Home » Cerita Seks Mama Anak » Ummi Sayang Badar 4

Ummi Sayang Badar 4

Cerita Sebelumnya Ummi Sayang Badar 3

Setelah malam penuh gelora itu, aku dan umi hidup seperti sepasang suami istri. Kami juga tidur dalam satu kamar. Tak ada satu sudutpun dari rumah kami yang belum menjadi saksi betapa panasnya gelora cinta kami. Namun cinta umi padaku menemui ujian saat abi pulang dari pesantren.

sore itu saat aku baru pulang dari sekolah, aku mendapati sepeda motor tua abi terparkir dihalaman. Aku tidak bersemangat untuk masuk dan menemuinya, pasti sekarang umi sedang bersama abi, batinku. Perasaan cemburu mulai membakar hatiku. kuucapkan salam sebelum masuk.
“assalamualaikum”
“wangalaikum salam” jawab mereka kompak.
Segera ku hampiri mereka berdua dan menyalaminya.
“badar…. Darimana kamu!
Jujur pertanyaan itu sangat menyakiti hatiku. Sudah hatiku sakit saat umi begitu melayani abi (karna umi sedang memijit kaki abi) kini ditambah pertanyaan abi ini.
“sekolah lah bi! Emang abi ngga liat badar pake seragam? Abi masih ngga percaya sama badar!”
Jawabku agak meninggi. Tanpa menunggu jawaban dari abi, aku langsung masuk dalam kamar dan membanting pintu kamar.

Dari dalam kamar aku mendengar umi berbicara pada abi.
“sudah lah bi? umi yakin badar sudah berubah, dia sekarang rajin kesekolah dan pulang tepat waktu”.”bukan begitu mi, abi cuma mau dengar jawaban langsung dari badar”

Sore pun berganti malam, saat makan malam pun tiba. Umi mengetuk kamarku dan menyuruhku untuk makan malam.
“nak makan malam dulu” panggil umiku.
“iya miiiii”
Saat sampai di meja makan, aku pun kembali disuguhi kemesraan abi dan umi yang membuat hatiku makin terbakar. Umi mengambilkan nasi, sayur dan lauk untuk abi tapi tidak untuku. Sambil menahan marah akupun mengambil sendiri sedikit nasi, karna mendadak hilang nafsu makanku. Sambil makan abi mulai memberikan nasehat-nasehat padaku agar jangan mengulangi kelakuan buruk yang aku perbuat. Kuhabiskan secepatnya makananku agar aku cepat meninggalkan ruangan ini dan kembali kekamar.

Malam semakin larut, aku juga dengar saat abi dan umi masuk kedalam kamar, yah kalian tau lah untuk melakukan apa? Dan aku tidak berniat untuk menceritakanya. mataku tak juga mau terpejam padahal ini sudah hampir jam 1 malam. Saat aku masih mencoba utuk tidur aku mendengar pitu kamar umi dibuka, siapa yang keluar batinku, semoga yang keluar umi segera aku beranjak dan membuka sedikit pintu kamar untuk mengintip, dan benar saja yang keluar umi, aku tersenyum senang karna dari tadi tititku sudah berdiri.

Kuikuti umi yang hendak kedapur, saat umi sedang menuangkan air kedalam gelas, segera kupeluk umi dari belakang dan meremas kedua susunya.
“ohh umi, akhirnya umi keluar juga badar seneng banget” kataku. Namun aku kaget saat umi berontak dan menamparku “plakkkkkkkkkk”.
“badar! Hargai umi!” sambil membelalakan matanya.
Meskipun umi berbicara dengan berbisik, tapi cukup membuatku terdiam untuk beberapa saat. saat aku tersadar kukejar umi yang akan kembali kekamarnya, kutarik tanganya dan kudorong tubuhnya menempel ketembok.
“apa maksud umi? badar mencintai umi! Dan badar tau umi juga mencintai badar, iyakan miiii?”
“tidak nak! Ini salah! Badar anak umi dan selamanya akan begitu, umi memang mencintai kamu! Tapi sama seperti ibu-ibu lain yang mencintai anak-anaknya, tidak lebih! Dan kamu hanya menganggap umi sebagai pelacurmu, itu bukan cinta nak, tapi nafsu!”.
Aku sangat marah, karna umi menghianati cintaku. Tanpa sadar kugenggam keras pergelangan tangan umi sampai umi kesakitan.
“lepaskan tangan umi nak, tangan umi sakit” kata umi. Kulepaskan tangan umi dan umi segera meninggalkanku. Sebelum umi masuk kamar aku berucap “baiklah kalu itu mau umi, badar akan mencoba untuk berhenti mencintai umi”. Aku kembali kekamar dengan hati hancur kurenungi semua kata-kata umi.
Apa benar yang umi katakan? Semua yang telah kami lakukan semata-mata hanya berdasarkan nafsu semata bukan cinta. Sampai aku terlelap belum juga aku dapat jawabanya.

Aku bangun kesiangan, untung hari ini hari minggu. Hari ini rumah terasa sangat membosankan. Sikap umi begitu dingin kepadaku, saat kami berpapasan tak ada senyum sedikitpun dari bibirnya. Ah dari pada suntuk dirumah Kuputuskan untuk keluar rumah saja, nongkrong sambil beli rokok diwarung depan rumah.

Saat berjalan kaki menuju warung, aku bertemu dengan rahma. Rahma adalah teman sekelasku, dia gadis berjilbab yang cukup cantik dan pintar. Dari kelas 1 sampai kelas 3 dia selalu menjadi juara kelas. Banyak cowo-cowo yang mencoba mendekati untuk menjadikany pacar, namun tak satupun diterima.

Tak disangka dia memintaku untuk menemaninya membeli buku. Karna kupikir daripada suntuk dirumah kuterima saja ajakanya, yah itung-itung refresing ngilangin suntuk. Langsung kami berangkat mencari buku yang dibutuhkan rahma.

Jam 3 sore aku baru sampai dirumah setelah terlebih dulu mengantar rahma sampai depan rumahnya. abi dan umi sedang duduk-duduk diteras sambil minum teh. Seperti biasa pertanyaan abi membrondongku.
“darimana kamu dar?”
“habis jalan sama temen bi” jawabku
“temen-temen brandalmu itu! Iya hah?” ucapan abi meninggi.
“bukan bi, badar habis menemani rahma beli buku” tak sengaja aku melirik kearah umi, pada saat itu umi menatapku dengan tajam. Aku tak mengerti apa arti dari tatapanya itu.

Setelah kejadian itu, tak ada lagi kejadian penting, umi masih dingin kepadaku, dan banyak kuhabiskan waktuku bersama rahma. Namun semua itu hanya bertahan 3 hari saja.

Sore itu saat aku pulang sekolah umi menemuiku dikamar, umi minta aku mengantarnya kerumah budhe sum.
“nak anterin umi kerumah budhe sum yah?”
“maaf mi badar ngga bisa, badar ada janji sama rahma” alasanku, sebenarnya aku tidak ada janji dengan siapapun.
“rahma lagi rahma lagi! Umi ngga suka kamu dekat dengan rahma! Umi ngga mau tau, pokoknya kamu harus anterin umi!” Suara umi meninggi.
“Iya mi……”
Umi segera pergi keluar kamar, tapi aku senang umi ternyata cemburu. Berarti aku masih bisa memiliki umi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*