Home » Cerita Seks Kakak Adik » Antara Ada Dan Tiada 2

Antara Ada Dan Tiada 2

Siang itu seperti biasa Ray sudah asik dengan kelompoknya. Kelompoknya ini sebenarnya bebas, siapa saja yang merasa senasib, silahkan bergabung. Walau banyak yang ngumpul, tapi masing ÔÇô masing punya CS tersendiri, Ray dengan Panjul dan Deden. Deden sendiri anak golongan menengah, Cuma jarang pulang, ribut melulu sama bapaknya, terlalu banyak memaksakan keinginan. Panjul dari golongan ke bawah, anak paling besar, adiknya banyak, dari SMP sudah mandiri, bahkan sekarang kost, malas pulang, kost dekat mall sini, Ray sering ke sana, tidur ÔÇô tiduran atau juga nginap. Kostnya si panjul di kawasan padat, orangnya asik semua, dan tak terlalu eduliin urusan orang. Memang mereka sering mabuk, malak, ribut, tapi buat yang namanya serbuk, nggak. Nggak ada aturan atau larangan, tetapi sejauh ini nggak ada yang terlibat nyabu atau mutaw. Dulunya Ray nggak satu sekolah sama mereka, bahkan sering tawuran, terus karena sudah hapal muka masing ÔÇô masing, kalau ketemu di bis jadi akrab. Iyalah, tawuran kalau lagi rame ÔÇô rame, kalau ketemu biasa, sendiri ÔÇô sendiri, nggak bakalan deh tawuran. Mulai deh sering ngobrol, ngerokok bareng, akhirnya mulai akrab, lama ÔÇô lama ngerasa klop dan akrab. Sekarang Ray dan Deden lagi tidur ÔÇô tiduran di tempat Panjul, baru kelar nyari duit, agak lumayan, walau tak sebesar kemarin. Hari ini Ray nggak jemput Eva, tadi Eva SMS, ada kegiatan apa gitu di kampusnya, Ray kagak begitu paham. HP- Ray bunyi lagi, Ray ngebaca SMS, dari Sarah. Ray membalas agak malas.

Sarah itu anak yang suka nongkrong sama mereka. Sama, sudah lulus SMA, apa kuliah atau kerja Ray juga tak paham. Sudah lama Sarah ngejar ÔÇô ngejar Ray. Tapi Ray nggak terlalu nanggapin. Eva sendiri pernah sekali ngebaca SMS Sarah, cemburu, tapi Ray meyakinkan, dia nggak ada hubungan apapun. Memang terkadang lelaki seperti Ray sulit dipahami, seperti mempunyai magnet bagi kaum hawa. Padahal bandel ya…

Ray lagi asik mendengar lagu slow rock dari tape abal – abal Panjul. Tiduran sambil merokok, Panjul sama Deden asik ngobrol sambil ngopi. Terdengar pintu diketuk. Panjul membuka pintu, tak lama Sarah masuk…tuh kan, salah gue tadi balas SMS bilang lagi di sini pikir Ray. Ray cuek, masih asik dengan santainya dan juga dengan lagu dari tape. Panjul dan Deden tetap asik ngobrol, agak di pojok, biar tak mengganggu. Sarah duduk di pinggiran kasur, kasur Panjul cuma kasur digelar di atas karpet tipis. Diam, sesekali melirik ke Ray. Pikirannya mengembara, sulit benar membuat lelaki ini tertarik. Padahal nggak sedikit lelaki yang mau jadi pacarku, tapi lelaki ini begitu seenaknya dan nggak peduli sama aku..Sarah membatin. Akhirnya ia membuka suara.

ÔÇØLoe sudah makan Ray…?ÔÇØ
ÔÇØHah…Apaan…?ÔÇØ
ÔÇØSudah makan…?ÔÇØ
ÔÇØBelum…nanti saja.ÔÇØ
ÔÇØBagi rokoknya dong…ÔÇØ
ÔÇØAmbil saja, tapi loe tahu kan rokok gue bukan rokok putih yang biasa loe hisap.ÔÇØ
ÔÇØNggak apa, rokok gue habis…ÔÇØ
Ya sudahambil saja.

Ray mengamati Sarah yang sedang menyalakan rokok. Sebenarnya anak ini manis dan menarik. Ray nggak akan mengomentari kebiasaannya merokok, nggak ada hubungannya. Itu hak masing ÔÇô masing Perempuan yang merokok bukan berarti karakternya jelek, kadang yang kelihatan alim, malah sebenarnya lebih rusak. Itu masalah pribadi. Ray sendiri nggak begitu paham latar belakang Sarah, tiba ÔÇô tiba saja gabung di tongkrongan, karena kenal sama salah satu anak sini, dari yang dia dengar dari anak ÔÇô anak, katanya sih anak pengusaha hebat, cuma karena Sarah nggak gitu akur sama bapaknya karena sesuatu hal makanya ia mencari pelarian. Ya, memang masih misterius sih asal ÔÇô usul Sarah, tapi bukan urusannya. Ray bukannya munafik, sebagai wanita, Sarah memang cantik dan menarik, sebelas duabelas lah sama Eva. Tapi Ray buat urusan pacaran sama Eva, termasuk tipe setia. Baginya Eva adalah segalanya, dunianya, pelitanya, yang bisa mengerti dan memahaminya. Ray nggak mau memberi harapan kosong pada Sarah. Sarah nampak menghembuskan asap rokok, sadar diperhatikan Ray…

ÔÇØKenapa….ada kotoran di muka gue..?ÔÇØ
ÔÇØNggak…ngeliatin saja, takut loe batuk, rokok gue kan berat.ÔÇØ
ÔÇØRokok yang mana…? Yang ini apa yang coklat gede…?ÔÇØ
ÔÇØNgaco ah loe…ÔÇØ

Kembali diam, cuma suara musik yang terdengar, Panjul sama Deden masih seru dengan obrolan mereka, biasa paling ngebahas cewek. Ray mematikan rokoknya, meminum kopi jatahnya, lalu duduk. Sarah kembali memandangnya…

ÔÇØRay…temani gue yuk, lapar nih, pleaseee….ÔÇØ
Hmmmoke deh, makan apaan..? Traktir ya.
ÔÇØTerserah loe deh. Beres.ÔÇØ
ÔÇØTuh bocah dua diajak nggak…?ÔÇØ
ÔÇØKalau mau, ya ikut saja.ÔÇØ

Tapi Panjul dan Deden menolak, mungkin nggak mau ganggu, tapi tentu saja nggak nolak kalau dibeliin bungkusan, malah berharap. Akhirnya kami pergi. Ray mau karena dia mulai lapar dan juga memang nggak ada kegiatan. Sarah mentraktir makan Ayam… (sori takut dikira promosi ) di dalam mall. Kini mereka asik menyantap makanan sambil ngobrol.

ÔÇØRay..malam minggu ada kegiatan nggak…? Main ke rumah gue yuk…ÔÇØ
Wahsori Sar, gue belum tahu sih, tapi kayaknya nggak bisa, mau pergi sama Eva.
Pacar loe? Kenalin dong
Eng.maybe next time
Promise?
Nggak lah yauw.
Geblek..

Cukup lama kita ngobrol, walaupun sudah kelar makan, rada sepi sih, lagian pegawainya juga sudah pada hapal tampang kita, biasa sering nilepin asbak hehehe. Akhirnya kita bangun, pegawai membersihkan piring sambil melihat apakah asbak masih ada atau tidak. Sarah kembali ke counter beliin paket yang dibungkus buat Panjul sama Deden.

Tak lama kita sudah balik, diketok nggak dibuka, untung nggak dikunci, 2 bocah itu sedang tidur dengan mesranya. Cepat sekali bangunnya begitu cium bau ayam. Kelar nungguin 2 anak rakus itu makan, akhirnya kita sepakat main billiard, tempat biasa langganan, nggak jauh dari sini, jalan kaki sebentaran doang. Nggak jago ÔÇô jago amat, just for fun saja.

Nyari meja yang agak sepi di bagian pojok., cuma kita bertiga yang main, Sarah duduk nungguin, di meja sebelah, ada 4 anak tanggung juga lagi main, anak luar, baru pernah lihat. Rada reseh, 4 orang. Tahu main di daerah orang, gayanya nyebelin, berisik, bacotnya kayak di pasar saja, bahkan mulai godain Sarah. Panjul mulai gerah. Aku menahannya, main saja, biarin cuma godain. Mungkin merasa mereka ber 4, lebih banyak, juga kita diam, makin kurang ajar. Mulai dekat  dekat Sarah, terus nyolek  nyolek, Sarah risih, menepis, kagak jera juga malah makin iseng, temannya satu oang ikutan juga, Its Showtime..

Cingloe sopan dikit dong main di wilayah orang

Selesai ngomong, bogem melayang, kejengkang deh tuh anak nggak tahu diri, temannya kaget, menyerbu, Panjul sama Deden, langsung beraksi. Bukan lawan sepadan, sebentar saja ke 4 reseh itu bergeletakan di lantai. Terdengar suara ribut ribut.anak  anak datang

Kenapa Ray? Den?
Biasalupa tempat, main di rumah orang tapi ngelunjak.
ÔÇØLoe pada nggak kenapa…?ÔÇØ
ÔÇØSip…bawa keluar deh, enek ngelihatnya…eh tanya dulu tuh sama si Rini, berapa bonnya nih cecunguk, ambil dari dompetnya, bayar, kasihan nanti si Rini nombok.ÔÇØ

Anak ÔÇô anak segera mengangkat ke 4 onggokkan yang malang itu, yang kini stress berat, menanyakan pada Rini, yang bertugas di meja billiard mereka, lalu mengambil uang mereka, buat bayar. Tak ada kerusakan. Sekarang terserah anak ÔÇô anak deh. Panjul sama Deden ikutan, belum puas olah raga. Aku membayar bon dulu, sudah malas mau main.

ÔÇØRay…makasih ya…ÔÇØ
ÔÇØNggak usahlah, sudah sepantasnya kok Sar. Loe masih mau di mari, gue mau ke depan nih.ÔÇØ
ÔÇØNggak…ikut.ÔÇØ

Akhirnya setelah selingan olah raga tadi sore, malamnya, kembali kita nongkrong, gitaran, ngobrol, nyawer, biasa ngoplos. Sarah sudah pulang. Jam 11 pulang, agak goyang, tadi nebeng dibonceng Dedi, yang searah. Ray mencari kunci pintu di celananya, masuk dan mengunci pintu. Sudah hilang pengaruh minumannya. Sepi, sudah pada tidur, besok Sabtu, mama libur. Perlahan dia mengendap ke kamar Dina….sial…kosong, nggak pulang tuh anak, nginap apa malah ngamar di hotel…? Sudahlah…tidur saja.

Besoknya, Ray bangun, asik makan, kalau mama nggak ngantor, pagi baru ada sarapan. Mama nampak asik menonton TV.

ÔÇØPulang jam berapa kamu semalam Ray..?ÔÇØ
ÔÇØEng…jam 11an..ÔÇØ
ÔÇØNggak bosan setiap hari begitu…keluyuran nggak jelas.ÔÇØ
ÔÇØMama juga nggak bosan apa nanya melulu hehehehe. Si Dina mana ma…?ÔÇØ
ÔÇØTumben nanyain, biasanya kayak anjing sama kucing. Semalam telepon, nginap di temannya. Kamu siang ini jangan ke mana ÔÇô mana, tolong anter mama ke rumah tante Retno.ÔÇØ
ÔÇØUgh…sendiri saja deh…ÔÇØ
ÔÇØNggak…mama minta kamu antar.ÔÇØ

Paling malas gue ke sono, orangnya reseh, sombong, nyela melulu. Dia itu adik mama, suaminya kaya, makanya sering ngelecehin gue banget. Tante Retnonya maksud gue, bukan Om Gani suaminya, kalau suaminya mah biasa saja. Anaknya satu, si David, baru masuk SMA. Dikirim ke Omnya di Surabaya. Omnya itu adik bapaknya. Katanya sih sekolah di sana bagus, padahal alasan, si David itu bandel, gue tahu banget, nggak keawasin, makanya ditaruh di sana, biar ada yang ngawasin. Akhirnya Ray cuma bisa merengut. SMS Eva dulu, nanyain, takut dia ngajak jalan. Akhirnya mama bangun dari sofa, mematikan TV, mau mandi. Timbul niat burukku. Sejauh ini Ray memang tak pernah mengintip mama atau kakaknya mandi, walau sebenarnya kalau dia mau bisa, Kamar mandinya tutup pintunya yang model beli jadi, seperti alumunium, ada bagian yang renggang dan sangat nyaman untuk mengintip. Ray pernah melihat sekilas, sewaktu ia mandi. Mungkin mama dan kakaknya juga tahu, tapi nggak khawatir, toh tak ada orang lain di rumah ini. Tapi karena selama ini Eva sudah memenuhi semua hasratnya, Ray nggak pernah kepikiran buat mengintip. Tapi kemarin dia tak main, malamnya Dina nggak ada, kont01nya merana. Ide itu melintas begitu saja, menggodanya.

Tak lama mama keluar dari kamar, melenggang, handuk dan sabun semua ada di kamar mandi. Ray pura ÔÇô pura asik merokok dan melamun di meja makan. Mama menyalakan lampu kamar mandi, lalu menutup pintu kamar mandi, terdengar suara selot dikuncikan…Wussshhhh…..secepat kilat Ray melesat. Dengan hati ÔÇô hati Ray mengendap, di mana lobangnya…itu dia. Ray mendekatkan matanya, mamanya masih memakai daster, nampak sibuk mengambil sikat gigi, memberi odol, menaruhnya di pinggiran, lalu……tangan mamanya mulai menyentuh dasternya, mengangkatnya…..jantung Ray berdebar dan berdetak lebih cepat….perlahan daster mulai teragkat, nampak CD hitam mamanya, lalu..perlahan ke atas lagi…nampak 2 gunungan besar menggantung indah, nampak oleh mata Ray, ternyata bulu ketek mamanya sangat rimbun. Akhirnya mamanya hanya ber CD saja, mamanya melempar dasternya ke lantai. Tampak tangan mamanya seperti menepiskan sesuatu dari teteknya, mungkin potongan benang, tetek besar itu tampak sedikit bergoyang, Ray terpesona melihat besar dan juga pentilnya yang menantang dihiasi lingkaran coklat yang lebar. Selama ini tak pernah Ray melihat tetek mamanya sebebas ini. Lalu perlahan mamanya menurunkan celana dalamnya, astaga….rimbunan jembut lebat nan hitam menghiasi m3mek mamanya, samapi ke belakang dekat lobang pantatnya, kont01 Ray meronta, minta dibebaskan dari sesaknya kolor. Perlahan Ray menurunkan kolornya, mengelus dan membelai pusaka tersebut. Dan seakan memuaskan matanya, mamanya kini sibuk agak jongkok, membilas dan mencuci dasternya. Nampak bulu keteknya terlihat, juga teteknya yang bergoyang ÔÇô goyang saat mamanya mengucek dasternya, Ray mulai mengocok kont01nya, perlahan. Akhirnya mamanya kelar mencuci dasternya. Mengambil sikat gigi, teteknya bergoyang saat mama menggosok giginya, membuat kont01 Ray mengeras dan berdenyut. Di kamar mandi ini memang ada bak penampungan air, juga ada shower, nggak mewah, nyambung sama keran air, model muarahan, mama mengambil selang shower, menyalakan air, keteknya terlihat jelas saat mama memegang shower, hitam lebat bulu keteknya, ughhh….ternyata Ray malah suka sekali melihatnya. Ray mulai mempercepat kocokannya. Mama mulai membasahi tubuhnya, kulit mulusnya nampak berkilat. Ditaruhnya shower, mama memencet botol sabun, lalu menyabuni tubuhnya, teteknya bergoyang ke sana kemari, pentilnya nampak berbuih, indah mengkilap, Ray makin cepat mengocok kont01nya sampai agak memerah. Enak banget melihat tetek besar itu bergerak licin saat tangan mama menyabuninya, mama menyabuni bagian tubuhnya yang lain, lalau memencet botol sabun lagi, kali in tangannya mengusap daerah selangkangannya, jembut yang tebal dan hitam itu nampak menggumpal karena air dan sabun, mama lalu menyabuni m3meknya, sedikit kurang jelas, namun belahan m3meknya agak panjang, juga tebal, Ray mengocok terus kont01nya….gawat…bisa belecetan di lantai, Ray segera melepas kaosnya, nanti tinggal duduk bercelana, mama nggak bakalan curiga, bilang mau mandi juga. Ray kembali mengocok kont01nya yang sudah keras sekali, dari lobang dilihatnya tubuh mamanya sangat aduhai, nampak licin dan berbalut busa sabun, sedikit bonus, mamanya agak menungging sewaktu menyabuni kakinya, nampak belahan pantatnya yang montok, dengan jembut yang tumbuh sampai area lobang pantatnya, nggak berkedip mata Ray melihatnya. Kocokannya makin kencang, agak bersuara, namun tersamar suara di kamar mandi. Akhirnya mama membasahi tubuhnya, mengusap teteknya, Ray makin kencang mengocok kont01nya, satu tangannya memegang kaos….aaaahhh….crooot…crooot….nampak pejunya yang kental dan agak putih, dengkul Ray lemas, kont01nya rada kebas, Ray masih memelototin mamanya yang lagi membilas, akhirnya mama mematikan shower dan menaruhnya kembali, sebentar meniriskan air di tubuh indahnya, lalu mengambil handuk, saat itu Ray sudah duduk manis di meja makan, rokoknya tinggal sedikit masih menyala, dihisapnya rada gelisah.

Gila…tubuh wanita berusia 39 tahun itu masih…masih sangat menawan dan mengagumkan, tak ada lemak berarti di perutnya. Tetek yang besar…belum pentilnya, ampun kalau sekarang saja tetek mama masih sebagus dan semempesona itu, bagaimana waktu ia muda dulu…pasti lebih bikin ngiler..belum lagi m3meknya, jembutnya, keteknya….ah…kenapa dari dulu ngga gue intipin….bego, padahal kesempatan selalu ada….gila, nggak nyangka, masih kayak orang baru 30an saja. Tubuh gue jujur banget…ngaceng gila ÔÇô gilaan. Ray masih asik mikir jorok, ketika mamanya keluar dan melihatnya duduk tak memakai kaos, hanya bercelana pendek saja, mama menyuruhnya mandi.

Siangan sedikit mereka berangkat, Ray menyetir mobil, sedan lama yang dibeli mamanya. Dulu mobil kantor. Kondisinya terawat dan mesinnya masih oke. Pas ada peremajaan kendaraan, kendaraan lama banyak yang dijual. Karyawan juga boleh beli. Prioritas utamanya karyawan yang sudah lama bekerja dahulu, harganya boleh dibilang murah banget waktu mama membelinya, jauh di bawah harga pasar, boleh dicicil dari potongan gaji lagi. Mamanya juga tak terlalu sering membawanya ke kantor, kalau lagi mau saja. Ray juga boleh dikatakan sangat jarang membawanya, repot…macetnya, bensinnya. Ray melirik mamanya yang sedang duduk di sampingnya.

ÔÇØMa, memang mau ngapain sih ke sana…?ÔÇØ
ÔÇØItu tantemu telepon, katanya dia ada belikan mama baju, sekalian mama mau main ke sana.ÔÇØ
ÔÇØLha…yang adik kan dia, mustinya dia kali yang ke rumah.ÔÇØ
ÔÇØAh…sudahlah….ngak musti kayak gitu.ÔÇØ

Memang sih kalau sama mama, Tante Retno baik, ya iyalah,mama itu kakaknya sih. Sering ngasih barang, uang, walau mama tak meminta. Nggak kenapa kak, namanya saudara…begitulah katanya. Tapi kalau sama aku…buset, judes banget. Sama si Dina sih masih mending sikapnya. Akhirnya kita sampai, aku memarkir mobil di depan rumahnya yang mewah. Nggak lama kita masuk. Mama melepas kangen, memeluk dan mencium pipi adiknya, gue mah cuek saja. Tante Retno melirik jutek banget.

ÔÇØMana suamimu Ret…?ÔÇØ
ÔÇØBiasalah…kalau Sabtu begini paling main golf sama relasinya. Kirain sama si Dina kemarinya kak.ÔÇØ
ÔÇØNggak, dia lagi nginap di rumah teman kuliahnya, ada si Ray saja, itu juga musti dipaksa buat nganterin.ÔÇØ
ÔÇØHuh dasar kamu Ray, kalau orangtuamu minta antar, ya antar dong. Nggak perlu sampai maksa. Keterlaluan sekali kamu.ÔÇØ
ÔÇØBiasa saja kali, Tan. Mama juga nggak segitu maksanya kok,ÔÇØ sahutku nyolot.

Mama yang tahu kalau aku sudah mulai BeTe segera mengalihkan suasana, mengaja adiknya memperlihatkan baju yang dibeli. Mereka ke dalam. Aku menunggu di ruang tamu, menyalakan rokok. Sebenarnya Tante Retno itu cantik kalau tak judes. Sebelas duabelaslah sama mama, Cuma lebih pendek sedikit, secara wajah dan bodi nggak beda kok kelasnya sama mama. Terdengar suara tawa mereka di dalam. Eh lagi enak ngerokok, si judes keluar sendirian, tak tahu mau ngambil apaan….

ÔÇØKamu ini, kerja belum tapi sudah merokok. Kalau belum bisa nyari duit jangan merokok.ÔÇØ
ÔÇØMama saja nggak melarang.ÔÇØ
ÔÇØItulah salah mamamu, terlalu banyak diamnya, sampai ÔÇô sampai juga karena terlalu banyak diamnya, papamu itu jadi seenaknya…ÔÇØ

Kraaak….urat sabar si Ray putus jadinya, nggak ada urusannya kok malah bawa ÔÇô bawa papanya yang kagak jelas, nyalahin mama segala, kesal jadinya, Ray ngebales ngejawab, menjaga agar suaranya setenang mungkin, nggak enak sama mama kalau kedengaran teriak…

ÔÇØTan, apa urusannya sih, daripada ngurusin Ray, mending urus anak sendiri. Nggak usah ngurus anak orang lain. Lagian mau Ray ngerokok, mau Ray nungging kek, nggak nyusahin tante kan. Mama sendiri juga tak sewot kok, nggak problem. Jadi nggak usah terlalu nyampurin hak orang deh. Kalau memang Ray ngeganggu bolehlah tante tegur, tapi kalau nggak mendingan tante diam saja.ÔÇØ
ÔÇØKa..kamu ini memang nggak tahu adat, nggak tahu aturan, nggak punya etiket, nggak punya moral. Nggak punya sopan santun, ng,,,nggak punya…ÔÇØ

Nggak tahu deh dia mau ucapin apa lagi dengan nggaknya yang banyak itu, mama keburu datang. Sudah memakai baju yang baru. Mengajak tante Retno masuk, meminta komentar. Malas deh, nunggu di mobil saja deh.membuka kacanya sedikit. Dua jam kemudian mama menggetok kaca mobil, membangunkan aku yang lagi tidur. Aku mengucek mata sebentar, membukakan pintu mobil. Bengong sebentar, nyatuin jiwa dan raga, setelah sudah fokus, segera menyalakan mobil…

ÔÇØNgapain kamu nunggu di mobil…?ÔÇØ
ÔÇØNggak…ngantuk saja, jadi mendingan tidur,ÔÇØ
ÔÇØOh gitu, kalau masih ngantuk sini biar mama yang nyetir.ÔÇØ
ÔÇØNggak usah ma, sudah puas kok tidurnya.ÔÇØ

Di jalan HP mama bunyi, si Dina nelepon, nanyain pada ke mana, dia dirumah sekarang. Mama menyuruhku mampir ke restaurant xxxxx, membeli makanan buat makan sore nanti. Sesampainya di rumah, mama membuka bungkusan makanan tadi, menaruhnya di meja makan. Mama lalu masuk ke kamar, mungkin mau istirahat. Aku mendekati Dina yang lagi nonton TV…

ÔÇØJelek, semalam kemana loe…?ÔÇØ
ÔÇØYe…tumben loe nanyain, kenapa ? Loe kangen ya…?ÔÇØ
ÔÇØGe Er banget sih loe Din…ÔÇØ
ÔÇØBilang saja kalau ya, dasar celamitan loe…ÔÇØ

Aku nggak membalas ocehannya, tapi sebelum masuk kamar dengan agak berbisik aku ngomong ke Dina….

ÔÇØEntar malam loe nggak nginap kan…? Entar lagi ya, Din…ÔÇØ
ÔÇØNggak bisa. Dasar jelek….ÔÇØ

Dina hanya mencibirkan bibirnya, nyengir saja. Aku masuk ke kamarku. Di kamar aku kembali SMS si Eva, dari tadi dia nggak SMS lagi. Nggak lama ada jawaban, ya…lagi pergi sama orangtuanya, katanya ke rumah saudaranya….jomblo deh. Aku segera mengganti baju, biasa ke tongkrongan. Saat mau pergi, aku sedikit teriak ke kamar mama ngasih tahu.

Tak lama aku sudah asik ngobrol dan becanda seru sama anak ÔÇô anak. Libur dulu malaknya, orang kantoran saja ada liburnya, lagian juga dompet masih tebal. Puas becanda aku mojok sedikit, nyantai, anak ÔÇô anak sudah paham sama adatku yang suka mojok menyendiri. Bahkan sering meledek, kata mereka mending loe jadi penyair bro, mojok, merenung, bawa kertas sama pulpen, klop deh, tapi awas kebanyakan bengong entar mencret loe. Dasar anak ÔÇô anak. Deden nyamperin ngasih gelas, duh masih sore sudah dikasih anggur, ya segelas nggak masalah deh. Aku menerimanya, minum setengahnya, menaruhnya di bawah. Lagi bengong, Sarah nyamperin ngajak ngobrol, tumben ngobrol serius.

ÔÇØHai Ray…ÔÇØ
ÔÇØHai juga….ÔÇØ
ÔÇØBengong saja…ÔÇØ
ÔÇØNggak…kebiasaan. Kadang kalau bengong gini bisa bikin tenang hati.ÔÇØ
ÔÇØOh…kirain lagi mules heheheh…ÔÇØ
ÔÇØDasar…tadi nanya serius, sekarang ngeledek…parah juga loe Sar…ÔÇØ

Lumayan lama berbasa ÔÇô basi, Sarah kembali berbicara….

ÔÇØRay…sori nanya agak personal…ÔÇØ
ÔÇØTanya saja, kalau memang berkenan, ya gue jawab, kalau nggak, ya gue nggak jawab…ÔÇØ
ÔÇØLoe nggak kuliah…ÔÇØ
ÔÇØTumben nanya kayak gini Sar. Nggak…jangan tanya kenapa, yang pasti memang malas dan nggak mood.ÔÇØ
ÔÇØOh gitu…terus loe sendiri senangnya apa…?ÔÇØ
ÔÇØMaksud loe…ÔÇØ
ÔÇÖBidang yang loe suka, yang loe hobi juga..ÔÇØ
ÔÇØApa ya…oh itu, sebenarnya gue senang kok sama ilmu komputer, sedari SMP. Senang ngotak ngatik. Jelek ÔÇô jelek gini secara otodidak gue belajar, gue juga paham beberapa bahasa pemograman lho. Cuman gue belakangan malas, kebanyakan main. Lagian bukunya banyak dan lumayan mahal.ÔÇØ
ÔÇØOh yah…wah kalau loe mau loe ke rumah gue saja Ray. Abang gue banyak banget buku tentang dunia komputer. Dia juga hobi. Sekarang dia sudah menikah dan tak tinggal di rumah. Bukunya yang di rumah sudah tak ia perlukan. Loe boleh pinjam atau bawa, daripada loe beli sayang..ÔÇØ

Dan memang aku sangat menyenangi dunia komputer dan segala seluk beluknya.Sebandelnya diri ini, tapi kalau buat yang namanya buku komputer, pasti aku baca, aku sempet ÔÇô sempetin, Biasanya aku praktekin pakai laptop kerjanya mama. Tentu saja tawaran Sarah bagaikan harta karun. Wajahnya menunjukkan dia tak berbohong. Sarah nampak senang melihat minatku.

ÔÇØBoleh juga, loe serius Sar…?ÔÇØ
ÔÇØSerius…sekarang juga boleh…ÔÇØ
ÔÇØEntarlah…nggak enak sama anak ÔÇô anak.ÔÇØ
ÔÇØRay….ÔÇØ
ÔÇØYa…kenapa Sar…?ÔÇØ
ÔÇØSori lagi…? loe nggak jenuh begini terus…? Nggak kuliah…nggak kerja…?ÔÇØ
ÔÇØYa dan tidak…tapi masih berat ke tidak. Masih senang kayak begini. Bagi gue, anak ÔÇô anak ini asik, nggak ada kepalsuan. Semuanya saling solidaritas. Memang kita nakal, suka malak, suka minum, tapi buat kompak, setia kawan, nomor satu. Lagian kayak gue ini mau kerja apa Sar…ÔÇØ

Sarah nampak diam, Aku mengambil gelas, menegak anggur kembali. Tak lama Sarah berucap lagi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*