Home » Cerita Seks Kakak Adik » Antara Ada Dan Tiada 4

Antara Ada Dan Tiada 4

Ray masih asik membolak ÔÇô balik buku ÔÇô buku itu. Senang tapi pusing jadinya, iyalah….setumpukan begitu semuanya dilihat sekaligus. Ray akhirnya memutuskan akan membacanya satu per satu di saat senggang. Dia agak melemaskan tubuh, pegal, wah hampir jam satu. Segera ia membereskan buku ÔÇô buku tersebut. Mengambil rokoknya, ngerokok dulu pikirnya. Ia lalu duduk santai. Sumpah, kalau dari apa yang dia dengar dari anak ÔÇô anak, Ray hanya menyangka kalau Sarah itu paling hanya anak pengusaha yang sekelas suami tante Retno. Ternyata keliru sekali, bapaknya itu mah sudah masuk kelas pengusaha kelas super kakap. Salutnya penampilan Sarah biasa saja, malah dia nggak menggembar gemborkan diri sebagai anak orang tajir. Ray suka itu…bukan suka tajirnya, Ray suka sama Sarah yang sikapnya nggak sombong, mana baik ngasih dia buku. Ya…kenapa malah jadi mikirin Sarah….Ray segera mematikan rokok, meminum air yang tinggal setengah gelas. Nggak bagus kelamaan nganggurin senjata pikirnya…..

Ray membuka pintu kamar, melihat ke kamar mamanya, sepi….yakin aman, dia keluar, menutup kamarnya perlahan. Ray segera menuju kamar kakaknya. Dibukanya pintu kamar Dina, perlahan…lha si kupret….kirain sudah tidur. Ray melihat kakaknya lagi asik membaca majalah. Ray nggak pakai acara lama, langsung merebahkan diri di samping kakaknya.

ÔÇØNgapain loe…?ÔÇØ
ÔÇØAh loe Din, pakai nanya lagi…ÔÇØ
ÔÇØYeh…tadi siang kan gue sudah bilang nggak bisa…ÔÇØ
ÔÇØLah loe Din, ayo dong….ÔÇØ
ÔÇØGue mau saja, tapi gue lagi dapet nih, jadi nggak bisa.ÔÇØ

Duh apek benar nasib gue….pikir Ray dalam hati. Tapi tanggung banget sudah di sini. Ray tidak mau rugi, segera melanjutkan rayuan mautnya….

ÔÇØYa sudah deh, pas foto saja deh Din. Pas foto plus….ÔÇØ
ÔÇØPas foto…pas foto…loe kira foto studio…ÔÇØ

Yang dimaksud pas foto sama Ray itu adalah dia main dari wilayah pinggang ke atas, habis bagian bawahnya lagi berhalangan. Plusnya..ya itu di oralin. Karena Dina tetap cuek baca majalah, Ray segera beraksi.. Dia mulai mengganggu Dina, mulai meremas teteknya.

ÔÇØYe jelek, gue lagi baca nih….ÔÇØ
Loe baca saja, gue lagi cari kesibukan sendiri
reseh loe, mana bias baca kalau begini.

Akhirnya Dina pasrah, melempar majalahnya. Ray segera melucuti daster kakaknya. Tangannya mulai meremas tetek besar milik Dina dengan kuat, sambil memainkan pentilnya. Sementara Dina mulai mengelus ÔÇô ngelus tonjolan di celana Ray. Sekarang Dina sudah nggak menolak lagi buat mainin atau meng-oral kont01 adiknya ini, habis dia sudah tahu dashyatnya kont01nya si Ray sih. Ray mulai menghisap dan mengemut pentil kakaknya dengan kuat, Dina segera saja mulai kelojotan saat pentilnya dihisap dengan kuat. Pentil yang tadinya malu ÔÇô malu itu kini suah mengacung dan mengeras. Enak banget Ray memainkan dan menggoyangkan dengan lidahnya. Sesekali Dina mendesah nikmat. Tangannya mulai menyusup ke balik celana pendek milik Ray. Menggenggam kont01nya dengan erat. Ray mulai menjilati leher Dina, lalu juga menciumi ketek Dina yang bersih itu. Ray jadi ingat ketek mamanya.

ÔÇØDin…ketek loe jangan loe bersihin dong, biarin saja numbuh sampai lebat…ÔÇØ
ÔÇØAh jorok loe…ÔÇØ
ÔÇØYe…lebih seksi lagi, loe coba saja deh. Terserah loe sih, tapi benar kok menurut gue akan lebih seksi.ÔÇØ
ÔÇØAu ah…gimana mood gue saja. Sini, turunin celana loeÔǪ.ÔÇØ

Ray dengan sangat patuh segera memelorotkan celananya, kolornya juga. Kont01nya yang gede dan sudah sangat ngaceng itu segera menggantung dengan perkasanya di depan wajah Dina. Dina menatapnya dengan sangat antusias. Satu tangannya segera menggenggam kont01 adiknya itu, mulai membelai biji pelernya dengan sangat lembut dan erotis, sementara tangan yang lain, membelai kepala kont01 Ray dan lobang pipisnya. Perlahan Ray mulai merebahkan dirinya agak di pinggir ranjang.. Dina sambil tangannya tetap beraksi segera turun dari tempat tidur, fokusnya tetap pada pangkal selangkangan Ray.

Tangannya segera mengocok perlahan batang kont01 Ray. Agak lama ia memainkannya. Lalu akhirnya lidahnya mulai menjilati kepala kont01 Ray. Mengitarinya, sesekali memainkannya di lobang pipis Ray…ampuuunnn….Ray membatin keenakan. Lidah itu bergerak perlahan lalu mulai cepat. Kini menjilati batang kont01 Ray, menelusuri titik ÔÇô titik kenikmatan di batang kont01 itu dengan sangat erotis, membuat si pemiliknya hanya bisa mendesah dan merem melek sesekali. Akhirnya mulut Dina segera menelan kont01 Ray, mulai dari kepala kont01nya, akhirnya amblas sampai batangnya. Dihisap dan dikulumnya dengan telaten, gerakannya berirama, perlahan lalu cepat…perlahan lagi…sangat pas memainkan temponya. Sesekali Dina menghisap kont01 Ray dengan kuat, membuat Ray kelojotan…geli ÔÇô geli enak rasanya. Dina melepaskan kulumannya, kini lidahnya kembali menjilati biji peler Ray, mengangkatnya dengan tangannya, lalu lidahnya mulai menjilati bagian bawah biji peler adiknya itu, juga tak ketinggalan belahan pantatnya, sampai ke daerah sekitar lobang pantat Ray, gila…enak banget pikir Ray dalam hatinya. Sendinya terasa lepas saja menahan kenikmatan yang dia dapatkan dari jilatan lidah Dina. Puas menjilati, kembali Dina mengulum dan menghisap kont01 Ray, kali ini gerakannya sangat cepat. Batang kont01 Ray merasakan geli saat bersentuhan dengan bibir kakaknya ini. Dina makin ganas saja mengulumnya….Ray merasa sebentar lagi dia mau ngecret….

Lagi tanggung ÔÇô tanggungnya, Dina malah menghentikan hisapannya Ray mau protest, tapi nggak jadi karena Dina mulai menggenggam kont01 gede milik Ray itu, dia gesek ÔÇô gesekkan kont01 itu ke teteknya, ke pentilya yang sudah mengacung itu. Lalu kont01 itu diletakkannya di tengah belahan teteknya. Dina meludahinya sedikit, agar sedikit baah dan memudahkan gerakannya.Tangannya segera mengapit kedua sisi teteknya, mengepresnya dengan kuat, membuat kont01 Ray terjepit dengan kuat pula. Dina mulai memainkan tangannya, membuat teteknya bergerak naik turun, menggoyangkan teteknya yang besar itu. Ray merasakan kont01nya seperti dibelai dan dipijit. Nyaman sekali, teteknya sangat kencang dan kenyal. Sesekali kepala kont01 Ray dihisapnya. Ray sesekali mendesah, berbaring pasrah saja menikmati pijatan tetek yang nyaman ini. Agak lama kemudian ia merasakan denyut kenikmatan yang familiar di kont01nya….tanpa permisi lagi kont01 itu segera memuncratkan pejunya…putih dan kental, membasahi tetek Dina. Dina segera menghentikan gerakannya, membebaskan kont01 Ray dari jepitan teteknya. Tangannya sedikit menaikkan teteknya, lidahnya lalu menjilati peju Ray yang menempel di teteknya….gurih….akhirnya Dina menyeka peju yang tersisa dengan celana Ray. Diapun segera naik ke atas tempat tidur.

Ray masih berbaring saja, setelah agak lama ia duduk bersandar, Dina juga bersandar. Ray jadi iseng buat nanya ÔÇô nanya sama kakaknya

ÔÇØDin…gue nanya dikit dong…ÔÇØ
ÔÇØNanya apaan….tumben loe mau nanya…ÔÇØ
ÔÇØLoe kalau pulang kuliah emangnya ngelayap ke mana sih, kok kadang pulang malam, kadang malah nggak, nginep melulu…ÔÇØ
ÔÇØAh reseh deh loe, loe juga sering pulang malam.ÔÇØ
ÔÇØLha…gue sih laki, loe kan perempuan.ÔÇØ
ÔÇØItu bukan alasan, lagian itu urusan gue dong.ÔÇØ
ÔÇØYa sih, gue suka ngeliat kalau loe pulang yang nganterin loe itu cowok, sering gonta ÔÇô ganti, asal loe jangan suka sembarangan saja main sama banyak cowok, kayak waktu gue lihat loe lagi ngewek di sini….bisa bahaya.ÔÇØ

PLAK…..kaget banget Ray, memang sih selama ini dia sama Dina nggak akur, suka nyela ÔÇô nyelaan, suka cuek, kalau ngomomg suka asal saja, tapi nggak dia sangka kakaknya bakalan menggampar dia. Belum hilang kagetnya Dina sudah nyerocos, tentu saja suaranya pelan, takut mamanya dengar…

ÔÇØHeh…, loe pikir gue piala bergilir apa, loe bilang sama banyak cowok. Gue nggak separah itu. Memang gue suka gaul sama banyak orang, teman cowok gue juga banyak. Tapi bukan berarti gue ngewek sama semuanya. Soal begituan emang gue nggak munafik, gue suka ngelakuin, tapi nggak dengan gonta ÔÇô ganti cowok seenaknya. Dengan loe ngelihat gue waktu itu lagi ngewek di sini, jangan loe berasumsi sembarangan dong. Kalau gue ngelakuin, itu sama pacar gue.ÔÇØ
ÔÇØIya Din…gue juga belum kelar ngomong tadi. Loe sudah nabok duluan..Intinya sih, soal loe mutusin mau gituan sama siapa itu urusan loe, cuma gue juga ngingetin loe agar berhati ÔÇô hati, jangan sampai sembarangan, kebablasan, kalau loe hamil kan bisa bikin mama malu.ÔÇØ
ÔÇØTumben loe perhatian…ÔÇØ
ÔÇØYa walaupun gue sering nyela loe, suka cuek, loe kan tetap kakak gue, wajar kan kalau gue sesekali peduli.ÔÇØ

Dina menatap Ray, tumben lempeng otaknya bih anak, rada menyesal juga dia sudah nabok Ray. Habis memang si Ray suka ngomong yang nyebelin sih. Lagian tadi cara ngomongnya si Ray itu juga salah, memang seperti mengasumsikan dia suka sembarangan ngewek sama banyak cowok. Tapi paling tidak dia sudah nunjukkin perhatian, sesuatu yang jarang dia lakukan pikir Dini. Lagian memang sih selama ini juga Dina nggak terlalu terus terang tentang kegiatannya.

ÔÇØRay, memang gue untuk urusan seks termasuk bebas, tapi kalau gue melakukan, itu pasti dengan cowok gue, cowok yang gue suka. Buat amannya juga gue double pelindungnya. Gue minum pil KB. Cowoknya juga harus pakai kondom. Kalau nggak pakai kondom, gue nggak mau.ÔÇØ
ÔÇØLha…kok gue kagak pakai Din…?ÔÇØ
ÔÇØLoe mah terlanjur, waktu pertama kan loe maksa, lagian kagak ada persiapan. Beda kalau gue mau main sama cowok gue, sudah sedia kondom. Kalau loe sih memang reseh sih, sudah kebablasan nggak pakai kondom. Nggak kenapa deh, Cuma loe saja yang gue kasih ngewek sama gue nggak pakai kondom.ÔÇØ
ÔÇØMemang enakkan polos sih Din.ÔÇØ
ÔÇØDasar. Terus memang gue kalau pulang suka dianterin sama banyak teman gue yang cowok. Tapi gue nggak gampangan, nganterin bukan berarti tuh cowok pada ngewek sama gue .Loe ingat itu.ÔÇØ
ÔÇØIya…iya…gue minta maaf sudah salah ngomong. Terus kenapa loe sering pulang malam atau malah nginap…?ÔÇØ
ÔÇØGue kasih tahu, tapi loe jangan bilang mama. Gue biar negini ÔÇô begini juga nyambilan, ikut teman gue yang cewek. Dia punya usaha. Gue sering bantuin kalau dia lagi ada job lumayan banyak. Lumayan buat nambahin duit jajan, juga bisa buat belajar cari pengalaman.ÔÇØ
ÔÇØOh gitu…nggak nyangka…reseh ÔÇô reseh gini otak loe boleh juga…ÔÇØ
ÔÇØLoe memang suka banget nyelain orang ya. Sudah sana deh, kan sudah ngecret, balik ke kamar loe. Gue mau lanjutin baca majalah, ganggu saja.ÔÇØ
ÔÇØOke…thanks ya….nanti kalau sudah selesai, harap anda berkenan melapor, biar aku bisa mengabsen m3mek anda, sekian dan terimakasih…ÔÇØ
ÔÇØItu mah memang mau loe, jelek….ÔÇØ

Ray kemudian memakai celananya, dan….suatu hal yang jarang ia lakukan, ia mengecup pipi Dina sebelum keluar dari kamarnya. Sebelum keluar, ia melihat situasi…aman…dia pun segera menuju kamarnya, kembali membaca buku…lebih konsentrasi setelah barusan sudah ngecret….

Sementara Ray yang sudah lega dan kini konsentrasi membaca, Sarah sedang berbaring di kamarnya, tak bisa tidur, hatinya terlalu senang hari ini. Biarpun Ray datang ke rumahnya karena tertarik meminjam buku, tapi paling tidak bagi Sarah itu sudah suatu kemajuan besar. Sebagai bonus, ia bahkan bisa berkunjung ke rumah Ray, dan mengenal mama dan kakanya yang baik dan ramah. Sarah lalu mengingat kembali saat ia masih kelas 2 SMA dulu. Ia sekolah di SMA negeri favourite di Jakarta ini. Banyak anak orang kayanya di sana. Tapi Sarah sedikit malas bergaul sama mereka, terlalu lebay menurutnya. Bertemannya diukur dengan status, sering membandingkan atau membicarakan hal ÔÇô hal yang tinggi saja. Juga Sarah di masa itu sedang tidak akur sama papanya. Papanya terlalu mengatur, semuanya sudah ditetapkan, harus begini, harus begitu, ikut les ini, ikut les itu, bahkan kuliahnya nantipun sudah ditetapkan musti kemana dan jurusan apa. Sarah tentu saja berontak, mulai sering membantah, sering berdebat sama papanya. Dia mulai serig jalan sama temannya, kebanyakan anak ÔÇô anak golongan menengah ke bawah, hal mana yang membuat Sarah nyaman. Suatu hari temannya yang cewek mengajak Sarah ke pacarnya, yang juga sering nongkrong di tempat Ray. Sarah mau saja ikut. Saat itu dan beberapa kali sesudahnya, Sarah belum ketemu Ray. Sarah merasa enjoy, kayaknya asik banget ngumpul sama mereka. Dan setelah mulai akrab an lumayann banyak kenal, Sarah bahkan memberanikan diri datang sendiri tanpa temannya. Sarah sebisa mungkin tidak menampakkan dan menonjolkan identitasnya. Kalaupun ia membawa mobil, ia tak akan ngomong, parkir di basement mall. Itupun jarang, ia lebih sering naik bus. Dan akhirnya suatu hari ia melihat sosok remaja pria yang belum pernah ia lihat.

Dan Sarah masih ingat sekali, saat ia melihat sosok itu, hatinya bergetar, penasaran, sosok itu berbeda dengan sosok teman ÔÇô temanya selama ini. Gayanya sangat cool, nggak banyak omong, memancarkan pesona juga kharisma tersendiri. Wajahnya pun tampan, tapi si pemiliknya sepertinya tak terlalu memperdulikan hal itu. Ya…, sosok itu adalah Ray. Sarah sangat terpesona. Dan tanpa ia sangkal, ia merasakan dirinya jatuh hati pada Ray. Sayangnya hanya satu arah. Ternyata setelah Sarah sudah mulai mengenal Ray, ia mendapatkan fakta bahwa Ray sudah memiliki pacar. Dan itu hanya membuat Sarah makin penasaran. Banyak pria akan berlomba mengejarnya setiap kali ia menebarkan pesonanya, tapi tidak pada lelaki ini. Terlalu cuek, angkuh dan seenaknya. Itu malah makin membuat Sarah penasaran. Makanya hari ini ia sangat berbahagia, karena bisa membuat topik pembicaraan yang akhirnya bisa membuka diri Ray.

Soal hubungannya yang tak akur dengan papanya…? Akhirnya memang papanya setelah melihat anak putri satu ÔÇô satunya, anak bungsunya mulai sering berdebat, sering pulang malam, juga mengabaikan semua kegiatan les yang ia perintahkan, papanya mulai intropeksi, mulai menyadari kekeliruannya. Sedikit demi sedikit ia mengalah pada Sarah. Dan kini Sarah sudah kuliah di sebuah universitas swasta elite, jurusan bisnis, sekarang awal tingkat 2. Biasanya kuliahnya pagi samapi siang hari. Sebenarnya papanya mau mengirimnya kuliah di luar negeri. Mana Sarah mau, pria idaman dan pujaannya ada di sini. Dia harus berjuang menaklukkan keangkuhan pria yang bernama Ray itu. Sarah pun akhirnya tertidur dengan seutas senyum di bibirnya, memimpikan pangerannya.

Keesokan harinya, Minggu, Ray memutuskan tak keluar rumah,terlalu asik tenggelam dalam buku ÔÇô buku komputernya, ia bahkan meminjam laptop kerja mamanya, untuk praktek. Mamanya tentu saja senang, semoga saja anak ini benar ÔÇô benar tergugah motivasinya.

Dua bulan berlalu setalah itu. Tak ada yang terlalu spesial. Kini tabungannya sudah cukup, Ray sedang serius memutuskan mencari motor. Selain itu paling Ray agak sedikit BeTe, belakangan Eva jarang sekali ketemu dengannya. Kuliahnya mulai sibuk. Buku ÔÇôbukunya walau lumayan banyak dan tebal ÔÇô tebal, sudah hampir rampung ia baca. Memang kalau sejalan dan juga suka, dibacanya juga enak. Dengan Sarah juga tetap seperti biasa, Ray masih menganggapnya teman saja. Walau sudah tahu betapa sangat kayanya Sarah, tapi Ray tak silau. Kalaupun ada yang baru, di tongkrongannya ada anak baru, Ray nggak tahu siapa atau bagaimana ceritanya anak ini bisa sering ikut ngumpul. Juga siapa yang bawa, yang pasti itu anak mulai sering nongkrong. Dipanggilnya Si Bronk, sekitar 21 atau 22an, tapi wajahnya nggak menunjukkan umur. Wajahnya jauh lebih boros dari umurnya. Dan ini yang Ray nggak suka, kabarnya ini makhluk adalah pengedar sekaligus pemakai. Entah benar atau tidak, Ray tak tahu. Anak ini rada kerempeng. Sekitar badannya penuh tato…gila banget tatonya……ada tato donal bebek, miki mouse,gufi, pluto, mungkin si Bronx ini penggemar berat Disney . Yang hebat tatonya di pundak sebelah kanan…tatonya berupa….bayam seikat. Kabarnya waktu lagi teler berat, si Bronk ke tukang tato. Tukang tatonya sangar dan gempal badannya. Si Bronk minta dibikinin tato popeye. Dia segera membuka baju buat ditato. Nggak sampai 3 menit kelar, tapi kok tatonya malah bayam seikat…? Rupanya tukang tatonya kagak tahan sama bau badan si Bronk, daripada kelamaan bikin tato popeye, ganti saja sama tato bayam seikat, sama saja, popeye kan makan bayam. Si Bronk amau protest juga takut ngelihat tukang tatonya sangar. Tapi terlepas dari masalah tato, Ray mengingatkan Panjul dan Deden agar jangan terlalu akrab, apalagi sampai make bubuk.

Kebiasaannya mengintip mamanya mandi juga sudah rutin ia lakukan, setiap saat memungkinkan. Bahkan ia mengakui, sedikit banyak ia mulai sering berkhayal dan mulai terobsesi sama tubuh mamanya. Dan hubungannya dengan Dina, makin seru dan lancar. Memang Dina nggak setiap waktu pulang, tapi setiap kali ada di rumah dan tak sedang halangan, bisa dipastikan malam hari akan selalu menjadi malam yang panas dan penuh gairah bagi mereka berdua, seperti malam ini….

ÔÇØAww….terus Ray…tekeeennn….ÔÇØ
ÔÇØSampeeeee….pooollll….Ooohhh….ÔÇØ

Tubuh telanjang Dina bergoyang dengan kuat, sementara Ray masih asik saja menyodok m3meknya. Baru saja mereka memulai. Ray memompakan kont01nya dengan santai, sambil mengamati tetek kakaknya yang bergoyang pelan. Pentilnya yang mengacung dan kecoklatan itu amat mengundang, segera saja ia sedikit menunduk, mulai menghisap pentil tersebut, menjilatinya, lalu menghisapnya kembali dengan kuat. Dina menggeliat, pentilnya sangat sensitif terhadap hisapan yang agak kuat. Pantatnya bergoyang menahan kenikmatan yang sedang menjalar. Ray mulai mempercepat sodokannya, kini mulutnya berganti sasaran, sedang menciumi ketek Dina. Dina seperti permintaannya mulai membiarkan keteknya tumbuh, sekarang masih halus dan jarang. Ray asik mencium dan menjilatinya, membuat Dina agak terkikik geli. Kont01nya masih dengan nyamannya keluar masuk, terasa nyaman dalam balutan cairan yang licin dan hangat. Ray terus saja menyodok dengan sangat berkonsentrasi. Sesekali ia aga menggoyangkan pantatnya. Dina sendiri mengangkat kakinya, melebarkannya. Membuat terobosan kont01nya makin mulus. Ray mulai mencari bibir hangat kakaknya, dengan tak sabar ia menciumnya, lidah mereka bertautan dan saling sedot menyedot, sensasinya sampai menambah nafsu, Ray menyodok dengan kuat dan cepat, membuat Dina kewalahan dan mulai mendesah agak terengah ÔÇô engah, matanya merem melek, karena sodokan yang tiba ÔÇô tiba saja dipercepat oleh Ray. Ray bukannya memperlambat, melihat ekspresi wajah Dina yang nampak sangat mesum itu ia menyodok semakin gila….Dina sampai sulit bernafas, m3meknya seperti diserang serangkaian kenikmatan yang tanpa henti, tangan Dina menggapai, memeluk pundak Ray kuat, pantatnya sedikit terangkat, erangannya agak kuat, lalu dengan mengejangkan tubuhnya, Dina menyemburkan cairan orgasmenya.

Renita terjaga dari tidurnya, dilihatnya jam…jam 1 lewat, lumayan lama ia sudah tidur. Ia tadi tidur jam 9an, karena tadi di kantor ia sangat sibuk, sehingga lelah sekali saat pulang. Di rumah, setelah mandi dan makan sedikit ia langsung tidur. Ia melirik meja kecil di sampingnya mau mengambil minuman…oh tadi sebelum tidur ia minum tiga perempatnya, kini sisa sedikit, ia meminumnya, masih merasa haus, ia diam sejenak menunggu samapai agak fokus, akhirnya ia turun, segelas air es…lalu tidur kembali pikirnya. Dibukanya pintu kamanya. Ia menuju kulkas dan menuang air es ke gelasnya, diminumnya perlahan…segar pikirnya. Setelah habis ia isi kembali untuk di kamarnya nanti. Ah…perutnya agak lapar, memang tadi cuma sekedarnya saja ia makan. Ia menuju meja makan, ya…nggak ada apa ÔÇô apa. Akhirnya ia duduk sebentar di meja makan. Ditaruhnya gelasnya. Pandangannya menyapu ke sekitar, lho kenapa kamar si Ray tidak tertutup rapat. Dia pun segera berdiri, mau merapatkan kamar anaknya. Sekalian ia melihat ke dalam, mengecek apakah Ray sudah tidur atau belum…lho kok kosong. Renita mengingat sebentar, tadi waktu aku pulang, anak itu ada sedang menonton TV. Kalau jam segitu ia sudah di rumah, berarti ia tak keluar lagi…kemana anak itu sekarang ? Apa tadi sewaktu dia tidur, anak itu pergi keluar lagi…dasar keluyuran terus. Renita agak heran, segera menutup kamar Ray. Baru saja ia melangkah, mau mengambil gelas dan kembali ke kamarnya, telinganya menangkap suara erangan agak tertahan. Suara apa itu pikirnya, sepertinya dari kamar Dina. Curiga ia membatalkan mengambil gelas, perlahan menuju pintu kamar Dina. Ketika sudah agak dekat, telinganya menangkap suara ÔÇô suara, meski pelan tapi terdengar, seperti suara tempat tidur yang agak berbunyi, lalu suara seperti….seperti…dia tentu saja sudah tahu arti suara seperti ini…suara desahan, suara orang yang berhubungan seks. Astaga…apakah Dina membawa pacarnya atau teman prianya. Tak bisa dibiarkan pikirnya kesal. Ia lalu agak berjongkok di depan pintu kamar Dina, matanya mulai mengintip lobang kunci yang tak memiliki anak kunci itu. Pertama matanya belum terbiasa dan fokus, lalu matanya mulai melihat pasangan yang sedang bersetubuh. Sang pria nampak sedang menindih tubuh perempuan di bawahnya, wajahnya tak terlihat, terhalang tubuhnya, sementara wanitanya jelas sekali itu Dina. Penasaran Renita terus mengintip, menyaksikan saat si pria menyodok m3mek Dina. Mata Renita terpaku pada bagian selangkangan kedua pasangan itu, walau tak terlalu detail, namun cukup jelas saat kont01 pria itu yang sepertinya agak besar sedang bergerak keluar masuk memompa m3mek Dina yang sementara itu mengangkat dan melebarkan kakinya. Makin lama melihat Renita mulai merasakan gairahnya terbakar, bahkan ia merasakan secara pasti m3meknya mulai basah. Tanpa sadar kini tangannya malah mulai mengelus dan membelai permukaan CD-nya, dari perlahan lalu semakin cepat. Jarinya mulai mengelus dan memainkan belahan m3meknya di balik CD-nya, lalu tangannya mulai menyusup ke balik CD-nya, gerakannya masih sama hanya mengelus dan membelai belahan m3meknya, yang mulai mekar dan basah. Sementara matanya terus mengintip, makin lama pasangan yang diintipnya semakin panas saja gerakannya. Renita pun makin bergairah, dengan cepat akhirnya CD itu pun sudah lepas, kini jarinya mulai membelai dan mengusap daerah sekitar lobang m3meknya, sementara tangan satunya mulai memegang dan meremas sendiri teteknya yang besar itu. Akhirnya jarinya mulai menyodok lobang m3meknya, ia memakai jari tengahnya menyodok ÔÇô nyodok m3meknya. Jari dari tangan yang lain dipekerjakan untuk mengurus it1lnya. Nafasnya mulai memburu, agak menggigit bibirnya, menahan agar desahannya tak terdengar. Tak puas dengan hanya jari tengah, kinijari telunjuknya ikut bergabung, m3meknya kini ia sodok dengan memakai dua jari, baru ia merasa lebih kena dan lebih nyaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*