Home » Cerita Seks Mertua Menantu » Ini Rahasia Kita

Ini Rahasia Kita

Sebenarnya wanita itu bukan
ibu kandung istriku. Ia ibu tiri
istriku. Usianya juga hanya 5
tahun lebih tua daripada
istriku. Tapi tetap saja aku
memanggilnya mamah, seperti
Feni (nama istriku)
memanggilnya. Mengenai ibu
kandung Feni, aku hanya
mendengar ceritanya saja,
bahwa pada saat Feni berusia
18 tahun, ibu kandungnya
meninggal dunia, karena
menderita kanker ovarium.
Setelah hidup menduda
selama setahun, ayah Feni
menikah lagi dengan wanita
yang jauh lebih muda,
bernama Ratih, yang sekarang
biasa kupanggil mamah,
meski usianya hanya setahun
lebih tua dariku. Pada saat
kisah nyata ini dimulai,
umurku 28 tahun dan wanita
bernama Ratih itu 29 tahun,
sementara istriku baru berusia
24 tahun. Di usia 28 tahun ini
aku sudah punya seorang
anak laki-laki yang berusia 3
tahun. Untuk ukuran masa
kini, mungkin aku dan Feni
termasuk pasangan yang
cepat menikah, yakni ketika
usiaku baru 24 tahun dan
usia Feni baru 20 tahun. Tapi
meski usiaku masih muda,
nasibku tergolong bagus.
Karena aku sudah menduduki
jabatan sebagai manager
marketing di perusahaan
besar, yang kebetulan milik
pamanku sendiri. Ayah Feni
kunilai pandai juga mencari
pengganti istrinya yang sudah
tiada. Istrinya yang bernama
Ratih itu jauh lebih muda
darinya. Pada saat kisah
nyata ini dimulai, usia ayah
mertuaku sudah 50 tahun. 21
tahun lebih tua daripada
istrinya. Bukan cuma jauh
lebih muda daripada
suaminya, ibu tiri istriku itu
sangat menarik, meski
kulitnya tidak seputih kulit
istriku. Ya, ibu mertuaku itu
tergolong wanita yang hitam
manis, bertubuh indah
laksana biola stardivarius.
Tapi sampai saat kisah nyata
ini dimulai, dia belum punya
anak juga. Entah dia yang
mandul atau suaminya yang
tak mampu lagi
membuahinya. Entahlah. Yang
jelas, istriku pernah bilang
padaku, bahwa ibu tirinya itu
baik sekali. Jauh berbeda
dengan cerita-cerita tentang
ibu tiri yang kejam. Setelah
menikah, aku memboyong
istriku ke Jakarta, agak jauh
dari kampung halaman istriku
yang terletak di sebuah kota
kecil dekat perbatasan Jabar
dan Jateng. Tapi aku dan
istriku sering menengok
mertuaku di kampungnya,
sering pula kedua mertuaku
datang ke Jakarta dan
menginap beberapa hari di
rumahku. Istriku cantik dan
berkulit putih kekuning-
kuningan. Bersih dan anggun,
bertubuh tinggi semampai.
Sementara ibutirinya hitam
manis dan agak montok.
Bentuk mereka jauh berbeda,
karena memang bukan ibu
dan anak kandung. Mata
istriku juga agak sipit seperti
wanita Tionghoa, sementara
ibu tirinya bermata bundar.
Suatu perbedaan yang
menyolok juga. Dan kalau
kubanding-bandingkan siapa
yang lebih seksi, harus kuakui
bahwa istriku kalah seksi. Ya,
dengan sejujurnya harus
kuakui bahwa ibu mertuaku
itu jauh lebih seksi ! Tapi
tadinya aku tak pernah
memikirkan hal-hal yang tak
sepantasnya kupikirkan.
Meski usia wanita itu hanya
setahun lebih tua dariku,
sikapku tetap hormat
sebagaimana layaknya
seorang menantu kepada
mertuanya. Kalau bertemu
dengannya, selalu kubiasakan
mencium tangannya,
sebagaimana layaknya sikap
seorang anak kepada orang
tuanya. Pada waktu ngobrol
pun aku selalu bersikap
sopan dan ramah. Tak pernah
membicarakan hal-hal yang
tak pantas dibicarakan. Ia
juga bersikap sebagaimana
layaknya seorang ibu mertua
kepada menantunya. Sampai
pada suatu saat terjadilah
peristiwa berikut ini. Ibu
mertuaku datang ke Jakarta
dan menginap selama
beberapa hari. Tanpa
suaminya, karena di kampung
istriku sedang ada kesibukan
pemilihan bupati baru.
Setelah beberapa hari
“mamah” menginap di
rumahku, kebetulan aku ada
jadwal mau ke Purwokerto.
Aku pun memberitahu istriku
tentang jadwal itu. “Kapan
berangkatnya Mas?” tanya
istriku. “Nanti malam, supaya
besok pagi sudah tiba di
Purwokerto,” sahutku. “Wah,
kebetulanMamah juga mau
pulang besok. Mas Didi lewat
kampungku kan?” “Iya pasti
lewat, karena gak ada jalan
lain. Emang kenapa?” “Mamah
kan jadi bisa numpang sama
Mas,” istriku memegang
pergelangan tanganku. “Boleh
aja,” aku mengangguk.
“SebentarÔǪmau kasitau
Mamah duluÔǪ.” istriku
melangkah ke arah kamar
tamu, di mana ibu mertuaku
ditempatkan. Begitulah.
Malam harinya aku sudah
berada di belakang setir
sedanku, meluncur dalam
kecepatan tinggi di jalan tol
Cipularang. Sementara ibu
mertuaku duduk di
sampingku, sambil mengajak
ngobrol ke barat ke timur.
Tapi beberapa saat kemudian
dia kelihatan sudah mulai
ngantuk. Maklum saat itu
sudah hampir tengah malam.
Dan inilah awalnya. Awal dari
perubahan yang terjadi pada
batinku. Bahwa berkali- kali
kepala mertuaku terangguk-
angguk dengan mata
terpejam. Bahkan berkali-kali
pula pipinya menyentuh
pipiku. Sehingga harum
parfumnya tersiar ke
penciumanku dan kehangatan
pipinya pun terasa di pipiku.
Ini tidak mengganggu
konsentrasiku, karena
kebetulan mobilku automatic
transmission. Tapi kenapa
pikiranku jadi melayang-
layang tak menentu gini ya?
Biasanya kalau melalui jalan
tol Cipularang, aku suka
beristirahat di salah satu rest
area. Sekadar mengisi perut
atau minum kopi, sambil
mendinginkan mesin mobil.
Tapi saat itu aku tidak
beristirahat, kupacu terus
mobilku dalam kecepatan di
atas 100 km/jam, dengan
perasaan bercampur aduk.
Kebetulan pengguna jalan tol
malam itu tidak terlalu padat,
sehingga aku bisa keluar
daripintu tol Cileunyi-
Bandung jauh lebih cepat dari
biasanya. Kini mobilku
menempuh jalan biasa, di
tengah sepi dan gelapnya
malam. Pada waktu berada di
daerah Nagreg, hujan turun
dengan derasnya. Gilanya AC
mobilku tidak jalan
sebagaimana mestinya.
Mungkin gas freonnya sudah
habis, sehingga kaca depan
berembun dan membuat
pandanganku tidak leluasa.
Terpaksa kubelokkan mobilku
ke bahu jalan, lalu
kuhentikan. “Kenapa berhenti
di sini?” tanya mertuaku yang
terbangun sambil menggesek-
gesek matanya. “ACnya gak
jalan, Mah. Mungkin freonnya
sudah habis,” sahutku. “AC
gak jalan gak apa-apa, kan
udaranya juga dingin begini.”
“Tapi kacanya berembun, gak
bisa lihat apa-apa, Mah.”
“OhÔǪiya yaÔǪ.” mertuaku baru
mengerti bahwa kalau AC gak
jalan bisa membuat kaca
berembun dan menghalangi
pandangan. “Kita tunggu dulu
sampai hujannya reda aja, ya
Mah,” kataku sambil
merebahkan sandaran
kursiku. “Iya,” sahut
mertuaku,”Tapi ngantuk
giniÔǪ.mau tidur lagi ya.”
“Silakan aja MahÔǪ” NahÔǪ.kini
mulai lagi terjadi sesuatu
yang membuat pikiranku tak
menentu. Bahwa mertuaku
merebahkan kepalanya di atas
pahaku. “Iiih dingin sekali,
DiÔǪ.” gumam mertuaku sambil
memegang kedua tanganku.
Lalu menempelkannya di
sepasang pipinya. Sementara
diluar mobilku, hujan malah
semakin deras saja, seperti
dicurahkan dari langit. “Di tas
saya ada selimut,” kataku,
“Tapi tasnya ada di bagasi.
Untuk ngambilnya harus
hujan-hujanan dulu, Mah.”
“Gak usah ambil selimut
segala lah. Nanti kamu
kehujanan malah sakit pula.”
“Sini deh ta pelukin biar
Mamah jangan kedinginan,”
kataku sambil memeluk leher
mertuaku. “Kalau mau
hangatin mamah, kesiniin
tangannya,” kata mertuaku
sambil meraih tanganku ke
dalam blouse bagian
dadanya. Membuatku
degdegan, karena aku
menyentuh beha mertuaku.
Tapi aku bukan lelaki bodoh.
Aku mulai mengerti apa yang
diinginkan olehnya. Maka
dengan hati-hati kuselinapkan
kedua tanganku ke dalam
behanya. Wowaku sudah
menyentuh buah dada yang
montok itu. Dan aku
menunggu reaksinya. Ternyata
ia diam saja. Sehingga aku
makin beranimeremas
sepasang payudara montok
itu dengan kedua tanganku.
Bahkan sesekali kupelintir
pentil teteknya dengan hati-
hati, karena tak mau dianggap
kasar. Dandi luar dugaanku,
tangan mertuaku menarik
ritsleting celanaku. Apa yang
akan dilakukannya?
Aaah.tangannya menyelinap
ke balik celana dalamku.
Memegang batang
kemaluanku yang sudah agak
mengerasmembuat pikiranku
makin galau. Terlebih ketika
kurasakan tangannya mulai
meremas penisku dengan
lembut sehingga senjata
pusakaku mulai ngaceng
berat ! Tiada kata-kata yang
terlontar dari mulut kami.
Elahan napas kami pun
tertelan oleh suara gemuruh
hujan yang begitu derasnya.
Kubiarkan ia meremas-remas
batang kemaluanku. Dan aku
pun tak mau kalah. Tangan
kiriku tetap asyik meremas-
remas buah dada montok
mertuaku, tapi tangan
kananku mulai menyelinap ke
balik rok mertuaku. Mulai
menyelusuri kehangatan
pahanyamerayap sedikit
demi sedikit ke atas.sampai
menyentuh celana dalamnya
di kegelapan ini. Gilanya, ia
malah merenggangkan
pahanya, seperti sengaja
memberiku keleluasaan untuk
melakukan apa yang
kuinginkan. Aku sangat
bergairah melakukannya.
Menyelinapkan tanganku ke
balik lingkaran karet celana
dalamnya, menyentuh bulu
kemaluannya yang ternyata
lebat sekalimenyentuh dan
mengelus bibir kemaluannya
dengan nafsu yang mulai
menggelegak. Meski dalam
keadaan gelap, aku sudah
bisa memperkirakan di mana
letak kelentitnya. Dan setelah
yakin bahwa aku sudah
berhasil menyentuh kelentit
mertuaku, jemariku mulai
beraksi mengelusnya dengan
lembut. Terasa tubuh
mertuaku mulai mengejang-
ngejang, sementara
kemaluannya pun mulai basah
dan hangat. “DiÔǪ.” “Ya Mah?”
“IiihÔǪmamah jadi
kepengenÔǪ.” “Sama mahÔǪ
saya juga jadi pengenÔǪ” “Tapi
jangan di sini ahÔǪ” “Tentu aja
tidak di sini. Setelah hujan
reda nanti kita cari hotel ya.”
“TapiÔǪkamu kan harus sampai
di Purwokerto nanti pagi.”
“AhÔǪsoal itu bisa diatur
MahÔǪ.” “MmmmÔǪpunyamu
udah keras gini ih
gemesssssÔǪ.!” cetus
mertuaku sambil
mempermainkan penisku yang
memang sudah sangat keras
ini. “Punya Mamah juga udah
basah gini..hmmmmalam
ini bakal ada kisah indah di
antara kita, ya.” “Ya
udah.cari tempat aman dulu
dong. Hujannya udah reda
tuhÔǪ” “Iya, iyaÔǪ” sahutku
sambil mengeluarkan
tanganku dari balik celana
dalam mertuaku. Ia juga
melakukan hal yang sama,
mengeluarkan tangan dari
balik celana dalamku,
kemudian menarik ritsleting
celanaku sampai tertutup lagi.
Kuambil kanebo dari
dashboard untuk mengelap
embun yang masih menutupi
pandangan di kaca depan.
Tak lama kemudian aku sudah
memacu lagi mobilku ke arah
timur. Sinar lampu mobilku
menyeruak di tengah
kegelapan malam. Sikap
mertuaku sudah sangat
berubah. Dengan sengaja ia
menempelkan pipinya ke
pipiku. Bahkan satu saat ia
mengecup pipiku dengan
mesra, sambil berkata, “Kamu
tau gak sejak melihatmu
bersama Feni, mamah udah
simpati padamu.” “Sama Mah.
Saya juga pas baru bertemu
dengan Mamahsaya kaget
karena calon mertua kok
muda sekaliseksi pulatapi
saya gak berani macem-
macem, takut jadi onar,”
sahutku tanpa mengurangi
kecepatan mobilku. “Mamah
juga gitu. Takut heboh.
Soalnya mamah sayang sama
Feni. Mamah gak mau nyakiti
hatinya.” “Feni juga sering
cerita, Mamah baik sekali.
Jauh berbeda dengan kisah-
kisah lama tentang kejamnya
ibu tiri.” “Sekarang sih udah
jarang ibu tiri yang kejam
seperti dongeng-dongeng itu.
Mmmkalau kamu mau,
panggil aku Ratih aja, gak
usah mamah-mamahan.” “Gak
ahtakut kelupaan manggil
Ratih di depan Bapak atau
Feni. Bisa menimbulkan
kecurigaan nanti.” Mertuaku
mencium pipiku lagi, lalu
berbisik, “Iya deh. Pokoknya
mulai malam ini kamu jadi
menantu tercintaÔǪ.” Aku cuma
tersenyum di belakang
setirku. Senyum kemenangan.
Karena tanpa diduga malam
ini aku mengalami sesuatu
yang luar biasa. Ketika mau
melewati papan nama sebuah
hotel, kukurangi kecepatan
mobilku. Lalu kubelokkan ke
pekarangan hotel itu. Jam
sudah menunjukkan pukul
02.15 pagi. “Kelihatannya
hotel ini agak nyaman,”
kataku, “Di sini aja ya Mah.”
“Terserah kamu aja,
sayangÔǪ.” sahut mertuaku
dilanjutkan dengan kecupan
mesra lagi di pipiku. Kamar
hotel ini bersih sekali meski
bukan hotel berbintang.
Kuberikan tip buat bellboy
yang membawa tasku dan tas
mertuaku. Dia mengucapkan
terimakasih, lalu keluar dan
menutupkan pintu. “SebentarÔǪ
mamah mau cuci muka dulu
ya,” mertuaku melangkah ke
arah pintu kamar mandi
sambil mengepit handuk dan
daster yang baru dikeluarkan
dari tasnya. Aku mengangguk,
sambil mengeluarkan baju
dan celana piyama dari dalam
tasku. Lalu melangkah ke
pintu kamar mandi yang
tampak tidak tertutup penuh.
Mertuaku terkejut, karena dia
sedang telanjang bulat ! Aku
juga terkejut, karena kusangka
dia cuma sedang cuci muka
seperti yang disampaikannya
tadi. Cepat kunilai tubuh
telanjang mertuaku itu, bukan
main indahnya. Toket dan
pantat gede, pinggang kecil
dan semuanya tampak padat.
Membuatku sangat tergiur dan
menghampirinya. Memeluk
tubuh telanjang itu dari
belakang. Tapi mertuaku
menepiskan pelukanku sambil
berkata, “Sabar dongÔǪ nanti
juga mamah kasihkan
semuanya buat kamu, Di.
Tunggu dulu dong di luar.
Mamah mau bersih-bersih
dulu nih.” Aku berusaha sabar
dan tak memaksa-maksa.
Kulepaskan pelukanku, “Iya
Mahsaya cuma mau bersih-
bersih juga,” kataku sambil
menanggalkan seluruh
pakaianku,hanya celana
dalam yang kubiarkan melekat
di tubuhku. Kemudian
kukenakan celana dan baju
piyamaku. Cuci muka di
washtafel, lalu keluar lagi dari
kamar mandi itu. Aku
berusaha sesabar mungkin,
duduk di sofa panjang dekat
tempat tidur, menunggu
mertuaku keluar dari kamar
mandi. Tak lama kemudian
dia muncul. Sudah
mengenakan daster sutra
putih bermotif bunga mawar
berwarna pink. Dengan
senyum manis di bibir
sensualnya. Tanpa ragu ia
duduk di atas pangkuanku,
sambil memeluk leherku dan
mendarat ciuman hangat di
bibirku. “Sekarang mamah
jadi milikmutapi jangan
sampai Feni dan Bapak tau
yaÔǪ” katanya setengah
berbisik. “Iya MahÔǪgak
nyangka malam ini Mamah
akan menjadi milik saya,”
sahutku sambil menggelutkan
bibirku ke lehernya. “Di sana
aja yok, biar leluasa,” kata
mertuaku sambil menunjuk ke
tempat tidur. “Iya,” aku
mengangguk lalu mengikuti
mertuaku yang sudah duluan
naik ke atas tempat tidur. Ia
sudah duluan menelentang
pasrah. Aku pun
menerkamnya dengan lembut,
karena aku tak mau terkesan
kasar. Biar bagaimana dia itu
mertuaku, meski ada sebutan
“tiri”. Kami bergumul mesra di
atas tempat tidur, lalu dengan
tak sabar aku berusaha
menanggalkan daster
sutranya. Dan setelah daster
sutra itu kutanggalkan,
kusaksikan pemandangan
yang sangat menggiurkan.
Karena ternyata mertuaku tak
mengenakan apa-apa lagi di
balik daster sutra itu. Dan
tampaklah dengan jelas
sekujur tubuh mertuaku yang
masih muda dan sangat
menggiurkan ini. Sepasang
payudara yang montok, yang
tadi sudah kurasakan betapa
kencangnya. Perutnya yang
kecil dan terawat, lalu di
bawah perutnya gundukan
kemaluan yang ditutupi
jembut tebal, sungguh jauh
berbeda jika dibandingkan
dengan istriku. Karena istriku
berpayudara kecil, sementara
bulu kemaluannya selalu
dicukur habis (dengan alasan
kebersihan). Aku merangkak
ke atas tubuh mertuaku.
Mempermainkan payudara
montoknya sambil berkata,
“Payudara Mamah montok
gini. Tapi kencang sekali.
Payudara Feni juga kalah
kencang, Mah.” “Ya iyalah,”
sahutnya, “mamah kan belum
pernah menyusui bayi.”
Bicara begitu, tangannya
mulai membuka kancing baju
piyamaku satu persatu.
Sehingga aku mengerti bahwa
mertuaku ingin agar aku mulai
telanjang juga. Maka
kupelorotkan celana piyamaku
sampai terlepas dari kakiku.
Mertuaku duduk dan
menurunkan celana dalamku
dengan sikap seperti tak
sabar. Dan tersenyum
menggoda ketika melihat
batang kemaluanku yang
memang sudah berdiri
kencang ini. “Punyamu gagah
banget, Di. Panjang gede
giniÔǪlangsung keras pulaÔǪ”
katanya sambil mengelus
batang kemaluanku dengan
hangatnya. “Emangnya punya
Bapak gimana?” tanyaku
sambil mengelus bulu
kemaluan mertuaku yang
hitam lebat itu. Dan ketika
kuselusupkan jariku ke liang
kemaluannya, ternyata sudah
membasah. “Punya Bapak
tidak sepanjang dan segede
punyamu ini,” sahutnya,
“lagian dia kan udah
tua.kerasnya gak sempurna
seperti punyamu ini. Mmmm
langsung masukin aja, Di.”
“Kok buru-buru banget, Mah?”
aku agak heran ketika batang
kemaluanku ditarik dan
ditempelkan di mulut vagina
mertuaku. “Mamah udah
horny sejak di jalan tadi,”
sahutnya, “Lagian biar jadwal
kerjamu gak terganggu. Jadi
setelah selesai, bisa
melanjutkan perjalanan ke
Purwokerto. Biar mamah ikut
aja ke Purwokerto. Kan di
sana juga pasti banyak hotel.”
“Mamah mau ikut ke
Purwokerto?” “Iya. Laporin aja
sama Feni bilangin aja
mamah belum pernah ke
Purwokerto dan ingin tau
sekarang, mumpung bisa
numpang sama kamu.”
“BolehÔǪbolehÔǪ” kataku
bersemangat, “Nanti di
Purwokerto kita bercinta
sepuasnya, ya Mah.” “Iya,
sayaaaangÔǪ.” mertuaku
mencium bibirku. Lalu
katanya, “Dorong
dong.jangan dibiarin nempel
doangÔǪ” Kujawab dengan
tindakan. Kudesakkan penisku
kuat- kuat.blesss.masuk
sedikitdorong lagimasuk
makin dalam. Mertuaku
langsung memelukku,
“DuuuhÔǪudah masuk,
sayangÔǪ.” rengeknya disusul
dengan kecupan hangat di
pipiku. “Punya Mamah sempit
bangetÔǪ.” kataku sebelum
melanjutkan gerakan penisku.
“Ya iyalahÔǪmamah kan belum
pernah melahirkan.dipakai
sama Bapak juga cuma dua
minggu sekaliÔǪ” sahut
mertuaku sambil mengelus
kepalaku. “Iya MahÔǪooohÔǪini
enak banget MahÔǪ.” cetusku
sambil mengayun batang
kemaluanku di dalam jepitan
liang kemaluan mertuaku,
“Jujur MahÔǪpunya Mamah ini
lebih asyik daripada punya
FeniÔǪ” “Hush ! Jangan
menjelekkan istrimu sendiri,
sayangÔǪ” mertuaku mulai
menggoyang-goyangkan
pinggulnya, dengan gerakan-
gerakan erotis dan terlatih.
Makin lama goyangan pinggul
mertuaku makin menggila.
Terkadang menghentak-
hentak, mungkin supaya
kelentitnya tergesek-gesek
oleh batang kemaluanku yang
sedang mengenjot liang
vaginanya. Rintihan-rintihan
histerisnya pun makin lama
makin menjadi-jadi, “UuuhÔǪ
Didi ooohenak banget
Di.mamah belum pernah
merasakan yang seenak ini
Dioooohmmmm.iya,
genjot yang cepat Dioooh
ssshmamah udah mau
keluar nih.gilaaakoq
punyamu enak banget gini
sihÔǪ.oooohÔǪÔǪsssshhÔǪ” Lalu
ia mencengkram bahuku
sambil terpejam dan
merengek manja,
“DidiiiiÔǪ.mamah
keluaaar..ooooh.enak
banget
sayaaaangÔǪ.ssshhhhhÔǪ.”
Sebenarnya aku pun
merasakan kenikmatan yang
fantastis, yang tak pernah
kudapatkan dari istriku
sendiri, terutama pada waktu
kurasakan liang kemaluan
mertuaku berkedut-kedut
pada waktu mencapai
orgasme. Aneh memang,
kemaluan mertua tiriku malah
jauh lebih nikmat. Mungkin
karena selama ini istriku
terlalu tradisional. Dalam
setiap melakukan senggama,
tak pernah macam-macam.
Menggoyang pinggul pun tak
pernah. Dan aku tak pernah
menyuruhnya harus begini-
begitu. Sehingga kadang-
kadang aku merasa jenuh
dalam soal seks dengan
istriku. Aku masih mengayun
batang kemaluanku yang
sedang enak-enaknya
bergesekan dengan dinding
liang vagina mertuaku. Ia
masih tampak lesu. Tapi
berkali-kali bibirku
dipagutnya, dilumatnya
dengan penuh kehangatan,
membuatku semakin
bergairah untuk memompakan
batang kemaluanku. “Kamu
tangguh sekali, sayangÔǪ”
katanya pada suatu saat,
“Mau nyobain mamah di
atas?” “Boleh,” sahutku sambil
menghentikan ayunan batang
kemaluanku, lalu
menggulingkan diri ke
samping, sambil memeluk
pinggang ibu tiri istriku,
supaya batang kemaluanku
tidak terlepas dari
cengkraman liang vaginanya.
Kini aku menelentang,
sementara mertuaku
menelungkup di atas dadaku.
Sesaat kemudian ia menekuk
lututnya, sementara kedua
tangannya menahan ke kasur,
sehingga seperti sedang
merangkak. Lalu ia mulai
menggerak-gerakkan
pantatnya, naik turun,
sehingga batang kemaluanku
dibesot-besot oleh
cengkraman liang vaginanya
yang terasa legit itu. Oh,
mertuaku tercinta.nikmat
nian bersetubuh denganmu
ini! Sepasang payudara
mertuaku yang montok dan
bergoyang-goyang di atas
dadaku, tentu tidak kubiarkan
“menganggur”. Kuremas-
remas dengan penuh gairah.
Sementara ia samakin ganas
menaik- turunkan pantatnya,
sehingga sering terasa
puncak penisku menyundul-
nyundul dasar liang vagina
mertuaku. Terkadang kuraih
leher ibu tiri istriku itu,
kemudian kulumat bibirnya
dengan sepenuh gairahku.
Tapi posisi ini membuatnya
cepat orgasme lagi. Hanya
beberapa menit ia kuat
bertahan main di atas,
kemudian ia ambruk ke
dadaku sambil merintih,
“Mamah udah keluar lagi,
DiÔǪ.oooooohÔǪ..” Ia mencubit
pipiku yang dibanjiri keringat.
Dan berkata, “Mamah kan
biasa main sama kakek-
kakek. Sekalinya ketemu
orang mudaÔǪmana tahan?”
Kujawab dengan senyum.
Kubiarkan ia berkali-kali
menciumi pipiku. Lalu
kugulingkan tubuhnya agar
posisinya di bawah lagi, tapi
aku kurang hati-hati
menggulingkannya, sehingga
batang kemaluanku terlepas
dari jepitan liang
kewanitaannya. Setelah ia
celentang, aku bermaksud
membenamkan lagi batang
kemaluanku ke dalam liang
vaginanya. Tapi ia mengelap
dulu vaginanya dengan
handuk yang tersimpan di
bawah bantal. Aku baru
nyadar bahwa ia sudah
menyiapkan handuk itu di
bawah bantal. Setelah
mengelap kemaluannya, ia
menelentang lagi sambil
merentangkan kedua pahanya
lebar-lebar, “Ayo lanjutkanÔǪ”
katanya sambil tersenyum.
Tanpa basa-basi lagi aku
merangkak ke atas perutnya,
sambil memegang batang
kemaluanku dan
menempelkan puncaknya di
mulut vagina mertuaku. Lalu
kudorong kuat-kuat. Terasa
seret karena liang vagina
mertuaku sudah dikeringkan.
Tapi dengan susah payah aku
berhasil membenamkannya
sedikit demi sedikit. Lalu
kuayun lagi batang
kemaluanku, maju mundur di
dalam jepitan liang kemaluan
mertuaku. Kembali ia
mendekapku erat-erat. Sambil
menciumi bibir dan pipiku
yang sudah keringatan.
Pantatnya pun mulai
bergoyang meliuk-liuk seperti
penari ular. Kurasakan lagi
nikmatnya bersetubuh dengan
ibu tiri istriku ini. Dan
sejujurnya kuakui, ini
merupakan persetubuhan
yang paling nikmat bagiku.
Entah kenapa, rasanya jauh
lebih nikmat daripada
menyetubuhi istriku sendiri.
Begitu asyiknya aku
mengayun batang
kemaluanku, sampai pada
suatu saat kudengar rintihan
mertuaku, “DiiiÔǪmamah udah
mau keluar lagiÔǪ. ” “DuhÔǪ
saya juga mau keluar Mah
barengin ya biar enakÔǪ”
kataku sambil mempercepat
enjotan batang kemaluanku.
“Jangan sayangÔǪ.nanti kalau
mamah hamil gimana?
Lepasin di mulut mamah aja
ayooomamah sedot nanti
airmaninya sampai habisÔǪ..”
“DuhÔǪbener Mah?” “Iya,
cepetan.uuuuh.mamah
udah keluar nihcepetan
siniin kontolnya,” kata
mertuaku sambil
mengangakan mulutnya.
Buru-buru kucabut batang
kemaluanku dari liang vagina
mertuaku, kemudian bergerak
secepatnya, mengangsurkan
penisku ke dalam mulut
mertuaku yang sudah
ternganga itu. Happpph !
Mulut mertuaku menangkap
penisku dengan tangkasnya.
Lalu kurasakan sedotan dan
elusan lidahnyaluar biasa
nikmatnya.membuatku
menahan napaskemudian
mendengus.
uuuuuughhhhhhhhhhh
“MamaaaahhhhhÔǪÔǪÔǪ.”
lenguhku sambil memegang
kepala mertuaku yang tengah
menyedot batang
kemaluanku.gilabanyak
sekali rasanya air maniku
terpancar menyemprot-
nyemprot tenggorokan
mertuaku.dan gilanya lagi,
mertuaku menelannya sampai
habis ! Rasa haru dan sayang
menyeruak dari dalam
batinku. Karena istriku sendiri
belum pernah
memperlakukanku seperti itu.
Maka setelah kucabut penisku
dari mulut mertuaku, dengan
penuh rasa cinta kuciumi pipi,
bibir dan kelopak matanya.
“Saya jadi sayang banget
sama MamahÔǪ..” bisikku.
Mertuaku menjawab lirih,
“Mamah juga sayang kamu,
DiÔǪ.” Meski status wanita itu
sebagai mertuaku, tapi
sikapku padanya sudah
sangat berubah. Pada waktu
ia mau turun dari tempat tidur,
kupeluk pinggangnya dari
belakang. Dan aku berbisik ke
telinganya, “Saya bahagia
sekali bisa memilikimu, Mah.”
Wanita muda itu menatapku
dengan mata bergoyang, lalu
mencium pipiku sambil
berkata, “Jujur aja, mamah
baru sekali ini merasa puas
dengan lelaki.” “Sama
MahÔǪ.saya juga gituÔǪ.”
“Emang dengan Feni gak
pernah puas?” “YahhhÔǪ
begitulah.dia masih muda,
tapi terlalu kolot dalam soal
seks. Tapi biarlah, karena
sekarang sudah punya
Mamah. Kalau kangen kan
bisa ketemuan ya?” “Iya,
gampang. Kalau mamah ke
Jakarta kan bisa ketemuan
dulu di suatu tempat. Setelah
kamu puas, baru mamah ke
rumahmu. Tapi kita harus
hati-hati. Jangan bersikap
aneh di depan Bapak dan
Feni.” “Iya Mah.” Lalu ia turun
dari tempat tidur, melangkah
ke kamar mandi. Terdengar
suara air gejebar-gejebur di
sana. Mungkin ia sedang
bersih- bersih. Tak lama
kemudian ia muncul lagi di
balik daster sutranya. “Kalau
melanjutkan perjalanan ke
Purwokerto sekarang, kuat
gak?” tanyanya sambil
menyisiri rambutnya yang
acak- acakan. “Kuat Mah.
Nanti istirahatnya di
Purwokerto aja. Mamah jadi
kan ikut ke Purwokerto?” “Iya,”
mertuaku mengangguk.
Beberapa saat kemudian, aku
sudah memacu lagi mobilku
ke arah timur, pada saat fajar
baru menyingsing. Pada saat
aku konsentrasi
mengemudikan mobilku,
Mamah tiada hentinya
menggodaku, tapi tidak
memecahkan konsentrasiku.
Bahkan ketika tangannya
menyelinap ke dalam
celanaku dan meremas-
remas penisku dengan
binalnya, aku tetap bisa
menyetir mobilku dengan
baik. Ketika Feni
meneleponku, sebenarnya
Mamah masih menggenggam
penisku. Tapi aku tidak gugup
dan tetap bicara dengan
normal: “Sudah sampai mana
Mas?” tanya Feni di speaker
handphoneku. “Sudah masuk
Jateng. Mamah ikut nih.
Pengen tau Purwokerto
katanya.” “Ohya?! Gak
mengganggu kegiatan Mas
Didi nanti?” “Gaklah. Mungkin
di Purwokerto bisa pisah dulu.
Pada waktu aku selesaikan
tugasku, Mamah bisa keliling
pasar atau nunggu di rumah
makan.” “Belikan sesuatu buat
Mamah di Purwokerto, ya
Mas.” “Iya. Beres.” “Mana
Mamahnya? Aku pengen
ngomongÔǪ” “Lagi tidurÔǪ
bangunin aja?” aku
mengedipkan mata kepada
mertuaku yang tampak
canggung. Mungkin ada
perasaan bersalah karena
sudah “mencuri” milik anak
tirinya. “OwhÔǪgak usah deh.
Biarin aja kalau lagi tidur sih.
Titip aja ya Mas. Dan maaf
kalau kehadiran Mamah jadi
mengganggu kegiatan Mas.”
“Everything is okay, honey.”
Setelah hubungan telepon
ditutup, Mamah meremas-
remas lagi batang kemaluanku
yang sejak tadi
digenggamnya, “Apa kata Feni
tadi?” tanyanya. “Cuma bilang
beliin hadiah buat Mamah di
Purwokerto nanti.” “Padahal
hadiahnya udah mamah
dapetin ya? Ini kan hadiah
yang sangat berharga buat
mamah,” kata mertuaku
sambil memijat-mijat batang
kemaluanku. Dulu waktu
istriku sedang hamil, aku
pernah tergoda oleh seorang
janda muda. Tapi aku hanya
ketemuan satu kali dengannya
di sebuah hotel. Dan aku tak
pernah ketemuan lagi
dengannya. Mungkin saat itu
aku hanya iseng dan ingin
menyalurkan nafsu syahwat
semata. Setelah menikmati
sekujur tubuhnya,
penasaranku hilang. Dan tak
ingin mengulanginya. Berkali-
kali ia mencoba
menghubungiku dan mengajak
ketemuan lagi, tapi aku selalu
menghindar, karena tak punya
niat ketemuan lagi dengannya.
Katakanlah janda yang pernah
kugauli itu tidak punya greget
yang kuat. Tidak
membangkitkan perasaanku
untuk mengulangi
petualangan dengannya. Tapi
ibu tiri istriku ini sangat
berbeda. Gregetnya kuat
sekali. Dan aku yakin kisah
petualanganku dengannya
akan berlanjut terus sebagai
kisah indah yang panjang dan
penuh rahasia. Setibanya di
Purwokerto, aku cek in di
sebuah hotel yang lumayan
bagus. Begitu kami sudah
berada di dalam kamar yang
tertutup, langsung kusergap
pinggang mertuaku dan
kulumat bibirnya dengan
penuh gairah. Dan diam-
diam tanganku mulai
menyentuh ritsleting di bagian
punggung gaun terusannya,
lalu kutarik dan kulepaskan
gaun itu dari tubuhnya.
Kupandang tubuh sexy yang
tinggal mengenakan beha dan
celana dalam itu. Barangkali
aku harus sejujurnya
mengakui bahwa ibu tiri
istriku ini lebih menarik
daripada istriku sendiri.
Terlebih setelah beha dan
celana dalamnya kulepaskan,
seketika itu juga penisku
terasa mengacung di balik
celanaku. Anehnya, ketika
tanganku baru mengelus
punggungnya saja, hasratku
langsung menggebu-gebu.
“Gak mau ngurus kerjaan
dulu? Kan mumpung masih
pagi,” kata mertuaku ketika
aku mendorongnya sampai
rebah di atas tempat tidur.
“Ngurus ini dulu lebih
penting,” sahutku sambil
menarik celana dalam
mertuaku, sampai terlepas
dari kakinya. Ibu tiri istriku
ketawa kecil, sambil mencubit
pipiku. Dan dengan telaten ia
melepaskan pakaianku sehelai
demi sehelai, sampai tiada
apa-apa lagi yang melekat di
tubuhku. Lalu dengan sorot
mata bergairah, ia
menelentang sambil
merentangkan kedua pahanya
lebar-lebar, seolah
mempersilakan padaku untuk
menyetubuhinya lagi
sepuasku. Dan ketika batang
kemaluanku mulai membenam
ke dalam liang kewanitaannya,
ia mendekapku dengan
hangat. Gesekan surgawi pun
kurasakan lagi. Gesekan
antara penisku dengan liang
kewanitaan ibu tiri istriku. Kali
ini kami lebih gila menikmati
indahnya bersenggama.
Bermacam posisi kami
lakukan. Kadang mertuaku
main di atas, kadang ia
menungging dan kuentot dari
belakang dalam posisi doggy
dan semua posisi yang bisa
kami lakukan. Bahkan di
kamar mandi, ketika kami
mandi bersama, kami
bersenggama lagi sambil
berdiri. Aduhai indahnya
semua itu..takkan terlupakan
seumur hidupku. Dan aku
yakin bahwa semuanya itu
baru awalnya. Di hari-hari
berikutnya pasti mertuaku
bisa kuajak lagi dengan
mudah, tapi tentu saja harus
serapi mungkin, jangan
sampai suaminya dan istriku
tahu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*