Home » Cerita Seks Mertua Menantu » Menantuku Perkasa

Menantuku Perkasa

Setelah kematian putriku dalam
kecelakaan lalu lintas, aku sangat
bersedih. Suami putriku yakni
menantuku juga sangat sedih. Dia
tak mau meninggalkan rumah.
Alasannya, siapa yang mengasuh anak mereka yang masih berusia 1
tahun sementara keluarganya nun
jauh di Kalimantan? Akhirnya,
menantuku Hasan tinggal bersama
dengan kami. Sebagai putri bungsu
yang meninggal, tentu tiga anakku yang lain sudah berumah tangga
semua sudah berpisah dari kami.
Tinggallah aku, suamiku dan
menantuku serta cucu yang
ditinggal pergi oleh putriku. Kami sudah membujuk Hasan untuk
menikah lagi dan kami
mengikhlaskan agar dia menikah
lagi agar ada yang mengasuh anak
mereka. Tapi menantuku Hasan
mengatakan, dia takut, kalau ibu tiri nanti anaknya akan tersia-siakan.
Dia bersedia menduda sampai
anaknya SMP dan sudah bisa
dimasukkan ke asrama untuk
sekolah dan sekali dalam seminggu
bisa dijemput dari asrama sekolah. Kami pun senang mendengarnya,
karena dia menantu yang setia dan
sayang pada anaknya, yakni cucu
kami. Terlebih suamiku sangat
sayang pada cucu kami. Semakin lama menantuku tinggal di
rumah kami, aku sendiri tak
mengerti entah setan mana yang
membuatku jadi tertarik padanya.
Tubuhku yang mungil, kecil mampu
melahirkan anak-anak yang sedikit lebih tinggi dariku, karena mereka
mengikuti gen papanya. Tapi
menantuku Hasan jauh lebih tinggi
dari suamiku. Aku juga kasihan
melihatnya yang selalu
termenanung dan menyibukkan diri dengan pekerjaan agar dia bis
amelupakan almarhumah putri kami
Saya dan suami akhirnya
menyayangi Hasan seperti anak
kandung kami sendiri, terlebih sikap
sopan santun Hasan yang begitu baik dan lemah lembut, baik dalam
bertutur kata maupun bersikap. Saat suamiku memeriksa
perkebunan sawitnya, dia biasanya
pergi dua hari dalam dua minggu
sekali. Saat itu, Hasan olahraga di
pekarangan rumah kami yang
dipagar tembok tinggi. Dia membuka pakaiannya dan
memakai celana pendek yang
ketat. Biasa dia melakukan itu, tapi
selama ini tidak membuat getaran
dalam hatiku. Kali ini, ketika aku
meletakkan air putih di meja kecil dekat taman, aku melihat semua
oitot-ototnya dan aroma keringatnya
membuat diriku jadi bernafsu.
Hasan pun melap tubuhnya dengan
handuk sampai bersih. “Bentuk tubuhmu baguis sekali
San,” kataku memuji, karena
memang benar demikian. Hasan
tersenyum.
“Mama juga cantik,” katanya
memujiku pula dan membuat aku merasa melambung tinggi. Aku
merasa pujiannya sangat benar,
karena aku baru saja luluran dan
merawat wajahny dan tubuhku di
saloon. Kai duduk di taman
sementara baby sitter menjaga cucu kami dan bermain di lantai atas.
Sebentar-sebentar dengan nakal
matanya meliirik ke pahaku dan
sesekali ke dadaku. Aku jadi risih
sebenarnya, tapi lirikannya entah
kenapa membuatku senang dan banga. Aku yakin dia sedang
mengagumi tubuhku. Sementara
suamiku tidak pernah lagi
mengagumi tubuhku, sementara
aku begitu menjaga kebudatran
tubuhku walaupun usiaku sudah 51 tahun. Aku semakin yakin, saat aku melihat
ke selangkangannya, jelas terlihat
olehku ada benjolan besar. Aku
yakin dia sedang ereksi. Aku
semakin bangga, karena Hasan bisa
ereksi karean tubuhku yang masih cantik dan seksi. Aku pun
tersenyum. Eh.. taunya Hasan juga
tersenyum menatapku.
“Mama masih tetap cantik,”
katanya.
“Ah kamu ini ada-ada saja. Kan mama sudah tua,” kataku.
“Tapi mama tetap cantik. Andaikan
mama bukan mertuaku, akyu masih
mau menikahi mama, katanya
dengan penuh santun. Dadaku
bergetar mendengar ucapannya. “Ah… kamu…” kataku seperti
mengatakan pada diriku sendiri.

Hasan pun mendekati diriku dan dia
duduk satu kuris denganku di kursi
panjang. Lalu… tiba tiba dia
memelukku dan mencium bibirku.
Beguitu cepat gerakannya dan
bibirku sudah berada dalam kulumannya. Oh… kenapa aku tidak
melawan dan memarahinya.
Kenapa aku menerima begitu saja
dia mengecup bibirku dan
mengulusnya dan mempermainkan
lidahnya dalam mulutku. Aku. Aku tertunduk setelah dia
mengecup bibirku dan waku
merasakan wajahku jadi panas.
Mungkin memerah atau merona.
“Mama cantik..” bisiknya antara
kedengan dan tidak. Aku diam saja. Aku bangkit, kemudian berjalan
menuju rumah karena aku sangat
malu. Begitu memasuki rumah aku
tak sadar, kalau Hasan mengikutiku
dari belakang. Rumah yang sepi,
membuat Hasan lebih leluasa. Aku dipangkunya. Diangkatnya tubuhku,
seperti latyaknya dia mengangkat
sekilo kapas saja dan aku
dibopongnya ke kamar tidurnya di
bagian belakang rumah kami.
Sepertinya aku terpukau dan tak bisa mengatakan apa-apa bahkan
tidak melawan sama sekali, bahkan
aku seperti kerbau yang dicucuk
hidunya. Di ranjangntya, aku ditelentangkan,
kemudian dia menciumi bibirku dan
menjilati leherku. Aku sudah pasrah
dan menyerah saat pakaianku
dipretelinya. Pentil tetekku pun
sudah berada di dalam kulumannya sementara tangannya mengelus-
elus vaginaku. Akua benar-benar
tak tau harus berbuat apa-apa lagi.
Aku menikmatinya, tapi haruskah
kejadian ini berjalan lebih jauh lagi?
Bukankah dia menantuku, suami putri bungsuku. Tidakkah aku
menghianati putriku sendiri dan
menghianati suamiku? Oh…. Lidahnya sudah menjalar kemana-
mana, di perutku di pentil tetekku, di
perutku dan sudah mendarat pula di
celah bibir vaginaku dan sudah pula
mempermainkan klitorisku. Oh….
aku menggelinjang. Aku sudah lupa pada cucuku, pada baby sitter yang
menjaganya, pada suamiku yang
sedang memeriksa kebun sait dasn
para almarhumah putriku. Aku
sudah berada entah dimana. Aku
sudah basah. Saat itu, Hasan mengangkangkan
kedua kakiku, kemudian dia
menindihku dan menusuk vaginaku
dan kontolnya sudah bersembunyi
dalam kemaluanku. SDaat itu
tengkukku dia tarik akhirnya aku berada dalam pangkuannya. Kedua
kakiku mengangkangi kedua
kakinya yang rapat, sementara
kontolnya tetap berada dalam
vaginaku. Aku merasakan ujung kontolnya
sudah menyentuh bagian tubuhku
di dalam vaginaku yangterdalam.
Hasan memelukku dan sebelah
tangannya memegang buah
pantatku. Teteku demikian lengket ke tubuhnya dan perlahan-lahan dia
mengerakkan pantatku agar
kontolnya bisa keluar masuk dalam
vaginaku. Aku tak mampu
membendung rasa nikmatku. Sadar
atau tidajksadar akhirnyaq aku sendiri menggerak-gerakkan
pantatku mengeluar dan
memasykkan kontol Hasan dalam
vaginaku. Kedua tanganku
melingkar ditengkuknya dan dia
terus menjilatileherku. Sampai akhrinya kami sama-sama
terkulai lemas setelah kami sama-
sama orgasme. Aku menarasakan
sangat puas sekali. Selama ini, aku
tidak tau apakah aku pernah
orgasme atau tidak, tapi yang jelas aku bisa hamil. Begitu nafas kami
sudah teratur kembali, Hasan
memakaikan pakaianku satu
persatu, myulai dari celana
dalamku, Bra dan pakaianku
selengkapnya. Aku tak pernah diperlakukan manja seperti ini oleh
suamiku sendiri. Sejak saat itu, kami
selalu melakukan persetubu8han
kami secara sembunyi-sembunyi
dan sangat rahasia.

Cerita Dewasa Sedarah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*