Home » Cerita Seks Kakak Adik » Kisah Andi 2

Kisah Andi 2

Hari ini hari Sabtu. Pagi yang indah sekaligus menyenangkan karena sabtu artinya aku libur kerja. Sedangkan kedua adik iparku Icha dan Rara tetap sekolah. Kini di rumahku hanya tinggal Sari. Mungkin ia tengah sibuk di dapur. Besok Minggu, istriku yang cantik Rara bakal pulang ke rumah. Meski dalam dua hari ini aku telah melakukan petualangan seks dengan adik iparku Icha dan Cinta serta pembantuku Sari, namun itu tidak menghapus kerinduanku pada istriku. Justru, entah mengapa, semua kejadian itu membuatku malah semakin membuatku menggebu-gebu bertemu dengan isteriku. Karena sudah tak tahan dengan rasa rindu segera aku ambil hp ku dan kutelepon isteriku. ÔÇ£Hal sayangÔǪ apa kabar aku kangen banget nihÔǪ. gimana kuliah lapangannya lancar? besok jadi kan pulang?ÔÇØ ÔÇ£Waduh suamiku sayangÔǪ ampe bertubi tubi nih pertanyaannya. Iya sayang, aku juga kangen bangetÔǪ. kuliah lapangannya lancarÔǪ iya dong besok pulangÔǪ udah ga tahan nihÔǪ.ÔÇØ ÔÇ£hayo nggak tahan apaÔǪ.?ÔÇØ tanyaku menggoda. ÔÇ£ngga tahan pengen segera melahap kont*lmu sayangÔǪÔÇØ ÔÇ£heheheÔǪ. aku juga sama pengen segera menghujam mem*kmuÔǪÔÇØ ucapku segera. ÔÇ£oh ya sayangÔǪ aku lupa, hari ini mamahku mau dateng dari Mando, beliau ada urusan dengan Tante Shanti sekalian mau ke klinik kecantikan langganannya di Bandung,ÔÇØ ucap Rara. Tante Shati adalah adik ibunya Rara alias mertuaku, Mamah Dina. ÔÇ£Oh gitu.. ya sudah aku di rumah kok hari ini, nanti aku suruh Sari untuk menyiapkan makanan buat mamah.ÔÇØ ÔÇ£Ok sayang, aku sudah bilang ke mamah, aku baru pulang besok. Tapi kamu ga usah cape jemput kok, mamah pake travel dari Cengkareng langsung dianter ke rumah,ÔÇØ ucap Rara. ÔÇ£Ok sayang. Ya udah cepet pulang yahÔǪ. aku kangeeennnnn bangetÔǪÔǪ hati-hati di pangandaran dan besok waktu pulangÔǪ muachhhhhhÔǪ.ÔÇØ ÔÇ£MuachhhhhhhÔǪÔǪÔǪ.ÔÇØ jawab Rara. Selepas menelepon, sejenak pikiranku dirasuki rasa bersalah. Dalam dua hari ini aku telah menghianati kepercayaan istriku, ia yang begitu menyayangiku. Sungguh, aku juga sangat mencintainya. Tapi alih-alih aku berniat menghentikan petualanganku, pikiranku justru berimajinasi semakin liar. Bagaimana jika aku mampu mereguk kenikmatan vagina yang lebih mungil dari Icha? Bagaimana jika aku mampu mereguk kenikmatan vagina vagina lainnya yang tentunya akan berbeda bentuk dan kenikmatannya? Bagaimana jikaÔǪÔǪ ÔÇ£KringÔǪ.. kringÔǪÔǪ..ÔÇØ lamunanku buyar saat bel rumahku berbunyi. Aku segera bergegas ke ruang depan untuk membuka pintu. ÔÇ£Halo Andi, apa kabar?ÔÇØ ÔÇ£Eh mamah, silahkan masuk mam. Udah dikasih tau Rara kan, rara baru datang besok?ÔÇØ ÔÇ£Iya An, mamah udah tau kok.ÔÇØ Ternyata yang datang mertuaku, Mamah Dina. Hari itu mamah tampil begitu cantik dengan balutan baju casual. Bawahannya kuning selutut, sedangkan atasannya kaos casual warna putih. Kaos putih yang agak transparan menyebabkan bra di dalamnya selintas membayang terlihat. Meskipun usianya mencapai hampir 39 tahun, tapi mertuaku ini masih tetap cantik. Paduan sunda-manado memang luar biasa. Kulitnya putih mulus seperti anak-anaknya. Rambutnya sengaja dipotong sepundak sehingga terkesan segar. Toketnya terlihat berukuran sedang, tapi aku belum bisa memastikan apakah masih cukup kenyal atau tidak, tapi dari luar bentuknya tetap indah. ÔÇ£An, mamah laper nih belum makan. Ada makanan kan?ÔÇØ ÔÇ£ada dong mam, udah disiapin spesial tuh ama sari. Andi juga kebetulan belum makan juga, kita makan bareng ya mamÔÇØ ÔÇ£hayu..ÔÇØ ucap mertuaku. Kami pun segera bergegas ke ruang makan. Tidak berhadap-hadapan, aku dan mertuaku duduk bersebelahan. ÔÇ£udah dua hari ya rara pergi. Kesepian dong An kamu di rumah sendirian?ÔÇØ ÔÇ£mhmmm begitu lah mam. Tapi ngga juga sih mam, kan ada icha dan cinta. Mereka rame-rame kalau ngobrol.ÔÇØ Sambil ngobrol aku curi-curi pandang ke arah mertuaku. Entah jin apa yang merasuk pikiranku, kecantikannya telah membuatku berimajinasi untuk melakukan sesuatu seperti terhadap anak-anaknya. Vagina rara yang indah sudah kunikmati berulang kali, demikian pula dengan vagina mungil milik Icha. Kini giliran kunikmati vagina ibunyaÔǪ pikirku. Tapi bagaimana caranya agar semuanya berjalan halus dan lancar dan mertuaku tidak tersinggung? Aku sungguh penasaran di antara rok kuningnya itu kuyakin tersimpan bukit kemaluan yang diliputi bulu bulu lebat yang akan mampu mengilik dan menggelikan kont*lku. Otakku mulai diliputi birahi hingga tak mampu lagi menyusun strategi. Dengan refleksku aku mendekatkan kursi makanku hingga kini benar benar berimpit dengan kursi mertuaku. Aku yang duduk di sebelah kanan, sedangkan tangan kiriku langsung kuhunggapkan di atas rok mertuaku. Kuletakkan dengan sangat halus sehingga tidak mengagetkan mertuaku. lalu pelan-pelan kunaikturunkan dengan lembut sehingga menyerupai elusan yang berulang secara ritmis. Dan kini mertuaku mulai menyadari ada sesuatu yang terjadi di atas pahanya. ÔÇ£eh ada apa nih An?ÔÇØ ÔÇ£mamah cantik sekali mamÔǪ. boleh andi melakukan ini?ÔÇØ ÔÇ£melakukan apa?ÔÇØ ÔÇ£mengelus paha mamah yang indahÔǪ.ÔÇØ ÔÇ£aduh kamu bercanda yah?? Aku ini mertuamu An, jangan aneh-aneh!ÔÇØ ÔÇ£iya, mamah memang mertuaku, dan mertuaku ini cantik sekaliÔǪ..ÔÇØ ucapku merayu. ÔÇ£udah deh jangan gombal, hentikan!ÔÇØ Alih-alih aku menghentikan aksiku, aku justru memperas elusanku hingga kini yang terjadi bukan lagi mengelus tapi memijit-mijit paha mertuaku. tiba-tiba tangan kanan mertuaku hinggap di tangan kiriku yang sedang beraksi itu, tapi ia bukannya menghentikan aksiku melainkan memegang tangannku itu. ÔÇ£aduhÔǪ gimana nih AnÔǪÔÇØ ucap mertuaku dengan wajah mulai tak karuan. ÔÇ£tenang aja mamÔǪ nikmati ajaÔǪ andi ga akan bilang siapa-siapaÔǪ bole yah mam aku singkapkan sedikit roknyaÔǪ?ÔÇØ bisikku Mertuaku tidak menolak dan tidak mengiyakan. Masih dalam posisi semula duduk di kursi makan, di bawah meja makan tanganku mulai menyingkapkan rok mertuaku. Kini aku dapat mengelus dan menyentuh pahanya tanpa penghalan. Kuelus dan kupijit perlahan-lahahan. ÔÇ£ShhhhhÔǪ. AnÔǪ. Gimana ntar rara dan adiknynyaÔǪ.ÔÇØ ÔÇ£tenang mamah mereka tidak adaÔǪ mereka tidak akan tauÔǪÔÇØ ÔÇ£Sari di mana?ÔÇØ ÔÇ£ia sedang sibuk setrika baju gak akan tauÔǪ.ÔÇØ Ucapku sok tahu. Padahal aku tidak tau apa yg sedang dikerjakan sari. Tapi aku tak peduli dia akan melihat aksiku kali ini atau tidak, toh dia juga sudah tau kelakuanku dan juga membutuhkan kenikmatan dariku. Dan benar saja di balik dinding ruang makan diam-diam sari sedang menyaksikan apa yang sedang kami lakukan. Tanganku bergerak semakin nakal. Kini ia mulai menyentuh vagina mertuaku dari luar cd. ÔÇ£ahhhhÔǪ. Geli sayangÔǪÔǪÔǪ.ÔÇØ Mertuaku mengerang pelan. ÔÇ£iya mamahÔǪ nikmati ajaÔǪ..ÔÇØ ucapku. Sembari itu, tangan kananku membimbing tangan kiri mertuaku untuk membuka resleting celananku. ÔÇ£kocokin ya mahÔǪ.ÔÇØ Pintaku berbisik. ÔÇ£iya anÔǪ..ÔÇØ Kont*lku yang besar menyebul dari balik cd. Dengan cekatan mamahku mulai mengocoknya. Birahi yang semakin memuncak kini menjelma menjadi kenikmatan yang perlahan lahan semakin mengacak ngajak urat uratku. ÔÇ£mam bolehkah aku masukkan kont*lku ke mem*k mamah?ÔÇØ ÔÇ£di mana an?ÔÇØ ÔÇ£di sini aja mam sambil berdiriÔǪÔÇØ pintaku. Tanpa perlu menunggu jawaban aku langsung menarik tangan mamaku. Dan segera kusandarkan tubuh mamahku di dinding ruang makan. Lalu kulucuti rok dan cd nya. Dan benar sekaliÔǪ vagina mertuaku ditumbuhi bulu yang begitu lebat sehingga lubangnya pun hampir tak kelihatan. Aku mulai memainkan bulu bulu itu dengan perlahan sambil kucari di mana lubangnya. ÔÇ£duh anÔǪ enak sekaliÔǪ.. tapi ini dosa anÔǪ. Mamah ga sampai hati sama anak anakÔÇØ mertuaku meracau bimbang di antara kenikmatan yang kuberikan sambil memejamkan matanya. ÔÇ£manusia ini tidak sempurna mamÔǪ tak lepas dari dosaÔǪ nikmati saja mam,ÔÇØ ucapku sekenanya sambil tanganku terus mencari dinding vagina mertuaku. Dan kini kelentitnya sudah kutemukan dan segera kuelus elus perlahan. ÔÇ£shhhhÔǪ.. ahhhhÔǪÔǪ enak sekali anÔǪÔǪ.ÔÇØ Sepetinya mertuaku semakin diliputi kenikmatan, aku pun tak tahan untuk menunda terlalu lama menghujamkan senjataku ke vagina mertuaku. Segera kulucuti celanaku dan pelahan mulai kucentuhkan ke bibir vagina mertuaku. Sementara itu sari yang sedang mengintip kejadian itu mulai terangsang. Ia mulai meraba vaginanya sendiri dengan tangannya. ÔÇ£burungmu besar sekali anÔǪ beda sekali dengan punya mertua lelakimuÔǪ.ÔÇØ Puji mertuaku. Sambil tersenyum aku segera memperdalam penetrasi kont*lku. Aku mulai maju mundurkan pantatku samakin lama semakin kencang. Sementara tanganku menggenggam erat tangan mertuaku. Kulumat keras bibir mertuaku, kusedot, kukulum. Sementara kont*l tak henti hentinya menghujam.. ÔÇ£ahhhhÔǪ shhhÔǪÔǪ..ÔÇØ mertuaku terus mengerang. Sari yang tengah masturbasi juga makin mempercepat gesekan tangannya di kelentit sendiri. ÔÇ£annn terus anÔǪ.ÔÇØ Pinta mertuakuÔǪ. Aku terus menghujam vagina mertuaku. Sesekali bibirku yang tengah berciuman kualihkan semtara ke susu mertuaku. Ternyata toket meruaku masih cukup kenyal untuk seukuran umurnya. ÔÇ£anÔǪ mamah ga tahannnnÔǪ anÔǪ mamah mau orgasmeÔǪahhÔǪ. AnÔǪÔǪ ga tahanÔǪ..ÔÇØ mertuaku meracau tak karuan. ÔÇ£mamah dulu klimaks yahÔǪ ntar andi keluarin di luar ajaÔǪÔÇØ ÔÇ£jangan an,,,, ah,,,, keluarin di dalam ajaÔǪ. Mamah udah disteril kok ga akan hamilllÔǪ.ÔÇØ Ah sungguh kebetulan pikirku. Kini aku bisa klimaks bersama sama dan kutumahkan seluruh pejuhku di vagina mertuaku.. ÔÇ£AnnnnnÔǪ. AhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhÔǪÔǪÔǪÔǪÔǪÔǪÔǪÔǪÔǪ..ÔÇØ ÔÇ£mamahhhhÔǪ shhhhhhhÔǪÔǪÔǪÔǪÔǪÔǪÔǪ..ÔÇØ CrotÔǪ.crottttÔǪ crotttttttttÔǪÔǪÔǪÔǪÔǪÔǪ air pejuhku yang begitu banyak meluburi vagina mertuakuÔǪ. Kami pun saling berpelukan. ÔÇ£enak sakali anÔǪ makasi yahÔǪ.ÔÇØ Bisik mamah ÔÇ£iya mamahÔǪ andi juga enak bangetÔǪÔǪ. Makasih mamahÔǪÔÇØ bisikku. Sari yang dari tadi mengintip juga sudah tak tahan. Ia mempercepat gerakan masturbasinya. Dan serrrrrÔǪÔǪ. Dinding-dinding vaginanya meluber basah dan bersenyut kencang tandanya sudah mencapai puncak kenikmatan. Ia segera merapikan cd nya dan kembali ke kamar untuk menyetrika. Setelah dibuai percintaan yang dahsyat, aku dan mamah Dina segera merapikan pakaian. ÔÇ£An, mamah istirahat dulu ya di kamar, cape banget nih pengen tidur, baru dateng langsung diserang kamu pula,ÔÇØ ujar mertuaku sambil berkedip manja. ÔÇ£Iya mamah, istirahat yang banyak ya. Jangan khawatir Andi ga akan bicara ke siapapun tentang kejadian tadi,ÔÇØ ucapku. Mertuaku segera bergegas ke kamar tamu yg sudah siap dihuni setelah dibersihkan sari. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 10.30 pagi. Aku kemudian pergi ke halaman belakang utk melihat kolam ikan kesukaanku. Aku melintasi dapur. Kulihat Sari pembantuku dengan seorang gadis cilik. ÔÇ£Eh Sar siapa tuh?ÔÇØ ÔÇ£Eh iya Pak, ini ada keponakan Sari, baru dateng mampir, belum sempet bilang ke Bapak.ÔÇØ Gadis cilik itu bernama Dini. Ia anak dari kakak perempuan Sari. Umurnya baru 12 tahun. Dini baru lulus SD dan tidak melanjutkan sekolah karena orangtuanya hidup pas-pasan. ÔÇ£Ya sudah Dini tinggal di sini aja Sar. Kan bisa bantu bantu kamu,ÔÇØ ucapku. ÔÇ£Aduh Sari jadi malu. Baru saja sari mau mengakatakn itu tapi rupanya Bapak sudah tau apa yg mau Sari katakan.ÔÇØ ÔÇ£Baguslah kalau begitu,ÔÇØ ucapku. Kuperhatikan sejenak Dini. Tubuhnya masih kecil masih kanak kanak. Toketnya baru sedikit menyembul dari kaosnya. Kubayangkan payudaranya itu memang masih kecil, baru tumbuh. Tapi kecantikan Dini sudah terpancar, lebih cantik dari Sari. Bibirnya yang tipis, hidunya bangir, bulu matanya lentik. Terlebih saat itu ia pake rok. Benar benar khas kanak kanak, tapi menggemaskan. ÔÇ£Eh Sar kenalin sini dong keponakanmu,ÔÇØ seruku. Sari kemudian menghampiriku bersama Dini. ÔÇ£Aku Om Andi, siapa namamu gadis cantik?ÔÇØ Tanyaku. ÔÇ£Namaku Dini om,ÔÇØ ujarnya singkat. ÔÇ£Namanya kaya sinetron ya..heheÔÇØ ucapku berguyon dengan harapan suasana menjadi nyaman. ÔÇ£Dini tinggal di rumah om aja ya bantu bantu kak sari,ÔÇØ tambahku. Dini memang memanggil Sari dengan sebutan kakak. ÔÇ£Iya om, dini juga mau minta ijin tinggal di rumah om. Kata kak sari om andi itu baikkkkk bangetÔǪÔÇØ Ujar ujar dini tersenyum. ÔÇ£Iya dong om baik.. Tapi Dini juga ga boleh nakal yah dan selalu menuruti kata-kata om,ÔÇØ pintaku. ÔÇ£Iya om, Dini janji akan selalu menuruti kata kata om,ÔÇØ tegasnya. ÔÇ£Ya udah dini kan baru datang. Sekarang ga usah kerja, istirahat dulu di kamar sari. Kabetulan rumah om masih ada kamar kosong tapi belum dibersihkan. Nanti kalau sudah dibersihkan kamu tinggal di situ aja ya,ÔÇØ pintaku. ÔÇ£Iya omÔÇØ jawab dini singkat. Sepintas kuamati kembali dadanya. Kubayangkan toketnya memang masih benar benar mungkil, lebih mungil dari payudara Icha. Membayangkan itu, perlahan tapi pasti kont*lku mulai bangun dari tidurnya. Segera aku dan Sari mengantar Dini ke kamar sari. Sesampainya di kamar, kupanggil sari mendekat dan aku mulai berbincang dengannya dengan perlahan takut didengar Dini. ÔÇ£Sar, Dini cantik banget yahÔǪÔÇØ Ucapku membuka pembicaraan, sedangkan Dini sedang asik di sudut kamar yg lain. ÔÇ£Iya dong siapa dulu dong tantenya..ÔÇØ Ucap sari tersenyum. Terus terang saja pikiran ngeresku mulai mengembang. Meski tadi aku baru menyetubuhi mertuaku tapi hari ini aku ingin bersetubuh sepuas puasnya sebelum istriku datang. ÔÇ£Sar, boleh ga aku melakukan sesuatu seperti yg aku lakukan padamu dengan Dini?ÔÇØ Aku mulai memberikan pertanyaan dgn pertanyaan yg paling halus agar sari tdk tersinggung. Sari terdiam sesaat, sepertinya agak terkaget juga tak menyangka aku akan meminta itu. ÔÇ£Mhmm gimana ya pak. Bukannya sari tidak mau tapi Dini masih sangat kecil. Umurnya baru 12, belum saatnya. Memangnya bapak belum cukup yah dengan bu rara, icha, sari atau bu dina barusan?ÔÇØ Sejenak aku tersentak kaget ternyata sari tahu persetubuhanku dengan mertuaku. ÔÇ£Jangan kaget pak, tadi sari memang tidak sengaja melihat. Tenang pak, sari ga akan bilang siapa siapa,ÔÇØ rupanya sari membaca pikiranku. ÔÇ£Makasih Sar, terus bagaimana dengan Dini tadi?ÔÇØ ÔÇ£Ya udah gimana Bapak aja. Tapi jangan ada paksaan sedikit pun dan Sari harus tetap di sini,ÔÇØ akhirnya Sari menjawab setelah lama terdiam. Aku pun tersenyum sambil menganggukkan kepala. Aku pun menyuruh Sari untuk mengunci kamar pintu takut mertuaku terbangun. ÔÇ£Din, sini dong duduk dekat om.ÔÇØ ÔÇ£Ada apa om?ÔÇØ Dini menghamiriku. Duduk disebalah kananku, sementara sari di sebelah kiriku. Rasanya aku ingin segera menyetubuhi gadis cilik yang cantik itu, tapi semua harus berjalan dengan baik dan tak boleh ada paksaan. Harus sama sama rela dan menikmati. ÔÇ£Mhmm.. Ga apa apa Din. Tadi kan dini bilang dini akan menuruti semua kata kata om, bener ga tuh?ÔÇØ ÔÇ£Bener dong om. Dini akan menuruti semua kata kata om.ÔÇØ ÔÇ£Kalau om pengen kamu buka baku boleh ga?ÔÇØ ÔÇ£Ihhh mo ngapain om?ÔÇØ ÔÇ£Tuh kanÔǪ Katanya mo nuruti kata kata omÔÇØ ÔÇ£Iya om tapi mo ngapain?ÔÇØ ÔÇ£Dini kan cantik banget, om penasaran aja pengen liat dada kamu pasti indah bangetÔǪÔÇØ Suasana terdiam sejenak. ÔÇ£Iya deh om, dini udah janji. Tapi om aja yang bukain.ÔÇØ Hatiku bersorek. Aku melihat Sari sejenak. Ia tersenyum sambil mengangguk. Aku pun segera membuka kaos sari. Ternyata meskipun masih kecil Dini sudah pake bra. ÔÇ£Om bukain branya ya DinÔÇØ ÔÇ£Iya omÔÇØ jawab dini lirih. Aku segera membuka bra nya. Kini pemandangan yang menakjubkan tersaji di depan mataku. Benar saja toket Dini masih sangat kecil tapi sudah tumbuh. Pentilnya masih sangat mungil. Ingin aku segera menyentuhnya tapi harus minta ijin dulu. ÔÇ£Din bolehnya om menyentuh payudaramu?ÔÇØ ÔÇ£Katanya tadi cuma liat aja om. Emang enak gitu om kalau disentuh?ÔÇØ ÔÇ£Kamu pejamin mata aja Din dan coba rasakan,ÔÇØ ujarku dengan nafas mulai memburu. Tanpa bilang ya atau tidak, dini memejamkan matanya, itu tanda persetujuan. Aku segera menyentuh susunya. Susunya sungguh sangat kencang. Aku mulai menyentuhnya dan memilin putingnya. ÔÇ£Enak ga Din?ÔÇØ ÔÇ£Geli omÔǪ ShhhmmmÔÇØ rupanya dini mulai menikmati. Meskipun masih kecil tapi secara naluri dia bisa merasakan itu adalah kenikmatan. Segera kudekatkan mukaku dengan payudaranya lalu mulai kujilati payudara kecil itu. Lidahku kumainkan berputar di atas putingnya. Sejenak kugigit lembut putingnya untuk menambah sensasi. Dini pun semakin disergap kenikmatan. ÔÇ£AhhhÔǪ. Tambah geli ommmÔǪÔÇØ Erangnya. Sari yang dari tadi memperhatikan adegan panas ini mulai tak tahan. Ia kemudian bersimpuh di depanku dan mulai membuka resleting celanaku. Konto*lku yang dari tadi disergap birahi langsung tegak berdiri. Tanpa dikomando sari mulai mengulum batang kemaluanku. Aku yg sedang asik mengulum pentil Dini tak kuasa menahan nikmat. Sejenak aku menghentikan kulumanku itu. ÔÇ£AhhhhhhhÔǪÔǪÔÇØ Desisku. Pegal dengan posisi duduk aku membawa Dini rebah di kasur. Lalu aku kembali menyerangnya dengan jilatan di toket. Tak kurasakan ia mengulum kembali senjataku. Rupanya ia sedang melakukan aksi lain. Ia melucuti rok Dini beserta cd nya. Aku pun menghentikan aksi jilatku ingin melihat mem*knya Dini. Sungguh panorama yg indah. Mem*knya mungil belum ditumbuhi satu bulu pun. Belahannya begitu halus dan alami. ÔÇ£Mem*kmu indah sekali DinÔǪÔÇØ Ucapku berburu nafsu. ÔÇ£iya om, tapi Dini mau diapain?ÔÇØ Tanpa aku memiliki kesempatan untuk menjawab, justru Sari yang menyambar menjawab duluan. ÔÇ£Rasakan aja Din, kakak ada sesuatu yang spesial buat kamuÔǪÔÇØ Sari lalu mendekatkan wajahnya ke mem*k Dini. Ia mulai menjilati kemaluan Dini yang mungil itu. Sepertinya Sari sengaja merangsang Dini sekuat-kuatnya agar pada saatnya kont*lku dapat masuk lebih mudah ke lubang kenikmatan Dini yang pasti masih sangat sempit itu. ÔÇ£Ahhhh kakakÔǪ. diapain kakÔǪ vagina Dini jadi bedenyut-denyutÔǪ.ÔÇØ erang Dini. Sepertinya ia semakin diselimuti kenikmatan yang makin memuncak. Dini dalam hal ini lebih bersikap pasif karena ia belum berpengalaman. Aku sendiri makin tak kuat menahan birahi yang makin menjadi jadi. Konto*lku sudah berdenyut denyut ga karuan. Segera saja aku pergi ke belakang sari. Dan kupelorotkan celananya. Lalu kusodok kemaluannya dari belakang. Sementara Sari sendiri tetap asik menjilati mem*ek Dini. ÔÇ£aghhhÔǪ aghhhÔǪ..ÔÇØ nafas sari megap-megap saat kont*lku mulai masuk menggeseki dinding-dinding kemaluannya. Sari merasakan kenikmatan sambil tetap bekerja merangsang Dini sekuat tenaga. Aku sendiri terus memaju mundurkan tongkolku semakin kencang. Cairan kenikmatan semakin terdesak ke ujung kemaluan. ÔÇ£saarrrrÔǪ. aku sudah ga tahanÔǪ sebentar lagi sarrÔǪ..ÔÇØ erangku. ÔÇ£aku juga pak, terus pakÔǪ. gesek terus cepat pakÔǪ kita keluar barengÔǪ.ÔÇØ rintih Sari. Dan crottttÔǪ crotttt.tÔǪÔǪ. tanpa terasa aku ejakulasi di dalam memiaw sari. Nikmat yang luar biasa menyelusup di dalam jiwaku. Aku pun terkulai sejenak. ÔÇ£Maaf Sar, aku tak sengaja keluar di dalamÔǪ.ÔÇØ ÔÇ£nggak apa-apa pak, sari lagi ngga masa subur kokÔǪÔÇØ Setelah istirahat sesaat, aku bertanya pada Dini. ÔÇ£eh, kalau Dini udah menstruasi belum?ÔÇØ tanyaku. ÔÇ£belum om, kenapa emang?ÔÇØ ÔÇ£nggak apa apa, ya udah sekarang aku bantuin ya kerjaan Sari ke Dini..ÔÇØ ujarku pada Sari. Luar biasa memang, Dini belum mens, artinya selain dia memang masih kecil, aku pun bebas mengeluarkan pejuhku di dalam mem*knya karena tidak akan hamil. Lalu aku segera mendekatkan wajahku ke mem*k Dini. Mulai kujilati sedikit demi sedikit. Permukaan vaginanya begitu halus dan licin. Kumasukkan sedikit lidahku ke dalam lubang kenikmatannya, lalu kuputar putar. ÔÇ£ahhhÔǪ. omÔǪ enakkkÔǪÔǪ.ÔÇØ Dini makin tak bisa menyembunyikan kenikmatan yang direguknya. Pada saat yang bersamaan Sari tak mau tinggal diam. Ia membersihkan sisa air pejuhku yang tersisa di batang kemaluan. Setelah bersih ia mulai mengulumnya. Senjataku yang tadi mengerut kecil setelah mereguk kenikmatan, sedikit demi sedikit mulai bangkit kembali. Aku sendiri kini mulai mengalihkan jilatanku kembali ke toket Dini yang mungil itu. ÔÇ£Din, boleh ya om masukin kont*l om ke mem*k Dini?ÔÇØ aku berbisik perlahan. ÔÇ£tapi om ntar Dini hamil?ÔÇØ ÔÇ£Ga akan Din, kamu kan belum mestruasi, jadi ga akan hamilÔǪÔÇØ terangku. ÔÇ£Tapi om katanya sakit kalau dimasukin?ÔÇØ ÔÇ£Ga akan Din, dijilati aja udah enak apalagi kalau dimasukinÔǪÔÇØ terangku lagi meyakinkan. Tanpa menunggu jawaban, aku mulai melepaskan batang kemaluanku dari hisapan Sari. Kini mulai kuarahkan ke mem*k Dini yang supermungil itu. Sangat perlahan aku masukan sedikit demi sedikit. Benar saja, sungguh susah memasukannya. Tapi kurasakan memiaw Dini sudah basah. Ini satu modal agar kont*lku bisa menyelusup. ÔÇ£sakit Din?ÔÇØ ÔÇ£nggak om.. terus aja masukin pelan-pelanÔǪ.ÔÇØ Kini tongkolku sudah setengah masuk ke mem*k Dini. ÔÇ£Sakit Din?ÔÇØ tanyaku lagi. ÔÇ£nggak om, terus saja masukinÔǪ.ÔÇØ Ajaib, Dini yang kupikir akan merasakan sakit ternyata tidak. Ia begitu pandai merasakan kenikmatan yang baru pertama dialaminya. Kini konto*lku sudah masuk semua. Mulai kumaju mundurkan perlahan-lahan. Kurasakan dinding vagina Dini begitu hangat dan mulai bergerak memilin milin. Ah sungguh nikmatnya. Ternyata dinding vagina Dini begitu responsif saat ditimpa kenikmatan. Aku semakin kencang memaju mundurkan kont*lku. ÔÇ£OmmmmÔǪ enak sekali ommmmÔǪÔǪ. shmmmmmÔÇØ erang dini. ÔÇ£Iya Din, mem*k kamu juga enak banget,ÔǪÔǪÔÇØ desisku. Sementara itu Sari yang menyaksikan aksi kami mulai terangsang kembali juga. Ia memasukkan jarinya sendiri ke dalam mem*knya untuk masturbasi. ÔÇ£Om terusss ommmÔǪ. ÔÇ£ ÔÇ£OmmmÔǪ Dini kenapa ommmmmmÔǪ. ahmmmmÔǪÔǪÔÇØ ÔÇ£tahan din kita keluar bareng barengÔǪÔǪ.ÔÇØ ÔÇ£ooommmmmmmmmmmmmmÔǪÔǪÔǪÔǪÔǪÔǪÔǪÔǪ ahhhhhhhhhhhÔǪÔǪÔǪ.ÔÇØ ÔÇ£DiniiiÔǪ. ahhhhhhhhhhhhhÔǪ.ÔÇØ Crot crottttÔǪÔǪÔǪÔǪ. air maniku tak terbendung membanjiri vagina Dini. Dari belakang tiba tiba Sari memeluk pingganggku erat-erat. Rupanya dia pun baru saja merasakan ejakulasi akibat masturbasi yang dilakukannya. Lalu kulihat mem*k Dini dan sprei di bawahnya, ternyata tak ada bercak dara. Dari buku sex education yang kubaca, hilangnya keperawanan memang tidak selalu ditandai dengan keluar darah. Habis menikmati kenikmatan yang tak terkira itu kami bertiga saling berpelukan sambil telanjang. Beberapa lama kemudian aku segera memakai baju kembali. Kalau kelamaan takut mertuaku keburu kebangun dan melihat aksiku. Dari saku celanaku lalu kuambil uang beberapa lembar ratusan ribu. ÔÇ£Sar, Din, ini buat kalian jajan ya bagi dua. Ini ga ada hubungannya dengan kejadian tadi lohÔǪ Ini ikhlas aku berikan untuk kalian berduaÔǪÔÇØ Kulihat Dini sangat girang sekali. Sepertinya ia baru pertama kali akan memegang uang sebanyak itu. ÔÇ£makasih ya omÔǪ. tapi boleh ga kalau Dini minta yang seperti tadi lagi?ÔÇØ tanyanya sambil berkedip manja. ÔÇ£tentu boleh sayangÔǪÔÇØ ucapku senang, ÔÇ£tapi dini nggak boleh bilang siapa-siapa. ÔÇ£Pastinya Om,ÔÇØ jawab Dini. Hari ini hari yang luar biasa. Aku sudah bercinta dengan mertuaku Mamah Dina, pembantuku Sari dan keponakan pembantuku Dini. Kenikmatan demi kenikmatan yang telah kureguk ternyata tidak membuat aku segera puas, tetapi justru ingin kenikmati kenikmatan demi kenikmatan yang lainnya. Mumpung isteriku baru pulang besok. Dan kini waktu sudah pukul 14.00. Mertuaku sepertinya masih terlelap di kamar habis perjalanan jauh dan kusetubuhi. Sari dan Dina juga istirahat setelah kusetubuhi pula. Sementara aku, dari kamar Sari hendak sejenak istirahat di kamarku sambil kupikirkan dari lubang vagina siapa lagi yang akan kureguk kenikmatannya hari ini. Menuju kamarku, aku melewati kamar Cinta, adik iparku. Tapi tiba tiba aku tertarik pada suara sepasang laki-laki perempuan dari kamar itu. Sepertinya mereka sedang bercengkrama. Aku jadi penasaran. Lalu segera saja kuintip. Kebetulan sekali kamarnya tidak terkunci sedikit terbuka. Rupanya Cinta lupa mengunci dan menutup pintu. Lalu pintunya kudorong sedikit agar aku lebih leluasa mengintip apa yang terjadi di dalam. Ternyata yang ada di dalam adalah Cinta dan seorang anak lelaki yang lebih muda darinya. Jika Cinta berumur 16 dan duduk di kelas 1 SMA, maka anak lelaki itu kutaksir bahkan lebih muda dari Icha atau Dina, mungkin sekitar umur 11-an. Selain dari perawakannya, ini jelas sekali dari baju seragam yang dipakainya: seragam SD. Ini memang mengejutkanku. Kukira pacar Cinta berumur lebih dewasa, setingkat anak kuliahan, ternyata justru jauh lebih muda dari Icha, bahkan masih SD. Benar-benar di luar nalarku. Aku jadi makin penasaran. Aku terus memperhatikan di balik pintu. Mereka berdua ada di tepi ranjang. Setelah mereka saling melempar ktawa, mereka memulai aksinya. Tampak Cinta yang begitu agresif. Ia mulai menciumi cowonya dan mereka pun mulai bergumul berciuman. Selanjutnya Cinta mulai memelorotkan celana pendek cowonya yang berwarna merah itu. Akupun mulai melihat tongkol anak SD itu. tongkolnya cukup mungil tapi sepertinya sudah begitu tegang. Icha mulai mengulumnya sedangkan anak SD itu mulai merem melek memejamkan matanya menahan nikmat. Aku yang melihat kejadian panas itu otomatis terangsang. Senjataku mulai menegang. Meskipun aku juga baru bersetubuh tapi aku ingin mengulang dan mengulang lagi kenikmatan itu. Secara refleks tanganku mulai terarah ke batang kemaluanku dan mulai mengusap ngusapnya dari luar celana. Sementara itu Cinta mulai melucuti satu per satu pakaian cowonya. Kini anak SD itu sudah telanjang bulat. Benar benar masih tubuh anak anak. Cinta kemudian menarik tangan cowonya dan mengajak berdiri kemudian menyandarkannya di dinding. Cinta benar benar agresif. Nafas keduanya kudengar semakin memburu. Anak SD itu pun dibuat tak tahan. Ia mulai melucuti pakaian Cinta. Lalu ia mulai mengulum payudaranya. Aku jadi semakin terangsang melihatnya. Ah, anak SD ingusan itu pasti sudah menyetubuhi Cinta berkali-kali, sementara aku belum diberi kesempatan. Aku benar benar dibuat tak tahan. Aku segera membuka resleting celanaku dan mulai mengocok tongkolku dengan perlahan. Namun karena keasikan tanpa terasa siku tanganku mendorong pintu dan menyebabkan bunyi yang agak keras. ÔÇ£krekkkkkkkÔǪÔǪÔǪÔǪÔǪ.ÔÇØ Sontak suara pintu itu mengagetkan adik iparku dan pacarnya, padahal hampir saja tongkol anak SD itu mau masuk ke memiawnya Cinta. Aku juga ikut terkaget terlebih tongkolku sendiri sudah keluar dari resleting celana. ÔÇ£Eh kakakÔǪÔÇØ ucap Cinta terbata-bata. Sementara cowo cinta terlihat pucat pasi melihat ke arahku. ÔÇ£Lagi ngapain kalian?ÔÇØ ucapku sambil masuk ke dalam kamar dan kututupkan pintu. Sementara itu tongkolku tetap berdiri tegang di antara resleting. ÔÇ£MhmmÔǪ nggak kak, ini aku lagi sama cowokku. Ini kenalkan Nando..ÔÇØ ucap Cinta terbata-bata. Lalu menghampiri Nando dan kami saling bersalaman memperkenalkan nama masing-masing. Lalu kami saling duduk di pinggir ranjang. ÔÇ£kakak tidak marah kok. Ayo teruskan saja apa yang tadi kalian lakukan. Tapi kakak boleh lihat kan?ÔÇØ ucapku. ÔÇ£ah kakak yang aneh-aneh aja, kami malu dong kalau diliatinÔǪÔÇØ jawab Cinta. ÔÇ£Gak usah dipikirkan nyantai aja lagi. Anggap saja nggak ada orang. Ayo lakukan lagiÔǪ Ayo NandoÔÇØ pintaku. Anak kecil itu tersenyum ke arahku. Lalu tanpa menunggu persetujuan Cinta ia berlutut menjura di hadapan Cinta. Ia membukakan kedua kaki cinta dan mulai menjulurkan lidahnya untuk menjilati memiaw Cinta. Rupanya anak SD itu sudah cukup pintar untuk memberikan kenikmatan kepada cewe buah hatinya. Cinta tak mampu menolak ia memejamkan mata mulai menikmati kembali permainan cowonya. ÔÇ£shhhhhÔǪÔǪÔǪÔǪÔÇØ desahnya. Aku sendiri makin penasaran dibuatnya. tongkolku yang tadi sempat melembek kini bangkit kembali. Setelah puas menjilat memiaw, anak SD itu kemudian bangkit berdiri. Ia kemudian meraih kepala Cinta dengan perlahan dan mulai mengarahkan ke tongkolnya. Kini giliran Cinta yang berlutut di dapan Nando dan mulai mengulum barang pacarnya yang masih mungil itu. Nando dibuat merem melek. Dengusan nafas dan erangan terdengar dari mulutnya. Ia mencengkeram rambuat Cinta dengan erat. Sepertinya ia semakin tak tahan. Aku yang dari tadi melihat dua bocah sedang bersetubuh ini juga dibuat makin tak tahan. Nando lalu merebahkan Cinta di kasur. Ia mulai menindihnya dan mengarahkan batang kemaluannya ke memiaw Cinta. Nando mulai menekan pantatnya. Dengan tongkolnya yang masih mungil, sepertinya ia tak kesulitan untuk membenamkan seluruh batang tongkolnya. Ia kemudian mulai memaju mundurkan. Sedangkan mulutnya sambil mengulum toket Cinta. Cinta dibuat melayang ke kenikmatan ketujuh. Ia berkali-kali mengeluarkan erangannya. ÔÇ£ShhhhghhhÔǪ.. enak banget sayangÔǪ..ÔÇØ jerit Cinta. ÔÇ£aku juga sayangÔǪ. enak bangettÔǪ..ÔÇØ desah Nando di antara kuluman lidahnya ke susu Cinta. Sementara itu tongkol Nando terus maju mundur mengeluarkan suara irama yang membuatkan semakin tak kuasa menahan birahi. Kedua anak manusia itu nampaknya semakin tak tahan saja. ÔÇ£aku udah ga tahan sayanggggÔǪÔǪ..ÔÇØ erang Cinta. Setelah itu Cinta terlihat kelojotan rupanya dia sudah mencapai titik orgasmenya. ÔÇ£ahhhÔǪÔǪ.ÔÇØ ucapnya sambil mencabik dan menjambak rambut Nando karena tak tahan didera kenikmatan. Beberapa saat kemudian Nando mencabut batang kemaluannya lalu mengocoknya di atas toket Cinta. Beberapa saat kemudian, ÔÇ£ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhÔǪÔǪ.ÔÇØ Nando mencapai puncak kenikmatannya. Kulihat hanya sedikit tetes air pejuh ya keluar dari tongkolnya. Anak sekecil dia nampaknya memang belum banyak memproduksi air pejuh. Sesaat kemudian kedua anak manusia itu berpelukan di atas ranjang. Sementara tongkolku semakin tegang meminta giliran. Meskin hari ini aku sudah bercinta dengan tiga orang yang berbeda, tapi aku ingin kembali bercinta untuk keempat kalinya. Dan aku sudah tak tahan lagi untuk tidak meminta. ÔÇ£NdoÔǪ boleh ga giliran kakak menyetubuhi pacarmu?ÔÇØ pintaku. Mendengar permintaan intu, sejenak Nando terdiam. ÔÇ£mhmmÔǪ gimana ya kak? Tanya Cinta aja,ÔÇØ jawabnya. ÔÇ£Gimana Cinta?ÔÇØ lalu aku bertanya pada Cinta. ÔÇ£Kalau Cinta gimana NandoÔǪ kalau Nando ga apa-apa Cinta mau..ÔÇØ jawabnya. Sesaat kemudian Nando menanggukkan kepala tanda memberikan persetujuan. ÔÇ£tapi Nando tetap di sini ya ingin melihat,ÔÇØ ucapnya perlahan. Dan aku pun menjawab pula dengan anggukan sambil tersenyum. Segera saja kubuka seluruh pakaianku. Lalu aku mulai menghapiri Cinta yang masih terletang. Kujilati toketnya dengan lembut agar dia kembali terangsang setelah bercinta dengan pacarnya yang masih anak SD itu. Sementara itu tongkolku yang sudah ngaceng dari tadi, kugesek gesekkan di permukaan memiawnya. Lalu kupapah tangan Cinta untuk mulai mengelus ngelus tongkolku. Dengan cepat tongkolku semakin mengeras. Aku sudah tak sabar untuk segera menyetubuhi Cinta. Sementara itu, Nando dengan cermat terus mengamati pergumulanku dengan Cinta. Aku tak henti hentinya menjilati toket Cinta. Kadang kugigit sedikit putingnya agar menimbulkan sensasi yang lebih dahsyat. Lalu kusapi dengan lembut seluruh permukaan pentilnya dengan lidahku. Sementara itu tangan kiriku meremas remas puting yang sebelahnya dengan gemas. Usahaku tidak sia-sia, Cinta semakin terangsang. Ia mulai dibuai kenikmatan yang menyelusup ke sekujur tubuhnya. ÔÇ£AhhhÔǪÔǪ kakak Cinta ga tahanÔǪÔǪ.ÔÇØ erangnya. ÔÇ£iya sayangÔǪ kakak masukin sekarang yahÔǪ tapi kamu tau sendiri kan tongkol kakak jauh lebih besar dari punya pacarmu ituÔǪ jadi tahan yah kalau agak susah masuknyaÔǪÔÇØ bisikku perlahan lahan takut anak SD itu mendengar. ÔÇ£iya kak, justu Cinta sekarang jadi penasaranÔǪÔÇØ bisiknya juga. Tanpa pikir panjang aku mulai menyelusupkan tongkolku secara perlahan. Benar saja karena selama ini tamunya adalah barang milik anak SD maka lubang kenikmatan Cinta masih teramat sempit. ÔÇ£enak sekali kakÔǪ masukan lagi terusssssÔǪÔÇØ pinta Cinta. Tangannya lalu meraih tongkolku dan memapahnya untuk masuk semakin kedalam. Semakin dalam jepitan dinding memiawnya makin terasa. Sungguh luar biasa. Ia mulai bereaksi seakan memilin milin. Kontaksinya semakin hebat. Dan tanpa terasa tongkolku sudah masuk seluruhnya ke dalam memiaw. Aku pun mulai keluar masukkan tongkolku secara ritmis, semakin lama semakin cepat. ÔÇ£ahhÔǪ memiawmu enak banget CintaÔǪ. kenapa nggak dari kemarin kamu serahkan memiawmuÔǪÔÇØ tanyaku. ÔÇ£Cinta tidak akan menyerahkannya tanpa persetujuan pacarku kakakku sayangÔǪ. ahhhhhhÔǪ..ÔÇØ jawab Cinta di sela sela kenikmatan yang semakin dalam. Sementara itu Nando terus menyaksikan pergumulan pacarnya dengan kakak iparnya itu. Terselip rasa bangga di dirinya karena Cinta baru mau bercinta dengan orang lain setelah dapat persetujuan pacarnya. Namun apa mau dikata, apa yang sedang ia lihat membuat Nando tersulut gairahnya kembali. tongkolnya yang mungil bangkit lagi. ÔÇ£sayangÔǪ. aku ingin lagiÔǪ..ÔÇØ ujar Nando pada Cinta. Pernyataan nando itu membuat percintaanku dengan Cinta terhenti sejenak. ÔÇ£kesinikan tongkolmu sayang biar aku kulum ajaÔǪ.ÔÇØ ujar Cinta. Seperti seorang budak yang patuh pada majikannya, Nando menghampiri Cinta dan mengarahkan tongkolnya ke wajah Cinta. Lalu Cinta mengulumnya dengan lembut. Sementara aku kembali menyerang vaginanya. Semakin lama semakin kencang. ÔÇ£aku udah ga tahan kakÔǪ ahhhhhhhhÔǪÔǪÔǪÔǪÔǪÔǪÔǪÔÇØ erang Cinta disela emutannya ke tongkol Nando. ÔÇ£kakak juga sayangÔǪ tahan sebentarÔǪÔǪÔǪÔǪ.ÔÇØ ujarku. Lalu semakin kupacu serangan tongkolku. Sesaat ketika kurasa cairan kenikmatan hampir ke ujung tongkolku lalu segera kucabut tongkolku dari memiaw Cinta. Lalu kuarahkan tongkolku di atas muka Cinta dan kokocok dengan kencang. ÔÇ£crroooottttÔǪ. croooottttttttttttttttttÔǪÔǪÔǪÔǪÔǪÔǪÔÇØ air pejuhku membanjiri muka Cinta. Sementara itu tongkol Nando yang sudah lebih dulu dicabut dari kuluman Cinta dikocok cinta di atas toketnya. Dan sepertinya Nando semakin tidak tahan. Sejenak matanya memejam dan tangannya. Dan ÔÇ£crotttttÔǪÔǪÔǪÔǪÔǪ crotttÔǪ crottttÔǪ..ÔÇØ air maninya melumuri toket Cinta. Sejenak setelah istirahat dan membersihkan diri, aku segera berpakaian dan setelah berpamitan aku segera menuju kamarku. Tak lupa aku mendaratkan satu kecupan sayang di pipi Cinta sambil mengedipkan mata pada pacarnya yang masih SD itu. ÔÇ£baik baik ya kalian berdua,ÔÇØ ucapku sambil berlalu. Untuk mengisi waktu sisaku aku berniat untuk membeli beberapa buku di Gramedia. Setelah kurasa cukup waktu beristirahat, segera kuambil kunci mobil dan aku pun segera bergegas. Di pintu keluar ternyata sudah ada Cinta dan Nando, anak SD yang pacarnya itu. Rupanya Nando sudah mau pulang. Lalu karena searah, kutawarkan untuk berangkat bareng. Setelah mengiyakan akhirnya kami berangkat diiringi senyum manis Cinta. Sepanjang perjalanan kami asik berbincang. Ternyata Nando dan Cinta sudah pacaran setahun lebih dan baru melakukan hubungan badan beberapa bulan terakhir. Saat pertama mereka bercinta Nando mengaku keduanya masih perawan dan perjaka. Namun yang cukup mengagetkanku, walaupun baru pertama bercinta dengan Cinta, namun sebelumnya Nando sering main dokter dokteran dengan dua gadis cilik tetangganya. Pertama, Eci umur 9 tahun kelas 3 SD dan yang kedua namanya Vina umur 10 tahun kelas 4 SD. Kalau sedang main dokter dokteran, ujar Nando, biasanya mereka telanjang bulat dan biasanya tongkol Nando dikocok sampai keluar. Kejadian seperti itu jika ada kesempatan masih berlangsung hingga sekarang. Luar biasa pikirku, anak jaman sekarang sudah jauh lebih dewasa dari umurnya, atau jangan jangan mereka masih begitu lugu dan tidak tau apa yang mereka kerjakan. Awalnya aku akan menurunkan Nando di jalan dan membiarkan dia sampai ke rumahnya dengan naik angkot. Namun karena kasihan akhirnya aku mengantarkannya hingga ke rumahnya. “Ayo kak masuk dulu sebentar. Minum dulu,” pinta Nando. Awalnya aku nggak mau karena takut kesorean tapi karena melihat ajakan Nando yg tulus akhirnya aku tak kuasa menolak. “Mas nando ada tamu tuh,” ujar pembantu RT keluarha nando di depan pintu. “Siapa bi?” “Neng eci ama neng vina katanya mau belajar bareng.” Wah kebetulan, pikirku. Aku penasaran seperti apa yg namanya eci dan vina eh sekarang sedang di rumah nando. “Kalau papa mama lagi ke mana bi?” “Lagi ke rumah nenek kayanya pulang malam, cuma berpesan mas nando jangan lupa makan.” Akhirnya kami masuk ke dalam rumah. Di ruang tv dua orang gadis cilik sudah menunggu. Keduamya ternyata cantik cantik. Yang satu rambutnya dikepang, kulitnya kuning langsat. Ia pake kaus putih plus rok pendek warna merah tua. Tanpa sengaja, duduknya yang tidak teratur membuat cd nya sedikit terlihat. Warnanya putih. Yg ini ternyata namanya eci gadis cilik kelas 3 SD. Matanya yg besar tapi sipit serta hidungnya yang mancung mengingatkanku pada Agnes Monica saat kecil. Sementara itu vina kulitnya lebih gelap tapi tak kalah cantiknya. Badannya padat berisi. Mirip pesinetron Amanda. Ia memakai kaos kuning dengan rok pendek pula. Aku pun dikenalakan pada eci dan vina. Mereka begitu riang dan ramah ramah. “Eh ngomong ngomong ada apa nih pada main ke rumah kakak?” Tanya nando pd mereka. “Mau belajar kak. Mau nanyain PR matematik.” Jawab vina. “Bener nih mau belajar atau main dokter dokteran?” Goda nando. “Ih kakak apa apaan sih, kan malu ama kak Andi.” Ujar eci. “Ya udah kakak takut ganggu kalian nih. Lagian kakak mau ke gramedia. Kakak pamit dulu ya,” ujarku. “Eh jangan dulu kak. Bantu dulu pr eci dan vina sebentar saja,” pinta nando. Akhirnya aku mengalah pada keinginan nando. Kami pun kemudian naik ke lantai dua ke kamar nando. Sungguh saat itu aku tak berpikir macem macem, hanya bermaksud membantu PR mereka saja. Kamar nando cukup enak dan besar. Kasurnya king size dengan corak minimalis. Di sudut kamar sebuah meja belajar dengan komputer LCD. Di situ pula aku mulai menjelaskan pr matematik yg ditanyakan. Eci dan vina duduk di kursi yg tersedia sedangkan nando duduk di pinggir ranjang di belakang kursi. Aku sendiri berdiri sambil menjelaskan jawaban pr ke vina dan eci. Walaupun itu sesungguhnya pr vina tapi eci jg ikut menyimak. Sungguh awalnya ku tdk berpikir macem macem meski nando sempat menjelaskan mereka suka main dokter dokteran. kulihat kedua gadis cilik ini memang cantik cantik. Kulitnya mulus. Apalagi eci yang kuning langsat. Namun itu pun tak membuat aku berpikir macem macem sampai kemudian nando berbuat nakal. “Vin kita main dokter dokteran yu..” Ajak nando sesaat setelah PR matematik diselesaikan. “Ih apaan sih kak? Kan ada kak andi, malu tau..” Jawab vina dgn muka memerah. “Hey hey apaan sih dokter dokteran? Kok malu sih? Ga apa apa kali…” Ujarku pura pura gatau. “Itu kak.. Main dokter dokteran itu buka baju…” Eci dengan lugu ikut menjawab. “Oh gitu… Ya udah ga apa apa kok. Atau kakak keluar aja yah biar kalian tenang..” Ucapku. “Ih jangan kak… Kok keluar sih. Di sini aja… Ya udah main dokter dokteran tp kakak jangan ngetawain yah..” Ucap vina. Akupun mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu vina mulai membuka kaosnya. Aku tertegun melihatnya. Kulitnya begitu mulus. Biar masih belia ia ternyata sudah pakai bra. Lalu ia membuka branya itu yg berwarna putih. Akupun kini melihat toketnya yg masih sangat mungil, baru sedikit menonjol. Aku yg asalnya tak berpikir yg macem macem mulai berpikir nakal, senjataku pun mulai bangun dari tidurnya. “Langsung main dokter dokteran nih?” Tanya nando. “Iya dong kak…” Jawab vina. “Ya udah vina langsung berbaring ya..” Ucap nando. Vina pun berbaring di kasur sementara nando duduk di sampingnya. Dengan gaya memeriksa seperti seorang dokter, nando mulai menyentuh toket vina. Ia pilin pilin putingnya. Vina mulai memejamkan matanya. Sepertinya ia mulai menikmati permainan dokter dokteran yang dilalkukan nando. Tak lama kemudian, nando mulai ÔÇ£memeriksaÔÇØ toket vina dengan lidahnya. Ia membungkukkan badannya dan mulai menjilati toket yang masih super mungil itu. Aku lihat nando menjilati toket vina dengan sangat lembut. Sungguh luar biasa aku sedang menyaksikan dua anak cilik sedang melakukan perbuatan yang sebelumnya belum boleh mereka lakukan. Aku sendiri yang seharusnya memberikan wejangan kepada mereka untuk tidak melakukan itu, tidak bisa berbuat apa apa, malah semakin menikmati. ÔÇ£ahh,….. kakak…. meriksanya geli banget……ÔÇØ erang Vina, sepertinya ia semakin menikmati permainan nando. ÔÇ£iya adikku sayang… nikmati saja… pejamkan aja matanya…..ÔÇØ jawab nando. ÔÇ£iya yak….. ah……ÔÇØ Sesaat tak ada lagi kata kata. Nando dan vina sedang menikmati permainan mereka. Sementara aku tertegun melihat aksi mereka. Demikian pula Eci ia sedang asik menyaksikan aksi kedua sahabatnya. Sampai kemudian aku disentakkan oleh pertanyaan Vina. ÔÇ£kakak nggak ikut main dokter dokteran?ÔÇØ tanyanya. ÔÇ£mhmmm…. ah nggak, lagian kakak nggak tau meriksanya gimana. Lagian sekarang kan vina lagi diperiksa ama kak nando..ÔÇØ jawabku terbata bata. ÔÇ£nggak apa apa kak, kan kakak bisa meriksa bagian bawah…. iya kan kak nando?ÔÇØ ujar Vina ÔÇ£iya kak..ÔÇØ sela Nando sambil tersenyum dan mengedip. Aku terdiam sejenak. ÔÇ£bener nih nggak apa apa? Nggak nyesel?ÔÇØ tanyaku sekali lagi pada Vina. ÔÇ£iya kak bener. Ngapain juga senyel kak, kan vina yang minta….ÔÇØ jawab vina mantap. Nando melanjutkan aksinya ÔÇ£memeriksaÔÇØ toket Vina. Sementara aku mulai menghampiri vina. Aku mulai menyingkapkan rok pendeknya. tongkolku yang sedari tadi sudah mulai mengeras kini semakin mengeras. Kulihat CD vina berwarna kuning selaras dengan kaosnya yang tadi dipakai. ÔÇ£ga apa apa Vin celana dalamnya kakak buka?ÔÇØ tanyaku sekali lagi menegaskan. ÔÇ£gak apa apa kak.. buka aja….ÔÇØ Aku mulai memelorotkan Cd vina. Sengaja rok pendeknya tidak aku buka. Toh dengan mudah CD itu kupelorotkan tanpa harus membuka roknya. Kini di hadapanku terpampang memiaw dari seorang gadis cilik yang masih begitu imut. Sangat mulus. Belum ada bulu sedikit pun. Dulu aku pernah melihat gambar gambar gadis underage dari internet. Kini bukan hanya gambar yang kulihat, tapi sebuah kenyataan. Aku memang sudah menyetubuhi gadis cilik lain, Dini, keponakan Sari pembantuku. Namun, gadis yang satu ini lebih muda lagi. Jika Dini berusia 12 tahun dan baru lulus SD, sedangkan Vina baru berusia 10 tahun dan baru kelas 4 SD. Terlintas dalam pikiranku apakah kelakuanku ini sudah sedemikian burukkan karena melakukan perbuatan yang belum saatnya dengan seorang gadis SD? Namun sungguh aku tak bisa mengelak dan menolak saat semua itu terhidang begitu saja di hadapanku. Yang pasti aku tidak memaksa sedikit pun, malah gadis cilik itu yang meminta. Aku mulai menyentuh permukaan memiaw vina. Kenyal sekali. Kusentuh dengan lembut. Dan kini aku mulai merenggangkan kedua kakinya agar tanganku bisa semakin leluasa mempermainkan memiawnya. Kini memiawnya sedikit merekah. Aku dibuat makin tak tahan. tongkolku terus mengeras semakin tak terbendung. Aku mulai memberanikan diri untuk menjilatin memiawnya. Kudekatkan wajahku. Dan mulai kujurkan lidahku. Aku mulai menjilati permukaan memiaw vina. Vina tidak menolak sedikit pun, bahkan ia makin merenggangkan kakinya. Lalu aku mulai mempermainkan lindahku di antara kedua belahan vagiannya. Kumasukkan lidahku semakin dalam. Kini lindahku sudah benar benar ada di antara dua belahan kenikmatan gadis cilik itu. ÔÇ£ahhh….. geli banget kakak……. memiaw Vina diapain?? Enakk bangettt kak…….. Geliii……ÔÇØ Vina mulai meracau. Nampaknya gadis cantik imut ini makin dirasuki kenikmatan. Aku pun semakin semangat untuk merangsang Vina. Sementara itu, Nando masih saja asik mengulum putingnya Vina. Lalu aku jadi penasaran bagaimana bila kukecup bibirnya Vina. Aku pun menghentikan aksiku di memiawnya. Kudekatkan wajahku ke wajah Vina. Seakan mengerti, nando menghentikan aksinya dan meminggir memberikan ruang padaku untuk berinteraksi lebih intim dengan vina. ÔÇ£vin, boleh ga kakak memeriksa bibir vina dengan bibir kakak?ÔÇØ bisikku di telinga vina. ÔÇ£boleh kak….ÔÇØ jawab vina lirih. Tanpa menunggu lama aku mulai mengecup bibirnya, lalu mulai kukulum dan kumainkan lidahku. Tanpa kuduga Vina juga membalas permainan lidahku. Ia bahkan membuat gerakan gerakan menyedot. Sudah mahir sekali, sudah berpengalaman. Artinya, Vina ama Nando sudah sering berciuman. Nafas vina makin tersengal sengal. Safsunya sepertinya semakin memburu. Terlebih saat kulumat mulut dan bibirnya, tanganku pun tak lupa mengerayangi daerah toketnya terutama pusat sensitifnya di bagian puting. Aku pun semakin tak tahan diliputi nafsu yang makin bergelora. tongkolku dari tadi sudah sangat keras. Tapi aku belum buka baju. ÔÇ£Kak, boleh ga Eci ikut main dokter dokteran?ÔÇØ tiba tiba Eci gadis 9 tahun itu bertanya memecah konsentrasiku. ÔÇ£mhmmm… terserah Eci deh, emang gimana caranya?ÔÇØ ÔÇ£Eci periksa tongkol kakak… boleh ga dibuka celananya?ÔÇØ sebuah permintaan mengagetkan terlontar dari mulut Eci. Aku pun hanya bisa mengangguk, senang bercampur kaget. Lalu Eci segera memelorotkan celandaku, lalu CD ku. Ketika dibuka, langsung saja tongkolku yang sudah tegang dari tadi tegak berdiri. Saat aku masih sibuk berciuman dengan Vina, Eci mulai menentuh kemaluanku. Gadis 9 tahun itu mulai memaju mundurkan, mengubah sentuhan menjadi kocokan. Aku pun semakin disergap kenikmatan. ÔÇ£egghhh………… enak banget sayang……..ÔÇØ erangku. Eci hanya tersenyum sambil terus melanjutkan aksi kocokannya. Sementara itu, Nando yang dari tadi menghentikan aksinya kepada Vina mulai tak tahan pula untuk hanya menonton. Ia pergi ke belakang Eci yang sedang mengocok tongkolku. Nando mulai membuka kaos eci, eci rupanya belum pakai bra. Toket eci boleh dikatakan hampir belum tumbuh. Hanya sedikit tonjolan saja. Aksi Nando tak hanya sampai di situ. Ia pun mulai memelorotkan rok mini dan CD yang dikenakan Eci, dan nando pun membuka seluruh celana dan bajunya sendiri. Nando pun mulai merangsang Eci dengan menyentuh toket dan veginya dari belakang. Aku pun tak mau tinggal diam. Aku segera melepaskan rok pendek Vina yang masih melilit. Aku pun membuka bajuku sendiri. Kini kami berempat sudah telanjang bulat. Saat kulihat memiaw Eci, tak kalah mungilnya dari Vina, bahkan bisa dikatakan lebih mungil, mungkin karena Eci terpaut usia 1 tahun lebih muda dari Vina. Suasana yang tak pernah kubayangkan seumur hidup ini membuat aku semakin diliputi hawa nafsu. Tak lagi terbersit bahwa gadis gadis itu masih belia dan sesungguhnya belum waktunya untuk melakukan perbuatan seperti yang sedang terjadi ini. ÔÇ£sayang, boleh ga aku memeriksa memiaw kamu dengan tongkol kakak?ÔÇØ akhirnya aku menanyakan itu kepada Vina karena sudah tak tahan lagi. ÔÇ£Vina belum pernah diperiksa seperti itu kak.. Eci juga… sakit nggak kak?ÔÇØ jawab vina ÔÇ£kakak periksanya pelan-pelan sayang. Nanti kalau sakit bilang aja…ÔÇØ ujarku. ÔÇ£ya udaah deh kak….ÔÇØ jawab Vina membuatku menjadi sangat riang. ÔÇ£tapi sebelum memiaw kamu kakak periksa, Vina periksa dulu yah tongkol Nando dengan mulutmu sampai keluar…ÔÇØ pintaku. Vina pun mengangguk. Vina pun mulai mendekati Nando. Sementara nando masih sedang asik merangsang Eci. Lalu Vina mulai mengulum tongkol nando. Aku terus memperhatikan. ÔÇ£ahhhhhh…. vina sayang……ÔÇØ erang nando. Ia mulai memejamkan matanya. Vina makin mempercepat aksinya. Nando dibuat makin merem melek. ÔÇ£terusss sayang….ÔÇØ nando kembali menerang. Tangannya mulai menggelepar gelepar, kadang mencengkeram Eci dari belakang. Tapi ia masih terus berupaya untuk sambil tetap merangsang Eci dengan memilin puting dan menyentuh vaginanya. ÔÇ£sebentar lagi keluaar sayanggg…..ÔÇØ nafas nando semakin tersengal sengal. Tapi Vina tak mau melepaskan emutannya. Dan akhirnya ÔÇ£crotttt… crottttttttttt…….ÔÇØ air pejuh Nando yang masih sedikit itu melumuri mulut Vina. Sementara itu Nando mencengkeram erat Eci melepaskan kenikmatannya. Sehabis itu nando terkapar di ranjang kecapaian dengan nafas yang masih terengah engah. ÔÇ£nah sekarang gantian kakak meriksa vagina Vina yah pakai tongkol kakak?ÔÇØ ucapku pada Vina. Vinanya menjawab dengan tersenyum sambil mengangguk. ÔÇ£kalau Eci mau skalian diperiksa ga?ÔÇØ aku menawarkan pada Eci. ÔÇ£mau kak…ÔÇØ jawab Eci. ÔÇ£ya udah sekarang kalian berdua berbaring ya… kakak periksa Eci dulu, abis itu baru Vina,ÔÇØ aku memberikan arahan. Sengaja kudahulukan Eci karena kuyakin vagina Eci lebih kecil sehingga pasti lebih susah ditembus. Kedua gadis cilik itu menduruti arahanku. Aku pun mulai mengangkah di atas tubuh mungil Eci yang sintal mirip bintang sinetron Amanda itu. Kusibakkan sedikit vagina mungilnya dengan tanganku dan mulai kusentuhkan kepala tongkolku di atas vaginanya. Lalu kutekan masuk perlahan lahan. Benar saja lubangnya masih sangat sempit. Lalu kubantu menyibakkan memiawnya dengan jariku. Beruntung vagina Eci sudah agak basah yang artinya dia juga sudah terangsang. Ini memudahkan tongkolku untuk menyelusup ke dalam. Walaupun demikian aku tetap menggerakan tongkolku dengan perlahan. ÔÇ£sakit ga sayang?ÔÇÖ tanyaku pada Eci. ÔÇ£nggak kok kak… terusin aja..ÔÇØ ucapnya. Akupun makin memasukkan tongkolku. Semakin rasanya dalam semakin susah. Sepertinya tongkolku terperangkap di antara lubang kenikmatan yang begitu sempit. ÔÇ£ahhh…. kak…..ÔÇØ erang Eci. ÔÇ£ada apa sayang?ÔÇØ ÔÇ£agak ngilu kak….ÔÇØ ÔÇÿtahan bentar ya sayang ntar juga jadi enak…ÔÇØ ucapku meyakinkan. Aku memasukkan tongkolku semakin perlahan, jangan sampai menimbulkan trauma di vaginanya. Kini tiga per empat tongkolku sudah ambles. ÔÇ£Gimana sayang sekarang masih ngilu?ÔÇØ tanyaku. ÔÇ£udah nggak kak, masukin aja semuanya tapi pelan-pelan… ÔÇ£ jawab eci dengan lirih. Lalu aku mulai memasukkan lagi tongkolku dengan perlahan. Akhirnya tongkolku bisa terbenam seluruhnya di daalam memiaw yang mungil itu. Lalu aku mulai mengeluarkan tongkolku dan kemudian memasukkan lagi secara berulang ulang. Gesekan di antara tongkol dan dinding vagina membuat sensasi kenikmatan yang luar biasa. ÔÇ£kakak… enak banget meriksanya…… ahhhh…..ÔÇØ erang Vina. Rupanya rasa ngilu yang tadi dirasakan eci sudah benar benar hilang dan berganti kenikamatn yang mulai menjalar gadis cilik itu. Aku pun demikian. Semakin aku memaju mundurkan tongkolku, kenikmatan yang kurasakan semakin bertubi tubi. Semakin lama dorongan air kenikmatan semakin mendesak di ujung tongkolku. ÔÇ£ahhhhhh… kakakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk…………………… …………ÔÇØ Eci menjerit sambil mencengkeram erat erat pingganggu. Rupanya gadis kelas 3 SD sudah sampai ke puncak kenikmatannya. Aku pun memeluknya erat. Lalu segera kegera kulepas tusukan tongkolku di memiawnya dan kukocok di atas mukanya. Dan ÔÇ£crooooootttttttttttttttttt……………… crotttt… crottttttttttttttt……..ÔÇØ…. air pejuhku begitu banyak melumuri wajah gadis belia itu. Kenikmatan yang luar biasa baru saja kurasakan. Sesaat aku pun dilanda rasa lemas. Aku terkapar di samping Eci yang juga kecapaian. Meskipun saat kusetubuhi Eci tentunya masih perawan, tapi tak satu pun bercak darah keluar dari vaginanya. Hebatnya, dia pun tidak lama merasakan ngilu karena segera saja berganti dengan kenikmatan luar biasa. Saat aku tepejam sambil istirahat, suara lembut Vina terdengar di telingaku. ÔÇ£kak, vina juga pengen diperiksa kaya eci…..ÔÇØ Akupun membuka mata perlahan sambil tersenyum. Yang kusaksikan ternyata Vina tak banyak memberikanku untuk sedikit istirahat. Tanpa menunggu persetujuan ia sudah ada di atas badanku dengan posisi duduk di betis. Jujur kuakui saat itu aku sudah sangat lemas. Sudah berkali kali secara beruntun aku bercinta dengan orang yang berbeda hari ini, dan terakhir baru saja bercinta dengan Eci. Dan kini Vina gadis cilik kelas 4 SD itu memintaku untuk kembali bercinta. Ia sudah ada di atas betisku dan mulai menyentuh tongkolku. “Sayang, bukannya kakak gak mau, tapi kakak udah lemes sekali…” Ucapku pada Vina. Jujur aku memang sudah sangat lemas, terlebih besok istriku Rara akan pulang jadi aku harus menyisakan stamina. “Tenang aja kak, biar kakak nggak cape kakak diem aja. Biar Vina yang meriksa dan jadi dokternya..” Ujar vina ternyata tak bisa dihentikan. “Tapi Vin…” Ujarku. Namun, sebelum aku melanjutkan perkataan, vina keburu mengocok tongkolku dengan perlahan. Aku hanya bisa memejam. Vina membuat gerakan yang pintar sekali. tongkolku yang tadi sudah terkulai lemas mulai bangkit. Gerakan mengocoknya semakin cepat meskipun kadang berhenti karena pegel. Dan penisku pun semakin keras. Setelah bosan dengan mengocok, vina mulai mengulum penisku. Aku hanya menikmati, tidak melakukan reaksi sedikit pun sesuai anjuran vina. Lidahnya kini mulai menjilati pangkal tongkolku hingga kepala. “Ahhhh sayang…..” Aku tak bisa menyembunyikan rasa nikmat yang mulai hadir kembali. “Sayangggg…… Kamu pintar sekali…..” Erangku lagi. Dan vina terus tak berhenti mengulum penisku. Kini tongkolku sudah benar benar keras mendongak ke atas. Selanjutnya, vina kemudian membuat gerakan yang benar benar di luar dugaanku. Ia menggeser duduk menjadi di atas kemaluanku dan mulai mengarahkan penisku ke lubang kenikmatannya. Aku sungguh heran, gadis cilik yang menurut Nando belum pernah ia setubuhi tapi sudah nampak begitu mahir. Kini bagian kepala tongkolku sudah mulai masuk ke memiaw vina. Kurasakan tongkolku lebih mudah masuk ke memiaw vina dibanding eci, mungkin karena posisinya, di samping lubang memiaw vina yang sepertinya memang lebih besar. Perlahan tongkolku semakin masuk ke dalam seiring posisi duduk vina yang dihentak semakin ke bawah. “Srlebbbbb……” Kini tongkolku sudah benar benar terbenam di memiaw vina. “Shhhhh……. Ahhhhhhh…..” Lagi lagi aku mengerang tak tahan. Terlebih vina mulai menaik turunkan badannya. Gesekan antara tongkolku dengan dinding memiawnya yang mungil menghadirkan sensasi yang luar biasa. Rasa lemas hilang sejenak diganti rasa nikmat yang makin menggelora. “Vin, kakak udah ga tahannn…….” Erangku. Kurasakan air penuhku semakin mendesak dan sebentar lagi akan keluar. “Iya kakak sayang, kakak diam aja….” Jawab vina. Ia makin mempercepat gerakan menaikturunkan badannya. Dan “crottttttt….. crottttttt….. Crotttttt….” Sisa sisa air pejuhku hari itu melumuri lubang vagina Vina yang membuatku melayang ke puncak kenimatan di langit ketujuh. Sepertinya vina sendiri belum klimaks. Tentu aku tak sampai hati untuk tidak memberinya puncak kenikmatan. Giliran aku untuk memuaskannya. Aku pun mengajak vina untuk berbaring di sampingku. Aku mulai menjilati toketnya yang baru sedikit tumbuh itu. Sementara tanganku mulai meraba vagina mungilnya. Jari tengahku kumasukkan, kucari kelentitnya, lalu kuusap usap dengan halus. “Kakak… Geli sekaliii…. Shhhhhhh….” Vina mengerang. Aku terus mempercepat gesekan jariku di kelentitnya. Sementara lidahku menjilat jilat putingnya. “Aaahhhhhhhhhhh………” Sambil memelukku erat vina menggigit telingaku. Akhirnya ia mencapai puncak kenikmatannya. “Makasih ya kak, meriksanya enak sekali,” ujar vina. “Iya sayang,” jawabku. Sejenak setelah istirahat aku penasaran menanyakan apakah sebelumnya pernah bercinta atau belum. Dengan jujur ia mengatakan bahwa ia belum pernah bercinta dengan nando, namun ia sudah beberapa kali melakukan hubungan badan dengan kakak laki lakinya di rumah. Yang lebih mengagetkanku, bahkan vina juga pernah melakukan hubungan badan itu dengan dua kakaknya sekaligus, satu kakak laki lakinya itu yang kelas 2 SMA dan satu lagu kakak perempuannya yang kelas 1 SMP. Artinya kakak laki laki vina melakukan percitaan sekaligus dengan dua adiknya sendiri, luar biasa. Setelah merapikan diri, aku pamit ke nando, vina dan eci untuk pulang. Tak lupa aku minta no hp Vina, karena kebetulan eci belum memiliki hp. Aku pun bergegas ke gramedia untuk membeli buku buku yang sudah aku niatkan. Sepulang dari gramedia, aku mendapat telepon dari boss ku yang cukup menyebalkan. Besok ada rapat penting mendadak di Jakarta pagi pagi yang harus kuhadiri. Padahal besok hari kepulangan istriku Rara ke rumah. Segera kutelepon istriku untuk memberitakuhan kabar itu. Ternyata istriku sangat bijak, ia mempersilahkanku. “Rinduku aku tahan sayang. Aa selesaikan dulu tugas kantornya, itu juga kan untuk aku…” Ucapnya. Sebelum ke rumah, aku pun mampir ke stasiun kereta api untuk membeli tiket eksekutif bandung-jakarta besok jam 5 subuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*