Home » Cerita Seks Mama Anak » Ummi Sayang Badar

Ummi Sayang Badar

Pagi mulai menyapa malam untuk menggantikan tugasnya. Mentari masih malu untuk memamerkan kehangatanya. Embun masih betah berlama-lama memeluk dedaunan. Dinginpun masih terus menantang hangat mentari untuk mengusirnya dari alam ini.

“hoammmmmm….. udah jam 4.30 pagi ternyata.”
ku miringkan tubuhku kekiri untuk membangunkan sebuah sosok tubuh yang sedang terlelap berselimut mimpi. Kupandangi lekat-lekat wajahnya yang seperti tidak mempunyai dosa, begitu damai, dan polos.
“hemmmmmmm anak nakal!!!” ucapku lirih sambil mengusap kepalanya.
Yahhh benar…. Sosok tubuh disampingku adalah anakku, anak yang ku kandung selama 9bln10hari, anak yang dulu hanya bisa menangis saat lapar dan meminta nenen dari aku uminya, dan kini berbagi ranjang dengan umi kandungnya dalam keadaan telanjang tanpa sehelaipun benang menutupi tubuh kami. Disaat abinya keluar kota untuk bekerja memenuhi nafkah kami sekerluarga, anakku menggantikan abinya memenuhi nafkah batinku.

Yahhhh… Dia anak semata wayangku dari suami sahku. “Achmad badar alif” nama itulah yang diberikan abinya saat untuk pertama kalinya dia melihat dunia. dan kami biasa memanggilnya “badar”.
badar sekarang baru berumur 15thn, dia baru kelas 3 SMP swasta didesa sebelah, karna memang tidak ada SMP dan SMA didesa kecilku ini.
Jadi setiap hari badar harus bangun pagi-pagi supaya tidak terlambat sekolah.

Kembali lagi kedalam kamarku, aku harus membangunkan badar supaya tidak terlambat ke sekolah. Akupun mulai menggodanya dengan menyentil-nyentilkan halus telunjuku kehidungnya, supaya dia terganggu dan mulai terbangun. aku kembali tersennyum saat badar mulai menggeliat karna merasa terganggu. Perlahan diapun mulai membuka matanya dan tersenyum kearahku.

“hoammmmm ehhhh jam berapa sekarang miiii”.
“sudah jam 4.30 nak, cepat bangun terus mandi lalu kita subuhan berjamaah yahhhh”.
kami memang tidak pernah meninggalkan kewajiban kami untuk beribadah, meskipun kami telah melakukan hal tabu bagi semua lapisan masyarakat, tapi kami yakin hanya tuhanlah yang berhak menentukan salah/benarnya berbuatan makhluk ciptaanya.
” lima menit lagi yah miiiiii” sambil mencoba memejamkan matanya kembali.
Akupun kembali tersenyum ” ngakkkk bolehhh… anak umi harus bangun sekarang kalo ngga mau terlambat kesekolah”.
” tapiiiiiii masih dingin umiiiii…. Lagian badar masih mau meluk umiiii… Kan entar siang abi pulang? Jadi badar harus nunggu seminggu lagi buat sayang-sayangan sama umiiii, badar pasti bakalan kangggggen banget sama bau tubuh umi”.
Sambi mencoba mencium bibirku namun segera kucubit sayang hidungnya.
“hi hi hi bohong banget anak umi ini…., ada atau ngga ada abi, badar juga akan tetep nakalin umi, yaaaaaa kannnn?”.
“aduhhhhhh miiiii sakit tau idung badar….. Hehehe abisan umi selelu bikin badar kangen sihhh”. Jawab badar sambil cengar-cengir masang muka lucunya yang membuat aku tertawa lebar.

Badar kembali memegang tanganku dan meletakan diatas tititnya yang kembali menegang.
“ihhhhh…. Anak umi emang ngga ada puas-puasnya, emang ngga bosen ini titit berdiriii muluuuu?”.
“hehehehe…. Kalo sama umi mana mungkin badar bisa bosen, abis semua yang ada ditubuh umi adalah surganya badarrrrrrr”.
Aku kembali tersenyum mendengar ucapanya, ucapan yang sebenarnya sangat tidak pantas diucapkan anak terhadap ibunya. Perlahan tanganku bergerak naik turun di titit badar, kucium bibir badar dengan ganas sambil tanganku terus mengocok titinya. Kupindahkan jilatanku keleher dan putingnya secara bergantian, kuturunkan lagi jilatanku menyusuri perutnya dan berkhir ditititnya yang gagah berdiri. Kupandangi sebentar benda itu lalu segera kujilat-jilat dan kumasukan benda itu kedalam mulutku. ohhhh, tak kusangka semakin hari semakin besar dan panjang titit anakku ini, bahkan dua kali lipat lbih besar dari titit abinya. Aku hanya mampu menelan setengahnya saja dari tititnya.
“ohhhh umiiiih…. Therusssssh umiiii makan titit badarrrrr ahhhhhh hisapan umiiii makin enakhhhh”.
crep crep crep crep suara yang keluar dari bibirku. Setelah beberapa lama, mulutku pun mulai terasa pegal, segera Kuhentikan hisapanku pada tititnya. Sambil terus menatap matanya, kukangkangi dan kutuntun titit besarnya menuju lubang surgaku.
blesssss “ohhhhhhhh” kami sama-sama mengerang saat perlahan titit badar memenuhi seluruh relung memekku. Kudiamkan sebebtar agar memekku terbiasa dengan titit badar. Aku tak habis pikir meskipun hampir setiap hari badar menyetubuhi aku namun memekku masih saja terlalu sempit untuk tititnya.

Setelah memekku sudah mulai terbiasa, perlahan mulai kunaik turunkan tbuhku diatas tubuh badar.
” ohhhhh rasa inilah…. Rasa nikmat inilah yang tidak pernah sekalipun kurasakan saat bersetubuh dengan suamiku” kataku dalam hati. Badar memang telah membuka keran kenikmatanku, mengenalkanku bagaimana seharusnya suamiku memperlakukanku sebagai istrinya diatas tempat tidur.
” ohhhhhh nakkkk…. rasakan memek umiiii rasakan lubang yang membawamu melihat dunia nak… Ohhhhh akhhhh sekarang kamuuuuu masuk kembali kelubang iniii,,,, apakahh hohhh hohhh kamu sudah bosan merasakan dunia danhhh inginhhhhh mersakan surga nakkkkkk ohhhhh”.
“iya umiiiii badar selalu ingin merasakan surghanya umii, tapi kenapahhh ohhhhh eghhhhh surganya umiiii semakin hari shemakhhhhhhin sheeeempithhhh…. Oh oh ohhhhh apakah umi tidakkhhhhh mengizinkanhhh badarrr merasakan surghanya umhiiiii laghiiii”.
“anakhhhhhh nakhalllll… bukanya shurga umiiiiii okhhhhh yang sehemakin shemfhithhhhhh ahhhhhh tapi titit badar yang keghedeanhhhhh.. Bahkan umhiiiiii takhuttt khalau abimu phulanggggg nanthiiiii shhianghhhh dia akhhhhan churighaaaaa khen ohhhhh aphaaaa mehemekkkkk umi jhadhiiiii lebarrrrrrr….. Ohhh Therusssss nakkkkk umiiiiii mau nyampeeee ohhhh”.
“iyaaaaaaa uhmiiiiii badar jughhhha mau nyampheeeee ohhhh terimhhhha mani badharrrr umiiiii…. Mudahhhhh-mudahann umiiii hamillllll”.
“aminnnnnn semogaaaaa do’aaaaa badarrrrr chepathhhhh therkabulllll ohhhhh sekarhanggggg nak semprothhhhh rahimmmm uhmiiii sekaranghhhh okhhhhhh okhhhhh”.
“terimaaaaaaa maniiiii badar umhiiiiiii”. crooootttttt crottttt cratttttt kembali mani subur badar bermuara dalam rahimku. Kami berdua masih sama-sama terdiam hanya desahan nafas yang saling bersahutan, akupun masih terkulai lemah diatas tubuh anakku badar. Perlahan aku bangkit dari tubuh badar dan mencabut tititnya, dan mani yang tidak tertampung dalam rahimkupun meleleh keluar. Badar memandang tidak ikhlas saat melihat maninya terbuang percuma.
” sayang yah mi, mani badar banyak yang terbuang, padahal itu bisa jadi anak badar”.
Akupun tersenyum sambil mengusap lembut kepala anakku yang sangat kusayangi ini.
“hi hi hi udah ngga usah sedih gitu, klao emang takdir, walaupun hanya setetes mani kamu yang masuk kerahim umi, umi pasti hamil, jadi badar ngga usah sedih yahhhh”.
” oh gitu yah mi”.
” he’eh…. Udah jangan ngobrol terus cepat kita mandi nanti nggak kebagian subuh lagi”.

Aku dan badar pun mandi dan segera sholat subuh berjamaah, setelah berdo’a dan memohon ampunan aku pun melepas mukna dan menggantinya dengan kerudung, kemudian bergegas menuju dapur untuk membuat sarapan untuk badar. Badar juga segera bersiap-siap untuk sekolah.

Setelah sarapan siap, segera kupanggil anaku badar.
“sarapanya sudah siap nak?””
“iya mi sebentar lagi badar keluar”.
Tak lama kemudian badar keluar dari kamarnya.
Aku pun segera menyuapinya.
“aaaaaaaa ihhhhh kamu ngga malu apa? segede ini masih minta disuapi umi”.
“kenapa harus malu, kan dirumah ini ngga ada orang selain kita hehehe”
Akhirnya ritual sarapan pun usai, badarpun pamitan untuk berangkat kesekolah.
Dia mencium tanganku “cup,, ini untuk umiku dan ini untuk istriku” kemudian dia mencium bibirku. Aku pun mengantarnya sampai kesepedanya.
“assalamuallaikum umi, badar berangkat dulu ya”.
“wangalaikumsalam nak, kamu hati-hati dijalan ya”.
Badarpun menggoes sepedanya menjauh dan menghilang dari pandanganku dibelokan.

Cerita Selanjutnya : Ummi Sayang Badar 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*