Home » Cerita Seks Mama Anak » Biar Lambat Asala Nikmat 2

Biar Lambat Asala Nikmat 2

Malamnya jam 7, Pakdenya belum pulang. Farid baru kelar makan bersama ibu dan budenya. Kini mereka sedang santai mengobrol. Farid ke kamarnya, mengganti celana dan memakai jaket lalu keluar lagi. Ibunya menanyakan mau kemana.

ÔÇØMau ke mana Rid…?ÔÇØ
ÔÇØEh mau beli makanan kecil buat nanti nonton bola sama Pakde.ÔÇØ
ÔÇØEh Rid sekalian saja antar ibu. Ibu kepingin minum wedang jahe, sudah lama nih tak minum.ÔÇØ
ÔÇØYa sudah, ibu ganti baju dulu, Farid tunggu.ÔÇØ

Ibunya lalu berbicara sebentar dengan bude.

ÔÇØMbak, aku pergi sebentar ya. Mbak mau..? nanti aku belikan sekalian.ÔÇØ
ÔÇØYa sudah. Rid kamu beli yang di dekat pasar saja, enak tuh, sudah pernah ke sana kan..?ÔÇØ

Farid hanya mengangguk. Pakdenya sering mengajaknya ke sana. Semenjak Farid tinggal di sana, kalau malam dan senggang Pakdenya memang sering minta dibonceng keliling cari makanan. Pakdenya malas kalau harus keluarin mobil, jadi lebih sering pergi sama Farid naik motor, sekalian buat teman ngobrol. Farid sih oke ÔÇô oke saja, sekalian jadi tahu buat referensi tempat makanan yang enak. Ibunya sudah berganti pakaian, kini mereka sudah di jalan. Farid ke mini market dahulu beli cemilan. Setelah itu baru mereka ke sana. Karena sudah malam dan dingin, ibunya duduknya agak rapat. Farid merasakan ada yang empuk ÔÇô empuk kenyal sedikit menempel di punggungnya. Jadi sedikit bereaksi kont01nya. Tak lama mereka pun tiba. Farid menyalakan rokok, Lisna agak kurang suka sebenarnya, sayangnya suaminya mengijinkan anak ini merokok setelah masuk kuliah, memang suaminya juga merokok. Mereka duduk menunggu pesanan diantar, ibunya memulai percakapan.

ÔÇØGimana kuliahmu..?ÔÇØ
ÔÇØBiasa saja bu.ÔÇØ
ÔÇØYa…yang penting kamu tekun saja. Ayah dan ibu pasti mendukung. Ngomong ÔÇô ngomong sudah hampir setahun kamu kuliah, jangan ÔÇô jangan sudah punya pacar nih…ÔÇØ
ÔÇØAh ibu bisa saja, tadi katanya Farid musti tekun kuliah.ÔÇØ
ÔÇØBukan begitu, kalau memang ada yang kamu suka ya jalankan saja kalau memang itu jodohmu.ÔÇØ
ÔÇØBelum bu, belum…masih mencari yang tepat dan sesuai.ÔÇØ

Pesanan mereka diantarkan, mereka meminumnya sambil ngobrol ringan. Setelah selesai ibunya memesan lagi 2 bungkus buat pakde dan bude. Jam hampir jam 9 kurang saat mereka tiba. Pakde sudah pulang, lagi di ruang kerja. Farid mengantarkan wedang jahe lalu keluar lagi. Ke kamarnya baca buku. Ibu dan bude masih asik ngobrol. Tak lama ibunya masuk kamar, sebelum tidur ibunya menelepon ayah. Farid hanya mendengarkan saja. Setelah selesai ibunya langsung tidur. Farid masih asik membaca buku. Lumayan banyak halaman yang ia sudah baca, matanya sudah penat, ia segera menaruh bukunya. Ia melihat ibunya, nampak sudah terlelap. Sungguh sangat dilematis bagi Farid. Setelah ia mengintip ibunya tadi sore, kini dirinya menyimpan hasrat yang baru, yang jauh melebihi dari sekedar mengintip. Wajah ibunya nampak sangat cantik, Farid memandang dasternya, sayang daster tidur yang saat ini ibunya kenakan yang model besar dan longgar. Lama Farid memandangnya, sambil berkhayal jorok…..ah sudahlah, sudah jam 1 kurang, lebih baik keluar, menunggu bola. Farid pun keluar kamarnya, takut kalau di kamar terus otaknya akan pusing tujuh keliling. Di luar ia menyalakan rokok sambil menonton TV. Masih menonton Film, setelah agak lama, acara siarang langsung siap dimulai. Baru saja ia mau membangunkan Pakdenya, Pakdenya sudah keluar dari kamar. Akhirnya mereka mengobrol sambil menonton bola sambil menikmati kopi dan cemilan. Pertandingannya juga seru. Silih berganti menyerang. Farid dan Pakdenya sesekali berteriak kalau ada moment seru. Sesudah selesai Farid masuk kamar, ngantuk berat langsung tidur. Untunglah pikirnya…jadi nggak ngeres nih otak.

Paginya ia sudah bangun, memang sudah terbiasa, walau nonton bola sampai larut, tapi tetap di pagi hari ia bangun. Setelah selesai sarapan, ia berangkat kuliah. Pulang siang, langsung tidur pulas. Sorenya ia bangun, didengarnya suara air di kamar mandi, segera saja ia berdiri, mengintip, kembali ia terpesona dengan tubuh telanjang ibunya. Tapi tak lama ia mengintip, langsung kembali pura ÔÇô pura tidur. Ibunya memakai daster model kaos dan celana pendek. Malamnya semuanya asik berkumpul menonton TV, sambil bersantai Sekitar jam 10…byar…pet…lha mati lampu. Ibunya nampak terpekik. Untung tak sampai berapa detik lampu emergency menyala. Memang selain tak tahan gerah, ibunya juga paling takut sama gelap. Kalau gelap biasa saja, yang masih mendapat cahaya dari ruang lain ibunya tak begitu takut, tapi kalau gelap total seperti ini, ibunya sangat takut. Katanya saat kecil dulu, waktu mati lampu, ibu pernah ditakuti sama para sepupunya yang menyamar pakai sprei putih. Ibu menjerit histeris saat itu, makanya ibu samapi sekarang paling takut sama gelap. Mau pakai lilin satu tak masalah, yang penting ada cahaya.

Farid dan Pakde lalu mengobrol sambil merokok di teras, ibu dan bude tetap di dalam. Lama juga mati lampunya, hampir 2 jam kini, belum nyala. Ibu dan budenya sudah masuk kamar. Di kamar Farid juga ada lampu emergency. Farid menyalakan sebatang rokok lagi, kembali mengobrol. Setengah jam kemudian Pakdenya juga mengantuk, akhirnya mereka masuk, Farid mengunci pintu dan jendela. Farid masuk kamarnya, ibunya nampak sudah tidur di pojokan, memeluk guling, agak gelap. Lampu emergencynya di atas lemari sudah agak lemah pancarannya. Farid melihat jendela juga dibuka sama ibunya. Farid segera berbaring di ujung satunya. Sebelum lupa, ia pencet tombol kipas angin, biar pas listrik nyala, kipas angin langsung nyala. Hampir satu jam ia berbaring, susah tidur, gerah, kampret nih pikirnya…bayar listrik saja yang mahal, sekalinya mati, lama benar, sudah hampir 4 jam mati lampu, nanti sekalian saja deh ajak teman kampus demo. Mungkin makiannya berguna juga, tak berapa lama listrik menyala…baguslah pikirnya. Ia segera bangun menutup jendela, takut banyak nyamuk, juga kipas angin sudah menyala. Dan pas ia berbalik mau ke tempat tidur, ia terpana, tadi karena lampu emergency yang tak terlalu terang, ibunya yang tidur di pojokan yang agak gelap dan terhalang guling, matanya tak begitu jelas melihat. Kini setelah lampu terang, ia melihat ternyata ibunya tidur dengan melepas bagian atas dasternya, hanya ber BH saja, mungkin saking gerahnya, tadinya mungkin ia menggunakan daster yang ia lepas sebagai penutup, juga menutupinya dengan memeluk guling, kini setelah terlelap beberapa lama, gulingnya sudah tak ia peluk lagi, dan dasternya sudah lepas. Farid meneguk ludahnya. Pemandangan yang dilihatnya sangat merangsang nafsunya.Tangan ibunya satu terangkat ke belakang kepala, sebagai bantal kepalanya, memperlihatkan rimbunan keteknya, juga teteknya yang besar di balik bungkusan BH yang ketat, sontak kont01nya langsung meronta. Ibunya sudah terlelap, apalagi kini kipas angin sudah menyala. Mulai nyaman dan sejuk. Walau begitu nampak tubuh ibunya masih sedikit menyisakan keringat. Membuatnya berkilat dan mempesona..

Perlahan Farid naik ke tempat tidur, berbaring. Matanya terus menatap pemandangan menggoda di hadapannya. Ampun….pikirnya. 15 menit pertama ia hanya memuaskan diri dengan melihat, celananya sudah sesak sekali. Belahan tetek ibunya sangat jelas sekali. Bahkan Farid bisa melihat pentilnya yang terceplak samar di balik BH yang agak tipis itu. Farid mulai goyah, akhirnya dengan sangat perlahan ia mendekat. Dengan agak gemetar, hidungnya mulai menciumi pangkal lengan ibunya, aroma yang harum dan menggelitik nafsunya mulai tercium. Tangannya terjulur, mulai membelai bulu ketek ibunya, keset dan tebal. Setelah puas, ia beralih…tangannya dengan gemetar memegang BH putih ibunya, terasa keras dan empuk. Sesekali jarinya menyentuh belahan tetek ibunya yang sangat dalam itu. Lama ia menyentuhnya, pentilnya terasa juga walau dibalik BH, ibunya nampak masih tertidur pulas. Makin lama makin timbul keberanian Farid, nekad deh pikirnya, tingal lihat nanti saja, paling kalau tengsin cuma diomelin. Jari jemarinya dengan terampil dan perlahan mulai mengangkat bagian bawah BH ibunya, agak sulit di awalnya, cukup ketat membungkus tetek ibunya, lalu BH itu mulai kendor, dan diangkatnya penutup BH itu…jantung Farid berdetak dengan sangat tidak normal kini. Bahkan Farid merasa ia bisa mendengar dentuman detak jantungnya yang berdebar. Tetek besar itu kini terpampang bebas, sangat kencang dengan pentil mengacung sempurna, dihiasi lingkaran kecoklatan yang agak lebar. Tepat saat ia masih mengagumi, ibunya bergeser, kini tidur dengan tubuh miring.

Farid dengan perlahan mulai berbaring, kepalanya tepat di depan tetek ibunya itu. Jarinya mulai menyentuh pentilnya, keras juga empuk, tak lama ia menyentuhnya, ia punya agenda lain. Mulutnya mulai bergerak, pentil itu mulai ia jilati, aroma wangi sabun dan sedikit keringat karena ibunya tadi kegerahan sungguh menimbulkan sensasi wangi yang menaikkan birahinya. Lidahnya mulai menggoyang ÔÇô goyang pentil ibunya. Lalu ia mulai mengulumnya, menghisapnya lembut, nampak tubuh ibunya sedikit bergerak, tapi masih tertidur. Kont01nya sudah sangat keras saat ini. Satu tangannya menyusup ke balik celananya, memainkan kont01nya. Farid asik sekali mengulum dan menghisap kedua pentil itu bergantian, ibunya masih pulas tertidur, bahkan sesekali ibunya mendesah, membuat Farid makin terangsang, sedikit makin berani, ia mulai meremas tetek ibunya. Saking semangatnya ia menghisap pentilnya dengan kuat. Ibunya tentu saja kelojotan dan segera terbangun, nampak kaget dan terkejut, Farid juga terkejut segera melepaskan mulutnya dari pentil ibunya. Tangannya yang tadi meremas kont01 juga sudah ia keluarkan. Ibunya segera merapikan BH-nya, menutupinya dengan daster. Suara ibunya pelan saat berbicara takut terdengar keluar, namun nada marahnya tak bisa disembunyikan. Farid memasang muka bersalah dan menyesal.

ÔÇØFARID..A..apa yang kamu lakukan.ÔÇØ
ÔÇØSe…sebelumnya Farid minta maaf bu. Ta…tapi tadi saat lampu menyala, Farid melihat ibu yang hanya tidur memakai BH, Fa…Farid jadi ingin merasakan ba..bagaimana rasanya menetek sama ibu. Ma…maafkan Farid bu.ÔÇØ
ÔÇØDuh…nak, kamu ini sudah besar, sudah tak pantas lagi seperti itu. Ini juga salah ibu, karena gerah makanya tidur hanya seperti ini.ÔÇØ
ÔÇØBu…Farid benar ÔÇô benar menyesal, tapi sungguh tak ada niat lain. Farid hanya mau merasakan menetek saja. Maaf ya bu.ÔÇØ
ÔÇØSudah…ibu sebenarnya marah, tapi kali ini ibu maafkan, ingat kamu sudah sebesar ini, sudah tak pantas lagi menetek sama ibu, ada ÔÇô ada saja kamu.ÔÇØ
ÔÇØYa…ya bu…eh…boleh nggak Farid menetek sebentar lagi, tanggung bu.ÔÇØ
ÔÇØNggak…nggak…sudah kamu tidur sana.ÔÇØ

Ibunya menunggu Farid pindah ke ujung ranjang, saat Farid berbalik, ibunya segera memakai dasternya, berbaring menghadap tembok, sungguh…Lisna sangat terkejut dengan apa yang Farid perbuat. Macam ÔÇô macam saja pikirnya. Tapi anak itu tak salah sepenuhnya, salah Lisna juga tidur dengan hanya ber BH saja. Wajarlah anak seusia Farid tergoda. Lisna kemudian kembali memejamkan matanya, ia merasakan m3meknya sedikit basah.

Farid berbaring memunggungi ibunya…nyaris pikirnya. Ia memang sudah memperhitungkan resikonya, dan memang ibunya hanya marah saja. Tak mungkin sampai mengadu ke ayahnya. Farid memang menyesal….sangat menyesal karena tak bisa ke tahap lebih jauh.

Esoknya sikap ibunya sudah seperti biasa. Hanya Farid yang sedikit canggung. Tapi tak urung malamnya Farid meminta untuk menetek sama ibunya, biar bagaimanapun setelah merasakan. Tentu Farid ingin merasakannya lagi, tentu saja ditolak mentah ÔÇô mentah oleh ibunya. Farid tidur sambil merengut. Pantang menyerah saat tidur esok harinya ia kembali meminta, kali ini dengan rayuan maut dan ancaman. Lisna hanya berbaring saja mendengarkan ocehan anaknya ini.

ÔÇØBu…ayo dong…kasih deh, satu kali saja.ÔÇØ
ÔÇØNggak…kamu ini sudah bangkotan begini, minta yang aneh ÔÇô aneh saja.ÔÇØ
ÔÇØBu…ibu nggak sayang nih sama Farid.ÔÇØ
ÔÇØRid…ibu sayang sama kamu, tapi kalau kamu minta yang aneh kayak gini, tak ada kaitannya sama soal kasih sayang ibu.ÔÇØ
ÔÇØAh pokoknya memang ibu tak sayang.ÔÇØ

Lisna hanya diam saja. Walau ia sayang sama anak lelaki bontotnya ini, tentu ada batasnya, nggak mungkin ia mengabulkannya. Lisna memilih diam saja, biar saja pikirnya, nanti juga kalau didiamin, anak itu akan anteng dengan sendirinya. Lagian sudah lama nih bocah nggak pernah kolokan berlebihan, kok sekarang sudah sebesar ini dia mulai lagi. Farid kembali merengek.

ÔÇØBaik kalau ibu tak mau, nanti Farid nggak akan pernah mau pulang ke Jakarta.ÔÇØ
ÔÇØRid…jangan begitu. Tapi kalau kamu tak mau pulang ya nggak apa, ibu juga bisa ngirit jadinya hehehe.ÔÇØ
ÔÇØTuh..ibu malah bercanda. Sudah kalau ibu tak mau, biarin nanti Farid bayar perempuan saja buat ngerasain netek. Iya…Farid bakal lakukan itu.ÔÇØ
ÔÇØRid…jangan…bahaya tahu, kamu bisa kena penyakit.ÔÇØ
ÔÇØBiarin…lagian kalau netek doang mana ada sih kena penyakit. Besok Farid mau lakukan deh.ÔÇØ
ÔÇØRid kamu ini kelewatan ya. Kamu mikir dong. Aduh nggak tahu deh ibu musti ngomong apalagi.ÔÇØ

Lisna hanya diam saja, berpikir. Susah punya anak laki paling kecil. Kalau sudah maunya suka aneh ÔÇô aneh. Dia pikir nggak ada resikonya apa bayar perempuan…duh nih anak. Dibilangi malah bisa saja jawabnya, kalau netek saja nggak bahaya. Lisna menghela nafas menatap Farid yang merengut.

ÔÇØEh..baiklah, ibu akan turuti, dengan dua syarat.ÔÇØ

Wajah Farid langsung berubah cerah. Dengan agak nyengir ia segera menjawab, ibunya jadi sedikit kesal melihat cengirannya.

ÔÇØYa sudah…apa syaratnya bu ?ÔÇØ
ÔÇØPertama…ingat ini hanya karena ibu sayang sama kamu maka ibu ijinkan itu juga hanya kali ini aja, tak ada yang lain kali, mau kamu ngambek atau ngapain kek, ibu nggak bakalan kasih lagi.ÔÇØ
ÔÇØOke…terus apa lagi bu…?ÔÇØ
ÔÇØKedua…jangan pernah kamu membayar perempuan buat hal ÔÇô hal yang aneh. Jangan, ingatlah ibu dan kakakmu yang juga wanita. Lagipula resikonya Rid. Ibu perlu menekankan hal ini, kamu biar bagaimanapun jauh dari pengawasan ayah dan ibu.ÔÇØ
ÔÇØIya bu.ÔÇØ

Lisna lalu diam sejenak, agak ragu, ia mengenakan daster panjang berbahu, mau menurunkan dasternya lewat bahu jelas tak bisa, terlalu sempit, karena belahan lehernya tinggi dan rapat. Dengan sungkan akhirnya ia mengangkat roknya, Farid sekilas bisa melihat pahanya yang mulus juga CD-putihnya yang tebal, Lisna segera menutupi daerah selangkangannya dengan bantal. Ia kembali mengangkat dasternya, memperlihatkan perutnya yang rata dan mulus, sedikit lagi, nampak bagian bawah teteknya, akhirnya teteknya yang besar terlihat bebas, tanpa BH. Farid menatapnya tanpa berkedip, Lisna sedikit risih jadinya.

ÔÇØSudah..nggak perlu dilihatin terus sampai melotot begitu, kalau mau netek cepat, kalau sudah, kamu cepat tidur.ÔÇØ
ÔÇØI..iya bu, bukan melihati, hanya mengamati lebih jauh dulu.ÔÇØ
ÔÇØAlah…apa bedanya Rid. Kalau kamu tak mau ya sudah, ibu turunin lagi daster ibu. Ibu juga mau tidur.ÔÇØ

Farid tentu saja tak mau ibunya mengurungkan niatnya, segera ia berbarig sejajar dekat ibunya. Mulutnya segera menghisap pentil ibunya. Pentil itu masih setengah mekar saat ini. Lidahnya segera menjilati dan memainkannya. Lisna agak terkejut jadinya, tak menyangka anaknya akan memainkan pentilnya, namun ia hanya diam saja. Ya…sebenarnya para pembaca juga pasti sudah pahamlah niat dan agenda terselubung si Farid sebenarnya. Farid masih asik memainkan pentil ibunya bergantian. Dia ingat sekali, dulu waktu SMA dia sering ngewek sama pacarnya. Dan pacarnya selalu terangsang setiap kali Farid memainkan tetek dan pentilnya. Padahal saat itu tetek pacarnya tak begitu besar, masih dalam tahap pertumbuhan. Dan kini saat ia melakukannya pada tetek ibunya yang besar ternyata efeknya lebih dashyat. Farid merasakan sesekali suara ibunya mendesah tertahan, mungkin tak mau anaknya mendengar, kedua pentilnya sudah sangat besar dan mekar mengacung, terasa nikmat sekali dikulum oleh lidahnya. Farid menghisapnya bervariasi, pelan lembut lalu kuat, berulang ÔÇô ulang, bahkan ibunya diam saja tak melarang saat Farid makin berani, tangannya kini meremas kuat tetek milik Lisna sambil menghisap pentilnya kuat. Desahannya kini sudah terdengar jelas di telinga Farid.

ÔÇØSsshh…Ooohh…sudaaaahhh…yaaa…Rid…ÔÇØ
ÔÇØAaahhh…Riddd…sudaaaahhh…..ibuuuu…ÔÇØ
ÔÇØUghhh….taaakk……tahhaaaaannnnnn……ÔÇØ

Bantal yang menutupi CDnya terlepas saat Lisna mengangkat pantatnya, mengejang dan menyemburkan orgasme. Sungguh bahkan dengan suaminyapun ia tak pernah mengalami orgasme hanya dengan dimainkan teteknya atau pentilnya. Mungkin karena suaminya itu, kalau sudah puas main sama teteknya dan ngacengnya sudah keras akan segera menyodok m3meknya. Tapi anaknya ini, Farid amat sangat membuatnya terangsang, lidahnya begitu menggelitik pentilnya, dan mungkin karena yang melakukannya Farid, anaknya sendiri, yang seharusnya tak boleh malah makin membuatnya bergairah, hisapannya yang kuat, sudah begitu Farid sudah lumayan lama menetek padanya. Hampir setengah jam lebih, bukan hanya menetek tepatnya, dibarengi remasan dan permainan lidah yang agresif pada pentilnya. Lisna benar ÔÇô benar merasakan sekujur tubuhnya dibanjiri kenikmatan. Ia sebenarnya sudah mau menyuruh Farid stop, sudah cukup, pasti anak itu juga sudah puas, tapi ia tak bisa, masih merasakan nikmatnya saat teteknya yang besar ini dimainkan dan diremas sama anaknya ini. Biarkan sebentar saja lagi deh pikirnya toleran.

Farid merasakan betapa sesaknya celana pendeknya, tanpa ibunya sadari, satu tangannya perlahan menurunkan celana dan kolornya sebatas paha, membebaskan kont01nya dari sengsara. Ia masih asik mengulum pentil ibunya, kini pentil itu sudah sangat keras dan kemerahan karana Farid terus menghisapnya dengan kuat. Farid menyadari bantal yang tadi menutupi CD- ibunya kini sudah entah di mana, juga entah ibunya sadar atau tidak. Yang pasti kont01nya yang bebas kini tepat menghadap CD yang kelihatan tebal itu. Perlahan ia geser pantatnya, sedikit demi sedikit, akhirnya kepala kont01nya menyentuh CD ibunya.

Lisna masih menikmati hispan pada pentilnya, makin kuat Farid menghisapnya, membuat badan Lisna serasa melayang. Lalu ia menyadari, sepertinya ada sesuatu yang sudah amat familiar sekali menyentuh permukaan CD-nya. Ya..ampun ini kan..ini kan…ujung kont01 anaknya. Lisna agak kaget, tapi ia berpikir, mungkin Farid sudah sangat ngaceng, jadi menurunkan celananya karena merasa sesak. Dan karena posisi mereka berdekatan saat Farid menetek, maka wajarlah kalau ujung kont01nya menyentuh permukaan CD-nya, itu bukan kesengajaan. Lisna memutuskan membiarkan saja. Tapi makin lama ia meraasakan sentuhan itu makin cepat, sudah menyerupai gesekan yang konstant, bahkan saat ia agak merenggangkan kakinya karena sedikit pegal dan untuk menyamankan kembali CD-nya yang sudah agak basah menempel, kont01 Farid dengan cepat merangsek masuk menempel di antara kedua pangkal pahanya, tepat di bawah CD-nya. Biarkan saja pikir Lisna, mungkin saat ia agak merenggangkan kakki, tak sengaja kont01 anaknya meleset masuk ke antara pahanya. Maka kini kont01 Farid berada di antara jepitan pangkal selangkangannya. Lisna bahkan hanya diam saja saat kont01 itu mulai bergerak maju mundur….wajar saja, Farid lagi menetek, Lisna agak menggerakkan badannya sesekali, mungkin ia menyesuaikan ritme badannya dengan tetekku yang bergoyang. Lisna sedikit terkejut juga, menyadari besarnya benda yang sedang menempel di pangkal pahanya. Besar dan cukup panjang. Ia merasakan bagian bawah CD-nya terelus dengan nyaman seiring kont01 yang maju mundur di jepitan pahanya. Tak urung ia merasakan m3meknya makin basah saja Saat ini ia merasakan sensasi yang tak biasa. Jujurnya, suaminya sendiri amat memuaskan dirinya. Selalu bisa membuatnya menikmati dan mengalami orgasme setiap berhubungan. Mungkin kini sedikit berkurang frewkensinya, karena usia suaminya tak mudah lagi, namun secara kemampuan, Lisna merasakan cukup dan terpuaskan. Namun saat ini ia merasakan sesuatu yang lain. Ada kenikmatan tersendiri yang menjalari tubuhnya.

Farid menyadari ibunya hanya diam saja, tahap demi tahap, secara perlahan Farid bergerak, kini bahkan kont01nya sudah berada di jepitan pangkal paha ibunya, di bawah selangkangannya, ibunya tak melarang, tetap diam, juga saat ia memaju mundurkan memompa kont01nya. Makin PeDe saja Farid, masih tetap menetek, satu tangannya kini meluncur turun ke bawah, dan mulai diletakkan di atas CD ibunya. Hanya diletakkan, menunggu reaksi ibunya, tak ada reaksi. Farid mendiamkan saja dahulu, merasakan ketebalan dan nyamannya CD itu. Lalu setelah agak lama, Farid makin nekad saja, tangannya mulai menyusup ke balik CD ibunya. Saat itu Lisna tersadar. Ia melarang anaknya, suaranya direndahkan sepelan mungkin. Kont01 Farid masih di jepitan pahanya.

ÔÇØFarid…cukup nak. Jangan kau melangkah lebih jauh lagi.ÔÇØ
ÔÇØTa…tapi bu…ÔÇØ
ÔÇØCukup…tadi juga kau hanya minta menetek saja kan, nah sudah ibu berikan, sekarang sudah, cukup, jangan melangkah terlalu jauh. Kita sudahi dan tidur.ÔÇØ
ÔÇØIbu…ibu sebenarnya curang, kalau memang dari awalnya ibu hanya mengijinkan Farid menetek, kenapa ibu tak melarang saat kont01 Farid mulai menyentuh CD ibu, bahkan saat berada di jepitan paha ibu, ibu mendiamkan saja.ÔÇØ
ÔÇØBu…bukan begitu nak…ÔÇØ
ÔÇØMemang BEGITU bu. Sekarang saat Farid sudah dalam kondisi BEGINI, ibu malah menghentikan, makanya Farid bilang ibu curang.ÔÇØ
ÔÇØTe..terus maumu bagaimana…?ÔÇØ
ÔÇØPaling tidak biarkan Farid menyelesaikannya bu, sampai keluar. Sekali in sajaÔÇØ
ÔÇØAPA..? TIDAK…ibu belum gila nak…..ta..tapi baiklah karena kamu bilang ibu curang, ibu bantu kamu sampai tuntas, tetap dengan posisi ini, di jepitan paha. Ingat, pertama dan terakhir kalinya.ÔÇØ

Farid tak menyahut, sebagai jawaban ia mulai menggerakkan pantatnya, memaju mundurkan kont01nya. Perlahan saja, juga menyerang kembali pentil ibunya dengan hisapan dan kuluman yang kuat. Lama ÔÇô lama gerakan kont01nya makin cepat, sedikit membuat paha Lisna berkeringat, Lisna sendiri sebenarnya mulai merasakan terangsang, namun mana bisa pikirnya. Tak boleh dan tak mungkin. Karena desakan tubuh Farid, makin lama tubuh Lisna makin mepet ke tembok, sedikit banyak menghambat gerakannya dan justru membuat Farid makin leluasa menekannya. Kont01 Farid bergerak cepat, karena terlalu cepat jepitan paha Lisna makin renggang, bahkan sangat renggang, kont01 Farid terlepas. Baru saja Lisna hendak menyuruh Farid membetulkannya, anaknya ini sudah bertindak cepat, sangat cepat, tubuh atas Farid menempel ke teteknya, menekannya kuat, tangannya di bawah tak bisa bergerak, satu tangannya di atas dipegang kuat oleh Farid. Sementara entah bagaimana caranya dan cepatnya, satu tangan Farid yang lain sudah mengangkat bagian penutup CD-nya merenggangkannya, dan karena m3meknya memang sudah basah dan mekar, dengan cepat dan mudah kont01 anaknya itu sudah menerobos masuk ke dalam lobang m3meknya, tubuh Lisna bergetar saat kont01 Farid menghujam masuk. Ia mau protest dan marah, tapi bibirnya sudah di ciumi dengan kuat oleh anaknya itu. Lisna berusaha memberontak, tapi sia ÔÇô sia, Farid sudah mulai memompakan kont01nya, tangannya yang tadi mengangkat CD-nya sudah beralih fungsi, kini sambil memainkan it1lnya. Farid merasakan nikmat sekali m3mek ibunya ini, masih terasa rapat dan hangat. Kont01nya menyodok dengan mantap, keluar masuk tanpa jeda. Lisna masih berusaha melepaskan ciuman Farid, tapi sulit. Sodokan Farid makin kuat saja, tanpa ampun, saat menusuk ke dalam, ia sodokkan sedalam mungkin, belum lagi jemarinya sangat aktif menggelitik it1lnya. Lisna lambat laun mulai merasakan gelombang kenikmatan menghantam dirinya. Sejujurnya sewaktu Farid belum nekad memasukkan kont01nya secara paksa, Lisna juga sudah mulai tak tahan, ia sudah merasakan sangat terangsang dengan gesekan kont01 Farid di pahanya. Memang Lisna mudah sekali bangkit birahinya, sedikit rangsangan yang pas akan membuatnya panas. Saat Farid masih memompa kont01nya pada jepitan pahanya, Lisna juga sudah mulai berpikir…entah berapa lama lagi ia mampu menahan gairahnya, ini bukan lagi masalah hubungan ibu ÔÇô anak, ini masalah gairahnya sebagai wanita. Dan tanpa ia duga, justru saat ia sedikit kendor, anak itu dengan cepat memanfaatkannya. Bukan salah anak itu sepenuhnya, lelaki manapun pasti tak sabar dan merasa puas hanya dengan jepitan paha saja saat lelaki itu sudah sangat terangsang.

Dan kini Lisna mulai menikmati, pantatnya bahkan ikut bergoyang sesekali mengimbangi. Farid juga merasakan perubahan bahasa tubuh ibunya ini, namun ia belum mau melepaskan ciumannya yang sekaligus mencegah ibunya berteriak. Tidak sampai saat yang tepat pikir Farid. Maka ia segera mempercepat sodokannya, makin mempercepat permainan jarinya di it1l ibunya. Badan Lisna mulai bergerak liar, desahannya tertahan mulut Farid. Sodokan kont01 anaknya sangat mantap, belum lagi it1lnya yang geli ÔÇô geli enak. Tak butuh waktu lama tubuh Lisna akhirnya mengejang, menyemburkan orgasmenya. Setelah ibunya keluar, Farid memperlambat pompaannya, perlahan ia lepas ciumannya. Lisna nampak lega, sedikit mengambil nafas…

ÔÇØGila kamu Farid….apa…apa yang…ÔÇØ
ÔÇØBu…sudahlah, tubuh ibu nggak nolak kan..ÔÇØ
ÔÇØBukan itu, tapi kan kamu nggak perlu sekasar tadi.ÔÇØ
ÔÇØBu…ini juga karena ibu sendiri, sebenarnya mau tapi belagak nolak. Lagian mana bisa tahan Farid, sudah sejauh ini, juga salah ibu yang paling besar adalah…tubuh ibu terlalu seksi…sungguh sangat merangsang.ÔÇØ
ÔÇØYa sudahlah, mau bagaimana lagi, kamu sudah masukin ke dalam m3mek ibu, sekalian saja…tuntaskan sampai selesai, keluarin saja di dalam, nggak kenapa. Tapi ingat karena kamu sudah melakukannya juga karena kamu mengakui sendiri kalau kamu terangsang sama tubuh ibu……sebaiknya kamu melakukannya sebaik mungkin, atau ibu tak akan memaafkanmu.ÔÇØ
ÔÇØBeres…anggap saja sudah dilaksanakan. Bu…celana dalamnya dibuka ya, biar nggak ribet, sekarang agak mengganggu nih…ÔÇØ
ÔÇØDuh kamu ini, tadi waktu maksa nyodok pertama tadi, nggak ada masalah, setelah ibu melunak, malah ngelunjak, ya sudah cabut dulu kont01mu,biar ibu buka celana dalam ibu.ÔÇØ

Farid mencabut kont01nya, ibunya masih berbaring segera menurunkan CD-nya, Farid kembali terpesona melihat m3mek ibunya, jembutnya sangat menggiurkan, dan walau m3mek ibunya sudah sangat basah, juga lobangnya kini melebar karena baru ia sodok, tetap terlihat menawan, bahkan lobangnya yang kemerahan itu makin mempesona. Sementara Lisna baru sekarang melihat dengan jelas kont01 anaknya ini, sedari tadi hanya menerka dari merasakannya saja. Matanya menatap dengan kagum, sedikit lebih besar dari punya suaminya, juga masih penuh tenaga dan semangat muda. Saat ia masih menatap terpesona, Farid malah sudah asik memainkan m3meknya, pakai mulut dan lidahnya…

ÔÇØRid…aduh jangan…kan basah…Rid…ÔÇØ
ÔÇØFarid…ibu…risiiiiihhh…aaaahhhh…ÔÇØ

Dan Farid memang tak peduli, walau sudah basah dan baru saja ia sodok, tetapi m3mek itu terlalu menggodanya, aromanya harum dan khas. Bahkan sedikit asin rasanya karena cairan ibunya tadi. Lidahnya asik sekali memainkan it1l ibunya, menggoyangnya ke sana kemari. Lobang m3mek ibunya ia sodok, sekaligus pakai jari telunjuj dan jari tengahnya. Lisna mendesah nikmat.

Tak mau kalah, juga tak kuat menahan gairah yang sangat enak, Lisna sedikit mengubah posisi tubuhnya, kini tangannya menggenggam kont01 anaknya itu, meremasi biji peler Farid. Tangannya mengocok kont01 anaknya yang agak lengket karena cairan m3meknya. Setelah itu tanpa ragu lidahnya mulai menjilati kont01 Farid yang kini terasa asin dan gurih. Menjilatinya dengan ganas, bertekad membalas semaksimal mungkin, bukan hanya anaknya yang bisa membuat puas….aku juga bisa. Lidahnya bergerak lincah, kini kont01 yang tadinya lengket itu sudah kembali normal, basah oleh jilatannya dan kembali terasa tawar. Lidahnya menggelitik kepala kont01 Farid, membuat anaknya sedikit menggoyangkan pantatnya. Lalu hup…perlahan mulutnya mulai mengulum dan menelan kont01 itu, amblas sampai batas maksimal mulutnya mampu menelan, saat sudah masuk semua ke mulutnya, ia segera mengemut dan menghisapnya kuat, kontan Farid kelojotan, gilaaaa….ternyata ibu sangat hebat untuk urusan ini pikir Farid yang sementara ini sedang asik memainkan m3mek Lisna. Kont01nya terasa dikulum dan dipompa dengan cepat, enaknya saat bersentuhan dengan bibir Lisna yang tebal menggoda itu. Belum lagi saat mengulum dan menghisap, lidah ibunya tetap aktif menggelitik. Mana tahaaaannnnn……

Lidah Farid masih saja menggoyangkan it1l yang lumayan besar itu, sesekali menghisap dan menariknya lembut. Jarinya juga makin cepat saja menyodok lobang m3mek ibunya itu. Terasa basah dan lengket pada kedua jarinya itu. Dengan gemas ia menarik lembut it1l ibunya, Lisna kelojotan, kembali Farid menggoyangkan it1l itu secepat dan selincah mungkin, lidahnya bergerak tanpa henti. Lisna desahannya agak teredam karena sedang menghisap kont01nya, hanya pantatnya yang bergoyang liar, dan…..Farid merasakan sedikit muncratan orgasme Lisna di jari dan bibirnya. Hisapan di kont01nya terasa sangat kuat saat ibunya orgasme tadi, sampai lemas dengkulnya. Farid segera menghentikan aksinya, dengan perlahan menahan gerakan kepala ibunya.

Kini ia sudah menindih tubuh telanjang ibunya, kaki ibunya mengangkang lebar, blessss….kont01nya menerobos, langsung memompanya dengan cepat. Nampak tetek besar itu bergoyang sangat menambah nafsunya, Farid segera menciumi ketek ibunya, menjilati dan memainkan bulu ketek itu, aromanya sensual sekali, membuat goyangan dan sodokannya makin cepat. Ibunya hanya terkikik kegelian saja saat ia memainkan mulutnya tadi. Lalu Farid mulai menjilati leher ibunya, ibunya sekuat tenaga berusaha mendorong kepalanya…nggak tahan banget dengan gelinya sapuan lidah Farid, mana saat m3meknya disodok kont01 Farid, membuat tubuh Lisna serasa dibanjiri aliran nikmat tanpa jeda. Farid tetap saja menjilati leher Lisna. Tangannya kini meremas kuat kedua tetek ibunya itu bergantian. Pompaannya makin kuat, sangat cepat, kini Farid melepaskan jilatannya, mulai mencium bibir hangat ibunya, yang juga dibalas. Ciuman yang panas dan membara. Pantat Farid bergerak makin cepat seiring sodokannya, kaki ibunya makin mengangkang lebar, sesekali tangan ibunya membelai punggung dan pantatnya. Farid merasakan denyut kenikmatan yang familiar…akhirnya…croot…crooot…pejunya menghantam dengan kuat, menyirami dan membanjiri m3mek ibunya. Mereka terkulai lemas, Farid masih menindih ibunya. Akhirnya ia mencabut kont01nya, lalu bergulir, berbaring di samping ibunya. Setelah berdiam diri agak lama, ibunya yang memulai pembicaraan.

ÔÇØRid…ini hanya rahasia ibu dan kamu saja ya. Jangan sampai siapapun tahu, terutama ayahmu. Ibu tak mau membahas ini salah apa nggak, yang pasti ibu menikmatinya. Ya..ibu nggak akan bohong,…….selanjutnya juga boleh kita lakukan.ÔÇØ
ÔÇØIya bu…eh, kenapa ibu nggak keberatan…?ÔÇØ
ÔÇØDuh nih anak nanya lagi…ibu menikmatinya, juga ibu sayang kamu, selama ini ibu nggak pernah mengkhianati ayahmu. Baru kali ini ibu membiarkan tubuh ibu dimasuki lelaki lain selain ayahmu. Itu juga karena yang melakukannya kamu.ÔÇØ
ÔÇØIya…tapi awalnya nggak mau kan…akhirnya heheheheh…ÔÇØ
ÔÇØIh pakai acara ngeledek lagi. Tapi ingat ya Rid, jangan kamu sampai membayar perempuan buat begituan. Cukup kamu puaskan sama ibu, sepuasmu.ÔÇØ

Farid hanya diam saja, terlalu indah rasanya semua kejadian yang barusan ia alami. Hasrat dan impiannya tercapai, walau awalnya sedikit berliku dan maksa, tapi endingnya jelas, ibunya menikmati dan sudah membuka lebar ÔÇô lebar gerbang kelanjutannya. Lagi asik ia melamun ibunya kembali berbicara…

ÔÇØEng…tapi ibu mau tahu nih…jujur ya, kalau ngelihat kamu barusan sepertinya sudah paham banget nih, jangan ÔÇô jangan kamu main sama perempuan bayaran ya…?ÔÇØ
ÔÇØDuh…nggak bu…nggak. Jujur ya, semua pengalaman Farid itu sama bekas pacar Farid di SMA. Awalnya dia yang mengajak, sesudahnya jadi rutin. Tapi sungguh setelah putus dan lulus SMA, Farid tak pernah begituan lagi, sampai saat tadi sama ibu.ÔÇØ
ÔÇØAmpun…kamu ternyata bandel juga ya. Tapi ingat ya jangan sampai kamu main sama perempuan sembarangan.ÔÇØ

Malam itu saja, 3 kali lagi mereka bergelut dengan panasnya. Paginya Lisna sudah bangun, Farid masih tertidur dengan senyum yang manis tersungging di bibirnya. Lisna memandangnya sejenak, mencium pipi anaknya, lalu ke kamar mandi, sudah mandi saja sekalian pikirnya. Setelah rapi berpakaian ia segera keluar. Di luar mbaknya sudah bangun, suaminay juga asik membaca koran. Lisna mengucapkan salam lalu membantu mbaknya menyiapkan sarapan.

ÔÇØCeria sekali wajahmu pagi ini Lis…ÔÇØ
ÔÇØA..apa…oh iya mbak…semalam tidurku puaaas sekali.ÔÇØ
ÔÇØOh begitu syukurlah, ya mbak senang kalau kamu juga bisa bersantai selama di sini. Iya toh mas…?ÔÇØ
ÔÇØIya…betul kata mbakmu itu Lis. Mas juga senang kamu memutuskan menginap di sini sementara Joko sedang dinas luar.

Pembicaraan lalu berlanjut membahsa berbagai hal ÔÇô hal kecil. Sayang sudut pandang tidur puas mbaknya berbeda dengan sudut pandang Lisna hehehe. Dan memang Sri sampai merasa perlu komentar karena wajah adiknya pagi itu sangat sumringah seperti…ah…macam ÔÇô macam saja aku pikir Sri lagi. Ia kembali larut dalam percakapan, tak mengubris pemikiran aneh barusan.

Kunjungan ibu ini benar ÔÇô benar menyenangkan sekali, hampir tiap malam kini Farid menyodok ibunya, bebagai macam gaya dan variasi. Kadang pagi sebelum kuliah, ia dan ibunya akan mengunci pintu kamar untuk secara cepat melakukannya seronde saja. Ibunya juga jujur mengakui, ayahnya masih oke dan kompeten dalam menunaikan tugasnya memuaskan ibunya, tapi ibunya menikmati sensasi yang berbeda saat melakukannya dengan Farid, bahkan ibunya mengakui kalau ia lebih sering dan mudah orgasme bersama Farid, entahlah…mungkin karena merasakan rangsangan tersendiri dari hal yang seharusnya tak boleh. Setelah satu bulan, Farid mendapat kesempatan hanya berduaan saja sama ibunya. Kok bisa…? Iya, Pakde dan Budenya harus pergi menghadiri kondangan keluarga besannya, mertuanya mbak Sinta. Mereka pergi naik mobil Pakde. Pakde, Bude, mbak Sinta dan suaminya beserta kedua besannya. Yang kawin itu anak adik besannya, karena waktu mbak Sinta kawin mereka datang dan membantu, tentu saja sekarang Pakde merasa wajib hadir. Lokasinya lumayan jauh, sudah dekat kota Semarang. Mereka pergi Jumat sore, rencananya balik minggu malam. Tadinya ibu diajak, tapi ibu beralasan ia tak terlalu kenal dan tak berkepentingan, juga harus menunggui Farid. Dan kini mereka hanya berdua saja. Sepanjang hari rumah Pakde terkunci, jendelanya tertutup rapat.

Ibunya baru saja selesai mengirim SMS ke ayahnya. Menanyakan kabar. Menaruh HP-nya di tepi meja. Ia dan Farid tak berbusana….nggak mau repot, toh hampir tiap saat mereka melakukannya, kalaupun istirahat dan mengobrol, maka tak lama setelah merasa segar dan sama ÔÇô sama terangsang, mereka akan melakukannya lagi, di mana saja, selama 2 hari ini rumah ini bebas menjadi milik mereka. Dan baru saja ia bersandar, Farid sudah memeluknya dari samping, mendesaknya, sedikit mendorong pantatnya ke atas, kini Farid masuk menyelinap. Farid yang kini duduk bersandar di sofa. Ibunya kini di pangkuan pahanya, memunggunginya. Farid segera saja, mulai merangsang ibunya, meremas teteknya dan memilin pentilnya, lembut lalu kuat, setelah bosan memakai tangannya, anak itu agak mencodongkan miring badannya, mulai menghisap pentilnya, sementara tangannya melebarkan kaki ibunya. Tangannya mulai mengelus jembutnya, memainkannya, sesekali menarik ÔÇô nariknya dengan gemas, akhirnya jarinya mulai melebarkan belahan m3meknya, jarinya mulai memainkan it1lnya, jari tangan yang lain mulai menyodok m3meknya. Kont01 Farid sendiri sudah ngaceng, tapi masih ia letakkan dengan manis di belahan pantat ibunya. Lisna mulai merasa terangsang saat jari anaknya memainkan lobang m3meknya, tangannya terangkat, mengapit bagian belakang kepala Farid. Kepalanya bersandar di bahu Farid. Farid dengan ganas mulai menciumi dan menjilati keteknya yang rimbun, sesekali menarik bulu halus itu lembut dengan mulutnya. Anak itu suka sekali sama ketek ibunya ini, sangat merangsang katanya, bukannya terlihat jorok, malah sangat seksi, kontras, menambah daya tarik tubuh mulus dan putih ibunya. Bergantian rambut di pangkal lengan Lisna ia jilati, sampai agak basah jadinya. Sementara it1l Lisna semakin menjadi ÔÇô jadi ia mainkan, membuat Lisna mendesah dan kelojotan….Aaahhhhh…dengan cepat Lisna menggapai orgasmenya….bandit cilik ini selalu membuatku sangat terangsang dan mudah mendapat orgasme pikir Lisna. Farid melepaskan tangannya yang tadi mengerjai it1l ibunya itu, membiarkan ibunya memegang kendali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*