Home » Cerita Seks Mama Anak » Biar Lambat Asal Nikmat 1

Biar Lambat Asal Nikmat 1

Matahari bersinar sangat terik sekali siang ini. Farid baru saja membuka pintu gerbang, ingin secepatnya masuk ke dalam rumah yang sejuk. Ditutupnya kembali pintu gerbang, menuntun motor bebeknya, memarkirnya dengan rapi di garasi samping, segera melangkahkan kaki ke pintu depan. Pintu depan terbuka, sepertinya ada tamu, Farid melihat bayangan orang sedang berbicara dari balik jemdela. Kurang jelas terlihat dari pagar sini. Sambil melangkah masuk ia mengucapkan salam.

ÔÇØLho…ibu…kapan datang…? Kok nggak ngabarin ? Mana Ayah ?ÔÇØ
ÔÇØBaru saja ibu sampai.Sengaja tak memberi kabar, sekalian kejutan.ÔÇØ

Baru saja Farid hendak bertanya, budenya sudah memotong pembicaraan

ÔÇØSudah, kamu makan saja dulu. Nanti kan bisa ngobrol sama ibumu, sana kamu ganti baju dulu.ÔÇØ
ÔÇØIya bude.ÔÇØ
ÔÇØSekalian kamu bawakan tas ibumu ini…ÔÇØ

Faridpun mengambil tas yang dibawa ibunya, banyak juga bawaannya. Tak seperti biasanya. Faridpun melangkah masuk ke dalam. Masih bertanya ÔÇô tanya, kan baru 2 bulan yang lalu ibu berkunjung kemari bersama ayah, kok sekarang sudah datang lagi. Nah sebelum pembaca bingung, ada baiknya dijelaskan dulu semuanya dari awal ya….

Farid, awal 19 tahun, baru saja masuk kuliah tingkat 1 di sebuah Universitas Negeri di kota Yogyakarta, sebentar lagi bersiap masuk tingkat 2, Jurusan Tekhnik. Aslinya dia tinggal di Jakarta. Tapi karena kuliahnya sekarang, dia tinggal di rumah pakde dan budenya yang memang menetap di Yogyakarta.

Ayahnya, Joko, 45 tahun, orang Jakarta asli, pegawai bank pemerintah, bekerja dari awal karir saat masih bujang, kini menduduki jabatan yang lumayan sebagai kepala bagian kredit di salah satu kantor cabang di Jakarta. Ibunya Lisna, 39 tahun, asli Yogyakarta, ibu rumah tangga. Walau ayahnya orang Jakarta, tetapi ibunya lebih terbiasa memanggil suaminya itu dengan sebutan Mas, bukan abang. Farid mempunyai satu orang kakak perempuan, Ningsih, 21 tahun, sudah menikah. Kini ikut suaminya yang bekerja di Kalimantan. Awalnya setelah lulus SMA, ayahnya menginginkan Ningsih kuliah, tetapi bang Husin, 24 tahun, masih tetangga mereka, yang telah memacari kakaknya dari awal kakaknya SMA melamar kakaknya. Orangtua bang Husin juga memaksa, akhirnya karena kak Ningsihnya juga tak keberatan, dan ayah juga sangat mengenal baik kedua orangtua bang Husin, mereka diijinkan menikah. Awalnya setelah menikah mereka masih tinggal di rumah, tetapi tak lama bang Husin dikirim perusahaan pusat ke Kalimantan. Awalnya bang Husin berangkat sendiri, setelah 3 bulan di sana, setelah merasa mantap, juga karena mendapatkan mess bagi karyawan yang menikah, ia meminta istrinya menyusul. Maklum penganten baru hehehehe. Tentu saja ayah dan ibu awalnya berat melepas anak mereka, tetapi sadar kini kak Ningsih telah menjadi tanggung jawab dan juga hak suaminya. Sedangkan Farid sendiri, sewaktu akhir kelas 3, dia mengikuti program masuk universitas negeri, mengambil jurusan tekhnik yang ia suka. Memilih kota Yogyakarta dan satu kota lain sebagai pilihannya, dan behasil lolos. Memang walau sepintas gayanya seperti malas, tapi otaknya cukup encer. Sebenarnya ayah dan ibunya keberatan, anak perempuannya sudah merantau dibawa suaminya, kini anak lelakinya harus kuliah di Yogyakarta. Tapi untuk menghargai usaha Farid yang bisa lolos dari ujian itu, dan karena di Yogya ada keluarga, maka akhirnya merestui.

Awalnya Farid memang maunya kost saja, tapi ditolak ayahnya. Tak ada yang mengawasi katanya. Di Yogyakarta ini ada kakak ibu, bude Sri, 42 tahun. Suaminya Pakde Harno, 46 tahun, insinyur mesin, bekerja di perusahaan swasta yang bergerak di alat berat dan mesin industri. Perusahaan pusatnya di Jakarta. Pakdenya bekerja di cabang yang meliputi region Yogyakarta, Solo dan Jawa tengah. Anak mereka 2 orang, perempuan semua. Sebenarnya Farid juga tak asing lagi dengan mereka. Sudah sering berkunjung dan menginap di sana kalau saat libur sekolah atau hari raya. Pakdenya juga amat sangat senang menerima Farid, maklum tak punya anak lelaki. Anak pertamanya, Mbak Santi, 22 tahun, sudah menikah dan kini menetap di Sumatra, ikut suaminya. Suaminya itu pegawai bank swasta. Awalnya kerja di kantor cabang Yogyakarta. Atasannya menyukai dan senang dengan cara kerjanya. Sewaktu ada informasi mengenai posisi yang bagus di cabang Sumatra, atasannya mengajukan dirinya. Sifatnya optional, boleh diambil, boleh tidak, setelah berdiskusi dengan istri dan mertuanya, akhirnya ia mengambilnya, karena selain akan naik jabatan dan memperoleh fasilitas, juga yang menjadi pertimbangan utama..gajinya naik dalam jumlah yang signifikan. Berangkatlah mereka, rupanya sangat kerasan di sana, bahkan suaminya dibajak sebuah bank di sana, mendapatkan fasilitas dan juga rumah dinas yang baik, sepertinya bakalan berkarir penuh selamanya di sana. Anak Pakdenya yang kedua, mbak Sinta, 20 tahun, baru menikah 2 bulan yang lalu, di mana ayah dan ibu Farid juga datang menghadiri acaranya. Menikahnya masih sama tetangga sekomplek. Hampir serumah sama kak Ningsih dulu, pacarnya ngebet minta kawin. Jadilah walau mbak Sinta masih kuliah, namun tetap menikah. Kini tinggalnya cuma beda beberapa blok saja dari sini.Suaminya pegawai Pemda. Mbak Sinta juga tentu saja tetap melanjutkan kuliah. Nah Farid ini menempati kamar mbak Santi, sebenarnya Farid sangat tak enak, karena kamar tersebut sangat bagus dan komplit. Ceritanya sewaktu baru menikah dulu suami mbak Santi merombak sedikit kamar itu. Di bagian luar ada kelebihan lebar sekitar 1.5 meter, ia membuat kamar mandi di dalam, mungkin biar praktis dan nyaman, tak perlu mondar ÔÇô mandir ke kamar mandi luar. Ternyata tak lama ia bertugas di Sumatra. Jadilah Farid beruntung menempati kamar 4 x 4 dengan kamar mandi di dalam. Pakde dan Budenya, juga mbak Santi, sudah nyaman dengan kamarnya masing ÔÇô masing dan tak mau menempati kamar mbak Sinta.

Setelah menikah, kamar mbak Sinta tentunya kosong, Pakde Harno yang memang ingin mempunyai ruang kerja juga perpustakaan mini, akhirnya merombak kamar itu. Toh mbak Sinta tinggal hanya beberapa blok saja dari sini, jadi kalaupun datang tak mungkin menginap. Ia meminta bantuan Farid, dikerjakan kalau hari libur, santai saja. Farid tentu saja senang membantu, peralatan kerja Pakdenya juga komplit, mengerjakannya juga santai saja tak buru – buru, setelah beberapa lama mengerjakan jadilah rak ÔÇô rak untuk buku juga beberapa meja. Farid sebenarnya agak heran kok banyak juga mejanya, tetapi Pakdenya bilang, ruang ini juga untuk Farid. Dan yang lebih menyenangkan Pakdenya memasang internet dan mengganti komputer yang lama dengan yang baru, komplit sama scanner dan printernya, memang untuk mendukung pekerjaan Pakdenyanya juga. Lumayan pikir Farid, nggak perlu ke warnet lagi. Kasur yang lama disimpan di gudang. Pakdenya hanya berpesan, ruang ini boleh Farid pakai, tetapi di luar waktu khusus Pakdenya. Semua anggota keluarga sudah paham mengenai waktu khusus ini. Baik hari biasa atau libur, Pakdenya setiap jam 7 sampai jam 9 malam, rutin meluangkan waktu untuk dirinya sendiri, baik untuk membaca atau bekerja, dan tak ada yang boleh mengganggu. Dan kini makin asik saja setelah mempunyai ruang khusus. Farid sih tak masalah, toh ia bisa memakainya di luar waktu itu.

Ayah dan ibu mengantar Farid ke Yogyakarta, sekalian mengurus pendaftaran dan administrasi kuliahnya, dan meminta ijin ke saudaranya. Awalnya sewaktu meminta ijin supaya Farid bisa menetap di situ, ayah bermaksud membayar uang tinggal, ya, karena ini kan bukan seperti kunjungan saat liburan. Tentu saja Pakde Harno keberatan, agak tersinggung, katanya ke ayah saat itu. Apa ÔÇôapaan kau Joko, Farid ini keponakanku, seperti anakku, tinggal saja, tak usah kau malu hati sampai mau membayar uang sewa, memangnya ini kost ÔÇô kostan. Dan memang Pakdenya ini sangat senang, seperti dapat teman ngobrol sejiwa, maklum nggak punya anak laki, kini dia punya teman diskusi, teman nonton bola saat malam. Memang Pakde dan Farid maniak bola, dulu Pakde kalau nonton malam hanya sendiri, baru bisa mendiskusikannya besok saat ketemu teman di kantor, kini ada Farid yang menemani. Kehadiran Farid seperti anak lakinya sendiri saja.

Untuk uang kiriman bulanan, Farid benar ÔÇô benar bisa berbahagia, sangat ÔÇô sangat lebih dari cukup. Ya, maklumlah, ayahnya kan kini berkurang kewajibannya, sudah tak membiayai kakaknya, Ningsih. Jadi bisa melebihkan jatah Farid. Buat makan, paling Farid keluar uang saat di kampus saja, selebihnya dia makan di rumah Pakdenya. Paling ia membeli kopi, susu, gula, dan makanan kecil dalam jumlah agak banyak yang sebagian akan ditaruhnya di lemari dapur, buat keluarga Pakdenya. Selebihnya buat rokok dan bensin. Ayahnya juga membelikan motor bebek, walau bukan baru dan bukan terbitan tahun muda, tapi Farid senanglah, daripada berangkot ria. Pendeknya buat masalah uang, Farid benar ÔÇô benar makmur, setiap akhir bulan selalu bersisa lumayan banyak, juga bisa lumayan sering traktir temannya.

Normalnya Farid pulang tiap libur semester atau kadang hari raya, kalau ayah dan ibunya tak berhari raya di Yogyakarta. Memang biasanya orangtuanya rolling, tahun ini hari raya di Jakarta dengan keluarha ayah, tahun besok di Yogyakarta keluarga ibu. Ibu hanya 2 bersaudara dengan budenya, orangtuanya sudah tiada, tapi saudara dan kerabat masih lumayan banyak di Yogyakarta dan sekitarnya. Setelah Farid kuliah di sana orangtuanya kadang menjenguknya, ayahnya biasa ijin atau cuti sehari, berangkat kamis malam, nanti kembali Minggu pagi, naik bis atau kereta, kalau lagi banyak rejeki, naik pesawat. Dahulu kalau ayah ibu datang, maka ayahnya akan tidur di kamar Farid, sedang ibunya sekamar dengan mbak Sinta. Jutru ini, sekarang kan kamar itu sudah dirombak, Farid baru ingat hal itu saat ia membawa tas ibunya. Ia terdiam, berbalik kembali ke ruang tamu. Terakhir 2 bulan lalu saat ayah ibunya datang menghadiri kawinannya mbak Sinta, kamar itu masih belum dirubah.

ÔÇØEh, bude, kan kamarnya mbak Sinta sudah jadi ruang kerja Pakde…ÔÇØ
ÔÇØOh iya, bude lupa…iya Lis, mas Harno sudah merubah kamarnya Sinta buat ruang kerjanya dan juga buat Farid…ya wislah, kamu tidur di kamar Farid sja, tak masalah kan…?ÔÇØ
ÔÇØNg..iya deh mbak, di mana saja juga tak masalah.ÔÇØ

Farid segera membawa tas ibunya, kasur peninggalan mbak Santi ukuran besar, maklum kasur ukuran suami istri. Farid memakainya tanpa menggunakan kayunya, cukup di lantai dialas karpet tipis. Biar nanti dia tanya ibu, kalau memang ibu mau sendiri, dia akan ambil kasur yang di gudang, ngegelar di sebelahnya atu di pojokan kamar. Farid segera mengganti baju dan ke kamar mandi bersih ÔÇô bersih. Saat ia keluar dari kamar mandi, ibunya sudah di kamar.

ÔÇØBu..anu..kalau ibu maunya tidur sendiri, biar nanti Farid ambil kasur yang di gudang buat Farid.ÔÇØ
ÔÇØYa..ndak usahlah Rid, kasur ini juga besar, kamu nanti di pinggir sana saja.ÔÇØ
ÔÇØYa…sudah kalau begitu. Oh ya bu, jadi bagaimana ceritanya nih sampai ibu kemari tanpa pemberitahuan ? Ayah ke mana ? Terus berapa lama ibu nginapnya…?ÔÇØ
ÔÇØDuh nanyanya satu ÔÇô satu dong, tolong nyalain kipas anginnya Rid, ibu gerah nih…ÔÇØ

Farid segera menyalakan kipas angin kecil, memang ibunya tak tahan gerah, sudah kayak udang rebus saja saat ini karena cuaca siang ini memang lumayan panas. Dia menunggu ibunya mendinginkan diri sebentar. Setelah sudah agak adem ibunya memulai menjelaskan.

ÔÇØIbu memang sengaja tak beritahu kamu. Jadi ceritanya ayahmu itu lagi ada dinas luar, agak lama 2 bulan, di Sulaiwesi. Karena memang cuma 2 bulan dan sayang ongkos, maka ayahmu memutuskan sekalian saja terus disana. Nah ibu kan sendirian di rumah, daripada tak ada kerjaan juga tak ada yang menemani, maka ibu usul ke ayahmu agar selama ia di sana, ibu tinggal di rumah budemu saja. Ayahmu tak keberatan, bahkan mendukung.ÔÇØ
ÔÇØOh begitu, sekarang di rumah siapa yang tinggalin bu? Terus memangnya ayah dinas apaan, tumben, biasanya cuma seminggu atau 2 mingguan saja.ÔÇØ

Ibunya menjelaskan, rumah mereka di Jakarta ditunggui sama Mang Jaka, adik ayahnya. Ibu lalu menjelaskan, di kantor cabang Sulaiwesi, tempat bank ayahnya bekerja, telah terjadi masalah, ada kebocoran serius ( Bahasa halusnya buat korupsi ). Pimpinan dan pegawainya banyak yang dipecat. Dari pusat memutuskan untuk merekrut atau mempromosikan tenaga baru dari daerah itu, tapi tetap harus ditraining dan dibina oleh orang pusat. Juga sekalian membenahi pembukuannya yang sudah disulap sana ÔÇô sini. Maka ayahnya dan beberapa orang lainnya dikirim ke sana. Nantinya tinggal di mess milik Perusahaan. Ayahnya mau, uang dinasnya lumayan kata ibu…hehehe dasar. Jadi begitulah ceritanya sampai ibunya datang tanpa pemberitahuan. Ya sudah, farid sih senang ÔÇô senang saja dengan kehadiran ibunya. Tak lama bude memanggil mengajak makan, Farid keluar duluan, ibunya ganti baju dulu lalu menyusul.

Setelah makan, Farid masuk kamar, mau rebahan sebentar, tadi mbak Sinta baru saja datang ditelepon bude yang mengabarkan kedatangan ibu, kini asik mengobrol sama ibunya dan Bude. Farid segera berbaring sambil mulai berpikir. Agak aneh juga nanti harus tidur sama ibunya. Farid memang sayang sama ayah dan ibunya. Ibunya juga sangat sayang padanya, karena Farid anak bontotnya. Ibunya walau begitu, selalu menjaga diri dengan baik, tak pernah sembarangan kalau mengganti baju, tak pernah bebas membiarkan Farid melihatnya. Farid sendiri termasuk anak yang baik dalam hal perilakunya selama ini, tak pernh menyusahkan atau terlibat masalah serius, sekolah juga tak pernah bikin masalah, namun seiring umurnya tentu saja ia juga sudah mengenal dan melewati tahap pubernya. Bahkan untuk urusan seks juga Farid bukanlah anak kemarin sore lagi. Di SMA dulu, sering melakukannya dengan pacarnya, sayang hubungannya putus. Di kuliahan sekarang, ia juga akrab bergaul, beberapa anak mahasiswi di kampusnya kini mulai dalam tahap seleksinya. Dan jujurnya, memang Farid mengagumi dan mengakui kecantikan ibunya. Dan seperti anak remaja yang dalam tahap berkembang, dulu juga sering ia berkhayal mengenai ibunya. Tapi tak lebih dari itu. Farid juga remaja yang normal, sering membayangkan gadis remaja seusianya.

Sewaktu tinggal di Yogyakarta, memang Farid mengakui kalau kedua kakak sepupunya cantik dan Farid juga nggak munafik sering mengagumi dan mengkhayalkan mereka. Namun Farid mendapati dirinya justru lebih menyenangi dan lebih bergairah pada budenya, Sri. Walau usianya sudah 42 tahun, tetapi bodinya tetap yahud. Bahkan tanpa ragu Farid berani berkata bahwa bodi budenya jauh…jauh lebih nafsuin dan jauh lebih mendebarkan dibandingkan kedua kakak sepupunya itu. Pantatnya besar, teteknya apalagi besar dan masih kencang, selalu membuat Farid ngaceng setiap melihat tonjolan kembar itu di balik dasternya. Yang paling menyenangkan Farid, budenya ini suka sekali memakai daster yang belahan lengannya lebar, memang kadang tetap memakai BH, tetapi kalau hari panas atau malam menjelang tidur, umumnya Bude akan melepas BHnya, dan kalau budenya mengangkat tangannya agak tinggi, maka Farid dari samping bisa melihat pinggiran tetek budenya yang besar itu, kadang bebas, kadang terbungkus BH yang ketat, juga pangkalan lengannya yang berketek rimbun. Dan budenya juga entah tak ngeh atau memang tak peduli, cuek saja. Memang sih Farid sebisa mungkin mencuri lihat dengan tak terlalu bernafsu, tak pernah ketangkap basah sedang memandang, jadi tak ketara. Yang paling Farid ingat, waktu siang dia sudah pulang kuliah, setelah istirahat, budenya yang lagi membereskan kamar mbak Sinta yang baru menikah, memanggilnya. Budenya berdiri di atas kursi, menurunkan kardus ÔÇô kardus di atas lemari, tadinya Farid menawarkan diri menggantikan, tapi nggak usah kata budenya. Budenya berdiri di atas kursi, menjulurkan tangan mengambil kardus, yang agak ke belakang letaknya. Farid menunggu untuk menerima kardus itu. Matanya sangat melotot seakan mau lepas, menyaksikan belahan lengan daster budenya, bagian samping sebelah tetek budenya sangat jelas terlihat, karena budenya rada mencondongkan badan. Besar, walau sedikit turun, tapi sangat seksi terlihat, pentilnya juga besar dari samping. Mungkin karena gerah mengangkat ÔÇô ngangkat, bude tak memakai BH. Karet CD atasnya juga terlihat Belum lagi keteknya kehitaman dan rimbun, sangat erotis. Kont01 Farid sangat keras sekali saat itu, untung celana pendeknya yang model lebar, kalau nggak bisa tengsin. Mana kardusnya lumayan banyak, agak lama jadinya memindahkannya, sangat memuaskan mata Farid menatap keindahan di balik belahan lengan daster itu, juga sekaligus menyiksa, celananya sangat sesak rasanya. Yang pasti kalau lagi seru bermasturbasi, Farid senang sekali membayangkan budenya itu. Tapi ya itu tadi, cuma bisa berkhayal saja. Tak mungkin berbuat lebih.

Sehari sudah ibu menginap.Ternyata ibunya mengalami sedikit masalah, biasanya kan kalau menginap ibunya selalu tidur di kamar mbak Sinta. Kini ibunya mempunyai masalah, kalau mau ganti baju, dia tak nyaman melakukannya di depan Farid. Farid yang memang tak mempunyai pikiran apapun, awalnya tak menyadari, tetap saja cuek di kamar. Barulah saat ibunya menyuruhnya keluar, Farid sadar…duh repot pikir Farid. Memang tak setiap saat, hanya kalau saat Farid sudah di rumah, tapi lumayan mengganggu. Dari sisi Farid sendiri, ia mengalami masalah juga, baru kali ini di usianya yang sekarang ini ia tidur lagi bersama ibunya. Dulu masih kecil sih sering, tapi itu dulu waktu masih kecil dan belum kenal namanya wanita dan seks. Memang ibunya tidur memakai daster yang besar, atau kadang daster model kaos dan celana pendek. Ibunya tidur di pojokan dekat tembok, dia di sisi satunya. Awalnya sih biasa saja, tapi kala ia melihat ibunya yang tertidur tak urung matanya jadi jelajatan, walau saat itu ibunya tidur dalam balutan busana yang sopan, tapi melihat tonjolan teteknya yang sangat busung itu, tetap saja membuat Farid bereaksi. Membuatnya berkhayal, seperti apakah keindahan di balik daster itu. Untunglah ia mampu mengendalikan dirinya.

Dua hari pertama, ibunya banyak melewati hari mengobrol sama budenya, atau kadang jalan keliling ke saudara. Farid kuliah seperti biasa. Di hari ketiga saat mandi pagi harinya, Farid sedang asik nongkrong sambil merokok, ritual rutin pagi harinya. Ibunya sudah di depan membantu budenya menyiapkan sarapan. Matanya menangkap BH ibunya yang tergantung di gantungan tembok kamar mandi, Farid menatapnya, mulai berpikiran ngeres, ia bangun dan segera mengambilnya, besar juga pikirnya…size 38, Farid mendekatkan hidungnya, aromanya sangat lembut dan wangi, kont01nya mulai mengeras, sesekali ia gesekkan kont01nya ke BH ibunya. Dan tak lama ia sudah asik main sabun, mengocok kont01nya sambil tetap menciumi BH ibunya, sungguh sangat merangsang dirinya. Setelah lumayan lama kont01nya pun ngecret, agak memerah. Farid menaruh kembali BH itu. Farid kini mulai terobsesi untuk benar ÔÇô benar dapat melihat tubuh telanjang ibunya, bagaimanapun caranya, biar sebentar atau sekali saja, ia harus bisa. Berjuanglah…Farid menyemangati dirinya sendiri. Farid berpikir sambil memandang sekeliling ruangan kamar mandi itu, mata Farid memandang pintu alumunium kamar mandi, pintunya rapat sekali…tapi untuk saat ini saja pikirnya. Memang kalau buat urusan ngeres, otak kadang ÔÇô kacang bisa menjadi sangat kreatif dan inovatif hehehe. Ia segera mengambil handuk, menutupi tubuh bagian bawahnya, keluar sebentar, ibunya masih di luar, ia segera membuka laci meja di kamarnya, mengambil obeng model double, ia kembali ke kamar mandi, menutup pintunya, melepas handuknya dan memulai kreatifitasnya. Mengukur posisi yang pas buat matanya, agak tinggi di tengah, biar tak perlu terlalu membungkukkan badan, juga sudut pandangan harus luas dan maksimal. Dengan mata obeng kembang, ia mulai mengendorkan beberapa mur, tak perlu terlalu kendor. Setelah kelar, ia balik mata obeng, memakai mata obeng min, ia mulai mencongkel sela sekat alumunium, perlahan dan pelan saja, terciptalah celah yang lumayan nyaman dan tak mencolok mata, kalaupun ada yang melihat tak akan curiga itu sengaja dibuat. Obeng ia taruh di pinggir bak mandi. Ia mengarahkan matanya, mencoba mengintip, nampak ruangan kamarnya dengan jelas. Pas….pikirnya. Apalagi bagian belakang pintu kamar mandi ini tak digunakan untuk menggantung handuk. Ia segera mulai mandi sambil bersiul – siul dengan gembira. Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia tutup pintu amar mandi dari luar, mengetes sebentar, sangat jelas…hatinya bersorak. Ups…hampir lupa, ia segera mengambil obeng dan membereskannya. Lalu ia keluar kamar, siap sarapan dan berangkat kuliah. Di luar Pakdenya sudah duduk, minum kopi sambil makan roti. Farid mengucapkan salam, lalu duduk ikut sarapan. Bude dan ibunya nampak sedang asik sarapan sambil menonton acara gosip di TV.

ÔÇØHey Rid…nanti malam ada siaran langsung nih..Milan lawan MU, temanin Pakde nonton ya.ÔÇØ
ÔÇØIya Pakde, pastilah, seru sih, nanti Farid temanin. Sekalian nanti sore Farid beli cemilan. Megang mana Pakde ?ÔÇØ
ÔÇØPasti Milanlah. Kuliah jam berapa Rid..?ÔÇØ
ÔÇØNanti jam 9an. Kelar jam 1.ÔÇØ
Oh gituya sudah, nanti malam ya. Pakde pulangnya mungkin agak malam, maklum di kantor sini lagi sibuk. Pusat baru saja dapat kontrak awal rencana kerjasama dengan Perusahaan pertambangan, sekarang lagi sibuk banget, seleksi tenaga terbaik buat dikirim ke sana. Kalau Pakde sih rasanya berat kepilih, maklum sudah tua, mungkin jatah yang muda.
ÔÇØIya Pakde. Oh iya Pakde, itu komputernya sudah selesai Farid install program – program yang Pakde minta, nanti kalau sempat dicek saja ya.ÔÇØ
ÔÇØIya…iya, bagus tuh, Pakde memang butuh program itu, bakal membantu kerjaan Pakde. Sengaja pinjam CDnya sama teman Pakde, sayang Pakde sulit installnya, nggak kayak biasa sih. Rada gaptek.ÔÇØ
ÔÇØNggaklah…nanti Farid ajarin deh, nggak beda sama yang biasa, Cuma perlu penyesuaian sedikit.ÔÇØ

Memang Pakde Harno tak terlalu menguasai komputer, kalau install program sebenarnya dia bisa, tapi ya itu, kalau program yang benar dan sesuai, tinggal klik, next, klik, next, finish. Kalau program ÔÇô program yang seperti ia minta Farid installin memang ia tak paham. Maklum program bajakan. Pakde nggak paham memakai cracknya. Takut salah katanya. Padahal sih tinggal copy exe.nya ke directorynya atau masukin patchnya sesuai direktori installnya. Ya sudahlah Farid sih senang saja membantu Pakdenya yang sudah baik padanya. Dia sendiri juga tak begitu paham program ÔÇô program yang Pakdenya minta install, lebih ke program buat mesin dan perhitungan yang rumit. Belum ia pelajari di kuliahnya. Akhirnya Pakde dan Farid kelar sarapan dan segera berangkat.

Di kampus Farid sama sekali tak konsentrasi. Pikirannya terlalu penuh bayangan mesum. Setelah jam pertama selesai, ia memutuskan bolos saja mata kuliah selanjutnya nitip absent saja. Mau pulang nggak enak, masih pagi, ya sudah ia kini asik nongkrong di kios ÔÇô kios dekat kampusnya. Mengobrol sama beberapa anak jurusan lain yang ia kenal. Biasalah, mengobrol ngalor ÔÇô ngidul sambil merokok bareng, Farid memesan kopi susu. Menawarkan kepada yang lain, yang dengan tanpa sungkan menerima. Ya, betapa rokok dan minuman ringan dapat menjadi media yang menjembati dan menghasilkan persahabatan. Sekitar jam 12 kurang, matanya menangkap sosok cantik yang sudah lama ia suka. Kakak seniornya, Yuni, anak hukum tingkat 4. Sudah beberapa kali Farid mencuri kesempatan mengajak bicara. Awalnya kaku, tapi karena Farid cukup luwes dan juga muka badak, akhirnya mulai akrab. Juga mendapat nomor HP-nya, sesekali Farid kirim SMS. Tapi Farid tetap waspada, selalu berusaha mengajak ngobrol kalau Yuni sedang sendiri. Bukan apa, takut anak hukum pada ngamuk, biar gimana kan dia sudah menjamah lahan dan propertinya anak hukum, bisa dituntut pasal berlapis, pidana dan perdata. Nah itu Yuni sedang foto copy. Farid permisi sebentar sama anak ÔÇô anak, bilang ke si Joe yang punya warung, nanti dia bayar,nanti dia balik lagi. Farid melangkah dengan pasti, melirik dulu ke sekeliling, takut ada anak senior dari hukum, oke tampaknya aman.

ÔÇØHei Yun..ÔÇØ
ÔÇØEh…kamu Rid, nggak masuk ?ÔÇØ
ÔÇØSudah tadi, tapi mendadak bosan, ya sudah titip absent saja.ÔÇØ
ÔÇØDasar..entar ketinggalan lho.ÔÇØ
ÔÇØHehehe. Lagi apa Yun..?ÔÇØ
ÔÇØOh ini, aku lagi fotocopy bahan kuliah, minjam di perpus.ÔÇØ
ÔÇØOh gitu, kamu nggak ada kuliah..?ÔÇØ
ÔÇØAda sih, nanti jam 1, Hari ini cuma satu saja, jam berikutnya malas, habis yang masuk asisten dosen doang. Nanggung sih benarnya.ÔÇØ

Farid masih asik mengobrol, akhirnya fotocopyan Yuni selesai, ia membayarnya. Maksudnya Yuni yang bayar, bukan Farid dong hehehe. Farid melirik jam duabelas seperapat, nekad sajalah…

ÔÇØYun..eh..sudah makan belum ? Eh anu..kalau belum, mau nggak sekalian sama aku. Aku traktir deh, makan bakso saja di pengkolan, mau nggak..?ÔÇØ
ÔÇØDuh..gimana ya, aku sebenarnya mau balikkin buku lagi ke perpust…eh tapi enak juga nih kalau ditraktir. Ya sudah deh.ÔÇØ
ÔÇØNah gitu dong. Kamu tunggu sebentar ya. Aku ambil motorku dulu.ÔÇØ

Farid bergerak cepat, kembali ke warung minuman, membayarnya, sekalian pamit sama anak ÔÇô anak, ada bisnis katanya. Anak ÔÇô anak yang sempat melihat Farid mengajak Yuni mengobrol di kejauhan, hanya memberi semangat sambil bertoast ria dengannya. Iyalah anak kuliahan juga norak, kalau temannya ada yang usaha dekati anak senior, mereka juga ikut senanglah. Setelah beres, Farid ke parkiran. Tak sampai 4 menit ia sudah membonceng Yuni ke warung bakso. Nggak terlalu jauh juga tak terlalu dekat sih, tapi sangat enak dan murah, sering dikunjungi anak ÔÇô anak kuliahan. Agak ramai siang ini, karena pas jam makan siang, setelah menunggu, akhirnya mereka berdua sudah asik menikmati pesanannya. Farid makan dengan grogi, ya pastilah…nggak nyangka bisa ngajak Yuni. Mereka makan sambil mengobrol. Ngalor ngidul yang penting ngobrol. Sudah kelar Farid membayar dan mengantarkan Yuni kembali. Berhenti sedikit jauh dari gerbang kampus…

ÔÇØKok di sini berhentinya Rid..ÔÇØ
ÔÇØEh..sori Yun, nggak enak sama angkatan kamu, ngerti kan..ÔÇØ
ÔÇØIya juga sih hehehe….ya sudah..makasih ya Rid sudah ditraktir.ÔÇØ
ÔÇØBukan apa ÔÇô apa kok, cuma bakso. Ya sudah aku permisi, selamat kuliah ya.ÔÇØ

Yuni tersenyum, Farid segera melaju, hatinya senang sekali. Nyengir terus sepanjang perjalanan pulang, hampir keserempet angkot…kebanyakan nyengir sih. Tak lama ia sampai ke rumah, jam 1 lewat dikit. Sepi pikirnya, saat mengetok pintu. Diketoknya pintu, tak ada sahutan…sekali lagi, juga sama. Dia mengeluarkan kunci serep jatahnya dari tas, membuka pintu sambil berusaha menelepon HP budenya. Tak lama budenya menyahut, minta maaf lupa SMS Farid. Katanya dia, ibunya, sama mbak Sinta lagi jalan ÔÇô jalan ke pasar klewer sebentar. Suami mbak Sinta minta dibelikan baju batik buat kerja. Ya sudahlah…Farid mengucapkan salam, mematikan HP. Ia lalu menutup pintu, menguncinya. Setelah ganti baju dan bersih ÔÇô bersih, ia masuk ke ruang kerja. Ya, mendingan juga browsing. Farid dengan sangat berkonsentrasi asik membuka situs ÔÇô situs porno kesayangannya, mengamati dengan berdebar model ÔÇô model yang bertetek besar, bikin ngaceng saja pikirnya…dasar si Farid, kalau ngelihat situs porno ya ngacenglah, kalau mau ketawa ya lihat situs humor hehehe. Jam 3 lewat, karena sudah terlalu pusing dan terlalu keras anunya, Farid mematikan komputer, tak lupa menghapus tracknya. Masuk ke kamar rebah ÔÇô rebahan. Ia pun tertidur. Rasanya belum lama ia tertidur, bahunya serasa ada yang menggoncang ÔÇô goncang…duh ganggu saja pikirnya, ia membuka mata. Ibunya, sudah memakai daster, rupanya sudah pulang.

ÔÇØHei…bangun dulu sana. Tuh ibu belikan makanan. Kamu belum makan ya ? Kasihan…maaf deh, habis ibu keasikan jalan. Yuk bangun dulu, sekalian temani ibu makan.ÔÇØ
ÔÇØI..iya bu, bentar, masih ngantuk. Ibu duluan deh. Farid cuci muka dulu.ÔÇØ
ÔÇØYa sudah. Cepat ya…ÔÇØ

Tak lama Farid sudah di meja makan. Ibunya membuka bungkusan makanan yang dia beli. Mereka pun mulai makan.

ÔÇØBude ke mana Bu…?ÔÇØ
ÔÇØTidur..kecapekan katanya.ÔÇØ
ÔÇØOh…tadi ke mana saja…?ÔÇØ
ÔÇØOh itu…mbakmu Sinta minta diantarin nyari kemeja batik buat suaminya, ya sudah sekalian sajalah, ibu tadi lihat ÔÇô lihat, sayang tak ada yang bagus buatmu.ÔÇØ
ÔÇØNggak bagus apa kemahalan bu hehehe…ÔÇØ
ÔÇØHush…kamu ini.ÔÇØ
ÔÇØAyah belum telepon bu…?ÔÇØ
ÔÇØBelum,mungkin repot. Biar nanti ibu yang telepon. Kamu ingatkan ya, takut ibu lupa.ÔÇØ

Setelah makan, Farid membawa piring dan mencucinya. Ibunya duduk di sofa, menyalakan TV. Hobi banget sih nonton acara gosip. Padahal mah itu kebanyakan setingan selebritis saja, buat mengatrol popularitas. 80% seperti itu, yang benarnya cuma 20% saja. Paling malas Farid nonton acara kayak gitu, nggak mutu dan nggak ada manfaatnya pikirnya. Yang untung cuma si seleb saja. Tapi karena saat itu tak ada kerjaan, juga mau tidur lagi tanggung, ia duduk menemani ibunya. Sesekali menyahut menjawab ibunya yang mengomentari berita yang ada. Emangnya gue pikirin pikir Farid, mengenai seleb yang mencalonkan diri jadi bupati. Gila saja yang nyalonin apalagi milih pikir Farid. Akhirnya setelah beberapa berita yang penuh balutan kebohongan, acara selesai. Ibunya menanyakan apakah Farid mau terus nonton, Farid menggeleng, bilang mau ke ruang kerja main internet. Ibunya mematikan TV.

ÔÇØYa sudah, jangan sampai terlalu sore main komputernya. Duh sudah sore gini tapi tetap panas. Gerah sekali sih, ya sudah ibu sekalian mandi saja dulu baru istirahat. Kamu tolong kunci pintu rumah dulu ya sebelum main komputer.ÔÇØ

Farid mengunci pintu, lalu menyusul masuk kamar, sengaja tak menutup pintu. Ibunya yang sedang mengambil baju di lemari melihatnya sambil bertanya.

ÔÇØLho, katanya kamu mau internetan Rid..?ÔÇØ
ÔÇØIya…ini mau ambil USB dulu, ada data yang mau Farid lihat.ÔÇØ
ÔÇØOh gitu…wislah…ndak paham ibu.ÔÇØ

Ibunya segera mengambil baju dalam salin, lalu masuk dan menutup pintu kamar mandi. Farid buru ÔÇô buru menuju pintu kamarnya, pura ÔÇô pura menutup pintu itu, suaranya sengaja ia keraskan, cukup untuk membuat yakin ibunya kalau ia sudah keluar dari kamar. Ketika pintu kamarnya tertutup, secepat kilat ia mengendap menuju pintu. Ia sudah yakin, ibunya tak bakalan keluar lagi, toh semuanya sudah dibawa ibunya ke kamar mandi. Dengan cepat matanya sudah menempel di lobang yang ia buat itu. Nampak ibunya masih berdiri di kamar mandi, memutar keran air, mungkin menunggu airnya agak banyak. Agak menyamping posisinya. Tak lama ibunya menatap kembali bak mandi lalu mulai bergerak….

Jantung Farid mulai berdetak lebih cepat dari seharusnya, ibunya mulai memegang bagian bawah dasternya, mengangkatnya sedikit, nampak pahanya yang putih mulus, lalu angkat lagi, tampak CD putih yang tebal, lalu perutnya yang rata, lagi…wowww….teteknya yang besar bergantungan dengan indah sekali, kont01 Farid langsung tanpa malu ÔÇô malu segera mengeras. Teteknya sangat besar dan sekal, masih tinggi, pentilnya coklat dan besar. Mata Farid tak lepas menatap ke tubuh ibunya. Tangan ibunya mulai terangkat, melepaskan daster melewati lehernya, astaga…keteknya sama kayak bude, lebat juga, Farid meneguk ludahnya. Perlahan Farid menurunkan celananya. Walau sedang sangat keras…tapi Farid masih berlogika, ia mengambil kaos kotornya, meletakkan dekat kakinya, buat tatakan nanti. Tangannya mulai mengocok batang kont01nya. Di dalam kamar mandi, ibunya mulai menurunkan CD putihnya…gila…tebal sekali m3mek ibunya, rimbunan hitam nan lebat makin menambah pesona keindahannya. Kocokan Farid makin cepat.

Di dalam ibunya nampak memegang sebentar teteknya, membuat tetek besar itu berguncang. Mungkin melihat apakah ada kotoran yang menempel, sambil nunggu air bak penuh. Ibunya bergerak lagi, mengambil sikat gigi dan menaruh odol. Sesaat kemudian ia mulai menyikat giginya, gerakannya secara otomatis membuat teteknya yang besar itu bergoyang dengan sangat nafsuin. Farid tak melepaskan pandangannya. Akhirnya ibunya kelar menggosok giginya. Tak lama ia mulai mengambil gayung, menyiramkan air ke tubuhnya. Ibunya lalu mengambil sabun, mulai mengusapkannya, di daerah teteknya, kini teteknya nampak mengkilap, licin dan bersabun, makin menambah pesonanya di mata Farid. Farid mengurut ÔÇô ngurut kont01nya, jantungnya berdebar keras. Nampak ibunya memijat dan menyabuni pentilnya, membuatnya makin mancung saja. Sangat erotis sekali melihat gunung kembar itu bergoyang dan bergerak lincah saat disabuni, licin seperti belut yang mau ditangkap. Lalu ibunya mulai menyabuni pangkal lengannya, bulu keteknya nampak berbuih karena sabun, Farid meneguk ludahnya, terangsang berat dia. Setelah itu ibunya mulai menyabuni bagian perutnya yang rata, lalu punggungnya. Setelah kelar dengan bagian atas, ibunya mulai menyabuni daerah selangkangannya, jembutnya seakan menggumpal karena buih busa sabun, tangannya mulai menyabuni belahan m3meknya sampai ke lobang pantatnya, mata Farid menangkap, daerah belahan pantatnya nampak ditumbuhi jembut yang halus. Farid makin asik saja mengocok kont01nya, sekali ÔÇô kali ia mengelus kepala kont01nya. Saat ibunya menyabuni kakinya, ia mengangkat satu kakinya bergantian, meletakkannya di pinggiran bak. Farid mengocok kont01nya sangat kuat saat ia menyaksikan belahan m3mek ibunya yang kini mengangkang lebar, memperlihatkan lobang m3mek yang kemerahan bercampur buih sabun, sungguh membuat nafsunya naik ke ubun ÔÇô ubun. Sangat cepat ia mengocok kont01nya, sesat ia merasakan denyut nikmat menjalar di batang kont01nya, dengan cepat ia mengambil kaos kotornya, menaruhnya di kepala kont01nya…pejunya segera muncrat tak tertahankan. Farid diam sebentar, kont01nya masih tegang, ia masih terus mengintip, menyaksikan ibunya mulai menyiram kembali tubuhnya, seluruh tubuhnya nampak berkilat oleh air, menambah tinggi sensualitasnya. Namun Farid juga paham, walau tak rela tapi sudah waktunya ia cabut. Dengan cepat ia menaikkan celana pendeknya, mengambil kaos bekasnya, menjejalkannya di belakang lemari. Perlahan sekali ia membuka pintu kamarnya, lalu menutupnya kembali dengan perlahan.

Sesampainya di ruang kerja, ia tak menyalakan komputer, hanya duduk saja, jantungnya masih berdebar. Baru kali ini ia melihat tubuh telanjang ibunya, dan sangat ÔÇô sangat mengguncangnya, tubuh ibunya sangat seksi sekali, tak menampakkan usianya yang sudah 39. Bahkan Farid berani membandingkan dengan budenya, tampaknya keduanya sama ÔÇô sama menawan. Beda ÔÇô beda tipislah. Pesona wanita dewasa yang sudah matang yang sangat memabukkan. Kalau awalnya ia hanya terobsesi melihat tuuh telanjang iunya, kini di otaknya mulai timbul pemikiran liar lainnya, yang ia sendiri tahu, bahwa pemikiran ini amat sangat tak mungkin ia lakukan. Mengintip adalah satu hal, tapi kalau lebih lagi, itu mustahil pikirnya. Bisa habis ia dimaki ibunya. Lama Farid melamun jorok, akhirnya jam 5 lewat ia keluar, budenya sudah bangun, sedang menonton TV, Farid menegurnya berbasa ÔÇô basi. Ia masuk kamarnya. Nampak ibunya sedang tidur, menghadap tembok, istirahat. Farid memperhatikan sebentar, lalu ia mengambil kaos bekasnya tadi, membawanya ke kamar mandi, mau ia bilas sekalian mandi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*