Home » Cerita Seks Mama Anak » Umi Sayang Badar 5

Umi Sayang Badar 5

Cerita Sebelumnya Ummi Sayang Badar 4

Jam 4 kami berangkat menuju rumah budhe sum. Rumahnya cukup jauh dari rumah kami. Jalan menuju rumahnya pun belum diaspal. harus terlebih dulu melewati ladang tebu yang cukup luas dipertengahan antara rumahku dan rumahnya.

Di perjalanan kami berdua saling berdiam membisu, tak ada satu patah katapun yang terlontar dari mulut kami berdua. Aku hanya berkonsentrasi mengendarai motor agar tidak tergelincir karna jalan tanah yang licin sehabis diguyur hujan.

Satu jam perjalanan kami sampai di tengah ladang tebu yang sangat sepi, mungkin para petani sudah pulang kerumah masing-masing karna hari sudah menjelang malam. Tiba-tiba umi menyruhku menghentikan motor didepan pondokan tempat para petani tebu beristirahat disiang hari. kuturuti prmintaanya meski aku juga bingung dengan permintaannya ini. Umi mengajaku duduk dipondokan. Kami pun duduk berdampingan. kucoba memulai pembicaraan karna cukup lama umi hanya berdiam saja.

“umi? kenapa kita berhenti di sini? Rumah budhe kan masih jauh?”.

Bukanya menjawab, umi malah memeluk dan mencium bibirku begitu lembut dan perlahan. Umi melepaskan ciuman dan pelukanya, lalu menatap wajahku. Matanya begitu sayu dan menduhkan “Umi cintai kamu nak”.

“apa mi? Badar ngga denger….” aku pura-pura tidak mendengar ucapan umi.

“Umi cinta badar!

“apa mi badar ngga denger hehehehehe”.

umi langsung mencubit perutku

“ihhhhhh… coba bilang ngga denger lagi??….”

“aduhhhh ampun umi ampun hahahahahaha ampunnnnn”. aku tertawa.

umi kembali terdiam, tiba-tiba mata umi berkaca-kaca dan mulai terisak. Kusapu air matanya dengan tanganku.

“Umi kenapa? Kok nangis?”

“umi marah sama umi sendiri… Karna umi takut mengakui kalau sebenarnya umi cinta kamu nak, sekarang umi menyesal huu hu…. Umi ngga mau kamu dekat dengan rahma, umi ngga mau rahma mengambil kamu dari umi, kamu hanya milik umi, umi ngga mau wanita lain merebut cinta kamu dari umi huu huuu”.

“umi… tatap mata badar….. cinta badar cuma buat umi, tak akan ada yang bisa merebut badar dari umi, percaya sama badar ”

Kudekatkan bibirku ke bibir umi. Kembali kami berciuman, Tangan umi memeluk leherku dan mulai mengikuti irama bibirku. Kusingkapkan jilbab lebarnya lalu kucium lehernya. Umi mendongakan lehernya memberikan kesempatan agar aku dapat menyusuri setiap inci lehernya.
“Hemmmmm nak” perlahan umi mulai mendesah. bibirku masih terus menyusuri lehernya, kujilat dan kugigit kecil sampai membekas merah.

“jangan digigit nak? ochhhh nanti abimu curiga” sambil terpejam umi berucap.
Aku tak perduli dengan perkataanya. Kurebahkan tubuh umi kelantai. Perlahan kutelusupkan tanganku kebawah tubuh umi untuk mencari ressleting gamis umi. Setelah kutarik resletingnya segera kubuka baju umi. aku tidak perduli kalau ada orang yang bisa melihat kami.

Kuhentikan aktivitasku di leher umi untuk melihat tubuh umi yang kini hanya berbalut BH dan CD hitam saja. Meskipun sudah sering melihat tubuhnya dalam keadaan seperti ini namun aku tetap terpesona dibuatnya.
“Hussssss. Liatin apa sih sampe bengong begitu!” suara umi mengagetkanku.

“eh maaf umi…. liat tubuh indah umi aku sampe terpesona…. Jadi bengong deh hehehehe.”

“alah anak umi udah pinter ngegombal, indah dari mana coba? Orang udah kendor dibilang indah!” jawab umi.

“beneran umi, badar ngga bohong”.

Kuremas susu umi yang masih terbungkus bh.
“ohhhhh….” umi kembali mendesah. Ku tarik cup bh umi kebawah supaya aku dapat menghisap puting umi yang telah mengeras. Tubuh umi bergetar saat aku mulai menghisap putingnya “arghhhhhh”. Sementara satu tanganku masih meremas-remas susu umi, tanganku yang lain mulai menyusuri bagian bawah tubuhnya. Kurasakan memek umi mulai basah.

“ohhh…. Cepat nak umi udah ngga kuat, jangan buat umi gila”

“sabar umiku sayang…. Badar masih ingin menikmati tubuh umi”

Setelah aku puas menikmati susu umi, aku mulai menyusuri perutnya. Kumainkan lidahku menjilati pusarnya.

“nak….. Umi mohon, umi bisa mati kalau kamu terus mempermainkan umi seperti ini”.

Tak kuhiraukan perkataan umi.

kulepaskan CD umi dan kukangkangkan kakinya agar aku mudah mempermainkan lubang memeknya. Memek umi semakin basah, segera kudekatkan kepalaku untuk menjilati memek umi. sebelum kujilat bibir memeknya kusibak rambut hitam tebal yang menutupi memeknya. Umi hanya menggigit bibirnya dan menahan kepalaku saat aku mulai mengeksplor memeknya. Kutusuk lubang memeknya dengan jari tengahku dan kujilati kelentitnya. Umi semakin menggelinjang karna kegelian. Kepalaku semakin dijepit kedua pahanya.

“oh sudah nak umi ngga kuat lagi… Ohh ohhh ohhh umi nyampe umi nyampe nakkkk ohhhhh”

Kurasakan semburan keluar dari memek umi sehingga memek umi semakin basah. Segera kuhisap air cintanya agar tidak terbuang percuma. Setelah umi menyelesaikan orgasmenya aku bangkit dan melepas semua pakaianku. Aku tidak mau menunda lagi karna hari sudah semakin gelap. Umi terus menatap tititku yang berdiri tegak.

Kembali kurapatkan tubuku, kudekatkan bibirku ketelinganya “sudah waktunya umi…. Badar akan membawa umi terbang”.

“lakukanlah nak…. Bawa umi terbang bersamamu”
jawab umi sambil tersenyum.
Kudekatkan tititku kelubang surga umi. Perlahan tititku memenuhi seluruh rongga memeknya. Setelah seluruh tititku masuk, kumulai mengeluar masukan tititku secara perlahan.

“oh umi memek umi sempit banget, titit badar kaya digigit-gigit ohhhh” umi menarik leherku agar aku juga menghisap puting susunya.

Plok plok plok suara tumbukan antara kulitku dan kulit umi.

“hisap susu umi nak… Kamu suka susu umi kan? Ohhh”

Semakin lama persetubuhan kami semakin panas, goyangan umipun semakin berfariasi dan semakin cepat.
“Okhhhhh akhhh” kurasakan umi mengejang pertanda dia akan orgasme.
“terus nak…. ohhhh umi keluar….!” tititku tersiram air cintanya.
Kuhentikan kocokan tititku agar umi menikmati orgasmenya. Kuseka keringat yang membasahi wajahnya.

“heh heh oh nak tadi itu sangat nikmat ” kata umi yang masih terengah-engah.

Setelah beristirahat sejenak, kusuruh umi untuk merangkak. Awalnya ada sedikit kebingungan diwajahnya, namun umi tetap melakukanya. Kutusukan tititku dari belakang blessssss

“okhhhhhhhh…..” Desah umi

“bagai mana umi? Nikmat bukan?”

“I-ya nak…. Ini sangat nikmat…. Tititmu semakin dalam menusuk memek umi”

15 menit kemudian aku mulai merasakan gatal diujung tititku. Aku mulai mempercepat kocokanku.

“oh umi… Badar sampe badar sampai”

“iya nak… Keluarkan… Keluarkan dalam rahim Umi… Umi juga akan keluar anaku… Keluarkan sekarang…”

“crot crot crot” kami keluar bersama.
Umi jatuh tertelungkup karna tak mampu menahan berat badanku. Saat aku akan bangkit umi menahanku.

“Biarkan umi menikmati dekapanmu lebih lama nak, umi merasa nyaman dan terlindungi”

Suasana menjadi begitu hening, hanya suara serangga yang terdengar. Setelah beberapa lama Perlahan kucabut tititku dari memek umi. kulihat air maniku keluar karna tak tertampung semuanya dalam rahim umi.

Kami segera memekai pakaian kami karna sudah semakin malam. Kubantu umi memakai gamisnya. Setelah semua rapi kami berjalan menuju motor.

“kita pulang aja nak” kata umi tiba-tiba setelah kami sampai motor.

“kok pulang mi? Emang kita ngga jadi kerumah budhe”

“siapa yang mau kerumah budhe……” jawab umi sambil tersenyum.

“owh jadi umi….” tak kuteruskan ucapanku karna umi mencium bibirku.

“ngerti????”

“iya mi badar ngerti” jawabku.

Kamipun akhirnya pulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*