Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibu dan Kedua Bibiku 3

Ibu dan Kedua Bibiku 3

Cerita Sebelumnya : Ibu dan Kedua Bibiku 2

Paginya Deni pamit pulang, sedih hatinya. Ia mencium
pipi kedua bibinya, nggak enak cium bibir ada Ucil. Si Ucil
juga nampak sedih. Mereka mengantar kepulangan Deni.
Menunggu angkot yang ke terminal. Deni berharap
angkotnya tak akan pernah lewat, tapi tak lama angkot
lewat, Deni naik melambaikan tangan….sedih sekali
hatinya.
Ratna duduk termenung, agak anaeh rasanya setelah
sebulan lebih terakhir ini ia menghabiskan waktu
bersama keponakanya tersayang, Deni, kini rumahnya
sepi kembali. Hanya ia dan anaknya Ucil. Ratna diam saja
melamun memikirkan Deni. Hatinya terasa kosong,
matanya sedikit berkaca, apakah ia sedang kasmaran….?
Agak siangan Deni sampai. Ibunya senang sekali bertemu
anak semata wayang kesayangannya ini. Tapi Deni
nampak lesu. Menjawab seadanya. Bahkan saat ibunya
menjelaskan kalau project kantor ayahnya sukses dan
klientnya sangat puas sehingga menginginkan
perusahaan ayahnya mengurus project baru di daerah
secepatnya. Ayahnya terpaksa harus menetap sementara
di daerah itu selama sebulan ke depan. Baru tadi pagi
ayahnya berangkat, menyesal tak bisa bertemu Deni.
Namun Deni tak terlalu antusias. Deni cuma bilang ia
capek habis menempuh perjalanan, mau tidur dulu,
meninggalkan ibunya yang rada bingung. Deni masuk ke
dalam kamarnya. Ia berbaring sambil berpikir, sebulan
lebih yang menakjubkan sudah usai. Deni terus
berpikir…lama, menjelang sore ia mantap, keluar kama
mencari ibunya…nah itu dia
ÔÇØBu…Deni, mau ngomong sebentar..penting.ÔÇØ
ÔÇ£Iya..ngomong saja, kamu kayak pejabat saja gayanya.
Ayo bicaralah, ibu dengarkan.ÔÇØ
ÔÇØEh..be…besok Deni tak mau masuk sekolah lagi.ÔÇØ
ÔÇØHAH…? Kenapa, kamu ada masalah di sekolah sebelum
kenaikan dulu yangibu tak tahu…?ÔÇØ
ÔÇØTi…tidak, bukan itu bu. Maksud Deni, Deni tak mau
masuk sekolah lagi. Deni mau sekolah di kampung.ÔÇØ
ÔÇØLho…lho ada apa ini, bukannya biasanya kamu tak
terlalu suka kehidupan di kampung ibu. Ada apa sih, ibu
tak paham.ÔÇØ
Dan memang Santi bingung sama perubahan sikap
anaknya yang mendadak ini. Ia menunggu jawaban Deni.
ÔÇØBegini bu…Deni jenuh di Jakarta. Liburan yang lama di
kampung kemarin telah membuka mata Deni. Di sana
ternyata menyenangkan. Lingkungannya asik, orangnya
ramah dan bersahabat. Juga Deni sempat melihat sekolah
di sana, sepertinya bagus. Lagian memang Deni sangat
kerasan dan menyukai kehidupan di sana. Pindhin
sekolah Deni ya bu.ÔÇØ
ÔÇØWah..wah…nggak bisa semudah itu nak. Ibu harus
berdiskusi sama ayahmu. Tak bisa mendadak. Lagipula
ibu sendiri keberatan. Sudh kamu pikirkan dulu, mungkin
in hanya perasaan sesat karena kamu baru saja
menghabiskan waktu di sana.ÔÇØ
ÔÇØNggak. Pokoknya harus. Kalau tak mau…Deni tak mau
sekolah lagi.ÔÇØ
Deni nyelonong pergi, memanting pintu kamarnya. Santi
membiarkan sudah hafal tabiat anak semata wayangnya
ini kalau lagi ngambek. Bingung dia memikirkan hal ini,
mana suaminya lagi dinas keluar. Santi paham adat Deni,
kalau dia sudah bilang tak akan sekolah, maka itu betul ÔÇô
betul akan dilaksanakannya. Santi bingung, kenapa
anaknya mendadak kepingin sekali sekolah di kampung.
Santi lalu mengambil HP-nya menelepon suaminya,
menceritakan permasalahan, setelah berunding, mereka
sepakat untuk membujuk Dni mengatakan alasan yang
sebenarnya, pemikirn mereka, pasti deni ada masalah di
sekolahnya yang tak mereka ketahui. Suaminya
menyerahkan urusan ini sepenuhnya kepada Santi.
Senin ini Santi menelepon kantornya, alasan sakit. Ia
sengaja tak masuk kerja, bertekad membujuk Deni. Dan
memang Deni keras dengan niatnya, ia benar ÔÇô benar tak
masuk sekolah. Deni tak mengurung diri dalam kamar,
tapi dibujuk dan dirayu bagaimanapun jawaban anak itu
sama, nggak mau sekolah di Jakarta, pindah sekolah titik.
Sampai lelah ibunya membujuk. Sepanjang hari. Jawaban
Deni tak berubah. Malamnya Santi menyerah. Sulit, adat
anaknya keras. Deni sudah tidur, Santi duduk melamun.
Santi bukannya tak mau anaknya sekolah di kampung,
tapi jujur saja, Deni anak satu ÔÇô satunya. Kalaupun
memang dalam menempuh pendidikannya Deni harus
pisah darinya, boleh, tapi nanti semasa Deni masuk
bangku kuliah. Tidak di masa SMA. Santi sangat tidak mau
berpisah dengan anaknya. Lagian alasan anaknya
mengenai sekolah di kampung tak masuk akal, nggak, itu
bukan alasan sebenarnya. Pasti terjadi sesuatu hal yag
luar biasa pada anaknya selama ia berlibur di
kampung…ya di kampung…semua jawaban ada di sana.
Besoknya Santi masuk kerja. Membiarkan anaknya, biar
saja dulu. Dikantor Santi mengurus ijin selama 3 hari,
Rabu sampai Jumat. Senin baru ia masuk kerja.
Malamnya ia memanggil Deni, Santi bilang sebenarnya ia
tak enak meninggalkan Deni sendirian, tapi ibu ada tugas
kantor penting selma 3 hari, keluar kota. Deni bilang tak
masalah. Santi meninggalkan sejumlah uang untuk jajan
dan makan Deni. Di kulkas juga banyak bahan makanan
kok. Sama sekali ibunya tak menyinggung soal
sekolahnya, membuat Deni rada BeTe. Ibunya pura ÔÇô
pura cuek, memilih masuk kamar, tidur. Dan paginya
Santi sudah berada di bis yang akan membawanya ke
kampungnya.
Deni berbaring di kamarnya, ia rindu sama bibi Ratna
dan bi Lasmi, terutama bi Ratna, mengenang moment ÔÇô
moment panas mereka. Memang dulu ia suka
membayangkan ibunya, tapi setelah melewatkan masa
indah bersama bi Ratna, kini bi Ratna adalah segalanya
buat Deni. Harus…pokoknya aku harus bisa pindah
sekolah di sana. Biar bisa dekat kembali dengan bibinya.
Deni lalu tidur ditemani mimpi indahnya tentang bi
Ratna. Selama 3 hari ditinggal pergi, Deni hanya di rumah
saja tak keluyuran seperti biasa. Teman sekolahnya
memang menelepon HP-nya, menanyakan kabarnya
yang tak masuk sekolah, juga diminta tolong sama wali
kelasnya untuk mengecek, Deni bohong saja, bilang
sedang sakit, waktu sohibnya bialng mau datang jenguk,
Deni bohong, saat ini ia di kampung ibunya. Deni
mengakhiri pembicaraan dengan bilang tolong titip kabar
ke wali kelasnya, setelah sembuh ia akan segera masuk.
Deni mulai gusar lagi. Ini sudah hari Jumat, belum ada
kepastian mengenai kepindahan sekolahnya….
Jumat siang, Santi sudah berada di bis yang
membawanya ke Jakarta. Lelah dan tertekan. Santi
memejamkan mata, memikirkan apa yang ia dapat 3 hari
ke belakng. Jawaban yang ia dapatkan sangatlah
mengejutkannya. Awal ia datang, tentu teteh dan adiknya
menyambut gembira, tak ada hal yang aneh dengan
kedatangannya. Ia memutuskan menginap di rumah
adiknya Ratna. Waktu ia menceritakan perihal Deni yang
aneh tak mau sekolah lagi di Jakarta, lalu mau pindah
sekolah di sini, juga menanyakan apa mereka tahu apa
yang terjadi selama liburan, teteh dan adiknya nampak
aneh. Sepintas wajar saja saat mereka bilang tak ada
masalah. Tapi ia amat mengenal kedua saudarinya ini,
juga nalurinya mengatakan ada yang aneh di sini. Cara
keduanya menjawab sangat dibuat ÔÇô buat. Ia bertekad
berusaha sekuat tenaga mencari tahu jawabannya. Cari
teh Lasmi sulit, ia juga tak mungkin mendesak tetehnya,
sangat sulit. Paling mungkin adiknya Ratna, hubungan
mereka sangat dekat. 2 hari pertama Ratna masih
menjawab dengan jawaban yang sama, ditanya macam
apapun tetap sama jawabannya. Mungkin memang Deni
sendiri yang tahu jawabannya, ya sudahlah nanti ia akan
coba membujuk Deni untuk berterus terang. Akhirnya
malam harinya, seperti biasa kalau lagi ada kesempatan
ia mengajak bicara adiknya, bukan membahas soal Deni,
membahas urusan si Ratna, biar bagaimanapun Santi itu
kakaknya, berkewajiban mengetahui rencana masa
depan adiknya.
ÔÇØRat..gimana, belum mau berumah tangga lagi…?ÔÇØ
ÔÇØAlah si teteh, ada ÔÇô ada saja nanyanya. Itu melulu yang
ditanyakanÔÇØ
ÔÇØYa nggaklah, kan kamu juga harus mikirin si Ucil.ÔÇØ
ÔÇØMaksud teteh apa…?ÔÇØ
ÔÇØIyalah..si Ucil kan butuh sosok ayah.ÔÇØ
ÔÇØAh itu mah nggak harus selalu begitu, toh Ratna
menyayanginya sepenuh hati. Soal biaya juga nggak
masalah, kan teteh juga sudah tahu.ÔÇØ
Santi diam, membenarkan tidak, membantahpun tidak.
ÔÇØYa sudah, kalau buat Ucil tak masalah, gimana sama
kamu…?ÔÇØ
ÔÇØ Maksudnya…ÔÇØ
ÔÇØAlah kamu suka begitu Rat. Memangnya kamu sudah
nggak butuh gituan, ayo deh sama teteh jujur saja,
ngomongnya vulgar juga nggak kenapa…nggak ada orang
ini, bebas ngomong yang jorok hehehe.ÔÇØ
ÔÇØAh, jadi malu deh…ya jujurnya sih umurnya Ratna
masih doyan ngewek, tapi itu kan caranya nggak melulu
mesti dengan kawin. Memuaskan diri banyak caranyaÔÇØ
Santi agak mengernyitkan keningnya, jawaban adiknya
tak bisa ia benarkan, mana mungkin ia mau membiarkan
adiknya menyalurkan hasratnya sembarangan.
ÔÇØYa ampun Ratna, kalau maksud kamu dengan kumpul
kebo ya teteh Santi nggak bakalan setuju.ÔÇØ
ÔÇØBukan itu teh..maksud Ratna. Kan kita bisa
eh…memuaskan sendiri, biar tak maksimal, lumayan bisa
nurunin tegangan hehehe.ÔÇØ
ÔÇØBisa saja kamu. Ya, teteh sih masih berharap kamu mau
berumah tangga, tapi pilihlah calon yang baik dan sesuai,
jangan kayak si Wawan geblek itu.ÔÇØ
ÔÇØYa pastilah teh. Asli itu mah pengalaman pahit. Geblek
banget tuh lelaki, orangtuanya mampu, bisa
menyekolahkan dia, bisa memberikan pekerjaan malah
disia ÔÇô siakan. Sudah foya ÔÇô foya melulu, doyan ngewek
sembarangan, mending kalau becus, nafsu doang
gede…huh paling sebel kalau sudah ngebahas dia.ÔÇØ
Santi nyengir, memang adiknya ini selalu marah kalau
membahas si Wawan. Perkataan Ratna terakhir tadi
membuatnya sedikit teringat masalah Deni. Ia pun
kembali berucap, serius juga sedikit guyon biar adiknya
nggak marah terus. Ratna masih emosi
ÔÇØItulah…makanya teteh sedih banget si Deni nggak mau
sekolah, berkeras mau pindah. Teteh keberatan, lain
halnya kalau si Deni sudah kuliah. Kalau masih SMA di
Jakarta saja. Tapi sekarang tuh anak tak mau sekolah.
Teteh nggak mau tuh anak kayak si Wawan, orangtuanya
mau menyekolahkan tapi si Deni menyia ÔÇô nyiakan.ÔÇØ
ÔÇØNggaklah teh. Mana bisa si Deni disamain sama si
Wawan. Si Deni mah anak baik, sekolahnya pinter nggak
bego kayak si Wawan. Lagian si Deni ngeweknya juga
lebih pintar dari….ÔÇØ
Ratna tak menyelesaikan ucapannya. Dia memang emosi
banget tiap membahas si Wawan, lagianngapain juga
tetehnya nyamain si Deni sama si Wawan. Ratna yang
sayang sama keponakannya tentu membelanya dengan
penuh semangat dan emosi. Saking semangatnya sampai
kebablasan. Ekspresi muka Ratna kini seperti orang salah
tingkah. Sedang Santi yang sudah hapal karakter adiknya
tahu banget kalau ekspresi adiknya sudah seperti ini,
maka ada rahasia yang adiknya sembunyikan. Sementara
Ratna salah tingkah, Santi memandangnya dengan
ekspresi pemuh minat…
ÔÇØRat…teteh dengar kata ÔÇô katamu yang terakhir walau tak
kamu selesaikan. Kamu nggak usah bohong, teteh sudah
tahu kalau sekarang gayamu seperti ini maka ada suatu
rahasia yang kamu sembunyikan. Gimana kamu bisa
ngomong dan bisa menilai kalau si Deni ngeweknya lebih
pintar, jelas ada sesuatu yang tak teteh ketahui…nah
sekarang kamu ceritakan saja semuanya dari awal
sejujurnya…ÔÇØ
Dan meski adiknya Ratna mencoba berkelit, akhirnya
mengalir juga penjelasannya dari awal, sungguh
membuat Santi sangat terkejut, sangat tak menyangka.
Ratna hanya diam saja setalah memberikan penjelasan.
Sementara Santi juga diam, selain terkejut, otaknya juga
mulai bisa merangkai serpihan ÔÇô serpihan jawaban yang
tadinya terpencar, mulai bisa memahami alasan Deni.
Mau marah juga sulit, di satu sisi Deni anaknya, di sisi lain
ada Ratna, adiknya. Ratna memang telah berterus terang,
tapi Ratna tidak jujur sepenuhnya, Ratna memilih untuk
tidak melibatkan atau membawa nama teh Lasmi, bisa
tambah runyam urusannya. Agak lama berdiam diri,
Ratna memulai kembali percakapan.
ÔÇØTeh, jadi begitulah ceritanya. Eh..ma..maafin Ratna yah
teh.ÔÇØ
ÔÇØUntuk apa…? Ini bukan masalah dimaafkan atau tidak,
semuanya telah terjadi. Kenapa Rat…? Kenapa..?
Den…Deni itu kan keponakanmua sendiri…apa tidak ada
lelaki lain…?ÔÇØ
ÔÇØTeh…sungguh…awalnya Ratna juga menolak. Terserah
teteh mau percaya atau tidak, tapi itu benar. Tapi yang
namanya laki dan perempuan dalam satu
rumah…akhirnya apapun bisa terjadi. Be..benar Ratna ini
bibinya, tapi kalau digoda dan juga dari Ratna sendiri
memang ada kebutuhan…ya..eh…itu akhirnya terjadi.ÔÇØ
ÔÇØTidak harus terjadi kalau kau bisa menahan diri dan
menolak secara sungguh ÔÇô sungguh.ÔÇØ
Santi memandang adiknya tersebut. Hatinya marah,
namun juga menyadari, sesalah apapun Ratna, tetap saja
ia harus bisa objectif, Santi juga memikirkan
kemungkinan lainnya, ya anaknya sendiri Deni, biar
bagaimanapun sedang dalam usia yang sedang puncak ÔÇô
puncaknya penasaran mengenai wanita dan seks. Yang
satu sedang penasaran, yang satu laginya juga punya
kebutuhan…klop ketika mereka bertemu. Tak peduli
kalaupun itu tak boleh dilakukan.
ÔÇØTeh…Ratna tak akan atau tak bisa bilang kalau Ratna
menyesalinya..nggak..nggak bisa. Biar bagaimanapun
sebagai wanita, Ratna mengakui kalau ratna
menikmatinya. Diri ratna mendapatkan rasa nyaman.
Teteh boleh bilang ini edan, tapi jelas dengan eh Deni,
Ratna menemukan sesuatu yang telah lama hilang. Bukan
hanya urusan eng…seks semata, tapi juga melibatkan
rasa nyaman, rasa senang, hati Ratna bahagia. Setelah
sakit karena perlakuan kasar si Wawan, entahlah..Ratna
merasakan Deni telah mengobatinya.ÔÇØ
ÔÇØCukup Rat. Cukup…jangan kau teruskan perkataanmu.
Teteh memang memikirkan keadaanmu yang terluka dan
terpuruk akibat rumah tangga yang berantakan karena
ulah suamimu yang tak bertanggung jawab itu. Berharap
kau bisa bangkit lagi, tetapi jelas bukan sama anakku.ÔÇØ
ÔÇØIya teh. Ratna sadar itu tak mungkin. Ratna hanya
mengungkapkan kalau saat itu Ratna bahagia. Bagi Ratna
walau hanya sebentar, tapi saat itu telah membahagiakan
Ratna. Mungkin setelah ini teteh akan benci sama ratna,
tak mau ketemu lagi, Ratna bisa menerimanya, tapi
tolong jangan salahkan Deni. Ini bukan salahnya
sepenuhnya, Ratnalah yang pantas disalahkan.ÔÇØ
Santi hanya diam saja, adiknya nampak bersungguh ÔÇô
sungguh dengan perkataannya yang terakhir. Bahkan kini
Ratna nampak menahan air matanya. Berat buat Santi
untuk memutuskan atau memikirkan apa yang mau ia
lakukan atau katakan selanjutnya. Ia berdiri, menuju
dapur, membuat 2 cangkir teh. Dirinya perlu
menyegarkan diri. Ia membuat teh. Setelah selesai ia
membawanya ke sofa, ditaruhnya di meja. Satu untuknya
satu untuk Ratna. Ia meminumnya, hanya mengangguk
memberi tanda pada adiknya juga untuk minum. Setelah
minum teh, Santi merasa lebih segar dan mulai bisa
berpikir lebih jernih. Ia diam sebentar untuk berpikir.
Ratna hanya diam sambil memegang cangkir tehnya.
Akhirnya Santi memulai bicara.
ÔÇØRat, seperti yang tadi teteh bilang, semua sudah terjadi.
Jelas teteh kecewa. Sangat. Tapi juga sadar, anak teteh
pasti juga punya andil dalam kesalahan ini. Pasti, teteh
yakin mengingat usianya yang puber. Biar bagaimanapun
kamu adik teteh, selain kamu hanya ada teh Lasmi yang
tersisa, tak mungkin teteh memutuskan hubungan.ÔÇØ
ÔÇØI..iya teh.ÔÇØ
ÔÇØTapi kini masalahnya adalah si Deni.ÔÇØ
ÔÇØDen..Deni teh..? Maksudnya..?ÔÇØ
ÔÇØSelain masalah sekolahnya, ada hal lain yang teteh harus
pikirkan setelah mendengar pengakuanmu. Kamu dan
teteh sama ÔÇô sama tahu, kalau kita sudah merasakan dan
menikmati enaknya ngewek, pasti akan mau lagi dan lagi.
Ibarat orang yang sudah terbiasa merokok atau ngopi,
kalau tak ketemu rokok atau kopi, pasti rasanya tak enak.
Kamu paham kan..?ÔÇØ
ÔÇØI..iya teh.ÔÇØ
Ratna meminum kembali tehya, kembali berbicara.
ÔÇØDan Deni telah melakukan sesuatu yang seharusnya
belum waktunya ia lakukan. Jelas sudah membuatnya
terbiasa. Alasannya mau pindah sekolah pasti karena itu.
Kini sulit untuk teteh. Kalaupun ada sisi baiknya dalam
hal ini, paling tidak Si Deni itu mengenal hubungan seks
bukan dari pelacur dan sejenisnya. Namun tetap saja
setelah merasakan enaknya hubungan seks, tubuhnya
akan dan sudah terbiasa, pasti mau lagi, teteh khawatir
anak itu…eh…bakalan mencari kepuasan melalui pelacur.
Seumurannya belum mengerti resiko dan bahayanya.ÔÇØ
ÔÇØTeh….benar juga kata teteh…ÔÇØ
ÔÇØYa…ini masalah yang harus dipikirkan. Soal sekolahnya,
teteh akan berusaha membujuknya. Oh ya, Rat, tolong
ceritakan lagi…jangan malu, ini penting. Kalau teteh mau
bicara sama Deni, teteh perlu pahami dan mengerti jelas
situasinya. Nah, kamu bilang tadi si Deni ngeweknya lebih
pintar…eh, mana bisa si Rat. Dia itu anak baru gede…baru
mau 17…?ÔÇØ
Ratna wajahnya bersemu merah, malu juga dia
menceritakan hal ini, tapi tetehnya benar, tetehnya perlu
kejelasan. Kalau tetehnya mau membujuk keponakannya
buat kembali bersekolah dan juga agar tidak melakukan
hal yang beresiko, maka tetehnya perlu segala informasi.
ÔÇØEh…gimana ya teh…aduh…anu…ÔÇØ
ÔÇØSudah jangan gugup begitu, ceritakan saja….ÔÇØ
ÔÇØBa..baik…eh begini teh, memang sih awalnya si Deni itu
eh..per..perjaka, masih hijau, tapi karena eh…giat
belajarnya jadi pintar. Bakat juga sih….ÔÇØ
ÔÇØIya, gurunya kamu sih. Terus ada lagi..?ÔÇØ
ÔÇØEh se..selain itu, teteh mungkin tak akan paham, tapi eh
kont01nya itu sangat eh mengesankan. Sulit menolaknya,
makanya ratna juga sampai melakukan hal ini.ÔÇØ
ÔÇØAh…itu sih kamu terlalu berlebihan. Mungkin kamu saja
yang sudah lama nggak ngewek, makanya pas ketemu
pelampiasannya jadi berlebihan menilainya.
Sudah…sudah, soal itunya si Deni, nggak perlu dibahas.ÔÇØ
Ratna menghela nafs, lelah, banyak yang masih harus ia
pikirkan. Ia butuh istirahat.
ÔÇØRat, teteh nggak bisa ngomong banyak lagi, semua sudah
terjadi. Tapi tolong….tolong untuk ke depannya, tahan
dirimu, jangan kamu lakukan lagi sama anakku. Teteh
anggap ini hanyalah gairah sesaat saja…seiring waktu baik
kamu atau Deni akan melupakannya, akan menemukan
lagi jalannya yang baru. Paham…?ÔÇØ
ÔÇØPa..paham teh.ÔÇØ
ÔÇØSatu hal lagi, setelah ini, jangan kamu hubungi Deni. Biar
saja, dia tahunya teteh sedang dinas kantor. Bukan ke
kampung. Jangan kau bocorkan kalau teteh sudah tahu
hal ini. Awas kalau kamu telepon dia. Urusan ini biar
teteh yang selesaikan. Sudah, besok pagi teteh pulang.
Sekarang mau tidur dulu.ÔÇØ
ÔÇØTeh…sekali lagi, maafin Ratna.ÔÇØ
Santi tak menjawab, hanya mengangguk kecil lalu masuk
ke kamar. Dan sekarang Santi kembali membuka
matanya. Bis sudah memasuki tol dalam kota, sebentar
lagi ia akan sampai di rumah. Dia masih bingung harus
bagaimana, satu hal tak mungkin ia memberitahu
suaminya mengenai masalah ini. Bisa runyam urusannya.
Memang ia seharusnya marah besar pada adiknya Ratna.
Tapi ikatan di antara mereka juga membuatnya tak
mampu marah secara berlebihan. Selain itu ia memakai
rasionya juga…urusan ini terlepas dari masalah Ratna
adalah bibi sedang Deni keponakan, sebenarnya
simpe…sangat simple…ini semata karena masalah kont01
dan m3mek saja. Yang pria yaitu anaknya, memandang
dan menilai Ratna dengan segala daya tariknya, yang
wanita yaitu Ratna memandang dan menilai Deni dengan
segala daya tariknya. Waktu dan tempat mendukung.
Ketika segala rangsangan dan nafsu sudah bicara maka
yang namanya etika, adat, moral, tidak boleh, tidak
pantas dan sejenisnya akan masuk tong sampah.
Memang ia menyalahkan Ratna juga, tapi juga tetap ada
bagian dalam diri Santi yang membelanya, biar
bagaimanapun andil Deni pasti besar. Dia tahu anaknya
punya adat dan kemauan. Santi yakin sekali Ratna yang
walaupun menyimpan hasrat dan gairah yang terpendam
pasti di awalnya menolak, dan anaknya pasti akan
membujuk dan berusaha terus samapi akhirnya Ratna
tergoda. Insting Santi sangat yakin akan hal itu, makanya
dia tak bisa terlalu menyalahkan Ratna. Ya…memang ia
sedikit beruntung, karena Ratna kelepasan bicara maka
akhirnya semuanya terungkap.
Menjelang sore Santi sudah di rumah, istirahat. Deni, di
kamarnya masih ngambek. Santi memutuskan tak akan
membicarakan hal itu hari ini terlalu lelah. Sabtu siang, ia
mengajak Deni ke mall, menyenangkan hati anaknya.
Malamnya Santi masih berusaha membujuk anaknya
untuk sekolah dan tak usah pindah sekolah, tapi ya itulah
Deni masih berkeras. Santi sengaja tak mau menyinggung
atau membeberkan kalau ia sebenarnya sudah tahu yang
terjadi. Santi masih berusaha, tak ada hasil. Santi maih
bersabar, memilih menutup hari ini dahulu. Besok ia
akan berusaha lagi, dan kalau gagal, baru ia akan
mendesak Deni dengan fakta yang ia ketahui.
Minggu siang dia melihat Deni sedang menonton TV. Dia
pikir dia akan coba bujuk anak kesayangannya itu lagi.
ÔÇØDen, besok kamu sekolah ya sayang…ÔÇØ
ÔÇØBu, ngapaon sih bahas hal itu lagi. Kan sudah jelas, Deni
nggak mau. Deni baru akan sekolah lagi kalau pindah
sekolah di kampung. Bosan deh ibu terus saja begitu
padahal sudah tahu maunya Deni.ÔÇØ
Ya..sudah, anak ini terlalu keras kemauannya…sudah
waktunya anak ini diberi terapi, Santi membatin.
ÔÇØ Ibu tahu itu, dan ibu belum rela kamu tinggalkan. SMA
ya di Jakarta saja. Alasan kamu pindah sekolah juga
terlalu mengada ÔÇô ada.ÔÇØ
ÔÇØNggak. Memang itu alasannya.ÔÇØ
ÔÇØDen..dengar ya, kemarin ibu 3 hari itu bukan dinas
kantor. Ibu pergi ke kampung mencari tahu kenapa
kamu sampai berniat sekali pindah sekolah.ÔÇØ
Deni agak kaget mendengar hal ini, tapi masih PeDe kalau
ibunya tak akan tahu alasan sebenarnya. Dia masih kukuh
sama kemauannya.
ÔÇØTerus kenapa ? Nah, Deni rasa setelah ibu ke kampung,
ibu akan setuju sama alasan Deni kan ? Sekolah di sana
lebih enak, juga sekolahnya bagus, hawanya
sejuk,orangnya bersahabat, pemandangannya bagus,
nggak sumpek kayak di Jakarta.ÔÇØ
Deni memandang ibunya dengan menantang. Yakin akan
mampu membuat ibunya mengabulkan keinginannya.
Ibunya menghela nafas, memndang wajahnya sejenak
sebelum berbicara….
ÔÇØDan kamu bisa ngewek sama bi Ratna, begitu kan
alasanmu yang sebenarnya ?ÔÇØ
Duaaarrr….Deni membisu, wajahnya pucat. Ibu….ibu
tahu…gimana caranya ? Masa sih bi Ratna bisa
membocorkan hal kayak gini. Hei…hei tunggu, tadi ibu
hanya berkata bi Ratna. Nampaknya ibu tak tahu soal bi
Lasmi. Baik…jadi aku harus waspada, jangan sampai ibu
tahu hal itu. Tapi kenapa sampai bi Ratna bicara…aduh
gimana sih bi Ratna. Tapi ya…ini kan ibu, biar
bagaimanapun caranya pasti ibu akan berusaha cari
tahu, pasti ibu mendesak atau memarahi bi Ratna sampai
akhirnya ia mengakui hal ini. Deni masih diam. Ibunya
kembali bicara….
ÔÇØNah betul kan…? Den..kok kamu sampai begitu sih..? Apa
yang kamu pikirkan ?ÔÇØ
ÔÇØBi Ratna. Ya…Deni memikirkan Bi Ratna. Deni suka
kepadanya.ÔÇØ
ÔÇØDen, sudah…sudah, ibu tak akan membahas apa,
kenapa, bagaimana hal itu sampai terjadi, sudah
percuma, sudah terlambat, lagipula ibu sudah banyak
bicara panjang lebar sama bibimu. Sekarang sudahi
semua ini, alasanmu sudah jelas, besok kamu sekolah
lagi. Mengerti.ÔÇØ
Deni hanya diam, tak tahu musti bicara apalagi. Santi
memandang anaknya. Tahu anaknya pasti kaget karena
dirinya mengetahui semua ini. Tapi ia yakin anaknya
besok pasti sudah akan sekolah lagi. Tak ada lagi alasan
Deni untuk berkeras hati. Hanya satu hal lagi yang harus
ia bicarakan.
ÔÇØDen…ibu juga tak nyaman membicarakan ini, tapi ibu
harus bicarakan. Kenyataannya adalah seharusnya belum
saatnya kamu melakukan dan belum waktunya kamu
merasakan eh…berhubungan seks, tapi kamu sudah
terlanjur melakukan dan merasakannya. Nah ibu hanya
bisa bilang…anggaplah semua yang sudah terlanjur
terjadi itu hanya gairah sesaat juga romansa sesaat saja.
Seiring waktu akan terlupakan. Juga ibu harap kamu
sekarng konsentrasi saja belajar dan berbuat sesuai
usiamu. Jangan sampai kamu mencari kenikmatan
dengan pelacur ya. Jangan…kalau sudah waktunya kamu
juga akan merasakan. Sekarang yang penting, sibukkan
dirimu maka dengan sendirinya eh…keinginan untuk….itu
akan surut. Sudah, sekarang kamu renungi semua
perkataan ibu. Ingat, besok kamu harus sekolah lagi.ÔÇØ
Santi meninggalkan anaknya, membiarkannya berpikir,
proses pendewasaannya. Santi merasa tak perlu
membahas lagi soal Ratna dan Deni, semua sudah terjadi,
juga dia tak mau membuat Deni makin terkenang hal itu,
sebisa mungkin menjauhkan anaknya dari memikirkan
hal itu. Santi sendiri juga sudah tahu semua penyebab
dan alasan semua itu dari Ratna. Sekarang biarlah Deni
menata hidupnya ke depan.
Besoknya Senin, Santi bersiap berangkat kerja, biasanya
dia dan suaminya berangkat terlebih dahulu. Deni
belakangan, karena sekolahnya dekat. Deni sudah
memakai seragamnya. Santi tesenyum melihatnya. Sudah
normal kembali. Begitupun esoknya dan esoknya lagi.
Memang Deni jadi diam saja, tapi itu wajarlah, mungkin
anak itu butuh waktu untuk merenungi semua ini pikir
Santi. Maka alangkah terkejutnya Santi ketika pada hari
Jumat HP-nya berbunyi,dari sekolah Deni, mereka
menanyakan kenapa Deni sudah 2 minggu ini tak masuk
sekolah. Santi dengan cepat berlasan kalau anaknya
sedang sakit, setelah basa ÔÇô basi sebentar, percakapan
selesai. Karena masih jam kerja maka Santi sulit buat
memikrkan hal itu. Menjelang sore pekerjaannua sudah
selesai, Santi di ruangannya hanya menunggu jam
pulang. Dia mulai memikirkan anak kesayangannya
ini…duh, Deni apa sih maumu kali ini ? Santi teingat
sudah lama tak menghubungi suaminya, ia mengambil
HP-nya menelepon suaminya, menanyakan kabar dan
bagaimana pekerjaannya di daerah. Suaminya
menanyakan apakah Deni sudah sekolah lagi, juga
kenapa sampai kemarin anak itu minta pindah sekolah.
Santi berbohong saja, dia bilang anak mereka sudah
bersekolah, kemarin itu hanya karena masih terbawa
suasana menyenangkan liburan di kampung saja,
makanya Deni bilang mau sekolah di sana. Setelah
bercakap ÔÇô cakap beberapa lama lagi, Santi mengkhiri
pembicaraan.
Santi melirik jam di dinding ruangan kerjanya, masih
belum jam pulang.Akhirnya ia memilih menunggu sambil
mencek email, lalu membuka accout FB-nya. Saat
melihat halaman FB-nya wajahnya berkernyit, pada
bagian recent comment dia melihat apa yang Deni
posting : Kangen sama R di Tasikmalaya. R…? tentu saja
itu inisial untuk Ratna. Santi menghela nafasnya, anaknya
belum cukup matang, belum bisa mengatasi beban
akibat perbuatannya. Akhirnya ia mematikan komputer,
bersiap pulang.
Lalu sebenarnya kemana dan ngapain saja Deni selama
seminggu ini ? Memng setiap pagi ia memakai seragam
sekolah, menunjukkan siap berangkat sekolah. Tapi
ketika ibunya berangkat kerja, Deni akan segera menukar
seragamnya dengan baju biasa. Menghabiskan waktu di
luar. Entah ke teman dekat rumahnya yang sekolahnya
masuk siang atau paling sering ia nongkrong di Warnet
dekat rumahnya, browsing sambil ngobrol sama teman ÔÇô
temannya di sana. Setelah terbiaa melakukan hubungan
seks, tentunya saja tubuhnya mulai terbiasa dan
menuntut melakukannya lagi. Seminggu di awl ia pulang
hal itu belum terlalu terasa, setelahnya baru lumayan
nyusahin. Belum lagi ia selalu memikirkan bi Ratna.
Memang ia mencoba mengatasinya dengan
bermasturbasi, tapi jelas rasanya beda dan kurang
memuaskan. Dia juga berpura ÔÇô pura mau sekolah lagi
agar ibunya tak banyak membujuknya lagi. Soal ibunya
yang akhirnya tahu hubungannya dengan Bi Ratna, Deni
tak peduli, dia masih tetap kukuh ingin sekolah dan
tinggal di kampung.
Santi duduk di ruang tamu, melirik jam, jam 7 lewat,
kemana anaknya itu ? Waktu pulang, rumah sepi. Dicoba
menelepon dan SMS anaknya, tak ada jawaban. Tak lama
terdengar suara pagar dibuka. Saat deni masuk, Santi
menyuruhnya duduk.
ÔÇØDarimana kamu Den ?ÔÇØ
ÔÇØMain…ÔÇØ
ÔÇØDen, kamu bohong ya sama ibu. Ternyata seminggu ini
kamu juga tak sekolah. Apa sih maumu ? ÔÇØ
ÔÇØIbu sudah tahu kan mau Deni, jadi tak perlu tanya lagi.ÔÇØ
ÔÇØDan jawaban ibu tetap sama…tidak.ÔÇØ
ÔÇØYa sudah….Berhentikan saja Deni sekolah. Deni juga
akan pergi ke kampung. Percuma ibu larang.ÔÇØ
ÔÇØDENI ! Kamu itu berpikir dengan otakmu atau tidak
sih…?ÔÇØ
ÔÇØBu, dengar ya, Deni sebenarnya sudah tak masalah
untuk tetap sekolah di sini. Sayangnya Deni punya
kebutuhan bu…buat ngewek sama bi Ratna.ÔÇØ
PLAK…Santi tak bisa menahan amarahnya, menampar
pipi Deni. Deni hanya diam, lalu ke kamarnya
membanting pintu dan menguncinya. Santi duduk
berdiam diri. Belum pernah ia menampar anak
kesayangannya itu. Tapi kali ini Deni sudah kelewatan,
bagaimana mungkin anak itu bisa sesantai itu
mengatakan dia butuh ngewek sama bibinya. Gila…apa
yang harus kulakukan ? Sampai jam 10 Santi mengetuk
pintu kamar Deni menyuruhnya keluar untuk makan, tak
ada jawaban. Akhirnya ia mengunci pintu rumah. Karena
khawatir, ia tidur di sofa, ia takut anaknya akan kabur.
Sulit sekali ia tidur, otaknya terus bekerja memikirkan
anaknya.
Ini yang paling Santi khawatirkan, sebenarnya walau Deni
bicara tentang ngewek sama bi ratna, bukan itu inti
permasalahan anak itu. Deni HANYA MERASA di kampung
ada bi Ratna yang siap memenuhi kebutuhannya. Yang
jadi masalah adalah lebih pada kebutuhan ngeweknya
sendiri. Membawa nama bibinya karena perwujudan
emosinya semata. Ini intinya. Masih lama Santi berpikir,
mengnalisa, merenung, menjelang pagi baru ia
tertidur…belum yakin dengan solusinya.
Saat Santi terbangun, hampir jam 9 pagi. Dia terkejut,
langsung duduk melihat kamar anaknya, sudah terbuka,
panik jadinya…lalu lega, Deni nampak sedang duduk di
meja makan, sudah mandi, nampaknya baru selesai
makan mi. Kini anak itu sedang merokok. Santi kembali
terkejut ketika Deni bicara.
ÔÇØBu…maafin Deni ya. Semalam sudah buat ibu marah.ÔÇØ
ÔÇØI..iya, ibu juga minta maaf sudah menamparmu.ÔÇØ
ÔÇØNggak itu memang salah Deni, ngomong seenaknya.
Pantas ditampar. Maaf juga membuat ibu khawatir
sampai seperti ini. Deni kaget waktu tadi membuka pintu
kamar melihat ibu tidur di sofa. Maafin Deni bu.ÔÇØ
ÔÇØYa sudah kalau kamu menyadarinya. Ibu mau mandi
dulu sudah jam 9.ÔÇØ
Santi lalu berdiri, masuk ke kamar mandi. Untunglah
sepanjang siang itu Deni nampaknya sudah mulai tenang,
sekarang sedang nonton TV. Santi saat ini sedang duduk
di kamarnya, wajahnya serius. Akhirnya ia menghela
nafas, ia memanggil Deni. Tak lama Deni masuk ke
kamarnya, duduk di pinggir ranjang, siap mendengar apa
yang mau ibunya katakan.
ÔÇØDen, ibu langsung saja ngomongnya, nanti kalau kamu
mau jawab, jawab saja sejujurmu. Dari omonganmu
semalam, ibu akhirnya yakin, masalah kamu sampai tak
mau sekolah sebenarnya karena kamu sudah terbiasa
dan butuh dengan eh..hubungan seks. Sampai mau
pindah sekolah segala. Intinya sebenarnya hal tadi.ÔÇØ
ÔÇØEh..itu benar bu.ÔÇØ
ÔÇØBagaimana kalau ibu katakan kalau ibu memahami dan
akan membiarkan kamu memenuhi hal itu supaya
sekolahmu bisa lancar lagi ?.ÔÇØ
ÔÇØMaksud ibu…ibu akan mengijinkan Deni sekolah di
kampung ?ÔÇØ
ÔÇØTidak.ÔÇØ
ÔÇØLalu..kenapa ibu mengatakan akan membiarkan Deni
memenuhi kebutuhan seks Deni ? Kalau tidak pindah
sekolah di sana, bagaimana bisa ketemu bi Ratna ?ÔÇØ
ÔÇØSiapa bilang kamu boleh melakukan hal itu dengan bibi
kamu ?ÔÇØ
ÔÇØMaksud ibu ? makin nggak ngerti jadinya nih.ÔÇØ
ÔÇØKamu akan kembali sekolah. Tidak di kampung, tapi di
Jakarta. Kebutuhanmu juga akan terpenuhi. Bukan
dengan bi Ratna. Tapi dengan ibu.
ÔÇØAPA ? MAKSUD I…IBU…?ÔÇØ
Ya, Santi memang sudah berpikir matang. Adat Deni yang
sangat keras tak akan bisa dilunturkan. Karena semuanya
sudah jelas, akar permasalahannya sudah ditemukan.
Anak itu harus menyalurkan hasratnya. Dan kalau
dibiarkan berlarut akan parah, anak itu bisa mencari
kepuasan secara sembarangan, dengan pelacur misalnya.
Lebih baik Santi yang memenuhinya. Ya, Santi merasa
itulah solusi terakhir yang paling baik buat Deni dan
dirinya.
ÔÇØKamu sudah dengar. Kamu bisa memenuhi
kebutuhanmu ke ibu. Ibu sudah pikirkan hal ini baik ÔÇô
baik. Jika hal ini akhirnya bisa membuatmu benar ÔÇô
benar bersekolah kembali, maka ibu siap.ÔÇØ
Deni terdiam, tak menyangka ibunya sampai sejauh itu
memikirkan dan menyayanginya. Tentu saja Deni
terkejut, bahkan tak tahu harus bagaimana. Tapi
dorongan keinginan, juga kesadaran bahwa dirinya
memang sering membayangkan ibunya telah menggelitik
gairahnya. Diliriknya ibunya yang mengenakan daster
biasa itu. Deni segera berkata…
ÔÇØIbu Yakin…?ÔÇØ
Hanya anggukan kepala saja sebagai jawaban. Deni
segera mendekati ibunya, bersandar di bahu ibunya,
memeluknya erat, lama hanya memeluknya, tetap
memiliki keraguan. Ia mendongakkan kepalanya,
matanya beradu dengan mata ibunya. Deni melihat mata
ibunya, ibunya juga melihat matanya. Mata ibunya telah
menjawab keraguannya. Mata ibunya nampak penuh
keyakinan dan juga keseriusan akan ucapannya. Deni
melepaskan pelukannya, mengangkat kepalanya yang
bersandar di bahu ibunya. Ia segera memiringkan tubuh
ibunya, berhadapan dengannya. Deni mendekatkan
wajahnya ke wajah ibunya, ia mulai menciumi pipi
ibunya, lalu bibir ibunya, ibunya hanya menutup rapat
mulutnya tak membalas ciumannya. Deni menarik daster
ibunya, agak sulit karena ibunya dalam posisi duduk.
Ibunya membantunya, ibunya mengangkat sedikit
pantatnya. Deni segera menarik daster ibunya,
melepaskannya. Santi duduk diam, kini hanya berCD saja.
Deni diam terpesona, apa yang biasa hanya bisa ia lihat
saat mengintip ibunya mandi, kini di hadapannya. Ia
mendorong pelan ibunya, membaringkannya. Deni
masih menatap tubuh ibunya itu, teteknya besar dan
sekal, bulat keras. Belum lagi pentilnya. Deni segera
memakai tangannya untuk meremas tetek ibunya.
Perlahan, menikmati rasa kenyal dan lembutnya. Kedua
tangannya meremas tetek ibunya itu. Telapak tangannya
merasakan pentil ibunya yang mulai mekar dan
mengeras, terasa menggelitik telapak tangannya. Jarinya
mulai menelusuri pentil itu dan lingkaran coklat di
sekelilingnya, terasa nyaman. Pentil itu kini dijepitnya
menggunakan ujung jari telunjuk dan ujung jari
jempolnya, ia pilin ÔÇô pilin, makin mekar dan mengacung
jadinya pentil itu. Ibuny masih diam saja. Deni membuka
kaos dan celana pendeknya, hanya menyisakan kolor
yang menonjol besar. Ibunya hanya diam saja melihat
Deni tanpa komentar. Deni mendekatkan mulutnya,
mulai menjilati kedua pentil yang sudah besar
mengacung itu, menggelitiknya dan menggoyang ÔÇô
goyangnya dengan lidahnya, menghisapnya lembut,
mengemutnya, lalu menghisapnya lagi kuat. Tubuh
ibunya sedikit bergetar, juga sedikit mendesah. Deni
masih terus menghisap pentil ibunya, tangannya juga
kembali meremas ÔÇô remas tetek ibunya. Sambil
menghisap pentil itu, lidahya beraksi mengoyang ÔÇô
goyangkan pentil itu, ibunya mendesah kecil. Cukup lama
ia fokus di tetek dan pentil ibunya, kont01nya sendiri
sudah ngaceng sekali. Deni mengangkat lengan Santi,
tampaklah rimbuan hiam yang menggoda, tangannya
segera mengelus dan memainkan bulu ketek itu,
menariknya lembut. Lalu Deni menciumi dan
menjilatinya. Harum juga menebarkan rangsangan
tersendiri yang menggelitik nafsu Deni. Lama ia menjilati
kedua pangkal lengan ibunya, sesekali ibunya menahan
rasa geli saat lidah Deni terasa sangat menggelitik.
Deni lalu menciumi belahan tetek ibunya, turun ke
bawah sampai ke perut yang rata,, ia elus ÔÇô elus dengan
tangannya, lalu diciuminya perut ibunya, makin ke
bawah, kini matanya memandang CD putih yang tebal.
Tangannya diletakkan di sana merasakan rasa hangat.
Terasa sekali jembut tebal di baliknya. Tangannya
mengelus CD itu sebentar. Lalu mulutnya menciumi
permukaan Cd itu. Tangannya segera menarik turun CD
ibunya itu, ibunya mengangkat sedikit pantatnya,
memudahkan Deni meloloskan CD itu. Deni diam,
meneguk ludahya, matanya menatap keindahan m3mek
ibunya itu, jembut yang lebat nan hitam menghiasinya
sampai belahan pantatnya, sangat kontras dan
menambah pesona m3mek itu. Belahannya nampak
dalam mengundang. Tangannya mulai meraba dan
mengelus jembut itu, Tebalnya terasa di telapak
tangannya. Lalu dengan ujung jari telunjuknya ia
mengelus belahan m3mek itu, naik turun, belahan itu
mulai merekah, makin lama makin lebar, nampak
kemerahan isi di baliknya, juga mulai basah. Ibunya
hanya menggoyangkan pantatnya sedikit, masih tetap
diam.
Mulutnya mulai menciumi belahan m3mek itu dengan
penuh gairah dan perasaan. Aroma harum yang khas
memenuhi rongga hidungnya. Diciuminya seluruh
permukaan m3mek ibunya. Lobang m3mek ibunya
nampak kemerahan dan rapat. Deni mulai menjulurkan
lidahnya, it1l ibunya agak besar, lidahnya mulai menyapu
dan mengelus it1l itu, menggoyangkannya, perlahan lalu
makin cepat, pantat dan tubuh ibunya mulai kerap
bergoyang. Desahannya mulai sering terdengar. Jari
tengah Deni segera menyodok lobang m3mek yang
sudah basah itu. Disodokkan dengan sangat cepat,
dengan cepat jari itu terasa licin dan lengket. Hampir 5
menit sudah ia memainkam m3mek itu. Ibunya makin
sering menggoyangkan pantatnya, kakinya menekuk dan
mengangkang lebar. It1lya sangat nyaman di lidah Deni,
terus dan cepat Deni memainkannya…tangan ibunya
mulai meremas rambut anaknya itu. Desahannya yang
tadi hanya pelan mulai keras.
ÔÇØAhhh…Dennnn….ÔÇØ
ÔÇØSudaaahhh….OhhhhhÔÇØ
ÔÇØArghhhhh……UghhhhhÔÇØ
Santi mengejang, badannya bergetar, pantatnya
terangkat tinggi. Terasa hangat cairan orgasme yang baru
saja ia keluarkan. Anak ini sudah mahir memainkan
lidahnya pikir Santi. Tubuhnya masih lemas merasakan
kenikmatan. Deni berdiri, menurunkan kolornya,
kont01nya mengacung. Mata Santi menatap ke kont01
anaknya itu…pantas saja si Ratna sampai tak bisa
menahan godaan. Santi merasakan tubuhnya terbakar
gairah, m3meknya berdenyut saat ia memandan lekat ÔÇô
lekat kont01 Deni. Deni berdiri agak kikuk mau
ngomong…
ÔÇØEh…bu..hi..hisapin ya.ÔÇØ
Santi mengangguk, Deni mendekat, duduk di tempat
tidur, Santi yang tadi terlentang, memutar tubuhnya
menjadi tengkurep, mendekat ke selangkangan anaknya.
Jarinya mulai meremas dan mengelus kont01 anaknya
ini. Biji Pelernya ia mainkan sesaat, diremasnya lembut.
Saat tangannya menggenggam batang kont01 Deni,
terasa batang kont01 itu berdenyut. Ia masih memainkan
tangannya pada kont01 Deni, mengocoknya bergantian
pelan lalu cepat. Lidahnya mulai menjilati kepala kont01
Deni, lalu batangnya, gerakannya sangat cepat dan penuh
tekanan yang kuat. Deni mendesah sambil merem ÔÇô
melek. Mulut ibunya mulai menelan kont01nya,
mengemut, menghisap, mengulum, saat menarik
kont01nya keluar, ibunya selalu melakukannya samapai
batas leher kepala kont01nya lalu menelannya lagi,
sangat cepat. Batas leher kepala kont01nya sangat geli
bersentuhan dengan bibir ibunya yang basah dan
sensual. Ampuuunnn….enak sekali pikir Deni. Ibunya
masih lama mengulum dan menghisap kont01nya,
terakhir ibunya menelan sedalam mungkin kont01nya.
Lalu mengemutnya dengan kuat, bikin Deni kelojotan.
Ibunya menghentikan Oral nya, segera turun, berlutut di
pinggir tempat tidur, ditariknya kaki Deni hingga
menjuntai ke bawah. Dilebarkannya kaki itu, lalu ibunya
memposisikan diri di tengah kakinya itu.
Tangan ibunya menggenggam kont01 Deni, ditaruhnya
kont01 itu di belahan tetek besarnya. Kedua tangannya
lalu mengapit erat pinggiran teteknya, menjepit erat
kont01 itu di tengahnya. Deni melihat ibunya sedikit
meludahi kont01nya dan belahan teteknya. Ibunya lalu
menaik turunkan badannya, juga menggoyangkan
teteknya, mengocok kont01 itu. Uffff…..Sangat
Enaaaakkk….belum pernah Deni merasakan hal seperti
ini, kont01nya sangat nyaman dikocok di antara tetek
ibunya yang besar dan kenyal. Deni mengerang penuh
kenikmatan. Tetek yang besar itu terasa membelai
lembut sekaligus menekan erat kont01nya, kombinasi
rasa nikmat yang tiada tara bagi Deni. Masih lama ibunya
melakukan gerakan ini, Deni msih meraa nyaman, tapi
sudah tak tahan mau memasukkan kont01nya di m3mek
ibunya.
ÔÇØBu…su…sudah duluuu…Deni sudah nggaaakk tahan mau
masukkin.ÔÇØ
ÔÇØYa sudah kalau begitu maumu.ÔÇØ
Ibunya menghentikan kegiatan tadi. Segera naik dan
berbaring, melebarkan kakinya. Deni segera menindih
ibunya, Deni mengangkat sedikit pantatnya,
mengarahkan kont01nya, lalu blessss….gilaaa…saat
kont01nya sudah amblas seluruhnya Deni diam dan
merasakan rasa nyaman dan nikmat di sekujur
tubuhnya, m3mek ibunya terasa sangat hangat, sangat
rapat dan nyaman. Sementara Santi merasakan sesak
namun nikmat dalam m3meknya. Penaasaran menjalari
pikirannya….sebentar lagi ia akan tahu apa yang telah
membuat Ratna sampai begitu terlena.
Deni ulai bergerak, memompa kont01nya perlahan,
cairan di m3mek ibunya terasa pas dan memudahkan
pompaannya. Kont01nya ia tarik keluar sejauh mungkin
dan ia tekankan sedalam mungkin. Saat ia menyodok
sedalam mungkin, ibunya mendesah penuh kenikmatan.
Perlahan namun pasti gerakan memompa dan
menyodoknya makin cepat. Tetek ibunya bergoyang ÔÇô
goyang dengan sangat seksi, ibunya mendesah, matanya
merem melek, kedua tangannya terangkat ke atas. Deni
terus menyodok, sambil sibuk kembali menciumi ketek
Santi. Lalu ia jilati leher dan telinga ibunya, membuat
Santi kegelian. Deni memompa dengan penuh nafsu,
desahan dan wajah ibunya makin membuatnya terpacu,
ibunya samapi kelojotan menahan sodokannya…
ÔÇØDen…pelaaannnn….Ughhh…ÔÇØ
ÔÇØSsssstttt….Yeaaahhhh….Oooohhh…ÔÇØ
ÔÇØAmpuuunnnn….Aaaahhhh….Awwww….ÔÇØ
Ibunya mendapatkan orgasme, dan Deni malah menjadi
semakin nafsu. Tak memperdulikan ibunya yang lemas, ia
makin asik menyodok. Santi sendiri sampai kelojotan,
rasa nikmat yang tak henti menghantamnya, ja…jadi
inikah yang telah membuat Ratna tak bisa menolak Dini,
kini Santi paham sepenuhnya. Godaan ini terlalu sulit dan
juga terlalu enak buat ditolak. Pantat ibunya nampak
bergoyang liar mengimbangi sodokan Deni. Terasa
membetot kont01nya. Tangan Deni mulai meremas kuat
tetek ibunya itu. Sodokannya juga tetap stabil. Dua
minggu tanpa ngewek membuatnya benar ÔÇô benar
disalurkannya sekarang. Bibir Deni mencium bibir
ibunya, kini ibunya membalas, mereka berciuman
dengan panas. Setelah itu Deni mulai menghisap pentil
ibunya kuat ÔÇô kuat, sodokannya mulai agak berkurang
kecepatannya, sudah maksimal ia bertahan…denyut
nikmat terasa pada kont01nya. Kembali ia mencium
ibunya, memeluknya erat, dan dengan sodokan yang
kuat…..crooot…crooot….croott…kuat dan banyak sekali
pejunya, membuat ibunya bergetar saat pejunya
menyemprot kuat. Deni terkulai sesaat, akhirnya
dicabutnya kont01nya, berbaring….
ÔÇØBu terimakasih ya sudah muasin hasrat Deni.ÔÇØ
ÔÇØYa…sekarang sudah mau sekolah lagi kan…?ÔÇØ
ÔÇØIya.ÔÇØ
ÔÇØKalau kamu nanti sedang kepengen bilang ke ibu ya. Tapi
jangan sampai ayahmu tahu.ÔÇØ
Dan akhirnya memang Deni kembali ke sekolah. Nilainya
bahkan meningkat. Kini setiap ia ingin, ibunya akan
memenuhinya. Ayahnya akhirnya sudah menyelesai
proyeknya dan kembali pulang, namun mereka tetap
melakukannya. Waktu terus berjalan….
Santi merasa sudah melakukan solusi yang paling tepat.
Kini anaknya dapat memuaskan hasrat yang
merongrongnya. Tahu kini ibunya selalu ada untuk
membantunya. Bersekolah seperti sediakala dan tak
pernah membicarakan lagi niat untuk pindah sekolah ke
kampung. Santi bahkan amat menikmati melakukan
hubungan seks dengan Deni, bisa sangat mengerti dan
sangat memahami kenapa adiknya sampai tak kuasa
menahan diri dari godaan Deni. Santi bahkan bisa toleran
saat Ratna datang menginap ke Jakarta ( Ucil dititipkan ke
abahnya. mungkin Ratna kangen sama Deni pikir Santi ).
Rumah mereka hanya memiliki 2 kamar. Jadi Ratna tidur
di kamar Deni. Suaminya tentu saja tak curiga dan
berpikiran macam ÔÇô macam. Tapi Santi tahu bahwa di
kamar itu setiap malam Deni dan Ratna bukan hanya
sekedar tidur. Deni pasti ngewek sama bibinya itu. Santi
diam saja, membiarkan kedua orang yang ia sayangi itu
memuaskan hasrat masing ÔÇô masing.
Deni sedang merokok di kamarnya, menatap jam di
dinding tik…tik…tik…yak sudah jam 12 malam, resmi
sudah kini ia berusia 17. Banyak yang terjadi belakangan
ini, dan semuanya menyenangkannya. Ibu, Bi Ratna, Bi
Lasmi akan selalu menjadi wanita yang ia sayangi. Ia tak
akan pernah tahu apa yang akan ia temui di masa depan.
Tak akan pernah tahu wanita seperti apa yang akan
menjadi pasangan hidupnya nanti. Tapi satu hal yang
pasti, sampai kapanpun bi Ratna akan selalu menjadi
cinta pertama dan menempati ruang khusus di hatinya.
Deni tersenyum, mematikan rokoknya, lalu tidur.

-TAMAT-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*