Home » Cerita Seks Mama Anak » Akibat Vacum Cleaner 1

Akibat Vacum Cleaner 1

Aku pulang dalam keadaan senang, percaya diri, tapi bima tak ada dirumah. Bima datang sekitar jam 6 memakai baju basket, terlihat berkeringat dan kotor. Rambutnya basah. Kubayangkan beginilah dia ketika selesai ngewe wanita dengan kontolnya. Sial, aku berdiri di depannya. Marah.

ÔÇ£Ke mana saja jam segini baru pulang?ÔÇØ

ÔÇ£Huh? Habis main basket mah.ÔÇØ

ÔÇ£Apa kau lupa? Kau lagi mama hukum.ÔÇØ

ÔÇ£Mama serius?ÔÇØ

ÔÇ£Tentu saja. Vacuum mama malah kau rusakkan.ÔÇØ

Anakku menyeringai padaku.

ÔÇ£Aku juga menyakiti tenggorokan mama, apakah akan dihukum juga?ÔÇØ

ÔÇ£Dasar nakal. Pergi ke kamarmu!ÔÇØ

ÔÇ£BIma hanya bercanda mah. Santai saja.ÔÇØ

ÔÇ£Tidak, itu bukan bahan candaan.ÔÇØ

ÔÇ£TerserahÔÇØ

Aku terkejut. Kukira menghisap kontol anakku bakal membuatku lebih dihormati. Ternyata tidak. Setidaknya sekarang aku tahu, seks tidak bisa merubah sifat orang.

Kuikuti bima, kuketuk pintunya.

ÔÇ£Bima. Kamu harus minta maaf sama mama.ÔÇØ

Bima membuka pintunyatelanjang. Ya, aku telah melihatnya telanjang, tapi aku tak mengharapkannya lagi.

ÔÇ£Kenapa tak dibaju?ÔÇØ

ÔÇ£Bima mau mandi mah. Baiklah maafkan bima mah.ÔÇØ

Kukepal tanganku mencoba mengalihkan mataku dari kontolnya. Sungguh besar, menggantung di antara pahanya.

ÔÇ£Mama ingin kamu serius.ÔÇØ

ÔÇ£Baiklah. Bima minta maaf atas kata ÔÇô kata bima barusan. Bima hanya bercanda. Bima kira mama takkan menanggapi serius.ÔÇØ

ÔÇ£Tentu saja. Mama tak bangga melakukan itu dan bima memaksa mama. Mama hanya mencoba menolong dan tak ingin dijadikan bahan candaan. Kamu harus menghormati mama.ÔÇØ

ÔÇ£Bima memang menghormati mama. Maaf bima maksa mama hisap kontol bima. Bima kira mama menginginkannya.ÔÇØ

ÔÇ£Mengapa kau berpikir begitu?ÔÇØ

Aku masih pura ÔÇô pura marah padanya. Kuusahakan agar mataku tak menatap kontolnya. Memekku tahu itu. Otakku mengirim sinyal hingga memekku basah.

ÔÇ£Kelihatannya mama menikmati mengocok kontol bima, dan mama terus menatap kontol bima, dan hisapan mama. Jadi kukira mama mengingkannya.ÔÇØ

ÔÇ£Mama kasih tahu, mama tak ingin.ÔÇØ

ÔÇ£Benarkah? Karena saat mama menghisap kontolku, kurasa mama menginginkannya.ÔÇØ

ÔÇ£Mama hanya berusaha agar kamu cepat kluar. Karena mama mahir bukan berarti mama menyukainya.ÔÇØ

ÔÇ£Uh huh. Bima mau minta mama menghisap kontol bima lagi sehabis mandi.ÔÇØ

ÔÇ£Apa kamu gila? Mama sudah bilang hanya sekali dan takkan terulang.ÔÇØ

ÔÇ£Nah, bima rasa tidak. Bima rasa mama menginginkannya.ÔÇØ

Bima mendekat, meraih tanganku dan membawanya ke kontolnya. Kucoba menarik tanganku tapi pegangannya kuat.

ÔÇ£Bima, lepaskan mama.ÔÇØ

ÔÇ£Jangan melawan.ÔÇØ

Tanganku ditekannya. Menempelnya tanganku membuat kontolnya semakin membesar.

ÔÇ£Hentikan. Mama takkan melakukan ini lagi. Ini salah. Mama ibumu demi tuhan.ÔÇØ

ÔÇ£Mah, bima mau bilang sesuatu. Bima ingin ngewe mama.ÔÇØ

ÔÇ£Bima!ÔÇØ

ÔÇ£Sejak lama bima ingin ngewe mama. Mama sangat seksi.ÔÇØ

ÔÇ£Bima! Ini sungguh tidak pantas. Aku ibumu nak. Mama tak mau melakukan ini lagi. Lepaskan mama nak.ÔÇØ

Dia buka paksa jariku, hingga kontolnya tergenggam, ia kocok tanganku hingga kontolnya terkocok. Tangannya yang lain memegang pinggulku dan menariknya hingga. Kucoba menghidar tapi kalah kuat. Lalu ia memajukan mulutnya, menciumku. Ini terlalu dekat dan salah. Sesaat, aku kehilangan kontrol. Ciumannya tak seperti ciuman yuni yang hangat, pelan. Tapi ciumannya ganas. Lidahnya menjilati lidahku. Bibirnya makin liar. Aku tak bisa melawan. Kucium juga dia. Ya, aku mencium anakku. Anakku! Kenyataan ini menghentikanku. Dengan bangga kukatakan kugigit lidahnya.

ÔÇ£Oh, sial.ÔÇØ

ÔÇ£Jangan pernah lakukan itu lagi!ÔÇØ

ÔÇ£Lalu? Mama bisa menyepongku tapi bima tak bisa mencium mama?ÔÇØ

ÔÇ£Ada apa denganmu? Aku mamamu! Lepaskan mama sekarang juga!ÔÇØ

ÔÇ£Sini.ÔÇØ

Bima membawaku ke ranjangnya.

ÔÇ£Tidak. Apa kamu mau mama hukum?ÔÇØ

Kutarik tanganku. Bima mendorongku hingga terduduk di dekat ranjangnya. Ternyata posisiku menguntungkannya. Mataku sejajar dengan kontolnya yang makin mengeras. Tangannya melepaskan tanganku lalu memegang kepalaku. Tangan satunya memegang kontolnya dan mengarahkannya. Kucoba menggeliat menghindari kontolnya.

ÔÇ£Tidak! Takkan mama hisap lagi.ÔÇØ

Tercium bau kontolnya, penuh keringat setelah dia basket seharian.

ÔÇ£Buka mulutnya mah, bima tahu mama menyukainya.ÔÇØ

Dia tekan kontolnya ke bibirku. Kugelengkan kepala mencoba menghindar. Kutatap matanya.

ÔÇ£Bima, tolonglah. Aku ibumu nak. Mama merasa dipermalukan. Jangan paksa mama.ÔÇØ

Dia menyeringai.

ÔÇ£Akui mama suka menyepong kontolku.ÔÇØ

ÔÇ£Mama tak menyukainya.ÔÇØ

ÔÇ£Akui atau kupaksa sampai ke tenggorokan mama.ÔÇØ

ÔÇ£Bima, mama perempuan. Menyukai dan menginginkan adalah hal yang berbeda. Baiklah, mama memang suka menyepong kontol, tapi aku ibumu, jadi mama tak menginginkannya. Tolong jangan paksa mama lagi nak!ÔÇØ

ÔÇ£Bima ingin keluar. Seharusnya mama bawa bima ke rs jika mama tak mau menolong bima.ÔÇØ

ÔÇ£Mama tahu mama salah. Tapi mama tak mau melakukan ini lagi.ÔÇØ

ÔÇ£Buka mulutnya mah.ÔÇØ

ÔÇ£BimaÔÇØ

ÔÇ£BukaÔÇØ

Kugelengkan kepalaku.

Buka. Atau atau. Bima entot mama.

Aku terkejut.

Kau takkan bisa

ÔÇ£Coba saja mah, tantang bima.ÔÇØ

Bibir bawahku bergetar, lalu kubuka mulutku. Helm kontolnya langsung masuk diantara gigiku. Kulebarkan lagi rahangku. Anakku terus menusukan kontolnya hingga mentok di tenggorokanku. Aku tersumpal, kucoba mendorongnya agar bisa bernafas. Kontolnya ditariknya, basah oleh liurku. Kuhirup nafas dan ia masukkan lagi kontolnya.

Gerakan kontolnya mulai pelan. Ia mulai menukkan kontolnya hingga mentok. Aku terus muntah. Air mata jatuh tak tertahankan. Aku sudah tahu berapa lama sampai ia keluar. Aku takkan pernah bisa bertahan. Kupegang kontolnya mencoba mencabutnya dari mulutku agar aku bisa bernafas. Air liurku menetes.

ÔÇ£Tunggu. Mama gak tahan. Pelan ÔÇô pelan nak.ÔÇØ

ÔÇ£Ayolah. Bima pingin lagi.ÔÇØ

Kontolnya mulai menekan mulutku lagi.

ÔÇ£Biar mama kocok agar bisa bernafas.ÔÇØ

ÔÇ£Oke. Lakukan mah.ÔÇØ

Ia angkat kedua tanganku dan mendaratkannya di kontolnya. Aku mulai mengocok sambil bernafas dalam ÔÇô dalam. Rahang dan tenggorokanku sakit tapi memekku mulai basah. Aku terangsang. Aku sungguh ingin memainkan klitorisku sambil memainkan kontolnya, tapi jika kulakukan, mungkin dia pikir aku ingin diewenya. Aku tak bisa membiarkan itu terjadi.

ÔÇ£Enak?ÔÇØ

ÔÇ£Tak seenak mulut mama.ÔÇØ

ÔÇ£Bima, kamu tak boleh kasar sama mama. Mama bukanlah lubang tempat kontolmu.ÔÇØ

ÔÇ£Bima gak tahan kalau terangsang. Rasanya bima jadi gila.ÔÇØ

ÔÇ£Mama tahu memang sulit nak. Tapi kamu mesti hormati mamamu, dan saat mama bilang tidak, ya tidak.ÔÇØ

ÔÇ£Kenapa mama mesti bilang tidak?ÔÇØ

Kontolnya mulai mendekati mulutku lagi. Aku tau keinginannya, tapi aku tak siap. Namun, kucium helmnya dan kujilat.

ÔÇ£Sebab mama mencintaimu, dan kita tidak boleh begini.ÔÇØ

Ia mengerang saat kujilat kontolnya. Kumainkan lidahku di batangnya, helmnya. Terhirup bau tubuhnya. Kucium pangkal batangnya. Dia benar ÔÇô benar mesti mandi. Kucium testisnya, ternyata lebih bau. Kubuka mulutku agar testisnya masuk. Erangannya makin menjadi saat kukocok kontolnya dan kuhisap testisnya.

ÔÇ£Enak mah. Bima hampir keluar. Hisap lagi mah.ÔÇØ

ÔÇ£Bima, rahang mama sakit.ÔÇØ

ÔÇ£Ayolah mah, hisap lagi. Takkan bima tekan hingga mentok.ÔÇØ

AKu takut ia akan memaksa kalau aku menolak.

ÔÇ£Baiklah. Tapi mama ingin kamu hormati mama.ÔÇØ

ÔÇ£Oke mah.ÔÇØ

Kepalaku dipegangnya. Kupegang batangnya agar bisa kukontrol hingga tak mentok. Kumasukan helmnya saja, kumainkan lidahku. Kuhisap dan kugerakan mulutku. Dia mengerang.

Nikmat. Bima keluar mah oh oh

Kusiapkan mulutku hingga saat spermanya muntah, kutelan sebanyak mungkin. Tapi tetap saja, mulutku tak cukup menampung. Spermanya keluar dan memenuhi bibir dan daguku. Helmnya tetap di mulutku sementara batangnya kupijat agar tak ada sperma yang tertinggal.

ÔÇ£Selesai?ÔÇØ

Kukeluarkan kontolnya. Kujilat bibirku agar bersih.

ÔÇ£Ya. Makasih mah.ÔÇØ

Aku berdiri, kutatap anakku.

ÔÇ£Sama ÔÇô sama. Lain kali bima mesti bisa mengontrolnya. Bima tak boleh maksa mama melakukan hal yang tak mama inginkan. Mengerti?ÔÇØ

Ia mengangguk. Seperti kalau ia berbuat salah.

ÔÇ£Dan mama ingin kamu cari pacar. Agar bisa membantu kebutuhan seksualmu. Karena itu bukan tugas mama, oke?ÔÇØ

ÔÇ£Bima tahu mah.ÔÇØ

ÔÇ£Oke. Bima masih mama hukum.ÔÇØ

Bima tetap di kamarnya semalaman. Kuharap ia menyadari betapa salah kelakuannya, memaksaku menghisap kontolnya sepertii itu, mengancam mengeweku. Kuharap dia hanya menggertak, tapi perasaanku mengatakan ia tak menggertak. Aku harus berbicara dan meluruskannya. Semuanya mulai kacau. Kurasa lebih baik kuberitahu yuni semuanya. Mungkin aku tak sepintar dia.

Kuberbaring jam 11an. kunikmati gosokan tanganku di memekku yang kelaparan memikirkan kontol anakku. Ya, memang salah, tapi aku tak bisa menyingkirkan pikiranku. Tapi aku tak salah. Dia yang memaksaku. Aku hanya bisa menjadi ibu yang baik dan melayaninya, meski ia bilang ingin mengentotku. Aku bangga pada diriku, kubayangkan kontol anakku saat kumainkan memeku, aku berhak menikmatinya.

Aku pulang dalam keadaan senang, percaya diri, tapi bima tak ada dirumah. Bima datang sekitar jam 6 memakai baju basket, terlihat berkeringat dan kotor. Rambutnya basah. Kubayangkan beginilah dia ketika selesai ngewe wanita dengan kontolnya. Sial, aku berdiri di depannya. Marah.

ÔÇ£Ke mana saja jam segini baru pulang?ÔÇØ

ÔÇ£Huh? Habis main basket mah.ÔÇØ

ÔÇ£Apa kau lupa? Kau lagi mama hukum.ÔÇØ

ÔÇ£Mama serius?ÔÇØ

ÔÇ£Tentu saja. Vacuum mama malah kau rusakkan.ÔÇØ

Anakku menyeringai padaku.

ÔÇ£Aku juga menyakiti tenggorokan mama, apakah akan dihukum juga?ÔÇØ

ÔÇ£Dasar nakal. Pergi ke kamarmu!ÔÇØ

ÔÇ£BIma hanya bercanda mah. Santai saja.ÔÇØ

ÔÇ£Tidak, itu bukan bahan candaan.ÔÇØ

ÔÇ£TerserahÔÇØ

Aku terkejut. Kukira menghisap kontol anakku bakal membuatku lebih dihormati. Ternyata tidak. Setidaknya sekarang aku tahu, seks tidak bisa merubah sifat orang.

Kuikuti bima, kuketuk pintunya.

ÔÇ£Bima. Kamu harus minta maaf sama mama.ÔÇØ

Bima membuka pintunyatelanjang. Ya, aku telah melihatnya telanjang, tapi aku tak mengharapkannya lagi.

ÔÇ£Kenapa tak dibaju?ÔÇØ

ÔÇ£Bima mau mandi mah. Baiklah maafkan bima mah.ÔÇØ

Kukepal tanganku mencoba mengalihkan mataku dari kontolnya. Sungguh besar, menggantung di antara pahanya.

ÔÇ£Mama ingin kamu serius.ÔÇØ

ÔÇ£Baiklah. Bima minta maaf atas kata ÔÇô kata bima barusan. Bima hanya bercanda. Bima kira mama takkan menanggapi serius.ÔÇØ

ÔÇ£Tentu saja. Mama tak bangga melakukan itu dan bima memaksa mama. Mama hanya mencoba menolong dan tak ingin dijadikan bahan candaan. Kamu harus menghormati mama.ÔÇØ

ÔÇ£Bima memang menghormati mama. Maaf bima maksa mama hisap kontol bima. Bima kira mama menginginkannya.ÔÇØ

ÔÇ£Mengapa kau berpikir begitu?ÔÇØ

Aku masih pura ÔÇô pura marah padanya. Kuusahakan agar mataku tak menatap kontolnya. Memekku tahu itu. Otakku mengirim sinyal hingga memekku basah.

ÔÇ£Kelihatannya mama menikmati mengocok kontol bima, dan mama terus menatap kontol bima, dan hisapan mama. Jadi kukira mama mengingkannya.ÔÇØ

ÔÇ£Mama kasih tahu, mama tak ingin.ÔÇØ

ÔÇ£Benarkah? Karena saat mama menghisap kontolku, kurasa mama menginginkannya.ÔÇØ

ÔÇ£Mama hanya berusaha agar kamu cepat kluar. Karena mama mahir bukan berarti mama menyukainya.ÔÇØ

ÔÇ£Uh huh. Bima mau minta mama menghisap kontol bima lagi sehabis mandi.ÔÇØ

ÔÇ£Apa kamu gila? Mama sudah bilang hanya sekali dan takkan terulang.ÔÇØ

ÔÇ£Nah, bima rasa tidak. Bima rasa mama menginginkannya.ÔÇØ

Bima mendekat, meraih tanganku dan membawanya ke kontolnya. Kucoba menarik tanganku tapi pegangannya kuat.

ÔÇ£Bima, lepaskan mama.ÔÇØ

ÔÇ£Jangan melawan.ÔÇØ

Tanganku ditekannya. Menempelnya tanganku membuat kontolnya semakin membesar.

ÔÇ£Hentikan. Mama takkan melakukan ini lagi. Ini salah. Mama ibumu demi tuhan.ÔÇØ

ÔÇ£Mah, bima mau bilang sesuatu. Bima ingin ngewe mama.ÔÇØ

ÔÇ£Bima!ÔÇØ

ÔÇ£Sejak lama bima ingin ngewe mama. Mama sangat seksi.ÔÇØ

ÔÇ£Bima! Ini sungguh tidak pantas. Aku ibumu nak. Mama tak mau melakukan ini lagi. Lepaskan mama nak.ÔÇØ

Dia buka paksa jariku, hingga kontolnya tergenggam, ia kocok tanganku hingga kontolnya terkocok. Tangannya yang lain memegang pinggulku dan menariknya hingga. Kucoba menghidar tapi kalah kuat. Lalu ia memajukan mulutnya, menciumku. Ini terlalu dekat dan salah. Sesaat, aku kehilangan kontrol. Ciumannya tak seperti ciuman yuni yang hangat, pelan. Tapi ciumannya ganas. Lidahnya menjilati lidahku. Bibirnya makin liar. Aku tak bisa melawan. Kucium juga dia. Ya, aku mencium anakku. Anakku! Kenyataan ini menghentikanku. Dengan bangga kukatakan kugigit lidahnya.

ÔÇ£Oh, sial.ÔÇØ

ÔÇ£Jangan pernah lakukan itu lagi!ÔÇØ

ÔÇ£Lalu? Mama bisa menyepongku tapi bima tak bisa mencium mama?ÔÇØ

ÔÇ£Ada apa denganmu? Aku mamamu! Lepaskan mama sekarang juga!ÔÇØ

ÔÇ£Sini.ÔÇØ

Bima membawaku ke ranjangnya.

ÔÇ£Tidak. Apa kamu mau mama hukum?ÔÇØ

Kutarik tanganku. Bima mendorongku hingga terduduk di dekat ranjangnya. Ternyata posisiku menguntungkannya. Mataku sejajar dengan kontolnya yang makin mengeras. Tangannya melepaskan tanganku lalu memegang kepalaku. Tangan satunya memegang kontolnya dan mengarahkannya. Kucoba menggeliat menghindari kontolnya.

ÔÇ£Tidak! Takkan mama hisap lagi.ÔÇØ

Tercium bau kontolnya, penuh keringat setelah dia basket seharian.

ÔÇ£Buka mulutnya mah, bima tahu mama menyukainya.ÔÇØ

Dia tekan kontolnya ke bibirku. Kugelengkan kepala mencoba menghindar. Kutatap matanya.

ÔÇ£Bima, tolonglah. Aku ibumu nak. Mama merasa dipermalukan. Jangan paksa mama.ÔÇØ

Dia menyeringai.

ÔÇ£Akui mama suka menyepong kontolku.ÔÇØ

ÔÇ£Mama tak menyukainya.ÔÇØ

ÔÇ£Akui atau kupaksa sampai ke tenggorokan mama.ÔÇØ

ÔÇ£Bima, mama perempuan. Menyukai dan menginginkan adalah hal yang berbeda. Baiklah, mama memang suka menyepong kontol, tapi aku ibumu, jadi mama tak menginginkannya. Tolong jangan paksa mama lagi nak!ÔÇØ

ÔÇ£Bima ingin keluar. Seharusnya mama bawa bima ke rs jika mama tak mau menolong bima.ÔÇØ

ÔÇ£Mama tahu mama salah. Tapi mama tak mau melakukan ini lagi.ÔÇØ

ÔÇ£Buka mulutnya mah.ÔÇØ

ÔÇ£BimaÔÇØ

ÔÇ£BukaÔÇØ

Kugelengkan kepalaku.

Buka. Atau atau. Bima entot mama.

Aku terkejut.

Kau takkan bisa

ÔÇ£Coba saja mah, tantang bima.ÔÇØ

Bibir bawahku bergetar, lalu kubuka mulutku. Helm kontolnya langsung masuk diantara gigiku. Kulebarkan lagi rahangku. Anakku terus menusukan kontolnya hingga mentok di tenggorokanku. Aku tersumpal, kucoba mendorongnya agar bisa bernafas. Kontolnya ditariknya, basah oleh liurku. Kuhirup nafas dan ia masukkan lagi kontolnya.

Gerakan kontolnya mulai pelan. Ia mulai menukkan kontolnya hingga mentok. Aku terus muntah. Air mata jatuh tak tertahankan. Aku sudah tahu berapa lama sampai ia keluar. Aku takkan pernah bisa bertahan. Kupegang kontolnya mencoba mencabutnya dari mulutku agar aku bisa bernafas. Air liurku menetes.

ÔÇ£Tunggu. Mama gak tahan. Pelan ÔÇô pelan nak.ÔÇØ

ÔÇ£Ayolah. Bima pingin lagi.ÔÇØ

Kontolnya mulai menekan mulutku lagi.

ÔÇ£Biar mama kocok agar bisa bernafas.ÔÇØ

ÔÇ£Oke. Lakukan mah.ÔÇØ

Ia angkat kedua tanganku dan mendaratkannya di kontolnya. Aku mulai mengocok sambil bernafas dalam ÔÇô dalam. Rahang dan tenggorokanku sakit tapi memekku mulai basah. Aku terangsang. Aku sungguh ingin memainkan klitorisku sambil memainkan kontolnya, tapi jika kulakukan, mungkin dia pikir aku ingin diewenya. Aku tak bisa membiarkan itu terjadi.

ÔÇ£Enak?ÔÇØ

ÔÇ£Tak seenak mulut mama.ÔÇØ

ÔÇ£Bima, kamu tak boleh kasar sama mama. Mama bukanlah lubang tempat kontolmu.ÔÇØ

ÔÇ£Bima gak tahan kalau terangsang. Rasanya bima jadi gila.ÔÇØ

ÔÇ£Mama tahu memang sulit nak. Tapi kamu mesti hormati mamamu, dan saat mama bilang tidak, ya tidak.ÔÇØ

ÔÇ£Kenapa mama mesti bilang tidak?ÔÇØ

Kontolnya mulai mendekati mulutku lagi. Aku tau keinginannya, tapi aku tak siap. Namun, kucium helmnya dan kujilat.

ÔÇ£Sebab mama mencintaimu, dan kita tidak boleh begini.ÔÇØ

Ia mengerang saat kujilat kontolnya. Kumainkan lidahku di batangnya, helmnya. Terhirup bau tubuhnya. Kucium pangkal batangnya. Dia benar ÔÇô benar mesti mandi. Kucium testisnya, ternyata lebih bau. Kubuka mulutku agar testisnya masuk. Erangannya makin menjadi saat kukocok kontolnya dan kuhisap testisnya.

ÔÇ£Enak mah. Bima hampir keluar. Hisap lagi mah.ÔÇØ

ÔÇ£Bima, rahang mama sakit.ÔÇØ

ÔÇ£Ayolah mah, hisap lagi. Takkan bima tekan hingga mentok.ÔÇØ

AKu takut ia akan memaksa kalau aku menolak.

ÔÇ£Baiklah. Tapi mama ingin kamu hormati mama.ÔÇØ

ÔÇ£Oke mah.ÔÇØ

Kepalaku dipegangnya. Kupegang batangnya agar bisa kukontrol hingga tak mentok. Kumasukan helmnya saja, kumainkan lidahku. Kuhisap dan kugerakan mulutku. Dia mengerang.

Nikmat. Bima keluar mah oh oh

Kusiapkan mulutku hingga saat spermanya muntah, kutelan sebanyak mungkin. Tapi tetap saja, mulutku tak cukup menampung. Spermanya keluar dan memenuhi bibir dan daguku. Helmnya tetap di mulutku sementara batangnya kupijat agar tak ada sperma yang tertinggal.

ÔÇ£Selesai?ÔÇØ

Kukeluarkan kontolnya. Kujilat bibirku agar bersih.

ÔÇ£Ya. Makasih mah.ÔÇØ

Aku berdiri, kutatap anakku.

ÔÇ£Sama ÔÇô sama. Lain kali bima mesti bisa mengontrolnya. Bima tak boleh maksa mama melakukan hal yang tak mama inginkan. Mengerti?ÔÇØ

Ia mengangguk. Seperti kalau ia berbuat salah.

ÔÇ£Dan mama ingin kamu cari pacar. Agar bisa membantu kebutuhan seksualmu. Karena itu bukan tugas mama, oke?ÔÇØ

ÔÇ£Bima tahu mah.ÔÇØ

ÔÇ£Oke. Bima masih mama hukum.ÔÇØ

Bima tetap di kamarnya semalaman. Kuharap ia menyadari betapa salah kelakuannya, memaksaku menghisap kontolnya sepertii itu, mengancam mengeweku. Kuharap dia hanya menggertak, tapi perasaanku mengatakan ia tak menggertak. Aku harus berbicara dan meluruskannya. Semuanya mulai kacau. Kurasa lebih baik kuberitahu yuni semuanya. Mungkin aku tak sepintar dia.

Kuberbaring jam 11an. kunikmati gosokan tanganku di memekku yang kelaparan memikirkan kontol anakku. Ya, memang salah, tapi aku tak bisa menyingkirkan pikiranku. Tapi aku tak salah. Dia yang memaksaku. Aku hanya bisa menjadi ibu yang baik dan melayaninya, meski ia bilang ingin mengentotku. Aku bangga pada diriku, kubayangkan kontol anakku saat kumainkan memeku, aku berhak menikmatinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*