Home » Cerita Seks Mama Anak » Ummi Sayang Badar 2

Ummi Sayang Badar 2

Baca Cerita Sebelumnya Ummi Sayang Badar

Setelah badar berangkat sekolah, aku mulai membesihkan rumah, kembali menjadi ibu rumah tangga yang sebenarnya. Kubuka semua pintu dan jendela agar sirkulasi udaranya lancar, hawa pengap persetubuhan pun perlahan menghilang digantikan dengan udara segar pedesaan. seprai yang ternoda bercak seperma, segera aku ganti dengan yang bersih. Kubersihkan juga lantai, dapur, ruang TV dan disetiap sudut rumah yang menjadi saksi bisu pertempuran panas antara ibu dan anak. badar bisa melakukan dimanapun, dan kapanpun juga, namun akupun juga sangat menikmatinya.

Jm 10.00 pagi akupun selesai membersihkan rumah. Sambil menunggu suamiku pulang, kubuaat secangkir kopi untuk mengusir kantuk, akhir-akhir ini memang aku sangat kurang tidur. Sambil membawa secangkir kopi, kulangkahkan kakiku ke ruang Tv. menyalakan tv berharap ada acara yang bagus, namun setelah ku bolak-balik chanel, tak ada satupun acara yang menurutku bagus,dan akhirnya Tv kumatikan.

Kuhelakan nafas yang menyesaki dadaku dan menyandarkan tubuhku di sandaran kursi. Ingatanku kembali menerawang jauh ke kejadian 2 bulan yang lalu. Kejadian yang menjadi titik balik hubungan tabuku dengan anak kandungku.

Aku Siti khamidah, usiaku kini 35 tahun, sehari-hari aku mengenakan jilbab lebar, aku juga sering mengisi pengajian ibu-ibu dimushola desaku. Suamiku bernama Anwar yazid, ia kini berusia 40 thn, dan anak kami bernama Achmad badar alif, usia anaku baru 15thn. aku dan suamiku bertemu di sebuah pondok pesantren tempat kami menuntut ilmu dulu, kiyai musrin pemangku pondoklah yang menjodohkan kami. Hingga saat inipun mas anwar masih dipercaya untuk menjadi guru ngaji dipesantern itu. Mas anwar pulang kerumah setiap 1bln sekali dan mendapatkan libur selama 1minggu.

2 BULAN YANG LALU……
Aku sadar badar kini telah beranjak menjadi ABG,seusia itu adalah usia dimana anak mulai mencari jatidirinya. Badar pun sama, dia mulai menjadi anak yang susah diatur, suka membolos, mulai bergaul dengan anak-anak nakal, pulang larut malam bahkan sering juga pagi. Omongan-omongan ibu-ibu ditukang sayur tentang anakku mulai menyakiti telingaku. Dari dia suka minum-minuman di jembatan pintu masuk desa, memalak anak sekolah yang sedang menunggu angkot sampai mengroyok anak pak lurah. Awalnya aku tidak percaya semua omongan ibu-ibu dan menganggapnya sebagai angin lalu, sampai akhirnya aku melihat dengan mata kepala sendiri saat badar memaksa anak sekolah memberikan uang kepadanya saat aku akan pergi ke pasar.

Setelah pulang dari pasar aku pun memikirkan apa yang harus aku lakukan agar badar kembali menjadi anak baik, dan memang tugasku sebagai orang tuanya untuk membimbingnya agar tidak terjerumus dalam lembah kelam. Namun caraku salah, yang mungin akan menjadi penyesalanku seumur hidup. Aku menelfon suamiku dan menceritakan semua tentang apa yang dilakukan badar, baik yang kulihat sendiri ataupun yang dikatakan ibu-ibu tetangga. Padahal aku tau, suamiku akan lebih memilih tindakan kasar dibandingkan duduk dan menasehati dengan kata-kata halus. Tapi semua sudah terlambat, aku sudah menceritakan semuanya kepada mas anwar, aku cuma bisa berharap semoga mas anwar bisa menahan diri.

Malam itu badar kembali tidaak pulang, entah main kemana anakku itu. Pagi harinya mas anwar sudah sampai dirumah, dia sengaja meminta izin 2hari untuk menyelesaikan masalah badar. Tanpa salam mas anwar langsung masuk dan mencari badar, setelah mencari dimana-mana dan badar tidak ketemu, Akhirnya dia bertanya padaku.
“kemana badar mi?”
“eh ehh itu bi badar sedang kusuruh membeli minyak kewarung” kucoba untuk menutup-nutupi kalau dari semalam badar tidak pulang.
“sudah lah miiii ngga usah bohong? Kamu ngga usah terus manjain badar, malah jadi kebiasaan anak itu nanti!!, badar harus dikasih tau biar dia ngerti mana yang baik dan yang ngga baik!!”
“tapi abiii… Badar itu masih ABG, dia masih mencari jati diri biiii, kita harus duduk dan memakai kepala dingin untuk menasehatinya”.

“udah lah miiiii…. Biar abi nanti yang menghajar anak itu, biar dia tau bagaimana rasa tangan abinya ini!!! Anak kaya badar itu ngga bakalan mempan kalo cuma dikasih tau lewat mulut!!! Harus dengan iniiii!!! (sambil menunjukan kepalan tangany kearahku)”.
Pada saat itulah badar pulang, sebelum masuk pintu dia sudah disambut tendangan keras didadanya, sampai dia terplanting jatuh di halaman “buggggg….brakkkkkk”.

“ini dia…. SiBajingan cilik, dari mana kamu hah!!! Sambil menarik rambrut badar supaya badar berdiri, kembali pukulan abinya melayang mengenai tepat dimata kirinya, “buggggg” kembali badar terjatuh. Aku hanya bisa menangis, tak tega melihat badar dipukuli abinya.
“huuu hiks hiks…. Sudah biiiiii, kasihan badar”.
Namun bukanya berhenti mas anwar kembali menendang muka badar, darah segarpun mulai mengalir dari bibir badar.
“bangunnn kamuuu anak tak tau diuntung!!! Abi dengar dri umimu kamu sudah jadi jagoan sekarang hah!!! Sekarang kamu bangun dan lawan abii!!! Abi malu punya anak seperti kamu!!!” kembali bertubi-tubi pukulan demi pukulan mendarat mulus diwajah badar, semakin banyak pula lebam dan darah menghiasi wajahnya.

Akhirnya aku tidak tahan melihat badar terus dipukuli abinya, aku berlari keluar dan memeluk tubuh badar yang terbaring tidak berdaya.
“sudah biii hiks hiks…. Sudah cukup, kasihan badar biiiii huuu hiks hiks”.
“biar mi biar tau rasa dia!!! Mau jadi apa anak ini, masih kecil aja sudah membuat malu keluarga!!!”.
“umi mohonnn hiks hiks bi…. Umi yakin badar tidak akan mengulangi perbuatanya lagi… Hiks hiks iya kan nak? (sambil menatap wajah badar)”. Badarpu hanya mengangguk pellan.
“baik lah aku ampuni anak ini, tpii kalau sampai abi mendengar badar mempermalukan keluarga lagi, abi tidak segan-segan menghajarnya lagi”.

Mas anwar akhirnya masuk meninggalkan kami berdua. Aku mencoba membantu badar berdiri, namun tanganku disingkirkan keras oleh badar, badar berdiri dan meninggalkanku dan lansung masuk kamar. Aku keblakang mengambil air hangat dan lap bersih untuk membersihkan luka badar sebelum mengobatinya. Saat ingin membuka pintu kamar ternyata pintunya terkunci, kuketuk pintunya dan kupanggil dia.
“nak…. Buka pitunya umi mau membersihkan lukamu dan mengobatinya” tidak ada jawawban.

“sayang… Umi mohon buka pintunya, biar umi obati dulu lukamu” tetap tidak ada jawaban.
Lalu mas anwar bebicara dari ruang Tv “sudah lah mii, biarkan anak itu merenungi kesalahanya dulu”.
Dau hari badar tidak keluar dari kamarnya, tidak pula makan dan minum sampai abinya kembali berangkat kepesantren. Aku mulai cemas, aku berpikir akan minta bantuan orang untuk mendobrak pintu kamarnya jika sampai besok badar belum juga keluar.

Malam setelah mas anwar kembali kepesantren Akhirnya badar keluar dari kamar dengan wajah penuh lebam dan darah yang telah mengering.
akupun sangat senang, segera aku siapkan makanan untuknya. Saat badar makan aku menyiapkan air hangat untuk membersihkan wajahnya. Selesai makan badar langsung akan masuk kekamar, namun aku mencoba mencegahnya.
“nak…. umi bersihin dulu yah lukanya” badar tidak menggubris ucapanku, dia terus berjalan, kemudian kupegang tanganya, namun kembali dia kembali menyingkirk tanganku dengan keras dan masuk kamar. Tak sadar air mataku mengalir.

Seminggu berlalu badar masih tidak mau berbica denganku namun kini dia tidak lagi mengunci kamarnya. Berkali-kali aku mencoba mengajaknya berbicara namun selalu dijawab dengan kebisuanya. Sampai suatu malam aku menghampirinya ke kamar, dia pura-pura tidur namun aku tau dia belum tidur.

“nak…… Umi tau badar belum tidur, cuma badar ngga mau ngomong sama umi kan?(kembali air mataku mengalir) badar benci sama umi? Badar marah sama umi? (Hiks hiks tak bisa tertahan tangiskupun pecah), badar boleh benci umi,badar
bleh marah sama umi, huuuu hiks hiks tapi umi minta, badar jangan diemin umi hiks hiks, umi kangen sama suara badar, umi kangen badar ngobrol sama badar, Umi sayang sama badar.
badar belum juga menanggapi ucapanku perkataanku.
“Nak umi mohon, ngomong sama umi”.
“umi bohong…..!!” akhirnya badar menanggapi ucapanku.
“umi bohong? Umi bohong apa nak…
“umi ngga beneran sayang sama badar….. Klo umi sayang sama badar, umi ngga mungkin mengadukan badar ke abi”.
“umi sangat sayang sama kamu nak, umi hanya tidak mau kamu terjerumus dan menjadi anak yang tidak baik, jadi jangan katakan lagi umi tidak sayang sama kamu, umi sangat sedih mendengarnya”.
“kalo umi benar-benar sayang padaku, berarti umi mau melakukan apapun yang aku mau?”.

sambi menyeka air mataku “iya nak…umi akan melakukan apapun yang kau mau, sekarang? apa yang kau mau nak?”.
“aku mau….. umi telanjang, karna badar ingin melihat dan menyentuh memek dan susu umi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*