Home » Cerita Seks Mama Anak » Ummi Sayang Badar 3

Ummi Sayang Badar 3

Cerita Sebelumya : Ummi Sayang Badar 2

sepert tersambar petir disiang bolong, Aku tidak percaya dengan apa yang ku dengar saat ini. Anakku sendiri ingin melihat uminya telanjang.
Plakkkkkkkkk…. Ku tampar mulutnya.
“ya tuhan….. Apa yang kau katakan nak!!! Setan apa yang sedang merasukimu!!!”.
“he he he he sudah ku duga, umi memang tidak pernah menyayangiku, sekarang lebih baik umi pergi dari sini karna aku mau tidur!!!”.
sambil menahan air mataku yang semakin deras, kuturuti kemauanya “baiklah kalau itu yang kau mau, ini umi lakukan karna umi sangat menyayangimu, dan jangan pernah membicarakan ini pada abimu”.
Saat aku mulai akan membuka gamisku, badar melarangku.
“hentikan umi…. Kalo umi melakukanya dengan terpaksa, lebih baik umi keluar dari kamar badar!!, Badar memang ingin memiliki umi tapi, badar tidak akan pernah memaksa wanita yang benar-benar badar cintai”.
“miliki? Cintai? Apa sebenarnya maksudmu nak?”
“Iya mi,,, badar mencintai umi, badar mencintai umi bukan seperti cinta anak pada ibunya tapi cinta antara laki-laki yang mencintai kekasihnya, aku ingin umilah yang mengambil perjaka badar, apakah umi tau, kalau mimpi basah pertama badar adalah badar bermimpi bercinta dengan umi!!! sekarang badar minta, umi keluar dari kamar badar!!!.

Oh tuhan, apa yang harus aku lakukan, kenapa anakku bisa mencintaiku. Apakah ini penyebab mengapa badar sepertinya sangat membenci abinya saat abinya pulang kerumah, Apa yang harus aku lakukan!!!. aku tidak mau badar kembali mendiamkanku, aku sangat menyayanginya, ucapku dalam hati.
“Badar…. Apakah badar benar-benar mencintai umi?”.
“I-Iya umi,”
Aku pun mencoba tersenyum sebisa mungkin.
“Sekarang lakukanlah apa yan ingin badar lakukan, umi malam ini akan menjadi milik badar seutuhnya, umi akan melayani badar seperti umi melayani abimu”.
“benarkah umi??? Umi mengizinkan badar……”.
Akupun mengangguk “lakukanlah nak….. Perlakukanlah umi sebagai istrimu”
Perlahan badar menarik ku ke ranjang, akupun mengikuti kemauanya dan duduk di sampingnya. Bibirnya pun mendekati bibirku, aku mengerti apa kemauanya lalu kusambut bibirnya. Dengan ganas dia mulai menciumku.
“emmmm hemmm crepppp…. Stop!!!”,
“ken…kenapa umi??”
“bukan seperti itu memperlakukan istrimu nak, memperlakukan istri itu harus dengan lembut dan penuh perasaan…. Sepert ini”. kutempelkan lagi bibirku ke bibir anakku, kami kembali berciuman namun ciuman kali ini penuh dengan kelembutan. lidah kami saling bergantian membelit “emmm hemmm hemmmm emmm” kurang lebih 5menit kami melepaskan ciuman kami.
“gimana??? Lebih nikmat kan?”
“iya mi…. Rasanya lebih manis…. Hemmm miii? Apa aku boleh mencium umi lagi?”. Kata anakku sambil menundukan wajahnya.
Aku pun tersenyum.
“kenapa kamu bicara seperti itu nak? umi kan istrimu, jadi tidak perlu meminta izin”.
“u-umi…….”
Kembali bibir kami bertemu, ciuman kali ini lebih lama dan panas. Tangan badar mulai meremas susuku dari luar gamis panjangku. kudekap erat kepala badar, seolah aku tidak ingin melepaskan tautan bibir kami. Saat kami melepaskan ciuman, tangan anakku masih terus meremas-remas kedua susuku. Sambi terus meremasi susuku mata badar terus menatap mataku, seolah minta izin untuk melepaskan gamis panjangku.
“lakukanlah nak…… Umi mengizinkanmu”
Tangan badar mulai menurunkan ressleting gamisku, kebetulan aku memakai gamis yang ressletingnya ada di depan, dengan mudah badar melepaskan gamis bagian atasku. badarpun terperangah melihat besarnya ukuran susuku yang masih berbalut BH berwarna putih.
“kenapa nak?….”
“be-besar sekali umiiiiiii”
“kamu ngga suka?”
“su-suka sekali umi, badar cuma ngga nyangka susu umi sebesar ini”
Ku buka pengait BH di punggung, segera kulemparkan kelantai. Badarpun semakin terperangah….. Terbesit pikiran nakal untuk menggodanya.
“ya sudah kalo badar ngga suka biar umi tutup lagi”. Sambi pura-pura ingin mengambil BH yang tergletak di lantai.
“jangan umi, badar suka banget umi”.
“kalo badar suka….. Kenapa cuma dilihat? Badar ngga mau nenen?”. Kupegang susuku dan mendekatkanya kebibir badar. Badarpun mulai menghisap puting susuku.
“ohhhh….. Terus nak, hisap susu umi, habiskan nak, kamu juga dulu selalu menyusu pada umi saat masih bayi”.
Satu tangan badar memilin puting susuku dan satu tangan yang lain menggosok memekku dari luar celana dalam. Ini semua terasa sangat nikmat badar membawaku terbang melayang jauh kelangit tinggi. Dari mana badar belajar semua ini bahkan suamikupun tidak pernah melakukan ini.

Badar terus menghisap bergantian kedua susuku dan jari tengahnya menyucuk-nyucuk lubang memekku dari luar CDku. hingga aku merasakan rasa yang tidak biasa, rasa yang begitu asing, rasa yang begitu nikmat.
“ohhhhhhhh…. Hemmmmmm badarrrrrrrr achhhhhh”
“kamu apain umi nak? Itu tadi sangat nikmat”
Nafasku masih terengah, aku begitu lelah namun sangat nikmat.
Segera kucumbu bibir badar, kami saling berdekapan seperti sepasang kekasih yang tidak ingin terpisah lagi.

Dengan lembut badar merebahkan tubuhku, menciumi seluruh wajahku dan menggrayangi
seluruh tubuhku. lengguhanku mulai kembali terdengar membuatnya semakin bersemangat merangsangku. Tanganya kembali masuk melewati bawah gamis dan mulai membelai pahaku. badar berusaha melepaskan gamisku, aku pun membantunya dengan mengangkat pantatku dan kini tubuhku hanya tertutup jilbab dan celana dalam saja. Saat aku ingin melepaskan jilbabku, badar melarangnya.
“jangan jilbabnya umi, badar ingin umi terus memakainya, umi lebih cantik saat megenakan jilbab”.
“baiklah nak umi akan menurutimu, karna kini umi adalah istrimu”.
badar kembali meneruskan aksinya, dia mulai menciumi pusarku dan tangan kananya kembali memsuki celana dalamku. Dia menemukan kembali bibir memekku, Dengan lembut digosoknya kelentitku keatas dan kebawah sehingga eranganku semakin jelas terdengar. Dengan cepat dia menarik turun celana dalamku melewati kedua kakiku dan melemparny entah kemana. Aku segera menarik kepala badar dan mencium bibirnya dengan ganas untuk menutupi rasa maluku.

Badar merenggangkan kedua pahaku, dan mendekatkan kepalanya kememekku. aku semakin malu dibuatnya bahkan abinya tidak pernah sedekat ini. Kurasakan hawa panas nafas badar menerpa bibir memeku. Disibakanya rambut memekku kesamping kemudian badar menjilati bibir memek dan kelentitku, kutahan kepalanya agar badar menghentikan.
“ohhhh apa yang kamu lakukan nak, itu kotor nak, itu tempat keluarnya pipis umiiiii”.
Badar tidak menghiraukan ucapanku. Rasa itu datang lagi bahkan ini lebih dahsyat hingga aku menjerit lebih kenceng aku tak perduli lagi jika tetangga dapat mendengarnya.
Aku masih sangat lelah saat badar mulai mengesekan tititnya pada lubang memekku, bahkan aku tidak tau kapan badar melepas celananya. Aku mencoba duduk danbertumpu pada kedua tanganku, aku dapat melihat betapa gemuk dan panjangnya titit badar. Aku lbarkan kangkanganku saat badar mencoba menusukan titit besarnya kedalam memekku. Perlahan memekku semakin merekah saat titit badar perlahan mulai memenuhi liang memekku. Blesssss akhirnya titit badar masuk seluruhnya didalam memekku. Kuminta badar berhenti agar memekku terbiasa dengan titit besarnya. Memekku terasa begitu ketat mencengkram titit badar. Setelah beberapa lama kusuruh badar menaik turunkan tititnya perlahan. Aku mulai menggoyangkan tubuhku seirama tusukan tititnya yang semakin lama semakin nikmat.
titit badar seolah-olah memang diciptakan untuku, tak ada celah sedikitpun dalam memekku. Kurasakan ujung tititnya memasuki mulut rahimku. Seiring semakin cepatnya tusukan titit badar, semaki keras pula erangan yang kita keluarkan.
“terus nakkk tititmu enak…. besar dan panjang…”
” memek umi juga enak… Memek umi meremas-remas titit badar… Enak mana titit badar atau abi miiiiiii”.
“titit kamuuuu nakkkkk….”
15menit kemudian otot memeku menegang, kutekan pantat badar semakin merapat ke memekku.
“umi sampaiiiii…”
“badar juga miiii…”
( critttt crotttt critttt croootttt bergantian air cint kami memancar dan bersatu dalam rahimku) Badar menatap mataku dalam, yang membuatku memalingkan wajah tak berani menatap balik matanya. Aku malu, aku seperti ABG yang sedang jatuh cinta, yang malu menatap lelaki yang dicintainya.
Apakah ini cinta? Tanyaku dalam hati. Sebenarnya aku tak pernah benar-benar mengenal cinta. Pernikahan ku dengan mas anwar didasari karna perijodohan saja.
Badar memegang dagu dan memalingkan wajahku menghadap wajahnya, wajah kami begitu dekat. Ia mengucapkan kata yang membuat air mataku mengalir deras, kata yang begitu dalam dan begitu tulus.
“aku mencintaimu umiiii”.
Sambi terisak akupun menjawab “umi juga mencintaimu”. Badar kembali menciumku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*