Home » Cerita Seks Kakak Adik » Antara Ada Dan Tiada 5

Antara Ada Dan Tiada 5

Sementara pasangan yang di dalam, yang masih asik itu juga makin seru dan panas. Setelah Dina mengalami orgasme, Dina segera kembali mengangkat kakinya dan melebarkannya, badannya bersandar samapi pojok ranjang, sementara Ray bertumpu dengan kedua tangannya, kembali terus menyodoknya dengan cepat. Inilah yang Dina suka dari Ray, kalau sudah menyodok nggak setengah ÔÇô setengah, makin Dina terengah ÔÇô engah, makin nafsu si Ray memompakan kont01nya, membuat Dina benar ÔÇô benar kelojotan. Ray memainkan kont01nya secepat dan seakurat mungkin, menariknya samapai batasnya, kembali menerobos sampai dalam sekali, ditarik lagi, benar ÔÇô benar membuat Dina kegelian dan keenakan, setiap kali menyodok masuk, maka kont01 itu menerobos bibir m3meknya, meninggalkan rasa geli dan nikmat yang sangat luar biasa..

ÔÇØAaaaahhh….sinnntiiiing loeee…Raayyyy…ÔÇØ
ÔÇØSssshhhh…..janggaaaaannn….ginnniiiiii… .ÔÇØ
ÔÇØGueeee…nggaaaaakkk….taahhaaaaaannnnn…. ..ÔÇØ

Ahhh…ampun deh belum lama gue keluar, sekarang sudah keluar lagi, benar ÔÇô benar nih anak, pikir Dina. Dina pun bertekad membalas. Sembari menerima sodokan Ray, kakinya ia sempitkan, membuat kont01 Ray agak terjepit kuat, Dina mulai menggoyangkan pantatnya dengan liar, bibir Dina juga melumat habis bibir adiknya itu, menghisap dan menyedot lidah Ray, membuat Ray yang sekarang kelojotan. Sementara lidahnya disedot ÔÇôsedot, kont01nya juga agak dicengkram, kini saat kakaknya menggoyangkan pantatnya dengan liar, rasanya kayak diaduk ÔÇô aduk. Linu dan enak. Ray hanya bisa meremas tetek Dina kuat ÔÇô kuat. Ketika goyangan pantat Dina melemah, Ray kembali bergerak, mulai memompa dengan kuat dan secepat mungkin, menyodok sampai dalam sekali, membuat Dina serasa sesak. Kini gantian Ray mulai menjilati leher dan telinga Dina, membuat Dina geli dan menggelepar. Ray bukannya berhenti, malah makin jahil menjilati leher kakaknya, setengah mati Dina berusaha menahan gelinya, sementara sodokan Ray juga semakin menjadi ditambah kini Dina yang kegelian itu badan dan pantatnya bergoyang kuat ke sana ke mari, kont01 Ray benar benar kayak dipilin saja. Kedua kakak beradik ini sama ÔÇô sama saling memberikan rasa nikmat, dan Ray juga sudah merasa maksimal, sementara Dina juga merasakan bakal jebol lagi, akhirnya sambil saling berpelukan kuat…keduanya sama ÔÇô sama memuntahkan kenikmatannya, lalu terkulai puas dan bahagia, saling berciuman hangat.

Sementara mata yang mengintip itu menyaksikan pergumulan pasangan yang di dalam. Gila si Dina…pikir Renita…yang lakinya juga sama,keduanya saling memuaskan, Renita jadi terengah melihat panasnya adegan yang berlangsung itu, jarinya makin cepat dan kuat menyodok lobang m3meknya, sementara jari tangan satunya asik memilin dan mengelus ÔÇô elus it1lnya yang besar dan menonjol itu. Gelombang nyaman dan nikmat yang sangat memuaskan….m3meknya sudah sangat…sangat basah….nampak lantai agak lengket dengan cecerannya. Bahkan ketika tadi dia akhirnya bisa dengan fokus melihat besarnya kont01 saat lelaki menyodok naik turun di m3mek Dina., Renita merasakan gairahnya seperti meledak. Desahannya agak ia tahan, pantatnya sedikit terangkat, dan dia mengejang…..terasa semburan hangat membasahi kedua jarinya. Orgasme…barang langka yang selalu harus ia lakukan sendiri. Ia lalu terdiam…lemas. matanya masih mengintip, penasaran untuk melihat kegiatan Dina di dalam kamarnya, juga mau melihat siapa pasangannya.

Ray menyudahi ciumannya di bibir hangat kakaknya, agak meringis geli saat ia mencabut kont01nya, diam sejenak ia segera bergerak memutar tubuhnya, merebahkan diri di samping tubuh telanjang Dina. Selalu….setiap ngewek sama Dina energinya akan terkuras, karena Dina tak pernah membiarkan dirinya bergerak bebas, Dina selalu saja memberikan perlawanan yang alot.

Mata Renita kini semakin berkonsentrasi, sedari tadi memang ia tak bisa melihat siapa lelaki itu. Dina posisinya sangat mojok di kepala tempat tidur, kakinya terangkat mengapit pantat lelaki itu. Sementara lelaki itu menindihnya, seperti menelan tubuh Dina. Yang terlihat jelas adalah m3mek dan kont01 mereka yang saling memompa. Lelaki itu hanya terlihat pantat dan punggungnya, wajahnya terhalang. Suara desahan Dinapun agak samar, karena Dina sepertinya mendesah di dekat kuping lelaki itu. Kini lelaki itu baru mencabut kont01nya, dia diam sejenak, nah kini ia berbalik….

Renita yang lemas karena orgasmenya, kini merasakan tubuhnya semakin lemas….matanya yang sedang mengintip semakin terbelalak tak percaya…astaga…astaga….ia tak mampu berkata….tak mampu mengeluarkan suara, kepalanya mendadak sangat pusing. Tak tahu harus bereaksi bagaimana, dengan sangat lemas ia bangkit, tak memperdulikan lantai yang sedikit basah, bahkan saat ia berjalan ke kamarnya, CD-nya tak ia benarkan kembali, ia terlalu terkejut, lupa dengan gelasnya. Ia buka pintu kamarnya perlahan, menutupya pelan, dengan lunglai ia menuju tempat tidurnya, ia merebahan diri dengan sejuta pikiran berkecamuk.

Lelaki itu adalah Ray, anakku, adiknya Dina. Mereka…mereka…bahkan dalam pikirannya sekalipun ia tak sanggup mengatakan hal itu. Ya ampun….ada apa ini, bagaimana ini…? Mengapa..mengapa mereka…mereka berdua bisa….melakukan hal itu. Tak perlu menjadi seorang jenius untuk mengatakan bahwa mereka berdua melakukannya dengan saling menikmati. Saat mengintip tadi, Renita dengan jelas bahwa mereka berdua melakukannya dengan enjoy, tak ada perasaan terpaksa. Mereka kakak dan adik. Di bawah satu atap ini. Bagaimana…bagaimana mungkin ? Sudah berapa lama ? Kalau melihat adegan tadi, jelas ini bukan yang pertama kalinya. Bagaimana mungkin aku sebagai mama mereka bisa tak tahu. Apa yang kedua anak itu pikirkan…? dan yang lebih penting lagi, apa yang harus ia lakukan dan perbuat terhadap kedua buah hatinya ini…?

Renita benar ÔÇô benar bingung, ia mendesah..menghembuskan nafasnya, matanya terpejam…lama ia memejamkan matanya, menenangkan diri. Dan dia…memang di satu sisi ia tadinya tak tahu siapa lelaki itu, tapi dia tahu dari awal wanitanya jelasa Dina, dan dia, Renita jelas ÔÇô jelas terangsang saat mengintip tadi, jelas ÔÇô jelas malah mengagumi dan juga berfantasi saat melihat betapa mengagumkannya kont01 lelaki tadi. Renita agak bergidik. Kali ini ia mulai teringat masalahnya sendiri. Dia sekarang di awal usia 39 tahun, lelaki tak bertanggung jawab itu Toni, namanya, suaminya atau tepatnya bekas suaminya….10 tahun lalu saat usianya bersiap memasuki usia 30 tahun, begitu saja pergi meninggalkan keluarganya, dia dan kedua anak mereka Dina dan Ray. Untuk kawin lagi. Renita sendiri akhirnya memilih mengurus perceraiannya sendiri. Baginya dan mungkin kedua anaknya, lelaki tak bertanggung jawab itu sudah tiada, sudah dianggap mati dan lebih baik dianggap sebagai sampah saja. Suatu keuntungan karena sedari awal perkawinan mereka, dia memilih tetap bekerja, sehingga walau ditinggal begitu saja dengan 2 anak yang masih boleh dibilang kecil, ia masih bisa mengurus dan membiayainya. Berat di awalnya, namun akhirnya mereka bertiga mampu melewatinya bersama. Sebagai janda denga 2 anak, dan umur yang masih memungkinkan, Renita tidak menutup diri, setelah 2 tahun menjanda dia mulai menjalin hubungan, beberapa kali. Beberapa berakhir dengan hubungan seks yang menyenangkan di beberapa kamar hotel, tapi tidak berakhir ke jenjang perkawinan. Ketika ia memasuki usia 34 tahunan, karirnya mulai stabil dan meningkat, seiring kesibukannya, ia juga tidak menjalin hubungan lagi dengan pria, tidak berpikir untuk menikah lagi. Awalnya kesibukannya di jenjang karirnya yang baru itu mampu menyibukkannya dan meredam hasrat dan gairah seksnya yang masih aktif. Tapi seiring ia terbiasa dengan jabatan dan kesibukannya,semuanya bisa terjadwal dan ia mulai busa rileks. Sekaligus menjadi masalah. Kelelahan yang tadinya mampu meredam hasratnya, kini mulai hilang. Hasrat dan gairahnya kembali dominant. Ia mulai sering bemartubasi sekedar memuaskan dahaganya. Lalu saat dia sedang mendapat tugas mengunjungi klien di slah satu kota besar, ia yang karena merasa malu, memakai topi dan kaca mata hitam memasuki sebuah toko yang biasa menjual obat dan alat bantu seks. Ia membeli vibrator. Ia sendiri merasa tak berani membelinya di Jakarta, selalu khawatir akan ada yang mengenali. Sedikit banyak kont01 mainan itu bisa membantu menurunkan gairahnya, tapi tetap di saat hasratnya muncul, ia merindukan sesuatu yang asli, yang nyata, yang bernyawa dan memiliki emosi dan meninggalkan kesan, bukan barang imitasi dari plastik dan baterai.

Dan tubuhnya secara jujur amat bergetar dan haus sekaligus terangsang saat melihat kont01 tadi menerobos dengan nikmatnya menyodok m3mek Dina tadi. Tak lepas matanya menatap dengan sangat dahaga melihat kont01 tadi. Seluruh tubuhnya bergelora dan menjerit ingin merasakan kembali kenikmatan kont01 asli. Renita kembali mendesah, menghembuskan nafasnya. Tapi ternyata lelaki pemilik kont01 itu ternyata anaknya sendiri, Ray. Ray dan Dina…..apa yang telah kalian lakukan…? Ia memejamkan matanya….tak sanggup lagi berpikir. Ia memilih sebaiknya ia tidur saja dulu saat ini, menenangkan pikirannya. Ia pun melemaskan tubuhnya, memejamkan mata, nampakair mata mengalir membasahi pipinya…..

Baru 2 jam kemudian Ray keluar dari kamar Dina. Saat di ambang pintu, kakinya sedikit menginjak sisa cairan yang sudah agak mengering namun masih sedikit lengket, ia tak menaruh curiga apapun. Tepatnya tak akan curiga apapun, terlalu lelah dan penuh rasa puas. Di meja bahkan ia juga tak berpikir lagi, saat ada gelas berisi air yag sudah tak dingin lagi, ia segera saja meminumnya. Ia lalu membuka pintu kamarnya, menutupnya lalu tidur, tanpa pernah menyadari, bahwa saat tadi ia keluar ia tak memperhatikan benar bahwa ia tak menutup pintu kamarnya dengan rapat.

Esoknya Renita bangun pagi sekali, kedua anaknya yang semalam ia pergoki telah saling mereguk kenikmatan masih terlelap di kamarnya masing ÔÇô masing, terbuai rasa puas, tapa pernah menyadari bahwa mamanya telah mengetahui perbuatan mereka. Renita merasa letih dan tak berminat ke kantor. Nanti saja aku telepon. Ia lalu keluar kamarnya, mandi, setelah mandi mungkin aku akan merasa lebih baik dan segar, juga lebih jernih untuk berpikir. Setelah mandi, ia berpakaian, keluar rumah sebentar, membeli biskuit dan makanan kecil. Ia kembali, dan memulai sarapannya. Setelah selesai, ia masuk ke kamarnya. Sekitar jam 7 kurang ia mendengar suara kegiatan. Dia memasang telinganya, sepertinya Dina saat ia mendengar suara anaknya sedang berdehem. Dia diam saja. Sekitar jam delapan kurang suara pintu depan dibua lalu dikunci, Dina pergi kuliah. Ia pasti mengira aku sudah jalan kerja. Renita memencet tombol di HP-nya, menelepon kantor, mengabarkan ia tak masuk, sakit. Selesai ia mematikan HP. Renita kembali diam, tenang, dan berpikir. Memikirkan sesuatu yang sebenarnya ia dan tubuhnya sudah tahu jawabannya…..jiwanya mungkin saja masih ragu dan menolak, tapi tubuhnya sudah jelas tidak akan menolak.

Jam sembilan kurang Ray bangun. Seperti biasa merokok dahulu, iseng, ia bikin kopi. Lapar, ia bangun, kayaknya semalam matanya melihat ada makanan kecil dekat meja di kamar Dina. Mudah ÔÇô mudahan si bawel itu belum memakan atau menghabiskannya. Ia segera menuju ke sana dan menemkan toples kecil yang berisi camilan, membawanya keluar, lalu memakannya sambil menikmati kopi dan rokoknya. Setelah selesai dan menaruh kembai toples tadi yang kini hanya toples saja tanpa isi, ia segera mandi, karena hatinya sedang senang, bolehlah sesekali bernyanyi walau suara agak serak ÔÇô serak memukau hehehe. Tak berapa lama ia sudah selesai mandi dan berpakaian, mau pergi. Ray agak terkejut saat keluar kamar, mamanya sedang dudu di meja makan.

ÔÇØLho ma, kirain ke kantor, habis dari Ray bangun sepi banget…ÔÇØ
ÔÇØNggak, agak nggak enak badan…ÔÇØ
ÔÇØMau ke dokter ? Kalau mau dianterin, sini Ray antar.ÔÇØ
ÔÇØNggak usah. Ray coba sini, kamu jangan pergi dulu. Ada yang mama mau bicarakan. Penting. Mama tunggu di kamar mama.ÔÇØ
ÔÇØPenting banget nggak ma. Kalau nggak Ray mau bikin mie dulu, sebentar saja, lapar.ÔÇØ
ÔÇØYa, sudah, nanti sesudahnya amu ke kamar mama.ÔÇØ

Mamanya segera bangun dari kursi, menuju kamarnya. Ray agak heran sambil berpikir ada apa lagi nih ? Kayaknya penting banget. Tapi berhubung lapar berat, ia segera konsentrasi menunggu mienya matang. Untuk kemudian memakannya dengan sangat rakus.

Renita nampak duduk di pinggir tempat tidurnya. Ia sudah mantap memutuskan. Kedua anaknya itu jelas salah dilihat dari sudut apapun. Ia seharusnya marah dan menegur. Tapi sesuatu ….bahasa tubuh mereka saat ia melihatnya, sedikit banyak telah menggambarkan bahwa keduanya saling menikmati dan jelas tak terpaksa dalam melakukannya. Renita tahu seharusnya ia marah atau menegur, tapi itu tak akan menyelesaikan masalah. Kalau yang namanya kont01 sudah rutin memasuki m3mek, dibilangin, diomelin seperti apapun juga percuma. Ia tahu pasti hal itu. Dilarangpun tak ada manfaat. Dia juga tak akan bisa mengontrol mereka 1 x 24 jam setiap harinya. Dia juga berkesimpulan, sampai point yang dilihatnya semalam, dia interogasi atau tanya alasan kenapa mereka melakukannya juga sudah tak ada arti. Tak akan mengembalikan atau merubah atau menghentikan mereka. Dan sebagai dua anak yang sudah berumur lumayan agak dewasa, Renita berkesimpulan keduanya juga pasti sudah tahu resikonya dan telah paham untuk melakukannya dengan memakai pencegahan. Bagi Renita, tak ada pembenaran ataupun menyalahkan. Sudah terjadi, tak ada yang bisa disalahkan. Pantas atau tidak, bukanlah tajuk utamanya dalam hal ini. Mereka berdua merasa pantas dan melakukannya dengan tanpa keterpaksaan. Kalaupun mau menilik kerugian, termasuk kepada dirinya…sebenarnya kerugian apa yang mereka timbulkan…? Hanya statusnya saja sebagai merek, tapi dengan alasan yang tadi ia pikirkan dan ungkapkan di atas, semuanya akan kembali menjadi argumentasi pembenaran masing ÔÇô masing pihak. Untuk hal ini keputusannya sudah bulat, sudah sangat terlambat untuk menanyakan, menegur dan melarang. Kalau sudah saling merasakan nikmat, apa bisa dilarang lagi ? jujurnya….tidak.

Lagipula saat melihat kont01 anaknya, jujur saja, tubuhnya yang lama sekali tak dimasuki benar ÔÇô benar menjerit mendambakan agar m3meknya kembali merasakan nikmatnya dimasuki kont01 pria…kont01 asli. Hasrat dan jiwanya seperti diaduk ÔÇô aduk dan terangkat sampai pada puncaknya yang tertinggi. Kont01 anaknya itu jelas melebihi standart SNI…hehehe bisa saja Renita ini, memangnya ada standart SNI nya buat masalah ini…dasar.

Kalau berlaku untuk Dina, maka juga untuk Ray. Pagi ini ia tak akan sekalipun menyinggung atau menanyakan tentang apa yang dilihatnya semalam. Juga tak mau membuat Ray grogi atau salah tingkah bila ditanya. Ada hal yang jauh lebih penting untuk dibicarakan dan diurus. Gagang pintu nampak bergerk…biasa, khas si Ray, suka nyelonong tanpa mengetuk pintu. Ray masuk sambil nyengir. Tanpa disuruh duduk santai di pinggir tempat tidur, dekat mamanya. Ray duduk melihat mamanya sekilas, walau hanya berdaster biasa, tetap saja seksi, apalagi setelah Ray sudah sering mengintip mamanya mandi. Menetralkan hati dan pikiran Ray memulai percakapan…

ÔÇØMau ngomong apaan sih ma, kayaknya penting sekali…ÔÇØ
ÔÇØSudah, kamu diam saja dengarkan, nggak usah nanya dulu, dengar saja.ÔÇØ
ÔÇØYa sudah…ngomong deh, Ray dengarkan….ÔÇØ
ÔÇØNah kamu tahu kan sidah hampir 10 tahu mama cerai sama eh…..papamuÔÇØ
ÔÇØYa…kalau mau ngomongin lelaki tak bertanggung jawab itu, mending nggak usah deh, Ray malas.ÔÇØ

Ray mulai BeTe, paling malas kalau topiknya tentang papanya yang tolol. Renita nggak berkomentar, kebali meneruskan omongannya.

ÔÇØNah, setelah bercerai, mama tetap bekerja dan membiayai kalian. Setelah 2 atau 3 tahun, setelah mama mulai bisa menata hati mama embali, mama mulai membuka diri, menjalin hubungan kembali, sambil berharap mungkin saja bisa membentuk rumah tangga yang baru. Dan mama terus terang saja ke kamu, namanya mama yang sudah dewasa dan punya 2 anak tentunya dalam menjalin hubungan, pacarannya beda sama anak remaja. Jujurnya beberapa di antaranya berakhir dengan hubungan ehh…seks.ÔÇØ
ÔÇØSebenarnya sih Ray risih mendengarnya ma, dan juga sebenarnya mama nggak perlu terus terang, itu hak mama sepenuhnya. Dilarang pun, Ray ngak bakalan tahu kalau mama melakukannya. Tapi secara garis besarnya sih terserah mama, itu hak mama kok.ÔÇØ
ÔÇØYa…terimakasih kalau sudut pandangmu seperti itu. Nah singkatnya, beberapa hubungan yang mama jalin akhirnya kandas. Mama jadi mulai malas menjalin hubungan dan selain itu mulai sibuk sama kerja dan karir, akhirnya malah tak berusaha menjalin hubungan lagi atau berpikiran untuk menikah lagi…sampai sekarang.ÔÇØ
ÔÇØMaksud dan arah omongan mama apa sih ? Mama mau bilang kalau sekarang akhirnya punya pacar dan mau ngenalin atau malah mau kawin ? Terserah sih, tapi Ray lihat dulu orangnya…ÔÇØ
ÔÇØBukan..bukan ke situ arahnya.ÔÇØ

Renita menatap anaknya sejenak, raut wajahnya menggambarkan ia sedang berpikir menimbang sesuatu sebelum mengucapkan…

ÔÇØNah, jadi kalau dihitung hampir 6 atau 7 tahun mama benar ÔÇô benar sendiri. Di usia mama ini, hal itu sangat ÔÇô sangat tidak mudah dan menyiksa…ÔÇØ
ÔÇØOh..maksud mama, mama mau ngomongin agar Ray bantu mama. Kerja juga…begitu ya ma ?ÔÇØ
ÔÇØBukan…suah kamu dengar dulu, nanti kamu baru ngomong kalau mama sudah kelar atau kalau mama tanya.ÔÇØ
ÔÇØya sudah kalau begitu.ÔÇØ

Jadi agak sebal Renita, habis anaknya ini komentar melulu, salah pula. Ia mengambil nafas sejenak, lalu kembali berbicara.

ÔÇØMaksud mama dalam hal…eh…a..anu itu…seks. Seumuran mama gini yang namanya seks jelas masih aktif. Bahkan gairah dan hasrat atau eh…libido yang ada boleh dikata makin menjadi ÔÇô jadi. Kamu nggak usah komentar, tapi mama bilang ke kamu, mama mencoba mengatasinya dngan bekerja keras, tapi tak terlalu ada efeknya. Akhirnya bermartubasi…eng pakai jari, juga…ehm…alat bantu….ya kamu nggak usah melongo gitu…ini hal yang wajar bagi wanita seperti mama yang diserang libido yang datang dan meningkat. Kalau nggak disalurkan atau sedikitnya diredam…wah bisa stress dan gila. Dan memang itu hanya bisa meredakan sedikit, bukan memuaskan secara tuntas. Nah sekarang kamu boleh komentar.ÔÇØ
ÔÇØDuh…gimana ya, Ray nggak nyaman dengarnya, seharusnya mama kalau curhat kayak gini sama teman perempuan mama saja atau sama tante Retno.ÔÇØ

Mama hanya nyengir mendengar jawaban Ray yanga agak kikuk itu. Lalu mulai kembali berbicara yang sedikit banyaknya akan mulai jantung Ray berdetak jauh….jauh lebih cepat dari detakan yang seharusnya….

ÔÇØBetul sih…tapi paling mereka hanya bisa membantu saran atau pendapat. Beda sama kamu, kalau kamu selain saran juga bisa membantu, jauh lebih baik dari mereka…ÔÇØ
ÔÇØMaksudnya apaan sih ma…Memangnya Ray bisa ngasih saran lebih baik dari mereka ?ÔÇØ
ÔÇØBukan mereka bisa saran…tapi beda sama kamu…kamu bisa membantu mama dengan eh…kont01mu.ÔÇØ
ÔÇØHAH…APAAN MA ?ÔÇØ

Ray merasa kupingnya salah dengar Apa benar mamanya barusan bilang membantu dengan kont01mu. Dia memandang mamanya….bingung, heran, kaget, juga berharap ia tak salah dengar.ÔÇØ

ÔÇØYa…kamu dengar kan, dengan kont01mu. Kamu jangan berpikir mama gimana gitu. Sederhana saja, mama mempunyai masalah. Tak ada penyaluran yang benar untuk masalah libido mama. Mama juga tak bisa atau tak mungkin sembarangan nyaripria buat eh ngewek sama mama, NO WAY. Awalnya mama ragu, tapi satu ÔÇô satunya solusi di mana mama bisa memuaskan hasrat mama yang tak tersalurkan, juga prianya mama kenal dan akan nyaman, ya cuma kamu. Itu juga mungkin lho…kalau…kalau kamu eh…nggak sungkan atau keberatan…ÔÇØ
ÔÇØDuh ma, kok jadi gini sih,,,,jelaslah Ray sungkan…nggak mungkinlah, apa kata dunia…ini mama lho…mama Ray, mana mungkin.ÔÇØ

Renita menatap wajah Ray, sesaat saja, lalu mati ÔÇô matian ia menjaga suara dan mimik wajahya agar tak tertawa. Bukan kenapa, saat dia melihat wajah anaknya, kelihatan banget kalau si Ray Cuma belagak Jaim, sok alim dan sok bersih.

ÔÇØYa…sudah, mungkin mama salah ngebahas hal ini sama kamu. Karena kamu juga sungkan, tak apa. Harap kamu simpan omongan ini ya. Ya sudah, kalau kamu ma pergi, silahkan. Oh ya kunci pintunya, mama mau tidur.ÔÇØ

Ray jelas BeTe, maksudnya mau ngerendahin diri ninggiin image, jelas salah total, malah sekarang mamanya sudah menutup peluang sangat ÔÇô sangat emas ini. Yang jelas akan sulit terulang lagi tawaran semenarik ini. Ia segera berkata….

ÔÇØEng…ma, setelah Ray pikir ÔÇô pikir, memang berat penderitaan mama menahan hasrat, rasanya pasti seperti mau bikin gila saja, jadi Ray pikir ÔÇô pikir….mungkin Ray bisa membantu….ÔÇØ
ÔÇØHahahaha…memang banyak gaya kamu Ray, sini….ÔÇØ

Ray mendekat, masih ragu dan sulit mempercayai semua ini. Renita memeluk anaknya, mendekapnya erat di dadanya, sesekali ia mengelus rambutnya…

ÔÇØBantu mama ya Ray, sudah terlalu lama mama nggak merasakan….jangan sungkan, mama yang memintamu, lakukan semaumu. Sepuasmu….kamu juga nggak usah memikirkan apapun, semuanya sudah mama pikirkan, segala macam resiko atau segala halnya tak akan menjadi masalah. Cuma kita berdua yang menjalaninya, tak akan ada yang tahu….ÔÇØ
ÔÇØI…iya ma…iya.ÔÇØ
ÔÇØKalau nanti kamu selesai dan mau keluar, keluarin saja sepuasmu di dalam, tak akan ada masalah.ÔÇØ

Ray masih menyenderkan kepalanya di dada mamanya. Merasakan nyaman dan besarnya tetek mamanya yang sangat ia bayangkan belakangan ini setelah mulai rajin mengintip. Paham Ray masih ragu, Renita segera memulai inisiatif. Dia melepaskan pelukannya. Dia berdiri, mulai menanggalkan dasternya. Ray hanya diam, mulutnya sampai menganga saking terpesonanya dia melihat tubuh telanjang mamanya dalam jarak sangat dekat. Hanya menyisakan CD putih saja. Sangat indah, tetek besarnya menggantung dengan sangat mempesona., perutnya juga rata, tebalnya CD mamanya…Ray meneguk ludahnya. Dalam diamnya, otaknya bahkan berani bilang kalau tubuh mamanya jaug lebih merangsang dari tubuh Dina maupun Eva. Ada pesona tersendiri, pesona wanita dewasa yang sudah sangat matang….sangat menggairahkan. Kont01nya sangat ÔÇô sangat keras sekali ia rasakan. Mamanya kembali berucap.

ÔÇØKamu siap….ayo…ÔÇØ

Ray segera berdiri, membuka bajunya, menurunkan celananya, sama seperti mamanya, ia hanya menyisakan kolornya saja. Perlahan ia mendekat ke mamanya, mendudukan mamanya di tempat tidur, tangannya dengan sangat gemetar mulai menyenuh tetek yang besar itu, mulai meresapi nyamannya, kenyal dan kencang. Perlahan mulailah ia meremasnya lembut, merasakan pentilnya yang perlahan membesar dan mengeras di telapak tangannya, memainkan pentilnya dengan sangat gema, pentil mamanya sangat besar melebihi besarnya pentil Dina, dengan gemas ia mendekatkan mulutnya, mulai menjilati dan mengulumnya perlahan, merasakan betapa besar dan enaknya pentil itu bermain dan bergerak di mulutnya. Mamanya mulai agak mendesah perlahan, merasakan tubuhnya seperti tersengat gairah yang besar. Keberanian Ray makin tinggi, satu tangannya segera mengarah ke CD putih mamanya, mulai mengelus dan meraba CD tebal itu. Terasa nyaman,, juga terasa tebalnya jembut di balik CD itu. Ia mulai menggosok ÔÇô gosok mengelus permukaan CD itu.

Renita mulai merasakan gairahnya terbakar, tangannya segera menjulur meremas ÔÇô remas tonjolan besar di balik kolor anaknya itu, meremas dan memainkannya. Ketika Ray mulai menyentuh CD-nya, tubuhnya bergetar, tangannya dengan tak sabar menyusup ke balik kolor Ray, menggenggam dan merasakan benda besar tersebut….tubuhnya seperti disiram dengan air yang segar…sudah lama ia tak menrasakan menggenggam kont01 pria…apalagi yang sebesar ini. Ray merasakan kont01nya digenggam tangan halus mamanya, namun ia belum merasa puas bermain dan merasakan nyamannya tetek besar milik mamanya ini

Ray segera berhenti sebentar, menidurkan mamanya dengan posisi tubuh miring, ia pun segera berbaring dengan posisi serupa, hanya terbalik, kepalanya kini berada tepat di atas selangkangan mamanya, mulutnya mulai menciumi CD mamanya, terasa harum, Renita juga kini berhadapan dengan selangkangan anaknya itu, melakukan hal yang sama dengan Ray, dan nyaris bbersamaan, keduanya dengan cepat telah melucuti CD pasangannya. Kini Ray diam sejenak, memandang terpesona, m3mek mamanya sangat menggoda dengan hiasan jembut lebat sekali dan hitam, sampai ke belahan pantatnya. Menutupi sedikit belahan m3meknya yang agak panjang. Dengan sangat pelahan mulutnya mulai menciumi dan menjilati rimbunan jembut yang menghiasi m3mek tersebut, sampai sedikit basah, lalu mulutnya segera menelusuri ke atas dan ke bawah belahan m3mek mamanya, yang masih rapat, karena geli dan nyaman dibelai dengan mulutnya, belahan m3mek itu perlahan mekar dan juga mulai basah. Dalamnya sangat merangsang Ray, Ray sampai merasakan kont01nya berdenyut menyaksikan lobang m3mek mamanya yang kemerahan. Bibirnya mulai menyapu dan menjilati permukaannya, menjilatinya dengan rakus, sesekali ia menusukkan lidahnya. Tak lama perhatiannya terarah ke it1l mamanya yang agak besar dan menonjol, segera saja lidahnya beraksi, menggoyangkan dan memainkan it1l tersebut, membuat mamanya semakin bergairah, tubuhnya mulai bergerak keenakkan.

Sementara itu Renita segera saja terdiam sesaat, matanya memandang dengan penuh gairah kont01 yang besar itu, yang kin berada tepat di depan wajahnya. Tangannya mulai mengelus dan meremas biji peler anaknya, mengurutnya lembut dan penuh erotisme, membuat Ray agak mengangkat pantatnya. Perlahan tangannya mengelus kepala kont01 Ray, memainkannya,sesekali tangannya juga mengocok lembut kont01 Ray. Setelah puas menggenggam dan memainkannya sebentar, Renita mulai membimbing kont01 itu, diarahkannya ke mulutnya, lidahnya menjulur keluar, mulai menari ÔÇô nari menjilati kepala kont01 tadi, lalu turun menjilati batangnya. Dahagany yang sangat tinggi membuatnya mulai menjilati kont01 itu dengan ganas, menelusuri dan membelai semua titik kenikmatan pada batang kont01 itu, membuat Ray agak mendesah di tengah kesibukannya menjilati it1lnya. Akhirnya mulutnya mulai menelan kont01 itu, sampai maksimal, mengocoknya pelan, mengemut dan menghisapnya dengan lembut sesekali juga dengan kuat, tangannya asik memainkan dan memijit biji peler anaknya. Hisapannya makin kuat ketika ia merasakan it1lnya yang kegelian enak saat dijilati Ray. Kont01 Ray pun tanpa ampun, ia hiap dan jilati dengan cepat, mengulumnya dengan cepat pula, sementara ia renggangkan kakinya selebar mungkin. Lama ÔÇô lama Renita merasakan kenikmatan yang didapati di selangkangannya sangat tinggi, ia mulai sering mendesah, melupakan hisapannya pada kont01 Ray, bahkan akhirnya ia hanya berbaring pasrah, menikmati dnmeresapi permainan lidah anaknya….

Ray kini tak hanya menjilati it1l tersebut, ketika dilihatnya lobang m3mek yang kemerhan dan sangat menggoda itu, jari tengahnya segera beraksi menyodoknya. Menyodokkan dan memompakan jari tengahnya secepat mungkin, lidahnya juga makin cepat menjilati it1l mamanya yang sudah membesar dan mengeras, pas dan nyaman di lidah. Kaki Renitapun makin melebar saja.

ÔÇØOoohhh…….Terrrusssss….Yangggg….ÔÇØ
ÔÇØAaahhhh…..gillaaaa……..enaaaaaakkkkk… ..ÔÇØ
ÔÇØSssshhh…….Awwww……Awwwww……ÔÇØ

Pantatnya terangkat, tubuhnya bergetar sesaat, akhirnya memuntahkan kenikmatan yang sangat terasa mengalir pada tubuhnya. Permainan lidah anaknya telah memberikan kenikmatan yang besar pada dirinya. Renita terkulai lemas, sementara Ray yang menyadari mamanya baru saja orgasme, segera menghentikan kegiatannya.

Ia mulai bersiap, mulai menindih tunuh telanjang mamanya, mamanya juga sudah bersiap dengan mengangkangkan kakinya, m3meknya sudah basah sekali, Ray bersiap…siap…meleset….lagi…dan blessss…kont01nya perlahan menerobos dinding ÔÇô dinding m3mek mamanya. Terasa masih sempit dan hangat juga nyaman.Ray membenamkan kont01nya, diam merasakan sensasi pertama kali ini. Renita sendiri merasakan m3meknya seperti dicabik, bukan dalam art sakit, tetapi dalam arti nikmat saat kont01 anaknya menerobos dan menydok masuk. Tubuhnya sampai bergetar. Ray mulai bergerak, memompa perlahan, merasakan kenikmatan m3mek tersebut, nyaman sekali. Lama ÔÇô lama sodokannya makin cepat. Renita mendesah, sangat ÔÇô sangat merasakan kenikmatan…kalau m3meknya ibarat sawah, maka sawah yang sangat kering dan lama tak dipakai….kini pintu irigasinya dibuka dan mulai mengairi. Kont01 Ray yang sedang bergerak memompanya seakan ÔÇô akan menggedor seluruh gairahnya, menariknya sampai batas maksimal. Mulutnya mulai mendesah, teteknya yang besar bergoyang, tangannya terangkat ke atas, matanya merem melek menikmati setiap hentakan dan sodokan yang ia rasakan.

Ray sambil tetap menyodok, memperhatikan saat tetek besar itu bergoyang, memperhatikan wajah mamanya yang mendesah sangat erotis, ketika mamanya mengangkat lengannya, nampak rimbunan lebat pada keteknya, nafsu Ray semakin menjadi, tangannya segera mengelus dan memainkan bulu ketek tersebut, kini mulutnya asik menciumi ketek lebat mamanya…aomanya sangat harum dan memberikan sensasi dan rangsangan sensual tersendiri, lidahnya asik menjilatinya, sodokannya makin kuat saja. Puas dengan ketek mamanya, mulutnya segera mebghisap pentil mamanya sekuat mungkin, membuat Renita mengerang makin terangsang…dan tanpa bisa dia cegah kembali mengalami orgasme. Ali ini jauh lebih dashyat, karena dialami saat menerima sodokan kont01 anaknya, bukan saat dijilati dngan lidah. Renita terkulai lemas, namun merasakan kenikmatan yang besar makin menjalar di tubuhnya. Ray yang tahu hal itu makin mempercepat saja sodokannya.

Ray merasakan kont01nya sangat nyaman, seakan dijepit erat dan dibelai lembut. Sungguh saat ini ia tak terlalu memikirkan untuk berganti posisi, terlalu menikmati moment yang sangat tak terduga ini. Kembali mulutnya bergerak, kali ini mencari bibir mamanya, bibir mereka bertautan, saling memainkan lidh masing ÔÇô masing, tangan Ray meremas kuat ÔÇô kuat tetek mamanya, pantatnya makin cepat brgerak, memompa kont01nya sedalam munkin, dia tak melepaskan ciumannya, terlalu enak….sodokannya makin liar, sulit baginya mengontrol birahinya saat pertama kali ini Ia masih sangat terangsang dengan kemolekan tunuh seksi mamanya. Pompaannya makin cepat menyodok setiap bagian dalam lobang m3mek mamanya, kaki mamanya sudah amat mengangkang….akgirnya ia merasakan siap mencapai klimaks, maka sambil tetap berciuman, ia memeluk erat tubuh mamanya, menghujamkan sedalam mungkin kont01nya….crooot…crooot…pejunya muncrat tanpa tertahan, menghanta kuat lobang m3mek mamanya.. Mamanya nampak bergetar merasakan sensasi yang sudah lama tak ia rasakan. Keduanya diam masih asik berciuman, akhirnya Ray mencabut kont01nya, berbaring lemas….ternyata hampir tak ada bedanya sama Dina, sama ÔÇôsama menguras energi. Mamanya masih diam, menikmati seluruh sensasi yang lama ia dambakan. Nampak peju Ray mengalir keluar dari lobang m3meknya…..tak lama mamanya mulai berbicara…

ÔÇØDuh…agak terpuaskan gairah mama…ÔÇØ
ÔÇØAgak…?ÔÇØ
ÔÇØIya dong….kalau baru sekali mana berasa sih….masih baru permukaannya saja dong.ÔÇØ
ÔÇØhahaha…terserah mama saja deh.ÔÇØ
ÔÇØTapi ingat ya…setelah ini, pasti hal ini akan berlanjut, mama hanya berharap kamu menjaga rahasia ini, jangan sampai orang lain tahu, apalagi kakakmu, mengerti…?ÔÇØ
ÔÇØI…iya ma.ÔÇØ
ÔÇØNah, sudah belum istirahatnya….sungguh mama merasa keputusan yang mama ambil sudah tepat. Daripada mama mencari kepuasan dengan lelaki yang asing, mendingan sama kamu saja. Kamu juga suka kan…? Ray…ayo kita mulai lagi….ÔÇØ

Dan sepanjang hari itu Renita benar ÔÇô benar menyalurkan semua hasrat dan gairahnya yang terpendam. Membebaskan semuanya, menyiramnya dan mengairinya dengan hantaman kenikmatan. Ray, anaknya sangat memuaskannya, sangat mampu menghapus dahaganya. Tak heran kalau Dina nampak sangat menikmati bermain dengan Ray, saat ia mengintipnya semalam.

Dan Ray sendiri, dengan amat senang hati dan tak keberatan membatalkan acaranya pergi. Ini jauh lebih penting. Dia tak terlalu memusingkan alasan mamanya atau segala macam tetek bengek lainnya. Dia memang mendambakan dan terpesona sama tubuh seksi mamanya. Kini…, bukan hanya melihat, ia bahkan bisa melakukan apapun semaunya dia….tak pernah terbayangkan.

Hari itu Ray telah melangkah dan mendobrak, melewati semua dinding batas yang terakhir. Juga Dina dan mamanya. Dinding hubungan yang telah dilanggar. Dalam kehidupan nyata di depan orang lain, maka semua akan nampak normal, namun saat terlindung di balik dinding kamar, maka batas itu menjadi tak ada. Ya…semuanya seperti antara ada dan tiada……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*