Anak Nakal Season 2 BAB X

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB IX BAB X One Step Ahead NARASI FAIZ Oke ini agak gila, aku ditantang lagi oleh Danny untuk balapan. Gila apa, apa nggak kapok dia? Tapi memang dia begitu orangnya, kalau dia nggak menang nggak bakal nyerah. Aku sih ok ok aja. Dan kali ini kami balapan di track lurus. Siapa yang paling duluan sampai di garis finish, maka dia yang menang. Tempat yang kami gunakan balapan ad

Anak Nakal Season 2 BAB IX

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB VIII BAB IX Horizon NARASI HANI Akhirnya kejutan itu pun tiba. Lampu tiba-tiba gelap. Tentu saja mbak Iskha agak bingung, tapi ia sangat senang ketika dari sudut ruangan ada lilin menyala bertuliskan angka 17, yang membawa tentu saja Mas Faiz. Dia menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Setelah itu mbak Iskha meniup lilinnya. Mas Faiz lalu mencium kening dan pipinya. Aduhhh

Anak Nakal Season 2 BAB VIII

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB VII BAB VIII Mencari Ayah yang Hilang NARASI HANI Aku sudah sampai di ibukota sekarang. Sebenarnya juga aku masih bingung dengan kota ini. Angkutan umumnya banyak, Selalu tanya kiri dan kanan. Tujuanku cuma satu, yaitu bertemu dengan Doni Hendrajaya. Dia ayah biologisku. Tujuh belas tahun yang lalu ibuku selingkuh dengan seseorang. Ibuku bernama Dian. Setelah kematian aya

Anak Nakal Season 2 BAB VII

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB VI BAB VII Long Road for Love Acara perkemahan Sabtu Minggu. Agak aneh saja karena entah bagaimaan Mas Faiz bisa ada di sana ikut sebagai panitia. Sebab aku tak pernah tahu kalau dia pernah ikutan ekskul pramuka. Perkemahan ini diselenggarakan di salah satu Bumi Perkemahan. Jangan harap deh seperti pegunungan atau hutan. Nggak. Ya namanya juga anak kota. Tapi memang eksku

Anak Nakal Season 2 BAB VI

Anak Nakal Season 2 BAB V BAB VI Pedekate Aku di ruangan Bu Lina. Dia mau menerima konseling hari ini. Padahal biasanya yang ngantri banyak. “Nak Faiz, mau konseling apa hari ini?” wajah Bu Lina yang cantik dan alim dengan kerudungnya itu menyejukkan hatiku. Jadinya nyaman banget untuk konseling. Apa emang semua psikolog seperti ini ya? “Gimana sih bu untuk move on?” tanyaku. “Kamu sed