rey mengangkatku tadi. Mataku samar-samar mendapati lampu tidur menyala dengan sinar redupnya. Aku melanjutkan tidur.

Keesokan paginya, aku bangun. Menggeliat sebentar lalu bangun, mendapati diriku bahkan belum sempat mengganti blus santaiku dengan baju tidur. Aku bangkit menuruni springbed, mematikan lampu tidur dan membuka jendela supaya sinar matahari masuk. Mataku silau lalu duduk di depan cermin meja riasku, sedikit heran mendapati 4 kancing blusku terbuka dan sebelah bra terangkat meloloskan sebelah payudaraku, mungkin karena gerakan tidurku tadi malam.

Kurapikan pakaianku lalu berjalan ke kamar mandi, dan kali ini kudapati celana dalamku teronggok di lantai kamar. Aku benar-benar kaget, segera kumasukkan tanganku ke dalam celana pendek yang kupakai, aneh… aku masih mengenakan celana dalam, hanya saja aku tak begitu yakin apakah yang kupakai sekarang sama dengan yang kupakai kemarin? Entahlah, aku segera ke kamar mandi, melepaskan seluruh pakaianku bersiap untuk mandi.

Rey sudah dalam keadaan rapi bersiap untuk keluar, ketika aku turun ke bawah. ÔÇ£Kamu mau kemana, Rey?ÔÇØ tanyaku.

ÔÇØEh, mama. Keluar sebentar, ma. Barusan si Anto nelpon, lagi libur semester juga dia,ÔÇØ jawab Rey sambil memasang tali sepatu.

ÔÇØUdah sarapan, Rey?ÔÇØ tanyaku.

ÔÇØUdah, ma. Bi Inah udah datang, udah bikin nasi goreng sama roti bakar tadi. Rey pergi dulu, ma…ÔÇØ jawabnya.

ÔÇØHati-hati, Rey.ÔÇØ balasku.

Sore itu aku kembali duduk di ruang keluarga, sedang browsing membuka-buka website fashion terbaru sambil sesekali melirik siaran TV kabel. Kali ini memakai gaun tidur tanpa lengan yang sedikit sexy. Kudengar suara mobil Rey masuk halaman rumah.

ÔÇ£Mama…ÔÇØ sapa Rey sambil mendekatiku dan mencium keningku.

ÔÇØAbis dari mana, Rey?ÔÇØ tanyaku sambil terus menatap laptop.

ÔÇ£Biasa, ma, main. Besok mau main futsal bareng temen-temen.ÔÇØ ujar Rey dambil duduk di sebelahku memencet remote TV, sesekali matanya melirikku.

ÔÇØAda apa, Rey?ÔÇØ tanyaku.

ÔÇØNggak, ma. Mama kelihatan tambah cantik pake kacamata itu, baru ya, ma?ÔÇØ tanya Rey.

ÔÇ£Ah, nggak. Mama beli 4 bulan lalu kok,ÔÇØ jawabku. ÔÇØUdah mandi sana, kalau mau makan di meja makan udah disiapin Bibik,ÔÇØ perintahku.

ÔÇØOkay, boss.ÔÇØ kata Rey sambil mencium pipiku.

ÔÇØHush, kamu ini bas bos aja,ÔÇØ jawabku sambil mencubitnya ringan.

Beberapa saat kemudian, Rey kembali dengan kostum basket dan celana pendek membawakan segelas teh hangat untukku.

ÔÇ£Makasih, Rey. Hmm, kamu jadi agak dewasa ya sekarang? Gak kolokan dan ugal-ugalan kek dulu.ÔÇØ kataku sambil meminum teh tersebut.

ÔÇØOrang kan pasti berubah, ma. Gimana sih mama? Liat apa sih, ma, kok asyik banget?ÔÇØ tanya Rey sambil kepalanya bersandar ke bahu lenganku yang terbuka.

ÔÇ£Ah, cuma lihat mode fashion, cari inspirasi untuk koleksi butik mama.ÔÇ£ jawabku. Rey cukup lama bersandar di pundakku, entah menyaksikan laptop, atau… ups, aku tersadar gaun tidurku memunkinkan belahan dadaku terlihat. Sialan, pikirku, namun di sisi lain menyadari pemuda seusia Rey pasti sedang panas-panasnya mengalami puber.

Segera kudorong kepalanya, ÔÇØUdah, pundak mama pegel neh.ÔÇØ kataku beralasan. Rey tersipu lalu beralih menyaksikan TV.

Entah kenapa, kira-kira 10 menit kemudian kembali aku mengantuk berat. Dan kali ini pukul 2 dinihari aku bangun, mendapati diriku tertelungkup di atas springbed. Dengan mata masih agak berat aku menyapu ruangan kamar tidurku, lampu tidur redup, laptop di atas meja kecil sebelah meja rias telah tertutup, lalu melihat keadaanku sendiri.

Kepalaku bukan mengarah ke posisi kepala springbed, tetapi menyerong ke samping. Aku mencoba mengangkat badanku sebelah atas, kudapati bra yang kupakai telah terlepas pengaitnya, mangkuk branya pun terdongak ke atas membuat kedua payudaraku tak tertutup. Gaun sebelah bawah tersingkap sampai sebatas pinggang, dan celana dalamku melorot sampai separuh pantat.

Ohh… aku ketiduran lagi, pikirku, terduduk dan kemudian bangkit ke kamar mandi untuk buang air kecil. Usai meneguk beberapa teguk air, kembali aku mencoba untuk tidur. Di tengah rasa kantuk, aku berfikir, bagaimana jika Rey melihat tubuhku tadi? Munkinkah Rey bertindak kurang ajar? Kuragukan hal itu, aku tahu persis, Rey emang kadang slengekan, tapi sangat hormat dan menyayangiku. Akulah yang selalu dominan hadir dalam membesarkan anak-anakku, dibanding ayah mereka yang selalu sibuk berbisnis. Tak heran, anak-anak sangat dekat denganku. Hmm, agaknya aku kembali mengalami keletihan, besok aku akan ke dokter lagi.

Pagi hari kembali aku bangun. Langsung menuju kamar mandi, kulepaskan satu persatu pakaianku, sambil menunggu bath tub dipenuhi air aku menuju meja rias. Dalam keadaan bugil kulihat tubuhku dicermin, masih sangat ideal untuk seorang wanita berkepala empat, payudara masih terlihat kencang dan kulitku masih sehalus wanita usia 20. Tak sia-sia aku rutin ke spa, aerobik dan ke pusat-pusat kecantikan, hanya sedikit gurat halus di ujung mata kiri.

Aku ingat ketika rekan-rekan suami mengalihkan perhatiannya kepadaku pada suatu acara pesta. Dasar lelaki, pikirku. Tapi di sisi lain, terkadang aku kecewa, mengapa terlau sering suami meninggalkanku? Apakah murni karena bisnis atau dia punya affair? Kehidupan sex kami selama 25 tahun menikah memang monoton saja. Apalagi saat anak-anak kami mulai remaja. Bisa dikatakan aku sangat jarang disentuh suami, namun hal itu bukan suatu masalah.

Aku seperti wanita normal kebanyakan, bahkan munkin konservatif. Sex tak lebih sekedar untuk memuaskan suami, bukan aku frigid, tak jarang suatu ketika hasrat itu muncul menggebu-gebu, namun kesibukanku membuat aku tak memikirkannya lagi. Godaan justru muncul dari rekan-rekan sosialita, aku tahu persis 2-3 orang diantara mereka mengaku terang-terangan sering memakai pria muda untuk kepuasan mereka. Sebagian lain aku yakin juga melakukannya namun secara diam-diam, informasi ini kudapat dari rekan sosialita yang mengaku terang-terangan. Bukannya aku tak tergoda, hanya saja aku tak punya cukup keberanian, bekal agama dan ajaran orang tua masih menjaga moralku.

Aku tersadar dari lamunan dan bergegas ke kamar mandi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*