Home » Cerita Seks Kakak Adik » Antara Ada Dan Tiada 1

Antara Ada Dan Tiada 1

Ray baru saja bangun dari tidurnya. Kepalanya rada pusing, Ray meringis….duh..kebanyakan minum semalam. Ray keluar dari kamarnya, sekilas melirk jam di dinding, hampir jam 10, mamanya seperti biasa pasti ke kantor, kakaknya Dina, tahu banget, kagak jelas dan juga gak terlalu ia pikirkan. Ray ngelihat meja makan, kosong…seperti biasa, cuma ada makanan pada jam segini hanya kalau mama libur kerja. Ray mengambil rokok lalu duduk sambil merokok. Pikirannya mengembara ke mana ÔÇô mana.

Ya, remaja itu Ray, 19 tahun, usia tanggung, mencari jati diri, penuh pemberontakan. Lulus SMA, menolak kuliah, dipaksa juga menolak. Kerjanya seharian keluyuran dan berbuat kenakalan. Secara fisik, athletis, tinggi, badannya tegap. Wajahnya juga boleh dibilang ganteng, paling tidak cewek bakal melirik kepadanya, tapi Ray nggak terlalu peduli hal itu. Sebenarnya otaknya juga encer, di SMA, walau sering bolos, sering bikin onar, bahkan sudah dicap biang kerok sekolahan, nilainya tetap bagus, lulus dengan nilai jauh dari lumayan. Kakaknya Dina, 21 tahun, tapi jarang akurnya, cela ÔÇô celaan melulu, lebih banyak saling cuek, dia kuliah, jurusan seni dan design, sebentar lagi selesai. Ray tak tahu jadwal kuliahnya, tapi Dina sering banget pulang malam, Ray kagak terlalu peduli. Mamanya, Renita, 39 tahun, pekerja kantoran, loyalitas dan kerja kerasnya membuatnya kini menduduki posisi lumayan di kantornya, perusahaan swasta.

Sosok bapak…? Ray nggak tahu dan tidak peduli. Papanya meninggalkan mereka saat Ray berumur 10 tahun, kawin lagi kabarnya. Bagi Ray, sosok papa cumalah sebagai orang yang membuatnya lahir ke dunia, nggak lebih dari itu. Tak ada kesan ataupun kenangan indah yang Ray rasa pantas untuk diingat. Untung mamanya walau sudah menikah tetap bekerja. Secara status, keluarganya bisa dibilang golongan menengah.

Ray yang terbiasa sendiri di rumah, tumbuh menjadi sosok pemberontak, nakal. Merokok, minum, berkelahi, sampai malak sudah jadi hal biasa. Ray tumbuh dengan tidak mempercayai nilai sosial, nilai etika, tak ada aturan yang bisa mengekang aku. Hidup adalah bagaimana aku bertahan dan melaluinya. Hubungan sosial dan masalah etika, moral, nggak pernah terpikir atau dipikirkan. Ray adalah antara ada dan tiada, bagi kelompoknya dan keluarganya dia ada, tapi bagi sebagian besar lingkungannya…apa bedanya…ada dan nggak ada juga nggak masalah. Kalaupun ada satu orang yang Ray bisa sayangi dan cintai, itu adalah mamanya. Walau secara sikap Ray suka membantah, memberontak, tapi jauh di dasar hatinya Ray amat menyayanginya…..walau ia tak pernah mengungkapkannya.

Mamanya masih memberinya uang, seperti jaman sekolah selalu setiap Senin, sekaligus jatah seminggu. Sekarang kalau Ray masih tidur, biasanya ditaruh di meja. Tapi Ray nggak pernah meminta lebih atau tambahan, toh ia bisa mencari sendiri. Sedikit banyak ia seudah sangat terbiasa dengan memalak orang, kalau mau dibilang malak adalah istilah halusnya, lebih mirip nodong seih sebenarnya.

Ray menyelesaikan rokoknya…mandi pikirnya. Setelah mandi, ia keluar rumah, mengunci pintu dan pagarnya terus jalan. Ray nggak terlalu mempedulikan keadaan sekelilingnya, cuek saja berjalan. Bukan ia tak bergaul di lingkungannya, namun jarang. Cari warung dulu, makan. Ray lalu menuju pinggir jalan, angkot yang biasa ia naiki tiba, Ray segera naik. Tiba di mall biasa ia nongkong, segera menuju kelompoknya biasa ngumpul, di bagian luar mall, di pojok samping. Di tengah mereka Ray merasa hidup dan diterima.

ÔÇØWei…bro, minum….?ÔÇØ
ÔÇØÔÇØMakasih, entar aja, masih pagi Jul.ÔÇØ

Tadi itu Panjul, sohibnya. Masih ada Deden, Black, Oga, dan banyak lagi, juga ada anak sini, semuanya remaja tanggung yang sama ÔÇô sama mencari pelarian. Hari beranjak siang, seperti biasa mereka asik becanda, warga sini nggak terlalu ambil pusing atau merasa terganggu, yang penting nggak reseh di sini. Ray melirik jam tangannya….

ÔÇØJul, Den, nyari duit yuk….ÔÇØ
ÔÇØAyo deh….ÔÇØ

Yang dimaksud nyari duit di sini, apalagi kalau bukan malak. Malakin anak SMA atau yang lagi sendirian, yang kira ÔÇô kira rada cengok. Si ray paling ganas, kalau nggak dikasih, habis dia hajar. Mereka malak, tapi nggak pernah pakai senjata tajam. 3 orang nempel satu orang, ya nggak perlu senjata lagi. 3 remaja tanggung ini segera menuju ke depan mall, jalan menuju halte, ngelihat dan menunggu calon mangsanya. Nggak selalu di sini, kadang nyari lokasi agak jauhan. Tapi sekarang nampak calon mangsa, seorang remaja rada kurus,berkaca mata, lagi asik dengan HP nya. Kalau sudah biasa, sedikit banyak naluri pasti terasah, bisa ngebaca mangsa, bisa menilai mana yang cemen,bisa digertak, yang nggak bakalan mau repot melaporkan musibahnya ke petugas, kadang memang ketemu yang kelotokan, ngelawan, tapi 3 lawan 1 jelas yang 3 di atas angin. Panjul nyolek Ray, ngasih kode. Mereka mendekat. Halte agak sepi, tukang rokok di situ sudah hapal ama Ray Cs, belagak nggak lihat, ngeri kalau macam ÔÇô macam. Ray segera merangkul mangsanya.

ÔÇØHei…lagi ngapain loe…?ÔÇØ

Si mangsa yang asik SMS-an kaget dan mendongak, wajahnya pucat melihat ada 3 orang remaja mengapitnya. Pasti apes deh feeling si mangsa itu…….

ÔÇØNung…nunggu bis bang.ÔÇØ
ÔÇØEh…mulut kita asem nih, bagi duit dong…ÔÇØ
ÔÇØNg…nggak ada bang…cuman ongkos doang.ÔÇØ
ÔÇØYe…pelit amat loe, kita mau ngerokok nih…ÔÇØ
ÔÇØBe..benar nih bang.ÔÇØ

Ray kagak mau banyak ngomong lagi, ditariknya HP anak itu, tinjunya melayang ke muka anak malang itu. Panjul sama Deden segera ikut berpartisipasi, orang ÔÇô orang belagak nggak melihat. Setelah anak itu ngeringkuk nggak berdaya, Ray merogoh celana anak itu, mengambil dompetnya. Dibukanya dompet itu, haha…banyak duitnya. Diambilnya duit tersebut, selembar gocengan diremas ÔÇô remas olehnya, lalu ditimpuknya ke muka anak itu.

ÔÇØTuh buat naik bis, nggak tega kalau loe mesti jalan kakim salah loe sendiri kepelitan…yuk cabut.ÔÇØ

Ketiga jagoan ini buru ÔÇô buru bergegas, takut ada masalah. Ngambil jalan agak memuter, biar nggak ketara. Sampai di tongkrongan sepi, yang lain juga lagi nyari duit. Ray ketawa ÔÇô tawa bersama temannya. Lalu Ray menyuruh temannya menunggu, dia masuk Mall, mau jual HP ke toko yang biasa nerima barang betrikan. Temannya nggak masalah, memang nganggap Ray yang mimpin. Setelah sampai, yang punya toko cuma ngasih tanda lewat matanya buat duduk dulu, lagi sibuk melayani pembeli. Sudah hapal dengan tujuan Ray. Setelah kelar, dia mendekat, Ray mengeluarkan barangnya. Tawar menawar sedikit, Ray menerima uangnya. Lumayan, hasil HP sama duit yang di dompet tadi jadi 900 ribu. Ray kembali, memberikan masing ÔÇô masing 250 ribu ke Panjul dan Deden. Bukannya dia serakah, namun buat pengaturan memang selalu dia yang megang dan dipercaya sama kedua temannya itu. Lagipula kalau mereka bertiga makan, beli rokok, jalan, ya duit lebihnya juga buat bayarin mereka juga. Minum sebentar, Ray mengeluarkan HP nya lalu bilang cabut bentar, nanti balik lagi.

Ray segera menaiki bis yang ia tunggu. Duduk di belakang, asik merokok, cuek sama ibu ÔÇô ibu yang sibuk batuk ÔÇô batuk secara berlebihan. Sama ÔÇô sama bayar kan naik bisnya pikirnya taj toleransi. Tak lama tiba di kampus XX. Ray nongkrong di warung rokok,tahu orang yang ditunggu akan datang ke sini. Ia keluarkan HP, mengirim SMS memberitahu sudah sampai. Tak lama nampak seorang gadis menghampiri.

Dia Eva, 19 tahun, pacarnya Ray. Sekarang kuliah di awal tingkat 2, jurusan ekonomi. Hubungan yang aneh kata banyak orang. Dulu mereka satu SMA. Jadian saat kelas 2. Mungkin dalam hidup Ray yang hancur, Eva adalah setitik embun penyejuk bagi dirinya. Entah apa yang Eva lihat pada diri Ray, Eva cantik, berkecukupan, pandai, kata banyak orang jelas Eva salah pilih pacar. Bolehlah si Ray ganteng, tapi selebihnya sampah. Tapi bagi Eva, Ray adalah lelaki idamannya. Tadinya Eva berharap Ray mau kuliah, tapi sulit memaksanya. Ray sekarang ini terkadang suka menjemput Eva. Hampir 2 tahun pacaran, belum pernah sekalipun Ray ketemu orangtua Eva, Cuma melihat fotonya, kalau datang selalu siang, saat orangtuanya bekerja. Malam minggu, tipe kayak Ray mana peduli sih buat ngapel ke rumah pacar, ketemu di luaran, anterin pulang nggak merasa perlu masuk rumah.Eva sendiri punya saudari kembar Evi. Saudarinya ini ada di Semarang, diminta opa ÔÇô omanya menemani sambil sekolah di sana. Ray juga belum pernah bertemu.

Mereka segera berjalan, menuju parkiran, ke mobilnya Eva.Eva menyerahkan kunci mobil, Ray lalu menyetir mobil itu.

ÔÇØKe mana Va…?ÔÇØ
ÔÇØPulang saja ya….lagi malas jalan Ray.ÔÇØ

Ray segera mengarahkan mobil ke rumah Eva, sampai di sana turun membuka gerbang rumah Eva yang lumayan besar. Cuma ada satu pembantu, mbok Surti, orangnya nggak mau ikut campur urusan majikannya, apa yang dikerjakan majikannya itu hak mereka. Segera saja Ray sudah duduk di sofa yang empuk, sementara Eva mengambilkan minum. Eva memang cantik, wajahnya menarik, dengan alis tebal, bibir seksi, bodinya juga matang untuk usianya, seksi, pantat montok, tetek besar dan penuh. Ray juga yang pertama kali menidurinya sekaligus merawani, sama ÔÇô sama mau.

ÔÇØNih minum dulu…ÔÇØ
ÔÇØIya…duh ngerokok terus…ÔÇØ
ÔÇØEnak sih. Gimana kuliahnya…?ÔÇØ
ÔÇØBaik…aku masih berpendapat seharusnya kamu juga kuliah Ray…ÔÇØ
ÔÇØVa…nggak usah dibahas lagi dong…capek…ÔÇØ
ÔÇØIya..tapi…ÔÇØ
ÔÇØVa…cukup, daripada ngomongin itu mendingan….ÔÇØ

Ray dengan jahil mulai mremas tetek Eva di balik bajunya. Eva menepis tangan Ray, sambi tesenyum nakal, dia berdiri dan berjalan menuju kamarnya…Ray segera mematikan rokoknya mengikuti. Di belakang mbok Surti masih asik dengan setrikaannya, nggak mau tahu urusan non muda.

Baru saja Eva menutup pintu kamarnya, Ray sudah memeluknya, tangannya asik meremas tetek di balik kemeja Eva, perlahan dibukanya satu persatu kancing kemeja Eva, lalu celananya. Ray juga melepas bajunya, ia meneguk ludahnya, sudah sering ia melakukan hal ini dengan Eva, namun setiap kali ia melihat tubuh Eva selalu saja ia mengaguminya.Dengan cepat dibukanya BH dan CD mungil itu, juga kolornya sendiri, dibaringkannya Eva ke ranjang. Dengan lembut ia mencium bibir Eva, mereka saling berciuman dengan panasnya, tangan Eva meraih kont01 Ray, membelai dan mengocoknya pelan. Ray mulai meremasi tetek Eva, ukurannya cukup besar, masih sangat kencang, dengan pentil yang kemerahan, pentil tersebut dikelilingi lingkaran coklat. Ray mulai menghisap dan mejilati pentil Eva, membuat Eva kegelian. Perlahan pentil tersebut mekar dan mengacung, Ray suka sekali memainkannya di mulutnya.

Puas dengan tetek dan pentil Eva, Ray perlahan turun, Eva menggoda Ray dengan menutup m3meknya dengan tangannya, Ray segera menyingkirkan tangan tersebut dan melebarkan kaki Eva, mengangkangkannya selebar mungkun. Ray diam menikmati memandang m3mek Eva yang dihiasi jembut yang agak lebat. Belahan m3meknya nampak rapat. Perlahan Ray menggosokkan jarinya, naik turun ke belahan m3mek Eva, belahan itu perlahan melebar, dengan jarinya dilebarkan belahan tersebut, nampak indah sekali bagian dalam m3mek Eva, kemerahan, Ray mendekatkan mulutnya, tercium aroma wangi yang mengundang, bibirnya menciumi seluruh permukaan m3mek Eva, lalu lidahnya mulai menjilati, sampai basah m3mek tersebut, setelah itu Ray mulai memainkan lidahnya pada it1l Eva yang agak besar, terasa bagai biji kacang pada lidahnya, ke sana ÔÇô kemari it1l itu bergoyang, Ray lama memainkan lidahnya, sesekali jarinya menyodoki lobang m3mek Eva. Eva mendesah sesekali menggoyangkan pinggulnya, tangannya sesekali menjambak pelan rambut Ray.

ÔÇØAuwww…..teruuusss…..ÔÇØ
ÔÇØYessss….Ughhhh…Raaaayyyy….ÔÇØ
ÔÇØSsshhhh….Ooooohhhh….ÔÇØ

Ray merasakan Eva menarik agak keras rambutnya, sambil mengejan, dan mendesah agak panjang, Eva mendapatkan orgasmenya. Ray segera menghentikan aksinya. Gantian ia duduk bersandar, membuka kakinya, Eva segera menghampiri. Tangannya menggenggam kont01 Ray yang cukup besar, lidahnya mulai menjilati dengan lembut, memainkan kepala kont01 dan lobang pipis Ray. Ray hanya bisa merem ÔÇô melek merasakan sensasi tersebut. Batang kont01nya berdenyut saat lidah Eva menggelitik dan menjilati dengan sensual. Akhirnya mulut Eva mulai menelan dan memompa kont01 Ray, dihisap dan diemut dengan kuat, sesekali ia menelan kont01 Ray semaksimal mungkin, lidahnya ikut menjilati. Biji peler Ray juga turut dimanja, diremas ÔÇô remas dengan tangannya yang halus, sesekali mulutnya menghisap biji tersebut. Terasa keras sekali Ray ngaceng.

Puas dihisapi, Ray segera memberi tanda. Eva kembali berbaring, melebarkan kakinya, Ray segera mengarahkan kont01nya, nampak lobang kemerahan yang pasrahmenunggu disodok. Blesss, kont01 Ray mulai menerobos, terasa masih sempit dan kuat cengkramannya memel Eva. Ray mulai bergerak memompa kont01nya, naik turun, Eva mengaitkan tangannya ke belakang leher Ray, memeluknya. Ray terus memompakan kont01nya, tidak tergesa ÔÇô gesa, menikmati kehangatan m3mek Eva. Mulutnya mulai menciumi Eva, dijilatnya leher dan kuping Eva,membuat Eva makin terangsang. Sesekali pinggulnya bergoyang mengikuti pompaan Ray. Teteknya tak luput dari sasaran,tanganRay meremasnya kuat, sesekali jarinya menjepit pentilnya, membuat pentil tersebut makin mengacung. Ray mulai mempercepat pompaannya, Eva makin melebarkan kakinya. Kali ini Ray memompa secepat mungkin, ditekannya sampai maksimal. Eva makin tenggelam dalam rasa nikmat yang diberikan oleh kont01 Ray.

ÔÇØTekeeeennn…..Oooohhhh….Gilaaaaa…..ÔÇØ
ÔÇØRaaayy….jangan….dipelaaanniinnnn….ÔÇØ
ÔÇØOoohhh….Ahhhh…Yessss…..ÔÇØ

Kembali Eva mengejang, kakinya agak kuat mengait pantat Ray, orgasme kembali. Ray tidak menghentikan pompaannya, malah makin menggila. Ray memandang wajah Eva, ekspresinya sangat menaikkan nafsunya, suara desahan Eva mengimbangi wajahnya yang puas dengan mata yang merem melek menahan enaknya sodokan kont01 Ray. Sungguh, Ray amat terangsang melihatnya. Ray kembali menciumi Eva, tangan Eva terangkat, Ray menjilati bagian keteknya, ketek Eva bersih dan harum. Akhirnya Ray merasakan denyutan enak yang sudah ia kenal, direndahkannya tubuhnya, erat sekali ia peluk Eva, dan seiring ia menekan kont01nya sedalam mungkin, pejunya memancar kuat, membuat Eva sedikit bergetar. Ray lunglai lemas, diam sebentar, lalu ia cabut kont01nya, berbaring di sampng Eva, memandang Eva sambil nyengir puas.

Setelahnya Ray dan Eva hanya berbaring telanjang, bermalasan sambil mengobrol, memang Ray tidak terlalu memforsir setiap berhubungan dengan Eva, toh setiap saat bisa.

Sorenya Ray sudah kembali ke tongkrongannya. Asik becanda sambil sesekali godain cewek yang lewat. Sekitar jam 7 kurang Ray memutuskan pulang, sesekali pulang agak siang. Ray pamit, temannya sempat melarang, tapi akhirnya Ray cabut. Biasanya mama sudah pulang, tapi bisa juga belum tergantung kerjaan. Sampai di rumah Ray melihat ada motor di parkir…siapa lagi….paling si Dina sama entah cowoknya yang mana. Ray mengeluarkan kunci dan memasukkan kunci, nggak bisa, ada kunci di sangkutkan di belakangnya. Dengan menggerutu Ray memutar ke samping, membuka pintu samping. Baru juga Ray masuk terdengar suara desahan dan rintihan, penasaran Ray mencari arah suara, dari kamar kakaknya. Dengan hati ÔÇô hati Ray mendekat, sialan….pintunya nggak ditutup benar lagi. Nggak takut ketahuan apa..? Paling tadi si Dina sudah nelepon mama, nanya kapan mama pulang. Dengan berdebar Ray mengintip melalui celah yang terbuka. Kakaknya berbaring dengan melebarkan kakinya, si lelaki nampak di atas tubuhnya, asik memompa kakaknya. Ray tahu kakaknya memang cantik dan seksi, namun melihatnya telanjang saat ini sungguh membuat Ray terpesona. Tetek kakaknya yang besar nampak mengkilap oleh keringat, bergoyang seiring pompaan si lelaki, belum lagi rintihannya. Agak lama Ray mulai jelas kalau kont01 si lelaki memakai sarung alias kondom. Tanpa diminta kont01 Ray pun mengaceng. Hampir 2 menit Ray melihat adegan itu, akhirnya diiringi lenguhan nikmat si lelaki, merekapun diam lemas tak bergerak. Ray buru ÔÇô buru menghindar, buka kulkas, ambil botol air, lalu duduk di meja makan. Tak lama nampak kakaknya dan lelaki itu keluar. Si lelaki nampak salah tingkah, kakaknya santai saja.

ÔÇØEh si jelek, udah lama pulang…?ÔÇØ
ÔÇØBelum…he reseh, lain kali kuncinya jangan disangkutin dong, susah mau masuk.ÔÇØ
ÔÇØItu bisa masuk…lewat pintu samping nggak masalah kan.ÔÇØ

Dina menggandeng tangan teman lelakinya ke depan, membuka pintu, lalu mengobrol sebentar di sana. Ray masih duduk meminum air esnya….kampret…., cuek amat si Dina. Ray lalu menaruh botolnya ke kulkas, masuk ke kamar. Di kamar ia membuka lemari, diambilnya kaleng uang simpanannya, hasil malak. Dibuka dompetnya, dikeluarkan beberapa lembar, dilempar ke kaleng. Sedikit lagi ia bisa membeli motor.Nggak perlu baru….daripada naik angkot sama bis melulu. Setelah menyimpan kembali, ia pun merebahkan diri di kasur, memejamkan mata, terbayang tubuh kakaknya yang merangsang. Entah berapa lama ia terbuai dalam lamunan erotisnya, akhirnya ia tertidur.

Ray merasakan ada yang menguncang ÔÇô guncang tubuhnya….siapa sih…nggak tahu orang ngantuk, dengan malas Ray membuka sebelah matanya, masih belum jelas…oh mamanya, perlahan Ray membuka matanya.

ÔÇØHei…, sudah makan belum..? Bangun deh, makan dulu, tadi mama beli di luar. Mama tadi pas mau pulang nelepon Dina, katanya kamu sudah pulang dan lagi tidur.ÔÇØ

Mama lalau meninggalkan kamar, dengan malas aku menggeliat, melirik jam tangan, 10 kurang, ambil HP, SMS Eva sebentar, lalu bangun ke kamar mandi, mandi dulu gerah sama lengket. Setelah kelar dan berpakaian, mama sudah menunggu, tadi sudah duluan. Si Dina lagi nonton TV. Aku segera duduk dan makan, sementara mama menemani sekalian mengajak ngobrol…

ÔÇØRay…kamu nggak bosan…?ÔÇØ
ÔÇØBosan kenapa ma…?ÔÇØ
ÔÇØYa…kuliah kagak mau, seharian cuma kelayapan, apa nggak ada kegiatan lain…?ÔÇØ
ÔÇØPaling nggak bener ma…,ÔÇØ si Dina ikut nimbrung. Aku cuek saja.
ÔÇØHush…kamu diam saja Din, mama lagi ngomong sama adik kamu. Ray benar kamu nggak mau kuliah…?ÔÇØ
ÔÇØDuh…ngapain si nanya itu lagi ma…? Jawabannya kan juga sama, mama sudah tahu.ÔÇØ
ÔÇØYa, namanya orangtua, tentu mau anaknya maju Ray.ÔÇØ
ÔÇØNggak…nggak deh ma, males…titik.ÔÇØ

Mama Cuma medesah nafas saja, kecewa, juga tahu percuma lagi ngomong. Diam sesaat, lalu melanjutkan…

ÔÇØKalau kamu nggak mau ya sudah. Ngg…kamu mau coba kerja…belajar saja dulu…kalau kamu mau nanti mama coba tanya ÔÇô tanya teman mama.ÔÇØ

Belum juga menjawab, si Dina ngoceh lagi. Aku jadi kesal dan membalas…

ÔÇØSi jelek ini ? Kerja…? Jangan deh ma, entar malu ÔÇô maluin mama sama yang masukkin, bisa bangkrut tuh Perusahaan kalau pegawainya kayak si jelek ini.ÔÇØ
ÔÇØDin…loe bisa diam nggak…? Emangnya loe bener apa…? Bisanya nyela gue doang, reseh.ÔÇØ

Mama jadi kesal, segera menengahi….

ÔÇØSudah…sudah…kalian berdua, sudah pada besar juga nggak ada akurnya. Sudah, sekarang mama mau tidur, capek. Awas kalau ribut lagi. Kamu, selesaikan makanmu, terus beresin mejanya.ÔÇØ

Mama segera bangun, menuju kamarnya. Dini mematikan TV, sambil ketawa ngeselin, juga masuk kamar.Aku selesaikan makan, lalu membereskan meja. Setelah memeriksa pintu dan jendela, duduk santai merokok. Ada ÔÇô ada saja mama. Kerja…? Kayak aku begini, jadi apa…? Nikmati saja hidup yang sekarang, toh uang aku nggak susah. Masih lama Ray duduk, sebelum akhirnya mematikan lampu dan menuju kamar.

Di kamar aku coba memejamkan mata, sial…sulit sekali…hampir sejam sudah, jam sudah hampir jam 12 lewat. SMS terakhir dari Eva sudah lama sekali. Gelisah banget, ke sini salah, posisi gitu salah, akhirnya aku berbaring saja. Tiba ÔÇô tiba bayangan Dina kembali bermain di benakku. Sial…kenapa aku ngebayangi kakakku. Makin kucoba melupakan, makin kuat bayangan tubuh Dina yang telanjang dan sedang mendesah saat dient*t sama teman lakinya itu memenuhi pikiranku. Nafsu akhirnya memang dapat meruntuhkan akal sehat. Sebejat ÔÇô bejatnya Ray, namun tak pernah sebelumnya ia membayangkan untuk menjamah tubuh kakaknya Dina. Sebagai remaja pria tentu saja ia tahu kakaknya cantik dan seksi, walau tak akrab, tapi namanya buat khayalan tetap dong. Sering juga ia membayangkan kakaknya saat bermartubasi dulu, tapi hanya sebatas itu. Ya, sebagai lelaki di rumah itu, mengiringi proses dia besar, mama dan kakaknya sering menjadi bahan khayalan kala bermasturbasi. Namun hari ini melihat kakaknya bersetubuh…..Perlahan Ray bangkit, Ray sebagai penghuni rumah paham, dari tiga kamar di rumah ini, semuanya tak pernah dikunci saat tidur. Pintu kamar di dalam ada kunci selotnya, itu rasanya mat jarang digunakan. Mamanya juga seperti biasa tidur pulas, besok harus berangkat kerja di pagi hari. Ray keluar dari kamar, diam sebentar menganalisa situasi, sunyi dan tenang. Perlahan mendekat, sesaat…hanya sesaat sempat timbul keraguan di hatinya. Namun dengan cepat keraguan itu sirna, rasa penasaran dan nafsu sudah terlalu kuat mencengkramnya. Pelan sekali ia membuka pintu kamar kakaknya. Ditutupnya pintu itu. Kamar kakanya memang tak memiliki kunci, sudah lama hilang. Sebagai gantinya dipasang selot, Ray menyelot pintu kamar perlahan. Nampak Dina sedang tertidur pulas, memakai daster yang agak ketat dan mini. Bagian bawahnya tersingkap, Dina tidur dengan kaki agak melebar, memperlihatkan bagian dalam paha dan selangkangannya. Ray duduk di pinggir ranjang. Matanya nampak buas memandang daerah selangkangan kakaknya. Putih mulus, CD-nya nampak tipis sekali, nampak samar ÔÇô samar bayangan jembutnya. Lama Ray memandang, kont01nya sudah mengeras sekali. Sekali lagi Ray ragu. Di saat Ray ragu Dina merubah posisi tidurnya, makin tersingkaplah bagian bawah dasternya, dan Ray makin jelas saja melihat CD tersebut, nampak beberapa helai jembut menyembul keluar. Ah….peduli amat, sekalian balasan loe sering nyelain gue.

Ray mulai bergerak, tangannya mulai mengelus bagian luar CD kakaknya, tebal terasa, satu tangannya perlahan meremas bagian atas daster kakaknya, terasa keras dan empuk tetek Dina. Akhirnya Ray mendekap mulut kakaknya, tidak dangan kuat, tapi cukup meyakinkan Ray, kalau kakaknya bersuara tak akan terdengar, Ray segera menindih Dina, satu tangannya beraksi di bawah sana, di balik CD Dina. Tanpa ragu Ray memainkan jarinya, terasa jembut yang lebat sekali, tadi waktu kakaknya dient*t sama teman lakinya, kurang terlihat jelas. Perlahan jarinya mulai memainkan belahan m3mek Dina. Dina yang tertidur awalnya tidak merasakan apapun, tapi akhirnya merasakan agak sulit bernafas. Lagipula ia merasakan ada yang menindihnya, juga sedang memainkan jarinya di m3meknya, rasanya enak juga…tapi….lho…siapa…? Dengan spontan Dina membuka matanya…astaga…tak salahkah matanya melihat…Tampak wajah Ray yang dipenuhi nafsu. Mata Ray menatap matanya buas. Dina berusaha memberontak, tapi sulit, Ray menindihnya sedemikian rupa, tangannya terjepit, kakinya juga diapit kaki Ray. Ray mendekatkan mulutnya ke kuping Dina, berbisik pelan namun sangat jelas.

ÔÇØLoe diam saja Din….nggak usah bersuara. Salah loe sendiri tadi ngent*t pintunya nggak ditutup. Gue jadi nafsu ngelihatnya. Juga balasan loe sering nyelain gue.ÔÇØ

Dina masih berusaha memberontak, tapi tenaganya kalah sama Ray, tangan Ray masih membekap mulutnya, satu tangan yang lain sedang mengaduk m3meknya. Dina merasakan jari Ray mulai memainkan belahan m3meknya. Menggosok m3meknya dengan kuat dan tergesa, perlahan belahannya mulai mekar, dengan kakinya Ray menggeser sedikit kaki Dina, melebarkan sedikit, terasa jari Ray mulai menyodok m3meknya, rada sakit karena masih kering, tapi lama ÔÇô lama seiring jari Ray yang keluar masuk, m3mek Dina mulai basah. Lama Ray memainkan jarinya, Dina mulai merasa nyaman, bahkan sesekali pinggulnya ikut bergoyang. Dina mencoba bersuara, nggak terlalu jelas, masih ada tanga Ray di mulutnya. Ray menyadarinya, ia kembali berbisik ke Dina.

ÔÇØGue lepasin, tapi loe jangan teriak.ÔÇØ

Dina mengambil nafas sejenak. Ray masih memandangnya, bersiap ÔÇôsiap, takut Dina berteriak. Dina mulai bicar agak berbisik.

ÔÇØLoe ngapain sih ? Sudah gila ya ? Gue kan kakak loe ?ÔÇØ
ÔÇØIya, gue tahu, mau salah apa nggak sebodoh amat. Kalau tadi loe ngeweknya nutup pintu, gue nggak bakalan lihat. Karena gue lihat, makanya gue nafsu, loe musti ngerti juga, gue nafsu gara ÔÇô gara loe.ÔÇØ
ÔÇØTapi gue kakak loe. Nggak bisa dong loe giniin gue. ÔÇØ
ÔÇØIya, mulut loe nolak, tapi m3mek loe nggak, sekarang saja sudah becek.ÔÇØ
ÔÇØIyalah, loe mainin ama loe sodokin ama jari loe, terang dong m3mek gue basah…ÔÇØ

Sebenarnya Dina memang sudah merasa amat terangsang, namun sedikitnya ia masih merasa hal ini salah besar. Ray kembali ngomong.

ÔÇØDin, sekali ini saja deh, gue benar ÔÇô benar kagak tahan, please….ÔÇØ
ÔÇØRay, ngaco ah…..ÔÇØ
ÔÇØAyolah, please…ÔÇØ
ÔÇØSekali ini saja ya, itu juga karena m3mek gue sudah loe mainin, mau nggak mau gue jadi horny deh, huh lain kali kalau gue ngewek, emang musti tutup pintu. Loe gayanya aja BeTe ama gue, nggak tahunya ngaceng juga ngintipin gue main.ÔÇØ

Ray nggak menjawab, sebagai jawaban ia mulai meremasi tetek Dina, padat dan besar, terasa penuh di tangan, kurang puas terhalang daster, dibukanya dengan tergesa daster Dina. Dilihatnya ketek kakaknya bersih, terawat. Cuma sedikit bulu halus tumbuh, masih jarang dan belum perlu cibersihkan. Tetek Dina sungguh mempesona, memang beda dengan Eva, Dina lebih besar dan agak sedikit ke bawah, bukan kendor, tapi proposional antara besarnya dan tingginya. Pentilnya kecoklatan, besar dan mengacung saat ini, Ray dengan rakus mulai menghisapi pentil Dina, membuat Dina agak kewalahan. Dirasakannya nikmat yang menjalar saat pentilnya dihisap dan ditarik ÔÇôtarik lembut oleh mulut Ray. Lama Ray memainkan tetek dan pentilnya, sambil tangannya tetap ngobok m3meknya. Akhirnya Ray menuju selangkangan kakanya. CD- nya masih dipakai, Ray membiarkan, tangannya mulai meremas dan memainkan CD tersebut, memang tebal rasanya m3mek di baliknya. Lalu dengan berdebar, ditariknya CD kakaknya. Ray terpesona melihat jembut Dina yang lebat dan hitam, amat indah serasi menghiasi m3meknya. Ray menaruh jarinya di atas m3mek tersebut, mulai membelai dan meremas jembut Dina. Lalu Ray mendekatkan mulutnya, mulai menciumi m3mek Dina, aroma yang enak tercium dari selangkangan kakaknya. Tapi Dina reseh, kakinya malah masih dirapatkan. Dengan agak kasar, Ray melebarkannya. Ray mulai menciumi m3mek kakaknya, Dina agak risih karenanya, dengan pria lain tak masalah, tapi ini Ray, adiknya yang sedang menciumi m3meknya. Baru juga Ray mulai menjilati it1lnya, tangan Dina menahan kepalanya.

ÔÇØRay kalau loe mau, sudah langsung saja, nggak usah acara jilatinlah, segala dimainin, cepetan deh loe masukin kont01 loe, ingat sekali ini saja.ÔÇØ
ÔÇØNgerasain dulu dong, pemanasan….ÔÇØ
ÔÇØKalau mau cepat, kalau nggak ya sudah, loe keluar dari kamar gue.ÔÇØ

Ray akhirnya dengan enggan menghentikan aksinya, bersiap membuka celananya nggak mau Dina berubah pikiran. Bukan apa ÔÇô apa, pasti nyamannya beda kalau posisinya Ray melakukannya dengan memaksa atau dengan cara kasar. Di satu sisi Dina memang merasa dia terlanjur terangsang saat adiknya memainkan m3meknya, tanggung, kalau dibawa tidur cuma bikin pusing kepala. Di sisi lain dia merasa risih m3meknya dimainin sama mulut Ray. Lagian dia berpikir, saat Ray buka celana dia akan mencela Ray, paling barangnya standart saja, lagian anak kayak gini, nafsu duluan, baru nempel juga kelepek ÔÇô kelepek, bisa puas dia dapat bahan baru buat nyelain Ray. Ray berdiri, mulai menarik celana pendeknya, kolornya masih terpasang….kelamaan pikir Dina, bukan sekalian tadi pas nurunin celana, matanya memandang tonjolan di balik kolor Ray, agak terdiam melihat besarnya tonjolan itu, namun Dina belum yakin isinya besar. Ray melempar celana pendeknya, tangannya perlahan memelorotkan kolornya, sedikit…sedikit…tuing…kont01nya yang sudah ngaceng terbebas dan kini mengacung dengan bebasnya. Ray masih sibuk menurunkan kolornya, tak melihat ekspresi wajah kakaknya. Gila…pikir Dina, matanya melotot, si tolol ini punya barang segede ini, apa rasanya di m3mek gue. Rini agak bergidik dan juga terangsang melihatnya. Tapi ia tetap merasa harus jual mahal. Ray mendekat sedikit ke arah Dina, mencoba memancing di air keruh.

ÔÇØItuin dong…!ÔÇØ
ÔÇØItuin apaan, nggak jelas deh loe.ÔÇØ
ÔÇØHeheh…isepin.ÔÇØ
ÔÇØOgah…loe minta saja sama cewek loe. Kalau loe nggak punya cewek, ya sama pecun kek. Buruan deh loe masukkin, gue sudah ngantuk nih. Ingat sekali in saja ya. Nggak ada besok atau lain kali. Gawat nih, mulai besok gue musti kunci pintu kamar.ÔÇØ

Ray nggak banyak komentar lagi, segera menindih tubuh telanjang Dina, Dina mau nggak mau melebarkan kakinya, gila kont01 gede dan panjang gitu, bisa rontok kalau nggak gue ngangkang yang lebar. Ray mulai konsentrasi, mengarahkan kont01nya, sedikit meleset dan melenceng keluar, akhirnya…bless, Dina agak mengernyit dan menjerit kecil, belum biasa seperi Eva. Ray menikmati dulu adegan ini, sementara Dina merasakan lobang m3meknya sesak, dipenuhi kont01 Ray. Ray lalu mulai bergerak, pertama agak sulit. Lama ÔÇô lama seiring pelumas dari m3mek kakaknya,Ray merasakan nikmat sekali, ditariknya kont01nya sejauh mungkin, sampai kepalanya, saat menekan ditekannya sampai dalam, bikin Dina kelojotan. Dina sendiri merasakan nikmat teramat sangat mengaliri m3meknya menjalar ke seluruh tubuhnya, setiap sodokan kont01 dari sang adik terasa menggelitik dan membuat terbang tubuhnya, kakinya makin ia kangkangkan, mulutnya mendesah. Awalnya Dina melengos saat Ray mencari bibirnya, gila apa ciuman bibir sama si jelek ini, tapi desakan nikmat di m3meknya membuat ia terlena sekali, perlahan bibirnya mulai menerima ciuman penuh birahi dari adiknya, ia mulai membalas, saling beradu lidah mereka, Dina mulai menyedot lidah Ray dengan mulutnya, membuat Ray kehilangan kontrol, Makin kuat dan cepat sodokannya.Dina melepas ciumannya, mengambil nafas dan berdesah…

ÔÇØAwww….giillaaaa…..Raaayyy…ÔÇØ
ÔÇØNoooo…..Ooohhh…Awwww…..ÔÇØ
ÔÇØSSShhhhh….Aghhhh….AmpuuunnnnÔÇØ

Tangan Dina mencengkram punggung Ray kuat, kukunya menancap dan mencakar punggung Ray, Dina benar ÔÇô benar kelojotan, matanya merem melek, pinggulnya bergoyang, tubuhnya mengejang, orgasme pertama kalinya yang hebat yang didapatnya dari Ray. Hal yag tak pernah ia bayangkan, namun kini nyata dan ia menikmatinya. Selalu ada rasa lepas dan lemas ketika orgasme, namun si gila ini malah terus memompa kont01nya, bukannya makin pelan malah makin kencang, Dina benar ÔÇô benar kelojotan, merasakan hantaman kenikmatan yang bertubi ÔÇô tubi. Mulutnya mendesah dan mengerang. Tiba ÔÇô tiba Ray menghentikan pompaannya, kenapa..? Dina sedang enak, mau protes…

Ray dengan cepat segera mengambil posisi di samping tubuh kakaknya, tangannya mengangkat dan memegang satu kaki Dina, nampak m3mek yang memerah itu, Ray dengan cepat memasukkan kont01nya, menyamping. Dina mengaitkan satu tangannya di belakang leher Ray. Ray terangsang melihat ketek mulus dan sedikit ditumbuji bulu halus Dina, ia segera menciumi dan menjilatinya, Dina kegelian, sementara kont01 Ray masih saja dengan ganasnya menghajar m3mek Dina.Tangannya juga tak mau diam, mlai meremas dengan sangat kuat sekali tetek Dina, terkadang menggoyangkannya. Ampun….sekarang tangan si gila ini malah turun ke selangkangan…mulai memainkan it1l gue pakai jarinya, luar biasa, kenikmatan yang mengalir tanpa jeda, membuat lemas tubuh ini.Dina agak menaikkan kepalanya, melihat kont01 yang besar itu menyodok m3meknya, tak ayal dirinya makin terbakar nafsu, desahannya makin cepat….dan kembali ia orgasme, Dina tak tahu apa yang terjadi, apa memang Ray begitu ahlinya atau juga karena hal yang seharusnya tak boleh dilakukan malah makin membuat rasa dan gairah meningkat atau kombinasi keduanya, peduli amat…yang penting saat ini ia sangat puas dan amat sangat menikmati saat m3meknya disodok, dan it1lnya dimainin sama adiknya. Ray kembali menciumnya, panas dan bergairah, sementara sodokannya tetap dan konstant. Dina melepas ciumannya, mendekatkan mulutnya ke kuping adiknya, dijilatnya lembut, Ray agak bergidik dan makin nafsu, lalu Dina berbisik, apapun yang dibisikkan, dalam situasi seperti ini terdengarnya selalu erotis di kuping Ray…

ÔÇØGila…kont01 loe hebat juga…nggak nyangka gue…loe entar kalau sudah mau keluar, jangan loe cabut, keluarin saja di m3mek gue, nggak kenapa…aman.ÔÇØ

Ray makin cepat menyodok, kembali asik memainkan pentil Dina dengan satu tangannya, tangan yang lain masih setia menggarap it1l kakaknya. Akhirnya Ray merasakan sudah dekat, dan Dina juga merasakan dia mau keluar…..lagi, tanpa dikomando, keduanya kembali berciuman…..dan Crooottt…croottt….peju Ray membanjiri m3mek Dina. Dina mengejang, Ray diam lemas dan puas. Lama mereka terdiam, keringat membasahi tubuh mereka. Akhirnya Ray mencabut kont01nya, diam berbaring, lemas dan puaaasss banget.

ÔÇØJadi gimana…? Sudah cukup kan penasaran loe…?ÔÇØ
ÔÇØI…iya Din. Gila loe benar ÔÇô benar nafsuin…ÔÇØ
ÔÇØHei…hei…sopan dikit dong, gue ini masih kakak loe…ÔÇØ
ÔÇØTetap saja gue doyan….ÔÇØ
ÔÇØNggak bisa…pokoknya tetap satu kali ini saja…itu juga karena gue kasihan loe, bantuin hilangin ngaceng sama penasaran loe…ÔÇØ
ÔÇØYa Din….ÔÇØ
ÔÇØTuh kan, tadi perjanjiannya kan seperti itu, nggak ada lain kali. Kali ini gue kasih karena loe penasaran……..Tapi…….buat lain kali berikutnya gue sukarela, loe boleh kapan saja main sama gue, bener…ÔÇØ
ÔÇØSerius loe Din…?ÔÇØ
ÔÇØLoe nggak mau…? Gila….terlarang apa nggak sebodoh amat……, sia ÔÇô sia banget kalau gue nolak kont01 kayak punya loe…ÔÇØ
ÔÇØHahaha…doyan juga loe…dasar.ÔÇØ

Dan setelah stamina mereka pulih, ya…tentu saja mereka melanjutkannya. Dan Diina juga tak menolak untuk menservis kont01 Ray dengan mulutnya. Sebuah tabir telah terbuka, awal hubungan terlarang sekaligus penuh gairah baru saja dimulai.

Pagi itu Ray bangun agak pagi, seperti biasa rumah sepi. Ray duduk  duduk, kali ini ia merokok sambil ngopi. Si Dina tahu ke mana, kuliah apa nggak, kagak paham dia. Yang dia paham semalam ia baru saja melakukan gituan sama Dina. Sangat menikmatinya. Tadinya Ray berpikir, sebodoh amat, mau Dina marah atau tidak, yang pasti dia tahu Dina nggak bakalan mengadu ke mamanya. Termyata, malah sebaliknya, si Dina malah doyan juga, malah sekarang memberikan lampu hijau.Mana teteknya gede banget, m3meknya.duhngaceng lagi, padahal semalam sudah 3 kali. Juga si Dina akhirnya malah doyan banget isepin kont01 gue. Ray mematikan rokoknya, mandisambil main sabun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*