Home » Cerita Seks Mama Anak » Shinchan Dan Mamanya

Shinchan Dan Mamanya

Sudah satu minggu ini Shin Chan melihat papanya secara diam-
diam mengambil botol ungu dari atas lemari obat didapur dan
meminum sebutir obat warna merah dari dalamnya. Setiap kali
Shin Chan bertanya pada papanya, ia selalu memperoleh
jawaban yang tak memuaskan. Shin Chan berpikir bahwa yang
diminum papanya setiap akan berangkat kerja itu adalah
permen yang sangat enak rasanya dan disembunyikan darinya.
Timbullah keinginannya untuk mencoba obat yang dikiranya
permen enak itu.
Sepulang sekolah ia langsung kedapur karena lapar. Lalu ia
mencoba berteriak memanggil mamanya tapi ia hanya
mendengar jawaban samar-samar dari belakang. Mamanya
meminta Shin Chan untuk sabar menunggu karena beliau masih
sibuk mencuci pakaian. Duduk di depan meja makan
pandangannya tertuju pada lemari obat yang ada dipojok
dapur. Dilihatnya juga sebuah botol ungu diatasnya.
“Uhh, lapar begini paling enak makan permen dulu ya”, katanya
dalam hati.
Otaknya berputar mencari cara meraih botol ungu yang terlalu
tinggi dari jangkauannya. Akhirnya ia mengambil kursi tinggi dan
berhasil meraihnya. Di botol itu tertera “Penis Enlargement”,
(pembesar kelamin), tapi Shin Chan tak tahu maknanya dan
dianggapnya isinya adalah permen manis. Ketika akan membuka
didengarnya suara mamanya mulai mendekat ke dapur. Dengan
buru-buru ia mengambil 2 butir dari dalam botol itu lalu ditutup
dan dikembalikan ketempat asalnya. Sambil mengunyah 2 butir
obat yang dikiranya permen itu ia mendorong kursi ketempat
semula.
“Hmm, rasanya manis, enak”, katanya dalam hati.
“Shin Chan, kamu makan apa?”, tanya mamanya ketika melihat
anaknya lagi mengunyah sesuatu.
“Permennya Papa”, jawab Shin Chan santai tanpa rasa bersalah.
Tanpa memikirkan soal permen itu, mamanya Shin Chan
kemudian menyiapkan makan siang Shin Chan. Sejak saat itu bila
Shin Chan harus menunggu untuk makan siang ia pasti akan
mengambil dan mengunyah permennya Papa tanpa
sepengetahuan siapapun. Meskipun tidak setiap hari ia
mengambil permennya Papa tapi setiap pengambilan bisa 2
sampai 3 butir. Hal itu ia lakukan selama hampir 3 bulan. Papa
Shin Chan yang banyak disibukkan pekerjaan kantor tak pernah
curiga akan singkatnya persediaan obatnya karena sering lupa
dan selalu membeli lagi setelah habis.
Shin Chan sendiri tak pernah merasakan efek dari obat itu
karena ia sama sekali tak mengerti. Efek yang ditimbulkan
permen yang dikunyahnya adalah pembesaran alat kelamin pria
hanya pada saat ereksi. Oleh karena Shin Chan kecil belum
pernah ereksi maka ia pun tak merasakan apa-apa.
Suatu sore hari ketika Shin Chan menonton TV bersama
mamanya, ia melihat penyanyi wanita yang hanya mengenakan
bikini.
“Ma, Mama, yang nyanyi cantik ya Ma”, kata Shin Chan pada
mamanya.
“Cantik mana sama Mama?”, tanya mamanya.
“Cantik Mama dikit, tapi banyakan penyanyi itu”, jawab Shin
Chan santai.
“Ehh, Shin Chan nakal ya”, teriak mamanya.
“Kalau begitu nanti nggak kubuatkan mie kesukaanmu”, sambung
mamanya.
“Ma, Mama, buatkan mie-nya dong”, rengek Shin Chan berkali-
kali tanpa dihiraukan mamanya.
“Mama cantik kok, Mama lebih cantik dari penyanyi itu, sungguh
Mama tambah cantik lagi kalau buatin Shin Chan mie kesukaan
Shin Chan”, rayu Shin Chan pada mamanya.
Akhirnya luluh juga hati mamanya mendengar rengekan dan
rayuan anaknya semata wayang itu.
“Iya Shin Chan, Mama akan buatkan tapi nanti ya”, ujar
mamanya.
“Shin Chan mau sekarang Ma, Mama buatin sekarang dong, Shin
Chan lapar sekali”, rengek Shin Chan lagi.
Tak tahan mendengar rengekan Shin Chan, mamanya langsung
ke dapur dan menyiapkan mie kesukaan Shin Chan.
“He, hehe, Shin Chan akan makan enak”, katanya dalam hati
sambil menonton goyangan penyanyi-penyanyi cantik di TV.
“Uhh, asyiik cantik-cantik goyang ngebor, ayo terus ngebor”,
kata Shin Chan dalam hati sambil terus mendekat ke arah TV
dengan tengkurap.
Tanpa disadarinya, kemaluan Shin Chan bergeser dengan karpet
yang ada dilantai. Semakin asyik, Shin Chan mengikuti irama
lagu di TV dan menggerak-gerakkan pinggulnya. Semakin lama
ia merasakan rasa yang enak kemaluannya ketika bergesek
dengan karpet.
“Uhh, enaak, ayo terus goyang”, kata Shin Chan.
Tiba-tiba kemaluan Shin Chan bertambah besar karena ereksi.
Semakin lama semakin besar hingga panjangnya sekitar 20 cm,
sebuah ukuran panjang kemaluan yang berlebihan untuk anak
seusia Shin Chan. Karena celana Shin Chan ukurannya pas-pas-
an untuk anak seukuran Shin Chan maka Shin Chan menjerit
kesakitan karena kemaluannya yang panjang itu menabrak dan
terjepit karet celananya.
“Aduh, Aduh, Mama, Mama sakit Ma”, jerit Shin Chan pada
mamanya.
Terkejut Mama Shin Chan langsung berlari ke ruang tengah dan
mendapat Shin Chan lagi terlentang kelimpungan dengan tonjolan
celananya yang sangat besar.
“Kamu kena? Mana yang sakit?”, tanya mamanya pada Shin
Chan kebingungan.
“Ini Ma, burung Shin Chan kejepit celana, tolong Ma, aduh sakit”,
teriak Shin Chan sambil meringis dan memegang burungnya.
Sekilas Mama Shin Chan juga melihat tontonan TV yang masih
memeprlihatkan goyangan-goyangan erotis dari penyanyinya.
Mengertilah Mama Shin Chan tapi tetap heran dengan besarnya
tonjolan burung Shin Chan. Untuk mengurangi rasa sakit jepitan
celana pada burung Shin Chan maka mamanya melorotkan
celana Shin Chan yang lagi terlentang. Bertambah terkejutnya
Mama Shin Chan setelah melihat burung Shin Chan yang berdiri
tegak dengan ukuran melebihi milik suaminya. Dipegang dan
diusap-usap burung Shin Chan oleh kedua tangan mamanya
yang lembut.
“Enaak Ma, terus.”, kata Shin Chan nakal sambil tersenyum lega.
“Shin Chan, ini akibatnya kalau kamu lihat TV yang seperti
gituan”, teriak mamanya dengan muka merah dan segera
mematikan TV.
“Mama, Mama, maafin Shin Chan.”, rengek Shin Chan hampir
menangis.
Tapi tetap saja burung Shin Chan berdiri tegak karena usapan
mamanya.
Mamanya Shin Chan tahu bahwa untuk menidurkan kembali
burung Shin Chan ia harus menyudahi usapannya pada burung
itu, tapi karena ia belum pernah melihat dan memegang penis
pria sebesar itu maka dengan ia masih tetap berlama-lama
menatap dan mengusap burung anaknya. Melihat jam dinding,
dengan berat hati ia meninggalkan Shin Chan dan kedapur untuk
menyiapkan makan malam suaminya yang akan tiba dari pulang
kerja tak lama lagi.
“Ma, Mama, gimana ini, Shin Chan kok ditinggal”, teriak Shin
Chan.
“Lepas dulu aja celanamu, duduk dan tunggu aja, kalau
burungmu sudah tidur pakai lagi celanamu”, teriak mamanya
dari dapur.
“Hihihi, dingin-dingin empuk”, tawa Shin Chan sambil memijat-
mijat burungnya sendiri.
Lupa akan perintah mamanya, Shin Chan lari berputar-putar
diruang tengah tanpa celana menirukan aksi superhero
kesayangannya ketika membasmi kejahatan.
“Hmm, mana monster-monster jahat itu biar kutembak dengan
senjata baruku ini”, teriak Shin Chan memegang burungnya dan
memainkannya bak senjata.
Kelakuan Shin Chan yang belum tahu apa-apa ini, membuat
burungnya tetap saja berdiri tegang tak mau segera tidur. Tapi
Shin Chan malah senang karena punya mainan baru.
Mama Shin Chan yang telah usai menyiapkan makan malam
keluarga, kembali keruang tengah untuk melihat kondisi
anaknya.
“Ma, Mama, ayo Ma main superhero lawan monster, Shin Chan
jadi superheronya, Mama jadi monsternya ya”, teriak Shin Chan
pada mamanya.
“Shin Chan kamu kok nakal banget sih, disuruh duduk kok
malah lari-lari”, teriak mamanya tak dihiraukan Shin Chan yang
lagi asyik main dengan berlarian.
Mamanya berusaha menangkap Shin Chan untuk dipaksa duduk
tenang, tapi Shin Chan malah menganggapnya bermain-main
dan tetap terus menghindar dari tangkapan mamanya lalu
sesekali memegang burung dan mengarahkannya pada mamanya
sambil beraksi menembak.
“Dor, dor, dor”, teriak Shin Chan.
Gemas campur marah mamanya Shin Chan mengancam tak
memberinya mie, tapi Shin Chan nakal sudah tak mendengarkan
lagi ancaman mamanya yang sudah dianggapnya monster yang
berusaha menangkapnya.
“Ayo monster kalau bisa tangkap Super Shin Chan”, ujar Shin
Chan.
Mendengar kata-kata Shin Chan, mamanya punya akal untuk
menangkapnya.
“Awas Super Shin Chan kalau ketangkap akan kuberi pelajaran”,
kata mamanya Shin Chan berlagak jadi monster.
Lalu mamanya Shin Chan segera mematikan lampu diruang
tengah sehingga kondisinya menjadi remang-remang.
“Mama, Mama Shin Chan takut, nyalain lagi lampunya”, jerit Shin
Chan ketakutan sehingga tak mampu beranjak dari tempatnya
berdiri.
Tiba-tiba dua tangan mamanya sudah menangkap tubuhnya
dari belakang.
“Hehehe, ketangkap kamu”, ujar mamanya Shin Chan dengan
suara monster.
“Mama, Mama mainnya sudahan”, ujar Shin Chan sambil
merobohkan dirinya diatas karpet ruang tengah.
“Mamamu sudah tak ada, yang ada hanyalah monster yang
akan memberimu pelajaran”, kata mamanya bak monster jahat
yang siap menerkam mangsanya.
Merasa tertantang, keberanian Shin Chan muncul kembali
mengingat ia punya senjata pamungkas yaitu burungnya yang
masih berdiri.
“Super Shin Chan tidak takut sama monster jelek, sini biar
kutembak”, teriak Shin Chan dengan memegang dan
mengarahkan burungnya ke arah wajah mamanya yang
mendekat.
“Aku bukan monster jelek tapi monster cantik dan tak takut
dengan senjatamu, terimalah pelajaran dariku”, ucap mamanya
Shin Chan langsung menangkap dan menjilati burungnya Shin
Chan yang mengarah kemukanya.
Shin Chan yang tak berdaya melepas tangannya dari burungnya
dan terlentang mengaduh”Aduh, aduh, geli Ma, geli Ma”.
Tak mendengarkan rintihan Shin Chan, mamanya terus menjilati
dan mengulum batang kemaluan Shin Chan. Kuluman maju
mundur pada ujung batang kemaluan Shin Chan ia tambahkan
kocokan dengan tangannya pada pangkal batang kemaluan Shin
Chan.
“Uhh, uuh, mmh, Ma, Ma, en, en, enaak”, ucap Shin Chan
terbata-bata.
“Teruus Ma, iya gitu, mmh, uhh, lagi Ma, mmff”, kata Shin Chan
yang membuat mamanya makin mempercepat kuluman dan
kocokan pada batang kemaluan Shin Chan.
“Ma, Ma, Sin, Sin, Shin Chan mau.”, belum habis ucapan Shin
Chan, batang kemaluannya berdenyut hebat mengeluarkan
cairan putih dan langsung menyemprot kedalam kerongkongan
mamanya.
“Mmmh, mmh.”, suara mamanya sambil terus menyedot batang
kemaluan Shin Chan dan menelan cairan putih itu seperti
menyedot plastik sedotan ketika minum es juice sirsak.
“Mama, Mama kok doyan sih Shin Chan pipisin”, ujar Shin Chan
setelah lepas mulut mamanya dari batang kemaluannya.
“Shin Chan, itu tadi bukan pipis tapi peluru dari senjata Shin
Chan yang harus dimakan oleh monster”, kata mamanya Shin
Chan dengan kalem.
Bersamaan dengan itu terdengar suara telpon dan ternyata dari
papanya Shin Chan yang memberitahu istrinya bahwa ia akan
lembur malam ini hingga tengah malam.
Dengan sangat kecewa, mamanya Shin Chan menutup gagang
telepon. Ia kecewa karena hasrat nafsunya yang tinggi setelah
bermain dengan Shin Chan hingga basah celana dalamnya
ternyata tak dapat ia lampiaskan bersama suaminya yang akan
pulang larut malam.
“Mama, Mama siapa yang nelpon kita?”, tanya Shin Chan yang
masih belum bercelana meski burungnya sudah kembali pada
ukuran semula.
“Itu tadi papamu, pulangnya akan malam. Kamu cepat pakai
celanamu, makan lalu segera tidur”, perintah mamanya dengan
nada agak keras sambil kembali menyalakan lampu ruangan
tengah.
Di kamar tidur, Shin Chan yang bersiap-siap menuju ke
pembaringan bercakap-cakap dengan mamanya.
“Mama, Mama besok disekolah akan aku tunjukkan senjataku
pada teman-teman”.
Mamanya langsung menjawab”Shin Chan kamu tidak boleh
menunjukkan senjatamu itu, senjatamu itu hanya boleh kamu
tunjukkan sama Mama saja, dan jangan sekali-sekali cerita pada
papamu atau orang lain, ngerti?”.
“Memangnya kenapa Ma?”, tanya Shin Chan tak puas.
“Kalau kamu ceritakan dan tunjukkan sama orang lain, Mama
nggak mau lagi main sama kamu dan Mama nggak akan
membuatkan mie kesukaan Shin Chan”, jawab mamanya yang
direspon dengan anggukan oleh Shin Chan.
Ditempat tidur Shin Chan masih bingung dengan apa yang
dikatakan mamanya tadi.
“Mama curang, masa senjata kok nggak boleh dikeluarkan, eh
tapi kalau nggak dituruti nggak bisa dapat mie dan nggak bisa
main, wah nggak asyik”.
Gemericik air terdengar oleh Shin Chan dari arah kamar mandi.
Shin Chan nakal segera bergegas membuka selimut lalu turun dari
tempat tidurnya.
“Uhh, Mama mandi, ngintip ahh, seperti apa sih Mama punya
senjata? punyaku kalah nggak ya?”, pertanyaan dalam benak
Shin Chan.
Didalam kamar mandi yang hanya ditutup separuh itu terlihat
mamanya Shin Chan sedang telanjang sambil menunggu tingginya
air dalam bathtub. Berdiri bersandarkan dinding kamar mandi
tangan kanan mamanya Shin Chan mengusap-usap daerah
kemaluannya sendiri dan sesekali memasukkan jari tengahnya
kedalam vaginanya. Sementara itu tangan kirinya meremas
payudaranya sambil memejamkan mata membayangkan
burungnya Shin Chan.
Shin Chan yang sedang mengintip keheranan melihat senjata
mamanya yang hanya berupa lubang kecil yang ditumbuhi
rambut-rambut halus tanpa ada moncongnya seperti miliknya.
Lebih heran lagi ketika melihat payudara mamanya.
“Uhh, Mama punya 2 senjata, tapi kok diatas ya?”, pertanyaan
dalam benak Shin Chan.
Merasa ingin lebih jelas ia bergerak lebih maju tapi badannya
menyenggol pintu kamar mandi sehingga mengejutkan mamanya.
“Shin Chan, kamu kok nakal sekali”, teriak mamanya.
Dengan nyengir di bibir Shin Chan berkata”Mama, Mama maafin
Shin Chan”.
Berhadap-hadapan dengan mamanya yang telanjang, piyama
Shin Chan mulai terbuka bagian bawahnya karena tertonjol oleh
batang kemaluan Shin Chan yang berdiri mengeras. Hal itu tak
luput dari pandangan mamanya.
“Shin Chan kamu haru diberi pelajaran lagi karena nakal, kesini
dan buka piyamamu”, perintah mamanya.
Shin Chan yang ketakutan hanya menuruti perintah mamanya.
Dengan telanjang bulat ia masuk kedalam kamar mandi dan
berdiri tepat didepan mamanya.
Dengan tinggi badan Shin Chan, mukanya tepat menghadap
pada daerah kemaluan mamanya.
“Mama, Mama mana senjatanya yang seperti punya Shin Chan?”,
tanya Shin Chan.
“Senjataku nggak kelihatan karena ada didalam, coba lihat”,
jawab mamanya Shin Chan.
“Mana, nggak kelihatan?”, tanya Shin Chan.
“Memang nggak, tapi bisa mengeluarkan peluru, coba rasakan
dengan lidahmu”, perintah mamanya Shin Chan dengan menarik
kepala Shin Chan hingga lidahnya menyentuh bibir vagina
mamanya.
“Ohh, Shin Chan rasakan lubangnya dan masukin dengan
lidahmu”, perintah mamanya.
Lidah Shin Chan akhirnya menemukan lubang vagina mamanya
dan tanpa diperintah lagi bergerak-gerak secara bebas dalam
liang kenikmatanan mamanya.
“Ahh, terus Shin Chan, lagi, jangan berhenti ohh.”, ucap
mamanya sambil mendesah keenakan.
Tarikan tangan Mama semakin erat memegang kepala Shin Chan
membuat Shin Chan agak gelagapan.
“Cepat Shin Chan, Mama mau keluarin pelurunya, ahh.”, desah
mamanya sambil menggelinjangkan tubuhnya.
Shin Chan merasakan semprotan kecil yang hangat dari dalam
liang kenikmatan mamanya dan berusaha menelannya.
Selepas itu mereka berdua mandi bersama dalam bathtub yang
telah terisi air hangat. Berdekapan dengan mamanya, tangan
Shin Chan yang nakal meremas-remas payudara mamanya. Shin
Chan kecil duduk dipangkuan mamanya, burungnya yang makin
mengeras bergeseran dengan perut mamanya. Shin Chan terus
meremas semua bagian tubuh mamanya yang sudah merebahkan
tubuhnya. Seperti mendapatkan mainan baru, tubuh Shin Chan
yang berada diatas tubuh mamanya bergerak keatas kebawah
sambil merasakan rasa enak pada bagian burungnya karena
bersentuhan dan bergeser dengan tubuh mamanya. Mamanya
Shin Chan membiarkan tingkah polah anaknya pada tubuhnya
menunggu tertumpuknya hasrat nafsu yang tak akan
dibendungnya.
“Shin Chan, ayo kita adu senjata Shin Chan dengan senjata
Mama”, ajak mamanya Shin Chan.
“Mama, Mama gimana caranya?”, tanya Shin Chan bingung.
“Masukin aja senjata Shin Chan kedalam lubang yang Shin Chan
masuki lidah tadi, nanti didalam akan beradu sendiri”, jawab
mamanya menjelaskan.
“Ayo, ayo Ma, diadu, tapi yang kalah tandanya apa Ma?”,
tanya Shin Chan kembali.
“Yang mengeluarkan peluru duluan yang kalah”, jawab
mamanya.
Mama Shin Chan kemudian mengatur posisi tubuh Shin Chan yang
berada diatasnya agak ke belakang sehingga batang kemaluan
Shin Chan tepat berada diatas vaginanya. Dipandu oleh tangan
mamanya, ujung batang kemaluan Shin Chan masuk sedikit
kedalam lubang vagina mamanya.
“Shin Chan ayo dorong biar masuk terus”, ucap mamanya sudah
tak sabar.
“Mama, Mama rasanya geli”, jawab Shin Chan polos.
Ditariknya tubuh Shin Chan oleh mamanya sehingga seluruh
batang kemaluan Shin Chan masuk dalam vagina mamanya.
“Ahh, ah.”, desah mamanya merasakan kenikmatan gesekan
burung Shin Chan dengan liang kenikmatannya yang lain
dibandingkan burung milik suaminya.
“Uhh, mmh, mmff, enaak Ma”, kata Shin Chan kegirangan.
“Shin Chan, cepat kamu maju mundur tapi jangan sampai lepas
ya senjatamu”, perintah mamanya lagi.
Menuruti kata-kata mamanya, Shin Chan terus melakukan gerak
maju dan mundur dan semakin lama semakin cepat hingga
membuat gelombang yang lumayan dalam bathtub.
“Shh, aah, terus Shin Chan”, desah mamanya.
“Mmh, mmff, iya Ma”, kata Shin Chan mengiyakan.
Beberapa saat kemudian Shin Chan berkata”Mama, Mama aku
mau keluarin pelurunya”.
“Tahan Shin Chan.”, ucap mamanya sambil mepercepat gerakan
tubuhnya untuk mengimbangi gerak maju mundur Shin Chan.
Lalu didekapnya tubuh Shin Chan yang sudah kelihatan tak
dapat menahan ejakulasinya.
“Mamaa..”, ucap Shin Chan lirih dibarengi rasa denyutan dari
batang kemaluannya.
Satu sentakan aliran cairan hangat dari batang kemaluan Shin
Chan segera dirasakan oleh dinding-dinding liang kenikmatan
mamanya.
Lalu mamanya menggendong tubuh Shin Chan kecil yang sudah
didekapnya. Dalam gendongan mamanya yang dalam posisi
bediri Shin Chan menguncikan kakinya pada bagia belakang
tubuh dan kaki mamanya agar tak jatuh. Dalam gendongan
mamanya ini Shin Chan merasakan tubuhnya digoyang keras
oleh mamanya sehingga gesekan yang ia rasakan pada batang
kemaluannya semakin ia rasakan enaknya. Sehingga meluncurlah
peluru-peluru berikutnya tak tertahankan lagi. Sementara itu
mamanya juga merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan
sebelumnya sehingga iapun mencapai puncaknya. Gelinjang
tubuh mamanya seakan tak mau berhenti mengeluarkan
segalanya dari dalam liang kenikmatannya yang terdalam.
Setelah melepas gendongan tubuh Shin Chan, mamanya kembali
berbaring kedalam bathtub untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Sementara Shin Chan sambil menangis langsung kembali ke
kamarnya setelah mengenakan piyama karena merasa kalah.
E N D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*