Home » Cerita Seks Mama Anak » Akibat Vacum Cleaner 2

Akibat Vacum Cleaner 2

Cerita Sebelumnya Akibat Vacum Cleaner 1

Paginya aku merasa malu, bukan saja karena apa yang telah kulakukan, tapi juga karena telah menyentuh anakku sedemikian rupa, dan yang terburuk, sangat menyukainya. Seharusnya kubawa bima ke rs. Sekarang aku bahkan malu menatapnya. Aku bereaksi seolah kejadian semalam tak pernah terjadi. Kuketuk kamar anakku.

ÔÇ£Bima. Kau sudah bangun nak?ÔÇØ

ÔÇ£Iya ma. Bima sudah bangun.ÔÇØ

ÔÇ£Baiklah, mama telat nih. Kamu mandi ya, mama buat sarapan dulu.ÔÇØ

Aku hanya menggoreng telur dan menyiapkan nasi untuk sarapan. Aku ingin cepat pergi agar tak perlu melihat anakku. Saat aku berbalik, bima telah ada di dapur. Aku terkejut.

ÔÇ£Oh, bima, mengejutkan mama saja. Mana pakaianmu?ÔÇØ

Bima hanya memakai handuk. Jelas tercetak di selangkangan kontol indahnya yang telah agak mengeras. Kucoba mengalihkan pandangan sebelum anakku menyadari apa yang kutatap.

ÔÇ£Mah, bima pingin bicara sebentar.ÔÇØ

Ia ingin bicara? Apakah ia ingin bilang betapa malu dan jijiknya dia padaku hingga akhirnya ingin pindah. Oh, apa yang telah kulakukan? Aku ingin lari, dan aku akan lari. Tapi ada lemari di kiriku dan ada meja makan di kananku.

ÔÇ£Mama udah terlambat nih.ÔÇØ

ÔÇ£Ini hanya, pas tadi bima bangun, bima masturbasi, tapi tak bisa keluar.ÔÇØ

Umoh.

ÔÇ£Bima pikir, apa mama bisa membantu bima lagi.ÔÇØ

Aku menelan ludah. Bukan ini yang kuharapkan. Tentu saja aku tak bisa membantunya. Yang kulakukan semalam saja sudah salah. Tak mau aku mengulanginya. Harus kuhentikan sejak awal.

ÔÇ£Sayang, yang mama lakukan semalam adalah satu hal. Mama tak bisa mengulanginya lagi.ÔÇØ

ÔÇ£Tapi rasanya enak dan —ÔÇ£

ÔÇ£Dengar sayang, jika memang sakit, mama bawa ke rs, tapi yang semalam takkan terjadi lagi.ÔÇØ

ÔÇ£Tapi kan mama tak punya uang.

ÔÇ£Mama tahu, tapi kalau kau terus sakit, apa boleh buat. Hanya saja, yang mama lakukan tidaklah pantas. Ngerti kan?ÔÇØ

ÔÇ£Ya, tapi kan telah terjadi ma. Jika mama tak mau, semalam tentu takkan terjadi. Kenapa kita tak bisa mengulanginya?ÔÇØ

Anakku mulai merengek seperti saat dia masih kecil.

ÔÇ£Maafkan mama sayang, mama tak nyaman melakukannya. Sekarang, mama kerja dulu.ÔÇØ

Ia mundur, kukira akan pergi. Ternyata mengambil kursi dari meja dan mendudukannya.

ÔÇ£Duduk dulu sebentar ma.ÔÇØ

ÔÇ£Bima, mama telat nih.ÔÇØ

ÔÇ£Sebentar saja ma.ÔÇØ

Aku mengeluh tapi duduk juga. Aku tak ingin ngobrol lagi dengan anakku. Tapi lalu kusadari bukan ngobrol yang anakku inginkan. Dia buka handuknya dan kontolnya yang panjang memenuhi mataku.

ÔÇ£Bima, ngapain kamu?ÔÇØ

Aku melotot, menatap matanya tapi memekku mulai berdenyut.

ÔÇ£Tolong bima mah, bima tak bisa fokus di sekolah jika belum keluar. Coma mama pikir nilai raport bima.ÔÇØ

ÔÇ£Bima, mama memang baik. Tapi jangan pikir sekarang mama mau membantumu lagi.ÔÇØ

ÔÇ£Lima menit sajalah mah.ÔÇØ

Sambil berkata, bima mengambil tanganku dan meletakannya di kontolnya. Ujung jariku menyentuh kontol indahnya sesaat sebelum kutarik tanganku.

ÔÇ£Tidak bima. Mama udah bilang. Sekali hanya semalam saja. Mama tak punya waktu.ÔÇØ

Kucoba berdiri tapi bima menekan bahuku. Kontolnya tepat didepan wajahku, hanya dua sentimeter dari bibirku. Kutatap wajahnya sambil menunjukan kemarahan.

ÔÇ£Bima, lepaskan tanganmu.ÔÇØ

ÔÇ£Lima menit saja mah. Bima janji.ÔÇØ

ÔÇ£Mama sudah telat.ÔÇØ

ÔÇ£Cuma lima menit mah. Tolonglah bima.ÔÇØ

Ia ambil lagi tanganku, mendaratkannnya di kontolnya dan dicengkram tanganku. Bima mengocok tangan kami. Kuambil nafas dalam ÔÇô dalam dan kusingkirkan tangannya. Kupaskan peganganku pada batang itu sebisanya. Sungguh tebal.

ÔÇ£Baiklah, ini yang terakhir.ÔÇØ

ÔÇ£Oke.ÔÇØ

Bima menunduk menatapku dan tersenyum. Kupelototi dia agar tahu bahwa aku marah. Tapi tuhan, betapa aku menyukai memegang kontolnya yang semakin mengeras. Lalu kontolnya tepat mengarah ke bibirku. Kumundurkan kepalaku agar tak terlalu dekat. Air liurku rasanya mengalir. Kuharap ada lotion agar tak tergoda.

ÔÇ£Mau memakai lotion?ÔÇØ

ÔÇ£Gak perlu mah. Gini juga enak kok.ÔÇØ

ÔÇ£Oke. Tapi jangan keluar ke wajah mama.ÔÇØ

Sekarang kontolnya benar ÔÇô benar keras dan tanganku rasanya penuh saat kukocok batang itu. Tanganku yang lain memainkan bolanya karena semalam bolanya luput dari tanganku. Bolanya memenuhi tanganku, kulitnya yang kendor kuraba dan kuremas hingga bima mengerang. Lalu tangannya meraba rambutku, membelai pipiku. Terasa lebih lembut dibanding sebelumnya. Bahkan aku tak ingat kapan terakhir kali diciumnya.

ÔÇ£Mama sangat seksi.ÔÇØ

ÔÇ£Permisi.ÔÇØ

Kuangkat wajahku dan kutatap anakku, sedang tanganku tetap bekerja.

ÔÇ£Seksi? Seperti, cantik?ÔÇØ

ÔÇ£Ya. Ingat gak saat bima kecil bima ingin mama jadi pacar bima?ÔÇØ

Nafas anakku makin berat. Aku tersenyum.

ÔÇ£Ya. Bahkan kamu beri mama kartu ucapan cinta.ÔÇØ

ÔÇ£Aku menyukai mama.ÔÇØ

ÔÇ£Bima, dulu kamu masih kecil. Semua anak kecil menyukai mamanya.ÔÇØ

ÔÇ£Apakah mereka juga mencuri dan masturbasi memakai cd mamanya?ÔÇØ

Kuhentikan kocokanku.

ÔÇ£Kau melakukan itu?ÔÇØ

ÔÇ£Jangan berhenti.ÔÇØ

Pegal. Kuganti tanganku.

ÔÇ£Kamu tak boleh begitu nak.ÔÇØ

ÔÇ£Aku suka baunya.ÔÇØ

ÔÇ£Yah, setidaknya sekarang kau tak mengambilnya lagi.ÔÇØ

Tapi lalu kulirik anakku. Cd ku selalu hilang saat dicuci. Beberapa hari kemudian ada lagi. Aku tak pernah tahu mengapa.

ÔÇ£Kau sudah tak melakukan itu, iya kan?ÔÇØ

Anakku hanya menyeringai dan membelai pipiku dengan jempolnya. Memikirkan betapa dia mencuri cd ku dan memakainya untuk masturbasi berarti dia tertarik padaku secara seksua dan mungkin sekarang aku sedang melakukan apa yang sering anakku khayalkan. Tentu saja aku tahu cerita Oedipus complex, tapi tak pernah kukira anakku akan tertarik padaku dan aku sedikit marah dibuatnya. Ini tak normal. Kupikir aku harus memarahinya atau apalah. Tetapi, aku malah terus mengocok kontolnya sambil mendengar erangannya.

ÔÇ£Gimana rasanya?ÔÇØ

ÔÇ£Enak mah.ÔÇØ

Tangannya turun dari pipiku. Dia bahkan tanpa ragu memasukan tangannya ke dalam blusku.

ÔÇ£Tunggu sebentar nak.ÔÇØ

Aku menggeliat tapi lalu kurasakan jarinya di pentilku, seperti semalam, tangannya memegang susuku.

ÔÇ£Biarkan bima memainkannya mah, biar membantu.ÔÇØ

Kuambil nafas saat anakku memainkan pentil dan susuku. Aku ingin disentuh layaknya wanita. Rasanya sudah sangat lama. Aku tak ingin yang lain kecuali membuka pakaianku dan membiarkan anakku menikmatinya, tapi aku bersumpah pada diriku sendiri aku takkan membiakan itu terjadi. Aku hanya bisa mengkhayalknannya.

Sekarang sudah lima menit, tapi kuakui aku tak ingin berhenti. Cd ku sudah basah tapi takkan ada waktu memainkan klitorisku nanti. Yang bisa kulakukan hanya menunggu malam tiba sambil bekerja. Sialan, aku butuh seks. Dan sekarang, anakku di sini bilang betapa seksinya aku, apakah ia tertarik padaku? Dan aku, kunikmati sensasi mengocok kontolnya. Aku harus berhenti tapi tak bisa. Aku ingin melihatnya keluar lagi. Ingin merasakannya, dan lebih dari itu, aku ingin membuatnya bahaia, membuatnya mencintaiku. Semua ibu pasti begitu. Tentu kebanyakan ibu takkan berbagi cinta dengan cara begini. Tidak. Aku harus jadi ibu yang bertanggungjawab dan tak berhubungan seksual dengan anakku. Aku benar ÔÇô benar harus pergi. Kuhentikan kocokan dan kulepas tanganku.

ÔÇ£Oke sayang, bisa lanjutkan sendirian kan?ÔÇØ

Anakku menatapku.

ÔÇ£Kenapa? Mama berhenti?ÔÇØ

ÔÇ£Mama mesti kerja.ÔÇØ

ÔÇ£Ayolah mah, beberapa menit lagi. Bima mohon.ÔÇØ

Ia keluarkan tangannya dari bajuku dan sekali lagi memegang tanganku tapi kusingkirkan.

ÔÇ£Sayang, mama tak bisa. Mama mesti kerja.ÔÇØ

Tapi aku ingin tinggal dan mengocok batangnya.

ÔÇ£Tapi bima ingin keluar.ÔÇØ

Anakku membelai rambutku. Jarinya mengelus belakang kepalaku.

ÔÇ£Mama tak bisa menunggu. ÔÇ£

Kutatap wajahnya, mencoba tak melihat kontol di depan wajahku.

ÔÇ£Tapi bima hampir sampe mah. Bima bisa langsung keluar jika mama menghisapnya..ÔÇØ

Mataku melotot. Ya, aku pernah menghayal menghisapnya sejak pertama kulihat, tapi saat anakku mulai ingin berpartisipasi dalam khalayan terlarangku, sudah terlalu jauh. Aku marah padanya. Anak macam apa yang mamanya begitu?

ÔÇ£Bima, aku mamau!ÔÇØ

ÔÇ£Bima tahu, tapi bima sangat terangsang. Kontol bima sangat keras.ÔÇØ

ÔÇ£Jangan gunakan kata itu. Ngocok ini saja sudah terlalu jauh. Mama tak bisa menghisap kontolmu juga. Itu salah.ÔÇØ

ÔÇ£Ayolah mah, semenit saja.ÔÇØ

Lalu dengan tangannya dibelakang kepalaku, ia rekatkan jari ÔÇô jarinya, menahan kepalaku saat kontolnya makin mendekat. Aku terkesiap saat ujung kontolnya menyentuh bbibirku.

ÔÇ£Bima! Hentikan!ÔÇØ

Aku berkata sambil memundurkan kepalaku. Ia dorong lagi kepalaku hingga aku terkejap. Tangannya yang lain memegang kontolnya dan mengarahkannya ke mulutku.

ÔÇ£Buka mulut mama. Ayolah, hisap ma.ÔÇØ

Anakku menampar wajahku dengan kontolnya, tapi kugerakkan kepalaku mencoba menjauh, saat kucoba mendorong tubuhnya dengan tanganku, tenagaku kalah besar. Kontolnya menekan bibirku hingga membukanya tapi gigiku tetap menyatu.

ÔÇ£Hentikan!ÔÇØ aku berkata lewat gigiku, menatap marah padanya. ÔÇ£Pergi!ÔÇØ

ÔÇ£Hisap semenit saja.ÔÇØ Kontolnya ditekan ke pipi dan hidungku. ÔÇ£Lalu aku pergi.ÔÇØ

ÔÇ£Tidak!ÔÇØ

Aku marah, tapi setiap bernafas selalu tercium wangi kontolnya, wangi seorang pria, oh tuhan, aku tergoda membuka mulutku dan membiarkannya masuk. Jika saja ia bukan anakku, aku takkan melawan.

ÔÇ£Hentikan!ÔÇØ

ÔÇ£Buka mulut mama!ÔÇØ

Kontolnya ditekan ÔÇô tekan ke seluruh wajahku. Bibirku ditampar ÔÇô tampar kontolnya.

ÔÇ£Buka!ÔÇØ

ÔÇ£Tidak. Akan mama gigit.!ÔÇØ

Kontolnya mulai ditekan ke gigiku. Mencoba masuk.

ÔÇ£Bagus. Buka dan gigit ini.ÔÇØ

ÔÇ£Kan mama gigit.ÔÇØ

ÔÇ£Gigit mah, buka dan gigitlah.ÔÇØ

Tuhan tolong aku, kupikir dia tahu betapa aku menginginkannya. Tapi aku takkan menyerah tanpa perlawanan! Kubuka mulutku dan kutekan helm kontolnya dengan gigikku. Dia tersentak lalu mencoba menekan kontolnya ke mulutku. Lalu kututup gigiku menjepit helmnya.

ÔÇ£Oh sial!ÔÇØ

Anakku mencabut kontolnya.

ÔÇ£Udah mama ingatkan. Akan mama hokum kamu!ÔÇØ

Bima terlihat marah. Ia jamak rambutku dan membetot kepalaku. Aku menyalak, mulutku membuka. Ia langsung masukkan kontolnya dan kututup mulutku hingga kontolnya tergigit. Tapi lidahku tak seperti gigiku. Kuyakinkan diri bahwa lidahku tak sengaja menyentuh lubang kontolnya hingga dapat kurasakan cairan pelumasnya. Bima tarik kembali kontolnya, helmnya tergores gigiku.

ÔÇ£Ow, mah. Sakit.ÔÇØ

ÔÇ£Lain kali kau coba masukan kontolmu ke mulut mama, kau akan kehilangannya.ÔÇØ

ÔÇ£Yeah?ÔÇØ

ÔÇ£Mmmhmmm, mama tak menggertak.ÔÇØ

ÔÇ£Buktikan mah, buka mulut mama.ÔÇØ

Aku tahu dia hanya ingin kontolnya kembali masuk mulutku, dan aku hanya ingin kontolnya kembali masuk. Rahangku membuka dan ia melangkah maju. Mulutku mesti kulebarkan sesuai ukurannya, tapi kututup gigiku saat kontolnya menyetuh tenggorokanku. Kutekan kontolnya agar ia tahu aku memilikinya.

Oh tuhan mama takan menggigitnya kan?

ÔÇ£Jangan bersumpahÔÇØ

Kuragukan ia mendengar ucapanku saat kontolnya di mulutku, tap dia mengerang karena gerakan lidahku di bawah batangnya. Kuberikan kontolnya beberapa jilatan karena mulutku penuh. Lalu kupegang batangnya dengan tanganku agar bisa kukontrol. Kubuka mulutku dan kukeluarkan kontolnya, kucium helmnya agar ia tahu aku tak marah.

ÔÇ£Dasar kamu anak nakal.ÔÇØ

ÔÇ£Bima putus asa mah, bima sangat pingin keluar.ÔÇØ

Kuangkat alisku, tapi haruskah kubiarkan anakku menderita?

ÔÇ£Enampuluh detik. Lebih dari itu kamu urus sendir. Dan hanya sekali ini saja. Mama takkan mengulanginya. Dan jangan pernah lagi mendorong kontolmu ke mulut mama. Setuju?ÔÇØ

ÔÇ£Setuju.ÔÇØ

Kubuka rahangku dan maju. Bibirku menyentuh helmnya dan terus hingga batangnya. Kurasakan rahangku mencoba beradaptasi. Sepertinya akan kunikmati ini sampai sore hari. Dan anaku ingin lebih, dia mulai menekannya hingga tenggorokanku.

Aku membungkuk ke depan dan meluruskan leherku. Lalu kubiarkan kontolnya melewati tenggorokanku. Anakku mengerang keras hingga kukira akan orgasme, tapi ternyata tidak. Ini lebih dari yang kubayangkan. Aku batuk dan kutarik kontolnya, tapi bima memasukannya lagi.

Kuraih batangnya, mencoba menekan kontolnya agar tak sampi tenggorokanku. Lalu kumulai menjilati batangnya. Bima sudah tak sabar. Dia pegang rambutku dan menekan kepalaku dalam ÔÇô dalam hingga kontolnya menekan tenggorokanku lagu, membuatku muntah. Aku tak pernah sejauh ini sebelumnya. Kucabut kontolnya dan kembali muntah.

ÔÇ£Jangan menusukan dalam ÔÇô dalam hingga tenggorokan mama. Kontolmu terlalu panjang. Tenggorokan mama bisa robek. Biarkan mama yang melakukan.ÔÇØ

ÔÇ£Maaf mah.ÔÇØ

Tapi ia meraih kembali kepalaku dan mendorongnya lagi hingga menyentuh tenggorokanku. Hanya setengah kontolnya yang masuk mulutku. Lidahku tetap menyapu batangnya sementara tanganku memompa batangnya yang tak masuk. Rahangku sakit. Sebelumnya tak pernah kudapati kontol sebesar ini dan tenggorokanku sakit sekali. Belum juga semenit tapi aku sudah butuh istirahat.

Butuh lebih dari semenit agar anakku orgasme, tapi sebagai ibu yang baik, aku tetap menghisap kontolnya meskipun rahangku sakit. Saat akhirnya anakku orgasme, aku tak bisa menahannya di tenggorokanku. Kutarik tapi kubiarkan kepala kontolnya tetap di mulutku. Tetap saja, aku tak bisa menelan lebih cepat. Saat kucabut kontolnya agar bisa bernafas, kusadari spermanya juga mendarat di wajahku.

ÔÇ£Oh.ÔÇØ

Lantas kembali kumasukan kepala kontolnya agar setiap tetesnya kunikmati. Kuteguk sebisanya. Erangan bima makin melemah seiring hisapanku pada kontolnya yang mulai mengempis. Akhirnya kutarik mulutku.

ÔÇ£Sudah lebih baik?ÔÇØ

ÔÇ£Ya, mama ibu terbaik sedunia.ÔÇØ

ÔÇ£oh tuhan. Lihat jam. Mama sangat telat. Oh tuhan, oh tuhan.ÔÇØ

Kuambil handuk dan kubersihkan wajah ku dari sperma anakku. Blusku basah terkena tetesannya, tapi tak ada waktu menggantinya. Kuharap cepat kering. Kulempar handuk ke tempat cucian dan berlari ke pintu depan. Bima masih berdiri di dapur, kontolnya bergelayut di antar pahanya.

ÔÇ£Bima! Sekolah!ÔÇØ

ÔÇ£Siap mah.ÔÇØ

Aku terlambat kerja. Atasanku tentu saja tak senang. Kupakai celemek, kubersihkan ruangan yang hampir kosong. Hingga akhirnya tak ada yang bisa kulakukan. Adiku sedang berdidi dekat meja.

ÔÇ£Maaf aku telat.ÔÇØ

ÔÇ£Tumben nih telat.”

ÔÇ£Iya nih yun.ÔÇØ

“Tadi bangun kesiangan.ÔÇØ

Oh. Um

ÔÇ£Apa? Ada lipstik di gigi?ÔÇØ

ÔÇ£Oh tuhanÔÇØ

ÔÇ£Huh?ÔÇØ

ÔÇ£Kau hisap kontol anakmu?ÔÇØ

ÔÇ£Apa? Tentu saja tidak!ÔÇØ

ÔÇ£Di rambutmu ada sperma.ÔÇØ

ÔÇ£Oh.ÔÇØ

ÔÇ£Toilet.ÔÇØ

Yuni mengikutiku ke toilet dan membuatku melihat kaca. Rasa malu membuat bahuku gontai. Ada banyak sperma di rambutku. Bahkan ada juga di bahuku. Yuni diam tak bicara. Ia hanya mengambil tisu dan membersihkanku. Aku sepertinya meangis.

ÔÇ£Aku mengacau. Kuhisap kontolnya. Sungguh memalukan.ÔÇØ

ÔÇ£Jangan sedih. Ini bukan pertama kali kau incest.ÔÇØ

ÔÇ£Kau tak termasuk hitungan. Lagian dia anakku.ÔÇØ

ÔÇ£Gimana caranya?ÔÇØ

ÔÇ£Dia memaksaku. Dia tekan kontolnya ke mulutku. Bahkan kugigit tapi dia terus menekan lebih dalam dan membuatku menghisapnya.ÔÇØ

ÔÇ£Benarkah? Kenapa tak gigit lebih keras?ÔÇØ

ÔÇ£Aku mencoba bertahan. Hanya saja sudah sangat lama dan aku juga terangsang.ÔÇØ

Yuni memijat bahuku.

ÔÇ£Jadi kau menyukainya?ÔÇØ

ÔÇ£Tubuhku menyukainya, tapi pikiranku tidak. Sekarang memekku basah, oh tuhan, aku hanya ingin seks. Aku sangat ingin orgasme.ÔÇØ

Yuni merangkulku. Kupeluk dia dan dia meremas rambutku. Lalu daguku diangkatnya dan aku diciumnya.

Aku tertawa. Sudah lama kami tak berciuman. Yuni selalu baik padaku, selalu ada saat aku ingin menangis. Kukira ia hanya menghiburku, tapi ternyata dia menciumku lagi, membuka mulutnya hingga lidahnya mencari lidahku. Aku mundur.

ÔÇ£Ngapain?ÔÇØ

ÔÇ£Kamu udah mengurus bima. Seseorang juga harus mengurusmu.ÔÇØ

Dia menciumku lagi. Tangannya memegang menuruni dadaku, menyusuri susuku yang kecil. Kunikmati elusannya, dia lebih lembut dibanding bima. Dia tau aku menyukainya. Lagian, kami sering memuaskan satu sama lain, tapi sudah lama sejak yang terakhir kali. Lalu kuhentikan aksinya.

ÔÇ£Tunggu, kita tak lagi remaja.ÔÇØ

ÔÇ£Tentu, bahkan kita sering ngentot kontol. Sini, duduk di sini. Biar kunikmati memekmu.ÔÇØ

ÔÇ£Kita mesti kerja.ÔÇØ

ÔÇ£Biar yang lain dulu. Gakkan lama kok.ÔÇØ

ÔÇ£Gimana kalau ada yang masuk?ÔÇØ

ÔÇ£Tenang saja, restoran masih sepi.ÔÇØ

Yuni memegang pahaku dan membantuku duduk. Aku agak enggan melakukan ini, apalagi di toilet. Tapi memekku sangat basah dan ingin. Aku duduk dan bersandar ke cermin. Yuni memasukan tangannya ke rok ku dan membuka cd ku.

ÔÇ£Oh. Kau sangat basah.ÔÇØ

Aku mengangguk. Kugerakan pantatku karena dinginnya meja. Yuni membuka pahaku lebar ÔÇô lebar. Memekku makin basah, klitorisku makin besar dan bibirku mengering.

ÔÇ£Oh.ÔÇØ

ÔÇ£Kau baik baik saja?ÔÇØ

Yuni bertanya sambil memainkan klitorisku denangan ujung jarinya.

ÔÇ£Sangat terangsang.ÔÇØ

Yuni memasukan jari tengahnya ke memekku dan mataku mengedip. Aku sangat menginginkannya.

ÔÇ£Oh tuhan, makasih.ÔÇØ

ÔÇ£Apa gunanya sodari?ÔÇØ

ÔÇ£Bukan untuk ini. Biasanya untuk menemani belanja baju.ÔÇØ

“Not for this,” I mumbled. “We usually just shop for clothes.”

“Kau boleh mengobralku.”

Lalu dia berlutut, mendekatkan mulutnya ke memeku. Lidah hangatnya menyapu kulit luar memekku, membuat tubuhku mengejang. Kuremas rambutnya dan kuarahkan kepalanya mendekati klitorisku. Yuni memasukan lidahnya sementara jarinya memainkan klitorisku. Kunikmati surga dunia. Sesaat, kumengerti kenapa bima menekan kontolnya ke mulutku. Ia butuh pelampiasan, seperti aku.

ÔÇ£Nikmatnya. Kenapa kita jarang melakukan ini lagi?ÔÇØ

Yuni mencabut lidahnya dari mulutku.

ÔÇ£Kau yang bilang seorang ibu harus bertanggungjawab. Dan menjilat memek tidaklah benar, apalagi meme sodarimu.ÔÇØ

ÔÇ£Maaf, kadang aku bodoh.ÔÇØ

ÔÇ£Dan kukira kaulah yang pintar.ÔÇØ

Kutatap adiku dan kutekan kembali kepalanya ke memekku. Lidahnya memainkan klitorisku lalu dihisapnya. Kucoba agar tak mengerang, tapi oh sungguh nikmat. Kupegang erat kepalanya saat jarinya ikut keluar masuk di memekku. Tak butuh waktu lama bagitu agar keluar. Aku berteriak penuh kenikmatan bersamaan dengan dibukanya pintu toilet oleh wanita berumur yang juga ikut teriak. Yuni menyeka dagunya.

ÔÇ£Mungkin saatnya kembali kerja.ÔÇØ

ÔÇ£Sudahkah kuberitahu kau sodari terbaik sedunia?ÔÇØ

ÔÇ£Aku sudah tahu.ÔÇØ

Setelah memberitahu bosku apa yang terjadi di toilet—ÔÇÿadikku membantuku melepaskan tamponÔÇÖ— aku bekerja dengan senang hati. Penampilanku berubah setelah dilanda orgasme. Ya, aku telah mengocok dan menghisap kontol anakku, tapi itu insiden. Tak ada alasan kenapa aku harus merasa aneh. Dan semuanya atas kehendak anakku. Aku tak salah. Aku hanya seorang ibu yang baik.

Aku terbangun tengah malam karena bima mengejutkanku. Saat mataku terbuka kulihat kontolnya di hadapanku. Ia tak memakai celana.

ÔÇ£Tidak, bima, kembali ke kamarmu. Sekarang!ÔÇØ

ÔÇ£Bima ingin keluar mah.ÔÇØ

ÔÇ£Baru saja tadi kau keluar. Mama tak bisa terus begini.ÔÇ£

ÔÇ£Bima dengar mama mainkan memek mama setelah di kamar.ÔÇØ

Aku bangkit dan kunyalakan lampu.

ÔÇ£Apa yang mama lakukan di kamar mama sama sekali bukan urusanmu.ÔÇØ

ÔÇ£Ya, tapi mama juga terangsang kan.ÔÇØ

ÔÇ£Bima, mama juga punya kebutuhan. Tapi bukan berarti mama mau melakukan apa saja denganmu. Apa kamu dengar mama meminta bantuanmu?ÔÇØ

ÔÇ£Jika mama minta bantuan, bima akan datang.ÔÇØ

ÔÇ£Bima, cukup.ÔÇØ

ÔÇ£TIdak mah, bima serius. Gini saja ma, gimana kalau bima jilat memek mama dan mama hisap kontol bima. Kita bisa main 69.ÔÇØ

ÔÇ£Tuhan, tentu saja tidak. Kau, anak muda, takkan melihat milikku.ÔÇØ

ÔÇ£Kalau gitu, hisap kontolku.ÔÇØ

Tangannya mendekati kepalaku.

ÔÇ£Tidak. Mama takkan menghisapnya lagi. Mama sudah bilang. Tidak berarti tidak.ÔÇØ

Aku mundur menghidari tangannya.

ÔÇ£Tolonglah mah, bima butuh bantuan.ÔÇØ

Bima merajuk seperti biasa.

ÔÇ£Meski mama mau, mama tak bisa. Rahang mama sakit, tenggorkan mama juga sakit. Dan mama lelah, mama tak lagi muda. Umur mama udah 35. Mama tiap hari kerja. Tidurlah, dan mungkin jika bima baik, sabtu nanti mama akan kocok saat bima mau keluar. Hanya itu.ÔÇØ

ÔÇ£Bima tak bisa menunggu mah.ÔÇØ

Bima mulai menaiki ranjangku. aku menghindar.

ÔÇ£Tidak, bima.ÔÇØ

Anakku mulai mendekatiku, kontolnya makin mengeras tapi dibelakangku ternyata tembok.

ÔÇ£Bima, mama mohon.ÔÇØ

ÔÇ£Kocok saja mah.ÔÇØ

ÔÇ£Tidak. Ini salah, sudah mama bilang. Bima mesti masturbasi sendirian saja.ÔÇØ

ÔÇ£Sudah bima coba mah.ÔÇØ

ÔÇ£Gimana kalau mama kasih cd yang mama pakai? Bisa bima pake.ÔÇØ

Dia menatap kakiku dan cd putihku. Bajuku telah tak bisa menutupinya. Kacau, cd ku basah oleh cairanku.

“Baiklah mah.”

ÔÇ£Oke? Bagus nak. Sekarang kembali ke kamarmu, nanti mama berikan.ÔÇØ

ÔÇ£Tidak. Biarkan bima gesekkan kontol bima sekarang.ÔÇØ

ÔÇ£Mama takkan melepasnya dihadapanmu.ÔÇØ

ÔÇ£Mama tak perlu membukanya. Pake saja ma.ÔÇØ

AKu mengerti maksudnya. Aku tak menyukainya.

ÔÇ£Tidak bima, tidak boleh nak.ÔÇØ

ÔÇ£Dengar, bima mencoba berbuat baik. Bima hanya menggesekkannya saja ke cd mama, saat mama memakainya. Jadi mama tak perlu telanjang.ÔÇØ

ÔÇ£Memekku di sana nak, kau akan menggesek memek mama.ÔÇØ

ÔÇ£Ya, bima tahu mah. Ayolah, tolong bima.ÔÇØ

Dia memegang pinggangku. Aku tahu bima tak perlu jawaban. Aku berusaha menolaknya.

ÔÇ£Bima hentikan. Mama takkan melakukan ini. Ini salah.ÔÇØ

Saat aku terbaring, dia memegang pahaku, melebarkannya. Tuhan, dia sangat kuat. Pahaku terbuka, nampaklah selangkanganku yang tertutup cd. Tubuhku bereaksi lain, memekku makin basah memikirkan kontolnya menggesek cdku. Aku terus meronta, mencoba mendorongnya menjauh. Tapi saat kontolnya mendekati cd ku, aku tahu tak ada gunanya meronta.

ÔÇ£Oke, tunggu sebentar ma.ÔÇØ

Bima memegang kontolnya, mengarahkanny ke cd ku.

ÔÇ£Mama biarkan bima kali ini. Tapi jika bima membuka cd mama atau mencoba ngewe mama, mama takkan mengakuimu lagi sebagai anak mama.ÔÇØ

ÔÇ£Bima takkan melakukan itu. Biarkan saja bima menggeseknya.ÔÇØ

Ia tekan cd ku dengan kontolnya tepat di atas klitorisku. Membuat tubuhku bergetar nikmat, aku benci betapa aku menyukainya.

ÔÇ£Oh.ÔÇØ

ÔÇ£Tenang mah.ÔÇØ

Lalu kontolnya digosokan ke sepanjang memekku. Aku mendesah.

ÔÇ£Bima, mama mohon jangan ngewe mama, nak.ÔÇØ

ÔÇ£Bima tak bisa ngewe menembus cd mah, tenang saja.ÔÇØ

Kuambil nafas perlahan saat ia mulai lagi menggesekkan kontolnya hingga helmnya beradu menggesek klitorisku. Kutekan kepalaku ke bantal, kututup mataku dengan tanganku. Aku seperti menangis.

ÔÇ£Mama tak percaya membiarkanmu melakukan ini. Mama sungguh ibu yang buruk.ÔÇØ

ÔÇ£Mama justru ibu yang sempurna. Hanya ibu yang sempurna yang membiarkan anaknya melakukan ini.ÔÇØ

Kontolnya ditekankan pada liang memekku.

ÔÇ£Jangan begitu. Jangan coba menusukan kontolmu.ÔÇØ

ÔÇ£Tentu tidak mah.ÔÇØ

ÔÇ£Jangan menekannya seperti itu. Mama sungguh ÔÇô sungguh.ÔÇØ

ÔÇ£Santai mah. Coba nikmati saja.ÔÇØ

Ia sapukan lagi kontolnya ke klitorisku, memfokuskannya. Oh tuhan, nikmat sekali. Aku tak ingin mengerang, tapi tak bisa menahannya. Memekku disentuh kontol, dan aku menyukai rasanya. Aku bergumam.

ÔÇ£Oh tuhan.ÔÇØ

Ia rapatkan pahaku, hingga kontolnya tertekan ke memekku. Lalu ia mulai memompa pahaku di atas memeku. Ia pegang bajuku, menaikkannya dan membukanya hingga susuku yang kecil terlihat. Tangannya menyentuh susuku, jarinya memilin putingku. Aku bahkan tak bereaksi. Aku dijamahnya dan tak ada yang bisa kulakukan. Bahkan, kontolnya yang keras terus menggesek klitorisku, meski tertutup cd, aku tahu dia akan membuatku keluar, dan aku akan berteriak, dan dia akan tahu betapa aku menyukainya. Jadi kututup mulut dengan tanganku, menggigit telapak tanganku agar tak bersuar. Dia tak boleh tahu betapa nikmatnya ini.

Lalu semua mulai kacau. Saat ia menarik kontolnya, helmnya selip ke dalam cd ku dan batangnya mulai masuk ke bawah cd. Kurasakan kontolnya menyentuh memekku. Langsung kupegang tangannya agar berhenti dan membuka pahaku.

ÔÇ£Berhenti. Hati ÔÇô hati!ÔÇØ

Ia berhenti dan melihat ke bawah. Cdku condong ke pinggir. Bibir memekku terlihat . kontolnya ada di dalam cd ku. Kepalanya di luar cd sedang batangnya menempel pada memeku.

ÔÇ£Oke, berhenti dulu.ÔÇØ

Kulepaskan kontolnya dan kubetulkan cdku.

ÔÇ£Kita tak bisa melanjutkan.ÔÇØ

Ia mundur, mungkin akan berhenti. Ternyata ia pegang cdku, mengangkatnya dan kembali memajukan pinggulnya. Kontolnya mengenai memekku, kulit menyentuh kulit. Memekku makin basah dibuatnya. Aku terengah ÔÇô engah.

ÔÇ£Jangan.ÔÇØ

Aku menunduk, menyelipkan tanganku antara kontolnya dan memekku. Tapi ia menekan kontolnya melewati jariku dan memekku. Kucoba menghentikannya tapi tak berguna.

ÔÇ£Hentikan bima. Tolong, kita tak boleh begini, tidak dengan anakku sendiri. Mama mohon. Hentikan.ÔÇØ

ÔÇ£Oke mah.ÔÇØ

Ia menghela. Lalu menarik kontolnya. Lalu ia memakaikan lagi cdku. Hingga memekku tertutupi cd lagi. Ia mengangkat tanganku yang menutupi selangkangannya.

ÔÇ£Lebih baik kan.ÔÇØ

Lalu ia majukan lagi kontolnya hingga menempel pada cdku. Ia pukul pukulkan helmnya. Kuperhatidan dia. Lalu dia mulai menekan kontolnya. Cd ku ikut tertarik bersama helm kontolnya. Kurasakan kain cd yang mulai menusuk. Kupegang bahunya.

ÔÇ£Bima.ÔÇØ

ÔÇ£Bima tak nimbus cd mama.ÔÇØ

Ia seperti mendorong hingga kontolnya tercetak oleh cdku. Helmnya mulai memasuki liang memekku.

ÔÇ£Bima. Kontolmu mulai masuk memek mama! Hentikan!ÔÇØ

ÔÇ£Tidak mah, hanya mendorong saja. ÔÇ£

Tapi cd ku sepertinya lebih banyak berada di memekku daripada menutupi memekku. Kupegang batang kontolnya.

ÔÇ£Hentikan bima. Mama tahu apa yang kamu lakukan. Kita tidak bisa!ÔÇØ

ÔÇ£Kita bisa mah. Mama tahu mama menginginkannya.ÔÇØ

Ia menatap mataku. Kontolnya menekan cdku saat ia dorong, tapi memekku malah membuka saat helm kontolnya masuk. Klitorisku berdenyut antara sakit dan nikmat. Sudah lama aku tak ngewe, hingga aku tak siap, apalagi kontolnya termasuk besar. Kurapatkan memekku agar kontolnya tak masuk lagi. Kutekan dadanya, tapi ternyata tak membantu sama sekali.

ÔÇ£Jangan bima, aku mamamu. Apakah itu tak berarti bagimu?ÔÇØ

ÔÇ£Yah. Artinya memek mama milik bima.ÔÇØ

Ia tekan lagi kontolnya dan sobeklah cdku. Aku menghela menahan nafas. Batangnya masuk tanpa ada penghalang. Kontolnya di dalam memekku. Kugigit bibirku. Kontolnya sungguh besar dan memekku sangat kecil. Bibir memekku meregang seiring kontolnya. Oh tuhan, betapa nikmatnya. Kututup mataku dan air mata jatuh di sudut mata. Ia tekan lebih dalam kontolnya. Membuatku merasakan sakit dan nikmat sekaligus. Aku meracau.ÔÇØ

Oh

Oh yes.

ÔÇ£Mama tak percaya kamu ewe mama.ÔÇØ

ÔÇ£Yeah. Kuewe mama.ÔÇØ

Ia tarik kontolnya, lalu menusukkannya kembali. Aku meringis.

ÔÇ£Oh tuhan, apa yang kau lakukan nak? Cabut! Ini salah nak.ÔÇØ

ÔÇ£Mama menyukainya kan.ÔÇØ

Ia memompa kontolnya lagi. Kakiku bergetar, jari kakiku mengeriting.

ÔÇ£Oh, kontolmu besar sekali. Tuhan, aku tak bisa.ÔÇØ

ÔÇ£Tentu mama bisa.

Ia gerakkan kontolnya pelan, kontolnya menghilang ditelan memekku. Aku tak percaya semuanya bisa masuk. Aku berbisik.

ÔÇ£Mama malu.ÔÇØ

ÔÇ£Karena mama menyukainya?ÔÇØ

Ia pegang pinggulku. Ia tarik kontolnya dan menusuk kembali. Rasanya perutku ditusuk helmnya. Aku mengerang.

ÔÇ£Oh, pelan ÔÇô pelan nak.ÔÇØ

ÔÇ£Bilang mama menyukainya dan bima akan pelan ÔÇô pelan.ÔÇØ

Kugelengkan kepalaku.

ÔÇ£Mama takkan bilang begitu.ÔÇØ

Ia terus menusukkan kontolnya. Aku mengerang dan merintih.

ÔÇ£Jangan terlalu dalam nak.ÔÇØ

ÔÇ£Mama sangat basah.ÔÇØ

Ia tarik dan tusukkan kembali kontolnya lebih dalam. Aku tak bisa berbuat apa ÔÇô apa kecuali melihat kontolnya menjamah memekku. Batangnya basah oleh cairan. Ia dorong lagi kontolnya, keras, tanganku menekan tembok.

ÔÇ£Oh.ÔÇØ

ÔÇ£Akui mama ingin diewe bima.ÔÇØ

ÔÇ£Tidak.ÔÇØ

Ia terus memompa kontolnya. Kutahan diriku agar tak bergerak, merintih sementara ia menusuk memek kecilku, klitorisku mengeras dan ikut terbawa masuk. Ia mulai mempercepat ritmenya. Aku mengerang keras. Aku tak bisa menahannya. Aku akan keluar dan dia akan tahu.

Oh tuhan. Oh. Oh oh..

ÔÇ£Mama keluar?ÔÇØ

Bima tertawa.

ÔÇ£Bima tahu mama menyukainya.ÔÇØ

Kakiku gemetar dan memekku membasahi batang kontolnya makin melumasinya. Ia makin keras ngewe. Meski memekku makin sensitif, ia terus saja mendorong kontolnya. Kucoba agar memelankannya dengan tanganku, tapi tak berguna. Ia tetap ngentot. Aku mengerng terus. Aku tahu ia bakal membuatku orgasme lagi. Aku tak bisa menahannya. Aku berteriak.

Tuhan. Oh. Bima.

ÔÇ£Ya mah. Bilang mah, bilang mama menyukainya.ÔÇØ

“Mama keluar lagi!”

ÔÇ£Bima tahu.ÔÇØ

Kontolnya makin keras menekanku hingga pantatku terangkat.

ÔÇ£Oh, mah. Bima mau keluar mah.ÔÇØ

ÔÇ£Jangan. Jangan di dalam! Mama mohon! Mama hisap hisap aja. Keluarkan nak.ÔÇØ

Spermanya muncrat. Memenuhi memekku dengan lahar panas. Aku mengerang dan menutupi wajahku.

Tidak

ÔÇ£Ya.ÔÇØ

Bima mengerang. Kontolnya masih menyembur di dalamku. Tak ada yang bisa kulakukan. Ia keluar di memekku. Sungguh buruk.

ÔÇ£Oh tuhan.ÔÇØ

ÔÇ£Oh.ÔÇØ

Tusukannya melemah. Ia jatuh menindih tubuhku tapi langsung kugulingkan. Kontolnya lepas dari memekku. Aku bangkit menuju kamar mandi, kubanting pintunya.

Aku bercermin, mataku merah karena menangis. Aku sungguh malu. Kulebarkan kakiku melihat memekku. Kurasakan spermanya mengalir keluar memeku.

ÔÇ£Oh tuhan. Oh tuhan, tidak. Apa yang kulakukan?ÔÇØ

Kuguyur tubuhku, kukorek memekku agar spermanya keluar. Aku tahu takk ada gunanya, tapi mesti kucoba. Bima mengetuk pintu kamar mandi.

ÔÇ£Mah? Mama baik ÔÇô baik saja?ÔÇØ

ÔÇ£Tinggalkan mama. Mama tak ingin bicara sama kamu.ÔÇØ

Ia buka pintunya dan melangkah. Ia menatapku.

ÔÇ£Keluar!ÔÇØ

ÔÇ£Bima ingin memastikan mama gak apa ÔÇô apa.ÔÇØ

Kubiarkan dia. Ia tak pernah mendengarkanku. Aku marah. Kembali kubersihkan memekku. Aku tak peduli ia melihat. Lagian ia telah ngewe aku.

ÔÇ£Mama malu dan kecewa sama kamu. Mama tak percaya kamu ewe mama seperti tadi, seperti pelacur yang kau ambil.ÔÇØ

Kutunjukan tanganku yang belepotan spermanya.

ÔÇ£Kamu keluar di dalam mama. Apa kamu tahu artinya? Mama akan hamil anakmu. Anakmu, bima. Apa yang kau pikirkan.ÔÇØ

ÔÇ£Bima tak berpikir mah. Bima lagi terangsang. Maaf.ÔÇØ

ÔÇ£Pergi saja. Mama bahkan tak sanggup menatapmu.ÔÇØ

ÔÇ£Ayolah mah, maafkan bima.ÔÇØ

Ia melangkah. Mendekat. Kontolnya setengah mengeras, dipenuhi cairan kami. Ia pegang pinggulku.

ÔÇ£Jangan sentuh mama.ÔÇØ

Aku marah. Tapi dia tak terpengaruh.

ÔÇ£Jangan begitu marah. Bima tahu mama menyukainya. Mama keluar dua kali.ÔÇØ

Dia makin dekat. Mencoba memelukku tapi kutekan dia.

ÔÇ£Hentikan.ÔÇØ

ÔÇ£Akui saja mama menyukai, nikmat.ÔÇØ

ÔÇ£Baiklah. Mama menyukainya karena memang nikmat, tapi tak berarti mama menginginkannya. Sudah mama bilang, mama juga perempuan, punya kebutuhan, tapi kamu anakku. Mama tak ingin seks sama kamu.ÔÇØ

ÔÇ£Kenapa tidak?ÔÇØ

Ia menatap memekku, lalu memegangnya dan mengusap klitorisku. Kusingkirkan tangannya.

ÔÇ£Kenapa tidak? Apa kamu gila? Kamu darah dagingku. Kamu lahir dari memek ini. Kamu tak boleh kembali.ÔÇØ

Ia menyeringai. Lalu ia dekatkan kontolnya ke memeku.

ÔÇ£Tidak. Sudah cukup. Jangan.ÔÇØ

ÔÇ£Aku selalu terangsang mah. Karena mama membuatku terangsang.ÔÇØ

Kucoba mendorongnya. Tapi ia terlalu kuat. Ia menarik tubuhku. Ia arahkan kontolnya dengan tangan.

ÔÇ£Tidak. Bima, jangan lagi nak.ÔÇØ

Tak ada waktu melawan saat ia mendudukanku di lantai. Ia dorong kontolnya ke memekku. Aku mengerang.

Oh hentikan nak, jangan ewe mama.

Ia tekan kontolnya lebih dalam. Aku tak bisa pergi, tak bisa menghentikannya. Ia mulai memompaku. Kontolnya membesar dan mengeras dalam memekku. Aku mengerang.

“Kenapa kau lakukan ini nak?ÔÇØ

ÔÇ£Mama terasa enak. Mama tahu sebelumnya bima belum pernah ngewe.ÔÇØ

Kututup mataku saat ia mulai ngentot memekku. Aku berbisik.

ÔÇ£Hentikan nak.ÔÇØ

Ia tak peduli. Kontolnya makin keras. Aku tak bisa fokus. Kurasakan sensasi kontolnya memenuhi memekku.

ÔÇ£Memek mama nikmat.ÔÇØ

ÔÇ£Mama benci kamu.ÔÇØ

ÔÇ£Ya, tapi mama suka rasanya kan. Mama tak sabar ingin memainkan kontolku setelah mengeluarkannya dari vacuum. Dasar pelacur sange.ÔÇØ

Aku marah padanya. Terlebih karena dia benar. Ya, aku menginginkannya. Ya, rasanya sungguh nikmat. Tapi, beraninya ia mengejekku? Kutampar pipinya. Ia berhenti dan menatapku. Aku tak pernah menampar anakku sebelumnya.

Ia menyeringai. Tangannya memegang kepalaku, mendekatkannya dan menciumku. Kupegang bahunya mencoba mendorongnya tapi kontolnya mulai menusukku lagi. Perlawananku sia ÔÇô sia. Akhirnya kubiarkan anakku menciumku, mengentotku, meremas dadaku.

Kakiku melingkari tubuhnya saat ia ngewe. Ia tahu ia akan membuatku keluar lagi dan tak kusembunyikan. Aku hanya berteriak dan menarik kepalaku ke belakang.

Oh, tuhan. Ohh.

Yah kau menyukainya kan pelacur

ÔÇ£Dasar anak durhaka.ÔÇØ

Oh kan kupenuhi memekmu lagi.

Aku tahu ia akan segera keluar saat ia makin dalam menekankan kontolnya. Lalu kontolnya menyemburkan sperma. Rasanya memekku dipenuhi spermanya. Aku hanya bisa mengerang.

Kami melihat memekku. Melihat kontolnya yang masih menancap. Menyemburkan hingga tetes terakhir. Akhirnya ia cabut kontolnya.

ÔÇ£Nikmat luarbiasa.ÔÇØ

ÔÇ£Apa kau selesai?ÔÇØ

ÔÇ£Huh?ÔÇØ

ÔÇ£Mama tanya sudah selesai? Apa kamu sudah cukup ngentot mama nak?ÔÇØ

ÔÇ£Ayolah mah. Gak apa ÔÇô apa kok kalau memang suka.ÔÇØ

ÔÇ£Mama hanya ingin sendiri. Pergilah nak.ÔÇØ

Ia bangkit dan keluar. Kubersihkan lagi memekku. Akhirnya memekku dimasuki kontol lagi setelah sekian lama. Aku kembali ke kamar. Ke ranjang. Tidur. Anakku ngentotku dua kali. Rasanya ini salahku. Seperti kubiarkan dia melakukannya. Aku benci diriku. Aku tak pernah sekecewa ini sama bima. Ia memperkosaku. Aku dipermalukan.

Paginya, aku bangun lalu mandi. Kupakai baju kerjaku, memasang nama di dadaku. Kumasuki kamar anakku. Kubangunkan dia. Marah.

ÔÇ£Bangun!ÔÇØ

ÔÇ£Huh? Oh, mah.ÔÇØ

ÔÇ£Ayo mandi, lalu sarapan. Mama mesti ngomong sama kamu.ÔÇØ

“Uh-oh.”

Aku keluar dan ke dapur. Membuat sarapan. Bima datang. Rambutnya basah, tubuhnya berkilau, hanya memakai handuk.

ÔÇ£Duduk.ÔÇØ

ÔÇ£Jadi, mama marah ?ÔÇØ

ÔÇ£Mama tak hanya marah.ÔÇØ

Ia makan sarapannya. Aku tetap berdiri. Kusilangkan tanganku di dada. Kutatap dia.

ÔÇ£Semalam kau keterlaluan.ÔÇØ

ÔÇ£Mama menyukainya.ÔÇØ

ÔÇ£Diam! Dengarkan mama!ÔÇØ

ÔÇ£Tiga bulan lagi kamu ebtanas. Jadi, setelah kau lulus, mama mau kau pergi dari rumah ini. Kamu mengerti?ÔÇØ

ÔÇ£Mama serius?ÔÇØ

ÔÇ£Mama tidak bercanda.ÔÇØ

ÔÇ£Tapi bima anakmu mah.ÔÇØ

ÔÇ£Kamu bukan lagi anakku sejak meniduriku.ÔÇØ

ÔÇ£Apa artinya ini?ÔÇØ

Ia berdiri. Aku mundur selangkah.

ÔÇ£Jangan macam ÔÇô macam. Jangan kira aku takkan lapor polisi.ÔÇØ

ÔÇ£Mah, mama menginginkannya. Dengar, bima ngerti mama marah. Tapi mama tetap mama bima, dan mima masih mencinati mama. Jika mama menyukainya dan bima juga menyukainya, kenapa kita tak boleh ewean?ÔÇØ

ÔÇ£Karena itu salah, bima!ÔÇØ

Ia maju selangkah tapi langsung kuambil pisau mentega dan memegangnya.

ÔÇ£Oh tuhan. Mah.ÔÇØ

ÔÇ£Jangan melangkah.ÔÇØ

Tenang mah. Takkan ada yang tahu. Hubungan kita tetap tak berubah. Dengar

Ia mundur selangkah.

ÔÇ£Bima tahu bima jarang nurut. Jarang beres kamar, jarang buang sampah. Tapi bima janji, bima akan berubah jadi lebih baik. Hanya saja, mama tahu, kadang kita ewean.ÔÇØ

Kutaruh pisau.

ÔÇ£Bima. Mama tak menginginkannya. Mama serius, 3 bulan lagi. Dan mungkin setelah kamu keluar, jika kamu berkelakuan baik, mungkin mama akui bima lagi. Tapi mama tak bisa memaafkan apa yang telah terjadi. Sekarang, mama kerja dulu.ÔÇØ

Aku melangkah melewatinya, tapi ia memegang pinggangku.

ÔÇ£Tunggu.ÔÇØ

ÔÇ£Lepaskan bima.ÔÇØ

ÔÇ£Bima mau bicara. 3 bulan? Baiklah, mama benar. Mama seharusnya mengusir bima.

Kucoba singkirkan tangannya, tapi ia tetap memegangnya. Ia kembali menyeringai.

ÔÇ£Jadi, kurasa hanya tinggal 3 bulan bima bisa nikmati memek mama.ÔÇØ

ÔÇ£Tidak, bima.ÔÇØ

ÔÇ£Yah, sebab kupikir mama juga menginginkannya seperti bima, hanya saja mama tak mau mengakuinya.ÔÇØ

Ia menarikku lebih dekat. Aku mulai berontak.

ÔÇ£Hentikan bima. Atau mama lapor polisi.ÔÇØ

Dia tertawa. Membalikan tubuhku lalu mendorongku ke meja hingga wajahku berhadapan dengan piringnya, menarik tanganku kebelakang dan memegangnya.

ÔÇ£Oh tuhan. Tidak, jangan lagi.ÔÇØ

Aku menangis.

ÔÇ£Mama mohon. Jangan. Mama akan laporkan ke polisi!ÔÇØ

ÔÇ£Benarkah?ÔÇØ

Tangannya mengelus pantatku. Kupalingkan wajahku menatapnya. Ia membuka handuknya hingga kontolnya bebas. Kontolnya telah mengeras dan didekatkannya ke pantatku.

ÔÇ£Bima pikir mama akan melapor.ÔÇØ

ÔÇ£Ya.ÔÇØ

ÔÇ£Mereka akan menangkap bima atas perkosaan. Bima akan dipenjara. Bima takkan dapat kerja. Hidup bima bakal hancur. Ya, bima kira mama akan melapor sekarang juga.ÔÇØ

Kututup mataku saat ia mulai meraba cdku.

ÔÇ£Bima, mama mohon. Aku mamamu. Kamu tak bisa ngentot seenaknya.ÔÇØ

ÔÇ£Itulah yang bima lakukan. Kan bima jadikan mama pelacur bima. Akan bima entot mama sesukanya.ÔÇØ

Elusannya beranjak ke memekku. Jarinya ditekankan membuatku melenguh.

ÔÇ£Jangan nak, memek mama sakit. Saat mama bangun, memek mama memerah. Tolonglah nak, jika kamu mencintai mama, jangan seperti ini.ÔÇØ

Ia pelorotkan cdku hingga ke lutut. Lalu ia lebarkan kakiku dengan kakinya hingga memekku terbuka.

ÔÇ£Memek mama memang merah.ÔÇØ

Jarinya meremas memekku.

ÔÇ£Jangan nak. Mama sepong saja kontolmu. Mama takkan gigit. Tolong jangan ewe mama lagi.ÔÇØ

ÔÇ£Yah.ÔÇØ

Ia menyeringai. Kontolnya digesekan ke klitorisku.

ÔÇ£Apakah sekarang bagimu mama hanyalah untuk kau ewe?ÔÇØ

ÔÇ£Ya, untuk 3 bulan ke depan.ÔÇØ

Ia mulai menekan kontolnya ke memekku yang kering. Sakit rasanya. Aku tak siap diewe pagi ini.

“Ow, ow, ow! Tunggu, nak. Mama tak siap. Memek mama sakit.ÔÇØ

Ia tarik kembali kontolnya. Kuhirup nafas.

ÔÇ£Sial.ÔÇØ

ÔÇ£Biarkan mama bangun nak. Mama ingin sepong kontolmu. Mama takkan melawan. Tolong jangan memek mama. Rasanya sakit.ÔÇØ

Ia angkat tangannya mencolek dan mengambil mentega. Aku berbisik.

ÔÇ£Oh tuhan.ÔÇØ

Tangannya mengoleskan mentega ke memekku. Kututup mataku. Kontolnya menekan klitorisku lalu menusuk memeku dengan lumasan mentega. Aku mengerang. Dia melepas tanganku lalu memegang pantatku. Tetap menekanku agar tak bangkit. Ia tahu aku takkan beranjak.

ÔÇ£Enakkan? Ayo mah bilang. Bima tahu mama menyukainya.ÔÇØ

ÔÇ£Ya.ÔÇØ

AKu menghela pelan, dan aku menyukainya. Memeku terasa panas dimasuki kontolnya, tapi tuhan, tetap saja aku menyukainya. Ia mulai dengan pelan hingga memekmu beradaptasi lagi.

ÔÇ£Oh.ÔÇØ

ÔÇ£Benarkan. Bima juga bisa lembut.ÔÇØ

ÔÇ£Ini salah.ÔÇØ

ÔÇ£Kenapa?ÔÇØ

Karena. Karena

ÔÇ£Benar.ÔÇØ

ÔÇ£Tuhan. Aku benci ini karena nikmat. Dasar anak nakal membuat mama melakukan ini.ÔÇØ

ÔÇ£Membuat mama menyukainya?ÔÇØ

ÔÇ£Ya. Ewe saja mama lalu tinggalkan mama sendiri.ÔÇØ

Kulebarkan kakiku. Sementara lututku terkunci cdku. Aku menelan ludah.

ÔÇ£Mama ingin diewe bima?ÔÇØ

ÔÇ£Tidak, tapi jika bima ngewe mama, lebih keras lagi.ÔÇØ

ÔÇ£Mama ingin diewe lebih keras lagi?ÔÇØ

Ia sengaja memelankan tusukannya. Aku ingin diewe lebih keras, meski memekku sakit. Aku ingin diewe lebih keras dan dalam.

ÔÇ£Tidak.ÔÇØ

Aku bohong.

ÔÇ£Mama hanya ingin ini cepat berlalu.ÔÇØ

ÔÇ£Cepat berlalu? Bima baru saja mulai. Saat mama pulang kerja. Akan bima ewe lagi. Lalu mama masak. Setelah makan, bima ewe lagi. Dan setelah mama di ranjang, bima ewe lagi. Bima mungkin tidur di ranjang mama.ÔÇØ

Tuhan

Dan besok pagi

Ia tekan kontolnya lebih keras hingga mentok. Tanganku menabrak gelas. Aku tak peduli. Aku hanya ingin dia melakukan itu lagi.

 besok, kurasa bima akan bangun lebih pagi, mandi dengan mama agar kontol bima dibersihkan mama sebelum ngewe lagi.

Ia percepat ritme tusukan kontolnya pada memekku yang makin basah hingga membuat mejanya bergetar. Aku mengigau nikmat. Bahkan tak lagi kurasakan sakit pada memekku. Aku hanya ingin dia terus mengentotku dan aku senang dia perlakukan aku seperti ini. Aku berbisik.

Oh mama hampir keluar.

ÔÇ£Bima tahu. Mama terus bilang gak menginginkannya dan terus keluar. Oh. Mama tak tahu apa yang mama inginkan yah?ÔÇØ

Kugigit bibirku, lalu menjerit saat orgasme melanda. Kakiku terangkat dari lantai. Cd ku robek saat kucoba melebarkan kakiku agar kontolnya menusuk makin dalam. Kenikmatan yang sangat membuatku menjerit dan menangis agar dia berhenti.

Berhenti dulu nah. Oh, nikmat tolong nak.

Ia pelankan ritmenya. Aku terengah ÔÇô engah di meja, rasanya memekku makin sensitive. Ia mulai lagi tusukannya. Aku tahu ia akan segera memuncratkan sperma lagi. Tuhan, gimana jika aku hamil?

Oh. Bima gak tahan mah

Ia muncratkan spermanya memenuhi memekku, seperti tadi malam, dan aku tak bisa berbuat apa ÔÇô apa. Spermanya bercucuran dari memekku. Kenapa rasanya nikmat? Aku berbaring di meja saat ia cabut kontolnya. Kurasa aku tak sanggup berdiri. Aku tak berdaya.

ÔÇ£Oh, sial. Bima telat sekolah.ÔÇØ

Kudengar ia berlari. Lalu muncul lagi, memakai pakaian. Lalu pergi.

ÔÇ£Selamat tinggal mah.ÔÇØ

Setelah pintu menutup kembali, kucoba bangun. Kulihat diriku, spermanya ada di mana ÔÇô mana. Di memekku, di pantatku, di rokku. Aku mundur, goyah. Kupakai cdku. Kubenarkan rokku, tapi apalah artinya?

Aku berangkat kerja. Perasaanku tak menentu. Aku tak bisa menghitung berapakali aku akan ewean mulai sekarang hingga 3 bulan kedepan. Jika saja aku berani mengusir anakku. Memekku sakit lagi.

ÔÇ£Telat lagi.ÔÇØ

Bosku menyindir. Aku bahkan membiarkannya. Aku hanya kerja, mengganguk saat adikku bertanya apakah aku baik ÔÇô baik saja. Aku tak ingin dia tahu yang terjadi, bahwa sekarang aku adalah mainan seks anakku, bahwa anakku ngentotku penuh hasrat, bahwa memeku dipakainya.

Saat siang, kutempelkan es ke memekku agar tak sakit. Aku tak ingin makan. Otot ÔÇô ototku lelah. Yuni menghampiriku.

ÔÇ£Hey.ÔÇØ

ÔÇ£Hey. Apa kau baik ÔÇô baik saja?ÔÇØ

ÔÇ£Ya.ÔÇØ

ÔÇ£Tentu saja. Ayolah, beritahu aku apa yang terjadi. Aku tahu ada sesuatu. Bima lagi kan?ÔÇØ

ÔÇ£Aku tak ingin membicarakannya. Tak ada masalah lagiÔÇØ

ÔÇ£Ia ngewe kamu kan?ÔÇØ

ÔÇ£Huh. Tuhan, tidak. Tentu tidak. Dia anakku.ÔÇØ

ÔÇ£Rahma, kau taruh es di memekmu.ÔÇØ

ÔÇ£Tidak.ÔÇØ

ÔÇ£terlihat bekas sperma di cd mu dan kau berbau seks. Bahkan rambutmu yang tak rapi menunjukannya.ÔÇØ

Aku menunduk. Tanganku menutup wajahku.

ÔÇ£Aku diewe tiga kali.ÔÇØ

ÔÇ£Tiga? Baru saja kemarin kita bicara.ÔÇØ

Kutatap dia.

ÔÇ£Yuni. Ini serius. Ia hanya, menarikku tadi malam, dua kali. Lalu tadi sebelum kerja. Ia menarikku ke meja dan ngewe.ÔÇØ

ÔÇ£Wow. Aku cemburu.ÔÇØ

ÔÇ£Yuni. Dia anakku. Aku tak ingin dia melakukannya. Dia memperkosaku.ÔÇØ

ÔÇ£Apa kau menyukainya?ÔÇØ

ÔÇ£Tentu aku suka. Tapi aku tak menginginkannya.ÔÇØ

ÔÇ£Jika kau menyukainya, bukan perkosaan.ÔÇØ

ÔÇ£Bukan begitu hukumnya. Dan bahkan ini lebih buruk. Ia bilang akan mulai ngentot kapanpun dia mau, tiga atau empat kali sehari.ÔÇØ

ÔÇ£Wow, aku ingin diewe tiga kali sehari.ÔÇØ

ÔÇ£Yuni, tolonglah.ÔÇØ

ÔÇ£Oke, maaf, tapi ini kan yang selalu kau katakan. Kau butuh pria. Kau mendaptakannya.ÔÇØ

ÔÇ£Anakku bukanlah pria yang kuinginkan. Ini menjijikan.ÔÇØ

ÔÇ£Aku tak punya anak pria, jadi aku tak tahu. Tapi kurasa ini abnormal. Baiknya kau jangan bilang siapa ÔÇô siapa.ÔÇØ

ÔÇ£Aku tahu. Tapi apa kau tak merasa jijik?ÔÇØ

ÔÇ£Aku? Aku sudah jilat memekmu dan aku adikmu.ÔÇØ

ÔÇ£Itu tak sama. Kita tumbuh bareng. Kita hanya main ÔÇô main. Tapi yang dia lakukan sangat serius, permanen. Dia muntahkan di memekku. Aku mungkin hamil.ÔÇØ

ÔÇ£Oh.ÔÇØ

ÔÇ£Ya.ÔÇØ

ÔÇ£Nih, ambil.ÔÇØ

Ia memberiku pil anti hamil dari tasnya.

ÔÇ£Aku selalu siap.ÔÇØ

ÔÇ£Aku tak ingin ini. Aku ingin bantuan. Aku harus menghentikannya. Lihatlah.ÔÇØ

Kubuka pahaku, kuangkat rokku dan kupelorotkan cdku. Memekku terlihat sangat merah, bahkan masih ada sisa mentega dan sperma.

ÔÇ£Sial. Dia benar ÔÇô benar ngentot kamu. Itu hanya dari tiga kali?ÔÇØ

ÔÇ£Ya. Sudah kubilang, kontolnya gede.ÔÇØ

ÔÇ£Biar kusentuh.ÔÇØ

Ia menyentuh memeku, lalu memasukanjarinya.

Yuni

Ia tarik kembali jarinya, memasukan ke mulutnya, lalu menghisapnya.

ÔÇ£Mmm, ini mentega?ÔÇØ

ÔÇ£Itu sperma anakku!… dengan mentega, ya. Tadi pagi memekku kering.ÔÇØ

Yuni tertawa.

ÔÇ£Aku tak pernah mencoba mentega.ÔÇØ

Kupakai lagi cdku.

ÔÇ£Aku mesti gimana? Aku tak bisa terus dengannya. Aku butuh bantuan. Kita tak boleh ngewe anak sendiri.ÔÇØ

ÔÇ£Oke, gini aja. Jika dia memaksamu, aku tidur di rumahmu. Melindungimu dari kontolnya yang besar dan nakal.ÔÇØ

ÔÇ£Benarkah?ÔÇØ

ÔÇ£Ya. Pasti menyenangkan.ÔÇØ

ÔÇ£Tapi hati ÔÇô hati sama bima. Ia mungkin ngentot kamu.ÔÇØ

ÔÇ£Oh, aku bisa menanganinya.ÔÇØ

Aku agak gugup saat aku pulang. Yuni ikut denganku. Aku ingin kasih tahu bima bibinya tidur di rumah. Aku ingin yuni terus di sini sampai seminggu lebih. Ku ketuk pintu kamarnya. Kubuka lalu aku masuk.

ÔÇ£Hey mah. Bima nunggu mama.ÔÇØ

Ia bangkit dan mendekatiku. Seringainya menunjukan ia siap ngentot kapan saja.

ÔÇ£Diam. Yuni di sini.ÔÇØ

ÔÇ£Bibi yuni?ÔÇØ

ÔÇ£Ya. Ia nginap di kamar mama.ÔÇØ

ÔÇ£Jadi, begitu ya.ÔÇØ

ÔÇ£Jangan lakukan apapun. Dia tak tau apa ÔÇô apa. Dan mama tak ingin dia tau.ÔÇØ

ÔÇ£Oke mah, tapi saat bibi pulang, aku entot mama.ÔÇØ

Aku melotot.

ÔÇ£Bima, mama bukan budak seks. Jangan perlakukan mama seperti itu.ÔÇØ

Kusuruh bima keluar menyambut bibinya. Kami pun keluar.

ÔÇ£Hai bima.ÔÇØ

ÔÇ£Halo bi.ÔÇØ

ÔÇ£Apakabar?ÔÇØ

ÔÇ£Baik bi.ÔÇØ

ÔÇ£Gimana sekolahnya?ÔÇØ

ÔÇ£Lancar.ÔÇØ

Yuni dan aku lantas masak untuk malam sementara bima ngobrol dengan kami. Untuk sesaat, aku bahkan lupa kejadian tadi pagi. Mungkin aku bisa minta yuni pindah ke sini. Kami makan malam. Lalu nonton tv. Aku ke kamar mandi. Di dalam kudengar obrolan mereka, aku tak senang mendengar percakapan mereka.

ÔÇ£Bima tak percaya mama kasih tahu soal vacuum.ÔÇØ

ÔÇ£Ibumu ceritakan semua.ÔÇØ

ÔÇ£Apa mama cerita yang lain lagi?ÔÇØ

ÔÇ£Ada yang lain? Kau masukan kontolmu ke mana lagi?ÔÇØ

Bima tertawa.

ÔÇ£Mama tak bilang apa ÔÇô apa lagi?ÔÇØ

ÔÇ£Dia bilang kontolmu gede.ÔÇØ

ÔÇ£Benarkah?ÔÇØ

ÔÇ£Tapi mungkin dia hanya melebih ÔÇô lebihkan. Ibumu selalu takut akan seks. Semua kontol diaanggapnya gede.ÔÇØ

ÔÇ£Bibi mau melihatnya?ÔÇØ

ÔÇ£Oh, tidak.ÔÇØ

ÔÇ£Apa bibi juga takut seks?ÔÇØ

ÔÇ£Aku? Tidak. Aku hanya khawatir kau perkosa seperti ibumu.ÔÇØ

ÔÇ£Ha! Aku sudah mengira mama ceritakan semuanya.ÔÇØ

ÔÇ£Anak aneh mana yang ngentot ibunya sendiri? Kau seharusnya malu.ÔÇØ

ÔÇ£Jangan percaya kata ÔÇô kata mama. Mama malah menyukainya.ÔÇØ

ÔÇ£Ya. Makanya dia minta bibi tidur di sini agar melindunginya darimu.ÔÇØ

ÔÇ£Dan siapa yang akan melindungi bima dari bibi?ÔÇØ

ÔÇ£Oh, anak kecil, kau takkan tahu mesti ngapain sama bibi.ÔÇØ

ÔÇ£Bibi tak tahu mesti gimana gimana saat ada kontol di memek bibi. Aku tahu bibi telah jilat memek mama bertahun ÔÇô tahun.ÔÇØ

ÔÇ£Kok tahu?ÔÇØ

ÔÇ£Aku pernah melihat kalian waktu kecil. Sungguh trauma. Bibi sama jahatnya dengan bima. Mencoba mengambil keuntungan dari mama.ÔÇØ

ÔÇ£Dasar kau bajingan, lebih baik jangan kau sentuh dia lagi.ÔÇØ

ÔÇ£Bibi ingin bima berhenti?ÔÇØ

ÔÇ£Tentu.ÔÇØ

ÔÇ£Gampang bi, tinggal bilang saja.ÔÇØ

ÔÇ£Apa maksudmu?ÔÇØ

“Bilang saja. Setelah mama tidur.ÔÇØ

Aku tahu maksudnya. Kubuka dan kututup pintu keras agar mereka tahu aku akan datang. Mereka bertingkah seolah tak bercakap ÔÇô cakap. Aku kembali nonton tv. Kami terdiam. Sekarang aku menghawatirkan yuni. Bima mungkin akan mencoba ngewe yuni. Dan kemungkinan yuni akan membiarkannya. Mungkin yuni kira itu akan melindungiku, tapi aku tak mau yuni melindungiku dengan cara itu.

Lebih ÔÇô lebih, aku cemburu. Aku tak ingin yuni ngewe bima. Bima anakku! Jika ada yang ngewe bima, orang itu harus aku. Mungkin aku tak menginginkannya, tapi aku tak ingin yuni menginginkannya juga. Aku tak tahu mesti ngapain. Haruskah kubilang sesuatu? Haruskah kusuruh yuni agar tak bicara pada bima? Apakah yuni sadar bima adalah ponakannya? Apakah bima sadar yuni adalah bibinya? Sepertinya dunia mulai gila.

Tak lama, aku dan yuni masuk kamar. Bima terlihat senang saat bilang selamat tidur. Dia tahu akan dapat apa, memek bibinya. Tapi aku tak bisa melindungi yuni meski yuni ingin dilindungi. Bima hanya tinggal ngewe memekku, dan memekku makin sakit. Aku takut kontolnya. Seperti ia punya senjata yang tak bisa dikalahkan. Aku menyalahkan diriku telah merubah bima menjadi monster.

Aku dan yuni ganti baju. Sekarang hanya memakai cd dan tshirt, tanpa bh. Seranjang.

ÔÇ£Selamat tidur.ÔÇØ

ÔÇ£Ya.ÔÇØ

ÔÇ£Kau baik ÔÇô baik saja?ÔÇØ

ÔÇ£Ya, tentu.ÔÇØ

ÔÇ£Mau kujilati memekmu?ÔÇØ

ÔÇ£Tidak, rasanya masih sakit.ÔÇØ

ÔÇ£Oh, oke.ÔÇØ

Ia menguap. Kucoba bilang sesuatu. Tapi apa?

ÔÇ£Terimakasih mau datang. Bima jadi normal lagi.ÔÇØ

ÔÇ£Mmm, ya. Tidurlah.ÔÇØ

ÔÇ£Apa kau akan nginap lagi?ÔÇØ

ÔÇ£Ya, jika kau mauÔÇØ

ÔÇ£Besok malam?ÔÇØ

ÔÇ£Ya. Tidurlah. Besok kita mesti kerja.ÔÇØ

Aku tak bisa tidur. Aku tahu dia akan ke kamar bima dan diewe. Tapi aku takut tak hanya berakhir di situ. Yuni akan menyukainya. Mungkin bima takkan ngewe aku lagi, takkan butuh aku lagi. Dia punya bibinya, yang lebih cantik. Susu dan pantatnya lebih besar. Mungkit dia tahu yang akan terjadi. Tetap saja, aku jadi marah, sepertinya ia merebut anakku dariku.

Yuni bahkan tak mau menunggu lama. Ia berbisik.

ÔÇ£Rahma, tidur belum?ÔÇØ

Aku tak menjawab. Aku rasa dia sudah tak sabar. Ia bangkit pelan ÔÇô pelan, menuju pintu, lalu menghilang. Kubuntuti dia, kuintip dari pintu. Yuni mengetuk pintu kamar anakku, pintunya terbuka dan yuni masuk. Kuikuti, kudorong pintu sedikit hanya agar aku bisa mengintip.

ÔÇ£Kukira bibi takkan datang.ÔÇØ

Bima berdiri, kontolnya menyembul dari boxernya. Yuni berdiri di depan bima, bajunya menutupi cdnya, tapi susunya yang besar jelas terlihat putingnya yang keras.

ÔÇ£Aku di sini demi ibumu. Yang kau lakukan membuatnya membenci diri sendiri. Kau mesti hentikan.ÔÇØ

ÔÇ£Sudah kubilang mama menyukainya.ÔÇØ

“Mungkin, tapi ia tak ingin menyukainya.”

ÔÇ£Minta saja dengan baik.ÔÇØ

ÔÇ£Apa maksudnya? Bibi takkan main seks denganmu, jadi jangan pernah memintanya.ÔÇØ

Aku terkejut. Adikku tak mau ngewe anaku. Ia benar ÔÇô benar ada untukku. Betapa baiknya. Tapi sekarang dia dipandangi bima.

ÔÇ£Kita bertaruh saja bi.ÔÇØ

ÔÇ£Bibi tak taruhan sama anak kecil.ÔÇØ

ÔÇ£Bibi yakin? Bima jamin taruhan ini akan membuat bima berhenti ngewe memek mama lagi, baik menang ataupun kalah.ÔÇØ

ÔÇ£Taruhan apa?ÔÇØ

Akan bima biarkan mama, jika

Yuni menunggu.

ÔÇ£Jika bibi bisa nyepong kontol bima seluruhnya. Mama tak pernah bisa. Setengahnya pun tidak. Tapi jika bibi bisa sampai bibir bibi menyentuh testis bima, bima akan minta maaf sama mama dan takkan menyentuh mama lagi.ÔÇØ

Yuni terlihat gugup. Matanya membesar mungkin mengira ÔÇô ngira seberapa besar kontol anakku. Aku ingin masuk. Jangan bertaruh!

ÔÇ£Dan jika bibi tak bisa?ÔÇØ

ÔÇ£Lalu aku akan berhenti ngewe mama dan mulai ngewe bibi.ÔÇØ

ÔÇ£Permisi?ÔÇØ

ÔÇ£Bima kasih waktu tiga menit. Jika bibi bisa, bibi menang. Jika tak bisa, bima ewe memek bibi sekarang juga dan kapanpun bima mau. Mama akan mengusir bima jadi bima akan tinggal sama bibi dan bibi bisa jadi teman ngewe bima.ÔÇØ

Oh tuhan, aku tak mau membuat yuni melakukan itu. Aku tahu yuni akan kalah. Ini salahku. Seharusnya tak kutaruh masalahku pada pundak yuni. Aku kakaknya. Tapi aku takut membuka pintu dan menghentikannya.

ÔÇ£Bima tahu? Bibi jago nyepong.ÔÇØ

ÔÇ£Buktikan. Bibir sampai testis. Tak begitu susah kan?ÔÇØ

ÔÇ£Dasar bajingan, biar bibi lihat dulu kontolmu.ÔÇØ

ÔÇ£Tidak. Sekali kukeluarkan, taruhan langsung mulai.ÔÇØ

Yuni melihat selangkangan bima sekitar satu menit.

ÔÇ£Baiklah.ÔÇØ

ÔÇ£Ha, bibi pasti muntah.ÔÇØ

Lalu bima melorotkan boxernya. Nampaklah kontolnya yang panjang besar. Bahkan belum keras. Yuni terbelalak dibuatnya. Sekarang yuni tahu. Bima menyeringai. Ia pegang kontolnya dan dikocok beberapa kali hingga membesar dihadapan mata yuni.

ÔÇ£Sial. Mamamu tak bohong.ÔÇØ

ÔÇ£Ayo, berlutut.ÔÇØ

ÔÇ£Sabar, bibi tak tahu ini.ÔÇØ

ÔÇ£Bibi sudah janji. Berlutut.ÔÇØ

Yuni melangkah mundur, tapi bima memegangnya bahunya dan menekannya agar berlutut. Yuni menghela nafas menatap kontolnya.

ÔÇ£Ayo.ÔÇØ

Bima masih mengocok batangnya. Sekarang makin keras. Melihat yuni berlutut makin membuatnya terangsang. Tuhan, yang kulakukan telah membangunkan iblis seks.

ÔÇ£Buka mulut. Waktu bibi tinggal dua setengah menit lagi.ÔÇØ

Yuni menjilat bibir dan tangannya yang gemetaran memegang kontolnya. Sepertiku, kontolnya terlalu besar bagi tangannya. Yuni terlihat tak semangat saat mulai mengocok. Yuni bahkan tak tahu mesti mulai dari mana, ia menelan ludah lalu mulai membuka rahangnya.

Ia masukan helm kontol hingga memenuhinya. Bibir dan giginya terus membuka. Aku tahu kontol itu telah mentok di tenggorokan yuni, karena ia mencabut kontolnya lalu tersentak dan batuk. Bima tertawa.

ÔÇ£Bibi terlalu lama jilat memek. Sial, mama ternyata lebih baik.ÔÇØ

ÔÇ£Anjing kau.ÔÇØ

Aku tahu yuni sadar apa yang akan terjadi kalau ia gagal. Tapi ia coba lagi. Rahangya membuka dan ia masukan lagi kontol itu. Lehernya menegang dan saat mulutnya menutup, ia terusa masukan kontolnya agar amblas semua. Airmatanya jatuh. Ia batuk tapi tak mencabut kontolnya. Tangan bima mulai meremas rambut yuni.

ÔÇ£Oh. Tubuh bibi bagus.ÔÇØ

Yuni tak merespon. Ia mencoba memasukan kontolnya mili demi mili, tapi kulihat ia menggetar hingga akhirnya ia cabut kontolnya, terbatuk dan muntah. Aku merasa bertanggung jawab. Adikku melakukannya untukku tapi aku tak punya keberanian untuk masuk dan menghentikannya, menyuruh yuni pulang, dan membiarkan anakku mengentotku. Aku hanya melihat yuni kembali mencoba.

ÔÇ£Bima tak sabar ngewe bibi. Memek mama bagus, tapi pantat bibi seksi. Kurasa bima akan ngentot anus bibi dulu.ÔÇØ

Mendegar ucapan bima membuat yuni mencoba lebih keras lagi. Ia masukkan kontolnya lebih dalam lagi. Tak mungkin masuk semua tanpa latihan. Aku ngeri menyadari akan melihat adiku diewe anusnya oleh anakku. Setidaknya aku tak pernah dibegitukan.

ÔÇ£Ayo, bibi pasti bisa.ÔÇØ

Bima menyeringai. Tenggorokannya bergerak dan ia tarik kontolnya, muntah, batuk. Lalu ia bersihkan mulutnya dengan tangannya.

ÔÇ£Tuhan.ÔÇØ

ÔÇ£Hampir saja.ÔÇØ

Bibi bisa masih

ÔÇ£Maaf bi, waktunya habis.ÔÇØ

Bima angkat yuni seperti boneka. Yuni melawan saat didorong ke ranjang.

ÔÇ£Tunggu, biar bibi coba sekali lagi. Bibi hampir bisa!ÔÇØ

ÔÇ£Bibi punya banyak kesempatan, tapi malam ini, anus bibi milik bima.ÔÇØ

ÔÇ£Tidak. Tunggu bima, itu tak adil.ÔÇØ

Ia dorong tubuh yuni. Yuni mencoba bangun tapi bima dibelakangnya, menekan kepalanya hingga menyentuh kasur. Tangannya yang lain menyingkirkan baju hingga cd nya terlihat.

ÔÇ£Tunggu!ÔÇØ

Yuni menangis.

ÔÇ£Bima, aku bibimu! Kau tak boleh begini!ÔÇØ

ÔÇ£Bibi seperti mama saja. Bima akan pelan ÔÇô pelan kok.ÔÇØ

ÔÇ£Tidak, jangan ewe anus bibi. Bibi sepong saja kontolmu.ÔÇØ

ÔÇ£Pasti bi.ÔÇØ

ÔÇ£Oh tuhan.ÔÇØ

Yuni meringis saat cdnya dipelorotkan.

ÔÇ£Bibi mohon jangan di anus.ÔÇØ

ÔÇ£Bibi ingin memek bibi diewe?ÔÇØ

ÔÇ£Ya. Tolong, memek bibi saja. Jangan anus.ÔÇØ

ÔÇ£Anus bibi pernah dipakai sebelumnya?ÔÇØ

ÔÇ£Ya, sekali. Rasanya seperti neraka. Padahal hanya separuh kontolmu.ÔÇØ

ÔÇ£Bibi ingin di sini?ÔÇØ

Bima menekan kontolnya ke memek yuni. Yuni mengela napas. Lalu kontolnya melesak di memek yuni.

Yess

ÔÇ£Sial, memek bibi basah. Bima tahu bibi menginginkannya. Bibi lebih jalang dibanding mama.ÔÇØ

ÔÇ£Bibi izinkan bima ngentot memek bibi semau bima, hanya saja jangan anus bibi.ÔÇØ

ÔÇ£Sial. Bibi tak sesempit mama.ÔÇØ

Oh pelan  pelan!

Bima memegang pantat yuni dan menusukannya lebih dalam. Yuni berteriak tapi bima menutup mulut yuni dengan tangannya.

ÔÇ£Diam. Ntar mama bangun.ÔÇØ

ÔÇ£Sial, kontolmu besar. Tuhan, ya.ÔÇØ

ÔÇ£Suka?ÔÇØ

Ya. Oh ewe bibi. Oh

ÔÇ£Aku tahu bibi suka.ÔÇØ

Oh keras lagi

Aku bahkan lebih cemburu. Seperti yang kutakutkan, yuni menyukainya dan sekarang anakku bakal tinggal dengan yuni dan mulai ngentot yuni. Aku merasa ditinggalkan, aneh, karena aku benci yang telah dilakukan anakku padaku. Tapi sekarang, saat kulihat ia melakukannya dengan orang lain, aku berharap itu aku. aku tak peduli jika memekku sakit lagi. Aku hanya ingin anakku terus ngentot aku. Aku ingin seks, dan sekarang aku kehilangannya. Aku menyesala sampai bima katakan sesuatu.

ÔÇ£Anusnya sudah siap bi?ÔÇØ

Yuni melihat ke belakang menatap anakku.

ÔÇ£Tuhan, tidak. Terus ewe memek bibi saja. Sungguh nikmat. Kau boleh ngentot memek bibi, jangan anus bibi.ÔÇØ

ÔÇ£Ambil lotion itu lalu oleskan ke anus bibi.ÔÇØ

ÔÇ£Tidak.ÔÇØ

ÔÇ£Apa bibi mau bima masukan tanpa lotion? Terserah bibi.ÔÇØ

ÔÇ£Oh tuhan.ÔÇØ

Yuni menjulurkan tangannya mengambil lotion, menumpahkan pada tangannya. Lalu mengoleskan pada anusnya. Ia masukan jarinya ke anusnya agar berpelumas. Bima hanya melihatnya, menyeringai saat terus memompa memek yuni pelan. Kulihat memek yuni masih basah, membasahi batang kontolnya. Aku tak pernah diewe di anus, sungguh menakutkan. Bima menarik kontol dari memeknya.

ÔÇ£Cukup bi.ÔÇØ

ÔÇ£Bibi mohon, bibi belum siap.ÔÇØ

ÔÇ£Bibi sudah siap kok. Ini pertama kali bima main anus, jadi buka lebar lebar bi.ÔÇØ

Bima tekan kontolnya ke anus yuni.

ÔÇ£Pertama kali? Tunggu! Kau tak bisa hanya menusukkannya saja. Bibi bisa terluka.ÔÇØ

ÔÇ£Bima lihat di internet sepertinya gampang kok. Jangan banyak gerak bi.ÔÇØ

Oh Oh pelan. Bibi mohon, pelan  pelan.

Yuni mencengkram sprei, menutup matanya dan mengernyit. Bima menekan helm kontol ke anusnya. Lubang anusnya belum membesar, tapi lalu mulai terbuka dan helm kontolnya masuk. Yuni teriak dan kakinya menendang nendang.

ÔÇ£Shh! Ntar mama bangun.ÔÇØ

Oh oh! Tolong cabutlah!

Oh sempit bener.

Bima mendesis, memegang pantat yuni dan mulai menusuk kontolnya. Yuni menangis tapi mencoba diam. Aku tak percaya melihat kontolnya ditelan anusnya. Dorongan bima membuat yuni menggeliat.

ÔÇ£Cukup sudah!ÔÇØ

Yuni menangis, mengeliat mencoba merangkak menjauh, tapi bima memengan pantanya, menusukan kontol lebih dalam lagi. permohonan yuni sia ÔÇô sia. Bima tak peduli. Dan aku tahu, bima belum mau keluar. Aku tak tahu apakah yuni mampu bertahan lama, terlebih saat anusnya diewe.

ÔÇ£Oh tuhan, tolong hentikanlah.ÔÇØ

Aku harus menolongnya. Dia adikku, dan mesti kulindungi dari kontol anakku. Bima tanggungjawabku. Kubuka pintu dan melangkah. Mereka bahkan tak menyadarinya.

ÔÇ£Hentikan bima!ÔÇØ

ÔÇ£Huh?ÔÇØ

Bima memelankan kontolnya. Yuni memalingkan kepalany menatapku. Merintih. Terisak.

ÔÇ£Rahma?ÔÇØ

ÔÇ£Maaf yun.ÔÇØ

ÔÇ£Tak apa ÔÇô apaÔÇØ

Yuni berbisik. Kutatap bima.

ÔÇ£Bima. Hentikan. Cabut kontolmu!ÔÇØ

ÔÇ£Mah, kembalilah ke kamar. Bibi yuni bilang boleh kok. Bima gak perkosa bibi. Benarkan bi?ÔÇØ

Yuni mengangguk. Lelah. Aku tak yakin yuni menyadari pertanyaanku.

ÔÇ£Nah, benarkan. Bahkan bibi bilang bima boleh tinggal sama bibi. Bima bakal pergi. Bima takkan sentuh mama lagi. bibi yuni bakal menjaga bima.ÔÇØ

ÔÇ£Tidak. Kau takkan kemana ÔÇô mana. Kau tetap di sini!ÔÇØ

ÔÇ£Apa?ÔÇØ

ÔÇ£Kau anak mama, tanggungjawab mama. Akan mama urus kamu dan kontolmu. Sekarang, cabut kontol dari anus bibimu.ÔÇØ

Kubuka bajuku hingga susuku terlihat. Lalu kubuka juga cdku hingga aku telanjang. Yuni mengangkat kepalanya, terlihat hampir marah, seperti merasa pengorbanannya percuma jika aku mengganggu.

ÔÇ£Makasihmah, tapi bima tahu mama tak menginginkannya. Bibilah yang menginginkannya.ÔÇØ

Kudekati bima. Kuelus rambutnya lalu kucium bima. Ini salah tapi aku menyukainya. Ia betot pinggangku dan menciumku sedangkan kontolnya masih di anus yuni.

ÔÇ£Cabut kontolmu dan masukan pada mama.ÔÇØ

Bima, untuk pertamakalinya hari ini menuruti kata ÔÇô kata ibunuya. Ia cabut kontolnya. Yuni menghela saat anusnya terbebas, seolah ia telah menahan nafas sejak anusnya dibobol. Yuni berbalik terbaring lemah, pahanya terbuka, anusnya penuh lotion. Sementara memeknya terlihat merah oleh kontol bima.

Kutindih adikku hingga memek kami bersentuhan. Kucium bibirnya.

ÔÇ£Kau baik ÔÇô baik saja manis?ÔÇØ

Ia mengangguk lemah.

ÔÇ£Ia ngentot anusku.ÔÇØ

ÔÇ£Aku tahu. Aku melihatnya. Maaf aku tak menghentikannya.ÔÇØ

Aku mendesis. Karena bima menekan kontolnya ke memeku. Kontolnya mudah masuk karena melihat adikku diewe membuatku basah.

Oh

ÔÇ£Ya.ÔÇØ

ÔÇ£Enak?ÔÇØ tanya yuni.

ÔÇ£Ya. Bima memang nakal, tapi kontolnya hebat. Oh yes.ÔÇØ

Kontol bima mentok di memekku. Kuputar kepalaku menatapnya.

ÔÇ£Kau suka, sayang?ÔÇØ

ÔÇ£Ya. Bima suka memek mama.ÔÇØ

ÔÇ£Mama tahu.ÔÇØ

ÔÇ£Akhirnya mama mau?ÔÇØ

Aku mengangguk.

ÔÇ£Mama tak suka nonton kamu ngentot adik mama tanpa mama.ÔÇØ

Bima tertawa lalu mulai memompa memekku. Rasanya seperti tersengat karena memekku belum sembuh. Tapi kenikmatan mengalahkan rasa sakit.

ÔÇ£Tuhan. Mama menyukainya.ÔÇØ

ÔÇ£Mama cemburu kan?ÔÇØ

Ya. Oh sayang, ewe mama keras  keras.

Bima menurut, memegang pantatku dan menhantam memekku. Adikku membelai rambutku dan kucium dia. Lidah kami tarung dan gigi kami saling menggigit bibir. Yuni mulai bertanya.

ÔÇ£Apa kau mau berbagi?ÔÇØ

Aku menyeringai.

ÔÇ£Bercanda yah? Kupikir kita berdua mesti menjaga agar kontolnya tetap senang. Baiknya kau pindah ke sini.ÔÇØ

ÔÇ£Bisakah aku dapat giliran? Anusku sakit, memekku butuh sesuatu untuk mengalihkan rasa sakitnya.ÔÇØ

ÔÇ£Sayang, ewe memek bibimu.ÔÇØ

ÔÇ£Oke mah.ÔÇØ

Ia cabut kontolnya, mengarahkannya dan menusukkannnya pada memek adikku. Ia mengerang, matanya membesar.

ÔÇ£Oh. Nikmat.ÔÇØ

ÔÇ£Maaf kuewe keras ÔÇô keras anus bibi.ÔÇØ

ÔÇ£Tak apa, selama memek bibi terus diginiin.ÔÇØ

Saat yuni dientot, kuambil botol lotion lalu kulumasi anusku.

ÔÇ£Ngapain mah?ÔÇØ

ÔÇ£Menyiapkan anus mama untukmu nak.ÔÇØ

Yuni menghentikan rintihannya lalu melihat ke bawah.

ÔÇ£Huh, rahma? Jangan, kontolnya bisa membunuhmu.ÔÇØ

ÔÇ£Kita harus membuat kontolnya tetap hepi.

Kutatap bima. Ia memelankan ritme kontolnya dan menatap anusku.

ÔÇ£Sayang, dengar nak. Kamu mesti lembut, dan saat mama bilang cabut, kamu mesti mencabutnya dan kembali ngentot memek bibimu. Oke?ÔÇØ

ÔÇ£Oke mah.ÔÇØ

ÔÇ£Dan mulai sekarang, saat kami bilang tidak, kamu mesti berhenti. Memek, anus dan mulut kami sakit. Kamu mesti ngerti nak. Kami juga butuh istirahat.ÔÇØ

ÔÇ£Oke. Bima akan lebih baik. Bima hanya tak mau mama bilang tak boleh lagi untuk selamanya.ÔÇØ

Kutatap yuni. Ia mencoab mencerna kata ÔÇô kataku saat memeknya diewe, tapi ia juga mengangguk.

ÔÇ£Bagus. Sekarang masukan kontolmu ke anus mama.ÔÇØ

Bima cabut kontolnya, yuni mengerang kecewa. Ia sentuhkan helm kontolnya ke anusku. Kututup mataku. Yuni memegang rambutku dan mencium dahiku.

Saat helmnya menekan anusku, aku ingin menghindar, tapi yuni memegangku. Lalu kurasa helmnya masuk anusku. Aku menangis.

Oh tuhan!

ÔÇ£Shhh, shhh, kau akan baik ÔÇô baik saja.ÔÇØ

ÔÇ£Sungguh besar.ÔÇØ

ÔÇ£Bima tahu, bima akan pelan mah.ÔÇØ

ÔÇ£ow, ow!ÔÇØ

Aku menjerit saat bima makin menusukannya. Aku ingin bilang berhenti agar ia mencabut kontolnya dan melarangnya melakukan ini lagi. tapi adikku tadi tahan lebih lama, dan aku ingin menyamainya. Kucengkram bahu yuni saat bima mulai memaju mundurkan kontolnya. Untungnya ia pelan ÔÇô pelan.

Oh

ÔÇ£Oh anus mama sempit bener!ÔÇØ

Oh kurasa aku tak bisa melakuka ini oh ow!

Aku menjerit lagi.

ÔÇ£Bima, biarkan mamamu rehat. Ewe dulu memek bibi.ÔÇØ

Aku mengela nafas lega saat kontolnya dicabut. Kurasakan tubuh yuni bergerak saat memeknya ditusuk kontol. Ia ngewe memeknya dengan cepat.

Oh yes. Oh aku jelas akan pindah ke sini.

Aku tertawa pelan, tapi meski anusku terbakan, aku ingin anakku kembali padaku.

ÔÇ£Bima, masukan kontolmu ke anus mama.ÔÇØ

Bima menurut. Ia cabut kontol dari memek bibinya lalu ia tekankan pada anusku hingga anusku penuh. Ia tak lembut kali ini. Ia tusukkan sedalam mungkin hingga aku menjerit, kukuku mencakar punggung adikku. Aku menangis, yuni memegang pantatku dan melebarkannya membuat bima makin keras ngentot anusku. Aku menangis.

Tuhan oh oke, stop, bagian yuni, bagian yuni!

Ia cabut kontolnya dan mata yuni berputar lagi saat memeknya ditusik kontol. Yuni mengerang lagi saat aku ambruk di tubuhnya, rehat mencoba memulihkan tenagaku, membiarkan anakku menikmati bibinya. Mungkin esok giliranku. Aku yakin esok memekku tak sakit lagi.

ÔÇ£Lebih keras lagi bima. Oh ya, bibi mau keluar.ÔÇØ

ÔÇ£Oh yah. Bima juga mau keluar. Boleh keluarkan di dalam bi?ÔÇØ

ÔÇ£Ya tentu. Keluarkan saja di dalam.ÔÇØ

Kudengarkan erangan anakku dan jeritan adikku saat mereka keluar bersamaan. Aku lega karena anusku bebassaat ini. Bima berbaring lemas di ranjang. Aku bangkit dari tubuh adikku dan melihat memeknya yang memerah. Sperma bercucuarn hingga ke anusnya. Kubuka mulutku, kujulurkan lidahku ke memeknya, menyedot sperma sebanyak mungkin, lalu mejilati memek dan anusnya agar tak ada sperma yang terlewati. Yuni mengerang dan meraba rambutku.

Lalu kupegang kontol anakku. Kumasukan ke mulutku, kuperas batangnya agar spermanya keluar. Saat aku bangkit, yuni dan bima melihatku, tersenyum lalu tertawa. Aku bangkit dan berbaring ke tubuh bima. Adiku dan aku berbaring di tubuh bima, kiri dan kanan.

ÔÇ£Kalian mama dan bibi terbaik.ÔÇØ

ÔÇ£Dan kau juga anak baik.ÔÇØ

ÔÇ£Mmm, mama kan sering bilang betapa bangganya mama sama kamu. Tapi kamu masih mama hukum karena merusak vacuum mama.ÔÇØ

Tamat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*