Home » Cerita Seks Mama Anak » Biar Lambat Asal Nikmat 3

Biar Lambat Asal Nikmat 3

Hampir 3 bulan sudah kini berlalu. Kehidupan berjalan seperti biasa dan datar saja. Setelah kenangan indah bersama ibu mulai mereda, kembali aku mulai memikirkan bude Sri, yang sedikit tersisihkan dari otak kotorku saat kehadiran ibu, makin hot saja budeku ini. Nggak beda jauh sama ibu, bahkan bodinya sedikit lebih montok dan padat, mungkin karena bude tak setinggi ibu. Tapi tetap saja, tak bisa berbuat lebih jauh. Pendekatanku sama Yuni sedikit bergerak lebih maju, SMS dan telepon makin sering, mulai sering jalan ke mall atau ke tempat jajanan yang enak dan asik. Tapi belum pernah ke rumahnya atau ngapel, biarlah, slow saja toh arahnya sudah positive. Yuni sendiri dari pengamatanku sejauh ini sepertinya belum punya pacar, Pernah waktu lagi makan di mall, Yuni ke toilet meninggalkan HP-nya di meja, aku iseng membuka, tak ada SMS atau nama ID yang mengindikasikan pacarnya. Bahkan aku kaget karena ID namaku dia buat…Yayang Farid…wah ini sih bisa segera ditembak…tinggal tunggu moment yang greget saja.

Tapi sudahlah, cerita Yuni lain kali saja. Sekarang aku juga lagi sibuk ujian. Melelahkan, baik teori dan praktek, untung akhirnya kelar.Sambil menunggu hasil, aku jadi jarang kuliah dulu, toh lebih banyak santainya saja kalau ke kampus. Aku sering menghabiskan waktu browsing internet di rumah, Seperti pagi ini, Pakde kerja seperti biasa, bude lagi ke rumah mbak Sinta, kayaknya mbak Sinta menunjukkan gejala hamil nih.Aku bersantai saja, membuka jendela, maklum sambil merokok. Karena santai aku juga tak terburu ÔÇô buru bahkan buka situs apa juga aku nggak nentuin dulu, saat aku ketik satu huruf awalan situs degan awalan k, seperti biasa di address browser suka muncul history address yang pernah dikunjungi sebelumnya yang awalannya k, mataku menangkap alamat konsultasikesehatan, perasaan nggak pernah buka situs ini, paling pakde, iseng aku klik saja deh. Halaman segera loading…tak lama…lho apaan nih…kok isinya artikel tentang ejakulasi dini sih, karena penasaran aku buka menu history. Aku sendiri kalau habis browsing selalu rajin menghapus jejakku, beda sama pakde yang agak awam. Kulihat semua adress history, rata ÔÇô rata situs konsultasi kesehatan dan seksiologi, satu persatu kubuka…ejakulasi dini lagi…sama ini juga…itu juga ejakulasi dini dan cara mengatasinya…semua sama. Otakku yng tadinya mau bersantai browsing situs jorok akhirnya mau nggak mau berpikir…apakah pakdeku sedang mengalami masalah ejakulasi dini alias baru nyodok atau nempel dikit sudah langsung ngecret…sambil berpikir aku juga jadi prihatin. Akhirnya karena merasa dipikirkan juga itu bukan masalahku, Pakde juga tak mungkin cerita hal ini padaku, aku segera memulai kesibukkanku browsing situs ÔÇô situs porno idolaku.

Malamnya Pakde memanggilku, bude juga ada di situ, ada apa ini..? Pakde segera memulai percakapan.

ÔÇØRid…ada yang Pakde mau omongin ke kamu.ÔÇØ
ÔÇØIya Pakde..ada apa…?ÔÇØ
ÔÇØGini, Pakde kan pernah cerita, kantor pakde belum lama ini sedang dalam tahap awal kerjasama dengan Perusahaan tambang batubara di Kalimantan dan Sumatra. Perusahaan itu bermaksud melakukan peremajaan besar ÔÇô besaran pada mesin ÔÇô mesinnya.ÔÇØ
ÔÇØYa…lalu apa hubungannya sama Farid..?ÔÇØ
ÔÇØBukan sama kamu hehehe. Nah Perusahaan tempat Pakde bekerja tentu tak mau menyiakan kesempatan emas in, sulit melobi perusahaan pertambangan itu samapi bisa berhsil teken kontrak. Kami bermaksud menjalin hubungan jangka panjang. Juga bagus buat kredibilitas Perusahaan sat menawarkan mesin ke tempat lain. Nah singkatnya kontrak sudah ditandatangani, mesin ÔÇô mesin sebagian sudah dikirim. Nah di awal ini kantor pusat sudah menargetkan tak boleh ada kesalahan, walau tak diwajibkan dalam kontrak, tapi sudah diputuskan menyeleksi dan mengirimkan para insinyur mesin terbaik, baik dari pusat atau kantor cabang guna mengawasi kinerja mesin ÔÇô mesin baru itu selama 3 bulan ke depan. biaya Perusahaan Pakde sendiri. Tadinya Pakde nggak berharap atau yakin bakalan terpilih, ya sudah tua, masih banyak yang muda, tapi dari pusat ternyata memasukkan nama Pakde untuk bertugas di sana selama 3 bulan ini.ÔÇØ
ÔÇØWah, selamat Pakde. Memang Pakde itu insinyur mesin yang jempolan. Masih diperhitungkan atasan.ÔÇØ
ÔÇØAh bisa saja kamu muji Rid, jadi GeEr nih Pakde. Tapi bukan itu masalahnya, masalahnya Pakde harus meninggalkan rumah 3 bulan ini, memang minimal sebulan sekali Pakde dapat jatah tiket pesawat buat pulang. Tapi budemu sendirian dirumah. Tak mungkin Sinta di sini terus, suaminya juga terkadang dinas luar. Lagian mbakmu itu lagi hamil muda, harus istirahat. Jadi baik di sini dan yang di sana sama ÔÇô sama tak bisa menginap, nggak ada yang jagain rumah. Nah kamu kan sebentar lagi libur kuliah, Pakde minta tolong, kamu jangan pulang ya, jagain budemu, nanti Pakde akan telapon ayah ibumu mereka pasti akan mengerti…bagaimana…?ÔÇØ
ÔÇØYa…ba..baiklah Pakde.ÔÇØ
ÔÇØNah…kamu memang bisa diharapkan. Pakde telepon ayahmu dulu.ÔÇØ
ÔÇØKalau begtu Farid balik ke kamar dulu deh Pakde, bude…ÔÇØ

Walau Pakde merendah saat mengatakan ia terpilih, tapi Farid tahu Pakdenya senang dan bangga bisa terpilih, hidungnya saja sampai kembang kempis saat menceritakan hal tadi. Farid pun balik ke kamar. Jujurnya Farid nggak sepenuhnya menyanggupi, mengingat hal istimewa yang bakalan ia dapat dari ibu saat ia pulang. Tapi mau nolak, nggak enak, Pakde sudah sangat baik menerimanya, bahkan membiarkan aku memakai fasilitas internet dan ruang kerjanya. Lagipula…ehem…siapa tahu aku bisa memancing di air jernih….lho nggak salah Rid ? Bukannya memancing di air keruh ? Nggak…nggak salah kok, kalau situasinya Pakde pergi dinas, dan aku hanya tinggal berdua saja, maka namanya itu sudah air jernih hehehe.

Akhirnya memang orangtuaku tak keberatan, bahkan kata ayah, kalaupun Pakde tak minta dan ayah tahu budeku sendirian, pasti ia juga akan menyuruhku tetap tinggal di sana untuk menemani. Alasan ayah sama denganku, karena mereka sudah berbaik hati mau menerimaku. Ibu bahkan dengan teganya menggodaku saat meneleponku di HP…katanya..Kasihan anakku…libur lagi nih ye….huah…hiks. Nilai ujianku keluar, nilainya lumayan oke, Nilai C nya Cuma satu, sisanya B dan A, tak ada yang mengulang, aku naik tingkat 2.

Seminggu terakhir menjelang keberangkatan Pakde dan juga karyawan lain yang dikirim mendapat libur seminggu penuh dari kantornya. Kebijakan Perusahaan, buat berkumpul bersama keluarga. Sekalian lembur ngejatah bini…pikir Farid ngeres. Seminggu itu juga Farid yang kini banyak waktu senggang, sibuk membantu Pakdenya men-scan sketsa ÔÇô sketsa diagram mesin, buku panduan dan catatan atau gambar penting lainnya, lumayan banyak. Pakdenya menyimpannya di USB, biar praktis dan mudah menemukannya kalau dibutuhkan nanti. Akhirnya Pakde berangkat. Selama awal liburan aku paling keluyuran kalau siang, sesekali aku ijin bude meminjam mobil Pakde, keliling agak jauhan sedikit, ngajak temanku atau Yuni, sekalian melumasi mesin mobil karena jarang dipakai. Bude mengijinkan. Tapi setelah seminggu bosan juga keluyuran, aku mulai banyak di rumah, membaca atau nonton film, main internet, juga menemani bude ngobrol. Belum melihat adanya kesempatan memancing di air jernih, mau nekad bisa panjang urusannya. Aku kini lagi asik menemani bude ngobrol di dapur, duduk di bangku kecil, bude lagi asik mencuci dan memotong sayuran. Sambil ngobrol juga nyuci mata ngeliatin lobang lengan daster bude yang lebar itu.

ÔÇØKamu bosan ya Rid..?ÔÇØ
ÔÇØAh nggak ko Bude.ÔÇØ
ÔÇØAh ndak usah bohonglah kamu. Paling kamu lagi mikirin enaknya libur di Jakarta.ÔÇØ
ÔÇØHe he…sedikit sih bude, tapi benar kok nggak kenapa. Toh bude sama pakde sudah baik sama Farid selama ini.ÔÇØ
ÔÇØBude perhatikan kalau malam mingguan, kamu jarang keluar toh, memangnya belum punya gacoan ?ÔÇØ
ÔÇØBelum, masih nyari kok. Belum ada yang nyantol.ÔÇØ
ÔÇØOh gitu, apa karena kamu sudah punya pacar di Jakarta Rid…?ÔÇØ
ÔÇØNggak juga…memang belum dapat kok.ÔÇØ
ÔÇØYa wis…padahal kamu tampangmu bagus juga lho. Kalau kamu mau nanti bude bilangin mbak Sintamu itu, suruh dia nyomblangi kamu.ÔÇØ
ÔÇØAh…ndak usah toh bude. Biarin saja, nanti juga kalau sudah waktunya pasti ketemu.ÔÇØ

Ngobrol sih ngobrol, kont01ku sudah ngaceng, ngelihat ketek sama bagian pinggir tetek bude, mana bude nggak pakai BH lagi. Mungkin terasa panas dan pengap kalau dipakai sambil memasak di dapur. Nanggung ah, bude juga nggak tahu. Aku asik saja mengobrol dan mengamati.

ÔÇØPakdemu kalau ngomong sama bude selalu saja mengatakan senang dengan adanya kamu di sini Rid, maklumlah dari dulu nggak kesampaian pingin punya anak laki. Makanya Pakdemu sudah menganggap kamu sebagai anak lelakinya.ÔÇØ
ÔÇØFarid juga menganggap Pakde sebagai ayah kok.ÔÇØ
ÔÇØPakdemu itu sebenarnya senang sekali bisa dipercaya dikirim ke Kalimantan. Bude juga tak keberatan. Cuma memang setahun belakangan ini Pakdemu kerjanya terlalu giat, sampai…ÔÇØ
ÔÇØSampai apa bude…ÔÇØ
ÔÇØAh..ng..nggak, nggak kenap…lho kamu sedang lihatin apa Rid ?ÔÇØ

Sebenarnya aku penasaran bude mau ngomong sampai apa sih Pakdeku itu, tapi penasaranku sambil memandangi belahan lengan dasternya. Memang sih bude saat itu lagi mengambil panci dalam lemari atas, otomatis saat lengannya terjulur lobang di lengan daternya makin lebar, nyaris menampakkan sebelah teteknya. Sialnya bude yang salah tingkah karena hampir kelepasan ngomong jadi menoleh tepat saat mataku sedang menatap dengan sangat fokus. Tengsin. Bude memandangku lalu menyadari ke mana arah pandanganku. Harus bisa berkelit nih.

ÔÇØKamu lihat apa toh Rid…?ÔÇØ
ÔÇØMaaf bude nggak sengaja dan nggak bisa…eh ditolak. Habis mau gimana lagi, awalnya sih Farid berusaha melihat ke bawah, mau bilang bude nggak enak. Tapi lama ÔÇô lama kan nggak enak ngobrol sambil lihat lantai terus. Tapi benar kok, Farid nggak bermaksud melihat..eh..itu dari lengan daster bude.ÔÇØ
ÔÇØYa wis..bude paham, memang bukan salah kamu, bude memang nyaman pakai daster begini, adem. Lagian kamu ngapain juga ngelihatin bude yang sudah tua. Masih banyak kok perempuan muda yang cakep.ÔÇØ

Farid merasa mendapat angin sejuk saat ini, mulai berani ngomongnya.

ÔÇØYa..awalnya memang tak sengaja kok bude…eh…tapi..anu…maaf..bude jangan marah ya..duh..nggak enak Farid ngomongnya….ÔÇØ
ÔÇØNgomong saja Rid, nggak kenapa, Bude nggak akan marah kok.ÔÇØ
ÔÇØI..iya…anu i..itu lho…bude masih cantik kok, masih seksi kok. Eh..a..anu…tadi nggak sengaja terlihat, te…tetek bude juga masih bagus, besar dan kencang…ben…benar masih menarik dan seksi. Bude belum tua kok, masih menarik.ÔÇØ
ÔÇØDuh kamu ini bisa saja mujinya. Bude sudah tua begini dibilang cantik, teteknya juga sudah kendor dan turun.ÔÇØ
ÔÇØNg…nggak kok.ÔÇØ
ÔÇØkamu ini kalau bude bilangin. Ya sudah deh nih coba kamu lihat…ÔÇØ

Dan budenya dengan santai menarik lengan dasternya ke tengah, memperlihatkan sebelah teteknya…buset…besar banget pikir Farid, pentilnya juga sudah mengacung, kecoklatan, belum lagi lingkaran sekelilingnya yang agak lebar, teteknya sedikit turun tapi masih sangat sangat kencang. Kont01 Farid tak terkendali. Tapi budenya sudah menutup peluang…kembali merapikan dasternya.

ÔÇØNah percaya kan. Wong bude sudah tua kok. Sudah mandi sana, nggak usah merasa bersalah ya Rid, memang kamu nggak sengaja kok, nemanin bude ngobrol, daster bude saja yang lengannya kelebaran, jadinya kamu serba salah. Sana mandi.ÔÇØ
Iiya bude..tapi benar kok,bude masih cantik hehehe.
ÔÇØhush…kamu ini, cepat mandi sudah siang.ÔÇØ

Sementara Farid ke kamarnya, budenya hanya nyengir sambil menggelengkan kepala, ada ÔÇô ada saja anak itu pikirnya. Apa yang membuat dia tertarik sama budenya yang sudah tua ini. Dia lalu ingat, suaminya pernah berkata sambil lalu sewaktu di kamar, di awal Farid baru tinggal sama mereka. Kata suaminya…Sri, kamu sebaiknya mengganti model dastermu, nggak enak ada si farid, diakan sudah besar, takutnya gimana gitu, sungkan sama kamu. Tapi Sri menjawab, nggak kenapa, toh Farid keponakannya, lagian dia ogah ganti model daster, sudah lama menyenangi dan nyaman memakai model begini, adem dan lebih sejuk, dapat angin banyak. Suaminya akhirnya mendiamkan saja dan tak membahas lagi, apalagi suaminya juga tak pernah melihat mata Farid jelajatan. Terus ia berpikir kembali, kalau sekarang murni si Farid nggak sengaja, sulit bagi anak itu mengobrol tanpa melihat….salahku yang lebih besar pikir Sri lagi meneruskan kesibukannya memasak.

Farid masuk kamarnya, sebenarnya dia bisa saja nekad tadi, tapi belum yakin dengan reaksi budenya, dia juga yakin tadi kalau budenya sebenarnya bermaksud ngomong pakdenya bekerja terlalu giat sampai berpengaruh pada daya seksualitasnya, mengakibatkan stress dan lelah, salah satu faktor penyebab ejakulasi dini. Tapi paling nggak Farid akhirnya bisa dapat melihat tetek budenya, bahkan budenya secara sukarela memperlihatkannya, mulai ada peluang pikir Farid. Ia pun segera mandi, tentu saja sebelumnya ia ber onani ra, melepaskan desakan pada kont01nya. Siangnya budenya memanggilnya untuk makan, budenya bahkan masih memakai daster itu, walau sudah tahu tadi Farid melihat dengan mata melotot isi di balik lengan dasternya. Nampaknya mmang budenya serius hanya menganggap itu suatu hal yang tak disengaja dan tak kuasa dihindarkan. Farid makan dengan sedikit rada canggung. Budenya bersikap netral. Selesai makan budenya bilang mau istirahat sebentar, Farid membawa piring kotor dan mencucinya. Setelah selesai ia mengunci pintu depan, maklum siang begini sepi, takut ada maling, sering kejadian…juga Farid punya agenda lain. Tak lama ia mengetuk pintu kamar budenya. Budenya menyuruhnya masuk Nampak budenya lagi tiduran telentang, Farid duduk di pinggir ranjang. Farid memasang muka menyesal, sambil memijat kaki budenya. Budenya tak melarang, karena memang suka meminta Farid memijat betisnya kalau lagi pegal. Bahkan budenya senang karena saat ini Farid memijat kakinya tanpa ia minta.

ÔÇØEh..anu..bude..ÔÇØ
ÔÇØKenapa Rid…kok kayak orang nggak enak hati gitu sih. Kenapa..? Ngomong saja..ÔÇØ
ÔÇØI..itu..tadi…Farid masih merasa bersalah, sudah melihat eh itu tuh…menyesal sekali.ÔÇØ
ÔÇØAh…sudahlah…kan kamu tadi sudah jujur menerangkan, memang tak kuasa untuk tak melihat. Bude juga punya andil, daster bude memang modelnya begitu.ÔÇØ
ÔÇØI..iya..Farid benar ÔÇô benar minta maaf.ÔÇØ
ÔÇØSudahlah Rid, tak masalah. Bude tak marah kok. Lagian apa sih yang menarik dari bude.ÔÇØ

Farid sengaja diam, menggantung suasana. Ia masih asik memijit betis mulus budenya, memijatnya seenak mungkin, bahkan kini sudah sampai sendi lutut budenya. Farid kembali bicara.

ÔÇØKalau Farid boleh terus terang, bude nggak marah kan…?ÔÇØ
ÔÇØYa nggaklah Rid. Ngomong saja. Mau ngomong sama bude saja kok pakai ijin segala.ÔÇØ
ÔÇØI..iya…anu bude, sebenarnya bude memang menarik kok..eh..maaf ya bude, buktinya saat tadi Farid tak sengaja melihat, Farid..eh a..anu…jadi bangun…itu kan membuktikan bude menarik. Eh pahanya mau dipijat sekalian bude ?ÔÇØ
ÔÇØA..apa Rid…ya…ya pijat saja sekalian.ÔÇØ

Farid lalu agak menaikkan daster budenya, mulai memijat paha montok budenya yang putih bersih. Budenya sendiri sedang memikirkan kata ÔÇô kata keponakannya ini, makanya tadi agak kaget waktu Farid bertanya soal memijat pahanya. Pikir budenya…kayaknya si Farid lagi merayunya. Iyalah, budenya juga nggak bego ÔÇô bego amat. Budenya kembali berpikir, memang belakangan ia banyak kecewa. Suaminya, Harno, memang baik dan sayang sama dia. Tapi belakangan ini setiap berhubungan seks selalu saja begitu masalahnya. Baru juga nempel atau goyang sebentar sudah keluar, tak seperti dulu, sangat memuaskan. Ibarat hidangan, makanan pembuka alias rangsangannya bagus, mampu membangkitkan selera, masuk ke hidangan utama…buruk, Hidangan penutup ? Apalagi, hidangan utamanya saja tak memuaskan. Sedikit banyak Sri terganggu juga. Tak bisa lagi menuntaskan gairahnya. Lalu keponakannya ini, nampak sekali sedang berusaha meraih sesuatu, Sri pernah membaca di majalah, memang ada anak muda yang tergila ÔÇô gila pada wanita dewasa atau paruhbaya, bukan berarti mereka tak suka wanita seusianya, apakah Farid keponakannya ini termasuk salah satunya, tentunya di sini Sri memikirkan tanpa melibatkan masalah hubungan kekeluargaan, murni dari sisi personal. Sri lama menimbang. Dan keponakannya itu juga menarik, tinggi, tegap dan lumayan imut. Jujurnya dia memang belakangan jadi sering sakit kepala, hasrat yang tak tuntas membuatnya mudah uring ÔÇô uringan, gelisah, pusing. Maafkan aku msa Harno, bukannya aku berkhianat, tapi kalau kau tak tahu, toh tak akan jadi masalah, lagian aku bukannya mencari lelaki asing sama sekali. Kalau sama Farid, terus terang saja Sri bisa mempertimbangkannya sebagai opsi untuk menuntaskan masalahnya belakangan ini. Baiklah Sri membulatkan tekad. Farid, kamu sudah melepas umpan, kini bude akan menangkapnya, tapi bude akan bersenang ÔÇô senang sedikit, ngerjain kamu.

ÔÇØEh…tadi kamu bilang apa Rid ? Apanya yang bangun..? Bude nggak paham..?ÔÇØ
A..anu..ah nggak deh bude, malu aku
Sudah ngomong sajaeh sekalian pantat bude kamu pijit, belakangan sering pegal. Pijitan kamu enak dan berasa.
ÔÇØI..iya bude..eh bude yakin mau tahu apa yang bangun.ÔÇØ
ÔÇØIya…apaan sih..?ÔÇØ
ÔÇØItu…eh anu Farid..eh kont01 Farid…maaf ngomongnya kasar.ÔÇØ
ÔÇØOh itu…nggaklah nggak kasar kok ngomongnya, memang namanya kont01 kan. Eh, kurang berasa pijitannya, kamu angkat saja daster bude…ndak kenapa.ÔÇØ

Ampun…batin Farid…rejeki nih. Dengan genetar ia singkapkan daster budenya, nampaklah bongkahan pantatnya yang besar, terbungkus CD putih yang ketat. Farid mulai memijatnya, meremasnya sih kalau mau lebih tepat. Tangannya jahil, sehingga ÔÇØTak sengajaÔÇØ belahan pantat budenya jadi tersingkap dari CD nya. Farid nyaris melotot sampai matanya mau copot, belahan pantat itu dihiasi jembut lebat yang nampaknya menyambung dari bagian m3meknya. Gilaaaa….kont01 Farid nyut ÔÇô nyutan. Budenya kembali bicara.

ÔÇØMemangnya kalau kont01 kamu bangun, mau kamu apain Rid..? tidurin lagi dong, biar anteng.ÔÇØ
ÔÇØMaunya sih bude, tapi sulit…habis sudah melihat bodi bude yang seksi…bangunnya jadi lama banget.ÔÇØ
ÔÇØMasa sih…? Sekarang masih bangun…? Mana sini coba bude sentuh.ÔÇØ

Wow…this is too good too be true sorak Farid dalam hati. Budenya masih telentang Nampak menjulurkan tangannya, Farid segera pasang posisi untuk memudahkan tangan budenya menyentuh tonjolan di balik celana pendeknya itu. Sri menjulurkan tangannya, awalnya ia mengira hanya akan menyentuh kont01 keponakannya yang standart ÔÇô standart sajalah. Tentunya standart menurut jualifikasinya Sri sendiri. Perkakas suaminya juga lumayan mengesankan.Lha..Sri saja doyan banget sama perkakas suaminya. Tapi saat ia menyentuh tonjolan di balik celana keponakannya itu, merabanya, mengira ÔÇô ngira sizenya, Sri agak bergidik dan bergairah….gilaaaa…ini sih lebih dari standart. Ia hanya memegangnya sebentar, lalu melepasnya lagi, masih senang menggoda Farid.

ÔÇØIya…memang bangun Rid. Kamu nggak kasihan apa..?ÔÇØ
ÔÇØMaksud bude…? kasihan apaan…?ÔÇØ
ÔÇØIya…sesak dong itu kont01 kamu, sudah keras begitu, disekap terus dalam celana. Dikasih udara segar dong.ÔÇØ
ÔÇØAh,,,nggaklah bude, nanti saja, malu sama bude.ÔÇØ
ÔÇØKamu ini…ngomongnya nggak malu. Sudah bebaskan saja…nggak kenapa, sama bude saja malu. Kayak bude belum pernah lihat kont01 saja sebelum ini. Sana, kamu bebaskan dulu. Sama bude sendiri kok malu.ÔÇØ

Farid segera melepas celananya, kolornya, melemparnya ke lantai. Kont01nya yang sudah ngaceng mengacung bebas dan tegar berkibar. Budenya masih teletang kembali menjulurkan tangannya, menyetuh perkakas keponkannya yang sudah bebas itu, kini saat tak tertutup celana, Sri merasakan kont01 keponakannya bahkan sangat mengesankan. Ia meraba dan mengelusnya. Farid tentu saja tak merasa perlu protest. Sri melanjutkan percakapan…

ÔÇØEh…kayaknya kont01 kamu gede juga ya…bude boleh lihat nggak..?ÔÇØ
ÔÇØBoleh saja bude…sama keponakan sendiri saja kok malu hehehehe.ÔÇØ
ÔÇØNgebalas omongan bude nih ceritanya…dasar nggak mau kalah ya kamu.ÔÇØ

Budenya segera berbalik, matanya menatap terpesona melihat kont01 Farid. Kini Sri teringat saat ia melihat adiknya Lisna yang wajahnya sangat ceria di pagi itu, waktu ia menginap di sini. Sebenarnya Sri berpikir, kok wajah adiknya ceria seperti wajah istri yang semalam baru dipuaskan suaminya secara maksimal. Kalau melihat kapasitas kont01 si Farid sih, wajar saja kalau adiknya itu ceria. Ia dan naluri kewanitaannya sangat yakin kalau adiknya itu telah melakukan hal itu dengan Farid. Tapi ia tak akan menanyakan atau menegurnya. Apa bedanya dia dengan adiknya. Posisinya saat ini juga sedang mengarah ke sana. Apa yang adiknya lakukan, itu urusannya. Kembali ia berucap

ÔÇØGede amat…eh bude boleh..eh menghisapnya…sebentar saja….penasaran eh ngerasain.ÔÇØ
ÔÇØLama juga boleh kok bude.ÔÇØ

Gong…Farid sudah sangat yakin, this is show time baby…yeah, soraknya dalam hati. Nggak mungkin meleset. Farid segera bergeser bersandar di kepa ranjang. Budenya bangkit, kini posisinya agak menungging, masih mengenakan dasternya. Budenya Nampak masih memandangi kont01nya sebentar. Tangannya lalu mulai menjulur, memainkan dan meremasi biji peler keponakannya itu. Enak dan lihaiÔǪbiji peler Farid terasa sangat nyaman saat budenya memijatnya, sedikit kuat namun lembut juga dan tak menyakitkan. Benar ÔÇô benar patent, kalu tak ahli benar, yang ada bisa sakit kalau biji kita diremas kuat. Tapi ini beda, budenya meremasnya kuat sampai batas minimumnya saja. Benar ÔÇô benar membuat biji peler Farid berdenyut nikmat bahkan saat tangan bibinya sudah tak meremasnya lagi.Tak menunggu jeda, biji pelernay sudah dikenyot dan dikulum sama mulut budenya, sementara tangan bude mengocok kont01nya….buset…ganas juga bude pikir Farid. Asik rasanya saat merasakan biji pelernya seakan mau melesat dari kuluman di ujung bibir budenya itu, geli ÔÇô geli penuh sensasi yang gimana gitu….

Puas menservis bijinya, kini lidah bude mulai menjilati kepala kont01nya, memulasnya dengan gerakan melingkar, sesekali menusuk lobang pipisnya. Lidahnya juga mulai menjilati batang kont01nya, tak satu bagianpun terlewatkan. Lambat saja, namun penuh tekanan tenaga pada tiap jilatannya. Akhirnya mulutnya pun mulai menelan kont01nya, kulumannya lembut dan erotis, hisapannya maksimal, juga mulutnya mengocok dengan sangat mantap. Gilllaaaa…ibunya saja sudah sangat enak saat menghisap kont01nya….budenya malah jauh lebih edaaan….mulut budenya mulai ganas, sambil memompa kont01 Farid, tangannya juga meremas dan mengocoki pangkal batang kont01nya. Bibirnya sangat terampil menyentuh bagian kont01nya, memberikan raa basah, geli dan nikmat…campur aduk jadi satu.

Farid mendesah, tangannya segera membuka kaosnya, ia lalu agak mencondongkan badannya, nggak mau tinggal diam, ia singkap dster budenya, menampakkan kembali bongkahan semok pantatnya itu, dengan kasar ia turunkan CD budenya sampai ke pahanya. Kepalanya mendekat, memandang belahan m3mek budenya yang tebal. Mulutnya segera menciumi belahan m3mek itu, jarinya membelainya, m3mekarkannya. Terasa m3mek bude mulai basah, bude makin hot saja posisi nunggingnya, farid mengagumi keindahan jembut yang menghiasi belahan pantat budenya, juga lobang pantat budenya, tapi nggak terlalu memikirkannya. Ia lalu mulai menjilati dan memainkan lidahnya, sama panasnya dengan permainan budenya. Lobang m3mek yang kemerahan itu makin mekar, farid tanpa ragu langsung menusukkan 3 jari sekaligus, menyodok ÔÇô nyodok m3mek budenya, yang makin hot saja menggoyangkan pantatnya. Lidahnya agak sulit mencari posisi it1l budenya yang sedng nungging itu…nah ketemu, sudah besar dan maksimal, digoyangkannya dengan cepat dan lincah ke sana kemari. Ketiga jarinya makin cepat dan sudah lengket saat menyodok ÔÇô nyodok m3mek budenya. Sesekali terdengar desahan budenya yang tertahan aksi hisapan kont01nya. Farid merasakan nikmat menjalar saat mencium aroma wangi yang khas dari m3mek budenya, juga hisapan pada kont01nya makin ganas, seiring makin cepatnya sodokan jari dan permainan lidah Farid di it1l budenya itu.Lama mereka berdua saling menyerang, memberikan kepuasan, akhirnya…budenya mengejang, mengeluarkan orgasmenya. Farid juga nyaris klimaks. Beruntung budenya saat itu menghentikan hisapannya.

Farid sudah tak sabar, bersiap membaringkan budenya, tapi budenya keburu berdiri, menurunkan celana dalamnya, melemparkannya ke atas tempat tidur. Budenya berucap.

ÔÇØRid…sabar dulu ya…5 menit saja. Bude ada perlu siapin diri…sabar ya tahan sebentar…ÔÇØ
ÔÇØDuh….tanggung nih bude….ÔÇØ
ÔÇØIya…iya bude tahu…bude juga sama, tapi nahan 5 menit tak apakan, toh waktu kita masih sangat panjang. Lagian ini juga buat enaknya kamu kok. Bude janji deh…5 menit saja ya.ÔÇØ

Budenya keluar dari kamar, Farid hanya berbaring rada BeTe, tapi lumayanlah bisa menetralkan kont01nya yang hampir ngecret. Iseng ia ambil CD budenya, menciumi aromanya dengan hidungnya, sambil sesekali mengocok pelan kont01nya. Terdengar suara air di kamar mandi luar….duh bude pikir Farid…padahal tak perlu mandi segala, sudah nanggung juga. Untungnya tak lama budenya kembali, tapi nggak seperti habis mandi…sebodohlah…habis ngapain kek…yang penting farid sudah nggak tahan.

Baru juga budenya sampai di pinggir tempat tidurnya., Farid sudah menarik lengannya, merebahkannya, dengan gansa farid menciumi bibir dan leher budenya, tangannya meremasi tetek besar budenya, terasa pentil yang mengacung, tak sabar Farid berusaha melucuti dasternya, budenya nyengir melihat ketidaksabaran farid, segera membantu melepaskan daster. Mata Farid menatap rimbunan keteknya saat budenya melepas dasternya adi, segera ia rebahkan kembali budenya, mengangkat lengannya, dan mulai menciumi keteknya, menjilati sambil seseklai menarik ÔÇô nariknya lembut. Bergantian kiri dan kanan, sangat seksi dan merangsang sekali buat Farid. Lalu akhirnya mulutnya mulai bergerilya di tetek besar yang sudah lama ia idamkan, pentilnya jelas sudah keras dan mengacung, gillaaaa….besarnya, sangat berasa sat lidahnya memainkannya, budenya kelojotan saat ia menghisap pentilnya bergantian dengan kuat.

Dan budenya juga sudah tak tahan ingin merasakan kedashyatan kont01 keponakannya ini, ia merenggangkan kakinya, lalu tangannya mengarah ke selangkangan Farid yang masih asik menghisapi pentilnya. Digenggamnya kont01 Farid, membimbingnya menuju lobang m3meknya, blesss,,,kont01 Farid mulai menerobos….budenya nampak bergetar, menikmati kesan yang mendalam saat kont01 Farid sudah amblas seluruhnya. Farid pun sama, diam sejenak menikmati kehangatan m3mek budenya. Lalu ia mulai bergerak memompakan kont01nya…perlahan lalu cepat, tangannya bertumpu menopang tubuhnya, matanya menikmati tetek besar yang bergoyang itu, pompaannya makin cepat…semenit…dua menit…tiga menit…budenya sudah kerap mendesah….

ÔÇØRiiiiddd….Auwww…..Soddoookkkkk….ÔÇØ
ÔÇØYessss…..Sssttttttt…….Gilaaaaa…..ÔÇØ
Ooohh……Aaahhhh….ÔÇØ

Budenya mengejang kuat sekali, bahkan Farid merasakan betapa kont01nya seperti disirami rasa hangat yang besar saat budenya menyemburkan orgasmenya.Farid segera berhenti menyodok, mencabut kont01nya. Dengan cepat ia berbaring sejajar di belakang budenya. Memiringkan tubuh budenya. Budenya yang tahu keinginan keponakannya ini, lalu mengangkat stu kakinya agak ke atas, membuka jalur buat kont01 Farid….dan blessss, kembali Farid memompa kont01nya, kali ini budenya memberikan perlawanan, mennoyangkan pantatnya berlawanan dengan gerkan sodokan Farid, membuat kont01 Farid serasa dibetot. Sodokannya makin kuat.
Satu tangannya memegang panhkal lengan budenya, mengelus dan memainkan rimbunan keteknya. Tangan yang lain membelai mesra dan meremasi tetek besar budenya itu, bibirnya asik berciuman dengan ganas. Sementara budenya menambah kepuasannya sendiri dengan memainkan it1lnya menggunakan jarinya sendiri. Nggak ku ku deh…..kurang apalagi enaknya hidup ini pikir Farid. Makin kuat saja ia menyodokkan kont01nya, desahan budenya seperti penyiram energi bagi nafsu mereka, keringat mereka mulai mengalir, tapi tak mengurangi sedikitpun keasikan mereka. Kont01nya menerobos lancar keluar masuk, menghantam lobang m3mek budenya, bahkan gerakan pantat budenya makin heboh memberikan perlawanan, Farid memang sudah lama terobsesi sama budenya, makanya di saat pertama ini ia benar ÔÇô benar sulit mengatur emosinya yang menggelora, sodokannya sangat cepat, dan akhirnya berbarengan dengan budenya yang mencapai klimaks….ia pun mencapai puncaknya juga, terkulai lemas. Diam sejenak, ia cabut kont01nya. Berdua berbaring dalam diam agak lama. Kont01nya sudah pulih dan mengacung lagi. Dia hanya melihat budenya membuka laci, mengambil handuk dan botol berisi cairan bening. Budenya lalu menyeka bersih kont01nya juga m3meknya, lalu mulai berbicara…

ÔÇØPintar kamu Rid…lagipula sekarang sudah bangun lagi hehehe.ÔÇØ
ÔÇØYa…semangat muda bude, masih menggelora, juga budenya memang hot sih.ÔÇØ
ÔÇØYuk lanjut…tapi bude mau kamu sodok dari pantat…ÔÇØ
ÔÇØPantat…?ÔÇØ
ÔÇØIya…memangnya kamu belum pernah…?ÔÇØ
ÔÇØBe..belum…ÔÇØ

Budenya nyengir saja, mengambil botol yang ternyata baby oil. Budenya lalu melanjutkan pembicaraan.

ÔÇØTenang saja, sama saja kok enaknya dengan lobang m3mek. Nah saat melihat kont01 kamu tadi tadi itu, bude nggak bisa nahan diri…bude pikir pasti enak kalau kont01 kamu nyodok pantat bude. Juga sudah agak lama bude nggak disodok pantatnya sama Pakdemu. Makanya tadi bude keluar sebentar ke kamar mandi buat bersihin daerah itu,biar kamunya enak dan juga lancar nyodok tanpa gangguan. Yuk…mau nyobain nggak…?ÔÇØ
ÔÇØMa…mau dong bude.ÔÇØ
ÔÇØNah sekarang kamu mainin dulu sambil siramin baby oil ini ke lobang pantat bude, tenang saja sudah bersih. Kalau ndak dikasih oil, bude agak sakit pas disodok.ÔÇØ

Tentu saja Farid tak menyiakan kesempatan ini, ia belum pernah sih menyodok dari lobang pantatnya. Dengan pacarnya dulu, ia juga sudah cukup puas menyodok lobang m3meknya. Kini budenya mulai berbring, lalu melipat kedua kakinya, dan melebarkannya, pantatnya terangkat tinggi, menampakkan lobang m3meknya tang memerah bekas disodok tadi, juga lobang pantatnya yang masih kecil. Agak ragu Farid mendekatkan mulutnya, nampak jembut sedikit menghiasi sekelilingnya, ternyata tak berbau, malah wangi sabun. Farid mulai menjilatinya dengan lidahnya, lobang itu kelamaan menjadi mekar…setelah agak lama budenya kembali mengarahkannya.

ÔÇØSodok ÔÇô sodok pakai jari kamu Rid. Jangan lupa disirami baby oil…Ughhhh…ÔÇØ

Farid segera menusukkan jari engahnya, bude Sri agak mengerang, membuat ragu Farid, tap mata budenya segera meyakinkannya untuk terus, ia buka tutup baby oil, menyiramnya sebanyak mungkin ke lobang pantat dan jarinya. Jari tengahnya mulai menyodok dengan lancar, lobang pantat bude mulai mekar, sesekali bude nampak enggoyangkan pantatnya, Farid makin menyukai hal baru ini, ia tuangkan lagi baby oil, kini bahkan ia menyodok lobang pantat budenya dengan jari tengah dan jari telunjuk sekaligus, lobangnya makin lebar, desahan budenya makin kuat. Lama sekali ia menyodok lobang pantat budenya…budenya kembali berucap…

ÔÇØAyoooo Riiid…masukkin…pakaiiii….kontoooolllmuuu…A ww….ÔÇØ

Farid segera melepaskan jarinya, secara naluriah ia menyiramkan baby oil ke kont01nya, ia tutup botol itu, dilemparnya sembarang. Kaki budenya yang terlipat makin lebar saja mengangkan, lobang pantatnya sudah mulai merekah lebar kemerahan. Farid memposisikan diri…sekali meleset, kedua sama saja…budenya membantu…digenggamnya kont01 keponakannya itu, diarahkan ke lobang pantatnya, perlahan kepala kont01 Farid menerobos…perlahan namun pasti…

ÔÇØAaaahhh….Auhhh…Gilaaaa…Terusssss saaajjaaa…Riiiiddd…ÔÇØ

Ekspresi wajah budenya agak mengernyit sedikit, sementara kont01 Farid sudah amblas seluruhnya, Farid mendiamkan, rasanya kont01nya dicengkram dengan sangat kuat. Akhirnya ia mulai memompa, masih seret di awalnya, juga budenya agak mengerang…lama ÔÇô lama seiring lobang pantat bude yang makin mekar, kont01nya dapat memompa dengan leluasa…..sumpaaahhh, Farid membatin, enak banget, mesti praktekkin sama ibu nih.Kont01nya menyodok kuat dan cepat, bibinya mendesah tak eruan, matanya merem melek, Farid makin nafsu dan makin cepat menyodok….budenya sesekali menggiyangkan pantatnya, akhirnya mengejang…orgasme lagi, farid masih asik saja menyodok pantat itu, kini bisa leluasa mendekatkan tubuhnya ke tubuh budenya, tangannya kembali meremas dengan kuat tetek budenya. Sebagai variasi ia cabut kont01nya, menyodoknya ke lobang m3mek budenya yang sudah menganga lebar, disodok dengan kuat dan dalam, sampai ÔÇôsampai bude Sri merasa agak sesak namun nikmat…lumayan lama ia menyodok m3mek budenya, ia cabut lagi, mengarahkan kont01nya kembali ke lobang pantat budenya. Kali ini mudah saja, karena lobang pantat itu juga sudah menganga lebar. Terasa hangat dan penuh cengkraman pada kont01nya. Ia maju mundurkan pantatnya, memompa dan menyodok dengan cepat dan stabil, bibirnya kembali menciumi bibir budnya yang membalasnya dengan tak kalah ganas. Plok…plok…bunyi pahanya yang beradu dengan belahan pantat montok budenya sat ia menyodok ke dalam makin menambah tinggi suasana penuh rangsangan ini. Keringat nampak mengaliri wajah Farid, tapi ia belum klimaks, ia makin ganas saja menyodok…lagi…dan lagi…dan…..lagi…..akhirnya denyut nikmat pada kont01nya menandakan ia mendekati klimaks, ia peluk kuat budenya, menciumnya dengan hangat, satu sodokan kuat ke lobang pantat bude Sri mengakhiri semuanya…crooot….crooot. pejunya memuncrat membasahi lobang pantat budenya. Farid mencabut kont01nya, lalu berbaring lemas. Budenya segera mendekati kont01nya, menjilati sampai bersih sisa peju yang menempel. Puas banget si Farid. Setelah suasana mulai adem, budenya membuka kembali percakapan…

ÔÇØJadi…gimana Rid…masih berpendapat budemu ini masih cantik dan seksi…?ÔÇØ
ÔÇØPastilah bude. Bahkan untuk selanjutnya juga Farid nggak bakalan bosan nyodokin bude…itu juga kalau bude mau hehehe…ÔÇØ
ÔÇØYa wislah…tapi ingat…ÔÇØ
ÔÇØIya…iya Farid tahu…jangan sampai Pakde tahu kan…beres deh.ÔÇØ
ÔÇØHehe…pintar kamu. Sebenarnya tadi bude lupa blang, tapi juga nggak masalah sih.Kamunya juga sudah bgecret di dalam. Memang tak bakalan masalah. Bude sudah tak bakalan hamil kok hehehe.ÔÇØ

Mereka masih asik berbicara sambil bercanda. Sepanjang hari itu dan juga hari ÔÇô hari esoknya mereka habiskan dengan saling bergumul memuaskan pasangannya. Tentu saja ada hambatan, kadang kalau siang mbak Sinta suka datang berkunjung ke ibunya, untung setiap kali ngewek pintu selalu terkunci. Jadi mbak Sinta akan menunggu sampai pintu dibuka entah oleh farid atau bude Sri yang memasang muka seperti orang habis tidur. Di kedepannya untuk kenyamanan, bude Sri meminta agar mbak Sinta sebelum datang menelepon dulu ke Hpnya, takutnya di sini pada tidur siang, jadi telepon dulu, supaya saat kamu datang, sudah dibukakan pintu, itu alasan bude, dan mbak Sinta tak curiga sedikitpun.

Pakde Harno memang pulang di akhir bulan, dapat jatah pulang seminggu. Saat pakdenya tiba, Farid memutuskan ijin pulang ke jakarta, akan balik saat Pakdenya berangkat kembali. Ia kangen sama ayahnya…terutama ibunya. Lagipula Farid mau memberikan waktu pada Pakdenya. Mungkin belakangan ia sudah santai, tak stress atau mengalami tekanan pekerjaan sehingga bisa membaik dari ejakulasi dininya. Sebagai insinyur mesin, kini saatnya ia turun mesin, membenarkan perkakasnya sendiri. Farid memutuskan menemui Lisna, ibunya, sekaligus mempraktekkan beberapa gaya yang ia dapat dari bude Sri. Toh nanti kalau ia balik ke Yogya, dan mulai kuliah lagi, sepanjang siang sampai sore bude Sri bisa ia garap sepuasnya.

Bude Sri sendiri menikmati babak baru kehidupan seksnya sama keponakannya Farid. Memang akhirnya suaminya bisa membaik, ternyata suaminya dulu mengalami ejakulasi dini karena stress memikirkan apakah dirinya akan terpilih atau tidak untuk proyek kerjasama dengan perusahaan pertambangan. Walau suaminya sudah membaik, bude Sri sudah kadung doyan sama kont01nya Farid, makin banyak makin nikmat…itu prinsipnya. Juga sama sekali tak bertanya pada adiknya Lisna atau Farid mengenai apakah mereka juga sudah melakukan hubungan seks. Apa bedanya sih sama aku pikir Sri. Toh Lisna juga sama…mencari sedikit tambahan kenikmatan.

Farid sendiri tetap melanjutkan kuliahnya, lalu hubungannya dengan Yuni..? Ah biarlah, slowly but sure, itu bagian cerita lain dalam hidupnya. Toh saat ini ada ibu dan bude yang sudah cukup menguras energinya. Farid tak menyesali aksinya yang rada terlambat…biar bagaimanapun…Biar Lambat Asal….Nikmat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*